Besoknya tepat pukul 4 pagi mereka sudah bersiap untuk segera ke bandara. Mobil yang mereka pesan untuk mengantarkan mereka sudah menunggu di depan hotel.
“Sudah semuanya anak-anak?” tanya Pak Budi. “Jangan sampai ada yang ketinggalan,” tambah pak Budi mengingatkan
“Baik Pak,” jawab mereka serempak.
Hari itu jadwal mereka untuk belajar mengenai budaya Korea telah selesai dan saatnya mereka kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pembelajaran di SMA Internasional Number One School (INOS).
Setelah cukup lama mereka menunggu di bandara akhirnya pesawat yang akan mereka naiki telah siap dan mereka pun segera masuk ke dalam pesawat.
Satu-persatu mengantre memasuki pesawat. Dean yang masih membawa boneka rubah di saku celananya sempat memegangnya sebentar untuk memastikannya bahwa boneka itu masih bersamanya.
Dean duduk di kursinya yang bersebelahan dengan Rafael. Seperti biasa mereka sempat bercanda sebelum akhirnya pesawat mulai lepas landas.
Dean meraih boneka rubah di dalam saku celananya dan menatapnya dalam-dalam. Dean benar-benar terpana melihat boneka rubah yang terlihat sangat cantik itu.
“Gila Lo. Boneka itu mau dibawa ke Indonesia?” tanya Rafael dengan wajah muka mengejek.
“Iya. Memangnya kenapa? Kenapa Lo ketawa gitu. Emang ada yang lucu?” tanya Dean.
Dean tak habis pikir mengapa Rafael seperti memandang rendah boneka rubah yang menurutnya sangat unik. Bagi Dean tak masalah dari manapun sebuah benda itu berada asalkan dirinya menyukainya maka ia akan membawanya sampai ke rumahnya yang seperti istana.
“Ya ngga apa-apa sih Cuma kok Lo mau sih bawa bawa boneka kucel itu ke Indonesia. Kalo Lo suka banget sama boneka kenapa ngga beli aja,” ucap Rafael.
“Ngga penting banget sih. Kenapa harus beli kalo emang aku suka sama yang ini.”
“Lagian kok cowok suka sama boneka. Jangan-jangan Lo ....” Rafael menghentikan kalimatnya. Namun, Dean merasa arah perkataan Rafael sepertinya akan merendahkannya.
“Kenapa! Lo mau bilang gue banci karena bawa boneka ini? Terserah Lo aja lah. Gue ngga peduli Lo mau bilang apa,” kata Dean yang saat itu langsung menutup matanya untuk tidur.
Dean merasa akan sangat buang-buang waktu menanggapi Rafael yang selalu mempermasalahkan boneka rubah yang dibawanya. Padahal Dean tak memandang bagaimana bentuk dan rupa sebuah benda. Ia bahkan menyimpan dengan baik mainan angklung kecil peninggalan ibunya yang harganya pun tak seberapa bahkan sampai bentuknya usang karena sudah sangat lama.
“Padahal gue ngga mau bilang gitu loh. Lo sendiri yang bilang,” ucap Rafael seolah belum ingin mengakhiri percakapan mereka, tapi Dean sudah enggan menanggapi Rafael sehingga ia memilih untuk mengacuhkannya.
Dean yang masih memegang boneka rubah itu dalam pangkuannya kembali memasukkannya ke dalam saku celananya. Masih dengan mata terpejam, Dean menarik kupluk Hoodie-nya hingga menutupi kedua matanya dan kembali tidur.
Baru sekitar setengah jam pesawat lepas landas tiba-tiba mengalami masalah. Seketika para siswa yang sempat menjalani matanya kembali terbangun dan merasa panik.
Pesawat oleng tak karuan membuat para awak pesawat yang ada di dalamnya kehilangan keseimbangan. Seorang pramugari mengingatkan untuk tetap tenang meski pesawat yang ditumpangi tengah bergoyang kuat.
“Aaaaaaaaaaa, ini kenapa kok pesawatnya begini,” ucap seorang siswa.
“Ya ampun apa pesawatnya akan jatuh,” ucap yang lain panik.
“Hush, jangan berkata begitu. Kita harus tetap tenang ya. Jangan lupa berdoa dan pastikan semuanya sudah memakai sabuk pengaman seperti yang tadi diinstruksikan,” kata pak Budi.
Keseimbangan pesawat semakin tidak stabil. Pesawat oleng ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan yang juga tidak terkendali.
***
Rupanya bagian belakang pesawat terbakar hingga mengeluarkan api yang lumayan besar. Pilot masih mencoba mengendalikan pesawat dan meminta bantuan meski keadaannya sudah sangat buruk.
Pramugari mulai meminta semua penumpang menggunakan life jacket sesuai dengan instruksi yang diberikannya setelah mendapatkan perintah dari pilot karena pesawat akan melakukan pendaratan darurat.
Keadaan mereka yang tengah berada di atas lautan membuat mereka sangat panik. Pesawat terpaksa akan melakukan pendaratan darurat karena kerusakan mesin yang menyebabkan bagian belakang pesawat terbakar dan pesawat tak dapat terbang dengan stabil.
Ya Tuhan, apa pesawatnya akan jatuh, batin Dean.
Semua orang mulai berdoa dengan mata yang berkaca-kaca. Nada suara yang terdengar gemetaran serta teriakan-teriakan keras setiap kali pesawat oleng dengan keras dan tak terkendali.
“Aaaaaaaaaaa.”
“Ya Allah lindungi kami.”
“Selamatkanlah kami ya, Allah.”
“Lindungi kami ya Allah. Ampuni dosa kami.”
Teriakan dan suara isak tangis penumpang yang berdoa dengan suara tak begitu jelas mulai terdengar. Rupanya api di bagian belakang sudah terlalu besar hingga merambah ke sayap depan bagian kiri. Sementara itu sayap belakang telah habis terbakar.
Pesawat semakin tak terkendali. Posisi tak seimbang membuat pesawat miring dan beberapa orang penumpang di dalam pesawat tak beraturan.
Tas-tas di dalam kabin berjatuhan karena guncangan kuat dan pesawat yang terombang-ambing. Sementara itu badan pesawat tinggal beberapa meter lagi menyentuh permukaan lautan yang terlihat tak tenang.
Byur ... Darrrrr.
Suara pesawat yang akhirnya mendarat di lautan dan tak lama meledak terdengar begitu kuat hingga membuat ombak lautan berguncang semakin kuat.
Para penumpang yang sempat menyelamatkan diri berhasil berenang di lautan menggunakan life jacket yang dipakai sementara beberapa yang tidak selamat harus meninggal dunia terbakar api yang melalap badan pesawat.
Seketika air laut berubah warna menjadi merah dan pecahan-pecahan awak kapal terlihat berserakan di permukaan laut sebelum akhir tenggelam dan sisanya ada yang mengapung di tengah-tengah lautan.
Seseorang tampak mencoba berenang menyelamatkan diri menepi ke tepian pantai.
Dengan luka di sekujur tubuh yang terasa nyeri dan luka sayatan di kulitnya yang terlihat menganga membuat suara rintihan terdengar sesekali saat ia mencoba berenang ke tepian.
Udara yang dingin dengan deru ombak yang terus memacu dengan begitu kuat kian mendarat di telinga. Burung-burung yang berkicau sembari terbang kembali ke sangkar terus berduyun berterbangan di angkasa.
Dean masih berusaha menyelamatkan dirinya ke tepian dengan luka di tubuhnya yang terasa perih dengan sesekali darah yang menetes keluar.
Dean hampir sampai di tepian laut dengan hamparan pasir yang luas, namun ia masih harus berjuang sedikit lagi karena kakinya belum sampai memijak tanah.
"Akh," pekik Dean sembari menekan pinggiran luka di lengan tangannya.
Luka itu tak cukup serius hanya saja terasa perih saat terkena air laut yang notabenenya terasa asin bak air garam.
"Owh pedih sekali," ucap Dean lagi sembari meniup pelan lukanya yang terlihat menganga.
Tiba-tiba gulungan ombak terlihat datang dari arah belakang dan menggulung tubuhnya masuk ke dalamnya hingga akhirnya Dean terbawa gulungan ombak yang menerpa itu sampai ke tepian.
Teriakan orang-orang yang berhasil selamat dan berusaha berenang ke pinggiran pantai terdengar semakin melemah.
Sementara langit yang terlihat mendung semakin mengguncang jiwa-jiwa yang berharap agar badai tak datang untuk kedua kalinya.
Dean masih mencoba menggerakkan tangan sebelah kanannya untuk berenang ke tepi pantai. Tubuhnya terhempas jauh dari kapal yang meledak dan terbakar, namun dirinya masih selamat.
“Vania! Rafael! Bastian!”
Dean mencoba sesekali berteriak memanggil nama ketiga temannya yang terpisah dengannya. Detak jantung Dean berdegup amat kencang.
Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Dean sangat berharap jika ke tiga temannya itu masih selamat dan mereka bisa bertemu kembali.
“Pak Budi!”
Dean lagi-lagi mencoba berteriak memanggil nama orang-orang yang dikenalnya, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
Lengan tangannya terasa mulai keram sementara tepian masih terlihat sangat jauh. Tubuhnya terombang-ambing oleh ombak di tengah lautan.
“T-tolong!” Dean mencoba berteriak meminta pertolongan. Berharap akan ada nelayan yang melihatnya dan bisa menolongnya.
Namun, lagi-lagi harapannya harus kandas karena sepanjang matanya menatap, ia tak melihat ada kapal nelayan yang berada dekat dengannya.
Tak ada satupun manusia yang terlihat ada di sana. Hanya air laut yang berubah menjadi merah darah yang terlihat sangat menyeramkan.
Tiba-tiba saja ombak besar datang dari arah belakang menggulung tubuhnya hingga tak terlihat dan menghempaskan tubuhnya jauh dari tempatnya terjatuh.
Dean tak sadarkan diri karena ombak yang menggulung menyembunyikan tubuhnya dan membawanya entah kemana.
Rintik gerimis perlahan jatuh membasahi wajahnya hingga mengenai kelopak matanya dan memberikan sensasi dingin yang menyejukkan.
Perlahan Dean membuka matanya yang terasa berat. Kepalanya terasa sangat pusing dan perutnya terasa perih karena lapar.
Tubuhnya pun terlihat sedikit pucat karena kedinginan. Bajunya yang koyak di beberapa bagian membuat angin dan air yang mengenai tubuhnya lebih leluasa.
“Ah ... Aku di mana ini,” kata Dean dengan terbata sembari mencoba bangun dari posisinya yang terbaring di tepian pantai.
Sementara hari terlihat sudah sedikit gelap dan gerimis yang mulai turun memaksa Dean harus segera menyadarkan dirinya.
Dean bangun dan masih menerka-nerka dimana dirinya sekarang. Sebuah tempat yang sangat-sangat asing baginya.
Sepi, gelap, dan terasa sedikit menyeramkan. Suara burung-burung yang beterbangan hendak kembali ke singgasananya setelah seharian berkelana mencari makan terdengar begitu jelas.
Dean terduduk di antara hamparan pasir putih yang basah terkena hempasan ombak laut. Matanya memandang ke arah depan dan menatap laut yang begitu sangat luas hingga tak lagi menampakkan daratannya.
“Aku dimana ini,” kata Dean lagi.
Dirinya benar-benar terlihat sangat bingung. Seorang diri di sebuah tempat yang asing dengan latar belakang pepohonan besar yang hampir mirip dengan hutan rimbun yang tak pernah terjamah.
Tempat itu terlihat seperti tempat yang tak pernah terjamah oleh manusia. Hutannya terlihat masih sangat terawat dengan keasrian alam yang masih terjaga.
Dean bangkit dan mengamati sekitarnya. Ia semakin yakin bahwa tidak ada orang di sana. Beberapa kali Dean mencoba memanggil guru dan juga ke tiga temannya tapi tak ada jawaban. Ia pun berteriak meminta pertolongan, tapi tak ada jawaban yang meresponsnya.
Angin yang berembus semakin membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Ia tak mungkin lagi berdiri lebih lama di tempat itu. Angin yang bertiup kencang membuatnya tak tahan belum lagi ombak yang terlihat besar membuatnya merinding jika harus berlama-lama berada di tepian pantai.
Rintik gerimis masih belum usai dan Dean sudah mencoba melangkahkan kakinya memasuki hutan meski terlihat sangat gelap. Kelelawar yang beterbangan membuat suasananya semakin terasa mengerikan bak film horor.
Bulu kuduknya mulai berdiri satu-persatu dan Dean hanya bisa menggosoknya pelan untuk menenangkan dirinya.
“Ah gila! Aku ada dimana ini? Kok sepi banget sih,” gumam Dean masih melangkahkan kakinya tak tentu arah.
Ia menoleh ke kanan-kiri berharap bertemu dengan orang yang bisa dimintai pertolongan. Kali ini Dean hanya bisa berharap ada pemukiman warga yang bisa dimintai pertolongan meski dirinya tak tahu harus melangkahkan kemana kakinya untuk mewujudkan harapannya itu.
“Huh capek banget. Aku haus, laper juga,” kata Dean yang kemudian memutuskan untuk menghentikan langkah kakinya.
Ia berhenti di bawa sebuah pohon yang besar sehingga bisa melindunginya dari rintik gerimis yang tidak begitu deras. Baju di bagian pundak kiri sudah sobek seukuran telapak tangannya. Dean hanya bisa memonyongkan bibirnya meratapi keadaannya.
Namun, meski begitu dirinya masih merasa bersyukur karena Tuhan mendengarkan doanya agar diselamatkan meski dirinya tak tahu bagaimana nasib teman-temannya dan gurunya.
“Gimana sama yang lain ya. Apa mereka selamat?” kata Dean lagi. Matanya berkaca-kaca setiap kali mengingat kejadian terakhir saat pesawat akan jatuh dan meledak.
Hanya ada suara tangis dan teriakan histeris yang terekam di ingatannya dan itu membuatnya menjatuhkan butiran kristalnya tanpa sadar.
Ia akhirnya memutuskan untuk beristirahat dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon yang ia tidak tahu namanya.
Tiba-tiba Dean menyadari bahwa ada sesuatu di dalam saku celananya yang masih dibawanya. Benda itu adalah satu-satunya benda yang masih terselamatkan dan bersama dengannya.
***
“Boneka ini ... Ternyata ngga bilang,” ucap Dean senang. Meski boneka itu tampak basah, tapi masih terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
“Setidaknya masih ada benda yang terselamatkan. Aku janji akan menjagamu dengan baik,” kata Dean. Tak lama Dean mengecup kepala boneka rubah yang basah itu hingga membuat bibirnya basah.
“Temani aku ya sampai aku menemukan teman-temanku dan jalan keluar dari tempat ini,” ucapnya lagi sembari tersenyum pada boneka rubah itu seolah tengah bercengkerama.
Lama Dean memandang boneka berbentuk rumah yang ada di tangannya. Semakin ia menatap, ia seperti terlena akan boneka yang menurutnya memiliki keunikan itu.
Dean memang tidak berharap ia akan diselamatkan dan dipertemukan dengan teman-temannya oleh boneka itu hanya saja saat itu hanya boneka rubah itu yang menjadi teman dan menemaninya.
Malam dan suasana yang terasa sangat sunyi berhasil membangkitkan bulu kuduk Dean yang saat seolah mengerti bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Reaksi normal pada manusia setiap kali merasakan sesuatu yang terasa mengerikan atau tak nyaman di dalam hatinya.
Beberapa kali Dean sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa tempat itu aman untuk ia singgahi saat itu.
"Oke kalau begitu kita tidur dulu ya. Besok baru kita cari yang lainnya," ucap Dean menatap boneka rubah itu dan bermonolog seorang diri.
Bibirnya berhasil mencium ujung moncong boneka itu hingga membuat bibirnya terasa hangat dan sedikit geli oleh bulu-bulu dari boneka rubah itu.
Tak lama Dean pun menutup matanya dengan rapat untuk beristirahat, namun saat ia tengah memejamkan matanya. Sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya.