Bab 1

Sepulang sekolah aku harus berjibaku dengan tugas piket esok hari bersama Riya, teman sebangku ku yang selalu menemaniku setiap jadwal piket."Candy ayo pulang, lihat sudah mulai mendung tuh," ujar Riya dengan nada kesal karena piketku belum juga selesai."Sedikit lagi, Ya. Kalau kamu mau pulang duluan tidak mengapa, toh sebentar lagi aku juga segera meninggalkan kelas dan pulang," tawarku kepada temanku yang selalu bawel saat aku lelet.

"Hah, iya deh aku tunggu saja, nanti anak orang diculik peri penunggu pohon toge bisa berabe," candanya kepadaku sambil menirukan drama di televisi.

Aku pun meletakkan sapu dan kembali dengan memakai tas di pundakku.

"Ayo pulang!" ajak ku kepada Riya yang memang rumah kami satu arah.

Kami menunggu bus yang sering lewat di depan sekolah, biasanya akan lenggang jika saat aku pulang agak belakangan.

Namun entah kenapa hari ini rasanya bus selalu penuh sesak, tidak ada cara lain selain nekat dan berdesakan di ambang pintu.

"Kampung hijau.. Kampung hijau," teriak kernet yang kini mendekat ke arah kami.

"Kita naik saja yuk, Ya, sebelum nanti kita telat pulang karena kelamaan nunggu bus lenggang," ajak ku kepada Riya yang tampaknya sedikit kesal, namun dia mengangguk mengiyakan.

Sebelah tanganku melambai ke arah bus yang akan mendekat ke arah kami.

"Hati-hati Neng, dan yang lain agak ke dalam agar bisa kebagian tempat," pinta pak kernet yang mengatur tempat kami berdua berdiri.

"Terima kasih, Pak," sahutku dengan nada sopan.

'Mungkin dengan begini aku bisa segera kembali ke rumah tepat waktu,' batinku yang sebenarnya juga kesal namun terpaksa.

Hujan mulai turun dengan derasnya, untungnya aku dan Riya sudah mendapatkan tempat duduk karena banyak yang sudah turun.

"Pak, kampung hijau ya," pintaku sambil memberikan beberapa lembar uang pecahan seribuan kepada pria paruh baya di depanku.

"Oke, Neng. Hati-hati saat turun, jalannya licin," ujar pak kernet ramah kepadaku.

"Iya, Pak."

Saat aku hendak turun, aku berkata dengan Riya, "Aku turun duluan ya."

Riya hanya mengangguk dan tersenyum manis ke arahku.

Bus akhirnya berhenti di salah satu kedai yang sering ramai dikumjungi kaum muda sepertiku saat sepulang sekolah. Aku melangkah turun dengan hati-hati dan berteduh sebentar untuk mencari payung lipat yang selalu aku bawa ketika musim hujan tiba.

"Untung masih ada jimat keberuntungan," ocehku seorang diri di kursi panjang yang tidak jauh dari kedai kopi tersebut.

"Candy, mampir dulu," teriak wanita paruh baya yang merupakan pemilik kedai kopi tersebut.

"Terima kasih, Mbok Nana. Aku harus segera pulang, takut dicariin karena tidak bawa ponsel tadi," sahutku jujur karena pagi tadi terburu-buru saat jam hampir pukul tujuh pagi.

"Ya sudah hati-hati ya, Nak."

Saat aku ingin melangkah dan bersiap menembus hujan yang lebat dengan payung antik kesayanganku, kucing kecil lucu berbulu halus mendekati diriku.

"Kamu pasti kehilangan indukmu ya?" tanyaku pada binatang yang jelas-jelas tidak bisa berbicara bahasa manusia.

'Ingin aku tinggalkan tapi kasihan, tapi kalau aku bawa nanti kamu makan apa?' batinku berkecamuk.

Melihatnya yang begitu sangat menyedihkan dan kedinginan, akhirnya aku meminta Mbok Nana sebuah kantong kresek warna hitam.

"Buat apa, Neng!" tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah bingung.

"Untuk ini, Mbok," jawabku sambil menyengir.

Mbok Nana tertawa melihatku yang begitu polos saat ingin membawa kucing yang kutemukan di luar kedai tadi.

"Harusnya bukan itu, Nak!" ucap wanita paruh baya yang tertawa melihatku.

Dia menyodorkan sebuah benda dan membuatku semakin melongo.

Wanita paruh baya itu memberikanku sebuah tas besar, tas belanjanya yang sering dia gunakan saat ke pasar membeli bahan untuk kafenya.

"Mbok ih, yakali kucing imut ini dimasukkan ke dalam tas belanja, bukannya tambah aman tapi makin basah nanti kena air," ujarku dengan menggendong kucing imut yang nyaman di pelukanku.

"Bercanda, Neng. Lagian dibawa seperti itu juga gak masalah, Neng. Daripada nanti dikira sama Bunda gorengan tempe dan kawan-kawan," ujar Mbok Nana setengah tertawa.

"Iya juga sih, Mbok. Ya sudah aku pulang dulu ya Mbok."

Aku menggendong kucing lucu yang kedinginan karena kehujanan dengan hati-hati, sambil terus membawa payung yang melindungi ku dan kucing itu dari hujan.

"Tunggu sebentar lagi ya, kita akan segera sampai rumah," menolongku berbicara dengan kucing lucu itu.

"Anak gila, bicara sama kucing," sindir Wahyu-anal orang kaya yang tidak punya sopan santun.

"Hah, jangan dengerin ucapan besarnya, tubuhnya saja yang besar tapi otaknya gak ada," oceh ku mencibir Wahyu yang berlalu memakai jas hujannya.

Entah apa yang terjadi, aku melihat pemuda bertubuh gembul itu nyungsruk ke sawah milik orang yang baru ditanami padi.

"Duh itu gak di tolongin kasihan, tapi dilihat juga bikin sakit perut," kataku sambil menertawakan pemuda yang tadi mengejekku dengan sebutan gila.

Dari arah berlawanan, ada bapak-bapak yang lewat dan membantu Wahyi dari kubangan lumpur.

"Ya ampun, mirip pisang coklat," ucapku lirih dan menahan tawa. Sedangkan kucing di dekapanku tampak juga setuju dengan apa yang aku katakan.

"Eh, hujannya padahal belum berhenti, kenapa aku malah melihat adegan nyungsruk itu. Kalau gak kena omel Bunda aku."

Dengan kecepatan kilat, aku lari menerjang rintik hujan sambil membawa kucing yang kehujanan tadi.

Di depan rumah tampak Bunda melihatku dengan tatapan khawatir, detik kemudian telingaku kena jewer Bunda yang mode singa.

"Kamu dari mana saja, Can. Lihat nih sudah hampir sore, hujan lebat malah keluyuran kesana kemari. Dan itu kenapa bawa kucing segala," omel Bunda yang melihatku dengan pakaian kotor, basah, serta ditambah lagi tadi masih tugas piket.

"Maaf, Bunda. Tadi aku masih piket kelas, biar besok gak usah lagi berangkat pagi," ucapku dengan jujur.

"Ya sudah masuk dan mandi, jangan lupa cuci seragam sekolahmu agar tidak meninggalkan bercak bintik hitam seperti dosa."

Bunda mencoba melucu, namun yang ku dengar malah terdengar garing dan tidak tepat.

Selesai bersih-bersih aku menemui Bunda yang berada di ruang tamu, menonton siaran ikan terbang kesukaannya.

"Bun, aku boleh meminta sesuatu gak?"

Atensi Bunda kini menghadap kearahku.

"Kamu mau minta apa, Nak?" tanya Bunda lembut. Wanita paruh baya itu selalu menyempatkan diri untuk mendengar keluh kesahku setiap hari.

"Bunda, bolehkah aku merawat kucing lucu ini, tadi aku melihat dia kedinginan di luar sana dan tidak punya tempat tinggal."

Tampak Bunda ingin menyampaikan jawabannya, namun aku segera memotong dulu, "Jika tidak boleh dipelihara, aku juga tidak masalah kok, Bun," kataku dengan nada lirih.

"Nak, dengar dulu kata, Bunda. Kamu boleh memelihara kucing ini, tapi ingat beri dia makan juga."

"Beneran, Bun?" tanyaku dengan nada senang tak terkira.

'Tak ku sangka ternyata Bunda mengizinkanku memelihara kucing lucu ini,' batinku bersyukur dalam hati.

"Kamu tahu 'kan apa saja yang harus diperhatikan jika punya hewan peliharaan?" tanya Bunda kepadaku.

Sejenak aku berpikir lalu tersenyum.

Bab 2

"Tahu, Bun," sahutku dengan nada riang, dan tidak lupa dengan memeluk erat wanita paruh baya di sebelahku.

"Hari sudah mau malam, segera makan dan jangan lupa untuk mengerjakan tugas sekolahmu, agar tidak ada PR yang terlewat."

Bunda memang selalu mengingatkanku untuk disiplin setiap waktu, bahkan masalah tugas sekolah saja, beliau selalu menyempatkan diri untuk membantuku.

"Siap Bunda!" seruku sambil memberikannya hormat.

Aku melangkah ke kamar, duduk di meja belajar dan mengeluarkan semua buku yang ada di dalamnya.

Dengan semangat perjuangan, diriku mulai menyelesaikan semua tugas dari semua guru mata pelajaran dengan setenagah mengantuk.

"Hoammm, rasanya aku ingin segera tidur, tapi tugasku belum juga selesai."

Aku tak henti menguap, rasa kantukku seakan memaksaku untuk meninggalkan semua tugas yang masih menggunung.

"Ayolah, Can, sebentar lagi tugasmu akan selesai, kurang sepuluh soal lagi," ucapku dengan nada pelan, menyemangati diri sendiri.

Mataku sudah tidak lagi bisa diajak kerja sama, perlahan aku memejamkan mata karena lelah lebih mendominasi tubuhku, sedangkan otakku mulai bekerja untuk menyuruhku beristirahat.

Entah sudah berapa jam aku tertidur di meja belajar, aku terbangun dengan niat menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tadi.

Saat aku membuka buku, tampak sudah diisi semua, aku mengulang semua jawaban yang terisi dan semuanya benar.

juga.

"Loh, kok sudah terisi semua," ucapku dengan setengah kaget.

"Apa mungkin tadi Bunda yang masuk kamarku dan melihatku ketiduran, tapi 'kan biasanya kalau aku tidur, beliau bangunkan aku."

"Lalu siapa yang membantuku? Apa aku menulis dengan tidur."

Aku berpikir keras tengah malam, lalu si kucing yang aku temukan tadi mengeong dengan lucu.

"Eh, kamu lapar ya? Sebentar ya, aku ambil makanan untuk kita, aku juga lapar karena tadi malah langsung masuk kamar dan tidak makan malam dulu," ucapku pada kucing lucu yang memainkan tangannya di depanku.

Aku beranjak berdiri dan meninggalkan kucing itu seorang diri di dalam kamar.

Setelah aku mengisi piringku dengan makanan serta lauk, tidak lupa memberikan makanan kepada kucing yang belum sempat aku beri nama tadi.

"Ayo cing, dimakan makananmu."

Aku ikut duduk di depan si kucing dan makan dengan begitu lahap.

Selesai makan aku melihat kucing yang aku temukan itu sebenarnya termasuk kucing lucu dan merupakan kucing mahal, yang mungkin harganya setara dengan uang jajanku selama tiga bulan.

"Dari tadi aku manggil kamu cang cing terus, di telinga sangat gak enak ya."

Aku mengetuk daguku dengan jari, berpikir nama yang unik dan juga lucu.

"Oke kalau begitu aku memberi nama kamu sweet neko, karena kamu begitu manis dan juga lucu," ucapku sambil tersenyum senang.

"Kamu suka gak?" tanyaku pada hewan yang tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.

"Meong."

Sweet Neko memberi respon kepadaku dengan mengeong.

"Ah, syukurlah. Makanan kamu juga sudah habis ya, nanti kamu bisa tidur di sebelah aku ya, tapi jangan berisik."

Lagi-lagi aku berbicara seorang diri dengan hewan berbulu dan juga lucu itu.

"Begini rasanya punya kucing, ada teman curhat meski hanya bisa menjawab ngeong saja."

Aku terkikik geli, mendengar ucapanku sendiri.

"Pantas saja tadi si anak orang kaya itu memanggilku orang gila, emang otakku sedikit geser karena kepentok cinta pemuda yang belum tahu nama dan asalnya," monologku seorang diri.

Tak berapa lama kilat terlihat begitu terang, aku kaget saat melihat petir yang menyala.

Aku segera berari ke atas ranjang, diriku menarik selimut dan segera memejamkan mata. Aku sangat takut dengan cahaya kilat. Sejak kejadian yang pernah terjadi kepadaku saat sepulang sekolah. Dengan jelas, kilat menyambar bumi di depan pandanganku.

Sejak saat itu aku takut akan kilat saat hujan.

Kini aku mengaratkan pegangan selimutku dengan rasa takut yang begitu tinggi.

"Bunda!" teriakku sekuat tenaga.

Entah kenapa hari ini rasanya begitu panjang, aku juga tidak melihat Bunda seperti hari-hari sebelumnya saat aku ketakutan dan berteriak kencang. Kali ini beliau bahkan tidak melihat keadaanku di kamar.

Badanku mulai menggigil, entah karena dalam keadaan takut atau karena kilat tadi. Pandanganku semakin memburam, samar-samar sosok pemuda tampan berdiri di sampingk ranjanku dengan pandangan yang tampak khawatir.

"Apa aku sedang bermimpi indah," racauku setengah sadar.

Entah sudah berapa jam aku tertidur, mentari pagi juga terlihat sudah semakin meninggi, tetesan air yang jatuh akibat hujan kemarin masih tersisa.

"Gawat! Aku terlambat sekolah, kenapa Bunda tidak membangunkanku?"

Belum sepenuhnya aku tersadar dengan suhu badanku yang tinggi, dengan langkah tergesa aku terjatuh dari ranjang dan mengakibatkan kakiku terantuk kaki nakas.

"Gedebuk."

Suara keras itu membuat Bunda dan Ayah tampak lari dan melihat keadaanku.

"Candy!" seru Bunda yang segera menolongku saat aku sudah tersungkur di lantai.

"Hati-hati, Sayang. Kamu mau kemana?"

"Mau ke sekolah, Bun. Sudah jam delapan, aku sudah terlambat," ucapku sambil terisak karena terlambat bangun.

"Bunda sudah membuatkan kamu surat izin tadi, lihat badan kamu tuh panas. Untung saja tadi malam kucing ini mengeong dari luar kamar Ayah dan bunda."

"Maksud Bunda, Sweet Neko?" tanyaku yang setengah tidak percaya.

Bunda mengangguk mengiyakan keterkejutanku.

"Maaf, bunda tidak tahu tadi malam hujan petir, bunda juga tidak dengar kamu panggil," sesal bunda dengan membelai suraiku yang kusut.

"Tidak apa, Bunda. Sweet Neko juga menjagaku tadi malam," gurauku agar suasana kembali menghangat.

"Kamu itu bisa saja. Nanti saat Ayah dan bunda kerja, jika perlu bantuan, panggil Bibi saja ya," pinta Bunda dengan nada lembut.

"Iya, Bunda."

"Mumpung buburnya masih hangat, segera dimakan ya, jangan lupa minum obatnya," kata Bunda sambil memberi nampan berisi bubur hangat dan segelas susu hangat beserta buah dan juga kue buatan Bundaku.

"Makanannya komplit pake banget ya, Bun," godaku kepada Bunda yang tersenyum manis menanggapi candaanku.

"Ya sudah dihabiskan dulu sarapannya, Bunda sama Ayah mau berangkat kerja."

Bunda segera pamit dan berangkat kerja bersama dengan Ayahku. Aku memakan sarapanku dengan hati senang, namun sesuatu mengusik diriku saat ingin menghabiskan semua makanan di nampan yang merupakan makanan favoritku.

"Meong."

Suara Sweet Neko membuatku tersadar, ada hewan imut dan lucu yang sejak kemarin mendampingiku saat gelap dalam hujan dan juga petir.

"Maaf bukan maksudku melupakanmu, tapi aku benar-benar lupa," kataku kepada kucing yang duduk dengan tatapan memelas.

"Imut banget sih tingkahmu."

Aku lantas memberikan sepotong roti yang merupakan sarapanku.

"Semoga kamu suka ya swett," ucapku sambil melihat kucing itu menikmati makanannya yang begitu terasa sangat enak.

"Bagaimana masakan Bundaku?" tanyaku kepada seekor kucing yang masih menjilati sisa kue yang aku berikan untuknya.

"Meong."

"Ah, kamu suka juga, syukurlah kalau kamu suka. Nanti aku minta Bunda buatin lagi ya," ucapku kepada Sweet Neko yang segera melompat ke arah selimutku.

"Kamu manja sekali sih, tapi kenapa aku merasa sangat nyaman ada kamu bersamaku ya."

Getar ponsel di atas nakas membuyarkan lamunanku.

Bab 3

Rupanya si Riya yang mengirimiku pesan.

[Kamu gak masuk sekolah, Can? Kenapa? Kesambet setan?] cecar Riya dari sebuah chat yang sebenarnya mengkhawatirkan keadaanku.

"Bukan! Kemarin hujan lebat plus petir, aku kaget dan sekarang demam," balasku sambil meletakkan ponsel pintar itu ke atas nakas.

Aku meninggalkan ponsel milikku untuk segera membersihkan diri dengan air hangat, kebiasaanku yang selalu mandi meski sedang dalam keadaan sakit.

Selesai dengan ritual mandi dan kawan-kawanya, aku mengambil lagi ponsel yang tadi aku letakkan di atas nakas.

[Udah gede masih takut saja sama petir,] ejek Riya yang masih berada di sekolah.

"Lah, kamu sendiri malah asik chat sama aku, apa gak dimarahin sama Pak Kumis Tebal," balasku dengan sedikit tanda tanya, ketika teman sebagkuku yang bawel itu berani chatingan saat pelajaran sedang dimulai.

[Kosong kok, beliau ada sedikit urusan tadi, lalu membrikan tugas paket halaman lima puluh sampai halaman lima puluh lima.]

Teman gesrekku itu memberi tahu tugas kepada diriku yang sekarang sedang duduk diatas kursi meja belajar, setelah sebelumnya mandi air hangat dan mengganti pakaian dengan yang baru.

"Wah ada tugas baru nih, tapi gak ada tugas untuk kelompok lagi 'kan, masalahnya kau gak akan kebagian kelompok kalau gak masuk begini," tanyaku dengan wajah khawatir.

[Kalaupun ada tugas kelompok, kamu tetap sama akulah, 'kan kita satu bangku, yakali aku cari penggantimu yang super komplit,] balasnya dengan sedikit tanda titik-titik panjang.

"Komplit ngeselin 'kan maksud kamu Ya." Aku membalas chat dari ria dengan wajah kesal.

"Meong."

Terdengar suara sweet neko yang sedari berada di bawah ranjangku, terlihat jika dia ingin sekali ikut duduk bersama denganku di kursi.

Aku beranjak dari kursi dan mengangkatnya kepangkuanku. Getar ponsel tidak lagi aku hiraukan. Aku siuk bermain dengan kucing kecil yang lucu itu.

"Tapi ngomong-ngomong kamu berasal dari mana sih, apa pemilikmu tidak mencarimu," monologku seorang diri sambil membelai lembut bulunya yang putih bersih dan juga halus.

"Ah biarin sajalah, lagian aku sudah terlanjur suka dengan kamu sweet, jangan pernah pergi dari aku ya," ocehku dengan tetap membelai bulunya yang begitu lembut.

Seakan dia tahu bahasaku, kucing lucu itu mengeong dan menggerakkan tangannya ke arahku.

"Lagian aku sudah lumayan baikan, kita kelantai bawah saja yuk," ujarku dengan menggendong tubuh kecil kucing kecil itu.

Aku berjalan menaiki tangga tanpa melihat ada salah satu tangga yang basah karena air hujan, hingga tubuhku oleng dan aku hanya bisa pasrah. Ku tutup mataku dan bersiap untuk merasakan sakitnya terjatuh dari lantai atas ke lantai bawah.

Namun saat aku sudah siap untuk sakit, tubuhku tidak merasakan benturan ataupun kesakitan, hanya sesuatu yang dingin dan juga empuk menjalar di tubuhku.

Karpet tebal yang agak basah karena sedikit tetesan air hujan sudah menyambut tubuhku yang tadi terjatuh.

"Non Candy sedang apa tiduran di atas karpet," ujar lembut wanita paruh baya membuatku memaksa untuk melihat keadaan di sekelilingku, kelopak mataku perlahan terbuka dan tampak aku berada di sekitar ruang tamu, padahal tadi aku hampir tergelincir dari lantai atas.

"Loh, kok aku ada di sini ya, Bik, tadi 'kan aku terpeleset karena ada air di lantai atas," ucapku sedikit bingung dengan semua kejadian yang menimpaku itu.

"Non Candy masih mn6gigau kayaknya, kalau jatuh dari lantai atas ya langsung melayang arwahnya, Non. Tapi Non sedari tadi bibi lihat hanya tiduran di sini saja," terang asisten rumah tangga ynag selalu menemaniku saat rumah terasa begitu sepi.

"Begitu ya, Bik."

Wanita paruh baya itu mengangguk mantap.

'Aneh sih, padahal alu tadi hapir saja jatuh loh,' batinku seorang diri.

"Meong." Lagi-lagi kucing kecil itu membuyarkan segala kejanggalan yang tadi aku alami.

"Non candy mau apa, biar bibi buatkan untuk Non Candy," tawar wanita paruh baya itu kepada diriku.

"Aku mau kue coklat, bik, sekalian jus jambunya ya," pintaku dengan sopan. Bagaimanapun asisten rumah tangga itu adalah orang tua yang harus aku hormati selain Bunda dan juga Ayah.

Setelah bobi itu pergi ke dapur untuk mebuat kue coklat untukku, aku menyalakan televisi yang menampilkan adegan jambak-jambakan antara dua wanita paruh baa yang memperebutkan satu pria.

"Hah, kalau memang suaminya gak setia ya tinggalin saja sih, kenapa harus berebut dengan pelakor," kataku dengan wajah kesal.

Kucing kecil itu masih setia berada di sampingku. Dia tidur di atas sofa dengan nyaman.

"Enak ya jadi kamu sweet, kerjanya hanya makan, tidur, main itu saja."

Aku bermonolog ria dengan hewan peliharaan yang aku anggap sebagai hewan biasa seperti binatang rumahan lainnya.

"Eh sweet, kamu tahu gak. Tadi malam aku berhalusinasi melihat pangeran tampan memanggil namaku."

Kalau orang lain melihat aku bicara dengan seekor kucing, akan datang julukan orang gila kepadaku.

Untungnya, aku bicara di dalam rumah dengan alibi melihat televisi.

Kucing kecil itu hanya mengeong berulang kali. Curhatku dengan seekor kucing terhenti saat wanita paruh baya itu sudah meletakkan kue coklat buatannya untuk aku santap sambil melihat televisi di atas meja.

"Silahkan dimakan Non kuenya, kalau ada apa-apa nanti cari bibi di dapur ya," pinta wanita paruh baya itu begitu ramah kepadaku.

"Iya, Bik, terima kasih ya sudah repot-repot membuatkan kue untukku."

Aku memasukkan beberapa kue kedalam mulutku, lalu detk erikutnya perutku terasa begitu sakit karena sesuatu.

Aku berteriak-teriak seperti orang yang sedang kesurupan massa di depan televisi.

Sweet Neko segera turun ke bawah dan memberikan aku segelas air dengan cara menggunakan kepalanya, seolah memintaku untuk segera meminumnya.

Aku berdiri dengan kepayahan, rasa lemas mulai menjalar disekujur tubuhku.

Dengan langkah yang hampir habis dan sisa tenaga yang tidak banyak, aku meraih gelas berisi air yang dibawa sweet neko untukku. Detik kemudian aku mulai melemah dan memejamkan mataku.

Samar-samar saat aku masih terbaring lemah, aku mendengar suara asisten rumah tangga yang baru seminggu dipekerjakan oleh Bunda karena alasan kasihan.

"Bos anak majikan saya sudah beres, dia tergeletak tidak sadarkan diri setelah saya beri bubuk tidur di dalam makanannya."

Kalimat itu membuatku sedikit shock, orang yang dipercaya Bunda malah menusuk kami dari belakang.

Beberapa detik kemudian deru mesin yang dimatikan, terparkir tepat di halaman.

"Selamat siang bos," ucap asisten rumah tangga kami kepada seseorang yang dia anggap sebagai bosnya.

"Jadi rumah mewah ini kosong tanpa ada penghuninya?" katanya lagi dengan nada tegas.

Entah apa yang sedang mereka lakukan, tubuhku tidak bisa ku gerakkan. Namun detik berikutnya sesuatu terjadi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED