“Maaf aku gak bisa datang ke sana, kalau diantar ke rumah sakit saja bisa gak?”
Kubaca sebuah pesan yang baru saja masuk dalam ponselku itu, sebuah pesan yang sudah dapat ku tebak sejak beberapa jam yang lalu.
Dia adalah mas Abyan, pacar yang sejak dua bulan lalu telah berganti status menjadi tunangan sejak ia memboyong keluarganya untuk melamarku. Seorang sarjana kedokteran yang tengah berjuang dalam masa koasnya di sebuah rumah sakit agar dapat mendapatkan sebuah title dua huruf di depan namanya itu.
Koas atau lebih kerennya sering dipanggil dakter muda oleh para perawat, tunanganku itu memang memiliki jadwal jaga yang begitu padat, maklum saja sebelum title itu benar – benar tersemat di depan nama, seorang dokter memang harus digempur habis – habisan untuk meningkatkan kopentensi serta ke tangkasan dalam setiap bertindak menangani setiap pasien.
Ku masukkan sayur sop yang sudah ku siapkan di sebuah wadah itu ke dalam sebuah tempat kedap udara yang nantinya akan ku bawa menuju rumah sakit agar mas Abyan dapat memakannya pada waktu istirahatnya nanti, selama beberapa hari ini tunanganku itu memang tidak pernah sempat untuk datang berkunjung ke kosanku yang berada tak jauh dari rumah sakit.
Jangan berpikiran negative dulu, kosan khusus perempuan yang telah kutinggali sejak pertama datang ke Jakarta untuk menjadi mahasiswa baru ini cukup ketat penjagaannya, namun juga memberikan fasilitas yang sangat baik, ibu kosan sengaja memberikan sebuah space khusus di depan untuk memudahkan para penghuni kos bila sedang kedatangan tamu lawan jenis namun tetap harus mematuhi peraturan yang berlaku yaitu tidak boleh melebihi batas jam malam dan tidak boleh bertindak asusila.
Kututup rapat wadah berisi sop sayur itu tak lupa juga membawakan nasi yang ku letakkan di wadah lainnya sebelum ku masukkan keduanya ke dalam tas kain yang sengaja ku beli pada saat berbelanja di sebuah supermarket.
Dengan memanfaatkan keberadaan ojek online aku dapat sampai di rumah sakit tanpa membutuhkan waktu yang lama, ku tatap bangunan rumah sakit dua lantai dengan gedung yang sangat besar itu. Hatiku selalu berdesir saat memandanginya, ahh betapa bangganya aku pada calon suamiku itu.
Kakiku melangkah menuju sebuah taman kecil yang berada di tengah – tengah gedung rumah sakit, sebuah taman yang biasanya dimanfaatkan oleh para keluarga yang ingin mencari udara segar setelah seharian menunggu sang keluarga yang sakit di dalam ruangan.
Belum sempat kakiku melangkah menuju sebuah kursi kosong yang menjadi incaranku saat mataku tak sengaja melihat sosok lelaki dengan jas putihnya tengah asik mengobrol dengan seorang perempuan berbaju pink, baju khusus untuk para psien rumah sakit itu.
Mataku memincing, memastikan jika sosok yang kulihat itu memang orang yang saat ini sedang ingin ku temui. Dan benar saja, dia adalah mas Abyan yang sedang mengobrol dengan sosok perempuan yang dapat aku tebak jika itu adalah Nada.
Nada gadis manis yang selama beberapa bulan ini sering diceritakan oleh mas Abyan padaku, sosok gadis manis yang sedang berjuang melawan kanker darah atau lebih sering di sebut dengan Leukimia. Mas Abyan sangat terbuka denganku, dia selalu menceritakan apa saja yang terjadi di rumah sakit temasuk pertemuannya dengan sosok gadis bernama Nada itu.
Aku dapat melihat senyum merekah yang terbit pada wajah pucat gadis itu, senyum yang sangat manis cukup memberi warna sendiri di wajah pucat dan bibir keringnya.
Dan satu hal yang saat itu membuatku semakin menguatkan apa yang selama ini ku artikan dari setiap cerita – ceita yang keluar dari bibir mas Abyan dan dalam beberapa kali kesempatan aku melihatnya melihatnya sendiri dari jarak pandang yang cukup dekat meskipun tidak pernah berkenalan secara langsung.
“Gadis itu tak hanya menganggapnya sebagai dokter,” gumamku.
Ku lihat mas Abyan yang nampak sesekali melirik pada ponselnya lalu kembali berbicara pada gadis itu sebelum akhirnya kembali memasuki koridor rumah sakit meninggalkan gadis itu sendiri yang terus menatap kepergiannya tanpa berpindah seinci pun dari tempatnya berdiri.
Ku putuskan untuk mendekatinya, baiklah sepertinya aku memang perlu mengenalkan diri padanya, pikirku saat itu.
“Selamat siang, Nada,” sapaku membuatnya segera memalingkan pandangannya pada punggung mas Abyan yang sudah menghilang di balik tembok.
Gadis itu menatapku dengan pandangan penuh selidik dan wajah yang begitu datar, aku tersenyum kecil mengingat kembali bagaimana mas Abyan bercerita saat kali pertama bertemu gadis ini, dia memang begitu datar dan terkesan sangat jutek pada setiap orang yang baru ditemuinya, namun satu yang aku ketahui dari mas Abyan bahwa gadis ini sangat baik.
“Perkenalkan saya Nadira,” ucapku lagi sembari mengulurkan tangan padanya terlihat dia masih menatapku dengan pandangan datarnya namun kemudian mulai mengangkat tangannya dan membalas uluran tangan dariku.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” adalah pertanyaan pertama yang keluar dari bibir pucatnya.
Aku menggeleng pelan, “Tidak,” jawabku.
Kulihat dahinya berkerut, “Dari mana kakak tau namaku?” tanyanya lagi.
“Aku mengenalmu dari dokter Abyan,” jawabku lagi dan sontak membuat mimik wajahnya menjadi tidak sedatar tadi, ada sedikit lengkungan kecil dari kedua sudut bibirnya kala aku menyebut nama mas Abyan.
“Dokter bercerita tentangku?” tanyanya dengan sedikit rona merah yang muncul di pipi pucatnya.
Aku kembali mengangguk, “Iya, dokter Abyan sering bercerita tentangmu.”
Dia kembali menatapku, “Tapi kakak siapanya dokter Abyan?”
Aku tersenyum, dalam hati aku bersorak sorai. Ini adalah moment yang sangat ku tunggu dimana dia menanyakan siapakah gerangan diriku yang selalu menjadi wadah seorang Abyan untuk bercerita.
“Aku tunangan dokter Abyan,” jawabku dengan senyum termanis diwajah, dan dapat kulihat wajahnya menjadi sedikit tegang sorot matanya mulai tak fokus dan sesekali menatap objek lain, ku tebak jika sekarang gadis ini pasti sangatlah terkejut.
“Dokter Abyan punya tunangan?” tanyanya seakan tak percaya.
Aku mengangguk lagi, “Iya,” jawabku sembari membuat sedikit gerakan kecil pada tanganku agar dia melihat sebuah cincin emas yang melingkar pada jari manisku, cincin emas pemberian dari mama mas Abyan, calon ibu mertuaku.
“Aku tak tau jika dokter Abyan punya tunangan,” ucapnya pelan dengan tubuh yang sepertinya mulai bergetar.
“Sekarang sudah tahu,” gumamku pelan.
“Aku permisi dulu, senang dapat bertemu denganmu,” ucapku hendak pergi dari hadapannya saat kembali terdengar suara dari bibirnya, “Tapi dokter tidak memakai cincin di jarinya? Apa kau membohongiku?” ucapnya dengan penuh selidik, dapat kulihat kilat kemarahan di matanya.
Aku menghela napas pelan dan tersenyum kecil, “Dokter memang tidak memakai cincinnya karena jika dia memakainya maka itu akan cukup merepotkan pekerjaanya, aku tidak pernah memiliki niat untuk membohongimu, karena kami memang telah bertunangan,” jawabku dengan tenang mencoba untuk tak ikut tersulut.
Gadis itu kembali terlihat tak fokus, kulihat tangannya yang bergetar sembari memainkan kukunya.
“Kalau begitu bolehkah ku pinjam dokter Abyan untuk sementara waktu,” ucapnya lirih hampir tak dapat ku dengar, namun beruntunglah karena saat itu suasana taman masih cukup sepi dan telingaku masih sanggup untuk menangkap suara lirih yang keluar dari bibir pucatnya.
“Maaf kan aku, tapi dokter Abyan bukan barang yang bisa ku pinjamkan,” jawabku masih dengan nada yang sangat tenang
Wajahnya mendongak menatapku dengan mata memelas, “Tapi kakak masih sangat sehat, izinkan aku meminjamnya untuk sementara waktu, umurku sudah tidak lama lagi,” ucapnya dengan sangat bersungguh – sungguh bahkan kedua bola matanya sudah digenangi oleh air mata yang siap jatuh kapan saja.
Dan aku masih tetap tenang, meskipun hati ini sudah begitu bergemuruh namun senyum di wajahku masih belum memudar, “Apa kamu tuhan sampai bisa memprediksi berapa umurmu? Kita hanya manusia biasa, tidak ada yang tau berapa lama umur kita yang di berikan oleh yang maha kuasa, jadi jangan mudah mengucapkan kata – kata seperti tadi.” Jelasku.
Lalu aku kembali melangkah mendekatinya, “Dan kalau pun aku meminjamkannya, apakah ada jaminan jika umurmu memang hanya tinggal sementara? Bagaimana jika ternyata Allah berkehendak yang lain lalu kamu sembuh, apa kamu akan mengembalikannya?” lanjutku menatapnya dalam dan menghilangkan gurat senyuman dalam wajahku.
Tubuhnya sedikit oleng sesaat namun dia masih bisa mempertahankan tubuhnya hingga tidak jatuh, “Aku leukimia stadium empat,” jawabnya tanpa ragu padaku.
Aku menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, menatap suasana sekitar taman yang masih sepi hingga detik itu lalu kembali menatapnya, “Baiklah, asalkan kamu bisa bertahan tanpa satu pun asupan pil – pil dan cairan lainnya dalam satu kali dua puluh empat jam.” Jawabku sembari melirik tangan kirinya yang masih ditutupi oleh sebuah plester, bekas jarum infus.
Setelah mengucapkan itu aku segera berlalu dari hadapannya menuju kantin rumah sakit, niatku untuk menunggu mas Abyan di taman musnah sudah setelah pertemuanku dengan gadis itu. Dadaku masih sangat bergemuruh, mengingat bagaimana gadis itu dengan sangat mudah memintaku untuk menyerahkan mas Abyan padanya.
“Memangnya mas Abyan itu barang apa,” gerutuku masih tak habis pikir.
Aku duduk pada sebuah bangku kantin dan meletakkan tas berisi makanan itu di atas meja kantin, ku ambil ponselku dan segera mengirimkan pesan pada mas Abyan, mengabarkan jika sekarang aku sudah berada di rumah sakit dan menunggunya pada area kantin.
Hingga lebih dari tiga puluh menit aku menunggu di kantin namun mas Abyan belum juga muncul bahkan pesanku pun tidak di balas olehnya, sesekali ku lirik suasana kantin yang tidak begitu ramai itu. Hanya terdapat beberapa orang yang sepertinya tengah mengambil waktu untuk melepaskan kantuk dengan memesan kopi dan menghisap rokok karena hanya di kantin ini lah orang dapat bebas merokok, alias rokok area.
Tak lama ku lihat sosok yang sudah sedari tadi ku tunggu, kedua sudut bibirku tertarik ke atas saat melihatnya. Sosok lelaki dengan tinggi 175 cm itu berjalan dengan cukup tergesa sorot matanya sangat berbeda dengan biasanya, jas putih kebanggaannya nampak melambai – lambai terkena sapuan angin.
“Apa ada pasien darurat lagi? hampir satu jam aku nunggu disini,” ucapku saat mas Abyan telah berdiri di hadapanku.
Satu hal yang sangat berbeda dan membuatku begitu gugup waktu itu, sorot mas Abyan benar – benar tajam seakan menghunusku. Aku berdiri dari kursi yang sedari tadi ku duduki, “Kenapa mas?” tanyaku perlahan.
“Kamu ketemu Nada tadi?” tanyanya dengan cukup serius tanpa mengendurkan tatapan tajamnya padaku.
Aku mengangguk, “Iya, tadi aku ketemu Nada di area taman,” jawabku jujur.
Rahangnya mengeras, deru napasnya juga terdengar begitu cepat membuatku merasa jika memang ada yang sedang tidak beres saat ini. Dan seketika ingatanku kembali dengan percakapanku bersama Nada tadi.
“Apa dia mengadu dengan mas Abyan?” pikirku dalam hati.
“Kau pikir kau siapa sampai menyuruhnya untuk tidak mengkonsumsi obat hah?” tanya Mas Abyan begitu tajam padaku, hatiku berdesir melihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh mas Abyan saat itu, ini adalah kali pertamanya menatapku dengan mata setajam itu.
“Aku tidak bermaksud begitu, dia yang lebih dulu memintaku memberikan mas Abyan padanya, sungguh buka..,”
“Dia pasienku, Nadira,” selanya dengan cepat bahkan sebelum aku selesai menjelaskan secara lengkap padanya.
Hatiku kembali mencelos, untuk pertama kalinya setelah bertahun – tahun menjalin hubungan dengan mas Abyan dia kembali memanggilku dengan nama, bukan Dee atau panggilan sayang lainnya.
Lidahku kelu tak tau harus mengucapkan apa, “Kalau kau masih cemburu dengan pasienku lagi jangan berharap bisa menjadi istri dari seorang dokter Nadira.” Lanjutnya.
Aku tertunduk, “Kau tau, hari ini Nada memiliki jadwal untuk kemo tapi karena ucapan tidak masuk akal darimu itu dia menolak semua treatment yang harus dilaluinya hari ini, dan membuang semua obat – obatannya ke dalam kloset. Dimana hati nuranimu Nadira?”
Aku masih diam, dengan tubuh yang mulai bergetar, lalu ku dengar sebuah helaan napas berat dari mas Abyan, “Pulanglah, aku masih harus kembali bertugas.”
Dan saat itu entah bagaimana mulutku dengan tidak tau dirinya masih menawarkan makanan yang sempat ku buatkan padanya hingga kemudian mendapatkan kembali jawaban yang semakin membuat hatiku sakit, “Bawa pulang saja, aku tidak punya napsu untuk makan.”
“Dan satu lagi, kalau kamu memang mau mendapatkan perhatian lebih dari seorang dokter kamu harus jadi pasien terlebih dahulu,” ucapnya mengakhiri pertemuan kami hari itu meninggalkanku yang masih terdiam dengan tubuh yang bergetar.
Ku ambil kembali tas berisi makanan yang tadi kubawa lalu segera pergi dari area kantin itu. Dengan tangan yang masih bergetar ku pesan sebuah ojek online dari aplikasi yang ada pada ponselku, tak butuh waktu lama seorang pengendara motor dengan atribut lengkap khas berwarna hijau menghampiriku di depan lobby rumah sakit.
Dengan tangan yang mulai dingin dan dada yang bergemuruh cepat itu aku duduk di belakang seorang driver yang sudah cukup berumur itu, meskipun sedang tidak begitu fokus namun aku masih bisa melihat bagaimana tangan sang bapak yang terlihat sedikit kesusahan menyeimbangkan motornya. Mungkin karena sudah tidak muda lagi, pikirku saat itu, apalagi cuaca yang panas dan kondisi jalanan yang cukup padat.
Dan semua terjadi begitu cepat, saat motor yang ku tumpangi itu mencoba menyalip sebuah mobil dari sisi kanan,namun ternyata perhitungan sang driver tidak tepat karena ternyata ada sebuah mobil truk yang melaju pada arah berlawanan itu dan membuat pak driver tua itu terkejut lalu membanting setangnya ke sisi kiri.
Tubuhku terpental dengan cukup keras karena dari arah belakang ada sebuah mobil yang tadi kami salip juga tidak dapat mengendalikan lajunya saat motor yang kami tumpangi tiba – tiba masuk dalam lajurnya dan menabrak motor yang kutumpangi. Tubuhku seakan terlempar ke atas sebelum kemudian jatuh dengan keras pada aspal jalanan ramai itu, kurasakan benturan hebat pada helm yang kukenakan, kepalaku berndenyut hebat dan dapat ku tebak helm itu pasti telah pecah.
Belum lama tubuhku merasakan sakit pada aspal panas saat kurasakan lagi sakit yang lebih hebat pada tubuh bagian bawahku, lebih tepatnya pada bagian kaki lalu terdengar bunyi decitan nyaring setelahnya.
Dan setelah itu pandanganku mengabur, bersamaan dengan bau anyir yang mulai ku cium memenuhi kepalaku.
Telingaku berdenging, semuanya terasa sakit terutama pada bagian kepala dan kakiku. Sayup – sayup ku dengar suara lantunan ayat – ayat al quran di dekat telingaku, pelan namun begitu menyayat hati.
Aku kenal suara itu, suara terindah dari semua suara yang pernah ku dengar selama masa hidupku.
Dia ibuku, dari suara sayup – sayup itu aku dapat menenbak jika saat ini ibuk pasti tengah membacakan surah – surah al qur’an dengan lelehan air mata di pipinya. Suaranya terkadang juga tersendat dan berhenti sesaat untuk mengambil napas atau sekedar menghapus isakannya.
Ahh, aku sangat rindu ibuk. Kalau tidak salah kali terakhir aku bertemu dengannya adalah dua bulan yang lalu, saat aku pulang ke Jogja dan mengabari orang tuaku jika mas Abyan akan datang ke rumah membawa ikut serta kedua orang tuanya.
Hari itu saat aku mengatakan pada bapak dan ibuk tentang niatan baik yang akan dilaksanakan oleh mas Abyan aku merasakan ada sorot mata lain dari keduanya, seolah ada sesuatu yang begitu mengganjal pada kedua hati mereka hingga tak dapat bereaksi sebahagia yang aku lakukan.
Reaksi yang sama seperti saat mereka diundang oleh keluarga mas Abyan untuk datang pada acara keluarga mereka, hari itu tiba – tiba bapak dan ibuk menjadi tidak sepercaya diri seperti sebelumnya, dan aku juga sangat tau apa penyebabnya.
Tidak, bukan karena keluarga mas Abyan yang tidak memperlakukan ibuk dan bapak dengan baik. Tapi justru karena mereka mendapatkan perlakuan yang begitu sangat baik, sama seperti orang tua yang lain, dimana mereka pasti akan sangat bangga saat mengetahui jika anaknya mendapatkan calon pasangan dari keluarga yang baik – baik, pendidikan yang baik, dan agama yang baik.
Namun ternyata hari itu juga bapak dan ibuk merasakan bagaimana ketimpangan antara dua keluarga kami, siapa yang tidak mau memiliki menantu seorang dokter? Tentu saja orang tuaku juga menginginkan itu. Tapi mulai dari hari itu mereka sadar jika kami memiliki perbedaan yang sangat besar, bapak dan ibuk hanyalah seorang petani di Jogja, tidak memiliki riwayat pendidikan yang tinggi.
Bapak lulusan SD, sementara ibukku dapat sedikit berbangga diri karena sempat mengenyam Pendidikan hingga sekolah menengah pertama meskipun harus berlapang dada dan berhenti pada saat kenaikan kelas tiga.
Sementara itu mama dan papa mas Abyan adalah dua orang yang memiliki riwayat pendidikan yang tinggi, mama mas Abyan adalah seorang mantan perawat di sebuah rumah sakit namun berhenti dari profesinya saat melahirkan anak kedua, dan papa mas Abyan adalah seorang pegawai negeri pada kementrian keuangan, anak pertama mereka yaitu mbak Arhesa lulusan S2 bisnis dan sekarang telah mengajar sebagai seorang dosen pada salah satu perguruan tinggi di kota Jakarta, dan yang terakhir mas Abyan yang saat ini masih berjuang menjalani masa koasnya.
Itu baru perbedaan mendasar dari kedua keluarga kami. Aku masih mengingat bagaimana ibuk dan bapak yang begitu senang karena keluarga mas Abyan mengundang mereka untuk datang ke Jakarta menghadiri acara keluarga yang diadakan setiap tiga bulan sekali itu.
Dengan bermodalkan mobil sateran dari tetangga di kampung plus sang sopir, pakde Bowo yang juga pemilik mobil, bapak, ibuk serta Syifa adikku melewati jalan panjang serta memakan waktu berjam – jam hingga sampai di Jakarta. Meskipun aku telah melarang mereka dan mengusulkan untuk menaiki kereta saja namun bapak dan ibu kekeh untuk menyater mobil.
Aku masih ingat yang dikatakan oleh bapak waktu aku menelponnya kala itu, “Kan mau bawa banyak oleh – oleh, moso (masa) mau naik kereta. Repot no,” ucapnya dengan penuh semangat.
Aku memakluminya, waktu itu mungkin bapak dan ibuk tidak membayangkan bahwa calon besannya itu ternyata bukanlah seperti para tetangga – tetangganya di Jogja yang kebanyakan adalah seorang petani atau paling banter yang mereka anggap “Kaya” adalah pasangan guru, pak Narto dan ibu Dwi yang merupakan guru di sekolah madrasah dekat kampung kami.
Awal dari menurunnya kepercayaan diri mereka adalah saat mobil Avanza sateran mereka berhenti pada sebuah rumah dengan pagar menjulang tinggi hingga orang lain hampir tak dapat melihat bangunan rumah di dalamnya itu. Bapak dan ibuk seolah terdiam menatap rumah dengan barisan mobil – mobil mengkilap di depannya, dan semakin merunduk saat sang tuan rumah menyambut kedatangan mereka.
Mama dan papa mas Abyan keluar dari rumah menyambut langsung kedatangan bapak dan ibu yang tengah sibuk menurunkan berbagai macam “oleh – oleh” yang mereka bawa dibantu dengan pakde Bowo. “Oleh – oleh” berupa sekarung beras, satu tandan pisang dan beberapa makanan ringan khas Jogja, tipikel orang desa yang selalu tidak pernah lupa membawa buah tangan hasil bumi mereka saat pergi bertamu.
Aku juga masih sangat ingat bagaimana para saudara dan kerabat mas Abyan yang nampak memandangi kedatangan bapak dan ibuk. Mereka terheran dengan semua barang – barang yang dibawa oleh bapak dan ibu, seolah bertanya – tanya untuk apa datang jauh – jauh hanya untuk membawa barang – barang yang bahkan dapat di beli oleh mama dan papa mas Abyan dengan mudah itu.
Berbeda dengan tanggapan kerabat yang masih sedikit tidak ramah itu, mama papa mas Abyan mbak Arhesa dan bahkan mas Abyan sendiri sangat baik serta ramah pada bapak dan ibuk, mereka berusaha untuk selalu melayani dengan baik bahkan selalu melibatkan bapak, ibuk dan pakde Bowo dalam setiap obrolan kala orang – orang lainnya mulai berusaha untuk menjauhi.
Baju mewah, perhiasan mahal, hingga topik pembicaraan, semuanya membuat bapak dan ibuk semakin berkecil hati dan merasa jika mereka memang sangat tidak pantas berada di dalam lingkungan itu, hal yang lebih membuat para kerabat mas Abyan mencibir adalah saat dimana ibuk jauh lebih akrab dengan mbok Sri, wanita tua yang sudah menjadi pembantu rumah itu sejak mas Abyan memasuki sekolah dasar.
Rencana menginap yang dijadwalkan menjadi berubah setelah kedatangan mereka di Jakarta, pada malam harinya bapak memutuskan untuk langsung kembali ke Jogja tanpa menginap terlebih dahulu, padahal papa dan mama mas Abyan telah menyiapkan sebuah kamar.
Setelah hari itu, bapak tidak pernah lagi menanyakan tentang mas Abyan atau hubungan kami pada saat setiap aku menelponnya. Bapak lebih memilih untuk menanyakan tentang perkembangan skripsiku dan rencana jangka panjang tentang pekerjaan yang ingin aku jalani setelah lulus kuliah.
Hari berganti hingga aku berhasil menyelesaikan pendidikanku, dan lulus sebagai sarjana seni kriya dari salah satu universitas negeri di Jakarta itu, kelulusanku yang semakin memantapkan mas Abyan untuk mengikatku sebelum menikahiku saat dirinya telah berhasil mendapatkan gelar dr. di depan namanya nanti.
“Dee,”
Memori otakku berhenti berputar mengingat kilasan masa laluku, saat suara itu terdengar di samping telinga kananku. Meski masih samar namun aku sangat mengenalnya. Hanya satu orang yang selama ini memanggilku dengan sebutan itu, mas Abyan.
“Sekarang aku disini Dee, di sampingmu.”
Pandanganku masih gelap, tubuhku pun masih kaku tak dapat bergerak barang seinci pun bahkan untuk menggerakkan ujung jariku pun aku tak sanggup, tapi telinga ini masih berfungsi dengan cukup baik.
Aku sangat ingin membuka mata, mengerahkan segala tenagaku hingga kurasakan lagi sebuah aliran hebat pada kepalaku dan membuat telingaku kembali berdenging nyaring lalu sunyi.
Hampa dan gelap.
Juni 2013
Awal pertemuan kami terjadi pada sebuah gallery kerajinan gerabah yang berada pada daerah Jakarta selatan.
Saat itu aku masih terhitung sebagai seorang mahasiswa baru semester dua, seorang mahasiswa yang masih begitu lugu namun sudah memiliki beban yang cukup berat di pundaknya.
Hasil tani kedua orang tuaku sedang tidak bagus kala itu, berhektar – hektar sawah pada desaku terkena serangan hama tikus hingga membuat banyaknya petani yang merugi karena hasil panen yang tidak sebagus dan sebanyak biasanya, bapak dan ibukku adalah salah satunya.
Meskipun biaya kuliahku sudah mendapatkan cukup banyak potongan karena aku adalah salah satu mahasiswa yang masuk memalui jalur prestasi berkat puluhan sertifikat yang kudapatkan sejak saat sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas.
Sertifikat yang awal mulanya sempat dianggap tidak berguna oleh bapak, waktu itu beliau berpikir apa yang bisa dibanggakan dari sertifikat hasil lomba menganyam, menenun, hingga membatik itu. Saat itu baik bapak dan ibuk masih belum mengerti bagaimana tingginya nilai dari sebuah seni hingga aku harus bersitegang pada bapak selama satu minggu lebih karena memilih untuk mengambil jurusan seni bukannya guru atau perawat seperti yang bapak impikan.
Bapak punya cita – cita melihat anaknya memakai baju dinas PNS, namun aku memiliki pemikiran berbeda. Sejak kecil aku telah sangat jatuh cinta pada dunia seni, seni kriya khususnya. Saat orang lain akan kesal jika mendapat tugas seni budaya maka aku akan mengerjakannya dengan sepenuh hati bahkan tidak memiliki beban apa pun, seni itu indah dan unik.
Kembali lagi pada sebuah gallery yang menjadi tempat awal aku bertemu dengan mas Abyan, dikarenakan berbagai macam alasan di atas dimana ditarik sebuah kesimpulan bahwa orang tuaku punya cukup kesulitan untuk membiayai hidupku di kota Jakarta dan membuatku akhirnya berinisiatif menjadi karyawan magang pada galery kerajinan gerabah itu.
Dengan bantuan seorang teman sesama prodi, aku di kenalkan oleh Mbak Dewi, owner dari gallery kerajinan gerabah itu. Aku diberikan kepercayaan untuk menjadi pegawai magang pada galerynya sembari belajar mengenai seluk beluk dunia gerabah yang ternyata banyak sekali yang belum ku ketahui, sambil menyelam minum air pikirku kala itu.
Saat itu aku sedang melakukan tugas rutin, membersihkan segala debu yang mungkin menempel pada gerabah yang terpajang pada setiap rak. Mengelapnya satu persatu dengan sangat hati – hati agar tidak terjatuh dan pecah hingga..
~prangg, aku sempat sedikit melonjak karena terkaget, memeriksa segala gerabah yang berada di dekatku.
Semuanya aman, aku kembali memeriksa pada rak lain yang berada pada ujung gallery, dan benar saja kulihat sesosok laki – laki tengah memunguti pecahan gerabah dengan ditemani suara omelan dari sosok perempuan berpakaian formal itu.
Ada sedikit kelegaan di hati kala mengetahui jika bukan diriku lah penyebab suara pecahan tadi. Kulangkahkan kakiku mendekati dua sosok itu.
“Biar saya bantu kakak,” ucapku ramah membawa sebuah sapu dan serok sampah.
Laki – laki itu menolehkan tubuhnya memandangiku dari posisi jongkoknya, aku dapat melihatnya yang sempat terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berdiri.
Ku ambil alih pecahan gerabah itu dan dengan segera ku bersihkan semua tanpa tersisa.
“Maaf kak, sesuai peraturan yang ada di gallery pengunjung yang memecahkan barang harus mengganti rugi sebesar harga barangnya,” ucapku dengan seyum seramah mungkin.
Sosok perempuan yang setelah itu ku kenal sebagai mbak Arhesa nampak masih sangat jutek bahkan sama sekali tak tersenyum atau menunjukkan rasa bersalahnya karena telah menyebabkan salah satu gerabah berukuran besar itu pecah.
“Adik saya yang mecahin tadi, dia yang bakalan ganti,” jawabnya padaku sebelum akhirnya melengos pergi keluar gallery.
Meninggalkan ku bersama sosok lelaki yang akhirnya memperkenalkan dirinya padaku, “Perkenalkan nama ku Abyan,” ucapnya mengulurkan tangan padaku dengan senyuman lebar hingga membuat deretan giginya terlihat.
Tak ada yang tahu bahwa setelah perkenalan itu kami menjadi semakin intens hingga akhirnya menjalin hubungan setelah dua bulan masa pendekatan.
***
Juni 2017
Mataku mengerjap, memandangi atap plafon putih yang menjadi pemandangan pertama yang ku lihat saat itu. Tubuhku masih kaku dan terasa sakit, terdengar sebuah suara di sampingku, seperti suara mesin yang berbunyi teratur persis dengan detakan jantungku saat itu.
Ku coba untuk memandangi ruangan sekitar walaupun terharang dengan leherku yang sangat kaku dan sakit, ruangan itu kosong tak ada satu pun yang kulihat. Tidak ibuk, bapak, atau pun mas Abyan di mana waktu itu suaranya adalah suara terakhir yang ku dengar sebelum semuanya kembali sunyi.
Beberapa saat terjebak pada ruangan sunyi itu hingga akhirnya aku mendegar suara pintu terbuka, dan tak lama sosok perempuan datang dengan wajah yang sulit ku deskripsikan, antara senang, sedih atau terharu, entahlah aku tidak begitu yakin.
“Pak, buk, mbak Dira sudah bangun,” serunya segera berlari keluar dari pintu kembali meninggalkanku sendiri di ruangan sunyi itu.
Dia adalah Syifa, adikku yang seharusnya masih berada di Jogja dan menjalani masa terakhir sekolah menengah pertamanya itu.
“Ya Allah nduk, alhamdulillah,” ku dengar kembali suara itu, suara yang sangat kurindukan, ibuk.
Ibuk menghamburkan pelukannya pada tubuh kakuku itu, menangis sejadi – jadinya hingga aku bisa merasakan bahuku yang basah karena air matanya.
“Alhamdulillah, Alhamdulillah,” kudengar juga suara lain, suara bapak penuh syukur meskipun terdengar getaran di dalamnya.
“Apa bapak juga menangis?” pikirku.
Tubuh ibu berangkat dari tubuh kakuku saat sosok lelaki paruh baya dengan jas putihnya serta dua orang perawat dengan seragam birunya memasuki ruangan itu lalu mengambil alih posisi ibu.
Dokter itu melebarkan kelopak mataku dengan jarinya lalu mengangkat sebuah benda kecil seperti senter hingga membuatku berkedip cepat karena masih belum cukup siap menerima sinar seterang itu.
“Pasien sudah melewati kondisi vegetatifnya, setelah ini kita bisa segera melakukan kraniotomi,” ucapnya samar – samar masih dapat di tangkap oleh daun telingaku.
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapnnya itu, kratomi, kranitomi atau apalah itu aku sama sekali tidak mengerti.
Saat sang dokter akan menjelaskan itu pada bapak dan ibu aku merasakan sebuah sengatan kecil pada tanganku saat salah satu dari perawat itu menyuntikkan sebuah cairan melalui jarum infus, dan tak lama kembali membuat kedua mataku berat.
Sebelum aku bisa mendengarkan penjelasan dari sang dokter semuanya telah kembali gelap dan sunyi.