Bab 1

“Kriiinnngg.....kriinnnggg...kriiinggg..” suara jam berdering pukul 03.00 membangunkan gadis cantik dari tidurnya.

As-Syifa Anaya Khumaira, atau yang sering disapa Syifa. Gadis berparas cantik dengan mata yang meneduhkan, pipi yang sedikit berisi, dan bibir yang mungil.

Setelah mendengar jam berbunyi dia bangun dan bergegas kekamar mandi untuk mandi dan mengambil wudhu. Setelah itu dia menunaikan shalat tahajud dan membaca Al-Qur’an sembari menunggu adzan subuh berkumandang. Saat sudah memasuki waktu subuh Syifapun menunaikan sunnah dua rakaat sebelum subuh dan dilanjutkan shalat subuh.

Setelahnya Syifa kembali Mengulang hafalan Al-Qur’annya, biasanya dirinya akan melakukan murajaah hinggah waktu dhuhah tiba, tapi untuk kali ini dirinya hanya sampai pukul 06.00 saja karena Syifa harus bersiap untuk mengikuti peragaan busana di kota Jakarta.

Yaa, Syifa adalah seorang desainer muda yang berbakat. Setelah menyelesaikan pendidikannya selama empat tahun di Istanbul Turki, kini syifa telah menyandang gelar S1 tafsir Al-Qur’an dan D2 tata busana, Syifa kembali ke negara kelahirannya dan menjadi seorang desainer muda sekaligus membantu Abinya di pesantren sebagai guru tafsir Al-Qur’an.

Syifa adalah putri pertama dari Pak Rahmad dan ibu Nisa, pemilik salah satu pesantren di kota Bandung. Dia memiliki adik perempuan yang kini telah menempuh pendidikan di Kairo Mesir.

“Assalamualaikum Abi, umi.” Ucap Syifa menghampiri abi dan uminya yang berada di ruang makan.

“Waalaikum salam neng geulis, tumben anak umi jam segini udah turun ? Bukanya hari ini kamu nggak ada jadwal ngajar ?” Tanya umi yang heran karena baru pukul 07.30 tapi syifa sudah turun. Biasanya dia akan turun pukul 08.30, kecuali saat ada jam mengajar pagi dia akan turun pukul 07.00 dan menunaikan dhuha di Mushola pondok bersama santriwati disana.

“Iya umi, hari ini Syifa nggak ada jadwal ngajar, tapi masa umi lupa kalo hari ini Syifa ada jadwal peragaan busana di salah satu Mall di kota Jakarta.” Jawab Syifa dengan cemberut karena uminya tidak mengingat jika hari ini adalah hari penting untuk Syifa.

“Oh iya Umi lupa, hampura ya Neng Umi lupa.” Ucap umi.

“Ini ada apa atuh pagi-pagi kok udah ada yang cemberut aja, kumaha anak gadis pagi-pagi kok udah cemberut pamali loh, nanti jodohnya Om-om”. Goda Abi saat melihat Syifa yang sedikit badmood.

“Nggak papa Om-om yang penting sholeh, faham agama dan bisa bimbing Syifa menujuh Jannah.” Jawab Syifa bercanda.

“Awas loh Neng omongan adalah Do’a.” Goda umi.

“Sudah-sudah, ayo kita sarapan, kamu jadi berangkat jam berapa Neng ?” Tanya Abi pada Syifa.

“Nanti jam 08.00 Bi, soalnya nanti peragaan busananya jam 10.00, Abi sama Umi jadi datang kan ?” Tanya Syifa memastikan jika abi dan uminya bisa menghadiri acara pentingnya itu.

"Iya, Inshaa Allah nanti Abi sama Umi datang, kalau kamu berangkat sekarang berarti nggak bareng sama Abi sama Umi dong Syif ?” Tanya umi pada Syifa.

“Iya umi syifa kan harus cek in akhir juga sama model-model Syifa yang akan mengenakan baju rancangan Syifa, siapa tau nanti ada yang kurang pas, jadi Syifa masih bisa memperbaikinya.” Jelas syifa pada uminya.

“Lah terus kamu berangkat sama siapa Fa, dianter sama kang Giman ya.?” Tawar Abah yang tidak tega jika melihat putrinya harus menaiki kendaraan umum.

“Iya Bi nggak papa.” Ucap Syifa mengiyakan tawaran abinya, jika tidak akan jadi panjang urusannya nanti.

“Yaudah ayo sarapan dulu, nanti kamu terlambat lagi.” Ucap umi.

Mereka pun sarapan bersama dan sesekali membahas tentang kemajuan pesantren yang dipimpin oleh Abinya Syifa.

Setelah sarapan Syifapun bergegas pamit dan minta do’a pada abi dan umi agar diberi kelancaran segalanya.

“Abi, Umi Syifa pamit dulu ya, maaf ya Umi Syifa nggak bisa bantuin Umi hari ini.” Ucap Syifa tidak enak, pasalnya biasanya dirinya yang membantu umi mengurus pekerjaan rumah, tidak ada asisten disana karena rumah Syifa juga tidak terlalu besar.

“Tidak apa-apa sayang, Syifa berangkat aja, hati-hati ya dijalan jangan lupa berdoa biar semua dilancarkan. Nanti kalau Abi sama Umi sudah sampai disana Umi bakal hubungi Syifa.” Ucap Umi.

“Iya Umi, kalau gitu Syifa pamit dulu ya Umi Abi, mohon doanya ya.” Ucap Syifa kemudian menyalami tangan kedua orang tuanya.

“Iya Neng hati-hati ya “ ucap Abi.

“Assalamualaikum.” Pamit syifa kemudian berangkat.

“Waalaikum salam.” Jawab Abi dan Umi bersamaan.

Disepanjang perjalanan menuju Mall, Syifa memandangi jalanan dari jendela mobil dan menikmati hamparan kebun teh, hingga sampai akhirnya sampai di kota Jakarta, dia melihat berbagai gedung-gedung tinggi di sana, dirinya tidak menyangka jika dirinya bisa sampai dititik ini.

Menjadi seorang desainer adalah cita-citanya sedari kecil. Dirinya sering membuat gambar-gambar desain baju yang begitu cantik, meski baju tertutup tapi tidak tertinggal zaman. Dan kini akhirnya dirinya bisa mengikuti peragaan busana dengan baju rancangannya sendiri. Didalam hatinya tak henti-hentinya dirinya mengucap syukur pada Allah Swt.

Saat asyik dengan lamunannya, Syifa melihat seorang bapak-bapak yang sepertinya sedang kesakitan dipinggir jalan, dengan memegangi dadanya. Syifa yang tidak tegapun menyuruh supirnya untuk berhenti sebentar dan menghampiri bapak tersebut.

“Kang, kang maaf berhenti dulu kang.” Ucap Syifa.

“Kenapa neng, ada yang ketinggalan ?” Tanya kang Giman kemudian memberhentikan mobilnya tepat di belakang mobil bapak-bapak tadi yang dilihat Syifa.

“Enggak kang, kang Giman tunggu sebentar ya disini.” Ucap Syifa lalu keluar dan berjalan kearah laki-laki tersebut.

“Astaghfirullah bapak, bapak kenapa pak ?” Tanya Syifa yang mencoba menolong bapak tersebut yang sudah tergeletak di jalan.

Namun, laki-laki tersebut sudah tidak sadarkan diri.

“Astaghfirullah, kumaha ini ya Allah.” Ucap Syifa bingung.

Kemudian Syifa memanggil kang Giman agar keluar dari mobil.

"Kang, kang Giman, keluar kang tolongin Syifa kang.” Teriak Syifa.

“Astaghfirullah ini kenapa neng, neng kenal ?” Tanya kang Giman yang juga panik.

“Udah nanti saya jelasin, sekarang tolong bantuin saya bawa masuk bapak ini kemobil kita, lalu kita antar ke rumah sakit terdekat dulu.” Ucap Syifa.

Kemudian kang Giman memampa bapak tersebut kedalam mobil mereka, sedangkan Syifa mengambil hp bapak tadi yang tergeletak di jalan dan mengamankannya terlebih dulu.

Dan mereka berjalan menuju ke rumah sakit terdekat.

“Ayo kang cepetan, tapi hati-hati ya.” Ucap Syifa tegang.

“Iya neng siap.” Ucap kang Giman lalu menginjak gas mobilnya.

Saat sampai di rumah sakit kang Giman keluar terlebih dulu untuk meminta pertolongan suster untuk membawa bapak tersebut ke UGD.

“Maaf ya Mbak, Mbak gak bisa masuk, silahkan Mbak urus administrasi juga pendaftaran dulu di resepsionis, biar dokter yang memeriksa keadaannya, apakah Bapak tadi keluarga Mbak ?” Tanya suster.

“Eum, bukan Sus tadi saya melihat Bapak tersebut di jalan terus saya bawa kesini.” Jawab Syifa.

"Kalau begitu mbak bisa menghubungi keluarga pasien dan mengurus administrasinya dulu.” Ucap suster.

“Baik Sus, terima kasih.” Ucap Syifa, yang kemudian berjalan menuju meja resepsionis.

Saat berjalan menuju meja resepsionis, Syifa mendapat telvon dari sahabatnya yang saat itu akan menjadi modelnya.

Kriiiiiiiiinnnnggggg.......

“Halo Syifa, kamu kemana ? katanya udah berangkat, kok nggak sampai-sampai ? Kamu nggak apa-apa kan Syif ?” Ucap sahabat Syifa khawatir.

“Assalamualaikum Zell, iya aku nggak papa Zell, ini aku lagi dirumah sakit, sebentar lagi aku nyampai kesana.” Jawab Syifa.

“Hah,,,, kok bisa dirumah sakit? Siapa yang sakit Syiff ?” Tanya zella panik.

“Kalau ada yang ngucapin salam itu dijawab dulu Zell.” Tegur Syifa.

“Eh iya, waalaikum salam Syiff.” Jawab Azell.

“Nanti aku ceritain, sekarang aku mau ngurus administrasi dulu, kamu siap-siap dulu ya. Tenang aja, inshaa Allah semuanya baik-baik aja kok” ucap Syifa menenangkan sahabatnya.

“Yaudah, kamu hati-hati ya Syiff.” Ucap Azell.

“Iya, inshaa Allah Zell, yaudah sampai ketemu disana ya Zell, Assalamualaikum”. Ucap Syifa kemudian mematikan telvonya.

“Waalaikumsalam” jawab Azell.

Sebelum menuju meja resepsionis, Syifa ingat kalau tadi dia memegang hp bapak tersebut.

“Aku buka nggak ya, tapi kalau nggak aku buka aku nggak bisa nungguin Bapak ini disini terus, aku harus ke tempat peragaan sekarang. Emmmm.... yaudah deh, aku coba cari nomor keluarganya. Bissmillah, maaf ya Pak saya izin buka hp Bapak buat nyari nomor keluarga Bapak.” Ucap Syifa yang berdialog sendiri.

Setelah menyalakan hp tersebut, untungnya nggak dikunci hpnya jadi dia bisa membukanya.

“Alhamdulillah nggak ada password-nya.” Ucap Syifa.

Setelah mencari cari, Syifa menemukan nomor yang sering dihubungi oleh bapak tersebut dengan nama “Putraku Devano”, Syifa yakin jika itu nomor anak dari bapak tersebut. Tanpa pikir panjang lagi Syifa langsung memanggil nomor tersebut.

Terdengar bunyi telpon tersambung, tak lama kemudian ada jawaban dari panggilannya tersebut.

Bab 2

“Halo, ada apa pa ?” Terdengar suara yang serak diseberang, sepertinya baru bangun tidur.

“Paa?” Ucap laki-laki tersebut kembali karena tak kunjung ada jawaban.

“Hallo Assalamualaikum, ini benar dengan Pak Devano ?” Ucap Siffa hati-hati.

“Waalaikum salam, iya ini siapa ya? Kenapa hp Papa saya ada di kamu? Kemana Papa saya ?” Ucap laki-laki tersebut.

“Maaf Pak, saya Syifa, saya menemukan Papa anda tadi tergeletak dipinggir jalan, jadi saya bawa ke rumah sakit, sebelumnya maaf saya lancang membuka hp Papa anda tapi saya nggak tau harus menghubungi siapa lagi.” Ucap Syifa tidak enak.

“Astaghfirullah, sekarang Papa saya ada dimana ?” Tanya Devan panik.

“Dirumah sakit Cempaka putih.” Jawab Syifa.

“Baik terima kasih, saya akan segera kesana.” Ucap Devan yang langsung mematikan panggilannya.

“Iya, Waalaikumsalam!” Ucap Syifa jengkel.

“Heran deh, kenapa sih orang-orang sekarang pada susah banget ngucapin salam, padahalkan itu doa untuk dirinya sendiri.” Gerutu Syifa karena Devan mematikan teleponnya tanpa salam.

“Assalamualaikum permisi sus, saya mau mengurus administrasi pasien yang baru saja masuk ke UGD.” Ucap Syifa saat sampai di meja resepsionis.

“Waalaikum salam, iya Mbak sebentar ya ... ini silahkan diisi terlebih dulu.” Ucap suster kemudian menyerahkan berkasnya.

“Eum maaf sus, saya tidak mengenal Bapak tersebut, jadi saya nggak bisa mengisi data Bapak tersebut ... Gini aja, ini hp Bapak tadi, saya tadi sudah menghubungi keluarganya dan keluarganya akan menuju kemari, dan ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa suster bisa hubungi saya. Biar biayanya saya lunasi sekarang soalnya saya buru-buru, bisa sus ?” Ucap Syifa

“Bisa kak. Baik, tunggu sebentar ya kak.” Ucap suster.

“Terimakasih sus.” Jawab Syifa.

Setelah selesai mengurus semua administrasi dirumah sakit, Syifa pun bergegas menuju peragaan busananya yang sebentar lagi sudah akan dimulai.

“Assalamualaikum, Zell gimana aduh maaf ya aku terlambat banget, gimana ada yang kurang biar aku perbaiki.” Ucap Syifa dengan ngos-ngosan karena berlari dari pintu depan hingga backstage.

“Waalaikum salam, aduhh Syifa minum dulu minum dulu ini.” Ucap Azell yang memberikan minum pada Syifa yang sudah ngos-ngosan agar sedikit tenang.

“Huhhh.... hahhh... iya makasih ya Zell.” Ucap Syifa menerima air yang diberikan Azell lalu berjongkok dan minum.

“Gimana...? udah tenang? Kamu kenapa tadi kerumah sakit ? Kamu nggak papa kan ?” Tanya Azell khawatir.

“Alhamdulillah, Enggak kok Zell. Aku nggak papa, aku tadi nolongin orang pingsan dijalan.” Ucap Syifa menenangkan sahabatnya tersebut.

“Kok bisa? Siapa ?” Ucap Azell terkejut.

“Ceritanya panjang banget, nanti aku ceritain, sekarang gimana bajunya, hijabnya ada yang kurang pas?” Tanya Syifa.

“Nggak kok udah pas semua, nyaman. Aku suka sama baju rancangan kamu Syiff.” Ucap Azell menenangkan Syifa.

“Makasih ya zell udah mau bantuin aku, udah mau jadi model aku.” Ucap Syifa berterima kasih pada Azell.

“Santai dong Syiff, aku juga seneng bisa jadi model kamu.” Ucap Azell kemudian memeluk Syifa.

Saat mereka berpelukan, Syifa mendapatkan telvon jika Abi dan Uminya sudah berada di depan panggung.

Saat peragaan busana pun dimulai, para model berlenggak lenggok memamerkan baju rancangan para desainer yang ikut serta dalam pameran tersebut.

Tiba saatnya Azell keluar dengan mengandeng Syifa.

Semua orang bertepuk tangan dan terkesima dengan baju rancangan Syifa, baju yang terlihat simpel tapi elegan dan begitu indah. Syifa tak henti-hentinya mengucap Syukur kepada Allah dalam hatinya.

Setelah acara peragaan selesai, mereka berkumpul kembali di backstage.

“Aaaahhhh.... Contrast Syifa sayang. Akhirnya impian kamu bisa terwujud, aku bangga banget sama kamu.” Ucap Azell yang memeluk sahabatnya dengan begitu bangga.

“Masya Allah aamiin. Terimakasih juga ya Zell udah mau bantuin aku.” Ucap Syifa terharu.

“Gimana kalau setelah ini kita ngerayain kesuksesan kamu, kita hangout bareng sekalian aku mau kenalin kamu ke pacar aku.” Ajak Azell.

“Aduhh maaf banget Zell, aku nggak bisa. Aku harus balik kerumah sakit lagi setelah ini. Besok besok kalau ada waktu kita jalan bareng ya.” Tolak syifa halus. Sebenarnya dirinya tidak enak menolak ajakan sahabatnya tersebut tapi dirinya harus kembali lagi ke rumah sakit.

“Yahhh.. yaudah deh nggak papa, tapi janji ya, kalau ada waktu kita hangout bareng.” Ucap Azell.

“Iya Zell, inshaa Allah.” Ucap Syifa.

“Yaudah, aku pamit dulu ya, Abi sama Umi udah nunggu diparkiran.” Pamit Syifa.

“Iya, kamu hati-hati ya” jawab Azell.

“Assalamualaikum.” Pamit Syifa.

“Waalaikumsalam” jawab Azell.

Setelah berpamitan dengan Azell sahabatnya, Syifa menuju ke parkiran karena sudah ditunggu Abi dan Uminya.

Saat tiba diparkiran, Syifa berlari menuju Abi dan Uminya yang telah menunggunya diluar mobil.

“Assalamualaikum Abi, Umi.” Salam Syifa pada kedua orang tuanya dan mencium tangan kedua orangtuanya bergantian.

“Waalaikum salam sayang” jawab Abi dan Umi.

“Kenapa nggak nunggu didalam aja Umi Abi, kan diluar panas ?” Tanya Syifa.

“Nggak papa sayang” ucap Umi sambil mengelus kepala Syifa dengan lembut.

“Selamat ya Neng geulis Umi bangga banget sama Neng, selamat atas apa yang Neng udah raih, anak Umi hebat banget, Umi bangga.” Ucap Umi dengan berkaca-kaca.

“Aamiin terimakasih ya Umi, ini juga semua berkat Umi dan Abi yang selalu doain Syifa hingga Syifa bisa sampai dititik ini, terimakasih Umi.” Ucap Syifa dengan mencium tangan Uminya lagi.

“Sama-sama sayang, sudah kewajiban Umi mendoakan anaknya.” Ucap Umi dengan menetaskan air mata harunya.

“Ahhhhh,,,, Umi jangan nangis, Syifa nggak bisa lihat Umi nangis, jangan nangis Umi sayang.” Ucap Syifa dengan menghapus air mata sang ibu dan memeluknya.

“Syifaaa sayaaaaannnggg banget sama Umi.” Ucap Syifa dengan memeluk erat sang ibu.

“Egheeeenm......!!” Terdengar suara deheman dari sang Abi yang mengehentikan adegan mengharukan antara ibu dan putrinya.

“Abi nggak dianggap nih, udah kaya obat nyamuk aja.” Ucap abi pura-pura merajuk.

Syifa dan Umi tertawa melihat tingkah Abi yang pura-pura ngambek.

“Abii ingat umur, nggak pantes ngambek-ngambek gitu.” Ledek umi.

“Hahahahha... Aduh Abi ku tersayang ngambek hahahah.” Goda Syifa.

“Maaf ya abii, nggak mungkin dong Syifa lupain Abi Syifa yang kasep pisan ini.” Bujuk Syifa yang kemudian memeluk Abinya.

“Terimakasih ya Abi, udah doain Syifa, terimakasih sudah selalu support Syifa nenangin Syifa saat Syifa cemas.” Ucap Syifa berterimakasih pada Abinya.

“Sama-sama Neng. Selamat ya, Abi bangga banget sama Neng, tetap jadi gadis yang rendah hati ya Neng, nggak boleh sombong sama apa yang sudah Neng capai, terus belajar dan jangan lupa bersyukur sama Allah.” Nasehat Abi pada Syifa.

“Iya Abi inshaa Allah.” Jawab Syifa.

Setelah abi melepaskan pelukannya. Abi ingat jika tadi mang Giman tidak bisa kembali ke pesantren untuk menjemputnya untuk menghadiri acara Peragaan Busana Syifa, karena sedang berada dirumah sakit dengan Syifa.

“Oh ya Neng, Abi mau tanya, tadi kata Mang Giman kamu kerumah sakit, kamu nggak papa kan Neng? Apa neng sakit kok nggak cerita ke Abi sama Umi ?” Tanya Abi penuh khawatir.

“Astaghfirullah, Syifa lupa kalau setelah ini harus kerumah sakit!!.” Ucap Syifa yang baru ingat jika dirinya harus kembali kerumah sakit lagi. Tadi suster menghubunginya jika bapak yang di tolongnya meminta bertemu dengannya.

“Naon Neng ? Saha yang sakit ? Kenapa harus balik kerumah sakit lagi ?.” Tanya Umi yang bingung.

“Iya, siapa Neng yang sakit ?” Tanya abi sekali lagi.

“Jadi tadi saat Syifa perjalanan menuju tempat acara, Syifa ngeliat bapak-bapak sepertinya sedang terkena serang jantung Bi, mangkanya tadi Syifa bawa kerumah sakit karena Bapaknya udah nggak sadar Umi, Syifa takut.” Jelas Syifa.

“Innalillahi, tapi Neng kenal sama bapak-bapak tadi ?” Tanya umi.

“Enggak Umi, Syifa nggak kenal. Tapi Syifa sempat hubungi anak dari bapak tersebut lewat hp bapak itu, lalu tadi ada suster ngehubungi Syifa jika bapak tersebut sudah sadar dan minta bertemu Syifa.” Jawab Syifa.

“Abi, Umi Syifa boleh minta izin kerumah sakit sebentar ?” Ucap Syifa meminta izin pada orangtuanya.

“Tapi kamu mau pergi sama siapa Neng ?” Tanya Umi.

“Nanti Mang Giman antar Umi sama Abi aja kembali ke pesantren, nanti biar Syifa naik kendaraan umum aja.” Ucap Syifa agar orangtuanya tidak menghawatirkannya.

“Nggak Neng, kita sareng-sareng aja ke rumah sakit, Umi sama Abi mau nemenin kamu.” Ucap Umi.

“Tapi Umi sama Abi pasti capek, lagian nanti malam Abi kan ada pertemuan sama donatur.” Ucap Syifa.

“Enggak kok, pertemuannya nggak jadi malam ini Neng karena Pak Adi berhalangan.” Jawab Abi.

“Tapi Abi sama Umi pasti capek.” Ucap Syifa lagi. Dirinya tidak tega jika harus melihat Orang tuanya kecapekan.

“Nggak kok sayang, udah ayo nanti keburu malam.” Ucap umi yang sudah tidak bisa di bantah lagi.

Mau tidak mau Syifa harus mengajak kedua orang tuanya kerumah sakit.

Bab 3

Sementara itu di rumah sakit.

“Pah, papa kenapa bisa pingsan dijalan ?” Tanya Devan putra dari Bagaskara Winata.

Devano Keanu Winata atau yang sering di sapa Devan, putra satu-satunya dari pasangan Bagaskara Winata dan Yuni Winata. Pemilik perusahaan terbesar nomor 1 di kota Jakarta. Yang kini telah dipimpin oleh sang putra kesayangannya itu yaitu Devan sebagai CEO.

“Tadi papa dapat telvon kalau ternyata ada yang berlaku curang di perusahaan kita Van itu membuat papa syok. “ Jelas pak Bagas.

“Urusan kantor biar nanti Devan yang urus Pa, Papa sekarang istirahat saja.” Ucap Devan menenangkan sang papa yang cemas memikirkan kondisi perusahaan.

“Van kamu sudah bilang ke suster kan untuk menghubungi gadis yang tadi menolong Papa ?” Tanya pak Bagas pada Devan.

“Sudah Pa, sekarang Papa istirahat dulu.” Jawab Devan.

Sementara itu Syifa dan orang tuanya sudah sampai dirumah sakit. Syifa langsung menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan dimana kamar bapak tadi.

“Assalamualaikum, maaf sus selamat sore.” Ucap Syifa.

“Waalaikum salam, mbak Syifa ya ?” Tanya suster memastikan.

“Iya sus, saya Syifa.” Jawab Syifa.

“Maaf, dimana ya sus kamar bapak tadi ?” Tanya Syifa.

“Oh Pak Bagaskara berada di kamar VVIP ruangan melati ya Mbak ada di lantai tiga.” Tunjuk suster tersebut.

“Baik, terimakasih ya sus, Assalamualaikum.” Pamit Syifa.

“Sama-sama Mbak, waalaikuksalam.” Jawab suster.

Syifa dan kedua orangtuanya pun naik ke lantai tiga dan mencari ruangan melati.

Saat sudah ketemu mereka pun mengetuk pintu kamar tersebut.

Terlihat ada seorang laki-laki yang sedang tertidur di samping ranjang pasien. Syifa yakin dia pasti Devan anak dari Pak Bagaskara yang tadi dia hubungi.

“Syif ini kamarnya ?” Tanya umi yang melihat Syifa hanya melihat dari kaca pintu kamr tersebut.

“Em iya umi.” Jawab Syifa.

“Yaudah ayo masuk.” Ajak Umi.

Kemudian Syifa mengetuk pintu kamar tersebut.

“Assalamualaikum, permisi.” Syifa mengucapkan salam.

Merasa ada yang datang Devan pun terbangun dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

“Waalaikum salam, iya ?” Jawab Devan kebingungan.

“Benar ini kamar pak Bagaskara ? Saya Syifa.” Ucap Syifa.

“Oh iya, silahkan masuk.” Ucap Devan mempersilahkan untuk Syifa dan orang tuanya masuk.

Syifa memberikan bingkisan yang ia beli tadi saat menuju kerumah sakit.

“Kenapa repot-repot ?” Ucap Devan ramah.

“Enggak repot kok, bagaimana keadaan Pak Bagas ?” Tanya Syifa pada Devan.

“Papa masih drop, terimakasih karena kamu sudah menolong Papa saya, saya nggak tau gimana jadinya jika Papa saya telat ditanangi.” Ucap Devan berterimakasih pada Syifa.

“Jangan seperti itu, semua sudah diatur sama Allah, yang penting sekarang Pak Bagas sudah tidak apa-apa.” Ucap Syifa.

Saat Syifa dan kedua orang tuanya juga Devan sedang berbincang bincang tiba-tiba terdengar suara lemah yang memanggil Abi Syifa.

“Rahmad!!” Ucapnya dengan lemah.

“Iya,Bapak kenal dengan saya ?” Tanya Abi Syifa yang terkejut, namun melihat wajah pak Bagas yang tertutup alat oksigen sedikit susah untuk mengenalinya, namun wajah dan suaranya tidak asing bagi Abi Syifa.

“Rahmad, ini saya Bagas.” Ucap pak Bagas terbata-bata.

“Masya Allah Bagaskara Winata? Ini benar-benar kamu bagas sahabat lama saya?.” Ucap Abi Syifa tak percaya.

Pasalnya dirinya sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu dengan sahabatnya ini. Dan kini dipertemukan dengan keadaan sahabatnya yang seperti ini membuatnya sedih dan tidak percaya.

“Iya ini saya Bagas sahabat lama kamu Rahmad.” Jawab Pak Bagas dengan melepas alat pembantu nafasnya itu.

“Ya Allah kamu kemana aja Bagas, saya mencarimu kemana-mana dan kenapa kamu jadi seperti ini sekarang astagfirullah Bagas.” Ucap Abi Syifa dan memeluk pak Bagas dengan haru.

Semua yang ada diruangan itu terkejut tapi tidak dengan Umi Syifa karena dia sudah tahu persahabatan antara suaminya dan pak Bagas.

“Kamu kenapa Gas?” Tanya Abi yang sedih melihat kondisi sahabatnya begitu lemah.

“Ceritanya panjang Rahmad.” Jawab pak Bagas tersenyum.

“Jadi pria gagah dan tampan ini adalah Devan putramu Gas?” Tanya Abi Syifa dengan melihat Devan.

“Iya om, ini saya Devan.” Jawab Devan kemudian mencium tangan Abi Syifa.

“Kamu sudah besar dan tampan Van, Paman sampai pangling sama kamu, dulu kamu masih sangat kecil saat Paman gendong kamu. Sekarang kamu sudah sebesar ini, tumbuh menjadi pria yang tampan dan gagah.” Ucap Abi Syifa.

“Jadi, gadis yang menolongku tadi adalah putrimu Rahmad ?” Tanya pak Bagas pada Abi Syifa.

“Iya benar Bagas, dia adalah putri pertamaku Syifa.” Jawab pak Rahmad kemudian Syifa menundukkan kepalanya.

“Syiff, ini sahabat Abi waktu dulu Abi masih menjadi guru honorer, dia yang bantu Abi sama Umi dulu Syif, kita berhutang budi pada pak Bagas.” Jelas Abi Syifa pada Syifa.

“Tidak ada hutang budi itu Rahmad, lihatlah kini aku yang ditolong oleh putrimu. Ucap pak Bagas.

Sampaii akhirnya terdengar suara dari kamar tersebut berbunyi nyaring, yang menandakan jika keadaan pak Bagas kembali drop.

“Pah ... Papa … Papa kenapa Pa?....” teriak Devan yang panik.

“Biar Syifa panggil dokter.” Ucap Syifa yang berlari keluar untuk memanggil dokter.

Beberapa saat kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan pak Bagas.

Setelah keadaan pak Bagas kembali stabil dokterpun pamit.

“Rahmad!!” Panggil Pak Bagas pada Abi Syifa.

“Iya bagas, saya disini.” Jawab Abi dan menghampiri ranjang pak Bagas.

“Kamu mau memenuhi permintaan terakhir saya ?” Tanya pak bagas tiba-tiba.

“Pahh, Papa jangan ngomong begitu, Papa akan sembuh.” Ucap Devan sendu.

“Rahmad, dulu kita pernah berencana menjodohkan putra putri kita, apakah kamu masih bersedia?” Ucap pak Bagas tiba-tiba yang membuat semua yang berada diruangan tersebut terkejut.

“Pah, Papa apa-apaan sih? Papa lupa kalau Devan punya Azell Pah?.” Tolak Devan langsung.

“Papa tidak mau mendengar penolakan darimu apapun itu alasannya Van.” Ucap pak Bagas yang membuat Devan begitu frustasi.

Sedangkan Syifa begitu terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Tapi Pa ... Papa lupa kalau aku sebentar lagi juga akan bertunangan, mana bisa kau menikah dengan wanita lain pa.!!” Ucap Devan marah.

“Itu kalau kamu bisa mendapatkan restu dari Papa, tapi sampai sekarang kamu masih belum bisa mendapatkannya kan ?” Jawab pak Bagas yang mematahkan harapan harapan Devan.

Entah mengapa sang papa sampai saat ini masih tidak merestui hubungan Devan dengan kekasihnya, padahal hubungan itu sudah berjalan hampir 3 tahun, dan sampai saat ini belum mendapatkan lampu hijau juga dari sang papa.

Padahal kekasihnya terbilang istri idaman bagi semua orang. Bagaimana tidak, selain cantik dia juga seorang model terkenal, baik dan ramah dengan siapapun. Tapi hal itu tidak bisa membuka hati sang papa sama sekali, bahkan terang-terangan sang papa menentang hubungan Devan dengan sang kekasih.

Devan pun tidak habis pikir dengan sang papa, apa kurangnya kekasihnya itu, dan kini malah akan menjodohkannya dengan wanita lain yang bahkan Devan sendiri belum mengenalnya sangat GILA menurutnya.

Syifa yang terkejut dengan ucapan pak Bagas begitu tertegun, menjodohkan anakanya dengan putri Abinya, memang putri Abi tidak hanya dirinya tapi adiknya masih menempuh pendidikan di Mesir tidak mungkin jika akan dinikahkan saat ini.

Dan hanya dirinya satu-satunya putri Abi yang sudah selesai dengan pendidikannya jadi tidaklah tidak mungkin jika dirinya yang akan dijodohkan.

Sedangkan dirinya belum terpikirkan untuk menjalin rumah tangga dengan siapapun. Bukan apa-apa tapi dirinya masih ingin menggapai semua impiannya.

“Abi ? Gimana maksudnya? Tanya Syifa pada sang Abi.

“Nanti Abi jelaskan ya Neng.” Ucap Abi menenangkan Syifa. Ia tahu jika saat ini putrinya begitu terkejut dan cemas.

“Rahmad ... kau mau kan memenuhi permintaan terakhirku ini?” Ucap pak bagas lagi dengan begitu lemah.

“Jangan bilang seperti itu Bagas, kamu pasti bisa sembuh.” Ucap Abi syifa menenangkan pak Bagas .

“Aku tidak yakin untuk hal itu, dan aku tidak banyak berharap untuk itu. Saat ini aku hanya ingin melihat putraku satu-satunya menikah dengan wanita baik-baik.” Ucap pak Bagas senduh.

“Iya Pa, Papa sembuh dulu nanti Papa bisa lihat aku menikah dengan kekasihku Pa.” Ucap Devan.

“Tidak, lebih baik Papa mati sekarang jika harus melihat kamu menikah dengan wanita itu.” Ucap pak Bagas dengan lantang.

“Astaghfirullah,, istighfar Bagas kamu jangan ngomong seperti itu.” Ucap Abi Syifa mengingatkan.

“Paa, sebenarnya apa alasan Papa selalu menentang hubunganku Pa, padahal Azell wanita baik-baik tapi kenapa papa selalu menentang hubungan kita?” Ucap Devan frustasi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED