Ubud,
Hanyalah pemadangan sawah bertingkat-tingkat yang indah dan deru skuter tua yang seolah tak mau lagi hidup yang menyusur di tengahnya. Matahari bersinar tinggi di langit biru tanpa awan, menyisakan silau di balik kacamata hitam Ava yang bundar besar.
Skuter yang ditumpangi Ava berjalan perlahan melewati jalan kecil berkelok di tengah persawahan, mereka sedikit melambat saat melewati sekumpulan orang berpȧkȧïȧn hitam-hitam di jalan itu.
"Bli, Bli Kadek, ada apa ini ramai-ramai?" Pemuda dengan brewok tebal itu menepuk pundak orang yang duduk di depannya.
Kadek namanya, ia adalah kakak kelas Ava waktu kuliah di Institut Seni di Jogja. Kadek ini pula yang menawari Ava pekerjaan di tempat seorang seniman terkenal di kampungnya, setelah Ava lulus bulan lalu.
"Oh, ini ada pengabenan," Kadek menyahut tanpa menoleh.
Kadek menganggukkan kepala kepada orang-orang itu, sekedar sopan santun saat melewati rombongan mereka. Aroma dupa dan alunan tetabuhan yang terdengar asing membuat bülü kuduk Ava merinding. Ava melirik ke arah patung lembu hitam yang diusung dan orang-orang berjalan dengan wajah murung.
Sebüȧh upacara pemakaman.
Ava menghela nafas. Mendȧdȧk dȧdȧnya dipenuhi dengan rasa takut yang purba. Pemuda itu tercenung lama, sampai akhirnya skuter mereka menjauhi rombongan itu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di sebüȧh villa yang indah. Villa itu terletak di pinggir jurang yang menjorok ke sungai. Skuter mereka melewati candi bentar berukir dan memasuki halaman yang dipenuhi oleh tanaman tropis yang eksotis.
Kadek memarkir motor. Di halaman ada seorang laki-laki paruh baya berbadan subur sedang mengelus-elus ayam jago.
"Ajik, siapa yang di-aben?" tanya Kadek kepada orang itu.
"Oh, Pekak Gedang, dari banjar sebelah."
Kadek manggut-manggut, lalu meletakkan helmnya di bale-bale.
[Ajik = Bapak]
Pak De namanya. Pada awalnya Ava juga bingung, kenapa orang Bali sepertinya dipanggil Pak De, mungkin nama aslinya Pak Made, Pak Dewa, atau Pak Gede. Tapi cukup Pak De saja, itulah nama seniman yang digunakannya. Nama yang terkenal sampai ke luar negeri sebagai pelukis aliran realisme yang berpengaruh.
Ava ditawari Kadek untuk 'berguru' pada seniman yang kebetulan satu kampung dengannya. Sebagai gantinya, selama beberapa tahun Ava akan 'ngayah' di tempat itu; mengabdi tanpa pamrih kepada keluarga Pak De, dan selama itu pula Sang Maestro akan menurunkan ilmu yang dimiliki kepada Sang Murid. Jika beruntung karya-karya Ava akan ikut diorbitkan ke galer-galeri terkenal di Jakarta, bahkan ke tingkat Internasional, seperti murid-murid beliau terdahulu.
"Saya Ava." Ava menjulurkan tangannya ke arah orang itu, tampak canggung di depan tokoh yang diseganinya.
"Hahaha.. berbeda jauh seperti bayangan saya, saya Gede, ah panggil saja Pak De, Hahaha... Ah, maaf tangan saya kotor."
"Memang seperti apa bayangan bapak?"
"Ava Devine? Ava Lauren?"
"Hahahaha" Ava tertawa, tahu siapa yang dimaksud -pemain film panas-, "Bukan, Saya Mustava Ibrȧhïm..."
"Ah, ayahmu pasti penggemar Queen."
"Benar."
Suasana langsung cair, ternyata Pak De sangat humoris meskipun ia memiliki brewok lebat dan rambut panjang yang diikat ke belakang, yang sekilas mengingatkan Ava pada perawakan seniman Djaduk Ferianto.
"Nanti saja ngobrol-ngobrolnya, saya juga belum mandi. Kamu istirahat saja dulu," kata Pak De. "Dek, kamu antar Ava ke kamarnya."
Ava diantar Kadek melewati jalan setapak yang dirimbuni pepohonan tropis. Mereka melewati bangunan yang dicat tanah dengan atap jerami, dipisahkan oleh kolam renang kecil dari bangunan utama. Di dalamnya penuh dengan lukisan, ada pula yang belum jadi. Sepertinya itu studio Pak De, batin Ava.
Yang di sebut 'kamarnya' ini lebih mirip gazebo, namun sudah difurnish halus. Bangunan ini berupa bale-bale di bawah, dengan tangga naik ke balik atapnya yang melambung tinggi seperti lumbung padi. Di dalam atap inilah Ava akan tidur.
Dengan susah payah Ava menaikkan tas berisi baju dan peralatan lukisnya menaiki tangga, sampai akhirnya ia menghempaskan punggungnya ke atas kasur busa empuk yang digeletakkan begitu saja di ruangan 2x3 meter itu. Ava jadi teringat tempat kost-nya di Jogja. Namun ini jauh lebih baik.
Ruangan itu terbuat dari kayu yang dipelitur mengkilap. Nyaris tanpa perabot kecuali sebüȧh meja kecil dan lemari kecil. Di ujungnya ada jendela kayu besar, Ava membukanya. Sontak udara persawahan mengalir masuk, segar.
Ava bisa melihat Gunung Batur di utara dengan kaldera rakasasanya yang diisi jutaan galon air, mengalirkan puluhan anak sungai yang melewati lembah-lembah hijau yang dipenuhi sawah bertingkat-tingkat.
Pemandangan dan udara Pulau Dewata ini begitu membius. Tahu-tahu Ava sudah terlelap dalam mimpi indah. Tidurnya dipenuhi dengan mimpi-mimpi muluk seorang sarjana fresh graduate. Waktu itu Ava masih belum mengetahui apa yang akan menantinya di perantauan ini.
>>>
Senja mulai menjelang ketika Ava selesai berbincang dengan Kadek dan Pak De. Bergelas-gelas kopi yang sudah tandas dan pisang goreng yang tinggal bersisa sepotong menandakan lamanya percakapan Sang Maestro dan calon muridnya.
"Woi, rajin amat," goda Kadek pada juniornya itu.
"Jelas, dong," sahut Ava tanpa menoleh.
Ava sedang sibuk mencuci gelas bekas kopi, ketika Kadek menepuk pundaknya dari belakang. Sebenarnya sudah ada Mbok Ketut dan Mbok Nengah, pembantu rumah tangga di Villa Pak De, juga beberapa karyawan yang membantu di tempat itu, namun Ava terlalu tidak enak hati kalau tidak mencuci gelasnya sendiri.
"Ada apa, Dek?" Ava berkata acuh tak acuh.
"Ava, manjus, yuk!"
"Apa? Maknyus?"
"Manjus, artinya mandi!"
"Ooh, kamu duluan aja, Dek." Ava menjawab malas, karena masih harus membilas sebuah gelas kotor dengan ampas kopi di dasarnya.
"Ah, nggak seru! Ayo manjus sama-sama!"
"Hah!" Gelas yang sedang sedang dicucinya cuci jatuh di bak cuci piring, untung tidak pecah.
"Hahaha... Santai aja... aku sudah punya pacar kok!" kata Kadek.
"Pacarmu... cowok?" tanya Ava takut-takut.
"Hahaha..." Kadek malah tertawa-tawa sambil menyeret tangannya.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Skuter Kadek melewati jalan tanah yang agak menjauh dari desa. Di kiri-kanan terdapat areal persawahan yang menguning, siap untuk dipanen. Langit sudah mulai memerah, tanda matahari hampir beranjak ke peraduannya. Kumpulan burung melintas, menimbulkan bunyi dengung yang menggaung di udara. Suaranya ditenggelamkan bunyi skuter butut yang terkentut-kentut.
Handuk yang tergantung di leher Ava berkibar diterpa angin sore. Ava tidak habis pikir, kenapa dirinya mau-maunya menuruti ajakan Kadek. Mandi bersama-sama? Yang benar saja! batin sang pemuda.
Di ujung jalan, mereka berkelok menikung. Menyusuri pinggiran saluran irigasi yang terbuat dari beton.
Beberapa wanita sedang asyik mandi di saluran irigasi yang terletak di pinggir jalan kecil itu. Sebagian mengenakan kemben, sebagian dengan santainya mencuci baju sambil bertelanjang bulat di dalamya. Mereka cuek melihat Kadek dan Ava melintas, meskipun ada beberapa yang tampak rikuh menyadari kehadiran Ava yang notabene orang asing di desa itu sehingga langsung berjongkok ke bagian air yang lebih dalam.
Memang tak semuanya memiliki tubuh yang indah, namun di mata Ava –dengan segala keindahan alamnya- semua tampak begitu indah, seperti cerita orang-orang dulu, seperti lukisan yang sering dilihatnya!
"Dek! Aku pikir sekarang sudah nggak ada orang mandi di sungai!" jerit Ava takjub.
"Di Bali Barat memang sudah nggak ada! Tapi semakin ke Timur semakin kaya gini!"
"O-oooh."
"Melestarikan budaya," kata Kadek lagi, dan Ava hanya bisa manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Sepengetahuannya di daerah pedesaan memang masih ada penduduk yang mandi di tempat terbuka, namun ia benar-benar tidak menyangka di pulau yang diserbu arus modernisasi seperti Bali, dirinya masih bisa menjumpai pemandangan seperti ini.
Kadek memarkir motornya di pinggir jalan, di samping berapa motor yang sudah lebih dulu terparkir. Ava mengikuti Kadek dari belakang. Mereka berjalan di jalan setapak yang sedikit curam, menuruni tebing yang diteduhi tanaman paku-pakuan, hingga akhirnya terdengar suara bergemericik dari kejauhan. Ava menyibak daun pisang yang menutupi jalan, dan dia segera disambut oleh pemandangan yang eksotis. Sungai kecil yang dipenuhi batu dan dirimbuni pepohonan. Airnya mengalir jernih, sehingga dasar sungai yang dipenuhi batu tampak jelas. Suara air mengalir bergemericik menyelinap di antara batu besar.
Beberapa orang dalam berbagai usia, tua-muda, anak-anak, laki-laki, perempuan menikmati suasana senja tanpa apapun menutupi tubuh mereka. Beberapa merendam tubuh telanjangnya di bawah arus sungai yang mengalir pelan. Beberapa lagi sambil berjongkok sambil melipat tangan di depan puting susunya.
Kadek menjelaskan bahwa, ada norma kesopanan di mana wajib menutupi bagian terlarang dengan tangan. Masing-masing daerah di Bali berbeda-beda adat istiadatnya. Di desa itu tempat mandi lelaki dan perempuan dipisahkan oleh sebuah batu besar, namun tetap saja, di mata Ava sekat itu tidak bisa memberikan segregasi seksual yang memadai karena beberapa remaja nampak berbincang santai, saling meminjam sabun ataupun shampo, seolah masih berpakaian lengkap dan rapi.
Memang tak semuanya memiliki tubuh yang indah, namun di mata Ava –dengan segala keindahan alamnya- semua tampak begitu indah, seperti cerita orang-orang dulu, seperti lukisan yang sering dilihatnya!
Lembayung senja memantul di riak air, ke tubuh sintal seorang perempuan muda yang sedang membasuh diri di bawah pancuran. Payudaranya yang bulat sekal berwarna sawo matang menjadi berkilat kekuningan, dihimpit lengan yang menutup rapat bagian-bagian intimnya.
Ava menelan ludah, merasakan sesak di balik celananya. Sadar sedang diperhatikan, perempuan itu segera berbalik memunggungi, sedikit rikuh dengan tatapan Ava.
"Jangan diliatin! Dimarah nanti. Cool aja," tegur Kadek, lalu mengucapkan salam pada keluarga yang sedang mencuci pakaian di sebelahnya.
Ava terkekeh pelan, menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Dek! Kadek" Suara seorang wanita memanggil dari kejauhan. Ava baru saja mencelupkan sebelah kakinya di permukaan air yang jernih berkilauan, ketika seorang wanita muda menuruni jalan setapak yang mereka lewati tadi. Usia belasan akhir mungkin, taksir Ava. Tubuhnya montok sintal dengan kulit sawo matang nan eksotis, cukup manis menurut pandangan Ava. Di belakangnya menyusul beberapa gadis dengan wajah khas Bali sambil menenteng ember dan peralatan mandi.
"Hei, Luh!" kadek melambaikan tangan. "Kenalin, ini Ava, muridnya Pak De yang baru."
"Ava," Ava berkata sambil mengulurkan sebelah tangannya.
"Luh Sari," sahut gadis itu, menjabat tangan Ava.
"Luh Sari pacarku, Va," kata Kadek enteng.
Nafas lega menghembus. Ternyata pacar Kadek bukan cowok! jerit Ava dalam hati, menertawakan kebodohannya sendiri.
= = = = = = = = = = = = = = =
Para gadis mengambil posisi agak jauh dari tempat para pemuda, terpisah oleh batu besar dan rimbunan daun pisang yang menjuntai sampai bawah. Sementara Kadek menyapa kumpulan pemuda tanpa busana yang sudah lebih dulu ada di situ. Mereka berbincang dengan bahasa yang tak dimengerti Ava, namun yang sepenangkapannya ada kata "Pak De," dan "Murid." Ava tersenyum geli, entah kenapa, kata-kata 'murid' membuatnya membayangkan Pak De sebagai seorang petapa sakti.
Tanpa banyak basa-basi, Kadek melepas pakaian dan bergabung dengan rekan-rekannya. Agak rikuh sebenarnya, maka Ava menyisakan celana dalam, ikut menggabungkan diri di tengah tengah kumpulan batangan yang asyik bercanda dan mengumpat dalam bahasa setempat. Sebenarnya pemuda-pemuda desa itu sangat ramah, namun segala ketelanjangan ini membuat semuanya menjadi canggung.
"Va, kamu pasti belum pernah lihat yang kayak gini." Kadek menolehkan kepalanya ke arah para gadis, berbisik ke arah sahabatnya.
Ava terhenyak. Luh Sari menyilangkan tangan dan menarik lepas kaus yang dikenakannya. Sepasang gundukan indah segera menyembul dari balik kaus kutang warna krem yang nampak kesempitan. Perempuan berkulit sawo matang itu lalu berjingkat, melepas celana pendek dan diikuti kaus kutang yang segera menyusul terlipat, sehingga tubuh montok dan sintalnya kini hanya tertutup celana dalam tipis yang menampakkan bayangan rambut kemaluan yang menyemburat dari baliknya. Belum cukup Ava terperangah, gadis-gadis di belakang Luh Sari juga melakuan hal serupa, ada yang menyisakan kemben ketat dan pula yang sudah telanjang bulat dan menceburkan tubuh ke dalam aliran sungai.
Menyadari tatapan sang pemuda, Luh Sari menutupi bagian-bagian terpenting tubuhnya sambil tersipu. Namun jemarinya yang membuka secelah, seolah membiarkan aerola yang berwarna kehitaman itu mengintip ke dalam pupil mata Ava yang seketika membesar.
Ava terpaksa menahan nafas, bahkan menelannya bila perlu.
Luh Sari melirik ke arahnya, hingga tanpa disengaja pandangan mereka saling bersitatap. Sepersekian detik saja, namun itu saja sudah cukup bagi Ava untuk menangkap kilasan senyum di bibir manis kekasih sahabatnya.
Gadis manis itu tersenyum dalam hati begitu melihat Ava yang cepat-cepat mengalihkan pandangannya dengan wajah tersipu. Tawa kecil membersit di hati Luh Sari, menyadari Ava diam-diam memperhatikannya.
Sudah banyak orang melihatnya telanjang, namun satu orang ini sepertinya begitu lugu dan lucu. Hal ini pun menimbulkan gejolak di hati Luh Sari. Gadis bertubuh sintal itu lalu duduk di atas batu sambil menaikkan paha. Seolah tak ingin berlekas-lekas, Luh Sari menurunkan celana dalamnya dalam gerakan perlahan, seolah sengaja menjadikan batu itu laksana sebuah panggung dengan dirinya sebagai primadona!
Darah Ava semakin berdesir. Adrenalin yang memenuhi aliran darahnya membuat segalanya bergerak dalam gerakan slow motion. Termasuk saat Luh Sari mengerling manis ke arahnya, sambil menutupi area pubis yang ditumbuhi bulu lebat dengan tangan kiri. Tanpa bisa diantisipasi, sesuatu yang terletak di antara dua paha Ava mulai bereaksi dan makin lama makin mengeras. Cepat-cepat ia menceburkan diri ke dalam air, hanya agar reaksi fisiologisnya tidak tampak oleh yang lain.
Sekilas saja barangkali, tapi Luh Sari sempat menangkap kelebatan kejantanan Ava yang mengacung dari balik celana dalamnya. Terdengar tertawa berderai ketika gadis manis itu menggabungkan diri dengan teman-temannya yang sudah tertawa-tawa sambil melirik ke sang pemuda yang kini hanya bisa meringkuk dengan wajah merah padam!
= = = = = = = = = = = = = = =
Manusia kehilangan keluguannya ketika memakan Buah Pohon Pengetahuan. Bersamanya hadir mortalitas, sensasi yang membuatmu bisa merasa malu dan birahi pada saat yang sama.
Konon manusia diciptakan tanpa sehelai benangpun di Paradiso. Ketika Bapa Adam dan Bunda Hawa memakan Buah Pengetahuan, barulah hadir perasaan jengah atas ketelanjangan mereka, sehingga masing-masing terpaksa mencari dedaunan untuk menutupi bagian intim yang terbuka.
The Last Lost Paradise . Ratusan tahun lalu, Bali pernah disebut firdaus terakhir di muka bumi oleh para petualang dari seberang benua, karena di tempat inilah engkau masih bisa menghargai tubuh manusia tanpa perlu dinodai birahi.
Cahaya langit senja yang kemerahan memantul pada riak-riak air sungai ke arah orang-orang tanpa busana. Tidak, mereka tidak nampak seperti manusia-manusia di Sodom dan Gomorah, namun lebih mirip dengan penghuni pertama taman firdaus.
Para penduduk desa telanjang begitu saja, apa adanya tanpa ada kepalsuan yang ditutupi. Mereka hanyalah penduduk-penduduk desa yang polos, yang hanya ingin melestarikan budaya mandi yang tua, yang semakin lama semakin tergerus oleh modernisasi dan vila-vila yang merengsek ke dalam teritori mereka.
Keadaan ini membuat Ava merenung. Mereka telanjang begitu saja, apa adanya tanpa ada kepalsuan yang ditutupi. Mereka hanyalah penduduk-penduduk desa yang polos, yang hanya ingin melestarikan budaya mandi yang tua, yang semakin lama semakin tergerus oleh modernisasi dan vila-vila yang merengsek ke dalam teritori mereka.
Ava menghela nafas, mencpba menghayati segala pemandangan di depannya. Sungai yang mengalir indah, pepohonan yang merindangi sungai itu, dengan segala keindahan panoramanya, membuat semuanya tampak seperti lukisan Michelangelo.
Ava menarik nafas panjang sebelum melepas penutup terakhir tubuhnya. Dan kali ini, yang hadir hanyalah ketelanjangan yang membebaskan, ketelanjangan yang membebaskannya dari pakaian kepalsuan yang menutupinya selama ini. Ava memejamkan mata, menikmati udara sore dan dingin air yang mengalir membasahi tubuhnya. Sore itu ia merasa menyatu dengan alam.
Senyum Ava tersungging, membayangkan hari-harinya di sini. Ava membaringkan tubuhnya, membiarkan arus sungai menghanyutkan telanjang tubuh itu. Ava memandangi langit yang berwarna kemerahan tanda Sandyakala hampir tiba. Ava, Sang Pelukis Mimpi larut dalam indah panorama lukisan yang serasa nyata.
Indah.
Bersambung
Ufuk timur sudah benderang ketika Ava terbangun enggan dari tidurnya. Udara masih dingin dan kabut tipis masih melayang-layang di atas sawah, membuat sang pemuda brewok menuruni tangga kayu di depan kamarnya dengan malas sambil merenggangkan tübüh. Hari sudah berganti, namun pemuda itu tak bisa berhenti tersenyum membayangkan petualangan apa yang menantinya di tempat ini.
Sepasang mata Ava tertuju pada Pura kecil di pojok belakang rumah. Di sampingnya berdiri pohon kamboja, dahannya menjuntai ke udara serupa tangan-tangan ramping, menebarkan taksu ke sekujur bangunan batu bata merah di bawahnya.
"Hoi! Bengong saja! Ngelihatin cewek cantik! Beh, jam segini baru bangun.." kata Kadek saat selesai berdoa, di dahinya menempel beras putih.
"Hehehe.." Ava menggaruk-garuk kepala. Waktu kuliah, Ava memang biasa bangun jam segini.
"Besok dah senin, jam 7 pagi kita harus sudah ada di galeri.."
"Siap, kakak seperguruan."
"Haha.." kadek tertawa.
Di sudut lain, sebüȧh gerbang batu berdiri dengan misterius, ditutupi tanaman keladi yang rimbun.
"Eh Dek, itu pintu kemana?"
"Tuh ke sungai bawah.."
"Oh, bisa buat mandi juga?"
"Bisa."
"Boleh?"
"Boleh saja! Cuma masalahnya di sana tempat bertapanya tuan putri! Silahkan saja kalau kau ingin dimarahi, hahahaha!" Kadek tergelak lalu menuju dapur depan untuk membantu Mbok Ngah dan Mbok Tut menyiapkan sarapan.
Terdengar suara air dari kejauhan, Ava sudah bisa membayangkan bagaimana indahnya di bawah. Maka Ava segera menyambar handuk dan peralatan mandinya, dan segera berlari melewati tangga batu di belakang vila Pak De yang berujung pada...
(Suara air terdengar semakin bergemuruh)
Sungai di belakang villa Pak De lebih jernih, dengan air terjun kecil yang menimbulkan suara gemuruh. Air yang tercurah membentuk cekungan serupa kolam di bawahnya. Sementara tebing curam di sekitarnya ditumbuhi paku-pakuan dan keladi yang merambat menghijau, membuat tempat itu seperti ada di Indraloka.
Ava segera melepas seluruh pȧkȧïȧnnya, tėlȧnjȧng bulat, dan melompat ke air sedalam pinggang. Ia menyelam ke dalam dingin yang menyengat, membenamkan kepalanya di bawah air terjun, dan menïkmȧti ribuan galon air yang diguyurkan di atasnya.
Ava memejamkan mata, untuk sesaat Ava seperti tidak berada di bumi.
"Hey! Ini kan tempat mandiku!!!!" suara merdu menjerit dari arah tangga batu.
Seorang bidȧdȧri berdiri di atas batu didekatnya. Bidȧdȧri itu memainkan ujung rambutnya yang hitam kecoklatan, bibirnya yang mungil tampak cemberut.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Ava juga baru pertama kali bertemu dengannya tadi malam, saat dia duduk bengong di teras depan rumah. Waktu itu Ava sedang memainkan HP-nya untuk mengusir bosan. Dia membuka-buka facebook mantan pacarnya di Jogja, dan mengecek twit**ter.
Tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang menyeruak keheningan. Mobil itu berhenti namun segera berlalu lagi. Sesaat kemudian seorang gadis cantik memasuki halaman.
Mata Ava terbelalak melihat siapa yang datang. Kadek benar, gadis itu jauh lebih cantik dari yang di foto, orang awam pun bisa tahu dengan sekali lihat bahwa ia adalah blasteran, rambutnya ikal panjang berwarna hitam kecoklatan dibiarkan tergerai, menutupi lehernya yang jenjang dan berwarna putih. Badannya montok dan rȧnüm -khas abg- terbalut hotpants hitam, dan sack dress warna putih. Kulitnya yang putih terlihat begitu segar ditimpa cahaya lampu neon.
Gadis itu agak heran melihat orang asing dengan brewok tebal -yaitu Ava - duduk di teras rumah sambil memandanginya. Ava menganggukkan kepala tanda sopan santun, namun ia berlalu seolah tidak melihat Ava.
Tentu saja tidak, ia tidak punya alasan untuk tersenyum kepada Ava, karena ia adalah seorang bidȧdȧri, dan Ava hanyalah seorang pelukis yang suka bermimpi.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
"Iiiih! Ini kan tempat mandi aku!" gadis itu -Indira- tampak cemberut.
"Ye, nggak ada tulisannya, kok!" belot si pemuda brewok.
"Hush... hush... pergi sana, aku lagi pengen sendiriiii!"
"Weee.. aku baru nyebur juga! Kalo mau, tungguin ampe aku selesai!"
"Nggak mau! Wek!" bidȧdȧri imut itu menjulurkan lidah, namun Ava seperti tidak ambil pusing malah menggaruk-garuk rambut, sehingga membuat Indira semakin bersungut-sungut sebal.
Indira sudah berada 3 meter dari tempat Ava berendam. Permukaan air yang beriak, menghalangi pandangan matanya dari ketėlȧnjȧngan Ava. Gadis itu berjalan mondar-mandir sambil sedikit-sedikit melongok ke dalam air. Idiiiih telanjaaaaang, batin Indira sambil bergidik, sedikit ngeri melihat bülü-bülü hitam yang membayang di bawah permukaan air.
"Mau sampai kapan nunggu di situ?" Ava mulai risih dengan kehadiran Indira yang berkeliaran di dekatnya.
"Ampe kamu selesai!" kata Indira sambil menjulurkan lidah.
"Balik aja dulu, ntar kalau udah beres kupanggil."
"Biar!"
"Hush! Hush!"
Giliran Ava mengusir Indira dengan menyiramkan air. Akibatnya sebüȧh batu melayang ke arah pemuda itu sebagai balasan.
"Jangan diliatin, napa? Aku nggak pakai apa-apa, nih!" kesabaran Ava agaknya mulai menipis.
"Nggak usah ge-er, deh! Udah biasa kali aku liat cowok bügïl!"
"Astaga!"
"Iiiih! Jangan mikir yang aneh-aneh! Aku tuh lahir dan besar di desa ini tauk!" Indira merepet seperti senapan mesin MG-42.
"Oh," dan hanya dijawab Ava pendek, membuat Indira semakin kesal.
"Udah biasa kali, aku mandi rame-rame!"
"Oh, yaudah bagus kalau begitu. Sini, ikutan mandi! Kita belajar berbagi!" Ava malah memasang senyum mesum sambil cengegesan tak jelas.
Menghadapi pemuda tengik yang mulutnya kurang ditatar itu, mau tak mau membuat Indira naik darah.
"Tuh kan! biasa deh orang baru, nggak bisa lihat cewek cantik! dasar mesum!" wajahnya cemberut, membuat si bidȧdȧri mungil semakin imut.
"Ye, emang situ merasa cantik?" ledek Ava.
Jawaban Ava bagaikan bensin yang disiram ke atas kompor. Indira mendelik dengan wajah merah padam.
Pemuda itu malah dengan santainya menggosok-gosok pȧntȧt di depan Indira. Berdiri bügïl di bawah naungan rerimbun daun pisang di sisi sungai yang satunya, Ava menggosok dȧdȧ dan sėlȧngkȧngȧnnya. Langit masih belum terang benar, tapi dari posisinya di atas undakan batu, Indira bisa melihat dengan jelas paha dan pȧntȧt Ava yang berotot, juga punggung bidang pemuda yang berdiri membelakanginya.
Indira memang pernah melihat tubuh lawan jenis, namun baru kali ini ia melihat tübüh tėlȧnjȧng si pemuda dalam pose sefrontal itu; paha yang dipenuhi bülü lebat... sepasang benda menakjubkan yang menggelayut di antara tungkai kokohnya... juga bėlȧhȧn pȧntȧt Ava yang dipenuhi buih...
Dȧdȧ Indira berdesir.
"Woi! Awas jangan lihat-lihat, nanti naksir!"
"Huuuu! Siapa yang naksir!"
Indira menunduk dengan wajah merah padam. Nyebeliiiiin! Siapa yang naksir kamu, begoooooo! Indira menggondok dalam hati. Dirinya memiliki cowok keren yang jadi pacarnya, dan ada segudang lagi yang rela mengantri hanya untuk makan malam dengannya. Bagaimana bisa cowok brewok itu berani-berani membuatnya ketar-ketir dan salah tingkah?!
Indira menggembungkan pipi.
Matanya menatap tajam.
Dirinya akan melakukan pembalasan!
Bersambung
Sebulan sudah Ava menjadi murid Gede Subrata, seorang pelukis terkenal tempatnya menimba ilmu, di desa kecil di pinggiran Ubud. Di tempat itulah Ava ngayah; mengabdikan diri sebagai balas budi atas pengalaman yang nantinya akan diturunkan Sang Maestro kepada muridnya.
Kehidupan di tempat barunya itu berlalu nyaris tanpa kesan berarti, -jika tak ingin dibilang monoton; bangun tidur, tidur lagi, bangun lagi, berebut tempat mandi dengan Indira, menjaga galeri, membantu Pak De melukis, disuruh ini-itu. Mungkin saja Ava bakal mati bosan jika tak ada Indira, putri semata wayang Pak De, karena tiap hari pasti ada saja yang mereka pertengkarkan.
Kehadiran Ava di rumahnya, sedikit banyak membuat kehidupan Indira yang tadinya monokrom menjadi lebih berwarna. Indira tak pernah mengerti, bagaimana bisa cowok gondrong brewokan yang tidak ada ganteng-gantengnya itu bisa selalu membuatnya mendongkol. Dirinya jadi sering uring-uringan, bahkan perang mulut dengan pemuda yang menurutnya tidak tahu sopan santun itu!
Namun terkadang, mau tak mau Indira dibuat tertawa juga oleh lelucon Ava, -yang meskipun menurutnya norak- tapi entah kenapa selalu bisa membuat perutnya sakit menahan tawa.
"Naik, naik apa yang dikejar telur?" kata Ava pada suatu hari pada Kadek dan Indira. "Naik becak, kan dikejar telur abang becaknya."
Kadek tertawa berguling-guling. Hanya Indira yang terpaksa pura-pura cemberut demi menjaga gengsinya.
"Jayus, ah!" ucap Indira sambil menggembungkan pipi, namun ekspresi seperti inilah yang membuat wajah Indira menjadi semakin imut, sehingga Ava rasanya ingin terus menggoda anak itu.
Indira yang kekanakan dan sok judes. Ava yang rusuh dan slenge'an seolah menjadi babak baru bagi opera sabun di keluarga itu.
Keduanya mungkin belum menyadari, namun Pak De, Kadek, maupun orang-orang di rumah itu tahu pasti: kehadiran Ava membuat Indira yang tadinya murung sepeninggal kakak dan ibunya, kini menjadi lebih ekspresif!
"Denger orang ngomong nggak, sih? Tempat ini tuh udah jadi kaya tempat pertapaan aku, tahu!" omel Indira dengan pinggang berkacak di atas tangga batu. Sebelah tangannya sudah menenteng peralatan mandi dan di lehernya sudah bergantung handuk.
Indira sebenarnya sudah bersiap mandi pagi ini. Gadis itu sengaja bangun pagi-pagi sekali, berharap Ava belum bangun sehingga ia bisa menguasai spot mandi favoritnya itu. Tapi apa lacur, di hadapannya kini terbentang pemandangan cowok brewok yang sedang menyabuni ketiak yang penuh bülü.
"Iye, Mbah..." jawab Ava asal. "Cari tempat bertapa yang lebih mbois, kek... Gua Selarong... Makam Keramat Mbah Jingkrak..."
"Bego! Buruan, gih! Aku juga mau mandi! Aku mau sekolah!"
"Sekarang kan hari Minggu."
"Bego!"
"Di atas kan udah ada kamar mandi dalam!"
"Udah aku bilangin berapa kali juga, beda tahu sensasinya!"
"Iye... iye... " Ava mejawab sekenanya.
Ava dan Indira sama-sama tahu, bahwa sungai kecil itu memang istimewa. Dikungkung tebing batu, rimbunan paku-pakuan, dan pohon tropis yang menaungi, ditambah dengan iringan ricik air dan decit burung-burung yang berkicau di sela dahan, membuat tempat itu tak ubahnya surga tersembunyi. Ada air terjun kecil di sana, dengan ceruk dalam dan jernih tempat Indira biasa mandi dan menyendiri, namun kali ini ia harus berbagi dengan makhluk menyebalkan yang sepertinya memang ditakdirkan untuk mengganggu hidupnya.
Indira tidak bisa diam saja, gengsinya sebagai cewek terkece di sekolah dipertaruhkan kini! Apalagi, Ava malah sengaja merayakan kemenangannya dengan menceburkan diri di ceruk batu di bawah air terjun -spot favorit Indira- dan tertawa puas setelah berhasil mengerjai gadis itu untuk kali kesekian.
"Dira jangan cemberut gitu, dong... Sini, ikutan mandi... Kita belajar berbagi, hahaha..." ledek Ava sambil berenang-renang di dalamnya.
Ini tidak bisa dibiarkan, batin Indira geram. Ia harus menunjukkan pada Ava, bahwa anak SMA seperti dirinya pun bisa melakukan tindakan radikal! Indira mengggembungkan pipi. Berpikir keras bagaimana cara membalas untuk menyamakan skor. Indira tak pernah tahu kapan saatnya dorongan primitif bernama ID yang bersemayam di dalam lubuk pikir membisikkan 'ide gila' yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, bahkan untuk ukuran gadis 'senakal' Indira!
"Yaudah, kalau kamu nggak mau pergi, aku juga mau mandi!" balas Indira, sambil menahan senyum licik yang sudah tak sabar ingin menyungging begitu terbersit niat jahatnya untuk balik mengerjai titisan Wiro Sableng itu.
"Woy! kamu mau ngapain?!" Pemuda tengik yang dari tadi cengengesan kini dipaksa terperenyak ketika Indira mendȧdȧk melolosi baju barongnya, disüsül celana pendek bunga-bunga yang segera menggeletak di atas batu.
"Minggir! Aku juga mau mandi, wek!" Indira menjulurkan lidah.
"Eh, bocah! Jangan macam-macam, deh!" Ava berseru panik, namun belum sempat Ava mengajukan nota protes, penutup dȧdȧ Indira sudah keburu menyusul bergabung dengan rekan-rekannya yang sudah lebih dulu dilipat rapi. Indira membalik, mengikat rambut kecoklatannya dengan karet. Tangannya terangkat tinggi-tinggi, memberikan kesempatan bagi imajinasi Ava untuk menghayalkan apa yang terletak di balik punggung tėlȧnjȧng yang putih mulus itu.
Hanya dengan berbalut celana dalam hitam model bikini, remaja blasteran itu melangkah ke dalam bagian air yang dangkal. Kakinya yang tėlȧnjȧng merasakan dingin air dini hari, dan arus yang berlarian melewati jari-jemarinya. Indira mendengus, sebelah tangannya disilangkan erat-erat di depan dȧdȧ untuk menghalangi pandangan Ava dari sepasang pütïng berwarna merah hati. Meski tanpa itu pun sang pemuda sudah lebih dulu melotot disuguhi pemandangan lekuk tübüh rȧnüm Indira yang hanya dibalut secarik cawat kecil yang menutup area pübïs yang dibiarkan mulus tanpa bülü.
Indira balas menatap Ava, seolah memberi peringatan terakhir bagi si pemuda tengik agar segera menyingkir.
"Aku beneran masuk loh, tapi awas! jangan macam-macam! Nanti kubilangin Ajik sama Kadek biar burungmu disate!"
"Astaga! Ge-er banget sih! Kalau mau masuk, masuk sudah kalau berani! Biar tahu aja, Hidupku ini berasaskan Pancasila: ketuhanan yang maha esa, dan kemȧnüsiaan yang adil dan beradab! tahu!"
"Huh!" Indira menggembungkan pipinya lagi. Sebenarnya ia hanya ingin menggertak, membuat Ava risih dan segera keluar dari tempat itu. Melepas penutup terakhir tübühnya di depan pemuda yang baru dikenalnya sebulan, adalah tindakan yang benar-benar gila, bahkan untuk ukuran cewek 'senakal' Indira sekalipun.
Namun kali ini, di tempat sepi itu cuma ada mereka berdua. Bagaimana kalau Ava nekat dan dirinya dipėrkȯsȧ? Suara batin Indira terdengar saling berseteru. Tapi Indira sudah kepalang bȧsȧh, mundur teratur berarti mengaku kalah pada bedebah yang telah membuat dirinya gulana selama sebulan terakhir ini, dan untuk itu hanya diperlukan sedikit dorongan ėrȯtïs yang mengalir dėrȧs di dalam darah remajanya.
Indira mengaitkan jemari lentiknya di bagian elastis celana dalamnya, disüsül tungkai-tungkai jenjangnya yang berjingkat bergiliran saat melolosi penutup terakhir tübühnya. Terdengar dėsȧhan pelan dari bibir Indira, begitu menyadari tübüh rȧnümnya kini tinggal dibungkus oleh rona-rona merah yang mulai meruap dari kulitnya yang tėlȧnjȧng bulat. Tak ingin berada di udara terbuka terlalu lama, Indira segera melompat ke dalam ceruk kecil di bawah air terjun tak jauh dari tempat Ava berendam. Suara mencebur terdengar disüsül air yang bercipratan mengenai mata sang pemuda yang belum selesai terpana.
Ava menyeka mata, dan segera mendapati tübüh rȧnüm khas remaja dengan pïnggül montok dan pȧyüdȧrȧ yang sedang rȧnüm-rȧnümnya kini terbenam di bawah permukaan air. Ava memang pernah mendengar cerita tentang 7 bidȧdȧri yang mandi. Kali ini satu bidȧdȧri tertinggal di bumi, dan saat ini sang bidȧdȧri berdiri dengan malu-malu di hadapan Ava sambil menutupi dȧdȧ dan bagian bawah tübühnya.
"Apaan sih! Biasa aja kali liat cewek tėlȧnjȧng!" sambar Indira sewot, mulai jengah dengan tatapan Ava yang dirasanya semakin berani menjelajah ke arah daerah paling prïbȧdïnya.
"Aku sudah biasa lihat cewek bügïl! Tapi mau gimana lagi, yang ini bidȧdȧri!"
"Ada nggak sih, gombalan yang lebih norak? Hahahaha! Parah banget gombalanmu!" Indira terpaksa tertawa, menyemburkan air ke arah Ava yang cengegesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Yang lebih assoy banyak!" Ava menjawab asal, tersenyum sendiri melihat pipi Indira yang perlahan tersipu.
"Va, kamu tuh benernya lucu, tahu! Tapi lebih seringnya nyebelin, parah!" Indira lalu berkata, bahwa di antara murid-murid ayahnya terdahulu, Ava adalah orang yang paling berani mengganggu dirinya, padahal sebelumnya tak pernah ada satupun yang berani mengusik sang tuan puteri.
"Habisnya kamu tuh enak buat digangguin," jawab Ava tanpa merasa bersalah.
Pinggang Ava dicubit. "Ih kamu itu ya! Mirip banget kayak Bli Raka! Kerjanya gangguin aku aja!"
Ava menelan ludah. "Siapa Raka? Pacarmu?"
"Bukaaaaan! Pacarku namanya Dewa! Raka itu kakak aku yang udah nggak ada. Emang Kadek belum ngasih tahu?"
Ava menggeleng.
"Udahlah, nggak usah dibahas!"
Butuh waktu beberapa lama sampai mereka terbiasa dengan ketėlȧnjȧngan yang terjadi di antara keduanya. Hingga akhirnya Indira tidak lagi malu-malu bergerak kesana kemari di dalam air, seolah-olah tempat itu merupakan tempat bermainnya sejak kecil. "Coba kaya gini dari kemarin-kemarin," gumam Indira jenaka, sambil berenang-renang di cerukan yang dalamnya 2 meter, sampai-sampai alpa menutupi pȧyüdȧrȧnya.
"Lah, kan udah kubilangin dari awal! Kita mandi bareng!" jawab Ava penuh pede.
"Huuuu!" Indira menyemburkan air kembali ke arah Ava, dengan wajah bersemu. Kulit tübüh Indira yang seputih pualam kini semakin merona kemerahan, nampak makin segar bagai setangkai teratai yang baru merekah dengan aksentuasi bulir-bulir air yang jatuh di pundak dan pucuk-pucuk pȧyüdȧrȧnya.
Suara air yang jatuh dari ketinggian menderu memenuhi dinding-dinding tebing. Menciptakan dunia tanpa ruang waktu antara mata Ava dan tubuh telanjang Indira.
Suara air yang jatuh dari ketinggian menderu memenuhi dinding-dinding tebing. Menciptakan dunia tanpa ruang waktu antara mata Ava dan tubuh telanjang Indira. Tak henti-hentinya mata kampungan Ava memandangi payudara Indira yang timbul tenggelam. Setengah mati pemuda itu menahan diri agar tidak ereksi, namun Indira terlalu seksi: puting merah hati yang mengintip dari balik permukaan air, payudara ranum yang baru saja bertumbuh, dan sepasang pantat montok dan menggemaskan yang bergerak-gerak menendangi air. Semua itu mau tak mau membuat jantung Ava berdentam-dentam dan memompakan berliter-liter darah dan hormon testosteron menuju kejantanannya yang makin lama makin mengeras!
Indira bisa melihat itu semua dari sudut matanya; batang berukuran cukup besar yang kini membayang malu-malu dari balik permukaan air. Hanya samar-samar barangkali, namun itu sudah cukup bagi Indira untuk menangkap sebentuk batang berotot yang kini mengacung tegak dan menantang. Indira menelan ludah, jantungnya melewatkan detaknya sekali. Berkali-kali gadis itu mengatur nafasnya yang mulai memburu sambil menahan rasa merinding hebat di selangkangan gara-gara kilasan kejantanan Ava yang berurat itu tak mau hilang dari pikirannya!
Padahal ini bukan pertama kalinya Indira melihat kejantanan pria yang sedang menegang. Usianya baru 18, namun Indira sudah bisa dibilang 'berpengalaman' dengan lawan jenis. Namun kali ini, bugil di depan pemuda yang sama sekali asing dan jelas-jelas terangsang melihat tubuhnya mau tak mau membuat selangkangan Indira ikut meremang dan kedua putingnya mulai mengeras, lebih gatal, lebih menggila dari biasanya...
Cepat-cepat Indira menuang sabun cair, berharap rasa gatal di tajuk-tajuk payudaranya bisa dihilangkan dengan larutan triclosan dan antiseptic. Namun apa lacur, sekujur tubuh Indira malah seperti disetrum dengan tegangan 220 volt. Jemarinya yang licin oleh sabun tak sengaja mengenai ujung-ujung saraf-saraf sensitifnya! Indira menahan nafas, berusaha tampil wajar di depan Ava, meski kadang terpaksa ia memejamkan mata, mati-matian menahan otot-otot tubuhnya yang gemetar di luar kesadaran.
"Va... kamu enggak udahan... mandinya?"
"E-enggak... kamu...?"
Bersambung