"Jam segini kamu belum bangun, Sayang?" Seorang lelaki dewasa yang tampan masuk ke sebuah kamar bernuansa biru muda. Lelaki itu duduk di samping pembaringan sembari berusaha membangunkan putrinya yang masih nyaman dalam tidurnya meskipun sinar matahari telah menerobos masuk melalui sela-sela jendela kaca. "Sayang, ayo bangun! Sudah pagi. Bukankah hari ini kamu ada ujian semester?" kata lelaki dewasa itu lagi. Namun, gadis yang dibangunkan tidak ada pergerakan sama sekali.
"Ugh!" leguh Aliya sedikit bergerak.
"Aliya ayo bangun! Kalau tidak bangun sekarang, ayah akan menarikmu ke kamar mandi dan memandikanmu dengan air dingin." Revandra mengancam Aliya karena dia tahu jelas bahwa Aliya begitu anti mandi dengan air dingin di pagi hari.
"Stop, Ayah! Pleae don't threaten me." Aliya langsung bangun sambil mengucak mata setelah Revandra mengancam.
"Sayang, ayah tidak ingin kamu gagal dalam ujian semester ini. Cepatlah mandi dan berangkat ke kampus. Pak Aris akan mengantarmu."
"Ayah ...!" Gadis itu melototi Revandra sambil meletakkan tangan pada wajah tampan Revandra, dia heran kenanpa dia harus diantar oleh sopir kali ini. Bukankah biasaya Revandra lah yang mengantarnya.
"Sudah, jangan banyak berpikir. Hari ini akan ada tamu yang datang ke rumah, jadi aku tidak bisa mengantarmu," jelas Revandra pada Aliya seakan-akan dia mengerti dari tatapan gadis itu.
Dengan wajah kecut dan masam Aliya melangkah masuk ke kamar mandi. Jujur saja, di dalam hati Aliya begitu kesal terhadap Revandra. Sebab, demi seorang tamu Revandra bahkan tidak mengantarnya ke universitas, padahal hari ini adalah ujian semester tingkat pertama untuk Cleah.
"Dasar! Dia lebih memilih menemui orang lain dari pada mengantar putri semata wayang untuk kuliah!" Aliya menggerutu di dalam kamar mandi. "Tamu seperti apa yang akan datang menemui ayah?"
Revandra adalah seorang lelaki dewasa yang masih lajang, bukan berarti belum menikah. Usia Revandra kini menginjak tiga puluh lima tahun dan dia telah sukses menjalankan bisnisnya dalam berbagai bidang. Lelaki itu memiliki putri yang bernama Aliya, berusia sembilan belas tahun. Revandra begitu menyayangi Aliya. Dia bahkan memanjakan gadis itu dengan cara apapun yang diminta akan dikabulkan selama itu masih normal dan dibatas kemampua Revandra sendiri.
Tapu, kenyataan yang sesungguhnya Aliya bukanlah putri kandung Revandra. Melainkan anak dari seorang wanita yang dia nikahi lima belas tahun yang lalu dengan suatu alasan. Namun, setelah pernikahannya, wanita itu meninggal dunia seminggu setelah pernikahan. Sejak saat itulah Revandara merawat dan menjaga Aliya layaknya putri kandung sendiri dan begitu menyayangi gadis kecil itu.
Sebentar kemudian Aliya telah selesai dengan aktivitas memperisapkan diri untuk ke universitas. Gadis itu berlari menuruni anak tangga dan mendapati Revandra sedang duduk di meja makan, ditemani secangkir kopi hitam yang berbau harum. Tidak lupa di samping cangkir kopi itu ada sebuah laptop untuk memeriksa pekerjaannya.
"Good morning, Ded," sapa Aliya sambil mencium kedua pipi ayahnya.
"Morning, Honey," sahut Revandra membalas kecupan putrinya seperti biasa.
Lalu Revandra menarik kursi untuk Aliya duduk sembari menunggu pelayan menyiapkan makanan untuk mereka. Tidak berselang waktu lama pelayan pun membawakan makanan untuk mereka.
Aliya sejak tadi tidak fokus pada makanan yang ada di hadapannya, dia terus saja memandangi wajah tampan seorang lelaki yang berstatus ayah tirinya itu. Revandra yang melihat wajah Aliya penuh dengan pertanyaan kembali menatap gadis itu.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? apa aku sudah melakukan suatu kesalahan kepadamu, Gadis kecil?" tanya Revandra menyelidik.
"Ayah sudah berubah!" jawab Aliya ketus.
"Maksudmu apa, Aliya?"
"Ayah lebih memilih menemui orang lain dari pada mengantar Aliya ke universitas. Aliya tetap menjawab dengan nada ketus. Meski Revandra mencoba untuk menjelaskan, gadis itu tidak menerima penjelasan apapun itu. "Aliya tidak mau tahu, kalau ayah tidak mengantar Aliya ke universutas, Aliya tidak ingin berbicara lagi kepadamu, Ayah."
Melihat putri yang begitu dia sayangi merajuk, Revandra menjadi tidak tega dan kali ini dia benar-benar harus membatalkan janji untuk bertemu dengan tamu tersebut. Dia menghela napas dalam-dalam kemudian menghembuskan secara perlahan.
"Baiklah, Ayah akan mengantarmu ke universits." Demi putrinya, Revndra terpaksa mengalah saja.
"Really?" tanya Aliya, wajahnya langsung berubah jadi gembira.
"Ya, maka lanjutkan makanmu," kata Revandara. Lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo! Selamat pagi, Emma," sapa Revandra setelah panggilan tersambung.
"Pagi ...," jawab seseorang di ujung telepon.
"Hari ini kita tidak bisa bertemu. Sebab, aku ada sesuatu yang mendesak," jelas Revandra sembari mengakhiri penggilan tanpa pamit kepada yang dihubunginya.
"Emma? Siapa Emma? Ah, mungkin itu salah satu rekan bisnis Ayah," pikir Aliya dalam benaknya. Aliya juga sedikit kaget mendengar nama Emma disebut oleh ayahnya.
"Jam berapa kau pulang nanti?" Pertanyaan Revandra yang tiba-tiba membuat Aliya terkejut dari lamunannya dan sendok yang ada di tangan Aliya terpental mengenai baju Revandra. Dengan tergesa-gesa, gadis itu beranjak dari tempat duduknya, mengambil tisu, baru membersihkan kemeja yang dipakai Revandra.
"I am sorry, Ded. Aliya tidak sengaja," ucapnya sambil masih sibuk mebersihkan kemeja Revandra. Lalu Aliya mendongak ingin mencari tahu apakah ayahnya marah atau tidak. Bibir mereka hampir saja bersentuhan karena sewaktu mendongak wajah Aliya begitu dekat dengan wajah Revandra. "Ayah, maaf."
"Sudahlah, kamu juga tidak sengaja kan?" Revandra tersenyu. Aliya merangkul leher lelaki dewasa itu.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Ayah memang yang terbaik." Aliya melayangkan kecupan di pipi kiri dan kanan Revandra, lelaki yang dia anggap sebagai ayah.
Setelah selesai makan, Revandra mengantarkan Aliya ke universitas. Dan sebelum turun dari mobil Aliya meminta sesuatu kepada ayahya.
"Ayah, Aliya ingin sekali belajar menari. Boleh?" Aliya menatap Revandra penuh harap dan begitu manja.
"Oo ... boleh. Nanti ayah akan mencarikan tempat les menri untukmu."
"Thank you, Ded."
"Sayang ... jam berapa kamu pulang?"
"Mungkin sekitar jam satu, Ayah. Nanti Aliya telepon supir untuk menjemput."
"Okey, kamu harus langsung pulang dan jangan berkeliaran ke mana-mana." Revandra memperingatkan.
"Baik, Ayah." Aliya berlari sambil melambaikan tangan pada Revandra setelah turun dari mobil.
Di sebuah tempat duduk berbatu, Aliya duduk. Dia melepaskan tasnya dan menaruh di meja berbatu pula yang memang sengaja disediakan untuk para pelajar ketika beristirahat sambil mengerjakan tugas atau apapun itu.
"Aliya ...," sapa Aren, teman seuniversitas Aliya. "Ayahmu tampan ya, Aliya. Bisa kenalkan padaku? Meskipun usia kita dengan ayahmu terpaut enam belas tahun ayahmu tetap tampan ya. Aku rela kalau dia mau jadi sugar daddy buat aku," Aren berceletuk. Aren adalah seorang gadis yang saat ini tengah dipelihara oleh seorang sugar deddy demi membantu kehidupan sehari-harinya yang memang dia hanyalah seorang anak yatim piatu.
"Ren, sugar daddy itu apa?" tanya Aliya dengan polosnya, dia tidak mengerti apa maksud dari kata sugar daddy dan Aren hanya bida menepuk jidat. "oh, Aliya. Kamu sungguh gadis polos. Sugar daddy pun kamu tidak tahu," batin Aren.
Aren tidak ingin menjelaskan apa itu sugar daddy pada Aliya. Gadis itu berpikir tidak ada gunanya menjelaskan hal itu pada Aliya. Terlebih Aliya adalah gadis yang begitu polos dan tidak mengerti apa-apa tentang hal-hal yang berbau seperti itu. Sementra itu, Aliya yang tidak mengerti apa itu sugar daddy membuat rasa ingin tahu berkecamuk di dalam pikirannya. "Sudahlah, nanti aku tanyakan saja pada ayah," pikirnya.
Bersambung
Malam begitu indah. Bintang-bintang gemerlap di langit, cahaya sinar bulan yang terang menembus di sela-sela jendela kamar bernuansa biru mudayang dipenuhi buku-buku pelajaran sekolah serta beberapa gambar yang tertata rapi di meja belajar, ada juga yang tergantung di dinding kamar. Revandra masuk ke kamar putrinya untuk mengecek keadaan gadis itu seperti biasa. Dia ingin memastikan kalau putri kesayangannya tersebut baik-baik saja. Lelaki dewasa itu berjalan masuk lalu mengambil selimut yang jatuh berserakan di lantai akibat Aliya yang tidurnya memang terkadang sedikit urakan. Dia hendak memakaian selimut pada gadis yang dianggap anaknya yang saat ini tengah tertidur hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Sebenarnya Revandra sudah biasa akan hal itu, maka dia langsung saja memakaikan selimut ke tubuh gadis itu, kemudian melangkah ke arah meja belajar Aliya. Revandra memandangi sebuah poto yang terlihat dia sedang bersama seorang wanita mengenakan baju pengantin sederhana dan seorang anak kecil berusia empat tahun. Revandra tersenyum melihat poto itu lalu berbalik hendak meninggalkan kamar dengan nuansa biru malam itu. Namun, ketika berbalik, Revandra justru mendapati putrinya sudah tidak memakai selimut lagi. Bahkan kali ini sudah lain. Dalam tidur Aliya melepas bra berwarna hitam dan melemparkan ke sembarang tempat. Revandra mendekatinya dan mencoba memakaikan kembali selimut kepada gadis yang sudah setengah polos itu, tetapi hal yang tidak terduga terjadi. Revabdra tidak tidak sengaja menyentuh benda kenyal yang membusung milik gadis itu. Untuk sesaat Revandra menatap gadis itu dan Entah setan apa yang merasukinya, dia tanpa sadar meremas benda lunak yang membusung itu.
"Ugh!" leguh Aliya setelah Revandara meremas benda lunak miliknya. Beruntung gadis itu tidak terbangun, cepat-cepat Revandra menarik tangannya.
"Shit! Dasar kau bajingan, Revan. Dia anakmu yang kau besarkan dengan tanganmu sendiri," sumpah serapah lelaki itu terhadap dirinya sendiri.
Revandra yang saat ini naluri lelakinya tengah bergejolak hanya karena meremas benda lunak gadis yang dianggap putrinya itu, dia berusaha tetap tenang dengan harapan dia tidak akan membangunkan gadis yang tertidur pulas dengan posisi terlentang itu. Revanda kembali melihat benda yang membusung itu sambil menelan salivanya. Dia tidak menyangka kalau putrinya sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang menggoda.
Tidak dapat Revandra pungkiri kalau sesuatu yang ada di balik celananya kini membengkak, meronta ingin melepaskan sesuatu dari dalam. Maka dia dengan hasrat yang tidak bisa dia tahan keluar dari kamar bernuansa biru malam itu setelah menutupi tubuh indah Aliya dengan selimut.
Baru kemudian Revandra meninggalkan rumah dan menuju ke sebuah hotel yang sering didatanginya.
***
Di sebuah hotel mewah, di dalam kamar seorang wanita yang sedang menikmati sentuhan-sentuhan liar yang berada di bawah tubuh kekar seorang lelaki perkasa. Lelaki yang dengan jantanya menghentakan tubuhnya dengan liar.
"Ahh, Revan. Kau benar-benar hebat dalam hal ini," ucap seorang perempuan cantik di sela desahannya yang sedang menjadi tempat pelampiasan hasrat Revandra. Lelaki dewasa itu dengan liarnya menghujam miliknya ke dalam diri seorang perempuan bayaran hanya karena melihat dan sedikit menyentuh milik gadis yang dianggap putrinya. Membuat gejolak nafsunya terbangun saat itu.
Tidak dapat dipungkiri, memang selama ini Revandra sering kali mencari wanita di luar untuk pelampiasan saja di saat dia begitu ingin melakukannya.
Karena kesibukanya dalam pekerjaan dan mengurus Aliya, Revandra tidak tertarik sama sekali untuk menikah lagi. Jika sesuatu dalam dirinya timbul, dia hanya memanggil salah satu artis yang kini sedang bernaung di salah satu perusahaannya atau wanita-wanita karir lain yang juga kesepian.
Setelah selesai melampiaskan hasratnya, Revandra berdiri lalu menarik benda pelindung dari kejantanannya baru membuangnya ke tempat sampah. Lelaki itu kembali berpakaian dan meninggalkan perempuan cantik yang telah terkulai dan tertidur pulas karena kelelahan melayani Revandra.
Revandra mandi setelah sampai di rumah lalu dia turun ke lantai bawah untuk minum sesuatu yang hangat dan dia mendapati Aliya sedang mencari sesuatu untuk di makan.
"What are you doing, honey?" tanya Revandra mendekati Aliya.
"I'm hungry, Ded. But, tidak ada yang bisa di makan, hanya ada bahan yang belum jadi," sahut Aliya sembari memperlihatkan wortel dan bahan-bahan lainnya kepada Revandra. Revandra melangkah ke arah kulkas, dia membuka kulkas itu lalu mengambil potongan daging untuk diolah.
"Duduklah dengan tenang. Aku akan memasak sesuatu untukmu," kata Revandra.
"Okey, Ded!" seru Aliya tersenyum begitu polosnya. Cantik sekali.
Selang beberapa menit, Revandra telah selesai membuat makanan untuk Aliya.
"Makanlan." Revandra menyodorkan makanan kepada Aliya lalu dia duduk di hadapan gadis itu dan meraih cangkir berisi kopi yang sudah disiapkan tadi kemudian meneguknya.
"Kamu tidak makan, Ayah?" tanya Aliya di sela aktifitas makannya.
"Tidak, Honey. Ayah sudah kenyang." Revandra memandangi Aliya yang sedang makan dengan lahapnya. Dia merasa benar-benar telah menjadi seorang bajingan. Sebab, hasratnya terbangun hanya karena melihat tubuh putrinya, gadis yang dia besarkan dengan tangan sendiri.
"Ayah ...." Aliya membuyarkan lamunan Revandra
"Ya, Honey."
"Sugar daddy itu apa, Ayah?" tanya Aliya dengan bigitu polosnya sampai membuat Revandra yang hendak meneguk kopinya langsung tersendat. "Kamu tidak apa-apa, Ayah?" tanya Aliya lagi membuat Revandra menatapnya tajam.
"Dari mana kamu mendengarkan kata-kata itu, Aliya?" Revandra memicingkan mata menatap Aliya penuh tanya.
"Dari Aren. Katanya dia mau ayah jadi sugar daddynya," jawab Aliya tersenyum.
Revandra tercengang mendengar jawaban Aliya yang baginya tidak masuk akal. Dalam hal ini, dia juga bersalah. Sebab, selama ini dia selalu saja membatasi pengetahuan Aliya tentang dunia-dunia pergaulan yang bebas. Bahkan selama ini Aliya tidak diizinkan terlalu dekat dengan teman lelakinya.
Sejenak Revandra berpikir kalau dia merasa sudah waktunya bagi Aliya untuk mengetahui semua itu, tetapi tetap dalam pengawasannya agar Aliya tidak salah memilih pergaulan.
"Ayah sugar daddy itu apa?" tanya Aliya lagi karena dia tidak mendapat jawaban dari ayahnya.
"Aliya, sugar daddy itu merupakan sebutan untuk pria dewasa yang kaya. Mereka menghabiskan uang mereka untuk membelanjakan kekasih maupun simpanannya," jelas Revandra hendak meneguk kopinya
"Oo ... berarti Ayah sugar daddynya Aliya, begitu maksud ayah?"
Kembali Revandra tersendak kopinya.
"Kenapa kamu berpikir Ayah sugar daddymu?"
"Karena selama ini ayah suka membelanjakan Aliya barang-barang yang Aliya mau meskipun Aliya bukan kekasih Ayah, tetapi Aliya seperti simpananmu, Ayah." Aliya teris saja berkata begitu polosnya.
"Astaga! Betapa polosnya putriku ini. Sampai-sampai dia mengangapku sugar daddynya," pikir Revandra. Demi tidak menimbulkan kesalah pahaman tentang sugar daddy, pelan-pelan Revandra mencoba menjelaskan hal itu pada Aliya.
"Aliya, Ayah bukan sugar daddymu, tetapi ayahmu. Sugar daddy dan Ayah itu berbeda, Honey." Revandra dengan hati-hati berusaha menjelaskan.
"Kalau begitu Aliya boleh punya sugar daddy, Ayah?" tanya Aliya polos. Seketika wajah Revandra berubah memerah karena sedikit ada perasaan emosi mendengar perkataan yang keluar dari mulut Aliya.
Brak...
Sebuah hentakan tangan yang keras menghantam meja, sontak Aliya terkejut. Gadis itu berubah sedikit takut dan tertekan. Melihat putrinya yang terkejut dan sedikit takut Revandara berusaha meredam emosinya. Lelaki dewasa itu melangkah ke arah putrinya lalu memeluk gadis itu.
"Maafkan aku, Aliya. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Hanya saja, aku sedikit marah karena kamu berkata ingin mencari sugar daddy." Revandra dengan sabarnya menjelaskan kepada Aliya bahwa orang yang mencari sugar daddy itu, ibaratkan seseorang yang tidak mampu untuk membiayai hidupnya. Sedangkan Aliya, dia tidak kekurangan apapun. Revandra selalu menuruti kemauan gadis kecilnya.
Setelah Revandra menjelaskannya, barulah Aliya kembali ceria, dia langsung memeluk lelaki dewasa itu. Pelukannya begitu erat sehingga Revandra dapat merasakan benda kenyal menyentuh dadanya. Selama ini dia tidak pernah masalah dengan sentuhan itu, tetapi setelah apa yang terjadi tadi ketika dia melihat dan sempat meremas benda kenyal milik Aliya, rasanya kini telah berubah. Seperti ada sesuatu yang bergejolak muncul dari dalam dirinya.
Bersambung
Hari itu, Revandra bersama sekertarisnya Alin mengantar Aliya ke tempat les menari seperti yang Aliya minta kemarin. Sesuai janjinya, Revandra mencarikan tempat menari yang berkualitas tinggi yang ada di mall Rubby lantai atas. Mall Rubby adalah salah satu mall yang ada di bawah naungan Gramantha Grup milik Revandra.
Gramntha Grup sendiri adalah perusahaan yang diwariskan kepada Revandra dari kedua orangtuanya sebelum meninggal. Gramantha Grup berkembang pesat di tangan Revandra dan memiliki banyak anak perusahaan di berbagai bidang. Bisnisnya juga berkembang di negri asing.
"Alin, tolong kau temani Aliya untuk latihan les menari." Revandra memberikan sebuah kartu pada Aliya.
"Baik, Presdir," jawab Alin hormat.
"Aliya, hari ini kamu sama sekertaris Alin tidak apa-apa kan? Ayah ada urusan mendadak di perusahaan." Revandra memeluk dan mencium lembut pipi putrinya itu.
"Baik, Ayah."
"Okey, Sayang."
Sebentar, Revandra berlalu. Beberapa menit, Aliya dan sekertaris Alin sudah berada di lantai atas mall rubby. Keduanya langsung menuju ke bagian resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya salah satu pegawa resepsionis ruang les menari.
"Aku ingin daftar les menari. Boleh?" Aliya tersenyum hangat.
"Maaf, Nona. Hanya pengunjung VIP yang bisa daftar di sini. Apakah Nona punya kartu VIP?"
Aliya tampak bingung, dia tidak mengerti apa maksud dari pegawai resepsionis itu. Sekertaris Alin yang melihat Aliya seperti sedang kebingungan itu langsung berbisik ke telinga gadis cantik itu. Sekertaris Alin meminta agar kartu yang diberika Revandra tadi harus ditunjukan untuk mendaftar les menari.
"Maksud kamu ini?" Aliya mengeluarkan sebuah blac card exspres. Sontak resepsionis itu terkejut melihat kartu yang ada di tangan Aliya. Bagaimana tidak, kartu itu hanya ada tiga di negara ini. Salah satunya ada di tangan Revandra, pemilik perusahaan Gramentha Grup. Berbeda dari black card biasa, black card expres ini memiliki banyak keunggulan dibanding black card biasa. "Jadi apa saya bisa mendaftar? Saya Aliya." Aliya membuyarkan lamunan pegawai resepsionis.
"Oo ... maaf, Nona Aliya. Saya tidak mengenali anda. Anda tidak harus daftar. Nona bisa datang kapan saja sesuai keinginan, Nona Aliya," kata pegawai resepsionis itu seperti berhamba kepada Aliya.
Semua karyawan perusahaan tahu kalau Revandra memiliki putri semata wayang yang bernama Aliya. Namun, resepsionis itu tidak menyangka kalau Aliya begitu cantik. "Pantas saja presdir Revan memanjakan putrinya, toh putrinya secantik ini," pikir pegawai resepsionis itu memuji Aliya.
Sebentar setelah resepsionis mempersilahkan Aliya masuk, gadis itu tiba-tiba ingin ke toilet dan ketika dia sudah berada di toilet, dia tidak sengaja mendengarkan dua wanita yang sedang berbicara satu sama lain.
"Hei, lihat ini. Aku diam-diam mengambil gambar presdir Revan hari ini. Oh, begitu tampannya," kata salah satu wanita itu.
"Lihat postur tubuhnya yang sempurna, aku harap aku bisa melihatnya tanpa pakaian," lanjut wanita yang satunya lagi dengan sikap centilnya.
"Berbaring di sebelahnya dan mengoyak tubuhnya adalah impin semua wanita. Tapi, sayang sekali perhatiannya hanya tertuju pada putrinya yang aku sendiripun tidak tau siapa ibu putrinya itu. Atau mungkin saja presdir mengadopsinya karena kasihan?"
"Andai saja putrinya itu tidak ada, aku dengan senang hati akan melebarkan kakiku untuknya."
Aliya yang sudah tidak tahan mendengar ocehan-ocehan itu menghampiri kedua wanita yang sedang membicarakan Revabdra. Aliya merampas ponsel yang di dalamnya terdapat gambar Revandra, baru kemudian melemparkannya hingga ponsel itu rusak.
"Berani sekali kau merusak ponselku! Ayo ganti rugi," maki wanita yang ponselnya di rampas oleh Aliya.
"Ganti rugi? Mimpi saja!" ujar Aliya. Gadis itu mengambil ember yang berisi air sisa mengepel lantai toilet lalu menyiram ke wajah kedua wanita itu, bahkan Aliya memukuli mereka tanpa ampun. Setelah puas, Aliya meninggalkan kedua wanita yang sudah berantakan itu, baru kembali ke ruangan les.
Ketika Aliya memasuki ruangan itu, semua mata langsung tertuju padanya.
"Cepat lihat, gadis itu sangat cantik."
"Wow ... elegan sekali."
"Iya, cantik sekali."
Ucap kagum para pengunjung ketika melihat Aliya.
Lalu seorang instruktur pria di tempat itu bahkan terpesona akan kecantikan Aliya, dia menghapiri gadis itu dan langsung saja mengajarinya menari. Aliya juga berkenalan dengan gadis yang sedikit lebih tua darinya, namanya Bella. Setelah les menari selesai, instruktur mengajak Aliya dan Bella untuk makan di Magic Cook Restaurant yang ada di lantai tiga mall Rubby.
"Pesan apapun yang kalian inginkan, aku juga akan mentraktir kalian 10 botol wine," kata instruktur tari itu. Maka dengan senang hati, Aliya yang memang terbiasa dengan makanan-makanan mahal memesan banyak sekali makanan. Membuat instruktur itu terkejut. "Sial! gadis ini akan merobek kntongku. Makanan yang dipesannya sama dengan gajiku dua bulan," pikir instruktur tari itu.
Beberapa menit menunggu, pesanan pun datang. Tanpa membuang waktu, Aliya langsung menyantap hidangan di depannya dan di sela aktivitas makannya, tiba-tiba Revandra menelepon menanyakan di mana Aliya berada. Gadis itu memberitahu kalau saat ini dia sedang makan di Magic Cook Restaurant yang ada di lantai tiga mall rubby. Revandra mengakhiri panggilan setelah mengatakan kalau dia akan menjemput Aliya.
Setelah panggilan telepon Revandra berakhir, Aliya kembali melanjutkan aktivitas makannya. Namun, di sela makan, Aliya terkejut dengan kedatangan dua wanita berseragam senam.
"Itu dia wanita yang kumaksud," kata seorang wanita menuding ke arah Aliya. Dia adalah wanita yang tadi dipukuli oleh Aliya. Karena merasa tidak terima, dia memanggil preman untuk membalas perbuatan Aliya terhadapnya.
"Ya, dia yang menyerang kami sampai seperti ini," lanjut wanita yang satu lagi sambil menuding ke arah Aliya.
Preman itu melangkah mendekati Aliya lalu memakinya. Tidak tahan dengan makian seperti itu, Aliya mengabil botol wine dan langsung menghantam kepala preman yang botak itu sampai bercucuran darah.
"Siapa kau? Ayahku saja tidak pernah memarahiku." Aliya berteriak, dia begitu geram. Sedangkan kepala si botak itu sudah terluka. Emosinya langsung berkobar, dia merobek baju Aliya sampai pakaian dalam gadis itu terlihat. Tidak cukup samapi disitu, si botak juga menampar Aliya begitu keras hingga tubuh gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Gadis sialan!" maki si botak itu.
Aliya menagis kesakitan lalu si botak meraih sendok garpu, dia mengarahkan sendok garpu itu ke bagian leher Aliya dan hendak menusuknya.
"Berani sekali kau memukulku. Apa kau tau siapa ayahku?" Aliya sudah bercucuran air mata.
"Siapa ayahmu?" Si botak itu semakin menekan Aliya.
"Revandra, Revandra Gramentha," jawab Aliya. Nada suaranya bergetar. Namun, si botak tidak takut sedikit pun. Melainkan dia tertawa terbahak-bahak seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aliya.
"Jika kau adalah anak Revandra Gramentha, maka aku adalah adiknya." Si botak kembali tertawa dan terus merobek baju Aliya. Tidak lupa dia berteriak kepada temannya. "Kau yang di sana berjaga di pintu, jangan biarkan siapapun masuk sebelum aku membereskannya," titah si botak itu lagi kepada temannya.
Restaurant saat ini memang sepi hingga tidak ada yang bisa menolong Aliya sehingga si botak itu terus saja memukuli Aliya. Sampai gadis itu terbaring di lantai lantran sudah tidak kuasa menahan rasa sakit di wajahnya akibat tamparan berulang kali yang dia dapatkan. Si botak itu bahkan menusuk leher Aliya dengan garpu.
"Siapa yang berani menyentuhnya?" Tiba-tiba sebuah suara tegas dengan intonasi yang menekan datang dari arah pintu. Pemilik suara adalah Revandra. Lelaki dewasa itu berjalan dengan kobar api amarahnya, membuat kedua wanita yang memanggil preman itu ketakutan hendak melarikan diri. "Semuanya berhenti di situ! Jangan ada yang bergerak," titah Revandra tegas.
"Siap yang berani menggaguku memberi pelajaran pada gadis ini?" teriak si botak.
Buak...
Sebuah hantama kursi mendarat di kepala si botak itu. Lalu Revandra beralih mengecek keadaan putrinya, betapa terkejutnya lelaki dewasa itu ketika dia mendapati pipi Aliya yang sudah mebengkak. Lebih terkejut lagi ketika dia melihat sebuah bekas tusukan garpu di leher gadis itu. Amarah Revandra semakin berkobar. "Sial! jika saja aku datang lebih telat sedikit, garpu itu sudah akan menusuk leher cantik putriku," gerutu Revandra dalam hati.
"Tidak bisa dimaafkan." Revandra mengabil botol wine di meja lalu menghantamkan ke kepala si botak itu.
"Cepat panggil polisi ... ada seseorang yang mau membunuh," jerit si botak kepada temannya, tetapi baru saja temannya hendak menelepon petugas kepolisian, Revandra merampas ponsel itu dan menekan tombol ponsel.
"Jika kau ingin menelepon polisi, maka aku akan membantumu." Revandra melakikan panggilan telepon.
"Halo! Ini kantor pusat kepolisian. Ada yang bisa kami bantu?" jawab seorang petugas di ujung telepon.
"Mall Rubby, lantai tiga di Magic Cook Restaurat. Ada seorang pria yang mencoba melakukan pembunuhan," kata Revandra.
Mendengar perkataan Revandra, si botak dan kedua wanita yang memanggilnya bertambah ketakutan.
"Presdir Revan, kalau seseorang benar-benar mati di sini itu tidak bagus kan?" kata salah satu wanita itu. Namun, Revandra tidak menghiraukannya. Dia kembali pada si botak dan memukuli berulang kali.
"Tangan mana yang kau pakai untuk menyerang putriku?" tanya Revandra.
"Jadi kau benar Presdir Revan? Gadis itu benar-benar adalah anakmu. Presdir Revan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud me ...." Belum juga kata-katanya selesai, Revandra sudah menancapkan pisau yang digunakan untuk mengiris steak ke tangan si botak, dia sudah tidak mampu untuk berdiri. sSerasa semua persendian tulangnya putus akibat hantaman dari Revandra.
Brak...
"Polisi, semuanya angkat tangan dan jangan bergerak."
Rupanya polisi berdatangangan ke tempat itu setelah Revandra melakukan panggilan telepon.
"Presedir Revan," sapa salah seorang polisi yang hadir di tempat itu.
"Emm ...." Hanya suara itu yang terdengar oleh polisi yang menyapa Revandra.
Lalu Revandra menjemput Aliya yang sedari tadi hanya menagis karena masih syhok. Revandra melepas jasnya dan membalutkan ke tubuh Aliya yang sudah hampir polos.
"Aliya, semuanya akan baik-baik saja, Aku sudah di sini. Ayo! Kita pulang." Revandra menggendong Aliya. Baru akhinya gadis itu berhenti menagis, tetapi masih terisak menahan sakit di pipinya.
Bersambung