Aku berdiri menatap jendela besar ruang tamu rumah bernuansa Victorian. Aku benci istana itu sejak awal aku menempatinya. Sepuluh tahun lalu, dan, selama itu juga aku merasa asing diantara semua manusia yang ada di sini. Kecuali satu, suamiku sendiri. Pria yang mengejarku, bermanis dengan sikap dan rayuan sehingga membuat ku terpesona, kebaikan yang ia perlihatkan semasa kita dekat dan menjalin kasih selama tiga tahun sebelum kami menikah, dan juga, seorang suami yang begitu mencintaiku. Aku benci istana itu karena semua yang kulakukan terpantau keluarga suamiku. Tak bebas.
Bukan waktu sebentar untuk usia rumah tangga yang sudah berjalan sepuluh tahun dengan satu orang anak laki-laki berusia dua tahun. Ya, setelah kami berjuang melawan cibiran banyak orang termasuk keluarga yang sempat berpikir aku mandul, akhirnya dengan melalui bayi tabung, aku bisa hamil dan melahirkan keturunan seorang Kaisar.
Bukan ... bukan, kami bukan keturunan raja atau sejenisnya. Tapi benar, nama suamiku Kaisar Abimana Prasetya. Penguasa usaha retail dan pemilik saham properti besar di tanah air. Kaisar bukan pemilik tunggal, kami belum sekaya itu, tapi, perusahaan kecil kami menjadi penanam saham di beberapa perusahaan TBK atau terbuka yang nilai sahamnya masuk di bursa efek.
Aku sendiri, wanita tiga puluh dua tahun. Memiliki empat restaurant Korean Grill waralaba besar yang sengaja aku jalani kerja sama itu karena, Ya, demam drama Korea yang tak bisa ditampik pengaruhnya pada diriku. Bahkan hingga ke gaya berbusana mulai terpengaruh seperti wanita elegan di drama tersebut. Selain itu, aku juga pemilik dua salon besar di daerah Senopati, jika kalian tahu daerah itu, kalian pasti paham. Satu lagi, aku baru akan membuka Cafe kecil di dekat salon yang akan ku beri nama White House Cafe, terletak di pusat bisnis dan dikelilingi banyak kampus serta tempat hang out para karyawan setelah sepulang bekerja. Sahamku juga ada pada bisnis yang bergerak di perminyakan. Suntikan dana dari suami, membuat ku bisa memiliki dibeberapa titik wilayah Ibu kota dan tiga di wilayah Detabek.
Malam itu, tatapanku menerawang, gerbang besar berwarna emas itu belum terbuka padahal sudah jam satu malam dan suamiku belum pulang juga. Hal ini, sudah satu minggu berjalan. Aku begitu mencintai Kaisar, begitupun dirinya yang mencintaiku, ia juga begitu mencintai putra kami. Keluarga harmonis jika dilihat dari pigura foto besar yang terpajang di ruang tamu rumah ini. Aku tertawa sinis menatap pigura itu. Kurapatkan kimono tidur berbahan satin, jujur saja, aku mengendus gelagat mencurigakan sejak tiga bulan ini. Walau aku masih memilih diam, juga tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil kami, dengan anak tunggal kami— Raja. Perpaduan nama anak dan bapak yang memiliki arti yang besar.
Lampu sorot mobil mengarah ke pagar. Sudut bibirku melengkung sempurna. Aku berjalan menuruni anak tangga dengan alas karpet untuk membuka pintu besar itu, menyambut priaku yang begitu gagah. Supir membukakan pintu bagian belakang, ia turun, menatapku sambil tersenyum. Aku berlari dan langsung menubruk tubuhnya yang kekar. Ia menggendong lalu memeluk, kedua kakiku lingkarkan di pinggangnya.
"Hai sayang, maaf, pulang malam lagi." Ia lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher jenjangku, menciumnya begitu dalam. Aku mengangguk, lalu menatapnya.
"Kangen," bisikku sambil menempelkan kening kami.
"Aku besok libur, butuh cuti untuk menghabiskan waktu bersama istri cantikku, kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanyanya sambil berjalan dengan tetap menggendong tubuh rampingku dengan kaki yang sudah melingkar erat di pinggangnya. Dengan langkah tegap, ia menaiki anak tangga tanpa merasa kesusahan karena menahan berat tubuhku.
"Terserah kamu, aku cuma mau kamu, Kaisar," bisikku sensual. Kupeluk erat leher kokohnya yang sudah berumur empat puluh tahun itu. Kedua mataku membulat sempurna, hidungku menemukan bau yang berbeda. ‘SIALAN. Kau bermain dengan siapa, Kaisar!’ pekikku dalam hati. ‘Tidak akan ku biarkan wanita mana pun merebut priaku.’ Begitu geram di dalam hati, aku menatap wajahnya yang tampak lelah. Ia menatap juga dengan sebelah alis terangkat. Kalimat yang kubisikan ditelinganya, membuat senyum smirk suamiku muncul. Aku tau ia akan tergoda, tak mungkin menolakku.
Tak perduli jam sudah begitu malam, tujuanku satu. Menghilangkan bau musang licik yang menempel di tubuh Kaisar yang akan aku bersihkan dengan kedua tanganku sendiri. Sekaligus, memberikan tanda jika aku, selalu lebih baik dari musang licik itu, dan aku, akan segera mencari tau siapa ..., dia.
***
Malam kami begitu panas dan penuh gairah, Kaisar begitu hebat dalam melayaniku di atas ranjang, bahkan kadang ia mengajakku bermain di kamar mandi. Tapi malam itu, aku memilih mendominasi, karena ingin memancing Kaisar untuk menjawab kecurigaanku. Ia mulai mendongakkan kepala, menikmati apa yang kulakukan pada senjatanya yang berdiri tegak, laki-laki akan begitu, di saat sudah terpuaskan hasrat bercinta—hingga terbuai seolah mabuk— maka ia akan menjawab pertanyaan apa pun dengan jujur. Aku memanjakannya, tak membiarkan ia mengendalikan permainan kali ini.
Cumbuan juga ku berikan, membuat tangan Kaisar mulai bergerak kesegala area tubuhku. Aku masih mencium bau rubah sialan itu disekitar ceruk lehernya. Kaisar tak henti mendesah nikmat, dengan pinggulku yang juga mulai bergerak menggodanya, ia tak bisa menahan untuk tak memasukiku. Baiklah, aku mengalah, aku membiarkannya mulai bergerak, disela pagutan dan helaan napas tak beraturan kami, aku mulai bertanya kepadanya tentang ia makan malam di mana, rapat apa, dan kenapa harus begitu larut pulangnya.
Kaisar tak menjawab, ia membungkam bibirku dengan permainan panasnya. Aku mulai terbawa permainannya, tapi aku tak boleh hilang kewarasanku karena kenikmatan yang diberikan Kaisar.
"Kaisar, kam—" belum sempat aku selesai bertanya. Ia sudah membalik tubuhku. Double sial, ia tau posisi kesukaanku. Kami terus bermain, seolah tak peduli pagi akan menjelang, bahkan suara Raja— putra kami—yang tidur di kamar sebelah bisa saja kami abaikan.
Kaisar mengerang, terus menyebut namaku disela hujamannya hingga ia mencapai klimaks lalu melepaskan cairan hangat itu di dalam, kemudian ia ambruk di atas tubuhku dengan napas terengah-engah. Aku belum sampai, tak masalah. Ku usap peluh di dahinya, beralih memeluk erat tubuh tegapnya yang menimpa tubuhku.
"Sayang…, Kaisar," panggilku pelan.
"Hm?" Ia menjawab dengan dehaman, tampak mengantuk juga.
"Kamu, nggak selingkuhin aku, kan?" akhirnya kalimat itu meluncur dari bibirku. Kaisar tertawa, ia mengecup ujung dada, lalu bibirku, ditatapnya lama kedua mataku, ia lalu berucap.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, udah tau kalau aku susah payah dapetin kamu, kenapa harus aku sia-siain, cukup kamu, Via."
Kalimat penutup itu seperti sihir, kami bercumbu lagi, ia kembali memasukiku, ia tau pekerjaannya belum tuntas, aku mendapatkannya, Kaisar tersenyum, tapi kemudian efek sihir itu selesai, bersamaan dengan Kaisar yang membersihkan dirinya dengan aku yang masih terus curiga.
Langkah tegap dengan sepatu hak tinggi yang kukenakan berjalan masuk ke arah restoran. Hari itu aku bertugas memeriksa kinerja karyawan di salah satu cabang restoran Korean Grill yang kumiliki. Aku masuk ke dalam setelah membuka pintu kaca. Melepas kaca mata hitam dan berjalan anggun bak istri-istri bos besar di drama korea yang kutonton.
"Ibu, selamat datang, mari, saya antar ke ruangan Ibu," ucap manager operasional restoran. Aku mengangguk sambil berjalan menuju ke lantai dua, melewati para tamu restoran yang tampak puas dengan makanan dan pelayanannya. Aku tersenyum ramah menyapa para tamu. Sudah kebiasaanku.
Tepat saat kedua mataku menatap meja yang hanya diisi satu orang itu, ia melirik dengan bibir gelas menempel di bibirnya. Lalu tersenyum sinis seperti meledek penampilanku. Meledek? Berani sekali dia. Aku terus melirik sinis ke arahnya hingga berhenti di pintu tepat di samping mejanya. Karyawanku mempersilakan aku masuk.
"Berikan segelas bir dingin ke meja yang di duduki lelaki kesepian itu. Ck, kasihan. Kedua matanya seperti tak pernah melihat wanita saja." ucapku yang dijawab anggukan manajer. Aku berjalan masuk dan menutup pintu. Setelahnya, aku tak tahu lagi juga tak mau tau tentang siapa pria itu.
***
Sore hari, aku menunggu mobil siap menjemput, supir memarkirkan tidak di depan restoran, sengaja begitu, bukan tanpa alasan, hanya saja aku tak suka mobil sedan mewah berwarna merah terang itu menyorot perhatian. Sungguh bukan diriku. Ponselku bergetar, nama Emi muncul. Ia suster serta pengasuh anakku, Raja.
"Ya, Emi, ada apa?" tanyaku sambil berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan.
"Ini Nyonya, Raja nangis terus, badannya panas," suara Emi terdengar panik.
"Bawa ke rumah sakit sekarang, saya tunggu di sana ya, Em."
"Baik Nyonya," pembicaraan terhenti. Aku masuk ke dalam mobil lalu menuju ke RSIA di daerah pusat Ibu kota. Supir segera menambah kecepatan, aku tak mau Emi dan Raja sampai lebih dulu. Aku meremas jemari, sejak semalam, sepulang kami bermain di Playground karena ajakan Kaisar yang cuti bekerja sehari itu, Raja sudah tak bersemangat. Sumeng, bahkan semalam ia beberapa kali menangis.
Mobil berhenti tepat di pintu lobi rumah sakit, segera ku melangkah ke meja pendaftaran lalu duduk di dekat pintu IGD. Tampak dari kejauhan Emi berlari sambil menggendong Raja. Wajahnya panik.
"Nyonya, Raja muntah tadi di mobil," ujarnya. Aku mengambil alih gendongan dari Emi ke pelukanku. Raja menangis saat merasakan bahwa aku, yang menggendong dan memeluknya, seolah mengadukan apa yang ia rasakan.
Raja nangis begitu keras, seperti menahan sakit. Aku lalu masuk ke IGD, membaringkan tubuh raja di atas brankar, ku hapus air matanya yang mengalir deras di wajahnya. Seorang perawat dan dokter datang, mereka memeriksa kondisi Raja dengan teliti. Aku langsung memintanya untuk melakukan serangkaian tes darah. Feeling ku mengatakan Raja terkena diare karena memang sudah beberapa kali buang air besar berbentuk cair.
Aku memangku Raja duduk di kursi, di saat perawat mengambil darah dari lengannya. Emi aku suruh kembali ke rumah, aku yakin kalau Raja harus dirawat untuk beberapa hari.
"Sayang ... ssshh… ssshh…" Aku menepuk bokong gempal Raja pelan, menenangkan dan memeluknya. Memberikan kenyamanan pada putra semata wayang ku itu.
IGD tiba-tiba ramai. Riuh seperti ada keributan. Teriakan demi teriakan pun terdengar. Seseorang menjadi korban kecelakaan, aku lemas jika mendengar itu. Tak bisa ku bayangkan lukanya seperti apa. Raja kembali histeris, ia terkejut. Aku berdiri dan menggendong sambil memeluknya membelakangi meja tempat dokter dan suster.
"Bahkan putramu sendiri tak nyaman di pelukan Ibunya." Suara yang asing, aku menoleh. Pria itu. Pria yang menatapku di restoran tadi siang. Aku menatap tajam dan dingin.
"Bukan urusan anda!" ucapku ketus. Ia tertawa sinis lalu mengangguk. Aku menatap kedua luka di lengan kiri dan celana jeans yang robek. "Kecelakaan!" tanyaku sambil mengarahkan dagu menunjuk ke luka-luka di tubuhnya.
"Ya, biasa. Laki-laki pasti pernah jatuh dari motor. Permisi." Ia melangkah pergi, aku kembali memeluk dan mengusap Raja. Baguslah dia mengganggu dengan komentarnya.
Satu jam berlalu, hasil tes sudah keluar juga suara suamiku terdengar memanggil. Ia menemukan kami. Wajahnya panik, ia mengecup pipi dan kening Raja berkali-kali yang tertidur setelah diberi obat dan dipasang infus di lengan kirinya.
"Apa kata dokter?" Kaisar bertanya tanpa menatapku, kedua matanya terpusat di wajah Raja.
"Muntaber, Emi lagi pulang ambil baju Raja dan aku, kamu nggak sibuk, Mas, kok bisa keluar kantor, masih jam setengah lima sore, 'kan?" Aku menatap ke wajah maskulin suamiku itu. Ia menoleh. Tersenyum. Biasanya memang ia akan susah keluar kantor, selalu ada saja halangannya. Lagi-lagi, baru tiga bulan belakang hal itu terjadi.
"Setelah aku urus kamar rawat Raja, aku ke kantor lagi, tadi aku tinggal gitu aja, lagi ada meeting sama bagian keuangan."
"Oh, yaudah." Aku lalu beranjak dan berjalan ke arahnya. Meraih pinggang dan memeluknya, Raja kembaliku baringkan ke brankar.
"Maaf, jadi bikin kamu tinggalin kerjaan," ucapku yang mendapat balasan usapan lembut di punggung dari tangannya.
"Ini urusan Raja. Aku bisa tinggali saat itu juga untuk urusan lainnya, kamu nanti stay di sini?" tanyanya.
"Iya. Aku booking kamar di hotel sebelah ya, kamu di hotel aja dulu selama aku sama Raja di sini," kata ku, namun, ia menggelengkan kepala.
"Aku di apartemen aja, biar dekat dari kantor juga," jawabnya. Lalu kami saling melempar senyum. Ia pamit menuju ke meja administrasi, mengecek apa kamar rawat putra kami sudah siap.
Tak lama, Raja terbangun, kali itu ia dalam gendongan Kaisar yang berjalan tegak menuju ke lift, tujuan kami lantai empat–kamar rawat Raja–Kaisar tak mau duduk di kursi roda bersama Raja. Aku berjalan di belakangnya, tersenyum bahagia karena ia tak lalai memperhatikan kami. Semenjak ada Raja, prioritas suamiku pun memang lebih terpusat ke penerusnya itu. Aku, tak masalah walau kadang suka terabaikan, aku terima.
Kamar bernuansa Dinosaurus itu membuat Raja menolehkan kepala beberapa kali. Ia menunjuk ke gambar salah satu Dinosaurus terbesar.
"Raja mau kamar di rumah ada Dinonya?" tanya Kaisar. Raja mengangguk.
"Oke. Nanti Papa hias, ya, sekarang, Raja bobo di sini dulu sama Mama, biar cepet sembuh. Papa kerja dulu, ya, nanti ke sini bawa Dino juga, deh." Mendengar itu, Raja mengangguk. Putra kami kembali diberi obat lain, tak lama kedua matanya kembali terpejam. Aku memeluk dan mengusap punggung suamiku. Ia menatap, "Jaga Raja ya, kabari aku. Maaf, kalau aku baru bisa sore atau malam ke sini. Kamu ngerti 'kan?" tanyanya, aku mengangguk. Sebenarnya aku tau, ada alasan lain yang Kaisar terus tutupi. Sabar, aku terus mengatakan itu pada hatiku.
Tak akan lama bangkai tertimbun tanpa bau. Kaisar berbohong, aku tahu. Suamiku itu tak menyadari, jika sejak kedatangannya, aku sudah melihat tanda merah di leher kanannya yang ia coba samarkan dengan kerah kemeja yang ia kancing hingga atas dan dasi yang ia kenakan seolah menahan supaya kerah kemejanya tak turun, untuk membuka tanda merah keunguan itu. Musang licik, akan terus ku selidiki siapa kamu?
Bagiku, mudah saja jika ingin langsung membahas semua kejanggalan yang ada pada diri suamiku. Perubahan memang jelas tak terlihat, ia juga pintar membuat ku 'seakan' tak menyadari dan akan menegurnya. Ck, pelakor. Perebut laki orang, siapa, sih, musang licik ini. Apa dia yakin akan menang? Apa dia yakin akan bisa menempati posisiku sebagai Nyonya sekaligus ratu di sisi seorang Kaisar. Tak tau saja, seperti apa keluarga besar Kaisar yang begitu anti dengan kata CERAI atau PERCERAIAN. Hal tersebut seakan aib yang bisa membuat citra keluarga besar Prasetya hancur berantakan.
Emi masuk ke dalam kamar rawat Raja dengan menyeret satu koper silver milikku dan satu koper bergambar kapal layar kecil-kecil milik Raja. Aku meminta Emi pulang, ia juga butuh istirahat, 'kan. Sekarang saatnya aku yang full mengurus dan menjaga Rajaku.
"Nyonya, saya di sini temani Nyonya juga nggak pa-pa." Wajah Emi menunjukan ketidak nyamanan jika ia pulang ke istana itu tanpa diriku. Aku menatap Emi bingung.
"Lho, kenapa? Apa kamu mau pulang ke Bandung dulu, Raja biar sama saya, Emi." Aku melihat perubahan raut wajah Emi. Ia mengangguk cepat. Tawaran ku menyuruhnya pulang kampung ia terima dengan cepat.
"Tapi ... nanti saya telepon atau video call nyonya untuk tau kondisi Raja, boleh?" Emi tampak sungkan. Aku tersenyum dan mengangguk. Suster Emi bukan orang baru. Ia rekomendasi Ibu mertuaku yang memang asli orang Bandung, Emi putri dari pekerja senior di rumah Ibu mertua. Anaknya baik, sopan dan memang menyukai pekerjaannya. Aku juga tak segan mengajaknya belanja bersama Raja. Memenuhi kebutuhannya, apalagi ia masih dua puluh dua tahun. Ku suruh kuliah, tak mau. Katanya 'Nggak Nyonya, nanti ujung-ujungnya, kalau saya nikah, juga pasti tinggal di rumah.' Benar juga sih, tapi lucu buatku, di saat banyak anak seusianya berlomba-lomba kuliah dan bergaya, Emi justru tak mau. Ia ingin menikmati hidupnya dengan pekerjaan mengasuh Raja.
"Emi, pacarmu apa kabar di Bandung? Kapan kamu dilamar?" Aku bertanya sekaligus meledeknya. Sambil jemariku mengetik sesuatu di layar ponsel.
"Ah ... Nyonya, jangan bahas. Udah putus. End. Fix. Selesai." Jawaban Emi membuat ku tertawa. Raja bergeliat, kami berdua saling melirik dan terkikik. Aku menunjukan layar ponselku kepada Emi. Ia terbelalak.
"Cukup, kan, untuk betulin rumah kamu di sana, atau buat kamu tabung, terserah. Saya percaya kamu nggak akan foya-foya sama uang ini," ucapku setelah mentransfer sejumlah uang gaji dan tambahan untuknya.
"Nyonya, tapi ini banyak banget, itu tadi, angkanya, Nyonya .... " Emi menatapku sambil menggelengkan kepala.
"Terima Emi, apa kamu mau pake buat bagi-bagi ke saudara kamu, terserah. Hadiah dari saya, nikamatin liburan kamu ya." Emi menghela napas. Ia menatap. "Nggak Nyonya muda, nggak Nyonya besar, baik banget, kalau begini, seumur hidup saya mengabdi sama Nyonya, deh, nggak nikah juga nggak pa-pa, saya sudah anggap Raja kayak anak sendiri, kok," ucapan Emi membuat ku terkekeh. Benar-benar gadis jujur juga polos. Aku secara tak langsung mengusirnya, karena ingin menikmati waktuku dengan Raja. Emi beranjak, aku meminta sopir mengantarnya ke rumah lalu ke stasiun. Setidaknya, pengasuh Raja juga punya hak untuk memanjakan diri.
***
Aku membaca hasil pemeriksaan laboratorium Raja, nilai bakteri di dalam ususnya tinggi. Entah dari mana sumber awalnya. Aku tak mau pusing, yang penting, sekarang Raja sudah di tangani Dokter.
Senyum Raja begitu manis, ia masih belum lancar bicara, juga masih kuberikan ASI jika kami bertemu karena masih dua tahun. Seperti sekarang, aku menepuk-nepuk bokongnya pelan di saat ia sedang menempel kepadaku. Kedua matanya menatap jail dengan cengiran khasnya. Ia melepaskan bibir mungilnya dari nipelku.
"Raja, udah dua tahun, jangan mimik ini Mama lagi ya," tunjuk ku ke dada. Raja hanya nyengir dan kembali menempel. Aku terkekeh, batas waktunya memang dua setengah tahun, dengan bantuan Kaisar dan Emi, Raja pasti bisa berhenti menempel untuk minum ASI langsung dariku.
Raja terpejam, aku memasang kembali kancing piyama yang ku kenakan. Satu stel piyama lengan pendek dan celana panjang jadi kostum saat di rumah sakit. Tanpa mekap dan sepatu hak tinggi. Semua ku tanggalkan demi kenyamanan juga. Pintu kamar terbuka, aku duduk beranjak dari tempat tidur lalu menyelimuti Raja, lalu aku menatap bingung ke seseorang yang datang.
"Anda salah kamar?" kataku sambil bersedekap, menatap tajam ke pria yang sudah dua kali sebelumnya aku temui tak sengaja.
"Nggak. Ini– " Kalimatnya terjeda, ia menatap sekitar. "Kamar Raja, 'kan?" lanjutnya. Aku mengangguk. Di tangannya, aku melihat kotak donut, juga gelas kopi Starbuck.
"Bagaimana kondisi putra mu?" Ia berjalan mendekat. Aku mundur perlahan.
"Siapa kamu. Saya nggak kenal kamu, ya. Keluar!" ketusku. Ia diam. Lalu menghela napas sambil meletakkan satu kotak donat dan minuman itu di atas meja.
"Buat kamu, permisi." Lalu ia berjalan ke arah pintu dan pergi. Aku diam, masih terkejut. Siapa dia?
Tak lama, pintu kembali terbuka. Kaisar datang. Wajahnya tampak lelah, aku menghampiri dan mencium punggung tangannya.
"Aku sebentar aja ke sini, mau lihat kalian, aku butuh tidur cepat, Via." Kaisar menatapku, aku mengangguk.
"Gimana kondisi Raja, Vi?" Setelah mencium Raja di pipi, ia menghampiriku. Duduk di sofa dan menatap ke dua benda yang entah siapa itu, memberikannya kepadaku.
"Masih dipantau, nilai bakteri di ususnya tinggi, aku juga nggak tau sumber pencetusnya dari mana." Aku menatap Kaisar yang duduk bersandar dengan kepala menempel dengan sofa.
"Mau aku pijitin?" Aku menawarkan diri. Ia melirik, tersenyum lalu menggelengkan kepala. Ia hanya membelai wajahku dan membawa ke dalam pelukannya.
"Maaf, aku cuekin kamu akhir-akhir ini." Ia mengusap kepalaku lalu melepaskan pelukan. "Aku ke apartemen, ya, aku mau tidur," lanjutnya, ia beranjak dan aku mengikuti. Hal janggal yang baru. Kaisar tidak memberikan ku ciuman di kening, pipi dan bibir. Aku diam, Kaisar membelai kepala Raja dan mengusap wajahku. Ia menutup pintu, sedangkan aku diam menatap kepergiannya.
***
Cappucino yang begitu hangat meluncur di kerongkongan. Sempat terbesit di kepala, apa cappuccino ini beracun, atau ada obat tidurnya. Tapi semua sirna saat aku benar-benar butuh minuman menghangatkan kerongkongan. Sudah tengah malam, aku belum mengantuk. Menonton TV sambil menikmati donut, terasa nikmat. Jujur, donut ini lezat dan aku belum pernah merasakannya. Aku tersenyum hingga memejamkan mata saat mengunyah donut itu sembari berpikir rasa yang tergambarkan setelah aku mengunyahnya. Ada rasa manis, dengan aroma yang seperti tak asing bagiku, tapi apa. Bahkan aku mencecap lidahku setelah menelan donut itu, kemudian teringat aroma Taro, sejenis umbi-umbian ungu, atau talas ungu. Kucolek bubuk gulanya, bukan gula biasa, kembali dengan lidah, ku cecap hingga merasakan aroma susu yang kuat juga mint. Sempurna, satu kata itu yang mewakilkan donut pemberian pria asing itu.
Donut dan cappucino? Kombinasi lengkap dan sempurna untuk menemani malam yang penuh dengan pikiran buruk tentang suamiku.