Bab 2

Telingaku berdenging, semuanya terasa sakit terutama pada bagian kepala dan kakiku. Sayup – sayup ku dengar suara lantunan ayat – ayat al quran di dekat telingaku, pelan namun begitu menyayat hati.

Aku kenal suara itu, suara terindah dari semua suara yang pernah ku dengar selama masa hidupku.

Dia ibuku, dari suara sayup – sayup itu aku dapat menenbak jika saat ini ibuk pasti tengah membacakan surah – surah al qur’an dengan lelehan air mata di pipinya. Suaranya terkadang juga tersendat dan berhenti sesaat untuk mengambil napas atau sekedar menghapus isakannya.

Ahh, aku sangat rindu ibuk. Kalau tidak salah kali terakhir aku bertemu dengannya adalah dua bulan yang lalu, saat aku pulang ke Jogja dan mengabari orang tuaku jika mas Abyan akan datang ke rumah membawa ikut serta kedua orang tuanya.

Hari itu saat aku mengatakan pada bapak dan ibuk tentang niatan baik yang akan dilaksanakan oleh mas Abyan aku merasakan ada sorot mata lain dari keduanya, seolah ada sesuatu yang begitu mengganjal pada kedua hati mereka hingga tak dapat bereaksi sebahagia yang aku lakukan.

Reaksi yang sama seperti saat mereka diundang oleh keluarga mas Abyan untuk datang pada acara keluarga mereka, hari itu tiba – tiba bapak dan ibuk menjadi tidak sepercaya diri seperti sebelumnya, dan aku juga sangat tau apa penyebabnya.

Tidak, bukan karena keluarga mas Abyan yang tidak memperlakukan ibuk dan bapak dengan baik. Tapi justru karena mereka mendapatkan perlakuan yang begitu sangat baik, sama seperti orang tua yang lain, dimana mereka pasti akan sangat bangga saat mengetahui jika anaknya mendapatkan calon pasangan dari keluarga yang baik – baik, pendidikan yang baik, dan agama yang baik.

Namun ternyata hari itu juga bapak dan ibuk merasakan bagaimana ketimpangan antara dua keluarga kami, siapa yang tidak mau memiliki menantu seorang dokter? Tentu saja orang tuaku juga menginginkan itu. Tapi mulai dari hari itu mereka sadar jika kami memiliki perbedaan yang sangat besar, bapak dan ibuk hanyalah seorang petani di Jogja, tidak memiliki riwayat pendidikan yang tinggi.

Bapak lulusan SD, sementara ibukku dapat sedikit berbangga diri karena sempat mengenyam Pendidikan hingga sekolah menengah pertama meskipun harus berlapang dada dan berhenti pada saat kenaikan kelas tiga.

Sementara itu mama dan papa mas Abyan adalah dua orang yang memiliki riwayat pendidikan yang tinggi, mama mas Abyan adalah seorang mantan perawat di sebuah rumah sakit namun berhenti dari profesinya saat melahirkan anak kedua, dan papa mas Abyan adalah seorang pegawai negeri pada kementrian keuangan, anak pertama mereka yaitu mbak Arhesa lulusan S2 bisnis dan sekarang telah mengajar sebagai seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi di kota Jakarta, dan yang terakhir mas Abyan yang saat ini masih berjuang menjalani masa koasnya.

Itu baru perbedaan mendasar dari kedua keluarga kami. Aku masih mengingat bagaimana ibuk dan bapak yang begitu senang karena keluarga mas Abyan mengundang mereka untuk datang ke Jakarta menghadiri acara keluarga yang diadakan setiap tiga bulan sekali itu.

Dengan bermodalkan mobil sateran dari tetangga di kampung plus sang sopir, pakde Bowo yang juga pemilik mobil, bapak, ibuk serta Syifa adikku melewati jalan panjang serta memakan waktu berjam – jam hingga sampai di Jakarta. Meskipun aku telah melarang mereka dan mengusulkan untuk menaiki kereta saja namun bapak dan ibu kekeh untuk menyater mobil.

Aku masih ingat yang dikatakan oleh bapak waktu aku menelponnya kala itu, “Kan mau bawa banyak oleh – oleh, moso (masa) mau naik kereta. Repot no,” ucapnya dengan penuh semangat.

Aku memakluminya, waktu itu mungkin bapak dan ibuk tidak membayangkan bahwa calon besannya itu ternyata bukanlah seperti para tetangga – tetangganya di Jogja yang kebanyakan adalah seorang petani atau paling banter yang mereka anggap “Kaya” adalah pasangan guru, pak Narto dan ibu Dwi yang merupakan guru di sekolah madrasah dekat kampung kami.

Awal dari menurunnya kepercayaan diri mereka adalah saat mobil Avanza sateran mereka berhenti pada sebuah rumah dengan pagar menjulang tinggi hingga orang lain hampir tak dapat melihat bangunan rumah di dalamnya itu. Bapak dan ibuk seolah terdiam menatap rumah dengan barisan mobil – mobil mengkilap di depannya, dan semakin merunduk saat sang tuan rumah menyambut kedatangan mereka.

Mama dan papa mas Abyan keluar dari rumah menyambut langsung kedatangan bapak dan ibu yang tengah sibuk menurunkan berbagai macam “oleh – oleh” yang mereka bawa dibantu dengan pakde Bowo. “Oleh – oleh” berupa sekarung beras, satu tandan pisang dan beberapa makanan ringan khas Jogja, tipikel orang desa yang selalu tidak pernah lupa membawa buah tangan hasil bumi mereka saat pergi bertamu.

Aku juga masih sangat ingat bagaimana para saudara dan kerabat mas Abyan yang nampak memandangi kedatangan bapak dan ibuk. Mereka terheran dengan semua barang – barang yang dibawa oleh bapak dan ibu, seolah bertanya – tanya untuk apa datang jauh – jauh hanya untuk membawa barang – barang yang bahkan dapat di beli oleh mama dan papa mas Abyan dengan mudah itu.

Berbeda dengan tanggapan kerabat yang masih sedikit tidak ramah itu, mama papa mas Abyan mbak Arhesa dan bahkan mas Abyan sendiri sangat baik serta ramah pada bapak dan ibuk, mereka berusaha untuk selalu melayani dengan baik bahkan selalu melibatkan bapak, ibuk dan pakde Bowo dalam setiap obrolan kala orang – orang lainnya mulai berusaha untuk menjauhi.

Baju mewah, perhiasan mahal, hingga topik pembicaraan, semuanya membuat bapak dan ibuk semakin berkecil hati dan merasa jika mereka memang sangat tidak pantas berada di dalam lingkungan itu, hal yang lebih membuat para kerabat mas Abyan mencibir adalah saat dimana ibuk jauh lebih akrab dengan mbok Sri, wanita tua yang sudah menjadi pembantu rumah itu sejak mas Abyan memasuki sekolah dasar.

Rencana menginap yang dijadwalkan menjadi berubah setelah kedatangan mereka di Jakarta, pada malam harinya bapak memutuskan untuk langsung kembali ke Jogja tanpa menginap terlebih dahulu, padahal papa dan mama mas Abyan telah menyiapkan sebuah kamar.

Setelah hari itu, bapak tidak pernah lagi menanyakan tentang mas Abyan atau hubungan kami pada saat setiap aku menelponnya. Bapak lebih memilih untuk menanyakan tentang perkembangan skripsiku dan rencana jangka panjang tentang pekerjaan yang ingin aku jalani setelah lulus kuliah.

Hari berganti hingga aku berhasil menyelesaikan pendidikanku, dan lulus sebagai sarjana seni kriya dari salah satu universitas negeri di Jakarta itu, kelulusanku yang semakin memantapkan mas Abyan untuk mengikatku sebelum menikahiku saat dirinya telah berhasil mendapatkan gelar dr. di depan namanya nanti.

“Dee,”

Memori otakku berhenti berputar mengingat kilasan masa laluku, saat suara itu terdengar di samping telinga kananku. Meski masih samar namun aku sangat mengenalnya. Hanya satu orang yang selama ini memanggilku dengan sebutan itu, mas Abyan.

“Sekarang aku disini Dee, di sampingmu.”

Pandanganku masih gelap, tubuhku pun masih kaku tak dapat bergerak barang seinci pun bahkan untuk menggerakkan ujung jariku pun aku tak sanggup, tapi telinga ini masih berfungsi dengan cukup baik.

Aku sangat ingin membuka mata, mengerahkan segala tenagaku hingga kurasakan lagi sebuah aliran hebat pada kepalaku dan membuat telingaku kembali berdenging nyaring lalu sunyi.

Hampa dan gelap.

Bab 3

Juni 2013

Awal pertemuan kami terjadi pada sebuah gallery kerajinan gerabah yang berada pada daerah Jakarta selatan.

Saat itu aku masih terhitung sebagai seorang mahasiswa baru semester dua, seorang mahasiswa yang masih begitu lugu namun sudah memiliki beban yang cukup berat di pundaknya.

Hasil tani kedua orang tuaku sedang tidak bagus kala itu, berhektar – hektar sawah pada desaku terkena serangan hama tikus hingga membuat banyaknya petani yang merugi karena hasil panen yang tidak sebagus dan sebanyak biasanya, bapak dan ibukku adalah salah satunya.

Meskipun biaya kuliahku sudah mendapatkan cukup banyak potongan karena aku adalah salah satu mahasiswa yang masuk memalui jalur prestasi berkat puluhan sertifikat yang kudapatkan sejak saat sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas.

Sertifikat yang awal mulanya sempat dianggap tidak berguna oleh bapak, waktu itu beliau berpikir apa yang bisa dibanggakan dari sertifikat hasil lomba menganyam, menenun, hingga membatik itu. Saat itu baik bapak dan ibuk masih belum mengerti bagaimana tingginya nilai dari sebuah seni hingga aku harus bersitegang pada bapak selama satu minggu lebih karena memilih untuk mengambil jurusan seni bukannya guru atau perawat seperti yang bapak impikan.

Bapak punya cita – cita melihat anaknya memakai baju dinas PNS, namun aku memiliki pemikiran berbeda. Sejak kecil aku telah sangat jatuh cinta pada dunia seni, seni kriya khususnya. Saat orang lain akan kesal jika mendapat tugas seni budaya maka aku akan mengerjakannya dengan sepenuh hati bahkan tidak memiliki beban apa pun, seni itu indah dan unik.

Kembali lagi pada sebuah gallery yang menjadi tempat awal aku bertemu dengan mas Abyan, dikarenakan berbagai macam alasan di atas dimana ditarik sebuah kesimpulan bahwa orang tuaku punya cukup kesulitan untuk membiayai hidupku di kota Jakarta dan membuatku akhirnya berinisiatif menjadi karyawan magang pada galery kerajinan gerabah itu.

Dengan bantuan seorang teman sesama prodi, aku di kenalkan oleh Mbak Dewi, owner dari gallery kerajinan gerabah itu. Aku diberikan kepercayaan untuk menjadi pegawai magang pada galerynya sembari belajar mengenai seluk beluk dunia gerabah yang ternyata banyak sekali yang belum ku ketahui, sambil menyelam minum air pikirku kala itu.

Saat itu aku sedang melakukan tugas rutin, membersihkan segala debu yang mungkin menempel pada gerabah yang terpajang pada setiap rak. Mengelapnya satu persatu dengan sangat hati – hati agar tidak terjatuh dan pecah hingga..

~prangg, aku sempat sedikit melonjak karena terkaget, memeriksa segala gerabah yang berada di dekatku.

Semuanya aman, aku kembali memeriksa pada rak lain yang berada pada ujung gallery, dan benar saja kulihat sesosok laki – laki tengah memunguti pecahan gerabah dengan ditemani suara omelan dari sosok perempuan berpakaian formal itu.

Ada sedikit kelegaan di hati kala mengetahui jika bukan diriku lah penyebab suara pecahan tadi. Kulangkahkan kakiku mendekati dua sosok itu.

“Biar saya bantu kakak,” ucapku ramah membawa sebuah sapu dan serok sampah.

Laki – laki itu menolehkan tubuhnya memandangiku dari posisi jongkoknya, aku dapat melihatnya yang sempat terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berdiri.

Ku ambil alih pecahan gerabah itu dan dengan segera ku bersihkan semua tanpa tersisa.

“Maaf kak, sesuai peraturan yang ada di gallery pengunjung yang memecahkan barang harus mengganti rugi sebesar harga barangnya,” ucapku dengan seyum seramah mungkin.

Sosok perempuan yang setelah itu ku kenal sebagai mbak Arhesa nampak masih sangat jutek bahkan sama sekali tak tersenyum atau menunjukkan rasa bersalahnya karena telah menyebabkan salah satu gerabah berukuran besar itu pecah.

“Adik saya yang mecahin tadi, dia yang bakalan ganti,” jawabnya padaku sebelum akhirnya melengos pergi keluar gallery.

Meninggalkan ku bersama sosok lelaki yang akhirnya memperkenalkan dirinya padaku, “Perkenalkan nama ku Abyan,” ucapnya mengulurkan tangan padaku dengan senyuman lebar hingga membuat deretan giginya terlihat.

Tak ada yang tahu bahwa setelah perkenalan itu kami menjadi semakin intens hingga akhirnya menjalin hubungan setelah dua bulan masa pendekatan.

***

Juni 2017

Mataku mengerjap, memandangi atap plafon putih yang menjadi pemandangan pertama yang ku lihat saat itu. Tubuhku masih kaku dan terasa sakit, terdengar sebuah suara di sampingku, seperti suara mesin yang berbunyi teratur persis dengan detakan jantungku saat itu.

Ku coba untuk memandangi ruangan sekitar walaupun terharang dengan leherku yang sangat kaku dan sakit, ruangan itu kosong tak ada satu pun yang kulihat. Tidak ibuk, bapak, atau pun mas Abyan di mana waktu itu suaranya adalah suara terakhir yang ku dengar sebelum semuanya kembali sunyi.

Beberapa saat terjebak pada ruangan sunyi itu hingga akhirnya aku mendegar suara pintu terbuka, dan tak lama sosok perempuan datang dengan wajah yang sulit ku deskripsikan, antara senang, sedih atau terharu, entahlah aku tidak begitu yakin.

“Pak, buk, mbak Dira sudah bangun,” serunya segera berlari keluar dari pintu kembali meninggalkanku sendiri di ruangan sunyi itu.

Dia adalah Syifa, adikku yang seharusnya masih berada di Jogja dan menjalani masa terakhir sekolah menengah pertamanya itu.

“Ya Allah nduk, alhamdulillah,” ku dengar kembali suara itu, suara yang sangat kurindukan, ibuk.

Ibuk menghamburkan pelukannya pada tubuh kakuku itu, menangis sejadi – jadinya hingga aku bisa merasakan bahuku yang basah karena air matanya.

“Alhamdulillah, Alhamdulillah,” kudengar juga suara lain, suara bapak penuh syukur meskipun terdengar getaran di dalamnya.

“Apa bapak juga menangis?” pikirku.

Tubuh ibu berangkat dari tubuh kakuku saat sosok lelaki paruh baya dengan jas putihnya serta dua orang perawat dengan seragam birunya memasuki ruangan itu lalu mengambil alih posisi ibu.

Dokter itu melebarkan kelopak mataku dengan jarinya lalu mengangkat sebuah benda kecil seperti senter hingga membuatku berkedip cepat karena masih belum cukup siap menerima sinar seterang itu.

“Pasien sudah melewati kondisi vegetatifnya, setelah ini kita bisa segera melakukan kraniotomi,” ucapnya samar – samar masih dapat di tangkap oleh daun telingaku.

Aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapnnya itu, kratomi, kranitomi atau apalah itu aku sama sekali tidak mengerti.

Saat sang dokter akan menjelaskan itu pada bapak dan ibu aku merasakan sebuah sengatan kecil pada tanganku saat salah satu dari perawat itu menyuntikkan sebuah cairan melalui jarum infus, dan tak lama kembali membuat kedua mataku berat.

Sebelum aku bisa mendengarkan penjelasan dari sang dokter semuanya telah kembali gelap dan sunyi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED