Sebuah berkas dengan map coklat dilemparkan kepadanya.
"Segera tandatangani surat cerai ini dan tinggalkan Pandu. Minggu depan ibu akan kembali dan membantu Ryeya berkemas."
Sikap angkuh itu sama sekali tidak membuat dia gusar. Kaki kanannya tetap setia tertutup dengan senyum elegan, matanya yang polos menyoroti ibu mertuanya, "Kenapa ibu yang mengajukan gugatan ini? Seharusnya Mas Pandu sendiri yang memberikannya kepadaku. Secara, kami masih sah dihadapan hukum maupun agama."
Ibu mertuanya mendelik tidak terima. Dia menukikkan alisnya melihat perilaku tidak sopan dari menantunya ini. "Bukankah itu terserah Ibu? Jangan coba-coba kamu menggurui ibu, dasar wanita mandul!"
Senyumnya sama sekali tidak luntur, bahkan setelah mendengar makian dari ibu mertuanya. Wanita cantik malah sedikit terkekeh dan mengambil map coklat yang dilemparkan ke atas meja. "Aku akan bilang ke Mas Pandu akan hal ini, atau ibu yang bilang?"
"Dengar Pravara, jangan sesekali kamu menghasut Pandu untuk menarik gugatan ini. Biarkan dia bahagia! Dia tidak perlu hidup dengan wanita tidak berguna seperti kamu!" Ibu mertua beranjak dari duduk angkuhnya, yang langsung diikuti oleh seorang wanita muda di sampingnya.
"Ibu menyesal mengambil kamu menjadi menantu di keluarga kami. Kamu itu hanya bisa mengandalkan pembantu untuk urusan rumah tangga. Sudah tidak bisa bersih-bersih, tidak bisa masak, tidak becus merawat suami. Ditambah mandul, perempuan seperti kamu itu tidak pantas masuk keluarga besar kami!" teriaknya dengan emosi yang tiba-tiba saja meluap.
Pravara tidak tahu bagaimana dia harus bereaksi dengan amarah ibu mertuanya. "Ibu, tenang dulu, jangan seperti ini."
"Jangan seperti apanya? Kamu yang membuat ibu kehabisan kesabaran. Kamu yang tidak kunjung hamil, tapi semua orang yang akan dirugikan. Kamu harus tahu itu!" Ibu mertua dari Pravara menyibak rambutnya dengan gaya congkak. Sangat terlihat di wajahnya yang keriput akan kekesalan dan penghinaan.
"Baiklah, aku hanya akan memberikan dokumen cerai ini, setelah aku menandatanganinya dan menyerahkan pada Mas Pandu. Begitu, ibu?" Pravara menunduk melihat jam tangannya. "Atau ibu mau bertemu dengan Mas Pandu langsung? 10 menit lagi jam pulang kantornya, mungkin 20 menit lagi akan sampai di rumah, bagaimana?"
"Tidak. Ayo Ryera, kita pergi."
Rumah besarnya kembali sunyi. Pintu depan tertutup dengan kasar oleh ibu mertuanya, juga bersama dengan wanita yang akan menjadi istri baru suaminya kelak.
Pravara mendengus, "Cerai saja belum, sudah ada penggantinya. Hebat sekali Mas Pandu, langsung memiliki pengganti." Wanita itu menurunkan kakinya yang sejak tadi kaku, juga senyum palsunya.
Wajah cantik dengan mata coklat bening itu menatap lama pigura besar dihadapannya. Sebuah foto berukuran besar yang berisi dia dan suaminya, saat pernikahan mereka 5 tahun yang lalu.
Huh, Pravara tidak menyangka hubungan yang dia jalani dengan kosong ini bisa berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Tidak ada pertengkaran, karena mereka berdua jarang bertemu. Serta tidak ada kecemburuan, karena mereka tidak saling mencintai.
Pernikahan ini adalah pernikahan bisnis yang kedua orang tuanya lakukan. Umurnya waktu itu masih 23, baru lulus dari universitas besar di Jerman. Dia ditarik pulang dan langsung dinikahkan.
Pravara yang saat itu masih belia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sebuah pernikahan. Yang ada dalam otaknya hanyalah, banyaknya rencana karir dan bersenang-senang teman-temannya.
Di saat dia sedang bingung memikirkan apa yang akan dilakukan dia setelah menikah nanti, tiba-tiba Pandu, laki-laki yang dijodohkan dengannya mengaku mencintai orang lain dan tidak tertarik dengan pernikahan ini.
Laki-laki itu hanya mencintai bisnis dan sesuatu yang teratur dengan baik. Pandu tidak menyukai sesuatu yang berantakan sekalipun hanya tentang ketidak kesengajaan. Dia seseorang yang cermat dan sangat berdedikasi dengan yang namanya asosiasi. Namun, dia bukanlah orang yang mudah tersenyum dan bersenang-senang dengan orang lain.
Pravara ingat sewaktu dia dan Pandu diberikan jatah bulan madu selama dua Minggu di Jerman. Laki-laki itu sama sekali tertarik untuk berkenalan dengan teman-temannya, sepanjang hari dia hanya sibuk dengan pekerjaan dan laptopnya.
Membiarkan wanita yang yang masih berstatus pengantin baru itu sendirian, berteman dengan hingar-bingar suasana malam dan kembali ke hotel saat pagi hari. Dan ajaibnya, Pandu tidak melarang ataupun memarahinya. Laki-laki yang lebih tua 5 tahun darinya itu hanya melewatinya dan membiarkan dia tertidur sepanjang hari dan mengalami siklus yang sama, selama dua Minggu.
Dari situ, Pravara percaya jika pernikahan bisnis di atas bisnis itu benar adanya. Persetanan dengan temannya yang juga mengalami pernikahan bisnis, tetapi bisa berbahagia hingga mempunyai 3 anak. Apalah dia, yang selama 5 tahun dianggurkan begitu saja dan tidak tersentuh sama sekali.
Sekarang mertuanya yang dulunya selalu memuji dan membanggakan dirinya di hadapan semua orang, adalah yang menyodorkan surat perceraian bagi rumah tangganya. Hanya karena dia belum mempunyai seorang anak diusia pernikahan yang sudah lama. Bahkan melabeli dirinya dengan perkataan wanita mandul. Ingin sekali Pravara tertawa mendengarnya.
Sudah pukul 5 lebih 10 menit. Wanita itu berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Malam ini kebetulan dia sudah ada dirumah dan kebetulan nya lagi, ibu mertuanya datang. Mungkin, dia bisa memasak dengan cepat, sebelum suaminya datang dari kantor.
Semuanya telah selesai dan tersaji di atas meja. Bau harumnya sangat menggoda selera, siapapun pasti tergiur dan secara tidak sadar menelan ludah dengan lapar. Pravara sedang mencuci tangannya, kala suara berat dari belakang hampir mengagetkannya.
"Pravara?"
"Kamu sudah pulang? " tanyanya basa-basi. Wanita itu mendekat dan mengambil tas kerja suaminya. "Aku akan menyiapkan air hangat, tunggu sebentar. Di sana sudah ada teh hijau, nanti aku panggil setelah semuanya siap."
Anggukan Pandu berikan, dia melepaskan jas dan dasi dari lehernya. Dengan gerakan cepat pula Pravara membantu dan membawanya ke dalam ruang cuci baju. Setelahnya dia naik ke atas dan masuk ke kamarnya.
Dia menyiapkan air panas dengan cepat, juga dengan piyama coklat di atas ranjang untuk suaminya. Masa bodo ibu mertuanya membicarakan tentang dia yang tidak bisa membersihkan rumah atau tidak merawat suaminya dengan baik. Itu hanya ucapan kecil untuk mempermudah hidupnya dan lepas dari bayang-bayang pernikahan kosong ini.
"Semuanya sudah siap." Pravara turun dari tangga dan menyampaikan pada sang suami yang tengah menikmati teh dengan cemilan yang ia beli tadi.
Pandu berdiri dari kursi makan dan berjalan menaiki tangga tanpa melirik Pravara sedikitpun. Mungkin itu hal yang biasa, tetapi bagi Pravara dia masih belum bisa terbiasa.
Menghadapi sikap acuh, dingin tak tersentuh suaminya. Selalu sesak bila satu atap dengannya dan di dalam ruang lingkup yang sama. Pravara selalu menertawakan dirinya yang sok baik dan perhatian pada Pandu. Walau nyatanya dia muak dan merasa terhimpit saat melakukan semuanya.
Tapi kali ini dia sudah menemukan satu hal yang akan membuat dia bebas. Yaitu ajuan gugatan cerai dari sang ibu mertua.
"Aku pikir Mas Pandu telah diberitahu ibu tentang hal ini. Jadi belum, ya?" Pravara menatap suaminya yang bereaksi, setelah dia memberitahu tentang surat perceraian.
Makanan telah habis tak tersisa seperti biasa. Pandu dengan santai melahapnya dan menyenangkan Pravara karena makannya tidak terbuang. Namun, tiba saat dia menyodorkan berkas perceraian pada laki-laki itu, bau tidak enak seketika mengebul.
Pravara bisa melihat alis tampan itu menukik dengan tajam. "Kapan ibu kemari?"
"Tadi, jam 4."
"Kenapa beliau tidak bilang pada saya? Apa maksudnya dengan surat perceraian ini?" Pandu menatap penuh amarah kertas di genggamannya. "Ini pernikahan kita, dan saya kepala keluarga di sini. Jadi, tidak ada yang berhak mengirimkan surat perceraian seperti ini."
Entah kenapa keberanian yang semula Pravara adakan, hilang seketika. Dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat wajah merah milik suaminya.
"Tidak ada yang perceraian dan tidak akan pernah ada." Pandu berkata dengan tegas.
Perkataan mutlak itu membuat Pravara terpaku ditempatnya. Apa katanya? Tidak ada perceraian? Lalu rumah tangga kosong ini mau dibawa kemana? Pravara perlahan melihat pada wajah tampan yang telah menjadi suaminya selama 5 tahun ini. "Lalu, apa yang kamu inginkan dalam pernikahan ini?"
Pertanyaan berani itu membuat Pandu melihat intens pada sang istri yang da di seberang. "Apa maksud kamu, Pravara?"
"Maksudnya," dia menelan ludahnya susah payah. "... Pernikahan ini sudah tidak bisa diselamatkan, kenapa harus dipertahankan?"
Pandu semakin menatap sang istri dengan kemarahan yang terlihat dari matanya. "Apa maksudmu sebenarnya, Pravara? Kita baik-baik saja dan akan seperti itu."
"Ibu menyebutku mandul di hadapan wanita yang akan ibu jodohkan dengan kamu. Dia juga memakiku dengan kata-kata kasar dan merendahkan harga diriku sebagai seorang istri." Pravara membuka mulutnya susah payah. Dia mencoba berani menatap suaminya.
Pandu mengeraskan rahangnya. Dia memijit dahinya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Pravara.
"Kita bahkan tidak saling berhubungan seperti kebanyakan pasangan suami istri. Bukankah kamu mencintai wanita lain? Kejar dia dan ceraikan aku."
***
"Kita bahkan tidak saling berhubungan seperti kebanyakan pasangan suami istri. Bukankah kamu mencintai wanita lain? Kejar dia dan ceraikan aku."
Pandu menggeser surat perceraian yang ada di tengah-tengah meja ke arah Pravara. "Tidak ada dan tidak akan pernah!"
...
Ipad di tangannya membuat dirinya hanya terfokus pada satu hal itu, terlihat enggan untuk meladeni yang lainnya kecuali pekerjaannya. Alat pemutar musik dengan suara keras tersumpal di telinganya, itu juga menjadi faktor kenapa dia terlihat santai walau dengan wajah serius.
"Bagaimana menurut kamu, Prava? Desainnya cukup simpel, sesuai dengan yang klien minta kemarin juga ini hasil dari diskusi dari revisi kemarin." Perkataannya yang tidak mendapatkan jawaban, membuat wanita cantik itu menggigit lidahnya gemas. Berkas di tangannya dia banting di meja dan bergerak menarik earphone ditelinga bosnya itu.
"Apa?" serunya tidak terima. Dia sedang menikmati lagu dengan menggarap pekerjaannya dengan santai. Tapi bawahannya satu ini cukup lancang untuk menghentikan kesenangannya.
"Sudah berapa kali aku katakan? Hapus kebiasaanmu mendengarkan lagu dengan volume besar, itu tidak baik bagi kesehatanmu." Kata-kata itu sudah berulang kali dia sampaikan, tapi tetap saja tidak ada yang berubah.
"Kamu ke sini hanya untuk marah-marah, Esha?" Pravara mendudukkan dirinya dengan tegak dikursinya.
"Kamu pikir aku pengangguran? Ngapain juga marah-marah sama kamu, buang-buang waktu saja." Esha memutar bola matanya malas. Dia menyodorkan berkas yang tadi dia banting pada Pravara. "Lihat ini dan berikan masukan sebelum aku memberikannya pada klien hari ini."
"Jangan warna cerah, klien wanita ini tidak suka terlalu cerah. Berikan warna beige saja untuk latarnya, kemudian ubah font ini. Terlalu formal." Komentarnya dengan singkat. "Sudah, kan? Kalau begitu keluar, aku mau menyelesaikan desaign dari Tuan Arian."
Dahi Esha berkerut dengan alis yang menukik tajam, dia mendekat pada meja dan menumpukan kedua sikunya di sana. "Bukankah deadline nya masih tiga bulan lagi? Kenapa kamu mengerjakannya sekarang? Apa yang telah terjadi?"
"Tidak ada. Aku hanya gabut dirumah."
"Ey, tidak mungkin." Esha kemudian menemukan sesuatu, "Apa ini berhubungan dengan suami dewamu itu?"
"Apa yang kamu katakan? Suami dewa apaan sih?" Pravara tidak menyangka julukan itu akan bertahan selama 5 tahun ini. "Lebih baik kamu keluar dan biarkan aku bekerja."
"Apa dia telah mengubah peraturan kalian selama di rumah? Atau dia mengubah suhu air panas di bak mandinya?" Esha terus melancarkan banyak pertanyaan dengan nada cepat, yang mana hal itu membuat Pravara semakin kesal.
"Aku benar-benar serius dengan perkataanku, Esha." Pravara dengan mood berantakannya.
"Yang mana?" Map merah telah berada di pelukannya. Esha menantang Pravara dengan kekehan geli.
Pravara menggertakkan giginya mendengar pertanyaan bodoh dari Esha. Dia sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja, moodnya buruk sejak minggu lalu. "Aku ingin bekerja," tandasnya pelan.
Esha menggelengkan kepalanya dengan napas kecil, "Baiklah, kalau kamu nggak mau berbicara dengan aku, tapi yang harus kamu tahu di sini ada aku dan Navarro. Aku pergi dulu," ucapnya sembari melenggang ke luar kantor bosnya dan juga sahabat semasa SMA-nya.
Ipad hitam itu dia banting dia atas meja cukup keras, Pravara benar-benar lelah. Ini sudah lebih dari dua minggu setelah pembicaraannya dengan suaminya, tentang surat cerai dari ibu mertuanya. Selama itu pula, Pandu terlihat sangat enggan untuk berbicara kepadanya. Mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak memperdulikan dia sama sekali.
Dan untuk mengalihkan perhatiannya, Pravara hampir mengerjakan semua projek yang dia tangani untuk bulan-bulan depan. Membuat dia bergadang dan hanya tertidur 4 jam setiap hari.
"Sebenarnya apa yang diinginkan laki-laki itu? Kenapa hanya aku jadi yang pusing sendiri, sedangkan dia asik dengan dunianya. Seolah aku sama sekali tidak dianggap dalam hidupnya." Pravara mendengus tajam. "Hampir aku lupa ,jika aku hanya seorang istri di atas kertas, bukan seorang istri yang sesungguhnya. Sial, kenapa aku jadi emosional."
Air matanya berkerumun membasahi kelopak matanya, Pravara pernah percaya jika pernikahan seperti inilah yang dia inginkan. Sayangnya hari demi hari yang dia lewati mulai membuat dia muak, memang sedari awal dia tidak berharap akan keberhasilan pernikahan ini.
Namun, bukan berarti pernikahan ini berhasil dan baik-baik saja seperti yang Pandu ucap dua minggu lalu. Pernikahan ini sudah rusak sedari awal. Tidak ada interaksi lebih yang bisa menyempurnakan pernikahan bisnis mereka.
Tidak ada dan tidak akan pernah bisa.
...
Waktu terus bergulir, jam makan siang dia lewatkan. Pravara sama sekali tidak mempunyai napsu untuk makan, dua minggu ini semua jadwal rutin miliknya berantakan tidak karuan. Yang tetap hanyalah jadwal milik suaminya.
Pukul 4 tepat, Pravara tiba di rumah. Dia turun dari mobilnya dan mengernyit aneh, di samping kendaraannya ada mobil milik seseorang yang sangat dia kenali. Berulang kali wanita itu mengecek jam dipergelangan tangannya, hanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat jam.
"Mas Pandu?" Pravara bisa melihat suaminya itu duduk di sofa ruang keluarga dengan pakaian biasa, kaos putih lengan panjang dengan celana bahan hitam yang biasanya dia pakai. Pravara seperti telah melakukan kesalahan, tapi wanita itu sama sekali tidak merasa telah melakukannya. "Tumben pulang cepat?"
Pandu mengangkat pandangannya dari layar laptopnya, dia memandang Pravara dengan tatapan datar. "Tanggal 13 hari Selasa, saya selalu pulang cepat," tandasnya dengan rasa tidak suka. Kemudian mengabaikan Pravara dan fokus kembali pada pekerjaan yang dibawanya pulang.
Pravara menggigit bibirnya kesal, kenapa pula dia harus lupa dengan hari ini. Hari yang menurutnya awal dari semua ini. Wanita itu berdeham pelan, tali tas kerjanya dia pegang dengan erat. "Maaf, aku-"
"Setengah jam lagi kita berangkat, saya tidak mau terlambat seperti tahun lalu."
Pravara hanya bisa mengangguk dan berjalan pelan menuju kamarnya. Ya, kamarnya. Hanya dia, karena Pandu memiliki kamar dia sendiri. Sedari awal pernikahan mereka telah menentukan batas masing-masing dan saat Pandu meminta pendapatnya dengan menambahan perjanjian pra nikah lainnya. Dan inilah yang diinginkan Pravara, memiliki kamar sendiri.
Tanggal 13 November adalah hari perkawinan mereka. Pernikahan yang diselenggarakan besar-besaran dengan undangan yang mencapai 2000 orang. Mengusung tema mewah dan ala negara ginseng, seluruhnya bertemakan putih yang mencerminkan ketulusan dan hati yang bersih.
Pravara sendiri tidak akan pernah melupakan pernikahan terbaik yang dia dapatkan. Meskipun bukan dengan seseorang yang dia cintai, tapi di dalam pernikahan itu ada senyum dan tawa tulus dari kedua orang tuanya dan jangan lupakan wajah masam keempat kakak laki-lakinya.
Cermin besar di depannya menangkap sempurna lekukan cantik miliknya. Seperti tahun-tahun yang lalu, Pravara menggunakan dress putih selutut yang berbeda setiap tahunnya. Bunga-bunga kecil menghiasi area leher, dada dan berakhir di pinggang. Terlihat sangat elegan dengan sepatu hak tinggi berwarna putih dengan tali mutiara.
Rambutnya dia kepang menyamping, senyum puas hadir di bibir merahnya. Pravara tidak bisa menghalau kegembiraanya untuk kali ini, dia tidak akan berbohong dia senang jika Pandu telah berbicara dengan dirinya. Dengan hal itu, dia bisa berbicara dengan baik dengan laki-laki itu tanpa rasa takut yang menggebu-gebu.
Sebelum keluar dari kamarnya, Pravara memasukkan semua yang dia butuhkan ke dalam tas hitamnya. Termasuk berkas yang sangat penting, setelah itu barulah dia pergi dengan Pandu yang terlihat sangat tampan dengan suit hitam.
Setiap tahun Pandu akan mengajaknya makan malam dengan pemandangan sunset dari atas kapal pesiar, tetapi saat mobil yang dikendarai suaminya dari tempat yang dia ketahui, Pravara kebingungan.
Wanita itu tidak berani bertanya, karena dia tahu hanya akan menjadi obat nyamuk. Pertanyaan bodoh seperti kemana mereka akan pergi adalah hal yang paling membuang tenaga oleh Pandu, dan Pravara mengerti tentang hal itu.
Jadi, saat mereka tiba disebuah jalanan panjang yang penuh dengan pohon pinus di sepanjang jalan. Pravara akhirnya tahu kemana mereka akan pergi, tetapi ternyata dia salah lagi. Mobil yang dikendarai oleh Pandu berbelok dari arah yang tidak dia ketahui.
Restoran mahal yang dipenuhi cahaya kuning yang berpendar indah, sangat memanjakan mata Pravara. Saat wanita itu turun dari mobil dia langsung berjalan dibelakang Pandu dengan langkah besarnya. Meja reservasi mereka telah didepan mata, dengan sangat anggun Pravara mengucapkan terima kasih saat menu yang mereka pesan telah datang.
Tempat ini berada di kaki bukit yang sedikit jauh dari kediaman mereka. Saat tiba di sini pukul 5 lebih 45 menit. Sepanjang makan malam itu hingga semua makanan telah tandas, tidak ada yang membuka suara. Bahkan Pandu sekarang sibuk dengan ponsel dan panggilan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Tiba-tiba Pravara teringat dengan sesuatu yang dia siapkan tadi, berkas itu dia keluarkan dari dalam tasnya dan menempatkannya di atas meja. Semua bekas makanan mereka diambil oleh para pelayan dan mereka tinggal menunggu makanan penutup.
"Mas, sudah bisa kita berbicara?" tanya Pravara dengan sangat hati-hati. Mata beningnya yang dipoles cantik menatap suaminya yang sering di juluki Dewa oleh Esha dengan penuh pengertian. "Aku ingin membicarakan tentang perceraian ini."
"Saya pikir kamu sudah bisa mengerti apa yang saya ucapkan kemarin, Pravara." Pandu mematikan teleponnya dan menempatkan ponselnya di samping minumannya. Kedua tangannya terlipat di depan perut.
Dengan penuh berani Pravara menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak mengerti apa maksud kamu, dan tidak akan pernah paham. Ini sederhana, kamu hanya tinggal menandatanganinya dan semuanya selesai. Titik."
"Itu tidak semudah apa yang kamu katakan, Pravara. Semuanya akan runyam, jika kamu bertindak gegabah."
"Aku tidak gegabah, ibu Mas yang tidak sabar. Bukankah dia ingin cucu? Aku tidak bisa memilikinya, makanya beliau ingin kita bercerai." Pravara mengumpulkan semua keberaniannya untuk berkata demikian, dia berani bersumpah darah bangsawan yang melekat pada aura suami nya semakin terasa menguat.
Pandu tidak menggoyahkan pandangannya pada istrinya, dia terus menatap wajah kecil yang menantangnya untuk pertama kalinya. "Tidak perlu perceraian."
"Hah?" Pravara membuat wajah bingung disertai rasa jengkel
Kemudian Pandu mengucapkan sesuatu yang benar-benar sama sekali tidak pernah Pravara pikirkan. "Ayo jalani rumah tangga ini bersama-sama."
***
"Apa?"
Wajah cantik bulat Pravara terlihat sangat menawan kala sinar matahari jingga sore hari berseri di wajahnya. Bibir tipisnya terkatup mendengar apa yang telah dikatakan oleh suaminya, kepalanya memiring menatap Pandu. "Sebenarnya apa yang Mas inginkan? Bukankah sejak awal menikah, Mas bilang ada seseorang yang Mas cintai? Sekarang sudah ada kesempatan untuk keluar dari pernikahan ini, seharusnya Mas senang."
Pandu diam. Laki-laki itu mengambil cangkir kopi hitamnya dan menyesapnya sedikit, kemudian menempatkan kembali di samping ponsel. "Hal itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk bercerai, Pravara. Pengadilan tidak menerima alasan bodoh seperti itu."
"Jika pengadilan tidak menerima alasan itu, lalu alasan seperti apa yang akan mereka terima?" Meskipun rasa takut terus menguasai hati Pravara, wanita itu harus mendapatkan persetujuan perceraian ini.
"Kamu tidak mengerti, Pravara." Laki-laki dewasa itu menghela napas. "Coba kamu pikirkan, bagaimana tanggapan orang tua kamu jika seandainya kita bercerai. Mereka pasti sangat sedih, pernikahan ini juga menjadi landasan bisnis kedua orang tua kita. Tidak bisa seenaknya begitu--"
"Seenaknya bagaimana?" Pravara menukikkan alisnya mendengar perkataan suaminya. "Bukan aku yang menggugat perceraian ini, tapi ibu Mas sendiri. Apalah aku hanya dijadikan landasan bisnis kalian? Aku bahkan tidak berhak untuk menolak saat kita dijodohkan, aku menerima semuanya tanpa protes."
Pandu kembali mengingat gadis polos yang dia nikahi dulu. Yang hanya memikirkan teman, main dan karir yang menggebu-gebu. Pandu tidak akan mengelak jika Pravara adalah wanita yang penurut dan patuh. "Saya tahu, maka dari itu pikirkan kembali tentang perceraian ini. Saya tidak bisa menyetujuinya begitu saja."
"Ini bukan tentang bisnis, Mas. Ini soal pernikahan. Pernikahan kita. Kamu masih belum faham?" tegas Pravara.
"Saya paham, sekali lagi ada beberapa yang harus dipertimbangkan Pravara."
Pravara tidak mengerti, dia menggigit bibirnya sendiri gemas. "Kalau ada banyak yang harus diperhatikan dan dipikirkan kembali, seharusnya ibu mas tidak langsung menodongku dengan perceraian. Beliau yang paling mengerti tentang pernikahan ini dari pada kamu, kan?"
"Pravara, mungkin ibu sedang banyak yang harus dipikirkan. Makanya beliau bertindak seperti itu." Pandu yakin, dia hanya ingin mencoba untuk menenangkan Pravara yang nyatanya malah keliru.
"Apa sekarang Mas mulai berpihak pada ibu?" Pravara tidak menyangka Pandu akan membela ibu mertuanya, memberikan dia alibi yang seolah-olah dia yang bertindak dan memulai kekacauan ini. "Beliau sendiri yang bilang untuk segera menandatangani surat cerai dan memberikannya pada Mas. Ibu bahkan telah membawa calon istri baru Mas ke sana."
"Tidak ada calon istri. Istri saya hanya kamu!" Pandu mengunci tatapannya pada Pravara, dia menatap lekat istrinya.
Pravara tergelak, wanita itu menggenggam taplak meja berwarna putih hingga kusut. "Ibu memaki dan merendahkan ku di hadapan wanita itu. Beliau terus membicarakan tentang aku yang tidak bisa memberikan kamu keturunan dan mengataiku mandul."
Sebelumnya Pandu telah mendengar aduan Pravara tentang ibu yang menyudutkannya dengan perkataan menyakitkan, tetapi saat dia melihat dengan teliti. Mata bening memesona itu tampak bergetar dengan dahi yang mengerut halus, seolah mengisyaratkan rasa sakit yang tidak sengaja dia dapatkan pada dirinya. "Pravara."
Istri dari Pandu Laksamana itu membuang wajahnya ke samping. Dia enggan melihat tatapan yang dilayangkan oleh suaminya, "Aku tahu, kalau Mas hanya menganggap aku sebagai teman serumah yang selalu menyiapkan dan memenuhi kebutuhan Mas dengan tepat waktu. Selama ini aku sudah sangat terbiasa dengan hal itu, tapi tidak dengan pandangan masyarakat. Mereka pasti akan melihat kita sebagai yang rukun dan bahagia. Kata rukun itu memang tepat, tapi tidak untuk bahagia."
Kata tidak bahagia itu membuat hati Pandu berdesir, laki-laki itu tercekat dengan ludahnya sendiri. Dia tidak tahu pernikahan bisnis akan se-menyedihkan ini, "Apa kamu benar-benar tidak bahagia selama 5 tahun ini, Pravara?"
Wanita itu balas menatap Pandu lebih dalam. Hati Pravara berdegup kencang saat ini, dia merasa telah mengatakan hal yang seharusnya tidak dia ucapkan. Tidak seharusnya dia menyinggung sesuatu yang akan melukai harga diri suaminya, ketika dia dengan lancang berkata tidak bahagia selama ini. Namun, dia juga tidak bisa berbohong jika hal itu adalah benar.
"Saya mengerti," ucap Pandu pada akhirnya. "Selama 4 tahun terakhir saya selalu membawa kamu makan malam di atas kapal pesiar, saya pikir kamu bosan makanya saya membawa kamu ke sini." Kopi miliknya dia habiskan dalam sekali teguk. Punggungnya tegak dengan wajah tampan yang bersinar karena cahaya matahari yang telah tenggelam.
Pandu menoleh ke kanan dan mengangkat telunjuknya ke arah matahari yang akan benar-benar tenggelam. "Lihat ke kanan, Pravara. Cukup indah dari sebelumnya, kan?" tanyanya dengan melirik Pravara yang terus menatap ke arah dirinya.
Pravara tersentak kecil dan langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh sang suami. Ini tidak jauh berbeda saat mereka melihat dari atas kapal pesiar, tapi kali ini memang cukup berbeda karena tempat yang mereka datangi. Restoran di atas bukit ini cukup mewah dari luar hingga dalam, dan sekarang mereka menempati ruangan kecil dengan balkon yang cantik.
Penampakan sunset itu sangat memukau. Pandu kembali memusatkan perhatiannya pada Pravara yang sedang dimabuk keindahan dengan mulut yang terbuka kecil. "Seperti senja yang tenggelam hari ini dan akan kembali lagi esok hari dengan keindahan yang mungkin lebih dari hari ini."
Pravara melihat suaminya dengan bingung. "Apa?"
"Saya ingin memperbarui hubungan yang hambar dan tidak membuat kamu bahagia ini, menjadi hubungan sehangat sengatan matahari pagi dan tampak menyenangkan dipandang masyarakat selayaknya senja di ufuk timur." Pandu melayangkan pandangan serius tepat pada mata Pravara.
"Jangan memperbaiki hubungan, hanya karena omongan masyarakat." Tiba-tiba suasana berganti menjadi redup dan perlahan rasa dingin menusuk kulit. "Aku lelah selama 5 tahun ini, ayo bercerai!"
"Tidak! Sampai kapan pun tidak!" Seperti yang lalu-lalu, ucapan dari Pandu tidak pernah bisa dibantah sama seperti kali ini.
Makanan penutup datang di antara ketegangan mereka berdua. Rasa manis dari susu puding yang dipanggang hingga meleleh menjadi caramel, tidak lantas merubah mood buruk Pravara.
Wanita itu masih mendiami Pandu hingga beberapa hari ke depan dan pada hari berikutnya dia didatangi oleh pembawa masalah yang sebenarnya. Nyatanya rasa kesal atas ke tidak tegasan Pandu membuat Pravara kesal dan enggan untuk bertegur sapa.
"Bagaimana, Pravara? Apakah kamu sudah bereskan semua barang-barang mu?" pertanyaan itu mampu membuat Pravara yang sedang bersantai di teras rumahnya spontan berdiri dengan wajah tegang.