Bab 2

“Halo, ada apa pa ?” Terdengar suara yang serak diseberang, sepertinya baru bangun tidur.

“Paa?” Ucap laki-laki tersebut kembali karena tak kunjung ada jawaban.

“Hallo Assalamualaikum, ini benar dengan Pak Devano ?” Ucap Siffa hati-hati.

“Waalaikum salam, iya ini siapa ya? Kenapa hp Papa saya ada di kamu? Kemana Papa saya ?” Ucap laki-laki tersebut.

“Maaf Pak, saya Syifa, saya menemukan Papa anda tadi tergeletak dipinggir jalan, jadi saya bawa ke rumah sakit, sebelumnya maaf saya lancang membuka hp Papa anda tapi saya nggak tau harus menghubungi siapa lagi.” Ucap Syifa tidak enak.

“Astaghfirullah, sekarang Papa saya ada dimana ?” Tanya Devan panik.

“Dirumah sakit Cempaka putih.” Jawab Syifa.

“Baik terima kasih, saya akan segera kesana.” Ucap Devan yang langsung mematikan panggilannya.

“Iya, Waalaikumsalam!” Ucap Syifa jengkel.

“Heran deh, kenapa sih orang-orang sekarang pada susah banget ngucapin salam, padahalkan itu doa untuk dirinya sendiri.” Gerutu Syifa karena Devan mematikan teleponnya tanpa salam.

“Assalamualaikum permisi sus, saya mau mengurus administrasi pasien yang baru saja masuk ke UGD.” Ucap Syifa saat sampai di meja resepsionis.

“Waalaikum salam, iya Mbak sebentar ya ... ini silahkan diisi terlebih dulu.” Ucap suster kemudian menyerahkan berkasnya.

“Eum maaf sus, saya tidak mengenal Bapak tersebut, jadi saya nggak bisa mengisi data Bapak tersebut ... Gini aja, ini hp Bapak tadi, saya tadi sudah menghubungi keluarganya dan keluarganya akan menuju kemari, dan ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa suster bisa hubungi saya. Biar biayanya saya lunasi sekarang soalnya saya buru-buru, bisa sus ?” Ucap Syifa

“Bisa kak. Baik, tunggu sebentar ya kak.” Ucap suster.

“Terimakasih sus.” Jawab Syifa.

Setelah selesai mengurus semua administrasi dirumah sakit, Syifa pun bergegas menuju peragaan busananya yang sebentar lagi sudah akan dimulai.

“Assalamualaikum, Zell gimana aduh maaf ya aku terlambat banget, gimana ada yang kurang biar aku perbaiki.” Ucap Syifa dengan ngos-ngosan karena berlari dari pintu depan hingga backstage.

“Waalaikum salam, aduhh Syifa minum dulu minum dulu ini.” Ucap Azell yang memberikan minum pada Syifa yang sudah ngos-ngosan agar sedikit tenang.

“Huhhh.... hahhh... iya makasih ya Zell.” Ucap Syifa menerima air yang diberikan Azell lalu berjongkok dan minum.

“Gimana...? udah tenang? Kamu kenapa tadi kerumah sakit ? Kamu nggak papa kan ?” Tanya Azell khawatir.

“Alhamdulillah, Enggak kok Zell. Aku nggak papa, aku tadi nolongin orang pingsan dijalan.” Ucap Syifa menenangkan sahabatnya tersebut.

“Kok bisa? Siapa ?” Ucap Azell terkejut.

“Ceritanya panjang banget, nanti aku ceritain, sekarang gimana bajunya, hijabnya ada yang kurang pas?” Tanya Syifa.

“Nggak kok udah pas semua, nyaman. Aku suka sama baju rancangan kamu Syiff.” Ucap Azell menenangkan Syifa.

“Makasih ya zell udah mau bantuin aku, udah mau jadi model aku.” Ucap Syifa berterima kasih pada Azell.

“Santai dong Syiff, aku juga seneng bisa jadi model kamu.” Ucap Azell kemudian memeluk Syifa.

Saat mereka berpelukan, Syifa mendapatkan telvon jika Abi dan Uminya sudah berada di depan panggung.

Saat peragaan busana pun dimulai, para model berlenggak lenggok memamerkan baju rancangan para desainer yang ikut serta dalam pameran tersebut.

Tiba saatnya Azell keluar dengan mengandeng Syifa.

Semua orang bertepuk tangan dan terkesima dengan baju rancangan Syifa, baju yang terlihat simpel tapi elegan dan begitu indah. Syifa tak henti-hentinya mengucap Syukur kepada Allah dalam hatinya.

Setelah acara peragaan selesai, mereka berkumpul kembali di backstage.

“Aaaahhhh.... Contrast Syifa sayang. Akhirnya impian kamu bisa terwujud, aku bangga banget sama kamu.” Ucap Azell yang memeluk sahabatnya dengan begitu bangga.

“Masya Allah aamiin. Terimakasih juga ya Zell udah mau bantuin aku.” Ucap Syifa terharu.

“Gimana kalau setelah ini kita ngerayain kesuksesan kamu, kita hangout bareng sekalian aku mau kenalin kamu ke pacar aku.” Ajak Azell.

“Aduhh maaf banget Zell, aku nggak bisa. Aku harus balik kerumah sakit lagi setelah ini. Besok besok kalau ada waktu kita jalan bareng ya.” Tolak syifa halus. Sebenarnya dirinya tidak enak menolak ajakan sahabatnya tersebut tapi dirinya harus kembali lagi ke rumah sakit.

“Yahhh.. yaudah deh nggak papa, tapi janji ya, kalau ada waktu kita hangout bareng.” Ucap Azell.

“Iya Zell, inshaa Allah.” Ucap Syifa.

“Yaudah, aku pamit dulu ya, Abi sama Umi udah nunggu diparkiran.” Pamit Syifa.

“Iya, kamu hati-hati ya” jawab Azell.

“Assalamualaikum.” Pamit Syifa.

“Waalaikumsalam” jawab Azell.

Setelah berpamitan dengan Azell sahabatnya, Syifa menuju ke parkiran karena sudah ditunggu Abi dan Uminya.

Saat tiba diparkiran, Syifa berlari menuju Abi dan Uminya yang telah menunggunya diluar mobil.

“Assalamualaikum Abi, Umi.” Salam Syifa pada kedua orang tuanya dan mencium tangan kedua orangtuanya bergantian.

“Waalaikum salam sayang” jawab Abi dan Umi.

“Kenapa nggak nunggu didalam aja Umi Abi, kan diluar panas ?” Tanya Syifa.

“Nggak papa sayang” ucap Umi sambil mengelus kepala Syifa dengan lembut.

“Selamat ya Neng geulis Umi bangga banget sama Neng, selamat atas apa yang Neng udah raih, anak Umi hebat banget, Umi bangga.” Ucap Umi dengan berkaca-kaca.

“Aamiin terimakasih ya Umi, ini juga semua berkat Umi dan Abi yang selalu doain Syifa hingga Syifa bisa sampai dititik ini, terimakasih Umi.” Ucap Syifa dengan mencium tangan Uminya lagi.

“Sama-sama sayang, sudah kewajiban Umi mendoakan anaknya.” Ucap Umi dengan menetaskan air mata harunya.

“Ahhhhh,,,, Umi jangan nangis, Syifa nggak bisa lihat Umi nangis, jangan nangis Umi sayang.” Ucap Syifa dengan menghapus air mata sang ibu dan memeluknya.

“Syifaaa sayaaaaannnggg banget sama Umi.” Ucap Syifa dengan memeluk erat sang ibu.

“Egheeeenm......!!” Terdengar suara deheman dari sang Abi yang mengehentikan adegan mengharukan antara ibu dan putrinya.

“Abi nggak dianggap nih, udah kaya obat nyamuk aja.” Ucap abi pura-pura merajuk.

Syifa dan Umi tertawa melihat tingkah Abi yang pura-pura ngambek.

“Abii ingat umur, nggak pantes ngambek-ngambek gitu.” Ledek umi.

“Hahahahha... Aduh Abi ku tersayang ngambek hahahah.” Goda Syifa.

“Maaf ya abii, nggak mungkin dong Syifa lupain Abi Syifa yang kasep pisan ini.” Bujuk Syifa yang kemudian memeluk Abinya.

“Terimakasih ya Abi, udah doain Syifa, terimakasih sudah selalu support Syifa nenangin Syifa saat Syifa cemas.” Ucap Syifa berterimakasih pada Abinya.

“Sama-sama Neng. Selamat ya, Abi bangga banget sama Neng, tetap jadi gadis yang rendah hati ya Neng, nggak boleh sombong sama apa yang sudah Neng capai, terus belajar dan jangan lupa bersyukur sama Allah.” Nasehat Abi pada Syifa.

“Iya Abi inshaa Allah.” Jawab Syifa.

Setelah abi melepaskan pelukannya. Abi ingat jika tadi mang Giman tidak bisa kembali ke pesantren untuk menjemputnya untuk menghadiri acara Peragaan Busana Syifa, karena sedang berada dirumah sakit dengan Syifa.

“Oh ya Neng, Abi mau tanya, tadi kata Mang Giman kamu kerumah sakit, kamu nggak papa kan Neng? Apa neng sakit kok nggak cerita ke Abi sama Umi ?” Tanya Abi penuh khawatir.

“Astaghfirullah, Syifa lupa kalau setelah ini harus kerumah sakit!!.” Ucap Syifa yang baru ingat jika dirinya harus kembali kerumah sakit lagi. Tadi suster menghubunginya jika bapak yang di tolongnya meminta bertemu dengannya.

“Naon Neng ? Saha yang sakit ? Kenapa harus balik kerumah sakit lagi ?.” Tanya Umi yang bingung.

“Iya, siapa Neng yang sakit ?” Tanya abi sekali lagi.

“Jadi tadi saat Syifa perjalanan menuju tempat acara, Syifa ngeliat bapak-bapak sepertinya sedang terkena serang jantung Bi, mangkanya tadi Syifa bawa kerumah sakit karena Bapaknya udah nggak sadar Umi, Syifa takut.” Jelas Syifa.

“Innalillahi, tapi Neng kenal sama bapak-bapak tadi ?” Tanya umi.

“Enggak Umi, Syifa nggak kenal. Tapi Syifa sempat hubungi anak dari bapak tersebut lewat hp bapak itu, lalu tadi ada suster ngehubungi Syifa jika bapak tersebut sudah sadar dan minta bertemu Syifa.” Jawab Syifa.

“Abi, Umi Syifa boleh minta izin kerumah sakit sebentar ?” Ucap Syifa meminta izin pada orangtuanya.

“Tapi kamu mau pergi sama siapa Neng ?” Tanya Umi.

“Nanti Mang Giman antar Umi sama Abi aja kembali ke pesantren, nanti biar Syifa naik kendaraan umum aja.” Ucap Syifa agar orangtuanya tidak menghawatirkannya.

“Nggak Neng, kita sareng-sareng aja ke rumah sakit, Umi sama Abi mau nemenin kamu.” Ucap Umi.

“Tapi Umi sama Abi pasti capek, lagian nanti malam Abi kan ada pertemuan sama donatur.” Ucap Syifa.

“Enggak kok, pertemuannya nggak jadi malam ini Neng karena Pak Adi berhalangan.” Jawab Abi.

“Tapi Abi sama Umi pasti capek.” Ucap Syifa lagi. Dirinya tidak tega jika harus melihat Orang tuanya kecapekan.

“Nggak kok sayang, udah ayo nanti keburu malam.” Ucap umi yang sudah tidak bisa di bantah lagi.

Mau tidak mau Syifa harus mengajak kedua orang tuanya kerumah sakit.

Bab 3

Sementara itu di rumah sakit.

“Pah, papa kenapa bisa pingsan dijalan ?” Tanya Devan putra dari Bagaskara Winata.

Devano Keanu Winata atau yang sering di sapa Devan, putra satu-satunya dari pasangan Bagaskara Winata dan Yuni Winata. Pemilik perusahaan terbesar nomor 1 di kota Jakarta. Yang kini telah dipimpin oleh sang putra kesayangannya itu yaitu Devan sebagai CEO.

“Tadi papa dapat telvon kalau ternyata ada yang berlaku curang di perusahaan kita Van itu membuat papa syok. “ Jelas pak Bagas.

“Urusan kantor biar nanti Devan yang urus Pa, Papa sekarang istirahat saja.” Ucap Devan menenangkan sang papa yang cemas memikirkan kondisi perusahaan.

“Van kamu sudah bilang ke suster kan untuk menghubungi gadis yang tadi menolong Papa ?” Tanya pak Bagas pada Devan.

“Sudah Pa, sekarang Papa istirahat dulu.” Jawab Devan.

Sementara itu Syifa dan orang tuanya sudah sampai dirumah sakit. Syifa langsung menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan dimana kamar bapak tadi.

“Assalamualaikum, maaf sus selamat sore.” Ucap Syifa.

“Waalaikum salam, mbak Syifa ya ?” Tanya suster memastikan.

“Iya sus, saya Syifa.” Jawab Syifa.

“Maaf, dimana ya sus kamar bapak tadi ?” Tanya Syifa.

“Oh Pak Bagaskara berada di kamar VVIP ruangan melati ya Mbak ada di lantai tiga.” Tunjuk suster tersebut.

“Baik, terimakasih ya sus, Assalamualaikum.” Pamit Syifa.

“Sama-sama Mbak, waalaikuksalam.” Jawab suster.

Syifa dan kedua orangtuanya pun naik ke lantai tiga dan mencari ruangan melati.

Saat sudah ketemu mereka pun mengetuk pintu kamar tersebut.

Terlihat ada seorang laki-laki yang sedang tertidur di samping ranjang pasien. Syifa yakin dia pasti Devan anak dari Pak Bagaskara yang tadi dia hubungi.

“Syif ini kamarnya ?” Tanya umi yang melihat Syifa hanya melihat dari kaca pintu kamr tersebut.

“Em iya umi.” Jawab Syifa.

“Yaudah ayo masuk.” Ajak Umi.

Kemudian Syifa mengetuk pintu kamar tersebut.

“Assalamualaikum, permisi.” Syifa mengucapkan salam.

Merasa ada yang datang Devan pun terbangun dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

“Waalaikum salam, iya ?” Jawab Devan kebingungan.

“Benar ini kamar pak Bagaskara ? Saya Syifa.” Ucap Syifa.

“Oh iya, silahkan masuk.” Ucap Devan mempersilahkan untuk Syifa dan orang tuanya masuk.

Syifa memberikan bingkisan yang ia beli tadi saat menuju kerumah sakit.

“Kenapa repot-repot ?” Ucap Devan ramah.

“Enggak repot kok, bagaimana keadaan Pak Bagas ?” Tanya Syifa pada Devan.

“Papa masih drop, terimakasih karena kamu sudah menolong Papa saya, saya nggak tau gimana jadinya jika Papa saya telat ditanangi.” Ucap Devan berterimakasih pada Syifa.

“Jangan seperti itu, semua sudah diatur sama Allah, yang penting sekarang Pak Bagas sudah tidak apa-apa.” Ucap Syifa.

Saat Syifa dan kedua orang tuanya juga Devan sedang berbincang bincang tiba-tiba terdengar suara lemah yang memanggil Abi Syifa.

“Rahmad!!” Ucapnya dengan lemah.

“Iya,Bapak kenal dengan saya ?” Tanya Abi Syifa yang terkejut, namun melihat wajah pak Bagas yang tertutup alat oksigen sedikit susah untuk mengenalinya, namun wajah dan suaranya tidak asing bagi Abi Syifa.

“Rahmad, ini saya Bagas.” Ucap pak Bagas terbata-bata.

“Masya Allah Bagaskara Winata? Ini benar-benar kamu bagas sahabat lama saya?.” Ucap Abi Syifa tak percaya.

Pasalnya dirinya sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu dengan sahabatnya ini. Dan kini dipertemukan dengan keadaan sahabatnya yang seperti ini membuatnya sedih dan tidak percaya.

“Iya ini saya Bagas sahabat lama kamu Rahmad.” Jawab Pak Bagas dengan melepas alat pembantu nafasnya itu.

“Ya Allah kamu kemana aja Bagas, saya mencarimu kemana-mana dan kenapa kamu jadi seperti ini sekarang astagfirullah Bagas.” Ucap Abi Syifa dan memeluk pak Bagas dengan haru.

Semua yang ada diruangan itu terkejut tapi tidak dengan Umi Syifa karena dia sudah tahu persahabatan antara suaminya dan pak Bagas.

“Kamu kenapa Gas?” Tanya Abi yang sedih melihat kondisi sahabatnya begitu lemah.

“Ceritanya panjang Rahmad.” Jawab pak Bagas tersenyum.

“Jadi pria gagah dan tampan ini adalah Devan putramu Gas?” Tanya Abi Syifa dengan melihat Devan.

“Iya om, ini saya Devan.” Jawab Devan kemudian mencium tangan Abi Syifa.

“Kamu sudah besar dan tampan Van, Paman sampai pangling sama kamu, dulu kamu masih sangat kecil saat Paman gendong kamu. Sekarang kamu sudah sebesar ini, tumbuh menjadi pria yang tampan dan gagah.” Ucap Abi Syifa.

“Jadi, gadis yang menolongku tadi adalah putrimu Rahmad ?” Tanya pak Bagas pada Abi Syifa.

“Iya benar Bagas, dia adalah putri pertamaku Syifa.” Jawab pak Rahmad kemudian Syifa menundukkan kepalanya.

“Syiff, ini sahabat Abi waktu dulu Abi masih menjadi guru honorer, dia yang bantu Abi sama Umi dulu Syif, kita berhutang budi pada pak Bagas.” Jelas Abi Syifa pada Syifa.

“Tidak ada hutang budi itu Rahmad, lihatlah kini aku yang ditolong oleh putrimu. Ucap pak Bagas.

Sampaii akhirnya terdengar suara dari kamar tersebut berbunyi nyaring, yang menandakan jika keadaan pak Bagas kembali drop.

“Pah ... Papa … Papa kenapa Pa?....” teriak Devan yang panik.

“Biar Syifa panggil dokter.” Ucap Syifa yang berlari keluar untuk memanggil dokter.

Beberapa saat kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan pak Bagas.

Setelah keadaan pak Bagas kembali stabil dokterpun pamit.

“Rahmad!!” Panggil Pak Bagas pada Abi Syifa.

“Iya bagas, saya disini.” Jawab Abi dan menghampiri ranjang pak Bagas.

“Kamu mau memenuhi permintaan terakhir saya ?” Tanya pak bagas tiba-tiba.

“Pahh, Papa jangan ngomong begitu, Papa akan sembuh.” Ucap Devan sendu.

“Rahmad, dulu kita pernah berencana menjodohkan putra putri kita, apakah kamu masih bersedia?” Ucap pak Bagas tiba-tiba yang membuat semua yang berada diruangan tersebut terkejut.

“Pah, Papa apa-apaan sih? Papa lupa kalau Devan punya Azell Pah?.” Tolak Devan langsung.

“Papa tidak mau mendengar penolakan darimu apapun itu alasannya Van.” Ucap pak Bagas yang membuat Devan begitu frustasi.

Sedangkan Syifa begitu terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Tapi Pa ... Papa lupa kalau aku sebentar lagi juga akan bertunangan, mana bisa kau menikah dengan wanita lain pa.!!” Ucap Devan marah.

“Itu kalau kamu bisa mendapatkan restu dari Papa, tapi sampai sekarang kamu masih belum bisa mendapatkannya kan ?” Jawab pak Bagas yang mematahkan harapan harapan Devan.

Entah mengapa sang papa sampai saat ini masih tidak merestui hubungan Devan dengan kekasihnya, padahal hubungan itu sudah berjalan hampir 3 tahun, dan sampai saat ini belum mendapatkan lampu hijau juga dari sang papa.

Padahal kekasihnya terbilang istri idaman bagi semua orang. Bagaimana tidak, selain cantik dia juga seorang model terkenal, baik dan ramah dengan siapapun. Tapi hal itu tidak bisa membuka hati sang papa sama sekali, bahkan terang-terangan sang papa menentang hubungan Devan dengan sang kekasih.

Devan pun tidak habis pikir dengan sang papa, apa kurangnya kekasihnya itu, dan kini malah akan menjodohkannya dengan wanita lain yang bahkan Devan sendiri belum mengenalnya sangat GILA menurutnya.

Syifa yang terkejut dengan ucapan pak Bagas begitu tertegun, menjodohkan anakanya dengan putri Abinya, memang putri Abi tidak hanya dirinya tapi adiknya masih menempuh pendidikan di Mesir tidak mungkin jika akan dinikahkan saat ini.

Dan hanya dirinya satu-satunya putri Abi yang sudah selesai dengan pendidikannya jadi tidaklah tidak mungkin jika dirinya yang akan dijodohkan.

Sedangkan dirinya belum terpikirkan untuk menjalin rumah tangga dengan siapapun. Bukan apa-apa tapi dirinya masih ingin menggapai semua impiannya.

“Abi ? Gimana maksudnya? Tanya Syifa pada sang Abi.

“Nanti Abi jelaskan ya Neng.” Ucap Abi menenangkan Syifa. Ia tahu jika saat ini putrinya begitu terkejut dan cemas.

“Rahmad ... kau mau kan memenuhi permintaan terakhirku ini?” Ucap pak bagas lagi dengan begitu lemah.

“Jangan bilang seperti itu Bagas, kamu pasti bisa sembuh.” Ucap Abi syifa menenangkan pak Bagas .

“Aku tidak yakin untuk hal itu, dan aku tidak banyak berharap untuk itu. Saat ini aku hanya ingin melihat putraku satu-satunya menikah dengan wanita baik-baik.” Ucap pak Bagas senduh.

“Iya Pa, Papa sembuh dulu nanti Papa bisa lihat aku menikah dengan kekasihku Pa.” Ucap Devan.

“Tidak, lebih baik Papa mati sekarang jika harus melihat kamu menikah dengan wanita itu.” Ucap pak Bagas dengan lantang.

“Astaghfirullah,, istighfar Bagas kamu jangan ngomong seperti itu.” Ucap Abi Syifa mengingatkan.

“Paa, sebenarnya apa alasan Papa selalu menentang hubunganku Pa, padahal Azell wanita baik-baik tapi kenapa papa selalu menentang hubungan kita?” Ucap Devan frustasi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED