Bab 1

Satu

"Vian *oppa, wo ai ni, saranghae* !" Teriakan-teriakan tersebut terdengar lumayan keras dari para gadis yang tengah berkerumun di halaman luas nan terbuka tersebut. Namun, tidak hanya di sana. Di sebuah rumah, di depan layar televisi, seorang gadis juga meneriakkan kata-kata yang sama.

"Vian oppa, saranghae, saranghamida. Vian oppa, my honey, bunny, sweety, love you very much ...!"

BUGH! Sebuah bantal berukuran besar melayang dan menimpa wajah gadis tersebut.

"Berisik amat sih!" keluh seorang gadis lain yang duduk tidak jauh dari gadis itu.

"Norak, lihat orang di layar aja teriak-teriak. Mending di sana kedengaran, kalau di sini, gak bakal juga dia dengar, kecuali dia punya pendengaran super."

"PARK KARIN!" gertak gadis yang tadi berteriak-teriak tersebut sambil menatap tajam pada gadis yang baru menegur.

"Kamu itu sirik amat, sih. Kenapa? Kamu nggak suka Vian oppa? Kamu hatersnya, ya?"

"Ih, kenal juga kagak, ngapain juga jadi hatersnya? Yang aku gak suka itu kamu ribut, loncat-loncat sampai bantalan kursi aku amblas, belum lagi aku gak bisa kerja karena dengar bisingnya teriakan kamu, Nona Silvi," sahut Karin.

Silvi terkekeh dan segera mengalungkan lengan di leher Karin kemudian memeluk erat.

"Maafkan aku, my BFF, I don't know about that."

"Now you know about that. Jadi, sekarang lepaskan leherku. Kamu dah bikin aku susah napas," sahut Karin dengan suara tercekik dan memukul-mukul tangan sahabatnya itu.

"Oh, oh,mianhae, sahabatku," ucap Silvi sambil segera melepaskan tangannya.

Karin hanya menggeleng saja sambil kembali mengerjakan tugasnya. Mengerjakan desain sebuah kafetaria dengan komputer. Ia kemudian kembali fokus. Namun, itu tidak bertahan lama, karena beberapa saat kemudian Silvi kembali bersorak sambil melompat-lompat. Kata-kata oppa dan saranghae kembali meluncur dari bibir sahabatnya itu.

***

Karin tengah mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang. Sebenarnya ia masih agak mengantuk. Gara-gara Silvi yang berteriak-teriak memanggil idola kesayangannya, ia tidak bisa fokus dan harus menunda pekerjaan. Pekerjaan tersebut akhirnya bisa ia kerjakan di saat hari telah larut dan dini hari baru selesai.

Karin berniat menambah kecepatan, tetapi sebuah mobil sport berwarna hitam metalik meluncur tiba-tiba di depannya. Karin yang mengerem mendadak tidak bisa mempertahankan keseimbangan sepedanya dan terjatuh di aspal. Mobil hitam tersebut berhenti dan sang pemilik keluar dari bagian belakang mobil. Ia melihat sekilas pada mobilnya yang masih mulus.

"Kau beruntung mobil kesayanganku tidak tergores. Jika tidak kau harus membayar ganti rugi," ucapnya pada Karin yang masih terduduk di aspal. Karin tertegun. Entah mengapa, ia merasa telah mengenal wajah pria itu.

Pria tersebut kemudian berbalik dan bergegas pergi. Karin merasa geram. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Jelas-jelas mobil itu yang salah, dia juga yang jatuh dan terluka, tetapi mengapa dia yang disalahkan oleh pria itu?

Karin segera bangkit berdiri. Dengan langkah terpincang, mengejar pria tersebut.

"Hei kau!" teriaknya sambil menerjang dan menarik baju pria itu. Ia bersiap untuk melayangkan bogem mentah, tetapi siapa sangka baju pria tersebut robek dan memperlihatkan dada bidangnya. Karin yang terkejut kehilangan keseimbangan dan langsung mendaratkan ciuman pada dada nan putih mulus tersebut. Ia dan pria itu jatuh bersamaan dengan dirinya berada di atas tubuh pria itu dan bibir tetap menempel pada dada sang pria.

Mata Karin membeliak lebar seiring suara-suara jepretan kamera. Ia kemudian segera bangkit dan mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Sementara si sopir mobil segera turun dan menolong pria yang telah jatuh bersamanya tersebut untuk berdiri. Pria itu masih menatap marah pada Karin, tetapi segera pergi dari sana saat beberapa orang yang membawa kamera mendekat. Karin juga bergegas pergi dari sana.

***

'KENCAN RAHASIA IDOL TERNAMA TERTANGKAP KAMERA'

Tulisan besar dan foto di surat kabar tersebut termuat di halaman depan. Vian membanting surat kabar tersebut dengan penuh marah. Ia yakin gadis yang terjatuh bersamanya itu telah merencanakan semua. Gadis itu pasti fans beratnya yang terlalu tergila-gila padanya. Sudah lama ia mendengar ada fans yang begitu gila melakukan apa pun untuk bisa dekat dengan idolanya, tetapi hal itu tidak pernah menimpa dia sebelumnya. Baru kali ini dan namanya langsung menjadi bulan-bulanan di media massa.

Ponsel Vian berdering beberapa saat kemudian.

"Kau berada di mana? Datang ke ruanganku sekarang!" perintah orang di seberang saat Vian menerima panggilan telepon tersebut.

Vian segera bergegas. Telepon tersebut adalah dari pimpinan agensinya.

"Pak Han, saya minta maaf. Itu semua adalah ketidaksengajaan. Saya berjanji hal semacam ini tidak akan terulang," ujar Vian saat berada di ruangan pimpinan tersebut.

"Vian, aku tahu asmara adalah hal pribadi, tapi kau adalah seorang bintang. Kau harus bisa menjaga sikap. Sekarang jika kau berhubungan dengan seorang gadis, maka karirmu yang akan menjadi taruhan."

"Pak, gadis itu bukan kekasihku. Saya bahkan tidak mengenalnya. Saya rasa dia sengaja melakukan ini."

Pak Han terdiam sejenak. Tatapan matanya tetap tertuju pada sosok Vian di depannya.

"Baiklah, kau boleh pergi, tapi untuk sementara jangan kemanapun. Kau harus mengurung diri. Jangan menjumpai siapa pun, terutama wartawan. Masalah ini, kami yang akan mengurus."

Vian hanya mengangguk pasrah. Ia sudah tidak berdaya untuk menolak perintah itu.

"Oh, ya, untuk sementara proyek-proyekmu juga akan ditangguhkan. Peran drama dan filmmu akan dialihkan pada artis lain."

"Apa? Tapi ...."

Pak Han mengangkat tangan menghentikan ucapan Vian. Ia kemudian mempersilakan Vian untuk keluar ruangan. Tangan Vian tergenggam erat. Emosi meluap dalam dadanya. Perlakuan semacam ini tidak seharusnya ia terima. Semua kemalangan terjadi karena gadis yang menabraknya itu.

***

"Hai, Vian," sapa seorang pria sambil melambaikan tangan di depan wajah Vian. Pada wajah tampan pria tersebut tersungging seulas senyum mengejek.

Vian berusaha mengabaikan dan terus melangkah pergi.

"Vian," panggil pria itu dari belakang.

"Apa kau tahu semua proyek dramamu dialihkan pada seorang artis bernama Matthew Lee alias aku?"

Vian terus saja melangkah tanpa peduli. Matthew tersenyum kecil dan kembali memanggil Vian,

"makasih, Vian, ternyata kau memang begitu baik hati."

***

Karin duduk seorang diri di kantin. Saat jatuh, desain yang ia bawa masuk ke selokan dan rusak parah. Tidak ada yang tersisa. Pekerjaan yang ia lakukan semua berakhir sia-sia. Edwin juga pasti marah besar padanya. Edwin adalah rekan kerja sekaligus atasan Karin. Meski masih muda, Edwin telah menjadi perancang bangunan yang sukses. Ia pula yang membimbing Karin dalam melakukan pekerjaannya. Karin menghela napas dan menyandarkan kepala pada meja di depannya.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Edwin sambil tersenyum dan ikut menyandarkan kepala di samping Karin.

Bab 2

Dua

"Apa kau marah padaku? Benar juga, aku seharusnya tidak bertanya begitu. Kau sudah pasti marah dan kecewa sekali padaku," ucap Karin.

"Karin, mana mungkin aku marah padamu? Kau adalah orang terdekat dan orang yang paling berarti untukku," ucap Edwin.

"Tapi kau pasti kecewa padaku."

"Tidak," ucap Edwin sambil membelai kepala Karin.

"Aku yakin yang terjadi adalah bukan salahmu."

Karin menghela napas perlahan.

"Tapi aku tetap merasa bersalah. Aku sudah menghancurkan proyek penting ini."

"Karin, kau tahu apa yang paling aku khawatirkan? Kau terluka seperti sekarang ini. Aku tidak mau mrlihatmu terluka."

Karin tersenyum.

"Ini hanya luka ringan. Aku baik-baik saja."

"Kau ini harus menjaga dirimu. Jangan membuat aku khawatir lagi!"

Karin bangun dari tidurnya dan menghormat.

"Siap, Bos!" serunya. Edwin tersenyum dan mengacak rambut Karin. Tanpa mereka ketahui, seorang gadis memperhatikan itu dengan raut marah.

***

"Dia itu memang genit. Dia hanya bisa merayu Edwin. Lihat, proyek ratusan juta amblas karena dia dan Edwin juga tidak marah," tukas seorang gadis berambut ikal pada beberapa gadis lain yang berada di dekatnya.

"Kurasa tidak seperti itu. Dia begitu sedih karena proyek itu gagal. Edwin bersikap begitu mungkin karena melihat dia begitu sedih. Kau saja yang terlalu cemburu," sahut gadis di sebelahnya.

"Benar, benar, kita semua juga tahu, sejak awal kerja di sini, kau sudah suka dengan Pak Edwin," sahut orang yang lain.

Wajah gadis yang awal bergosip berubah cemberut. Tidak disangka,ia yang bermaksud menyebar rumor, tetapi malah dia yang dijatuhkan.

"Jika kau ingin mengatakan sesuatu, maka beritahu langsung di depanku, jangan di belakang!" tukas Karin yang baru saja masuk ke ruangan tersebut. Ia tadi hanya berniat melintas dan tanpa sengaja mendengar pembicaraan gadis itu dengan rekan-rekan yang lain.

"Baik, aku akan beritahu langsung padamu," ucap gadis itu sambil bangkit berdiri.

"Kau hanya perayu. Kau sengaja merayu Edwin agar dia tidak marah padamu. Kau juga merayu agar dia memberikan proyek padamu. Dasar tidak tahu malu!" tukasnya sambil mendorong-dorong Karin.

"Apa yang kaulakukan? Apa kau tidur dengannya untuk bisa mendapatkan semua ini? Aku juga bisa melakukannya, tapi aku tidak mau melakukan cara murahan semacam itu," lanjut gadis tersebut.

"Anna, hentikan!" gertak Edwin yang berdiri di ambang pintu.

"Kau sudah salah menuduh. Jika ada yang menyukai, maka itu adalah aku. Jika ada yang merayu, itu juga adalah aku."

Edwin kemudian berjalan masuk dan meraih tangan Karin.

"Itu semua karena aku menyukainya. Aku menyukai Karin."

***

"Terima kasih telah menolongku," ucap Karin yang kini berada di ruangan Edwin.

"Tapi kau tidak berbohong sampai seperti itu."

"Siapa yang bilang aku berbohong? Aku memang menyukaimu, Karin. Sejak awal kau bekerja di sini, aku telah jatuh hati padamu," ucap Edwin sambil memegang kedua bahu Karin.

"Maaf, aku tidak menyadari perasaanmu padaku," ucap Karin pelan.

"Tidak masalah, sekarang kau telah mengetahuinya. Jadi apakah kau menerima perasaanku?"

***

Karin duduk termenung di sofa ruang tamu rumahnya. Ia masih memikirkan ungkapan cinta yang dikatakan Edwin padanya. Ia tahu perasaan lelaki itu tulus. Hanya saja, ia belum menemukan jawaban untuk ketulusan perasaan itu.

"Akh!" teriak Silvi yang sedari tadi sibuk melihat ponsel.

"Aku tidak percaya ini."

"Ada apa?" tanya Karin dengan suara cemas. Mungkin ada kabar buruk yang menimpa kerabat sahabatnya itu.

Silvi bergegas menghampiri dan duduk di dekat Karin.

"Lihat, lihat ini!" tukasnya sambil menunjukkan ponselnya.

"My honey, Vian, semua acara dia dibatalkan. Peran dia di drama dan reality show akan digantikan oleh si playboy, Matthew."

Karin tidak mendengar penuturan panjang lebar Silvi. Ia justru terpaku melihat pada layar ponsel.

'Ya ampun, kenapa aku bisa lupa? Padahal Silvi membahas dia tiap hari. Ternyata pria yang aku tabrak itu adalah Vian. Pantas saja wajahnya begitu familiar,' gumam Karin dalam hati.

"Oppa kesayanganku, malang nian nasibmu," ucap Silvi sambil memeluk ponselnya seolah itu adalah Vian.

"Tenanglah," ucap Karin pelan sambil menepuk bahu sahabatnya itu.

"Ini semua gara-gara gadis. Aku yakin gadis itu memang merayu dia. Siapa yang tidak akan terpikat dengan Vian-ku yang begitu tampan?"

"Gadis?"

"Iya ini," tukas Silvi sambil menunjukkan kembali kabar tersebut pada Karin. Karin terkesiap. Meski foto itu tidak terlalu jelas, tetapi itu adalah dirinya.

Silvi menoleh pada Karin yang hanya diam kemudian kembali menatap layar.

"Tapi mengapa gadis ini seperti dirimu? Pakaian yang dia kenakan juga, bukankah kau juga punya pakaian semacam ini?"

Karin tertawa gugup sambil mengibaskan tangan.

"Ti-dak mungkin, tidak ada hal semacam itu. Lagipula untuk apa aku menemui Vian? Aku saja bosan mendengar kau terus membahas dia setiap hari."

Silvi mengangguk-angguk.

"Benar juga," gumamnya pelan. Di sampingnya, Karin menghela napas lega.

***

Vian meneguk vodka di tangan. Tatapan matanya tampak penuh dengan amarah. Sejenak ia tertawa terbahak. Tidak lama ia bangkit dan keluar dari bathtub mewah dan mengenakan piama mandinya. Semua karena gadis itu.

'Mungkin ia sekarang sedang bersenang-senang dengan beberapa teman. Menertawakan kebodohanku atau merayakan kesuksesan karena berhasil melakukan sesuatu bersamaku,' gumam Vian dalam hati. Mata dia tidak lepas menatap cermin di depannya.

'Lihat saja. Aku pasti akan membalas jika bertemu lagi denganmu.'

Vian yang telah selesai berganti pakaian bergegas keluar dari kamar mandi tersebut. Terdengar bunyi bel di pintu apartemen. Vian segera melihat pada layar untuk mengetahui siapa yang sedang berkunjung.

'Lagi-lagi dia. Apa dia tidak bisa menghilang saja?' gerutu Vian dalam hati.

***

Gadis di luar bernama Cindy Wu. Dia blasteran China-Korea yang juga menjadi artis seperti halnya Vian. Semenjak awal bertemu saat menjadi bintang tamu di acara Vian, gadis berparas cantik itu telah jatuh cinta. Ia terang-terangan mengejar Vian, bahkan telah mengungkapkan rasa sukanya. Namun, Vian tidak menanggapi. Meski begitu, Cindy tetap mengejar. Ia merasa yakin bahwa Vian juga akan menyukai dia.

"Cinta butuh waktu. Tidak apa, aku akan sabar menunggu hingga kau menyukaiku," ucap Cindy kala itu. Akan tetapi, Cindy tidak bersabar. Ia bertingkah seperti kekasih Vian dan merasa cemburu pada gadis mana pun yang dekat dengan Vian.

"Vian, buka pintunya, Vian, biarkan aku bersama menemanimu saat ini!" seru Cindy dari luar saat pintu di depannya tidak kunjung membuka.

"Vian, jangan bersedih, jangan mengurung diri. Aku akan selalu bersamamu," tukas gadis itu lagi dari luar saat tidak ada sahutan dari tempat Vian.

Vian tetap saja diam. Ia tidak butuh Cindy yang malah membuat ia semakin suntuk. Yang ia butuhkan hanya rencana untuk menemukan gadis yang telah membuat ia kehilangan karirnya dan merencanakan balas dendam pada gadis tersebut.

Bab 3

Tiga

"Dia adalah seorang perancang bangunan. Jangan khawatir, saya akan mengatasi dia," ucap Jason, asisten Vian.

Vian menatap ke layar di mana foto Karin terpampang jelas.

"Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri."

"Tapi ...."

"Ini adalah balas dendamku. Aku yang akan menangani sendiri."

***

Karin sedang sibuk merancang maket di kantornya saat Edwin berjalan masuk.

"Pekerjaan yang bagus. Kau melakukannya dengan baik," puji pria itu.

"Sebaiknya kita tidak bertemu berdua saja seperti sekarang. Aku tidak mau Anna marah lagi padaku," sahut Karin yang terus melihat pada maket di depannya. Ia tidak menoleh sedikitpun pada Edwin.

"Karin, aku sungguh menyukaimu," ucap Edwin sambil meraih tangan Karin.

"Edwin, aku sudah bilang aku hanya menganggapmu teman. Teman yang sangat baik. Aku tidak mau merusak persahabatan kita dengan perasaan lebih dari itu."

Suara bising di luar menghentikan percakapan mereka. Keduanya kemudjan bergegas keluar. Mata Karin membeliak lebar saat melihat sosok yang datang di tempat kerjanya tersebut.

***

Vian tersenyum dan melambaikan tangan pada beberapa orang di kantor tersebut. Beberapa karyawati mendekat dan meminta foto bersama. Ada pula karyawan yang meminta tanda tangan darinya untuk kerabat mereka. Vian tetap tersenyum dan memenuhi permintaan mereka. Meski begitu, ia tetap melangkah mendekat pada Karin dan Edwin.

"Untuk apa dia kemari? Apa dia berniat untuk membuat masalah denganku?" gumam Karin.

Edwin menoleh mendengar suara Karin.

"Ada apa? Apa kau ada masalah dengannya? Apa kau mengenal dia?"

Karim hanya menggeleng. Tidak lama Vian telah berdiri di hadapannya dan Edwin

"Jadi ini tempat para perancang bangunan bekerja? Sungguh luar biasa. Kebetulan aku ingin membangun sesuatu dan temanku menyarankan tempat ini," ujar pria tersebut.

"Baiklah, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk bisa memuaskan permintaan Anda," ucap Edwin.

Vian tersenyum dan berpaling pada Karin.

"Apakah dia perancang di sini? Kalau begitu, aku ingin dia yang melakukannya," ucapnya sambil menatap lekat pada Karin.

Karin menatap balik Vian kemudian menggeleng.

"Aku tidak bisa melakukannya. Aku sedang sangat sibuk. Banyak proyek yang kutangani."

"Sayang sekali, padahal aku akan membayar banyak untuk proyek ini."

***

"Karin, ini kesempatan langka. Meski bukan proyek besar, tapi dia mau membayar mahal, bahkan lebih tinggi dari biasa. Kita harus menerima ini," ucap Edwin dengan penuh semangat.

Saat ini ia dan Karin tengah berada di kantor Edwin. Sementara Vian tetap menunggu di luar. Para pegawai dan staf tampak menyapa ramah dan mengajak bicara pria itu.

"Kita memang harus menerima, tapi tidak harus aku yang menangani proyek ini."

"Dia hanya mau dirimu. Jika tidak, maka ia akan membatalkan dan mencari tempat lain. Itu yang dia katakan di pertemuan kami tadi."

"Aku tetap tidak bisa."

"Kenapa? Apa kau ada masalah dengan dia? Kalian sepertinya memang telah saling mengenal."

Karin menghela napas dan menggeleng. Kini Edwin bahkan menaruh curiga. Jika seperti ini, Edwin mungkin akan tahu masalah dia dengan Vian. Karin tidak mau itu terjadi. Ia tidak ingin namanya menjadi buruk di depan orang-orang yang ia kenal.

"Baiklah," ucap Karin akhirnya.

"Tapi aku ingin bicara berdua dulu dengannya."

***

"Tampaknya kau baik-baik saja setelah apa yang terjadi di hari itu," ucap Vian setelah masuk ke kantor Edwin. Edwin sendiri keluar dari ruangan tersebut.

"Apa yang sebenarnya kauinginkan?" tanya Karin sambil bersidekap. Vian melangkah mendekat dan menengadahkan wajah Karin.

"Apa lagi? Kau telah menghancurkan karirku, tentu aku ingin membalasnya."

Karin serta-merta menepis tangan Vian. Akan tetapi, Vian justru mencekal tangan Karin dan menarik gadis itu mendekat, sehingga kini Karin berada persis di hadapannya. Tubuh mereka bahkan saling bersentuhan.

Karin sontak mendorong Vian menjauh.

"Jika kau ingin membalas dendam, kau tidak perlu khawatir. Aku akan membayar nanti. Kau tidak perlu melakukan ini."

Vian kembali mendekat. Kali lengannya melingkar di pinggang Karin. Ia kemudian kembali menarik gadis itu mendekat. Mata Karin membeliak lebar. Ia segera meronta untuk melepaskan diri dari pelukan Vian.

"Balas dendam ini adalah milikku. Akulah yang merasakan akibat dari perbuatanmu hari itu, maka ...."

Ucapan Vian terhenti sejenak. Tangannya terulur dan membelai pipi Karin dengan lembut. Meski bergidik, Karin hanya bisa diam tanpa bisa menghindar.

"dendam ini harus dilakukan dengan caraku."

"Baiklah, terserah padamu saja. Sekarang lepaskan aku!" tukas Karin dengan nada geram. Vian justru tertawa.

"Jika aku tidak mau, apa yang akan kaulakukan?"

"Kau!" geram Karin dengan emosi yang semakin tidak tertahan. Ia dan Vian saling menatap satu sama lain. Suara pintu dibuka membuat keduanya sontak menoleh. Vian segera melepas pelukan pada Karin. Seulas senyum muncul di wajahnya.

"Baiklah, aku mengerti sekarang. Terima kasih atas penjelasannya," ujar Vian sambil kemudian bergegas keluar.

Edwin yang tadi membuka pintu masih tertegun selang beberapa saat. Ia kemudian segera menghampiri

"Karin, apa yang terjadi? Apa dia bersikap kurang ajar padamu? Karin, jika dia macam-macam, aku akan memberi pelajaran dan membatalkan proyek kita dengannya."

"Tidak perlu," geleng Karin.

"Lagi pula tidak ada yang terjadi. Dia benar, aku hanya menberi penjelasan padanya."

***

Edwin menuang minuman ke dalam gelas dari botol yang berada di depannya dan meminum hingga tandas. Bayangan Karin yang berada dalam pelukan Vian masih tergurat jelas dalam benaknya.

Ia yakin Karin dan Vian telah saling mengenal. Karin telah berbohong padanya, padahal ia menganggap gadis itu selalu jujur.

'Mereka berpelukan. Hubungan mereka pasti lebih dari perkenalan biasa. Mereka mungkin adalah sepasang kekasih. Aku yang bodoh. Pantas saja Karin tidak menerima perasaanku, ternyata dia adalah kekasih Vian.'

"Berada di sini seorang diri, apakah tidak merasa kesepian?" tegur Anna yang duduk di samping Edwin. Edwin hanya tersenyum saja dan kembali meminum minuman miliknya.

Anna kemudian juga memesan minuman pada bartender di depannya. Ia kemudian membuka ponsel dan memperlihatkan sesuatu pada Edwin. Itu adalah foto Vian yang kecelakaan dengan Karin beberapa hari sebelumnya.

"Gadis di foto ini sungguh tidak tahu malu, melakukan hal semacam itu di tempat terbuka, tapi tidakkah menurutmu gadis ini mirip dengan Karin?" tukasnya.

Edwin melihat foto tersebut sekilas kemudian menggeleng.

"Karin gadis baik-baik, dia tidak mungkin melakukan itu."

Edwin kemudian beranjak pergi dengan langkah yang sempoyongan. Anna segera menyusul dan meraih tangannya.

"Kau sudah tahu. Kau tahu karenanya kau bermabukan di sini. Kau tahu hubungan tidak biasa dari mereka. Kau juga tahu alasan Vian datang ke kantor kita adalah untuk menemui Karin."

Edwin segera mengibaskan tangan gadis itu.

"Itu tidak benar," ucapnya.

"Itu benar, hanya saja kau tidak mau mengakuinya," tandas Anna.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED