Bab 2

Pertama kali yang kurasakan saat membuka mata adalah rasa sakit yang teramat di kepala, sedikit meringis ketika aku berusaha bangun dari tidur, kulihat sekeliling ruangan, ah, rumah sakit ternyata.

Ya, tentu karena seingatku kamarku tidak sekecil ini.

Aku melihat kedua tanganku, yang kiri terpasang infus yang kanan dililit perban, kurasakan juga kepalaku terpasang perban, sedikit agak kaku karena perbannya agak terlalu kencang. Ruangan ini sepi, tidak kulihat Bastian dimanapun, biasanya selama apapun aku tertidur dia selalu menunggu dengan sabar, mungkin dia sedang mengurus hal lain. Kulihat jam menunjukan pukul 02.35, Aku terbangun dini hari Tapi kenapa Bastian tidak menempatkanku di ruang VVIP, ruangan ini terlalu sempit untukku. Setelah berhasil duduk dengan benar, aku mulai berpikir hal terakhir apa yang membuatku masuk rumah sakit.

Aku menghela nafas ingatan tentang duduk ditaman, membantu mengambilkan balon seorang anak kecil, berjalan ketengah jalan, dan mobil putih yang menabrakku. Aku kecelakaan, klise sekali tapi ini sialan akan ku suruh Bastian mencari siapa yang menabrakku.

Kalau ku ingat bagaimana tubuhku tertabrak kencang oleh mobil putih itu, tidak mungkin hanya luka ini saja yang kudapatkan, setidaknya patah tulang atau jaitan luka di sana sini atau mungkin koma dan aku masih sangat ingat sakit yang teramat sangat di bahu kiri dan kepalaku. Kulihat lagi kedua tanganku, Sejak kapan aku mewarnai kuku ku. Warna merah terang yang mencolok, tidak aku tidak pernah mewarnai kuku ku.

Tanganku juga terlihat lebih kurus dan rasanya ini hanya tulang yang terbalut kulit. Tunggu, memang selama apa aku tertidur, apa itu artinya aku koma di waktu yang lama? Dan itu membuat badanku kurus seperti ini, apa kutek kuku ini juga Bastian yang mewarnainya. Sejak kapan Bastian berani melakukan hal yang aku tidak suka.

Haah apa benar selama itu aku tertidur?

Aku benci berkata ini, tapi rasanya hampa sekali. Aku rindu kalian.

***

Hari sudah siang, tirai jendela terbuka lebar pemandangan kota tersuguhkan disana. Pagi tadi ada seorang suster yang sedang mengecek infusan, karena baru tidur jam setengah 5 pagi, Fiel menghiraukan sang suster lalu lanjut terpejam.

Sekarang dia sedang duduk bersender di kepala ranjang, makanan khas rumah sakit berada di nakas sebelah kiri tidak ia lirik sekalipun, dia benar-benar tidak berselera untuk makan. Suara pintu mengalihkan atensinya, dia melihat seorang ibu tua dengan kedua tangan yang memegang kantong pelastik, matanya menunjukan keterkejutan, ibu tua itu diam beberapa saat sampai akhirnya dia sadar dan menghampiri sang pasien.

"Nona sudah sadar? Maaf bibi baru datang siang, non."

Tangannya agak bergetar melihat raut wajah datar majikannya, dia mengeluarkan beberapa buah dari kantong plastik hitam dan mengeluarkan bubur ayam dari kantong plastik putih.

"Bibi tau non pasti belum makan karena non gak pernah suka makanan rumah sakit, jadi bibi bawain bubur ayam langganan non, ini kesukaan non, non makan yah bibi suapin."

Tangannya cekatan membuka kotak bubur, bi Marni memang agak terkejut melihat nona mudanya sudah sadar, karena sudah 2 hari setelah kecelakaan nona mudanya dalam keadaan koma, hal yang di katakan dokter waktu itu. Ketika tangan keriput itu menyodorkan satu sendok bubur, nona mudanya bertanya hal yang mengejutkan.

"Anda siapa?"

Wajah bi Marni menunjukkan keterkejutan yang nyata, sendok bubur yang dia pegang hampir saja terjatuh.

"N-non tidak ingat bibi? Non benar tidak ingat bibi?" Bi Marni merasakan matanya memerah, dia berusaha untuk menahan tangis, sendok buburnya ia taruh kembali, fokusnya ia alihkan pada mata sang nona.

Nona mudanya hanya menampilkan ekspresi datar, tidak ada raut manja seperti biasanya ataupun mata yang sering melihat angkuh. Hanya tatapan tidak berminat.

"Non, ini bi Marni, bibi yang udah ngurus non sedari kecil, bibi udah ikut keluarga non 19 tahun. Bibi pengurus rumah tangga di keluarga Sagara." Jelasnya pelan.

Fiel mengangkat sebelah alisnya. Sagara? Dia tidak tau siapa itu keluarga Sagara, dan kenapa ibu tua ini bilang kalau dia adalah keluarga Sagara, sesudah kecelakaan keluarganya dulu dia langsung di asuh oleh adik dari mamanya.

"Aku tidak tau ibu ini siapa, dan saya bukan bagian keluarga Sagara, anda mungkin salah ruangan."

Masih dengan raut datar, Fiel menjawabnya tanpa berminat. "N-nona i-ini pasti ada yang salah, bibi panggilkan dokter dulu, ya."

Bi Marni berlalu dengan wajah ketakutan, dia tidak mau menyuarakan yang ada di pikirannya, salah ini pasti ada yang salah dengan nona mudanya.

Fiel berdecak tak suka, dia benar-benar ingin sendiri sekarang, lagipula kemana Bastian kenapa asistennya tidak datang-datang, kalaupun sedang pergi harusnya dia menyuruh bodyguard menjaga di luar ruangan, sangat tidak suka orang asing yang sok kenal begitu.

Tak berapa lama ibu tua yang menyebut dirinya bi Marni datang dengan seorang dokter dan dua suster di belakangnya.

"D-dokter tolong periksa nona Alexa dok, dia tidak ingat siapa saya dan dirinya sendiri." Bi Marni mengatakan itu sambil menangis, tanpa banyak kata dokter langsung memeriksanya.

"Apa yang kamu rasakan? Apa pusingnya masih ada?" Dokter itu bertanya dengan tenang.

"Ya, pusingnya masih sangat terasa sesekali."

Dokter mengangguk, dia menyuruh suster untuk menggantikan perban di kepala dan tangannya, suster lainnya sedang menulis sesuatu.

"Luka di tangan mu sudah mengering, tapi masih harus di perban untuk hari ini jika besok benar-benar sudah kering perbannya boleh di lepas, untuk luka di kepala karena lukamu di jahit masih belum boleh di lepas, ganti perbannya hanya boleh sekali sehari sampai benar kering, saya akan resepkan obat baru dan vitamin agar lukanya cepat menutup."

Fiel hanya mengangguk, dokter tersebut memeriksa infusan.

"Anda harus makan secara teratur agar cepat sembuh nona, jika 2 hari keadaannya semakin membaik nona alexa boleh segera pulang." Lanjutnya.

"Alexa? Siapa dia?" Fiel merasa dokter tersebut salah memanggil namanya.

"Tentu anda nona, nama anda nona Alexa."

"Saya Cassandra bukan Alexa."

Tangis bi Marni benar-benar pecah, pikiran buruknya sudah memenuhi kepalanya. "Apa anda ingat orang tua anda?"

"Ya, saya ingat, mereka sudah lama tiada." Fiel mengatakan itu dengan sorot mata dingin, dan itu tidak luput dari penglihatan sang dokter.

"Umur anda?"

"24 tahun."

"Dan tahun berapa sekarang?"

Fiel mengerutkan kening. "2019." Dia menjawab dengan pelan.

Dokter itu hanya mengangguk, dia mengalihkan pandangannya pada wanita tua yang memanggilnya tadi.

"Saya pikir karena syok dan benturan dikepalanya nona Alexa mengalami hilang ingatan sementara, ditambah beban pikiran yang menganggu sebelum kecelakaan terjadi. Itu membuat pikirannya membayangkan hal-hal yang tidak ia pikirkan sebelumnya, tapi ibu tenang saja ini hanya sementara setelah syoknya hilang ingatannya akan kembali lagi."

Bi Marni masih sesegukan setelah mendengar penjelasan dokter, dia masih merasa takut dengan semua ini, ada perasaan kasihan yang menelusup dalam hatinya, kenapa nonanya harus mendapat semua ini.

"Tapi dok semuanya akan baik-baik saja kan?"

"Semuanya baik-baik saja bu, coba ibu ingatkan hal yang berkaitan dengan nona Alexa secara perlahan siapa tau ini bisa mengembalikan ingatannya."

Dokter tersebut pamit undur diri setelah dirasa cukup. Ruangan itu kembali menyisakan dua orang dengan perasaan yang berbeda, bi Marni menguatkan hatinya agar tidak terlalu larut dalam menangis, sedangkan Fiel kepalanya berdenyut sakit, dia bingung sekali kenapa dokter bilang dia lupa ingatan, dia sama sekali tidak lupa dia ingat semua kenangan ketika anak-anak sampai dewasa bahkan detik-detik dia kecelakaan. Ada yang tidak beres. Bi Marni menyentuh pelan tangan Alexa, dia lalu duduk di kursi sebelah ranjang pasien.

"Non bibi minta maaf karena sore itu bibi ngga bisa cegah non pergi, kalau bibi tau non akan kecelakaan bibi pasti paksa non buat di rumah aja, apalagi non waktu itu belum makan." Ucap bi Marni pelan, sesekali air matanya turun.

"Tapi non tenang aja, sekarang bibi bakalan jagain non sampai non sembuh." Tangannya dengan cepat menyeka air mata .

Fiel melihat itu dalam diam, dia masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi, dokter tadi pasti salah mendiagnosis keadaannya.

"Non makan dulu ya, bibi suapin." Sambil sesekali sesegukan bi Marni membawa kotak bubur kepangkuannya, bubur sudah dingin karena dibiarkan lama.

Fiel hanya diam, tapi dia menurut ketika di suruh untuk membuka mulut, keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara, hening sampai bi Marni menyuapi Fiel sampai buburnya habis.

"Apa non ingin di kupaskan apel? Atau pier?" Fiel yang sedang minum hanya menggeleng.

"Bisa ibu ambilkan saya cermin?"

Dengan sigap bi Marni mencari cermin kecil, dia ingat menyimpannya di laci nakas kedua, setelah dapat dia menyerahkan pada nonanya.

Fiel menatap cermin itu dengan mata melotot, siapa gadis yang dia lihat, ini bukan dia, dia tidak punya rambut coklat begini, rambutnya hitam legam, panjang dan lurus, tapi rambut ini sedikit curly di bawahnya, dia benar-benar baru sadar sekarang, matanya kecil dengan tatapan sayu, bulu mata yang lentik, bibirnya tipis merah muda dan agak kering, hidung mungil yang tidak terlalu macung, wajahnya agak bulat, porsi yang pas. Kulit wajahnya putih tanpa jerawat ataupun masalah kulit lainnya. Wajah remaja yang lucu.

Wajah siapa ini? Ini bukan aku!!

Fiel kaget, sangat kaget, wajah ini asing, ini benar-benar bukan dia, mata, hidung, rambut, tangan, bahkan badannya bukan dia, ini badan milik orang lain. Siapa dan kenapa, bagaimana ini bisa terjadi, sebenarnya apa yang terjadi, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

"I-ini wajah siapa?"

Bi Marni hanya tersenyum, nonanya mungkin tidak menyangka kalau wajahnya sendiri sangat cantik, apa seseorang yang amnesia lupa wajah sendiri?

"Itu wajahnya non, non Alexa tenang aja, luka gores di wajah non pasti sebentar lagi hilang, dan jaitan di pelipis non terhalang rambut." Bi Marni menjelaskan dengan tenang, pasalnya nona mudanya ini sangat menjaga wajahnya, ada satu jerawat saja hebohnya seperti sedang terjadi kebakaran.

Jaitan di pelipis Fiel berdenyut, dia meringis keras, bi Marni yang melihat itu panik, dia menyuruh Fiel untuk tidur, tidak tega melihat nonanya menahan sakit.

"Non tidur aja, bibi bakalan jagain non, sekalian bibi nebus resep obat yang baru, ya."

Fiel hanya mengangguk, kepalanya ikut-ikutan sakit, perihal hal baru yang terjadi dia akan memikirkannya nanti.

Aku harus cepat mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Ahh sialan ini sakit sekali.

***

Bab 3

5 hari sudah dia berada di rumah sakit, dokter bilang besok dia baru boleh pulang. Fiel hanya diam, mengangguk menerima penjelasan dokter. Sesudah mengalami hal mengagetkan kemarin Fiel tidak tau harus merespon apa, ia bingung dan kaget, jelas saja tiba-tiba menjadi korban kecelakaan sekarang jiwanya di tubuh orang asing.

 "Kalau begitu saya pamit dulu." Ucapan dokter mengalihkan pikiran Fiel, dia melihat dokter dan suster melangkah keluar ruangan, ada bi Marni yang mengucapkan terima kasih.

 Yang Fiel tau semenjak dia bangun, hanya bi Marni seorang yang menjenguknya, dia tidak melihat orang lain ataupun sanak keluarga tubuh ini.

 "Non mau makan buah? Atau sesuatu yang lain?"

 Fiel menggeleng.

 "Mmm non mau jalan-jalan ke taman rumah sakit?"

Pertanyaan bi Marni lagi-lagi di jawab gelengan kepala.

 "Atau non ada yang mau di tanyakan sama bibi ?"

Dari kemarin bi Marni telaten sekali merawatnya, ketika malam hari Fiel ingin ke kamar mandipun bi Marni sigap bangun untuk membantu.

 "Saya hanya bingung bu, saya seperti orang asing sekarang, siapa saya, kenapa saya disini, dan apa yang terjadi, itu membuat saya pusing." Fiel menjawab dengan pelan, kening di wajahnya mengerut dalam.

 "Non bisa mulai kenalan lagi dengan bibi, untuk memulai mengingat kenangan non, non juga bisa bertanya apa saja yang membuat non bingung, bibi siap menjawab." Bi Marni tersenyum melihat mata Fiel menunjukan rasa tertarik.

 "Kalau begitu di mulai dengan nama saya, dan hal-hal kecil tentang saya." Fiel menyandarkan punggunnya dengan nyaman, wajahnya tenang sorot matanya menajam.

"Nama lengkap non Alexa Putri Sagara, non anak bungsu dari 2 bersaudara, non punya satu kakak laki-laki yang berbeda 3 tahun dari non, namanya Damian Putra Sagara, non sekarang berusia 17 tahun, tanggal lahir non 18 April 2002, non bersekolah di SMA negri Harapan Bangsa, non udah kelas 3, tapi kalau untuk kelasnya bibi kurang tau non.. "Bi Marni tersenyum sambil menggaruk pipinya, Fiel mengangguk.

"Non suka sekali dengan berbelanja, biasanya non suka menghabiskan waktu bejam-jam di mall untuk belanja make up, dan non senang sekali dengan yang namanya berdandan, biasanya kalau non sudah belanja make up non sering jadiin bibi atau pembantu yang lain untuk uji coba, non selalu bilang begitu dan hasilnya sangat bagus, non bilang cita-cita non pingin jadi make up artis.." Bi Marni menjeda ceritanya dia memandangi raut wajah sang nona, tapi wajah itu hanya diam dengan bibir terkatup rapat.

"..Yang paling non suka itu cumi sambal ijo, non bilang itu masakan yang paling enak daripada spageti, non tidak terlalu kuat makan pedas, minuman kesukaan non itu boba capucino non juga sering beliin bibi minuman itu sepulang sekolah, non itu alergi kepiting dan lobster, dan non tidak bisa makan udang terlalu banyak karena biasanya rahang non suka tidak bisa di buka.."Bi Marni mengatakan itu sambil tertawa kecil, seolah-olah dia mengingat kejadian lucu.

"..Dari kecil non itu sangat periang, gadis kecil yang lucu dan cantik, sampai beranjak remaja non selalu tambah cantik.." bi Marni tersenyum dia mengusap pelan kepala Fiel. "Bibi memang sangat dekat dengan non sedari kecil, bibi bekerja di keluarga Sagara ketika kakak non berusia 1 tahun."

Bi Marni menyudahi ceritanya, dia menunggu respon sang nona. Wajah Fiel datar, dia sangat asing dengan cerita itu, dia bahkan tidak mengingat satupun kenangan tubuh ini, tapi ada kesamaan yang Fiel tau, ulang tahunnya sama dengan ulang tahun asli Fiel, 18 April hanya berbeda tahun, Fiel lahir di tahun 1995.

Jadi sekarang apa ?

Fiel menghela nafas, matanya ia alihkan pada jendela kamar inapnya, kalau jiwa Fiel disini bagaimana jiwa gadis yang ditempatinya, apakah jiwanya pindah pada tubuh Fiel? Apakah sekarang mereka sedang bertukar jiwa? Berpindah tubuh? Lalu kehidupannya bagaimana? Pekerjaan menumpuknya bagaimana? Apa Bastian sudah tahu? Apa dia sedang mencarinya? Dan apakah sekarang dia menjalani hidup gadis ini, kembali pada usia 17 tahun tingkat akhir sekolah?

Ahh, kepalanya berdenyut pusing lagi, dia benar-benar tidak mengerti, haruskah ia menerima semuanya? Atau dia saja yang langsung mendatangi Bastian menceritakan yang sedang terjadi, tapi apa asistennya itu mempercayai ucapannya, kalau sudah bercerita lalu apa? Apa dia akan mendatangi dukun atau paranormal untuk mengembalikan jiwanya? Atau kah harus dengan adegan kecelakaan lagi agar bisa kembali Tidak itu ide yang buruk, lagipula itupun kalau berhasil, kalau ternyata aku malah mati ?

Sialan oh sialan.

Fiel rasanya ingin mengumpat terus menerus sambil menangis, yang benar saja, lalu bagaimana dengan rencana yang telah ia susun dari dulu.

"Non baik - baik aja?" Bi Marni melihat raut wajah kesakitan itu khawatir, ternyata nonanya memang benar tidak ingat apapun, ia kira karena kemarin pertama kalinya nonanya bangun nonanya masih syok dengan kejadian kecelakaan makanya dia tidak ingat apapun.

Fiel kembali melihat bi Marni yang duduk di sebelah ranjangnya, wajah bi Marni benar-benar tulus dengan rasa khawatir di dalamnya, Fiel malah teringat bibinya yang mengasuhnya sejak kecil.

"Saya baik-baik aja bu, tenang aja, hanya saja saya masih belum ingat apa-apa." Fiel menenangkan.

"Non ga usah terburu-buru, bibi ga mau non malah sakit kalau dipaksakan."

Fiel mengangguk.

"Dari kemarin kenapa hanya ibu saja yang datang, apa keluarga saya tidak mau datang?"

Pertanyaan Fiel membuat bi Marni gelagapan, dia sekarang bingung menjawabnya, dia tidak mau membuat sakit hati nonanya, sering bi Marni memergoki nona mudanya menangis karena rindu pada orang tuanya, dan itu juga membuatnya sakit hati.

Fiel melihat itu dengan jelas, mata bi Marni melirik kesana kemari mencari jawaban, dan Fiel sudah tau tanpa perlu i jawab bi Marni.

"Tidak apa-apa jika ibu tidak bisa cerita." Fiel menyadarkan bi Marni yang masih bingung.

"B-bukan begitu non, hanya saja bibi ngga mau bikin non nangis, bibi ngga mau bikin non lebih sakit."

"Memangnya kenapa harus sampai menangis?" Fiel bertanya dengan tenang. Walapun ragu tapi bi Marni akhirnya mengatakan jawabannya.

"S-s-sebenarnya sewaktu pertama kali dengar kabar non kecelakaan bibi langsung telepon nyonya sama tuan, tapi mereka bilang tidak bisa pulang mendadak karna pekerjaan mereka masih terlalu banyak, nyonya bilang akan pulang setelah semuanya selesai, dan kalau untuk den Demian, kakak non sedang sibuk-sibuknya kuliah dia jarang sekali ada di rumah, tapi bibi udah kasih kabar kok non."

Orang tua yang hanya memikirkan pekerjaan dan kakak yang tidak dekat. Fiel mengangguk untuk mendengar jawaban bi Marni dan kesimpulannya sendiri. Jadi aku akan hidup di tubuh seorang gadis yang kesepian ? Fiel mendengus, apa sekarang hidupnya akan menjalani seperti misi tertentu ? Kenapa ini seperti lelucon.

"Non ingin makan siang dengan apa ? Bibi akan belikan, tadi non makan cuma sedikit." Bi Marni memecah keheningan, sedikit ada rasa tidak enak ketika menceritakan tentang tadi.

"Buatkan saya salad buah 2 porsi dan jus stroberi saja, bu."

"Kalau begitu bibi ijin ke rumah dulu ya non, sekalian bawa baju ganti untuk non, kata dokter non besok boleh pulang." Fiel hanya mengangguk, bi Marni bangkit dan segera melangkah keluar untuk pulang, rencananya dia akan kesini lagi setelah membersihkan kamar nona mudanya.

Kamar inap itu sekarang hening, Fiel merasakan jaitan pelipisnya berdenyut pelan, dia terlalu berpikir dengan keras, tubuh gadis yang sekarang di tempati ini kehidupannya monoton, klise sekali, anak yang kurang kasih sayang dari orang tua yang gila kerja, kakak laki-laki yang tidak akrab dengannya, dan dia dekat dengan pengasuhnya.

Kalau untuk bi Marni sebenarnya dari kemarin Fiel merasa kalau mereka benar-benar dekat, ada rasa nyaman ketika bi Marni menunjukkan kasih sayang atau perhatian-perhatian kecil lainnya.

Fiel hanya perlu mencari tahu tentang kehidupan anak ini di sekolahnya, apa menyenangkan atau sebaliknya. Oh aku baru sadar, apa anak ini tidak punya teman ? Hampir seminggu tidak masuk sekolah bukannya cukup untuk memberi tahu orang-orang kalau dia ini tidak baik-baik sajakan ? Oh dan sial lagi selain kurang kasih sayang anak ini tidak punya teman ternyata.

Fiel benar-benar mendengus dengan keras, wajahnya datar dengan tatapan tidak suka, jangan bilang anak ini bunuh diri dan kecelakaan kemarin itu rencananya. Kekanakan sekali.

"Baiklah, walaupun aku tidak mengerti kenapa ini terjadi padaku, tapi aku akan menerimanya.." Fiel menghela nafas, matanya ia edarkan kearah jendela besar kamar inapnya.

"Karena sepertinya ini menyenangkan." Smirk kecil tercipta di bibirnya.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED