Bab 2

Suasana kembali hening. Ustaz Bashor dan Ummi Sarah saling terdiam bagai manekin. Hanya terdengar denting jarum jam di ruang tamu yang merangkak ke angka dua siang. Ustaz Bashor sangat menyesal dengan kedatangan sahabatnya itu. Lebih menyesal lagi karena dia terpaksa menceritakan kondisi Selina yang bukan anak kandungnya pada mereka. Namun nasi kadung menjadi bubur. Sesegera mungkin dia harus menceritakan nasab Selina padanya langsung.

“Abah, bagaimana ini? Ummi takut kabar ini menyebar. Bagaimana kalau Selina gak bisa dapat jodoh? Kalaupun dapat jodoh Ummi takut keluarganya merendahkan marwahnya sebagai wanita jika mereka tahu ibu kandungnya seorang … ,” lirih Ummi Sarah sembari terisak.

“Tenanglah, Ummi, jangan takut apalagi khawatir. Kita tidak sedang berada di daerah konflik di mana kita takut akan bom yang tiba-tiba akan jatuh menimpa rumah kita. Kita hanya diuji soal anak …” papar Ustaz Bashor berusaha menenangkan sang istri. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, saat ini hatinya terasa tercabik-cabik karena merasa terhina. Selina memang bukan anak kandungnya, tapi baginya Selina sudah seperti putri kesayangannya. Bahkan dia lebih menyayangi Selina ketimbang anak-anaknya dari Ummi Sarah. Jika seseorang menghina Selina maka sudah pasti menghina dirinya.

Ummi Sarah pun beranjak dari ruang tamu hendak berjalan menuju dapur. Tiba-tiba terkejut ketika melihat Selina terbujur kaku di atas lantai di ruang keluarga. Sontak dia menjerit.

“Abah, Abah!” pekik Ummi Sarah memanggil Ustaz Bashor. Dia langsung duduk dan menepuk-nepuk pipi Selina agar terbangun. Sepertinya Selina pingsan karena shocked setelah mendengar kabar buruk yang dia dengar.

“Selina bangun! Bangun, Nak!” seru Ummi Sarah tampak panik.

Ustaz Bashor langsung membetulkan sarungnya dan berlari menuju Ummi Sarah.

“Astagfirullah, Ummi! Kenapa Selina?” seru Ustaz Bashor tak kalah panik melihat Selina dalam kondisi tak sadarkan diri. Dia pun langsung mengambil minyak kolonyo dari kotak P3K berusaha membangunkan Selina. Namun Selina masih tak mau bangun.

“Kita bawa ke dokter Abah!” kata Ummi Sarah.

“Ah, iya benar, kita bawa saja ke dokter,” sahut Ustaz Bashor. Dia langsung meraih kunci mobil dan langsung mengeluarkan mobil aphard putih miliknya.

“Ada apa Ustaz?” tanya ART yang berada di halaman rumah.

“Selina pingsan,” sahut Ustaz Bashor.

“Astagfirullah,” seru ART sembari mengusap dada. Dia langsung berlari menuju rumah Ustaz Bashor dan melihat Selina. Dibantu ART, Selina dibopong ke dalam mobil yang sudah dipanaskan terlebih dahulu mesinnya.

“Ceu Sari, tunggu di rumah, ya, bilangin sama Adam, Ummi dan Abah ke klinik dulu, Selina pingsan,” titah Ummi Sarah pada Ceu Sari yang tak lain ART di rumahnya.

“Mangga, Ummi, kin diwartoskeun,” (Iya, Ummi, nanti dibilangin),” jawab Ceu Sari.

Hanya beberapa menit mereka pun sampai di klinik umum yang terletak tak jauh dari pesantren. Selina pun dibopong oleh perawat yang ada di sana. Selina langsung diperiksa oleh dokter di sana. Ustaz Bashor dan Ummi Sarah menunggu di ruang tunggu.

“Abah, apa mungkin Selina pingsan gara-gara shocked?” tanya Ummi Sarah penuh penasaran.

“Shocked? Kenapa bisa shocked?” sahut Ustaz Bashor spontan.

“Abah, gimana sih, gak ngerti juga ya. Kenapa Selina ada di ruang keluarga? Berarti dia pulang mengajar lewat belakang dan langsung mendengar percakapan kita, jadi dia shocked karena sudah tahu kalau dia bukan anak kita,” cerocos Ummi Sarah dengan suara gemetar.

“Iya, Abah tahu, mungkin emang Selina pulang lewat belakang, tapi belum tentu dia mendengar percakapan kita. Mudah-mudahan tidak …” papar Ustaz Bashor menggantung. Lalu dia seketika mengusap wajahnya dan beristigfar.

“Astagfirullah, Ummi, kamu benar. Kayaknya Selina tahu jika keluarga Aqsa datang maka dia pulang lebih awal. Bukankah adiknya Aqsa itu temannya Selina? Pasti dia sudah memberitahu Selina lebih dulu,” tukas Ustaz Bashor.

“Tuh, ‘kan Abah! Gimana sekarang? Selina pasti pingsan karena shocked, kaget. Ya Allah, gak kebayang jadi Selina. Perasaannya saat ini pasti hancur sehancurnya,”

Ummi Sarah tak mampu menahan air matanya.

“Ummi, jangan nangis! Nanti dikira orang ada apa,” nasehat Ustaz Bashor. Dia sendiri juga ikut menitikan air mata. Namun karena dia seorang lelaki maka dia harus berusaha kuat di depan sang istri.

Dokter pun keluar dan langsung disambut mereka.

“Bagaimana anak kami, dok?” tanya Ustaz Bashor.

“Selina kayaknya shocked Ustaz. Dia mengalami dehidrasi sehingga asupan oksigen ke otak berkurang. Banyak sih penyebab lainnya, dan menurut hemat saya Selina kayak baru dapat kabar buruk. Namun soal kabar buruk itu dia tidak cerita. Dia baru saja sadar,” papar dokter Areeta, dokter yang sudah berkarib lama dengan keluarga Ustaz Bashor.

“Alhamdulillah, sudah sadar …” ucap Ustaz Bashor dan Ummi Sarah serempak.

Ustaz Bashor dan Ummi Sarah pun saling pandang. Mereka masuk ke dalam ruangan untuk melihat Selina.

“Selin, bagaimana kamu sekarang? Udah baikan?,” tanya Ummi Sarah dengan lembut. Ustaz Bashor bahkan tak mampu berkata-kata dan menatap anaknya yang yang menundukan wajahnya.

“Selin …” ucap Ummi Sarah lagi sembari menyentuh tangan Selina. Namun Selina langsung menepis tangan Umminya. Sebelumnya tak pernah dia bersikap kasar itu pada sang ibu. Namun hari ini Selina si gadis periang tampak murung. Dia pun lebih memilih diam. Bahkan ketika sang kakak Adam datang pun menjenguk dia masih diam.

“Dek, bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Adam yang baru masuk ke ruangan di mana Selina berada. Selina tampak pucat dengan kedua bola matanya yang sembab. Namun bibirnya seolah diberi perekat, sulit untuk berkata-kata. Sontak Adam pun menyentuh kening Selina tanpa canggung.

“Kamu gak demam, Dek,” cicit Adam Husain. Dia pun menoleh pada kedua orangtuanya yang tengah duduk dan menatapnya aneh.

“Biarkan Selina istirahat dulu, ayo kita keluar,” ucap Ummi Sarah pada putranya. Mereka pun semua keluar ruangan dan membiarkan Selina waktu sendiri. Mereka pun duduk di bangku depan ruangan itu.

“Ummi, Abah, Selina sakit apa?” tanya Adam dengan raut bingung.

“Adam, Ummi tidak tahu sakit apa yang diderita Selina. Hanya saja tadi Ummi lihat Selina pingsan di ruang keluarga,” sahut Ummi Sarah.

“Kata dr Areeta sakit apa?” telisik Adam.

“Selina pingsan karena dehidrasi dan shocked,” sahut Ummi Sarah. Dia mendelik pada Ustaz Bashor, memberi kode agar suaminya segera menceritakan apa yang terjadi.

“Oh, syukurlah kalau tidak apa-apa, cuma dehidrasi mah. Tapi, kenapa bisa shocked?” tanya lagi Adam bingung.

“Ini baru dugaan Ummi, Adam, sepertinya adikmu sudah tahu kalau dia bukan anak kandung Ummi dan Abah …”

“Ap-pa?” sahut Adam kaget. “Apa benar itu Abah?”

Ustaz Bashor hanya mengangguk pasrah dan membuang nafas kasar.

“Kalian sudah cerita?” desak Adam.

“Belum Adam, justru karena belum cerita makanya dia shocked. Dia mendengar percakapan kami dengan keluarga Aqsa …” jelas Ummi Sarah dengan mata yang kembali berembun.

“Maksudnya? Aku gak ngerti Ummi …”

Adam menggenggam tangan ibunya.

“Sepertinya Selina diam-diam pulang dari sekolah lewat pintu belakang rumah ketika acara taaruf berlangsung. Soalnya ketika Ummi masuk ke ruang keluarga dia udah ada di sana dalam kondisi pingsan,” jelas Ummi Sarah.

“Astagfirullah, kok Ummi, Abah jadi kayak gini? Aku sudah bilang seharusnya Abah dan Ummi ceritakan yang sebenarnya pada Selina lebih awal. Bukan pas ada yang mau taaruf. Jadi begini ...”

Adam mendengus kesal.

“Abah sangat menyesal, Adam. Abah hanya tak mau kehilangan Selina …” tukas Ustaz Bashor dengan suara yang berat. Selama ini dia bisa kuat dalam menghadapi ujian apapun, tapi menghadapi kenyataan tentang Selina membuatnya rapuh. Baginya Selina istimewa.

“Bagaimana hasil taaruf?” tanya Adam kemudian.

Ummi Sarah menepuk bahu suaminya.

“Batal,” kata Ummi Sarah. “Mereka membatalkan proses taaruf,”

“Apa? Batal? Tapi, Aqsa sudah menyukai Selina sejak lama, masa iya membatalkan taaruf? Selina juga menyukai dirinya …” sergah Adam bernada tinggi.

“Adam, Ummi kira mereka keluarga yang bijak, tapi ternyata tidak,” singkat Ummi Sarah.

“Oh, ya, mereka tidak menerima Selina karena Selina bukan anak kandung kalian begitu?” seru Adam bernada geram. Dia memukul tembok dengan keras, merasa marah dengan keluarga Aqsa. Adam hanya tahu Selina bukan anak Abah dan Ummi-nya. Dia tidak tahu kebenaran soal ibu kandung Selina yang seorang wanita penghibur dan ayahnya tak jelas siapa. Adam merasa Aqsa telah mempermainkan perasaan adik tercintanya Selina.

“Aku kecewa sekali Abah! Aqsa terus meminta Selina untuknya, sekarang dia batalkan begitu saja taaruf? Aqsa sudah melukai hati Selina,”

Adam berdiri dan berjalan menuju tempat parkiran.

“Mau kemana Adam?” pekik Ummi Sarah.

“Aku akan temui Aqsa …” sahut Adam meninggalkan mereka begitu saja. Karakter Adam yang keras kepala sulit dibujuk, dia sangat kesal dan marah saat adik kesayangannya ada yang menyakiti.

“Adam, tunggu!”

Ummi Sarah mengejar putranya ke tempat parkiran tapi karena Adam berjalan sangat cepat, dia keburu pergi dengan menunggangi motor sportnya.

Bersambung,

Bab 3

“Aduh, Abah, Adam anaknya nekad, nanti malah nambah masalah baru. Masalah Selina saja belum kelar …” keluh Ummi Sarah.

“Biarkan saja Ummi! Jangan larang Adam! Abah percaya pada Adam, dia hanya ingin membela kehormatan keluarga, adiknya ...” ucap Ustaz Bashor.

“Lah, kok Abah malah ngijinin sih? Apa Abah tidak lihat keluarga Aqsa? Ibunya itu mulutnya pedes kayak mercon, belum lagi Mbak Gendis yang suka ngomporin. Yang ada mereka malah makin buat Adam kesal,” cerocos Ummi Sarah.

“Tidak akan Ummi, Adam hanya akan menemui Aqsa bukan ibu atau ayahnya,” sahut Ustaz Bashor.

“Mudah-mudahan … tapi Abah, nanti kedatangan Adam malah dikira ngemis cinta lagi?”

“Nggak begitu Ummi, Adam mungkin hanya ingin meminta klarifikasi dari Aqsa. Kita belum sempat menjelaskan dia keburu pergi. Biarkan saja nanti dia juga dapat jawaban,” papar Ustaz Bashor. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan soal kemarahan Adam pada Aqsa. Dia hanya mengkhawatirkan Selina. Dalam benaknya mungkin saat ini Selina membencinya karena menutupi sebuah kenyataan pahit tentang dirinya. Andaikata waktu diulur lebih awal mungkin lain cerita.

“Abah, yang Ummi khawatirkan nanti dia dapat kabar yang enggak-enggak tentang ibunya Selina dari keluarga Aqsa. Abah tadi lihat, Mbak Ayu sampai marah begitu pas tahu jika ibunya Selina …”

“Syut! Udah jangan bahas aib orang. Tidak apa-apa Ummi. Adam harus tahu juga dan belajar menerima kenyataan ini juga sama seperti Selina. Adam sangat menyayangi Selina dan mungkin dia akan makin menjaga adiknya setelah mengetahui ini semua,”

“Iya Abah,”

Tak selang lama Selina pun bisa pulang karena dokter hanya menyarankan istirahat di rumah saja. Selina tidak sakit, hanya dehidrasi dan shocked saja. Selama perjalanan pun Selina tetap memilih diam. Baik Ustaz Bashor ataupun Ummi Sarah memaklumi. Mereka juga tidak menanyakan apa-apa pada Selina. Mereka sudah sangat yakin jika Selina memang telah mengetahui rahasia pahit bertahun-tahun itu.

Turun dari mobil Selina langsung masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam. Ustaz Bashor merasa mencelos melihat sikap putri kesayangannya. Biasanya Selina saat pulang dan berjumpa dengannya dia akan langsung menghambur memeluknya dan bercerita ini dan itu karena Selina memang anak yang komunikatif. Namun hari ini, hanya beberapa jam saja Selina mendiamkannya terasa sakit hatinya, lebih sakit daripada Ummi Sarah yang mendiamkannya.

“Ummi, Abah ke masjid dulu mau shalat ashar …” ijin Ustaz Bashor langsung meraih peci dan sarung yang tergantung di balik pintu kamar. Dia melirik ke kamar Selina sebentar sebelum pergi.

Ummi Sarah pun melaksanakan shalat ashar di mushola dalam rumah. Usai shalat dia kembali mendekati kamar Selina. Dia penasaran apa yang dilakukan Selina di dalam kamar. Tak terdengar suara apapun di kamar. Namun hal itu makin membuat Ummi Sarah semakin khawatir.

“Ya Allah, kuatkanlah anakku,” doa Ummi Sarah.

Ummi Sarah duduk di perpustakaan mini milik Ustaz Bashor berada, karena ruangan itu yang paling dekat dengan kamar Selina. Dia menunggu Selina sampai dia keluar kamar.

Sementara itu di dalam kamar Selina terbaring lemah dengan air mata yang terus meruah. Hari ini adalah hari patah hati baginya. Patah hati pertama ialah saat dia tahu kalau dia bukan anak Abah dan Ummi-nya. Patah hati kedua, lebih menyakitkan karena dia terlahir dari rahim seorang wanita kotor dengan ayah biologisnya yang tak jelas. Pun, patah hati ke tiga adalah pemuda yang dia cintai membatalkan proses taaruf untuknya karena garis keturunannya yang tercela.

Hiks … hiks … hiks …

Selina menangis dengan suara yang tertahan. Langit seolah runtuh hari itu.

Lalu Selina mencoba mencari foto album keluarga. Dia baru sadar jika wajahnya sama sekali tidak mirip Ustaz Bashor dan Ummi Sarah ataupun kakaknya Adam Husein dan Hawa Fatimah. Mereka berkulit sawo matang dan eksotis sedangkan Selina berkulit sangat putih seputih susu.

“Kenapa aku baru sadar ya Allah. Wajahku memang tak mirip sama sekali dengan Abah dan Ummi. Aa Adam dan Teh Hawa mirip Abah dan Ummi … hiks … hiks …” lirih Selina.

Selina pun mencuci wajahnya dan mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat ashar. Meskipun saat ini hatinya begitu kalut tapi dia masih mengingat Allah. Dia berdoa agar hatinya dilapangkan meskipun sakit. Tentu saja sekarang akan terasa berbeda saat mengetahui kenyataan pahit tersebut. Dia yang begitu percaya diri sebagai anak kesayangan Ustaz Bashor, putri cantik didikan pesantren seketika rubuh menjadi insecure, merasa terlahir hina sebagai anak haram, anak hasil hubungan zina bahkan lebih parah anak seorang wanita malam.

***

Di dalam mobil,

“Ya Allah, makasih banyak, untunglah Allah memperlihatkan ini semua sebelum terlambat,” ucap Ayu mengusap dadanya. Dia merasa lega acara proses taaruf batal.

“Mbak, aku setuju, tuh ‘kan ada bagusnya sikap kayak aku ya reaksioner, kalau enggak, semua bisa terlambat, nanti kasihan Aqsa dapat istri seperti itu,” sahut Gendis sembari mencibir.

Aqsa tak mau ambil pusing mendengar percakapan ibu dan tantenya, dia terus menyetir mobil. Mereka sudah memasuki area Pasar Padalarang.

“Gendis kok bisa ngeh gitu sih?” telisik Ayu pada adiknya.

“Sebetulnya aku curiga Mbak Yu saat pertama kali lihat Selina. Waktu Aqsa menunjukan foto Selina di instagram, aku kaget Mbak, kaget banget. Selina memang sangat cantik seperti seorang selebgram. Tapi, wajahnya itu mirip banget ibunya,”

Gendis memperlihatkan kembali foto di FB antara Selina dan Dewi Rahma ibunya tempo dulu.

“Coba, perhatikan baik-baik, Mbak,” ucap Gendis.

“Iya, benar sekali Gendis, mirip banget, nah ini apalagi pose ini, matanya, alisnya, kulitnya, ya ampun kok gak nyadar,”

“Iya, kan Selina pake hijab jadi gak kelihatan banget mirip selewat mah. Cuman feeling gak enak, kamu tahu kan kisah Maira?”

“Udah, jangan dibahas lagi, kasihan Aqsa ...”

Ayu menyenggol lengan adiknya.

“Kenapa jadi begini? Sebetulnya Selina gadis yang sempurna, wajah cantik, akhlak baik dan cerdas. Allah mengujinya, dia terlahir dari wanita kotor, astagfirullah …” tukas Rakha.

“Aduh gak kebayang itu anak hasil hubungan belum halal Papa, nanti keluarga kita malu pas walimah, wali nikahnya kok bukan bapaknya katanya malah wali hakim,” cerocos Ayu mirip mercon.

“Sabar ya Aqsa, kamu pasti bisa dapat gadis yang lebih baik dari Selina,” kata Rakha pada Aqsa.

Cit …

Suara ban mobil berdecit terdengar. Aqsa mendadak mengerem mobil. Dia kesal mendengar perkataan ayahnya. Ayahnya saat ini tampak tidak bijak. Atau mungkin lebih tepat semua orang saat ini tidak bijak dan mendadak berpikir sempit. Dia tidak tahu jika Aqsa hanya mencintai Selina dan tak ada satupun gadis lain yang mencuri atensinya selain dirinya.

“Hei, Aqsa, kok kamu ngerem ngedadak sih gimana? Bahaya tau!” sewot Gendis.

“Yang bahaya itu mulut Tante Gendis, kayak ular,” batin Aqsa.

“Ada apa Aqsa?” tanya Ayu.

“Iya, kamu kenapa? Kepikiran terus Selina? Wajar, Papa juga pernah merasakan patah hati sebelum ketemu Mama,” celetuk Rakha, membuat Ayu menatapnya tajam. Tanpa menghiraukan mereka Aqsa kembali melajukan mobilnya.

Satu jam kemudian mereka sudah sampai di daerah Cisarua-Bandung. Setelah memarkirkan mobil Aqsa langsung masuk ke kamarnya seperti halnya Selina. Dia mengunci kamar dari dalam, dia ingin sendirian saja. Dia merasakan patah hati hari ini karena restu dari kedua orangtuanya. Harapan untuk menikah dengan Selina pupus sudah.

“Aqsa, buka pintunya ..” ucap Ayu pada anaknya.

Aqsa tidak menyahut. Dia sangat kesal pada kedua orang tuanya yang tidak bijak dan sombong, merasa diri lebih baik segala-galanya sehingga merendahkan derajat Selina, gadis yang dia cintai hanya karena nasab.

“Selina, sabar ya, nanti aku akan datang lagi bukan buat taaruf lagi tapi khitbah kamu …” gumam Aqsa dengan batin yang perih. “Semoga saja aku janji, kamu adalah jodohku …”

“Aqsa buka pintunya!” pekik Ayu dari luar kamar.

Aqsa bertahan untuk memilih diam. Cara dia mengekspresikan rasa kesal ialah dengan memilih diam.

“Aqsa! Buka pintunya! KAMU jangan kayak anak kecil sembunyi, lari dari masalah,” tukas Ayu lagi.

Aqsa meraih foto Selina hasil jepretan dia tanpa ijin. Dia menyentuh foto itu seolah foto itu adalah jelmaan Selina sesungguhnya. Lalu dia berbicara.

“Selin, mudah-mudahan kita tetap berjodoh. Yakinlah, meskipun kita jauh tapi ketika Allah menghendaki, kita bisa dekat dan berjodoh. Kita hanya butuh sabar saja. Ini soal waktu, mudah-mudah Allah membukakan pintu hati Mama dan Papa agar merestui kita.

Mudah-mudahan kamu ingat kisah cinta Ali dan Fatimah dalam diam. Mereka sama-sama jatuh cinta tapi mereka tidak pernah meminta satu sama lain secara langsung apalagi mengumbar perasaan mereka. Bahkan sampai beberapa kali sahabat rasulullah datang hendak mengkhitbah Fatimah. Namun semua ditolak dan hanya Ali yang diterima. Karena Ali dan Fatimah berdoa dan meminta jodoh mereka langsung kepada Allah bukan pada manusia,”

Di depan kamar Aqsa, Rakha menghampiri sang istri yang teriak-teriak.

“Sudahlah Ma, kasihan Aqsa, saat ini dia pasti kecewa karena kita tidak merestui hubungan dia dengan Selina. Biarkan dia sendiri dulu. Um, coba Selina anak orang biasa aja ya meski bukan anak Ustaz atau keluarga agamis minimal keluarga baik-baik …” gumam Rakha.

“Papa suka berandai-andai! Cinta itu harus logis Papa …” sahut Ayu kesal.

“Mama kayak gak ngerasaain pernah jatuh cinta aja nih,”

“Ya pernah lah, masa enggak,” desis Ayu.

“Tuh ‘kan pernah, berarti pernah dong merasakan patah hati? Orang yang jatuh hati pasti pernah merasakan patah hati …”

“Tidak, Mama tidak pernah patah hati!” elak Ayu.

“Masa? Hebat banget, berarti Mama gak baperan ya?” goda Rakha dengan menjawil dagu istrinya.

“Terserah Papa …”

“Atau jangan-jangan Mama gak pernah patah hati karena cuman jatuh hati aja sama Papa? Kita kan gak pacaran, langsung nikah setelah taaruf satu bulan,”

“Pa .. Pa …” sahut Ayu dengan wajah yang memerah. Sejenak mereka lupa apa yang dirasakan oleh putranya yang sedang patah hati.

“Bu, ada tamu …” ucap ART tiba-tiba menghampiri mereka.

“Tamu? Siapa Bi?” tanya Ayu penasaran.

“Adam Husein Bu, katanya,” sahut ART.

“Mau apa anak itu datang kemari?” tanya Rakha.

“Pak, dia mau bertemu dengan Mas Aqsa …” tukas ART.

“Suruh masuk aja Bi, bawakan air minum juga,” titah Rakha pada ART. Meskipun dia merasa kecewa pada keluarga Ustaz Bashor tapi dia masih memegang adab dalam menyambut tamu.

“Aqsa, Adam datang! Dia mau bicara denganmu …” pekik Rakha.

“Ustaz Bashor gimana sih pake nyuruh anaknya buat maksa taaruf? Udah tahu batal,” ujar Ayu pada Rakha.

“Mama, jangan begitu, biarin aja Adam datang, mungkin dia ingin bicara berdua saja dengan Aqsa. Aqsa kan masih temannya,” kata Rakha dengan tenang.

Ayu pun turun dari lantai dua kamar Aqsa berada menuju ruang tamu sembari menunggu Aqsa keluar kamar.

“Mau apa datang kemari?” tanya Ayu sinis pada Adam Husein.

“Aku mau bertemu dengan Aqsa,” sahut Adam dengan sopan tak seperti tadi, emosinya meluap-luap. Dia juga cukup menghormati orang yang lebih tua darinya.

“Dengar Adam, keputusan kami tetaplah sama. Kita tidak bisa melanjutkan proses taaruf. Um, mungkin lebih tepatnya tidak akan ada khitbah. Pulanglah dan katakan pada bapakmu Ustaz Bashor!” titah Ayu bernada arogan.

“Maaf, saya datang kemari bukan ingin bertemu dengan Anda atau berbincang dengan Anda Tante … saya hanya ingin bicara empat mata dengan Aqsa…” sahut Adam Husein bernada sedikit ketus. Dia mulai terpancing dengan ucapan Ayu yang tajam.

“Bi, panggil Aqsa lagi …” ucap Ayu sembari melengos meninggalkan Adam.

“Adam, bagaimana kabarmu?” seru Rakha yang baru turun menyusul Ayu.

“Baik, Om,” jawab Adam singkat.

Rakha lalu duduk berhadapan dengannya. Tak selang lama Aqsa pun turun. Aqsa mengajak Adam berbincang di halaman rumah.

“Bagaimana kabarmu Adam?” sapa Aqsa pada Adam yang baru bertemu lagi setelah sekian bulan. Mereka berteman baik sejak ikut tausiyah Habib Rohman.

“Stop basa basi! To the point …” sahut Adam.

“Baiklah aku tau maksud kedatanganmu kemari. Tentang Selina …” tukas Aqsa.

“Aqsa, sesungguhnya aku sangat kecewa padamu, kamu telah melukai hati adik kesayanganku Selina. Apa maumu? Kenapa lakukan ini pada Selina? Kamu benar-benar mengecewakan,” kata Adam bernada ketus. Seketika dia mendengus kesal.

“Tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku sangat ingin menikah dengan Selina. Hanya saja kedua orangtuaku belum siap menerima kenyataan tentang Selina, Dam. Mereka butuh waktu,” papar Aqsa bernada sedih. Mendengarkan pernyataan Aqsa secara langsung membuat Adam iba. Ternyata Aqsa memang berniat menikahi Selina hanya saja kedua orang tuanya kaget saat tahu jika Selina bukan anak kandung Ustaz Bashor dan Ummi Sarah.

“Maaf, aku terbawa emosi. Aku hanya kaget aja mendengar kamu membatalkan proses taaruf. Aku hanya berpikir jika kedua orang tuamu akan bersikap bijak. Mereka akan menerima Selina dengan baik.

Toh, banyak kok anak yatim piatu yang bernasib sama seperti Selina. Namun mereka diterima menjadi menantu mereka. Kamu juga tahu, banyak sekarang pesantren khusus Darul Quran untuk anak yatim piatu. Para pemuda juga banyak mencari calon istri dari sana karena mereka percaya santriawati yang mondok bisa menjadi istri shalehah nantinya,” jelas Adam.

Aqsa hanya menautkan kedua alisnya. Tak semudah apa yang dikatakan oleh Adam. Apa Adam jangan-jangan tidak mengetahui siapa orangtua kandung Selina? Batin Aqsa.

“Adam, aku butuh waktu. Maaf ya. Tapi aku janji akan segera memberi pengertian kepada kedua orangtuaku soal hal ini. Aku janji,” kata Aqsa memegang tangan Adam.

“Baiklah, aku pegang janjimu,” sahut Adam.

“Please, jangan terima taaruf pemuda lain ya … tolong! Aku sangat mencintai Selina …” tutur Aqsa penuh pengharapan.

“Gimana nanti …” jawab Adam menggoda Aqsa.

“Please, jangan kayak gitu, kasih aku waktu,”

“Berapa lama? Seminggu? Sebulan? Setahun?”

“Aku belum tahu Adam. Tapi aku janji secepatnya aku akan khitbah langsung kalau Mama dan Papaku setuju. Bahkan aku sudah menyiapkan mahar seperangkat perhiasan berlian dan membangun rumah mewah untuk Selina. Apa kamu mau aku membawa perhiasan dan sertifikat rumah itu ke sini? Aku menaruhnya di lemari di kamarku,”

“Tak usah,” kata Adam menepuk bahu Aqsa. Aqsa memang serius ingin meminang Selina.

“Baiklah, apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku serius mencintai Selina?” katanya lagi memelas.

“Gak perlu Aqsa. Kamu tak perlu melakukan apapun. Kamu hanya minta sama Allah aja biar kedua orang tuamu dibukakan hatinya, mau menerima Selina sebagai menantunya …” ucap Adam. “Aku pulang, sampaikan salamku pada orangtuamu,”

Aqsa mengantar Adam hingga ke depan garasi. Saat yang sama Shiza datang dengan terburu-buru hingga menabrak apa saja yang berada di hadapannya.

“Maaf, Mas Aqsa, gak sengaja …” ucap Shiza tanpa melihat siapa orang yang ditabraknya.

“Shiza, kamu rabun?” pekik Aqsa pada adik semata wayangnya.

Shiza pun menoleh ke arah sumber suara.

“Lah, Mas Aqsa ada di situ … jadi siapa yang aku tabrak?” batin Shiza. Barulah Shiza sadar yang dia tabrak ialah Adam.

“Eh, Mas Adam, maaf …” kata Shiza menatap seorang pemuda berwajah eksotis dan berahang tegas yang tak lain Mohammad Adam Husain.

Adam tak menyahut karena sikapnya memang cukup dingin mungkin bukan sedingin chiller lagi tapi sedingin freezer. Karena merasa malu Shiza pun buru-buru masuk ke dalam rumah.

“Aduh, malu banget …” gumam Shiza di balik pintu rumah. Namun beberapa detik kemudian dia tersenyum mengingat momen itu. “Ganteng banget, Mas Adam,” batinnya.

Adam pun pulang dengan perasaan lega. Setidaknya dia membawa kabar baik yang mungkin akan mengurangi kesedihan sang adik. Harapan menikah dengan Aqsa itu masih ada. Semoga saja.

Bersambung,

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED