Zanna Kirania seorang pramugari di sebuah maskapai milik negara yang akhirnya memutuskan berhenti dan menikah dengan seorang prajurit berpangkat letnan satu bernama Adiyasa.
Perbedaan usia yang terpaut cukup jauh, tak menyurutkan langkah Zanna untuk menikahi sang prajurit. Meski di awal Ibu Zanna kurang menyetujui karena perbedaan usia dan pekerjaan yang penuh resiko, tak menyurutkan langkahnya. Akhirnya, restu sang ibu didapat Zanna dan Adiyasa.
Layaknya pernikahan militer, Zanna harus mempersiapkan segala persyaratan administrasi juga beberapa proses yang harus dijalaninya saat memutuskan menikah dengan seorang prajurit. Tak biasa dan cukup merepotkan baginya, tetapi demi menyandang Nyonya Adiyasa, ia pun rela berjibaku dengan segala kerepotannya.
Hari itu, Adiyasa dan Zanna pun menyelesaikan proses akhir untuk menikahi sang prajurit. Lelah, tapi senyum bahagia itu terpancar. Saat hendak pulang, Zanna mendapatkan telepon dari sang ibunda.
"Bu, ibu tenang dulu. Ada apa?" Zanna mencoba menenangkan sang ibu yang panik di ujung telepon.
"Ayah kamu, Zanna ... dia kena serangan jantung, kamu bisa pulang, Nak?" tanya sang ibu menahan tangisnya.
"Zanna usahakan segera pulang, Bu," jawab Zanna menenangkan.
Setelah sambungan telepon terputus, Zanna pun terdiam. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Pulang ke Bandung?Bagaimana dengan persiapan pernikahannya?Dilema kembali menghampiri Zanna.
"Kenapa, Sayang?"
"Mas, Ayah masuk ICU kena serangan jantung. Gimana nih?"
"Innalillahi ... kita berangkat sekarang!" Adi pun langsung melaju membawa mobilnya menuju sebuah rumah sakit besar di Bandung.
-----
Setelah menempuh perjalanan panjang hampir 4 jam, Zanna dan Adiyasa pun sampai di rumah sakit. Zanna pun bergegas masuk menuju ruang ICU. saat sedang mencari, Zanna melihat sang Ibu keluar dari sebuah ruangan. Ternyata sang Ayah sudah dipindah ke ruangan perawatan.
"Bu, Ayah gimana?" tanya Zanna yang panik.
"Masuklah. Ayahmu sedang istirahat. Adi ke mana?" Ibu bertanya keberadaan calon menantunya itu.
"Ada di parkiran, tadi Zanna lebih dulu masuk."
Tak lama, Adiyasa pun datang dan ikut masuk ke dalam ruangan.
"Yah, Ayah kenapa sakit?" zanna mengenggam tangan sang Ayah erat.
"Maaf Ayah merepotkanmu ya, Nak." Ayah berusaha berbicara dengan suara parau.
"Enggak, Yah. Aku sama Mas Adi tidak merasa direpotkan. Yang penting Ayah sehat dan menyaksikan pernikahan kami," ujar Zanna berusaha tegar di depan sang Ayah.
"Iya, Yah, Ayah kan mau jadi wali di pernikahan kami nanti." Adi pun mengenggam tangan sang Ayah mertua memberi dukungan.
Ayah Zanna terdiam. Netranya menerawang, entah apa yang sedang dipikirkannya hingga beberapa detik kemudian, sang Ayah merasakan sesak yang hebat.
Semua sempat panik, dokter jaga dan perawat pun datang memeriksa. Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Ayah Zanna pun kembali stabil.
Karena kondisi sang Ayah yang tidak stabil, dokter meminta agar tidak banyak orang di dalam untuk menunggu.
Sang Ibu pun akhirnya memilih keluar, begitupun dengan Adi—panggilan Adiyasa— tetapi dicegah Ayah Zanna.
"Di, Ayah mau bicara sama kalian berdua."
"Iya, Yah."
"Zanna adalah putri tunggalku. Dia segalanya bagiku. Waktuku mungkin tak lama lagi, aku takut jika tak sempat menyaksikan pernikahan kalian.
Ayah harap, kalian mau menikah secepatnya. Anggaplah ini permintaan Ayah yang terakhir." Ayah Zanna semakin melemah, ia seperti kehilangan semangat untuk sembuh.
Adi dan Zanna saling menatap. Mereka tak bicara, hanya netra mereka saling bertatapan dan dengan pemikiran masing-masing.
Suara Ayah yang melemah, desakan sang Ayah yang dikejar waktu, membuat Adi akhirnya mengambil sebuah keputusan besar. Ya, keputusan yang harus diambilnya, demi sang Ayah dapat menyaksikan pernikahan mereka.
"Yah, besok, Adi akan menikahi Zanna. Insya Allah, kami menikah siri dulu di depan Ayah. Jika semua proses beres, kami akan menikah resmi." Adi berusaha tersenyum dan mengenggam erat tangan Ayah Zanna.
Zanna hanya tersenyum, dalam hatinya ia bertanya, apakah pilihan ini sudah tepat? Tetapi melihat kondisi Ayah yang semakin lemah, ia takut tak dapat mewujudkan impian sang Ayah.
"Terima kasih, Nak."
Zanna pun memeluk dan mencium sang Ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Karena pengaruh obat, sang Ayah pun tertidur. Zanna dan Adi pun memilih menunggu di luar.
Adi pun memutuskan menyiapkan segala persiapan pernikahan sirinya esok hari. Langkah ini terpaksa diambil agar Ayah Zanna bisa bahagia di sisa akhir hidupnya. Sedangkan Zanna memilih menemani sang Ibu.
------
Hari ini, Zanna dan Adi akan menikah siri ditempat ini. Ruangan yang tak terlalu besar berdinding putih. Di tempat inilah sang Ayah terbaring lemah menyaksikan pernikahan putri tunggalnya.
SAH!
Alhamdulillah, meski hanya dihadiri kedua orang tua mereka dan dua orang saksi serta penghulu, pernikahan ini pun terlaksana. Zanna kini sudah menjadi Nyonya Adiyasa, walau masih menikah siri.
Proses pernikahan di militer yang cukup merepotkan dan proses yang panjang, membuat mereka mengambil langkah ini. Keadaan yang memaksa. Ayah Zanna semakin lemah, Zanna maupun Adi takut jika sang Ayah tak dapat menyaksikan pernikahan mereka.
Saat sedang bercengkerama setelah akad nikah, tiba-tiba Ayah Zanna kembali drop, ia tak sadarkan diri. Dokter juga perawat datang memberikan pertolongan pertama. Hingga Ayah Zanna dinyatakan meninggal oleh sang dokter.
"Ayah...." Zanna menangis, ia histeris.
Apa yang ditakutkannya terjadi. Hanya berselang beberapa jam setelah akad nikahnya dengan Adi, sang Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Ibu Zanna yang menangis kehilangan suami pun akhirnya mencoba menenangkan putri tunggalnya itu.
"Zanna, ikhlasin Ayah. Kita harus ikhlas, agar jalan Ayah dipermudah." Ibu pun memeluk Zanna dengan erat.
Sang Ibu paham, bagaimana perasaan Zanna. Tak lama setelah akad nikah digelar, Ayahnya pergi untuk selamanya. Kedekatan. Zanna sejak kecil bersama Ayahnya kini hanya tinggal kenangan. Terlalu sakit bagi Zanna, tetapi ia harus ikhlas.
Adi akhirnya memeluk sang istri. Memberikan kekuatan dan support. Ia juga bersedih, Ayah mertuanya itu lelaki hebat. Banyak nasihat yang ia terima, sesaat sebelum kepergiannya. Kini tugasnya menjaga Zanna juga Ibu mertuanya selepas kematian Ayah mertuanya itu.
------
Adi pun mengurus segala administrasi, agar Ayah mertuanya itu segera dibawa pulang dan dimakamkan sesuai syariat islam.
Ayah Zanna pun dimakamkan. Di sebuah pemakaman umum tak jauh dari komplek perumahan sang Ayah.
Menjadi salah satu tokoh masyarakat yang dikenal bijak dan humble, banyak yang kehilangan sosok Ayahnya. Alhamdulillah, banyak pelayat dari berbagai golongan ikut hadir turut mendoakan almarhum.
Kini sang Ayah telah terkubur. Zanna hanya bisa menangis dipelukan sang suami. Di satu sisi ia bersedih kehilangan Ayah, tetapi di sisi lain, ia juga bahagia karena Ayahnya tidak merasakan sakit lagi. Terlebih ia dapat mewujudkan keinginan terakhir sang Ayah, menyaksikan pernikahannya dengan lelaki hebat pilihan Ayah, Adiyasa.
bersambung ....
Ditinggal sang Ayah tercinta merupakan suatu pukulan berat baginya. Namun, disisi lain Zanna bersyukur bisa mewujudkan impian Ayahnya untuk menikah di depan sang Ayah.
Meski bukan pernikahan seperti ini yang diharapkan. Zanna berusaha ikhlas, walau berat, ia pun memilih melanjutkan rencana pernikahannya bersama Adiyasa. Persiapan pun sudah rampung. Sungguh, Adiyasa mampu memahami kondisi istrinya.
Hari yang dinanti pun tiba ….
Adiyasa dan Zanna melangsungkan pernikahan resmi mereka. Semua berbahagia, keluarga, sahabat, ikut mendoakan. Ibu Miranda -Mama Zanna- meski sedih karena menyaksikan pernikahan putrinya tanpa kehadiran sang suami, tetap berusaha tegar.
Sebuah gedung berkelas di kota Bandung itu menjadi saksi kebahagiaan mereka. Setelah menjalani seluruh proses, acara selesai, hanya lelah yang mereka rasakan. Tentu kebahagiaan itu tetap dirasakan. Zanna pun membawa serta sang Mama pulang ke rumah barunya yang baru dibeli Adiyasa di sebuah perumahan elite di Bandung. Cukup mewah. Adiyasa sangat tahu selera sang istri.
Rumah mewah dengan kesan Amerika style itu dilengkapi dengan berbagai barang mewah dan elegan akan ditempati Adiyasa dan Zanna yang membawa serta Mama Zanna untuk tinggal bersama.
Sejak kematian sang Ayah, sebagai putri tunggal, Zanna ingin sang Mama tinggal bersamanya. Ia tak ingin, Mamanya hidup seorang diri dan jauh darinya. Awalnya, Mamanya menolak. Tak terbiasa jauh dari Ayahnya, akan sulit untuk berziarah ke makam sang Ayah. Namun, Zanna meyakini Mamanya, jika rindu, ia siap mengantarkan berziarah ke makam sang Ayah kapanpun.
Atas permintaan sang suami, Zanna pun meninggalkan pekerjaannya sebagai pramugari. Sebuah keputusan besar yang sulit tetapi harus diambilnya.
Hari-hari Zanna kini sebagai ibu rumah tangga saja. Menyiapkan segala keperluan sang suami. Mama Zanna mulai membiasakan diri hidup di tengah kota dengan segala kemacetan dan udara yang tidak seasri di rumah lamanya.
Tanpa terasa pernikahan mereka sudah berjalan tiga bulan. Kehamilan yang dinanti belum juga menunjukkan tanda-tanda. Sang Mama mulai menanyakan kehadiran sang cucu. Maklum, ia kadang merasa kesepian di rumah saat Adiyasa bekerja dan Zanna pun mempunyai kegiatan lain di luar rumah.
"Zanna, kamu kapan mau hamil?" tanya Ibu Miranda saat bersantai dengan Zanna di balkon rumahnya sambil menikmati udara senja.
"Doain secepatnya ya, Ma, insya Allah, kami enggak menunda kok. Mungkin Allah masih ingin kita pacaran saja." Zanna berusaha menghibur sang Mama.
Ibu Miranda berusaha tersenyum. Meski ada kekahawatiran jika anak atau menantunya itu ada keluhan medis yang tidak diketahui.
"Kalian sudah cek ke dokter? Ya ... Kalau ada masalah kan bisa cepat ditangani."
"Insya Allah, semua baik-baik aja, Ma," jawab Zanna tersenyum.
-----
Tak seperti biasanya, Adiyasa pulang telat malam ini. Zanna pun merasakan kekhawatiran. Ia pun mencoba menghubungi sang suami, tetapi ponselnya tak aktif.
Kecemasan Zanna pun berakhir, setelah mobil Adiyasa memasuki rumah mewah mereka. Zanna pun bergegas membuka pintu dan saat pintu terbuka, ia heran, wajah Adiyasa terlihat murung. Ada keletihan yang tersirat diwajahnya dan ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Mas, kamu kenapa? Capek ya?" Zanna membawa tas sang suami dan mengajaknya beristirahat sejenak di sofa.
"Enggak, Sayang, hanya capek aja, macet banget jalanan sore tadi," ujar Adiyasa menutupi segalanya.
Ada hal yang ingin ia sampaikan. Tetapi lidahnya kelu. Adiyasa pun takut jika berita yang akan risampaikannya ini justru membuat masalah baru bagi sang istri. Apalagi pernikahan mereka baru seumur jagung. Pastinya, sedang ingin bermesraan selalu.
"Mas mandi dulu ya. Kamu tolong siapin air hangat ya, Sayang," kata lelaki yang masih memakai seragam kebanggaannya itu.
"Baik, Komandan!" ujar Zanna meledek.
Setelah berganti pakaian dan membersihkan badan, Adiyasa pun mengajak istri dan Ibu mertuanya itu makan malam. Sambil memikirkan bagaimana cara menyampaikan hal ini pada istri dan Ibu mertuanya, ia mencoba menikmati rendang ayam dan capcay goreng, kesukaannya.
Sambil makan, Zanna pun berusaha mencairkan suasana. Ia tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Adiyasa darinya. Entah apa.
Namun, tiba-tiba Mamanya justru membuat suasana menjadi tak nyaman. Adiyasa yang lelah pun, semakin dibuat tak menentu perasaannya.
"Adi, cobalah kamu luangkan waktu berdua sama istrimu. Jangan hanya sibuk bekerja, gimana kalian mau cepat kasih Mama cucu. Mama kan kesepian," ujar Ibu Miranda yang membuat sang menantu menghentikan makanannya.
Hening sejenak ….
"Insya Allah, Ma, bantu doanya ya," ujar Adiyasa yang tetap bersikap santun.
"Mama pasti doakan kalian, tetapi kalian juga harus berusaha. Jangan terlalu capek. Kalau perlu, ke dokter cek ulang biar kalau di antara kalian ada masalah, bisa cepat dicari solusinya," Bu Miranda mulai ketus.
Netra Zanna dan Adiyasa pun saling menatap dengan pikirannya masing-masing. Mungkin bagi Adiyasa, tak elok jika rumah tangganya terlalu diikut campur sang mertua.
Tetapi, ia tetap berusaha bersikap sopan. Berharap wanita yang telah melahirkan wanita yang dicintainya itu bisa memahami pekerjaannya sebagai seorang prajurit.
"Ma, anak itu kan rezeki dari Allah. Ya kita gak menunda kok, tetapi dikasihnya Allah aja." Zanna berusaha mencairkan suasana.
Adiyasa pun semakin tak nyaman. Ia memutuskan berpamitan ke kamar. Zanna menjadi tak enak, sang suami tak menuntaskan makanannya. Semua karena perkataan sang Mama.
"Ma, kan aku udah bilang tadi. Kasihan kan Mas Adi enggak selesai makanannya." Zanna pun memasang wajah kesal.
Mamanya pun kesal, ia pergi begitu saja dari meja makan dan mengunci pintu kamar. Zanna pun pusing dibuatnya. Zanna akhirnya membereskan meja makan. Ia menyiapkan segelas teh susu hangat buat sang suami. Kebiasaan Adiyasa sebelum tertidur. Ia meminum segelas teh susu hangat
------
Zanna pun membuka pintu kamar. Ia memberikan segelas teh susu itu ke suaminya yang sedang membaca sebuah buku. Zanna pun berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Adiyasa berbicara sambil bergelayut manja di bahu sang suami.
"Mas, maafin sikap Mama tadi ya. A-aku …."
"Enggak apa, Sayang. Mas paham kok. Mama juga pasti rindu kan kehadiran seorang cucu. Kamu tolong kasih pengertian ke Mama ya, sebagai seorang prajurit Mas harus siap jika sewaktu-waktu ada tugas mendadak."
"Iya, Mas, besok Zanna akan bicara sama Mama," ujar Zanna tersenyum.
Kini Adiyasa yang kebingungan. Ia tak harus berkata apa, soal penugasannya ke sebuah pulau yang jauh dari Bandung. Sebagai pengantin baru, ia harus berjauhan dengan sang istri. Pastinya tak mudah juga untuk Zanna.
Mampukah ia menjalaninya?
Adiyasa pun akhirnya menarik nafas panjang. Mau tidak mau, ia harus menyampaikannya. Hal ini, harus cepat diungkapkan. Adiyasa pun berharap sebagai istri seorang prajurit, bisa menerima segala resikonya.
"Sayang … a-aku …." Bibir Adiyasa tiba-tiba kelu.
"Ada apa, Mas?" tanya Zanna heran.
Adiyasa pun kembali menarik nafas panjang.
"Sayang, Mas mendapat tugas ke luar kota Bandung. Mungkin cukup lama. Gimana, kamu siap?" Adiyasa berusaha pelan-pelan berbicara, takut terjadi penolakan dari sang istri.
"Sebagai seorang istri, aku kan harus siap, Mas," ujarnya tersenyum.
"Alhamdulillah," Adiyasa bernafas lega.
"Memang tugas ke mana, Mas? Aku siap kok jika harus menemani kamu, Mas."
"Lihat nanti ya. Aku belum tahu situasi di sana. Nanti jika kondisinya memungkinkan, baru aku jemput kamu, Sayang," ujar Adiyasa memeluk erat sang istri di ranjang empuk mereka.
"Loh, memang ditugasin ke mana, Mas?"
Adiyasa kembali kelu, bibirnya seolah terkunci. Hatinya kembali berdegup kencang. Mungkinkah … Zanna akan marah? Ahh … kondisi ini tak membuat nyaman.
"K-ke N-natuna, Sayang …."
"Apa, Mas? Natuna?" ujar Zanna yang kaget dan langsung turun dari ranjang.
Apakah Zanna siap menjalani LDR di saat usia pernikahannya baru genap 3 bulan?
Bersambung ….
Zanna syok. Ia tak menyangka jika Adiyasa bakal ditugaskan ke luar Jawa. Hmm, Natuna? Itu sangat jauh dari Bandung. Yang ia tahu, Natuna sebuah pulau kecil yang masih minim fasilitas.
Akan sulit baginya nanti berkomunikasi dengan sang suami. Berita yang beredar, di sana sangat sulit sinyal. Tak jarang, masyarakat di sana harus naik gunung atau pohon demi mendapatkan sinyal.
"Mas, aku tahu komitmen saat menikah dengan seorang prajurit. Tetapi … kita baru menikah 3 bulan dan Natuna itu jauh sekali, sinyal pun masih sulit di sana. Apa komunikasi kita akan lancar kalau Mas tugas di sana? Aku enggak bisa jauh-jauh dari kamu, Mas," ujar Zanna dengan wajah sedih.
"Apa kamu enggak bisa menolaknya, Mas?"
"Sayang, seorang prajurit harus siap ditugaskan di mana pun. Andai bisa memilih, aku juga enggak mungkin meninggalkan kamu jauh-jauh." Adiyasa memeluk istrinya itu dan Zanna tak lagi mampu menahan air matanya.
Alisya menangis. Sesungguhnya ia tak siap jika harus menjalani LDR dengan jarak yang cukup jauh, ditambah sulitnya berkomunikasi nantinya. Namun, komitmen adalah komitmen. Sebagai istri seorang prajurit, ia harus siap jika ditinggal sang suami bertugas kemanapun.
"Kapan Mas berangkat?" tanya Zanna.
"Besok sore, Sayang. Kamu bisa kan mengantarku ke Halim?" tanya Adiyasa sambil mencium kening sang istri.
"Besok?"
Kini tak ada lagi kata yang keluar dari bibir Zanna. Netranya pun mengeluarkan bulir-bulir air mata. Tidak secepat ini yang ada dibenaknya. Zanna belum siap, tetapi ia dipaksa siap dengan segala resiko saat memutuskan menikah dengan seorang prajurit.
Zanna pun akhirnya berusaha tegar. Ia pun mengemaskan segala keperluan sang suami untuk keberangkatannya bertugas ke Natuna. Dengan berurai air mata, ia menyusun dengan rapi pakaian dan segala keperluan sang suami. Tak lupa, ia sisipkan foto pernjkahan mereka. Berharap, Adiyasa tetap setia di sana dan selalu mengingatnya.
Adiyasa yang melihat kegundahan sang istri berusaha meyakinkan semua akan baik-baik saja. Seperti janji seorang prajurit yang harus setia pada negara, ia pun akan memegang teguh janji pernikahannya bersama Zanna. Kesetiaan baginya adalah segalanya.
****
Pagi hari
Hari ini, akan menjadi yang terakhir Zanna sarapan bareng sang suami, Adiyasa. Sore nanti, sekitar jam 4, Adiyasa akan berangkat menuju Natuna. Hal yang tak pernah dipikirkan Zanna. Paling tidak, bukan saat ini di saat usia pernikahannya belum genap 6 bulan.
Saat sarapan
Mama Zanna yang mulai mempertanyakan kehadiran seorang cucu, semakin membenci tatkala ia tahu kalau menantunya itu akan bertugas ke Natuna.
"Apa ke Natuna?" ujar Mama memasang wajah kecut.
"Iya, Ma.Mas Adi ditugaskan ke sana. Sebagai seorang prajurit kan harus siap ditugaskan di mana pun," terang Zanna sambil menatap ke arah sang suami.
"Kamu setuju ditinggal, Zanna?"
"Aku harus siap Ma. Ini kan sudah menjadi komitmenku saat memutuskan menikah dengan seorang prajurit yang berbakti pada negaranya." Zanna pun memegang erat tangan sang suami.
Mama Zanna itu tak dapat mengelak lagi. Sang anak yang diharapkan dapat segera memberinya cucu justru merestui kepergian sang suami tugas ke luar pulau.
"Ya sudah. Semoga perjalananmu lancar, Di." Mama pun bangkit dan meninggalkan Adi dan Zanna di meja makan.
Mama pun masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Zanna tahu, kalau sang Mama kecewa karena mengingat ia merindukan tangis tawa anak bayi. Namun, ia bisa apa? Saat takdir berkata lain.
Adi yang merasa tak enak pun mencoba mengetuk pintu kamarnya untuk berpamitan. Lama diketuk, akhirnya Ibu mertuanya itu membuka pintu.
"Ma, Adi berangkat dulu ya. Adi titip Zanna sementara Adi bertugas. Kalau Mama butuh apapun, jangan sungkan telepon aku atau minta dengan Zanna. Pokoknya Mama happy aja di sini. Urusan rumah tangga, biar Zanna dan ART yang akan urus," pungkas Adi lalu mencium tangan Ibu mertuanya itu.
"Hati-hati, Nak. Kamu jangan khawatir, Mama dan Zanna akan baik-baik saja di sini. Kamu jaga diri baik-baik di kampung orang," ujar Mama mertua Adi dengan tersenyum.
"Ma, Zanna antar Mas Adi ke Halim dulu ya," ujar Zanna yang mencium tangan Mamanya untuk pamitan.
Adi dan Zanna akhirnya pergi dengan mobil Chevroletnya itu.
****
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam karena macetnya jalanan ibukota, mobil yang membawa Adi dan Zanna akhirnya sampai. Di Bandara milik negara itu, Adi bergabung bersama prajurit lainnya melakukan serangkaian proses acara sebelum akhirnya berpamitan dengan keluarga.
"Mas, kamu hati-hati di sana ya. Kalau sudah sampai, segera kabari aku," ujar Zanna memeluk erat sang suami.
"Kamu jaga diri di sini ya. Kalau tak terlalu penting, tetap tinggal di rumah selama aku tak di rumah ya, Sayang." Adi pun mencium kening sang istri, dan Zanna mencium tangan sang suami sebelum Adi akhirnya bergegas naik ke dalam pesawat yang akan membawanya ke Natuna. Sebuah pulau di ujung utara Indonesia.
****
Akhirnya Adiyasa sampai ditempat barunya. Pulau Natuna. Pulau dengan pemandangan yang indah, dengan hamparan laut yang bersih. Para wisatawan bahkan menyebutnya 'surga seafood'. Berbagai makanan laut dijual cukup murah dan segar tentunya. Ada beberapa makanan khas Natuna yang juga menjadi ciri khasnya, selain keramahan penduduknya.
Adiyasa pun menarik nafas panjang saat kakinya menjejaki tanah Natuna, 'Laut Sakti Rantau Bertuah'. Rombongan pun disambut hangat para anggota di sini. Disambut dengan tarian khas Melayu dan beragam makanan khas Natuna.
Adiyasa pun sangat menyukai keramahan para penduduk. Di sini, ia menemukan sesuatu yang berbeda. Bukan soal indahnya laut Natuna, bukan juga soal nikmatnya makanan khas Natuna. Ya … keramahan masyarakat sekitar. Sungguh memukau hatinya.
"Wow amazing."
Adi pun sempat berkeliling melihat pemandangan Pulau Natuna ini. Meski dengan fasilitas yang minim, ia memiliki sesuatu yang tak dimiliki daerah lain.
Keasyikan memandangi keindahan Natuna, membuat ia lupa mengabari Zanna yang pasti sudah cemas menunggu kabar darinya. Ah, semoga saja si mungil tak marah, karena telat mengabarinya.
"Assalamu'alaikum." Akhirnya panggilanku dijawab juga olehnya.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya ketus di ujung telepon.
"Maaf, Sayang, aku baru bisa mengabarimu. Acara penyambutan baru saja usai," kelitku agar gadis mungilku itu mereda amarahnya.
"Beneran kamu enggak macam-macam kan di sana?" tanya Zanna di ujung telepon.
"Enggaklah, Sayang. Kamu udah makan?"
"Mana aku bisa makan, suamiku telat mengabariku. Malah sibuk …."
"Hahahaha …." Akupun tertawa mendengar ejekannya.
"Makanlah, Sayang, aku nggak mau kamu sakit. Nanti asam lambungmu naik."
"Baiklah, Sayang,"
"Let, makanan sudah siap. Mari kita makan sama-sama." Wanita bernama Henny itu memanggi Adi.
"Siapa dia?" tanya Zanna yang curiga.
"Oh, Henny. Dia masyarakat di sini, yang mengurusi acara penyambutan juga di sini, Sayang."
Sambungan pun terputus.
"Ya Allah, dia cemburu."
Berkali-kali Adiyasa mencoba menghubungi sang istri kembali tetapi tak digubrisnya.
Tiba-tiba
"Urus saja teman barumu di sana, pasti cantik!"
Bersambung …