Suara tembakan menggema di ruang latihan khusus, tangan kurus lentik itu begitu kuat menahan setiap dorongan peluru yang keluar. Mata yang memancarkan keseriusan dan mulut yang terkatup rapat, begitu fokus hingga tak menyadari kalau dia menghabiskan hampir semua stok peluru yang ada.
"Sial, pelurunya habis."
Melemparkan pistol beserta alat keamanan lainnya, dia beranjak dari ruangan khusus menembak. Di belakang asisten merangkap sekertarisnya itu sudah berdiri sigap menyambut nonanya yang baru selesai latihan menembak dari jam 4 subuh. Dia menunduk kecil, "nona anda belum makan pagi dan sekarang makan siang sudah terlewat nona."
"Jam berapa ini?"
"Pukul 2 siang lewat 18 menit, nona."
Nonanya hanya mengangguk, dia lantas berlalu menuju ruang makan diikuti asistennya.
"Aku ingin makan salad buah saja, buatkan aku dua porsi Basti." Basti lengkapnya Bastian hanya mengangguk kecil lalu berlalu kedapur. Nonanya duduk santai di kursi makan sambil mengelap keringat dengan tissue yang ada di meja. Dia menghela nafas lalu menyugar rambutnya kebelakang, hari ini hari yang tidak terlalu sibuk untuknya, libur satu hari dari dua bulan yang lalu lumayan menurunkan penat di otaknya. Pekerjaannya memang menumpuk, hari inipun jika dari kemarin Bastian tidak terus menerus menegurnya dia pasti sedang ada di balik meja kerjanya, dan itu seperti rengekan di telinganya.
"Nona Fiel saya sudah buatkan salad buah 2 porsi dan jus melon untuk anda."
Bastian datang dengan nampan dan makanan yang disebutkan. Nonanya hanya mengangguk tenang, menyiapkan serbet diatas paha lalu mengambil sendak dan garpu yang ada di tengah meja. Dia makan dengan tenang, wanita yang mengedepankan tatakrama table manner, anggun dan berkelas. Bastian berdiri di sisi kanan sang nona.
"Saya sarankan nona merilekskan diri ke salon yang menawarkan spa untuk pijat tubuh nona, agar nona tidak terlalu kaku setelah bekerja siang dan malam selama dua bulan ini." Bastian memulai percakapan setalah 5 menit terjadi keheningan.
"Kau tau Basti.." Dia mengangkat serbet untuk mengelap mulutnya. "Kau terlalu cerewet, dan di telingaku kau merengek seperti bayi." Lanjutnya setelah meminum jus melon hampir setengah gelas, "dan aku kurang suka, kau menyebalkan dari dua hari kemarin, aku muak Basti."
Bastian yang mendengar itu hanya tersenyum kecil, terlampau sering mendengar ucapan nonanya yang selalu tajam. "Saya rasa nona perlu melakukan itu, saya sangat khawatir ketika mendapati nona bekerja sampai mimisan dan itu sudah keempat kalinya nona, saya tidak mau yang kelima kalinya." Katanya dengan tenang.
Nonanya hanya menghela nafas, lalu pandangannya ia arahkan pada asisten setianya. "Belakangan ini kau sering memaksaku, ada apa?"
"Tidak ada nona, saya hanya tidak mau anda sakit karna terlalu keras bekerja, saya akan menghandle semua perkerjaan nona hari ini lagipula untuk 3 hari kedepan anda tidak ada tatap muka dengan klien."
Masih dengan tersenyum. Dia hanya berdecak melihat wajah berseri asistennya. "Kau menyebalkan, tapi baiklah aku akan pergi ketaman kota untuk menenangkan pikiran, melihat anak kecil berlarian pasti menyenangkan, dan kau pasti sangat puas basti." Ia lalu beranjak dan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Bastian tersenyum sangat lebar, tidak sia-sia dia mengeluarkan banyak kata rayuan, dia tau pasti nonanya akan bersedia keluar walaupun terpaksa.
***
"Aku tidak mau menyetir sendiri, kau antarkan saja aku pulangnya nanti kau jemput."
Bastian hanya mengangguk, dia langsung menjalankan mobil ketempat tujuan. Di sepanjang jalan Fiel, nona muda yang Bastian antar tidak bersua, dia hanya diam memandangi hiruk pikuk kota sore itu. Mereka berdua tipe orang yang tidak akan mengeluarkan suara apalagi itu bukan hal penting, dan Bastian bukanlah asisten dengan wajah yang ramah. Setelah berkendara selama 10 menit akhirnya mobil berhenti tepat di depan taman kota.
"Kau santai saja Basti, urus pekerjaan mu jangan hiraukan aku, ketika ingin pulang nanti akan aku telepon."
Tanpa mendengar balasan Bastian, Fiel melangkahkan kakinya menuju bangku taman yang kosong. Sepanjang mata memandang banyak orang tua yang membawa anak mereka untuk bermain disini, kebetulan taman yang Fiel datangi terdapat berbagai macam sarana bermain anak. Rasanya menenangkan, untuk seorang Fiel merefresh otak hanya perlu seperti ini, melihat anak kecil bermain riang kesana kemari tanpa memperdulikan apapun.
Dan hal seperti ini selalu mengingatkannya pada dua sisi ketika dia berumur 4 tahun. Sisi menyenangkan dan sisi tragis dalam hidupnya. Sebelum menjalani hidup suram seperti ini dia lahir di keluarga yang harmonis, mempunyai ibu penyayang, ayah yang tegas tapi lembut dan kakak laki-laki yang sering memanjakannya.
Terlahir di keluarga yang lumayan berada ayahnya seorang direktur besar di perusahaan manufaktur, ibunya seorang ibu rumah tangga yang pandai mengurus rumah dan anak-anaknya, mempunyai rumah 2 lantai yang cukup besar untuk 4 orang dalam keluarga, kakaknya berbeda 3 tahun dengannya, bersekolah di sekolah yang bagus teman yang menyenangkan dan dia sendiri suka sekali jalan-jalan di taman komplek rumahnya yang lumayan besar.
Disana dia sering mendapatkan teman baru yang seru, bermain perosotan dan berebut ayunan dengan teman lainnya. Namanya Cassandra Dimitri, anak perempuan usia 4 tahun yang cantik dan periang. Kakaknya bernama Rafiel Dimitri. Hari itu hari minggu dia ingat dengan sangat jelas, pagi-pagi sekali dia merengek pada kakaknya untuk ditemani ketaman komplek favoritnya, menangis sampai berguling di lantai hanya untuk merayu kakaknya. Ibu dan ayahnya hanya tersenyum geli melihat anak perempuan mereka.
Sudah tidak aneh. Karena tidak tega kakaknya setuju untuk menemani adiknya bermain di taman, tapi dengan syarat ayah dan ibunya harus ikut.
"Aku tidak mau repot sendiri ma, jadi kalian juga harus ikut."
Ayahnya kebetulan libur bekerja jadi pagi itu satu keluarga Dimitri berjalan-jalan keluar rumah dengan mobil mereka. Anak perempuan mereka langsung berlari kesana kemari ketika sampai, teman yang lainnya mengikuti anak perempuan itu dengan riang. Ketiga orang yang menemaninya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Dan hari beranjak siang sang anak perempuan mulai kelelahan, permainan di semua sarana sudah ia coba. Menghampiri keluarganya sang anak bilang ia lapar. Semuanya berjalan riang ke arah mobil, tujuan mereka sebuah restoran makan yang terkenal di daerah itu, sebenarnya tidak terlalu jauh berkendara selama 3 menit saja sudah sampai tapi sang anak perempuan merengek ingin di belikan jus mangga segar di depan sekolah kakaknya, dan mobil harus putar balik memenuhi keinginan sang anak perempuan.
Dan disinilah sisi tragis hidupnya, ketika mobil yang dikendarai oleh mereka akan berbelok di perempatan besar dari kanan jalan ke arah kiri, tiba-tiba melintas mobil box putih dari arah berlawanan dengan kecepatan penuh. Tabrakanan antara dua mobil di perempatan jalan yang lengang tak terelakan, mobil keluarga Dimitri berguling 2 kali kearah pohon sisi jalan, dan mobil box penabrak hancur di bagian depan dengan mayat sopir yang tergencet.
Orang-orang di sekitar jalan mulai berteriak histeris, sirene polisi mulai terdengar beberapa menit kemudian, semua orang berbondong-bondong menyelamatkan semua penumpang mobil sedan hitam. Dan hal terakhir ketika semua gelap adalah senyuman keluarganya.
"Menyebalkan sekali ketika mengingat hal yang menyakitkan seorang diri." satu tetes air mata meluncur dengan sengaja, dia tersenyum pahit.
Jam menunjukan pukul 16.50, berati Fiel sudah terlalu lama disini, dia menelepon Bastian agar menjemputnya di depan mini market yang ada di seberang taman kota. Fiel berjalan pelan kearah zebra cross yang ada lampu merah di depan sana. Suasana taman kota semakin ramai saja banyak anak remaja keluar untuk bermain bersama teman ataupun pacar, dan beberapa dari mereka merupakan keluarga yang berpiknik kecil di sore hari.
Fiel sudah berdiri di trotoar yang menghadap zebra cross, banyak pejalan kaki yang akan menyebrang entah di tempatnya ataupun di sebrang jalan. Dia akan menyebrang ke arah mini market, sidikit membeli camilan untuk malam hari nanti dan juga menunggu Bastian menjemput.
Suara tangis anak kecil mengalihkan atensi Fiel, dia menatap seorang anak dan seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya, setelahnya dia memutuskan menghampiri anak kecil yang menangis di samping ibunya.
"Ada apa adik manis? Kenapa menangis?" Dia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak itu.
"Balonku terbang ketengah jalan, tidak ada yang mau mengambilnya, ibuku bilang itu bahaya." terangnya setelah berbalik melihat siapa yang bertanya.
"Itu memang berbahaya sayang, banyak mobil dan motor nanti kita beli lagi saja ya." Ibu si anak menjelaskan.
"Enggak mau bu, Idam mau balon itu. Balon ilon man bu." si anak lanjut menangis, Fiel melihat ke arah tengah jalan, disana memang ada balon gas bergambar iron man dengan benang di bawahnya, bergoyang kesana kemari karena terkena angin dari mobil motor yang melintas.
Fiel tersenyum kecil, dia mengusap rambut anak itu. "Akan kakak ambilkan, tapi adik manis jangan menangis terus ya, kasian ibumu kewalahan."
"Gak usah mbak biarin aja itu bahaya mobilnya kenceng-kenceng."
"Enggak apa-apa bu, saya akan hati-hati, kok." Si ibu berniat melarang gadis cantik yang menawarkan bantuan, tapi si gadis sudah keburu pergi.
Fiel mengambil jalan menuju sisi trotoar dimana balon itu berada, karena terkena angin balonnya agak terbang jauh ketengah jalan. Fiel melirik lampu merah, lampunya masih hijau tapi detiknya sudah di angka 8. Oke, walaupun lampu merah berjalan agak lama tapi melihat ramainya kendaraan pasti akan sulit apalagi balonnya tidak diam karena angin. Jadi ketika lampu sudah merah, Fiel langsung berjalan pelan ketengah jalan sambil merentangkan tangan kanan guna memberitahu kendaraan agar memelankan kendaraannya.
Klakson kendaraan terdengar. Ketika Fiel sudah berada di tengah jalan dan balon iron man sudah di tangan, terdengar bunyi klakson kencang yang memekakan telinga, Fiel menoleh cepat kearah mobil yang melaju kencang. Bagaikan slowmotion, mobil putih itu menuju langsung kearahnya, menabrak tubuh Fiel dengan kencang, tubuhnya langsung melayang dan berakhir menubruk bagian belakang mobil lain.
Fiel baru sadar ada space kosong agak besar di sepanjang tengah jalan dan karena itu mobil putih yang menabraknya langsung menuju kearahnya tanpa menabrak mobil lain. Tapi terlambat, tubuhnya sudah tidak bisa bergerak tangan kanan yang memegang balon terlepas begitu saja, kepala dan pelipis kirinya penuh dengan darah, sakit sekali rasanya apalagi dadanya seakan remuk, dia susah mengambil nafas.
Fiel melirik kearah mobil putih tadi, mobil itu menabrak mobil lain setelah menabraknya dengan keras. Kap depan penyok dan mengeluarkan asap. Lalu dia melihat orang-orang mulai berdatangan melihat keadaanya dan terakhir yang dia lihat adalah wajah keluarganya yang sedang tersenyum. Dan gelap.
***
"Non mau kemana?"
Suara itu menghentikan langkah seorang gadis.
"Lexa mau keluar dulu sebentar bi." Jawabnya cepat.
"Tapi non belum makan setelah pulang sekolah, bibi udah masakin cumi sambel ijo kesukaan non." Dia bi Marni pembantu yang bekerja di rumah keluarga kaya Sagara.
"Iya nanti aja bi." Dan ini Alexa Putri Sagara, nona muda di keluarga Sagara.
Jawaban cuek itu menyurutkan ajakan bi Marni, apalagi tingkah terburu-buru nona mudanya seakan ada hal yang sangat penting menunggu. Setelah keluar dari rumah, Alexa langsung melajukan honda jazz putih miliknya agak kencang.
Pikirannya rumit di tambah hatinya sangat sakit. Kejadian di sekolah selalu membuat dia emosi, melihat pria idamannya lebih memilih wanita lain, tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu, situasi yang membuat orang-orang salah paham apalagi tidak ada seorang teman yang membantunya. Semuanya kacau tidak ada yang berpihak padanya, semuanya membencinya.
Dia tidak mempermasalahkan jika pria itu cuek padanya tapi dia tidak pernah mau jika pria idamannya menatapnya dengan benci. Sungguh dia tidak sanggup. Kenapa semua hal buruk selalu saja menghampirinya.
"Gue benci hidup ini, gue benci kalian semua." Alexa menangis keras, dia memukul setir kemudi agar menghilangkan rasa sakit dihatinya.
Sebelum mendapatkan hal sial tadi di sekolah, semalam dia juga mendapatkan hal sial lainnya. Niat hati ingin menelepon kedua orang tuanya karena hari ini dia berulang tahun, 18 April hari rabu, menelepon dengan hati riang inginya dia menyuruh orang tuanya agar cepat pulang dari Belanda tapi mereka bilang,
"Itu hanya hari ulang tahun sayang, mama dan papa sedang sibuk sekali jadi benar-benar tidak bisa pulang, lain kali saja oke, bilang pada mama kamu mau hadiah apa nanti kami kirim dari sini."
Setelah itu panggilannya di putus begitu saja, dia bahkan belum mengucapkan betapa rindunya dia berkumpul bersama seperti dulu, atau betapa muaknya dia dengan kehidupan sekolahnya. Dia hanya ingin mempunyai tempat berkeluh kesah, orang yang bertanya bagaimana harinya atau apa saja yang dia inginkan, dan dia berharap itu adalah orang tuanya.
Tapi itu adalah hal yang mustahil, mereka hanya peduli pada pundi-pundi uang perusahaan, sibuk bulak balik keluar negeri meninggalkan kedua anaknya yang betul-betul mengharapkan kasih sayang. Setelah panggilan itu tertutup, Alexa langsung menangis kencang dia membanting kuat ponselnya hingga hancur. Menangis semalaman sampai tenggorokannya sakit dan esok harinya mata itu sembab dan merah, sakit sekali hatinya, sweet seventen yang ia idamkan hancur begitu saja.
Dan di malam itu dia hanya meminta agar dia mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Hanya itu. Terlalu larut dalam sedihnya Alexa tidak sadar kalau mobilnya melaju terlalu kencang, membelah jalanan kota yang ramai, bunyi beberapa klakson baru menyadarkannya.
Tapi terlambat, di depannya berdiri wanita yang sedang memegang balon. Mobilnya menghantam keras tubuh itu dengan kuat, sempat dia lihat tubuh yang di tabraknya melayang dan tergeletak bersimbah darah, karena kaget luar biasa dia membelokan mobilnya kekiri menabrak mobil lain. Kepalanya terhantam kuat pada setir kemudi, bisa dia rasakan darah mengalir dari pelipisnya. Pusing mendera, dada sakit dan tangan kanannya tergores kaca pintu mobil yang pecah. Setelahnya hanya kegelapan yang menyapa.
***
Pertama kali yang kurasakan saat membuka mata adalah rasa sakit yang teramat di kepala, sedikit meringis ketika aku berusaha bangun dari tidur, kulihat sekeliling ruangan, ah, rumah sakit ternyata.
Ya, tentu karena seingatku kamarku tidak sekecil ini.
Aku melihat kedua tanganku, yang kiri terpasang infus yang kanan dililit perban, kurasakan juga kepalaku terpasang perban, sedikit agak kaku karena perbannya agak terlalu kencang. Ruangan ini sepi, tidak kulihat Bastian dimanapun, biasanya selama apapun aku tertidur dia selalu menunggu dengan sabar, mungkin dia sedang mengurus hal lain. Kulihat jam menunjukan pukul 02.35, Aku terbangun dini hari Tapi kenapa Bastian tidak menempatkanku di ruang VVIP, ruangan ini terlalu sempit untukku. Setelah berhasil duduk dengan benar, aku mulai berpikir hal terakhir apa yang membuatku masuk rumah sakit.
Aku menghela nafas ingatan tentang duduk ditaman, membantu mengambilkan balon seorang anak kecil, berjalan ketengah jalan, dan mobil putih yang menabrakku. Aku kecelakaan, klise sekali tapi ini sialan akan ku suruh Bastian mencari siapa yang menabrakku.
Kalau ku ingat bagaimana tubuhku tertabrak kencang oleh mobil putih itu, tidak mungkin hanya luka ini saja yang kudapatkan, setidaknya patah tulang atau jaitan luka di sana sini atau mungkin koma dan aku masih sangat ingat sakit yang teramat sangat di bahu kiri dan kepalaku. Kulihat lagi kedua tanganku, Sejak kapan aku mewarnai kuku ku. Warna merah terang yang mencolok, tidak aku tidak pernah mewarnai kuku ku.
Tanganku juga terlihat lebih kurus dan rasanya ini hanya tulang yang terbalut kulit. Tunggu, memang selama apa aku tertidur, apa itu artinya aku koma di waktu yang lama? Dan itu membuat badanku kurus seperti ini, apa kutek kuku ini juga Bastian yang mewarnainya. Sejak kapan Bastian berani melakukan hal yang aku tidak suka.
Haah apa benar selama itu aku tertidur?
Aku benci berkata ini, tapi rasanya hampa sekali. Aku rindu kalian.
***
Hari sudah siang, tirai jendela terbuka lebar pemandangan kota tersuguhkan disana. Pagi tadi ada seorang suster yang sedang mengecek infusan, karena baru tidur jam setengah 5 pagi, Fiel menghiraukan sang suster lalu lanjut terpejam.
Sekarang dia sedang duduk bersender di kepala ranjang, makanan khas rumah sakit berada di nakas sebelah kiri tidak ia lirik sekalipun, dia benar-benar tidak berselera untuk makan. Suara pintu mengalihkan atensinya, dia melihat seorang ibu tua dengan kedua tangan yang memegang kantong pelastik, matanya menunjukan keterkejutan, ibu tua itu diam beberapa saat sampai akhirnya dia sadar dan menghampiri sang pasien.
"Nona sudah sadar? Maaf bibi baru datang siang, non."
Tangannya agak bergetar melihat raut wajah datar majikannya, dia mengeluarkan beberapa buah dari kantong plastik hitam dan mengeluarkan bubur ayam dari kantong plastik putih.
"Bibi tau non pasti belum makan karena non gak pernah suka makanan rumah sakit, jadi bibi bawain bubur ayam langganan non, ini kesukaan non, non makan yah bibi suapin."
Tangannya cekatan membuka kotak bubur, bi Marni memang agak terkejut melihat nona mudanya sudah sadar, karena sudah 2 hari setelah kecelakaan nona mudanya dalam keadaan koma, hal yang di katakan dokter waktu itu. Ketika tangan keriput itu menyodorkan satu sendok bubur, nona mudanya bertanya hal yang mengejutkan.
"Anda siapa?"
Wajah bi Marni menunjukkan keterkejutan yang nyata, sendok bubur yang dia pegang hampir saja terjatuh.
"N-non tidak ingat bibi? Non benar tidak ingat bibi?" Bi Marni merasakan matanya memerah, dia berusaha untuk menahan tangis, sendok buburnya ia taruh kembali, fokusnya ia alihkan pada mata sang nona.
Nona mudanya hanya menampilkan ekspresi datar, tidak ada raut manja seperti biasanya ataupun mata yang sering melihat angkuh. Hanya tatapan tidak berminat.
"Non, ini bi Marni, bibi yang udah ngurus non sedari kecil, bibi udah ikut keluarga non 19 tahun. Bibi pengurus rumah tangga di keluarga Sagara." Jelasnya pelan.
Fiel mengangkat sebelah alisnya. Sagara? Dia tidak tau siapa itu keluarga Sagara, dan kenapa ibu tua ini bilang kalau dia adalah keluarga Sagara, sesudah kecelakaan keluarganya dulu dia langsung di asuh oleh adik dari mamanya.
"Aku tidak tau ibu ini siapa, dan saya bukan bagian keluarga Sagara, anda mungkin salah ruangan."
Masih dengan raut datar, Fiel menjawabnya tanpa berminat. "N-nona i-ini pasti ada yang salah, bibi panggilkan dokter dulu, ya."
Bi Marni berlalu dengan wajah ketakutan, dia tidak mau menyuarakan yang ada di pikirannya, salah ini pasti ada yang salah dengan nona mudanya.
Fiel berdecak tak suka, dia benar-benar ingin sendiri sekarang, lagipula kemana Bastian kenapa asistennya tidak datang-datang, kalaupun sedang pergi harusnya dia menyuruh bodyguard menjaga di luar ruangan, sangat tidak suka orang asing yang sok kenal begitu.
Tak berapa lama ibu tua yang menyebut dirinya bi Marni datang dengan seorang dokter dan dua suster di belakangnya.
"D-dokter tolong periksa nona Alexa dok, dia tidak ingat siapa saya dan dirinya sendiri." Bi Marni mengatakan itu sambil menangis, tanpa banyak kata dokter langsung memeriksanya.
"Apa yang kamu rasakan? Apa pusingnya masih ada?" Dokter itu bertanya dengan tenang.
"Ya, pusingnya masih sangat terasa sesekali."
Dokter mengangguk, dia menyuruh suster untuk menggantikan perban di kepala dan tangannya, suster lainnya sedang menulis sesuatu.
"Luka di tangan mu sudah mengering, tapi masih harus di perban untuk hari ini jika besok benar-benar sudah kering perbannya boleh di lepas, untuk luka di kepala karena lukamu di jahit masih belum boleh di lepas, ganti perbannya hanya boleh sekali sehari sampai benar kering, saya akan resepkan obat baru dan vitamin agar lukanya cepat menutup."
Fiel hanya mengangguk, dokter tersebut memeriksa infusan.
"Anda harus makan secara teratur agar cepat sembuh nona, jika 2 hari keadaannya semakin membaik nona alexa boleh segera pulang." Lanjutnya.
"Alexa? Siapa dia?" Fiel merasa dokter tersebut salah memanggil namanya.
"Tentu anda nona, nama anda nona Alexa."
"Saya Cassandra bukan Alexa."
Tangis bi Marni benar-benar pecah, pikiran buruknya sudah memenuhi kepalanya. "Apa anda ingat orang tua anda?"
"Ya, saya ingat, mereka sudah lama tiada." Fiel mengatakan itu dengan sorot mata dingin, dan itu tidak luput dari penglihatan sang dokter.
"Umur anda?"
"24 tahun."
"Dan tahun berapa sekarang?"
Fiel mengerutkan kening. "2019." Dia menjawab dengan pelan.
Dokter itu hanya mengangguk, dia mengalihkan pandangannya pada wanita tua yang memanggilnya tadi.
"Saya pikir karena syok dan benturan dikepalanya nona Alexa mengalami hilang ingatan sementara, ditambah beban pikiran yang menganggu sebelum kecelakaan terjadi. Itu membuat pikirannya membayangkan hal-hal yang tidak ia pikirkan sebelumnya, tapi ibu tenang saja ini hanya sementara setelah syoknya hilang ingatannya akan kembali lagi."
Bi Marni masih sesegukan setelah mendengar penjelasan dokter, dia masih merasa takut dengan semua ini, ada perasaan kasihan yang menelusup dalam hatinya, kenapa nonanya harus mendapat semua ini.
"Tapi dok semuanya akan baik-baik saja kan?"
"Semuanya baik-baik saja bu, coba ibu ingatkan hal yang berkaitan dengan nona Alexa secara perlahan siapa tau ini bisa mengembalikan ingatannya."
Dokter tersebut pamit undur diri setelah dirasa cukup. Ruangan itu kembali menyisakan dua orang dengan perasaan yang berbeda, bi Marni menguatkan hatinya agar tidak terlalu larut dalam menangis, sedangkan Fiel kepalanya berdenyut sakit, dia bingung sekali kenapa dokter bilang dia lupa ingatan, dia sama sekali tidak lupa dia ingat semua kenangan ketika anak-anak sampai dewasa bahkan detik-detik dia kecelakaan. Ada yang tidak beres. Bi Marni menyentuh pelan tangan Alexa, dia lalu duduk di kursi sebelah ranjang pasien.
"Non bibi minta maaf karena sore itu bibi ngga bisa cegah non pergi, kalau bibi tau non akan kecelakaan bibi pasti paksa non buat di rumah aja, apalagi non waktu itu belum makan." Ucap bi Marni pelan, sesekali air matanya turun.
"Tapi non tenang aja, sekarang bibi bakalan jagain non sampai non sembuh." Tangannya dengan cepat menyeka air mata .
Fiel melihat itu dalam diam, dia masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi, dokter tadi pasti salah mendiagnosis keadaannya.
"Non makan dulu ya, bibi suapin." Sambil sesekali sesegukan bi Marni membawa kotak bubur kepangkuannya, bubur sudah dingin karena dibiarkan lama.
Fiel hanya diam, tapi dia menurut ketika di suruh untuk membuka mulut, keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara, hening sampai bi Marni menyuapi Fiel sampai buburnya habis.
"Apa non ingin di kupaskan apel? Atau pier?" Fiel yang sedang minum hanya menggeleng.
"Bisa ibu ambilkan saya cermin?"
Dengan sigap bi Marni mencari cermin kecil, dia ingat menyimpannya di laci nakas kedua, setelah dapat dia menyerahkan pada nonanya.
Fiel menatap cermin itu dengan mata melotot, siapa gadis yang dia lihat, ini bukan dia, dia tidak punya rambut coklat begini, rambutnya hitam legam, panjang dan lurus, tapi rambut ini sedikit curly di bawahnya, dia benar-benar baru sadar sekarang, matanya kecil dengan tatapan sayu, bulu mata yang lentik, bibirnya tipis merah muda dan agak kering, hidung mungil yang tidak terlalu macung, wajahnya agak bulat, porsi yang pas. Kulit wajahnya putih tanpa jerawat ataupun masalah kulit lainnya. Wajah remaja yang lucu.
Wajah siapa ini? Ini bukan aku!!
Fiel kaget, sangat kaget, wajah ini asing, ini benar-benar bukan dia, mata, hidung, rambut, tangan, bahkan badannya bukan dia, ini badan milik orang lain. Siapa dan kenapa, bagaimana ini bisa terjadi, sebenarnya apa yang terjadi, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
"I-ini wajah siapa?"
Bi Marni hanya tersenyum, nonanya mungkin tidak menyangka kalau wajahnya sendiri sangat cantik, apa seseorang yang amnesia lupa wajah sendiri?
"Itu wajahnya non, non Alexa tenang aja, luka gores di wajah non pasti sebentar lagi hilang, dan jaitan di pelipis non terhalang rambut." Bi Marni menjelaskan dengan tenang, pasalnya nona mudanya ini sangat menjaga wajahnya, ada satu jerawat saja hebohnya seperti sedang terjadi kebakaran.
Jaitan di pelipis Fiel berdenyut, dia meringis keras, bi Marni yang melihat itu panik, dia menyuruh Fiel untuk tidur, tidak tega melihat nonanya menahan sakit.
"Non tidur aja, bibi bakalan jagain non, sekalian bibi nebus resep obat yang baru, ya."
Fiel hanya mengangguk, kepalanya ikut-ikutan sakit, perihal hal baru yang terjadi dia akan memikirkannya nanti.
Aku harus cepat mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Ahh sialan ini sakit sekali.
***
5 hari sudah dia berada di rumah sakit, dokter bilang besok dia baru boleh pulang. Fiel hanya diam, mengangguk menerima penjelasan dokter. Sesudah mengalami hal mengagetkan kemarin Fiel tidak tau harus merespon apa, ia bingung dan kaget, jelas saja tiba-tiba menjadi korban kecelakaan sekarang jiwanya di tubuh orang asing.
"Kalau begitu saya pamit dulu." Ucapan dokter mengalihkan pikiran Fiel, dia melihat dokter dan suster melangkah keluar ruangan, ada bi Marni yang mengucapkan terima kasih.
Yang Fiel tau semenjak dia bangun, hanya bi Marni seorang yang menjenguknya, dia tidak melihat orang lain ataupun sanak keluarga tubuh ini.
"Non mau makan buah? Atau sesuatu yang lain?"
Fiel menggeleng.
"Mmm non mau jalan-jalan ke taman rumah sakit?"
Pertanyaan bi Marni lagi-lagi di jawab gelengan kepala.
"Atau non ada yang mau di tanyakan sama bibi ?"
Dari kemarin bi Marni telaten sekali merawatnya, ketika malam hari Fiel ingin ke kamar mandipun bi Marni sigap bangun untuk membantu.
"Saya hanya bingung bu, saya seperti orang asing sekarang, siapa saya, kenapa saya disini, dan apa yang terjadi, itu membuat saya pusing." Fiel menjawab dengan pelan, kening di wajahnya mengerut dalam.
"Non bisa mulai kenalan lagi dengan bibi, untuk memulai mengingat kenangan non, non juga bisa bertanya apa saja yang membuat non bingung, bibi siap menjawab." Bi Marni tersenyum melihat mata Fiel menunjukan rasa tertarik.
"Kalau begitu di mulai dengan nama saya, dan hal-hal kecil tentang saya." Fiel menyandarkan punggunnya dengan nyaman, wajahnya tenang sorot matanya menajam.
"Nama lengkap non Alexa Putri Sagara, non anak bungsu dari 2 bersaudara, non punya satu kakak laki-laki yang berbeda 3 tahun dari non, namanya Damian Putra Sagara, non sekarang berusia 17 tahun, tanggal lahir non 18 April 2002, non bersekolah di SMA negri Harapan Bangsa, non udah kelas 3, tapi kalau untuk kelasnya bibi kurang tau non.. "Bi Marni tersenyum sambil menggaruk pipinya, Fiel mengangguk.
"Non suka sekali dengan berbelanja, biasanya non suka menghabiskan waktu bejam-jam di mall untuk belanja make up, dan non senang sekali dengan yang namanya berdandan, biasanya kalau non sudah belanja make up non sering jadiin bibi atau pembantu yang lain untuk uji coba, non selalu bilang begitu dan hasilnya sangat bagus, non bilang cita-cita non pingin jadi make up artis.." Bi Marni menjeda ceritanya dia memandangi raut wajah sang nona, tapi wajah itu hanya diam dengan bibir terkatup rapat.
"..Yang paling non suka itu cumi sambal ijo, non bilang itu masakan yang paling enak daripada spageti, non tidak terlalu kuat makan pedas, minuman kesukaan non itu boba capucino non juga sering beliin bibi minuman itu sepulang sekolah, non itu alergi kepiting dan lobster, dan non tidak bisa makan udang terlalu banyak karena biasanya rahang non suka tidak bisa di buka.."Bi Marni mengatakan itu sambil tertawa kecil, seolah-olah dia mengingat kejadian lucu.
"..Dari kecil non itu sangat periang, gadis kecil yang lucu dan cantik, sampai beranjak remaja non selalu tambah cantik.." bi Marni tersenyum dia mengusap pelan kepala Fiel. "Bibi memang sangat dekat dengan non sedari kecil, bibi bekerja di keluarga Sagara ketika kakak non berusia 1 tahun."
Bi Marni menyudahi ceritanya, dia menunggu respon sang nona. Wajah Fiel datar, dia sangat asing dengan cerita itu, dia bahkan tidak mengingat satupun kenangan tubuh ini, tapi ada kesamaan yang Fiel tau, ulang tahunnya sama dengan ulang tahun asli Fiel, 18 April hanya berbeda tahun, Fiel lahir di tahun 1995.
Jadi sekarang apa ?
Fiel menghela nafas, matanya ia alihkan pada jendela kamar inapnya, kalau jiwa Fiel disini bagaimana jiwa gadis yang ditempatinya, apakah jiwanya pindah pada tubuh Fiel? Apakah sekarang mereka sedang bertukar jiwa? Berpindah tubuh? Lalu kehidupannya bagaimana? Pekerjaan menumpuknya bagaimana? Apa Bastian sudah tahu? Apa dia sedang mencarinya? Dan apakah sekarang dia menjalani hidup gadis ini, kembali pada usia 17 tahun tingkat akhir sekolah?
Ahh, kepalanya berdenyut pusing lagi, dia benar-benar tidak mengerti, haruskah ia menerima semuanya? Atau dia saja yang langsung mendatangi Bastian menceritakan yang sedang terjadi, tapi apa asistennya itu mempercayai ucapannya, kalau sudah bercerita lalu apa? Apa dia akan mendatangi dukun atau paranormal untuk mengembalikan jiwanya? Atau kah harus dengan adegan kecelakaan lagi agar bisa kembali Tidak itu ide yang buruk, lagipula itupun kalau berhasil, kalau ternyata aku malah mati ?
Sialan oh sialan.
Fiel rasanya ingin mengumpat terus menerus sambil menangis, yang benar saja, lalu bagaimana dengan rencana yang telah ia susun dari dulu.
"Non baik - baik aja?" Bi Marni melihat raut wajah kesakitan itu khawatir, ternyata nonanya memang benar tidak ingat apapun, ia kira karena kemarin pertama kalinya nonanya bangun nonanya masih syok dengan kejadian kecelakaan makanya dia tidak ingat apapun.
Fiel kembali melihat bi Marni yang duduk di sebelah ranjangnya, wajah bi Marni benar-benar tulus dengan rasa khawatir di dalamnya, Fiel malah teringat bibinya yang mengasuhnya sejak kecil.
"Saya baik-baik aja bu, tenang aja, hanya saja saya masih belum ingat apa-apa." Fiel menenangkan.
"Non ga usah terburu-buru, bibi ga mau non malah sakit kalau dipaksakan."
Fiel mengangguk.
"Dari kemarin kenapa hanya ibu saja yang datang, apa keluarga saya tidak mau datang?"
Pertanyaan Fiel membuat bi Marni gelagapan, dia sekarang bingung menjawabnya, dia tidak mau membuat sakit hati nonanya, sering bi Marni memergoki nona mudanya menangis karena rindu pada orang tuanya, dan itu juga membuatnya sakit hati.
Fiel melihat itu dengan jelas, mata bi Marni melirik kesana kemari mencari jawaban, dan Fiel sudah tau tanpa perlu i jawab bi Marni.
"Tidak apa-apa jika ibu tidak bisa cerita." Fiel menyadarkan bi Marni yang masih bingung.
"B-bukan begitu non, hanya saja bibi ngga mau bikin non nangis, bibi ngga mau bikin non lebih sakit."
"Memangnya kenapa harus sampai menangis?" Fiel bertanya dengan tenang. Walapun ragu tapi bi Marni akhirnya mengatakan jawabannya.
"S-s-sebenarnya sewaktu pertama kali dengar kabar non kecelakaan bibi langsung telepon nyonya sama tuan, tapi mereka bilang tidak bisa pulang mendadak karna pekerjaan mereka masih terlalu banyak, nyonya bilang akan pulang setelah semuanya selesai, dan kalau untuk den Demian, kakak non sedang sibuk-sibuknya kuliah dia jarang sekali ada di rumah, tapi bibi udah kasih kabar kok non."
Orang tua yang hanya memikirkan pekerjaan dan kakak yang tidak dekat. Fiel mengangguk untuk mendengar jawaban bi Marni dan kesimpulannya sendiri. Jadi aku akan hidup di tubuh seorang gadis yang kesepian ? Fiel mendengus, apa sekarang hidupnya akan menjalani seperti misi tertentu ? Kenapa ini seperti lelucon.
"Non ingin makan siang dengan apa ? Bibi akan belikan, tadi non makan cuma sedikit." Bi Marni memecah keheningan, sedikit ada rasa tidak enak ketika menceritakan tentang tadi.
"Buatkan saya salad buah 2 porsi dan jus stroberi saja, bu."
"Kalau begitu bibi ijin ke rumah dulu ya non, sekalian bawa baju ganti untuk non, kata dokter non besok boleh pulang." Fiel hanya mengangguk, bi Marni bangkit dan segera melangkah keluar untuk pulang, rencananya dia akan kesini lagi setelah membersihkan kamar nona mudanya.
Kamar inap itu sekarang hening, Fiel merasakan jaitan pelipisnya berdenyut pelan, dia terlalu berpikir dengan keras, tubuh gadis yang sekarang di tempati ini kehidupannya monoton, klise sekali, anak yang kurang kasih sayang dari orang tua yang gila kerja, kakak laki-laki yang tidak akrab dengannya, dan dia dekat dengan pengasuhnya.
Kalau untuk bi Marni sebenarnya dari kemarin Fiel merasa kalau mereka benar-benar dekat, ada rasa nyaman ketika bi Marni menunjukkan kasih sayang atau perhatian-perhatian kecil lainnya.
Fiel hanya perlu mencari tahu tentang kehidupan anak ini di sekolahnya, apa menyenangkan atau sebaliknya. Oh aku baru sadar, apa anak ini tidak punya teman ? Hampir seminggu tidak masuk sekolah bukannya cukup untuk memberi tahu orang-orang kalau dia ini tidak baik-baik sajakan ? Oh dan sial lagi selain kurang kasih sayang anak ini tidak punya teman ternyata.
Fiel benar-benar mendengus dengan keras, wajahnya datar dengan tatapan tidak suka, jangan bilang anak ini bunuh diri dan kecelakaan kemarin itu rencananya. Kekanakan sekali.
"Baiklah, walaupun aku tidak mengerti kenapa ini terjadi padaku, tapi aku akan menerimanya.." Fiel menghela nafas, matanya ia edarkan kearah jendela besar kamar inapnya.
"Karena sepertinya ini menyenangkan." Smirk kecil tercipta di bibirnya.
***