TAK APA JADI ISTRI KEDUA, YANG PENTING SOLEHA (1)
"Walaupun statusku hanya sebagai istri kedua, tapi aku bisa bangga, sebab aku bisa lebih taat agama di banding istri pertama suamiku. Dan juga aku lebih cantik," ucap Fika dalam hati.
***
"Mas, Aku mau sholat dulu ya," aku bicara pada mas Ahmad. Mukena melekat manja di tubuhku yang langsing.
"Oh iya, tuh bilang sama Mbak Rina, jangan malas sholat. Ntar berdosa," sambungku lagi.
"Kamu tahu sendiri, Dek, si Rina itu paling gak bisa di bilangi. Nggak kayak kamu yang alim, rajin solat. Rina itu kebalikannya." jawab Mas Ahmad.
"Itulah sebabnya Mas lebih percaya sama kamu yang ngedidik anak-anak, Dek. Kalo Rina mah nggak bakalan bisa kasih pendidikan yang layak sama anak."
Aku meringis tipis mendengarnya.
"Iya, Mas. Tadi aku udah mandiin anak-anak. Mereka udah rapi dan tertidur sekarang," jawabku.
"Makasih, Sayang!"
Sebenarnya, mengurus Ririn dan Aldi, dua anak Mas Ahmad dan Mbak Rina adalah aktivitas yang membosankan. Tapi tak apa, demi memgambil hati suami, aku rela. Aku bisa tunjukkan kalau aku adalah ibu yang baik untuk anak-anak.
Sesaat setelah kami bicara, Mbak Rina lewat di depanku. Ih bikin ilfil aku aja. Makhluk gemuk, bulat, berlemak itu membuatku jijik. Istri pertama suamiku itu memang tak pandai merawat diri.
"Mbak, solat dong. Nih udah waktu ashar! Seharian dikamar mulu, apa nggak bosen?" Celetukku. Dan aku yakin Mas Ahmad mendengarkan ucapanku. Hah, wajar saja lemak di tubuhnya semakin menggunung, tuh liat kerjaannnya cuma mendem di kamar, kayak lagi bertelur saja.
"Iya, Alhamdulillah udah tadi," jawabnya.
Astaga, pasti bohong lagi. Mana mungkin dia serajin itu. Pasti dia menjawab begitu karena ingin menarik perhatian Mas Ahmad. Dasar tukang pencari muka.
Kusingkap sedikit jilbab lebar yang menutup kepalaku, hingga menampakkan sedikit bagian leherku yang mulus. Biarkan Mbak Rina iri dengan kecantikanku. Sebuah kalung hadiah ulang tahunku yang diberikan oleh Mas Ahmad kemarin terlilit indah mengitari leher cantik ini.
"Mas, sekali lagi terima kasih banyak hadiah kalung emasnya kemarin ya. Aku suka banget," ucapku sedikit keras. Sebelum Mbak Rina menjauh, aku harus membuatnya tahu kalau aku barusan mendapat hadiah dari Mas Ahmad. Aku tahu, selama pernikahan mereka, Mas Ahmad belum pernah memberinya hadiah. Sedangkan denganku, Mas Ahmad tak segan memberikan hadiah sebagus ini. Aku yakin Mbak Rina akan merasa cemburu berat karena ini. Ha haa, rasanya aku ingin terbahak.
Mendengar ucapanku, Mas Ahmad langsung mendekatiku. Matanya sedikit membulat. Mengapa dia nampak marah? Apa aku salah?
Mas Ahmad menarik tanganku.
"Sudah Mas bilang, jangan kasih tahu Rina kalau aku udah beliin kamu Kalung itu, Dek! Ntar dia bisa marah!" Mas Ahmad nampak bingung.
"Kenapa sih, Mas, Mbak Rina nggak boleh tahu?" Aku nggak mau kalah.
"Apa Mbak Rina lebih penting daripada aku, Mas? Kenapa Mas terlihat sangat takut sama dia? Sampe tega marah-marah gitu? Apa aku ini istri yang kurang solehah? Kurang patuh?" Aku mulai terisak.
"Nggak, nggak begitu, Sayang, kamu istri yang baik. Maafin mas ya, Sayang. Mas nggak bermaksud menganggapmu macam-macam." Mas Ahmad mengusap kepalaku.
Hmm, aku tahu betul kelemahan Mas Ahmad. Dia paling tidak bisa membuatku menangis. Marahnya pasti mereda bila melihatku begini. Aku memang jauh melebihi Mbak Rina dalam mengenali Mas Ahmad. Tak salah bila ternyata aku lebih bisa menguasai hati suami. Lagi pula aku jauh lebih muslimah di banding istri tuanya.
Lihat baju-bajuku, semuanya syar'i. Kerudungku lebar, dan aku lebih pandai mengaji. Jadi, meskipun aku istri kedua, orang-orang tak punya alasan untuk menjudgeku macam-macam. Justru ibu mertuaku jauh lebih menyukaiku daripada Mbak Rina, si menantu gemuknya itu.
"Mas, malam ini aku mau ikut pengajian. Jadi mas bisa anterin aku ya?" Pintaku sambil menatapnya.
"MasyaAllah, istriku ini benar-benar istri yang baik. Tentu mas mau anterin kamu ke pengajian." Pujinya. Aku tersenyum.
"Iya, Mas. Daripada sibuk ngumpul buat ghibah, mending aku kumpul sama ibu-ibu pengajian aja. Lebih bermakna untuk dunia dan akhirat," ujarku.
Sejak dinikahi oleh Mas Ahmad, aku memilih untuk sering-sering melakukan sesuatu yang berbau agama. Aku ingin menunjukkan pada orang-orang yang memandangku rendah hanya karena aku seorang istri kedua. Aku ingin menunjukan pada mereka jika aku ini adalah istri kedua yang berkelas dan alim. Bukan seperti mereka yang bar-bar dan tukang julid.
Aku, Rika Asriani, adalah seorang istri kedua yang lebih baik dari yang mereka pikirkan. Lihat, aku sering ke masjid, ikut pengajian, dan aku juga cantik sehingga bisa nembuat suamiku jatuh cinta. Sedangkan mereka, huuuh, meskipun mereka istri satu-satunya, toh tetap menderita. Mana di ajak susah juga sama suami mereka. Sedangkan aku, Mas Ahmad mana rela membuatku hidup susah, bahkan seujung kuku oun dia tak rela melihat kulit mulusku terbakar matahari. Aku tetap jauh lebih beruntung di banding orang-orang yang sering menyebutku pelakor.
"Mas, aku mau mengajak Mas untuk mengantarku ke kamar Mbak Rina," ucapku pada Mas Ahmad.
"Kenapa harus di antar, Sayang?" dia mengecup keningku.
"Aku hanya ingin ajakin dia pada kebaikan, Mas. Tapi aku takut ntar dia marah," ujarku.
"Baiklah,"
Mas Ahmad mengandeng tanganku. Kami akan menghampiri Mbak Rina. Aku membuka pintu kamar kakak maduku tersebut. Ku tarik gagang pintu dan kulihat wanita itu sibuk di depan monitor. Huuh, dia selalu sibuk mengurusi pekerjaan. Sejak suaminya menikahiku, kulihat wanita itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai tak bisa mengurusi suaminya. Tapi tak apa, aku jauh lebih bisa mengurus suaminya dengan baik. Hahaa....
"Mbak, apa Mbak sibuk?" ujarku menyapa.
"Nggak terlalu." Jawabnya tanpa menoleh.
"Mbak, sesekali kita sholat isya di masjid, yuk! Ntar habis itu kita langsung ikut pengajian. Hitung-hitung cari pahala, Mbak!" ujarku.
"Terimakasih, Fik. Tapi Maaf. Kerjaan aku belum selesai. Jadi kayaknya aku solat di rumah aja," jawabnya.
"Ya Allah, Mbak. Demi pekerjaan Mbak rela mengabaikan panggilan Allah. Istighfar, Mbak. Aku ajak mbak sholat ke masjid untuk mendekatkan diri pada Allah. Sholat berjamaah itu lebih besar pahalanya, Mbak. Apalagi selepas itu kita ikut pengajian juga," ujarku.
Aku melirik ke arah Mas Ahmad. Dia mengangguk tersenyum. Aku tahu dia salut padaku. Kau lihat Mas, aku ini istri yang dekat pada Tuhan. Tidak seperti istri pertamamu yang jauh dari penciptanya. Kadang aku heran, kenapa tak ia ceraikan saja si Tia ini. Istri yang tak pandai merawat suami itu hanya menambah beban saja.
"Aku udah bilang, aku lagi banyak kerjaan. Jadi kalau kamu mau ke masjid pergi aja. Kalau niat kamu ingin cari pahala, untuk wanita solat di rumah lebih baik dari pada di masjid."
Upps, jawaban macam apa ini? Dia ingin merendahkan aku di depan Mas Ahmad? Ngimpi kamu, Rina!
"Niat aku baik, Mbak. Aku mau ajak mbak ke kebaikan! Harusnya mbak jangan jawab gitu, sesuaikan sama adab, Mbak! Pelajari soal sopan santun, agar bisa mendekatkan diri sama Tuhan!" pukasku.
"Oke, sekarang mau kita bicara adab? Sekarang aku tanya kamu, kamu nyelonong masuk ke kamar aku tanpa permisi, apa itu bisa di bilang perilaku beradab?"
Astaga... Apa yang dia katakan? Akan kubungkam mulutmu di hadapan Mas Ahmad, Mbak Rina!
"Rina, kenapa kamu harus bicara begitu sama Fika. Bersikap baiklah sama dia, liat, Fika udah bela-belain ngurusin anak kita, Harusnya kamu berterima kasih sama dia!" Mas Ahmad membelaku.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Mas Ahmad. Mengurus 2 anak mereka bukanlah hal yang mudah. Seharusnya Mbak Rina memang bersyukur punya adik madu sebaik aku. Atau mungkin dia cemburu ya melihat kedekatanku sama Mas Ahmad? Ha ha... Tubuhnya yang bontel mirip karung goni itu tidak akan bisa berbuat banyak untuk menarik perhatian Mas Ahmad.
"Mbak, aku kan bawa Mas Ahmad ke kamar kamu, jadi nggak permisi juga nggak masalah," aku mengelak. Kan emang aku nggak salah toh. Lagi pula nggak ada barang yang berharga-berharga amat di kamarnya yang sempit ini. Jadi apa yang ingin ia sombongkan?
Aku saja yang kamarku lebih luas dan bagus tidak sesombong itu sampai harus minta izin segala macam.
Halah lagi-lagi tak apa lah dia mau bersikap begitu, toh pada kenyataannya Mas Ahmad jauh lebih mencintaiku dari pada Mbak Rina.
"Ini bukan masalah adanya Mas Ahmad atau tidak, tapi kayak yang kamu bilang tadi, ini tentang adab!"
"Sudah, Rina! Kamu sengaja cari celah untuk cari kesalahan Fika!" Sergah Mas Ahmad lagi.
Sebenarnya aku ingin tertawa melihat Mbak Rina lagi-lagi dibentak sama suaminya. Kalau sama aku mana pernah Mas Ahmad bisa melakukan hal sekasar itu. Andai saja mbak Rina mau sadar, tentu dia bisa menyadari kalau dia itu sudah tak dicintai lagi sama Mas Ahmad. Tapi bodohnya, dia masih saja tak mau menggugat cerai.
"Lihat kamu, seharian mana mau bantuin Fika! Alasan kamu kerja, kerja! Padahal kerjaan cuma tukang marketing doang, tapi gaya udah selangit. Kayak yang paling sibuk aja!" Lagi-lagi mbak Rina dimarahi sama Mas Ahmad.
"Kerjaan bergaji seuprit gitu tapi gaya udah macam manager. Kayak orang kantoran akut aja! Tuh kamu punya cermin, kan? Liat tuh muka kamu di sana! Pantes nggak sama gayamu!"
Sebenarnya aku sudah lama sekali memendam kata-kata seperti itu, dan sekarang Mas Ahmad telah mengatakannya, tanpa harus mengotori bibirku. Bagus! Rasanya aku cukup puas.
"Udah, Mas! Nggak usah marahin Mbak Rina. Kasihan dia." Ujarku mendinginkan suasana.
Kulihat Mbak Rina tersenyum tipis! Aneh sekali, apa yang dia senyumin. Dihina kok malah tersenyum. Dia memang sudah tak waras. Kasihan Mas Ahmad, pumya istri yang punya gangguan jiwa. Untung Tuhan menganugerahi aku untuknya.
Aku menarik tangan mas Ahmad keluar. Pria itu menurut.
"Yang sabar, Mas. Tuhan nggak suka orang pemarah!" ucapku lagi sembari menuntunnya duduk di tepi ranjang.
"Terimakasih, Dek Fika!"
Aku memeluk Mas Ahmad. Pria ini sungguh membuatku bangga. Dia suami yang pekerja keras, uangnya banyak dan royal padaku. Dia bekerja sebagai pegawai di sebuah perusaan swasta. Tapi sayangnya, Sejak aku pacaran sama dia sampai detik ini, ada bayak pihak yang tak menyukaiku. Hingga aku dan dia harus berjuang hingga titik ini.
Dulu orang-orang memandangku buruk dan genit hanya gara-gara aku berpacaran dengan Mas Ahmad yang sudah punya istri dan bahkan sudah punya 2 anak.
Oke, dulu aku masih memaafkan orang-orang jahat yang memandangku buruk tersebut. Tapi sekarang, aku dan Mas Ahmad sudah menikah, kami tak hanya sekedar pacaran, apa lagi yang ingin mereka permasalahkan?
Mungkin mereka membenciku karena jadi istri kedua? Hellooo, nih ya, aku istri kedua tapi jauh lebih dekat pada agama dibanding istri tuanya. Hahaa, jadi aku bisa lebih percaya diri. Terlebih tampangku juga tidak jelek. Uang Mas Ahmad lebih dari cukup untuk membawaku ke salon setiap bulan.
Aku menuju ke dapur, sebelum malam tiba, rumah ini harus beresi terlebih dahulu. Akan tunjukan selalu pada Mas Ahmad kalau aku ini istri yang tahu tanggung jawab. Bahkan semua kerjaan yang berhubungan dengan rumah biar aku saja yang menyelesaikannya. Tak kan kubiarkan Mbak Rina mengerjakannya sehingga nanti bisa menarik perhatian Mas Ahmad.
Aku mulai meracik bumbu dan menyiapkan menu untuk makan malam nanti. Beberapa hari ini kurasakan kulit di telapak tanganku agak mengeras, tak selembut dulu. Mungkin ini karena aku terlalu sering bergelut di dapur kali ya. Ah tapi gak apa, ini hanya kesalahan kecil. Demi melayani suami dan mertua sepenuh hati, aku rela mengerjakannya. Ingat, aku ini istri dan menantu idaman setiap orang.
Aku baru saja menyajikan menu di atas meja, ketika Mbak Rina datang menghampiriku.
Tanpa berkata-kata wanita tak tahu malu itu mengambil piring dan makan. Astaga, dia gak sadar apa kalau tadi tak membantuku masak sedikitpun?
"Rina! Kamu gak bantuin Fika tadi? Lihat Fika capek-capek, baru selesai masak, eh kamu malah enak-enakan tinggal makan doang!" Mas Ahmad selalu membelaku di hadapan Mbak Rina. Aku yakin, Mbak Rina pasti sakit hati. Huh, biarin! Salah sendiri kenapa gak tahu diri.
"Mas, tadi tuh Fika bilang kalau dia nggak butuh bantuan aku, dia bisa ngerjain semuanya sendiri. Fika memang hebat," balas Mbak Rina.
Eh sialan, mana ada aku bilang nggak butuh bantuan dia. Dia sendiri yang yang ada inisiatif untuk bantuin aku.
"Waah, masakan Fika enak banget, Mas. Baru kali ini aku ngerasain masakan seenak ini. Serasa lagi makan di restoran aja nih kayaknya. Wanita pilihanmu ini memang luar biasa, Mas," belum sempat aku bicara, Mbak Rina sudah kembali berucap.
Hei, yang benar saja dia? Apa dia nggak cemburu? Kok dia malah memuji-muji aku di hadapan Mas Ahmad? Atau, atau dia hanya ingin menyembunyikan kecemburuannya dengan berkata seperti itu? Sengaja dia memuji-mujiku untuk menutupi sakit hatinya? Dasar munafik.
"Masakan Fika emang enak. Nggak kayak masakan kamu yang lebih sering nggak kerasa bumbunya! Makanya kamu harus belajar sama Fika." Tiba-tiba ibunya Mas Ahmad juga ikut menimbrung ucapan kami. Menyadari kedatangan ibu mertua, aku berusaha memasang senyum semanis mungkin.
"Fika memang selalu berusaha untuk jadi istri yang baik. Tapi kamu tetep harus bantuin dia! Kasihan dia bisa kecapekan," ucap Mas Ahmad.
"Mas, seperti yang ibu bilang, masakan aku nggak enak. Aku lebih suka masakan Fika. Lebih sedap. Fika sangat pandai meracik bumbu. Jadi, kayaknya aku gak perlu bantuin dia. Ntar masakannya jadi hambar."
Whattt? Apa-apaan nih si Rina? Maksudnya apa? Apa dia mau bikin aku jadi tukang masaknya dia?
Bersambung
Aku liat Mas Ahmad mulai melirik ke arah Mbak Rina dengan tatapan tak suka. Mungkin saja Mas Ahmad ingin memberitahu Mbak Rina jika apa yang telah dilakukan perempuan itu tak benar.
Mbak Rina memang tak pernah bisa bikin kedamaian. Tindakannya selalu saja memicu suasana keruh dan kacau. Kalau dipikir-pikir aku lebih suka jika dia enyah saja dari rumah ini. Tapi entahlah, karena tak tahu malu Mbak Rina masih saja kekeuh untuk tetap tinggal di rumah ini.
Aku menghela nafas.
"Mas, nggak usah marahin Mbak Rina, ya. Walau gimanapun aku udah maafin dia," aku tersenyum menatap Mas Ahmad.
Mas Ahmad menghembus nafas kasar.
"Beruntung kamu punya adik madu seperti Fika! Kalau nggak, aku nggak tahu apa yang akan terjadi!" suara Mas Ahmad terdengar agak kesal.
Mas Ahmad memang selalu lengket padaku. Terhitung sudah 3 bulan kami menikah, selama itu pula tak pernah dia bisa memarahiku. Dia bilang aku istri pilihan terbaik yang pernah ia miliki. Bangga memang bisa menjadi kebanggaan seorang suami.
Mbak Rina menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Ia benar-benar mengabaikan Mas Ahmad yang sedang kesal padanya. Bahkan ia malah nambah nasi dan lauk ke piringnya tanpa rasa malu. Luar biasa memang wanita ini. Bahkan mungkin tidak terbersit di hatinya untuk meminta maaf pada Mas Ahmad atau padaku.
"Rin, tuh nanti piringmu cuciin dulu! Jangan mau makan aja bisanya! Jangan cuma suruh Fika terus!" tegur Mas Ahmad.
Aku tersenyum dalam hati, kena tegur lagi dia. Ha ha... Ingin rasanya aku tergelak. Tapi tidak, itu bukan sikap yang baik untuk di tunjukkan di depan Mas Ahmad. Aku memutuskan untuk diam dan pura-pura tidak ambil pusing.
"Entar dulu ya, Mas! Aku belum selesai makan. Masakan Fika emang luar biasa." Imbuh Mbak Rina.
"Apa yang kamu bilang emang bener. Tapi bukan itu yang sedang aku omongin. Aku bilang ntar piringmu cuci sendiri!"
"Biar ntar Fika aja yang cuciin piringnya, Mas. Nggak apa-apa," ucapku kemudian.
"Oke, terimakasih ya, Fik!" balas Mbak Rina.
Sial*n, andai saja tak ada Mas Ahmad di sini, tak mungkin aku rela untuk berkata seperti itu. Tapi tidak mengapa, anggap saja ini salah satu pengorbananku untuk Mas Ahmad.
"Ya Tuhaan! Sekali lagi kau harusnya bersyukur, Rina!" Mas Ahmad berkata kesal sambil meninggalkan ruangan dapur.
"Mbak, harusnya Mbak minta maaf sama mas Ahmad!" sergahku.
"Minta maaf? Memangnya salah apa yang udah perbuat sama dia?"
Oh ya ampuun, apa yang dia pikirkan? Sepertinya wanita ini tidak sadar akan kesalahannya. Oke baiklah, akan kukasih tahu dia.
"Mbak tanya salah apa? Mbak nggak nyadar apa kalo udah bikin Mas Ahmad kesal dan marah?Kenapa tadi gak iyain aja ketika dia suruh cuciin piring itu? "
Bukannya sadar, eh dia malah tetap tersenyum ringan ketika mendengar apa yang aku katakan barusan.
"Kesal dan marahnya dia itu adalah karena egonya sendiri. Lagi pula, kamu sendiri yang langsung menjawab kalo kamu aja yang ingin cuciin piringnya. Terus salah aku apa?"
Ya Rabbi.
"Pantesan Mas Ahmad terus marah sama kamu, Mbak! Kamu emang selalu ngeselin! Mbak liat aku nggak? Pernah nggak Mas Ahmad semarah itu sama aku? Nggak pernah, Mbak? Itu karena aku bisa bikin dia nyaman! Harusnya Mbak bisa berpikir kayak aku. Biar nggak di selingkuhin sama suami!"
Rasanya aku mulai geram. Ini kesempatan aku bisa ngomong langsung sama dia, selagi Mas Ahmad tidak mendengar apa yang aku katakan.
"Iya, Fik. Aku juga salut amat sama kamu. Kamu bisa banget bikin Mas Ahmad nyaman. Servis kamu emang bagus. Aku pantas acungin jempol buat kamu. Tapi aku, aku kayaknya nggak perlu munafik agar bisa menjadi selingkuhan suami orang." Dia tertawa tipis.
Astaga! Apa dia menyinggungku?
"Mbak, aku ini bukan selingkuhan! Camkan itu! Aku ini adalah istri sah. Jadi Mbak jangan macam-macam!"
"Iya, sekarang kamu emang istri sah kok. Aku nggak sedang bicarain kamu. Kenapa kamu cepat banget tersinggung?"
"Udah, udah deh, Mbak. Lebih baik sekarang kamu urusin tuh lemak membuntal di perutmu itu! Biar Mas Ahmad nggak terlalu jijik nyentuhnya. Kan kasihan kamu kalo tiap malam Mas Ahmad cuma mau tidur sama aku doang. Kasihan tuh tubuhmu yang kayak ikan buntal itu di anggurin mulu!" Aku terkekeh. Kali ini biarkan saja dia tersinggung habis-habisan. Salah sendiri kenapa mau memulai. Dia pikir cuma dia yang bisa sindir menyindir? Nih aku langsung bilang blak-blakan, nggak pake sindiran.
"Kamu bener banget, Fik. Nih aku juga lagi urusin lemak-lemak di tubuh aku. Lagi pula, aku tertolong banget sama adanya kamu yang bantu-bantu di rumah ini. Jadi aku bisa lebih meluangkan waktu untuk mengurus dan merawat diri sendiri. Btw thank you, ya, Fik!" Perempuan itu berkata sambil meninggalkan aku begitu saja.
Ooh, mungkin sekarang dia mau coba-coba perawatan diri? Ha ha... Ingin tertawa aku mendengarnya. Fia pikir mudah untuk mendapatkan tubuh ideal seperti punyaku ini? Oh itu tidak mudah, Ferguso! Kalo bawaan lahir udah jelek, ya mau di bawa kemanapun juga tetap jelek. Mimpi aja dia mau punya tubuh bagus. Andai saja dia punya tubuh yang emang dari sononya cantik, nggak mungkin Mas Ahmad kepincut sama aku. Atau minimal kalo dia pandai mengambil hati suami, mungkin saja Mas Ahmad masih berpikir dua kali untuk memiliki istri lain.
Tapi yang melekat pada diri Mbak Rina jauh dari kata-itu. Dia mah udah jel*k, plus nggak pandai menarik hati suami pula. Paket komplit emang.
Dulu ketika aku dan Mas Ahmad masih status pacaran, Mas Ahmad selalu mengeluh padaku soal istrinya itu. Mas Ahmad memang benar-benar muak sama Mbak Rina. Hanya saja Mbak Rina nggak sadar dan lagi-lagi dengan bod*hny masih mau bertahan.
Tersadar dari berbagai pikiran tentang perempuan itu, aku bergegas membereskan segala sesuatunya. Termasuk piring Mbak Rina tadi. Uh, sial*an.
Aku bisa merasa sedikit lega ketika semua terlihat kinclong. Untung tadi anak-anak sudah aku mandikan. Sebenarnya ini sangat melelahkan, tapi tak apa, aku bisa tunjukan pada Mas Ahmad jika Fika bisa mengurus rumah dengan baik meski harus nyambi mengurus dua anak pula.
Sekarang sudah waktunya aku membersihkan diri dan menata diri sebaik mungkin. Aku harus selalu terlihat bersih dan wangi, agar Mas Ahmad selalu betah.
Seusai mandi aku menuju lemari kosmetikku, mengambil pouch moisturizer kebanggaanku yang seharga jutaan ini.
Aku menarik nafas, skin care ini sudah hampir habis. Aku harus minta kepada Mas Ahmad untuk segera membeli yang baru. Lihat, ini telapak tanganku juga mulai terasa agak kasar, jadi aku akan mencarikan rekomendasi produk yang sedikit lebih bagus lagi.
Aku menghampiri Mas Ahmad. Eh, di depan kamar aku kembali berpapasan dengan wanita buntalan lemak ini. Wangi semerbak menembus hidung. Apa dia sudah mengenal parfum? Wiih, ada kemajuan apa ini? Apa dia mau mencoba menjadi sepertiku?