Diriku bukan kacang yang lupa pada kulitnya. Aku sadar benar bahwa awal kesuksesanku berkat kebaikan Mamie, ibu tiriku yang sekaligus Papa ijinkan untuk menjadi kekasihnya.
Itulah sebabnya aku tak pernah melupakan kebaikan Mamie itu. Minimal seminggu sekali aku “menengok”nya. Meski Papa ada di rumah pun, aku tetap diijinkan untuk membawa Mamie ke lantai dua. Bahkan Papa ikut mendukung agar Mamie punya anak lagi dariku.
Maka aku pun mengikuti keinginan Papa dan Mamie, untuk “berjuang” agar Mamie hamil lagi.
Keinginan kami pun terkabul. Mamie hamil lagi untuk anak kedua kami. Lalu lahirlah anak cewek yang cantik dan diberi nama Athia Kamaratih, yang diartikan sebagai Dewi Cinta.
Mamie pun mengerjakan seorang babysitter lagi. Babysitter lama tetap ditugaskan untuk mengasuh Satria Pratama (anak pertamaku dari Mamie), sementara babysitter yang baru ditugaskan untuk merawat dan menjaga Athia Kamaratih.
Dan Mamie hanya dua bulan beristirahat. Lalu sibuk lagi mengurus bisnisnya bersama Papa.
Anehnya, setelah punya anak dua, Mamie malah semakin cantik dan semakin menggiurkan di mataku.
Bahkan pada suatu hari aku sengaja membawa Mamie ke villa yang bekas tempat pertemuanku dengan Mrs. Alana dan bekas tempat mengeksekusi keperawanan Bella.
Setiap kali mau menjumpai Mamie, aku selalu mengendarai sedan mewah pemberian Mamie. Tak pernah memakai jeep hadiah dari Merry. Karena aku ingin diriku terkesan selalu merawat benda apa pun yang Mamie hadiahkan padaku.
Dan memang sedan mahal pemberian Mamie itu selalu kurawat dengan baik. Ada yang kurang enak sedikit saja, pasti kumasukkan ke bengkel langgananku, untuk dicari dan dibetulkan bagian yang membuat kurang nyaman itu.
Pada waktu membawa Mamie ke villaku itu pun, aku memakai sedan pemberian Mamie.
Tibalah aku dan Mamie di depan villaku yang sebenarnya selalu dijaga oleh beberapa orang satpam secara bergiliran dan kebersihannya selalu dijaga oleh dua orang pembantu.
Belum masuk pun Mamie tertegun di depan villaku dengan sorot pandangan kagum di sepasang mata sipitnya. “Wow … villamu ini luar biasa mewahnya. Dindingnya dilapisi batu pualam asli ya ?”
“Iya Mam, “ sahutku, “Di bagian dalamnya pun sama, semuanya dilapisi batu marmer asli. “
“Cekkk cekk cekkk, “ Mamie berdecak kagum sambil geleng – geleng kepala, “Berapa puluh milyar kamu ngabisin duit untuk membangun villa ini Sam ?”
“Aku hanya menjalankan duit taipan dari Macau Mam. “
“Ohya ? Orang Macaunya pasti cewek kan ?”
“Hehehee … betul Mam. Mrs. Alana namanya. “
“Dan kamu pacari dia juga, makanya dia bisa buang – buang duit padamu kan ?”
“Iya juga Mam. Sekarang hampir semua duitnya dipercayakan padaku untuk membangun bisnis di negara kita. “
Mamie menggandeng lenganku masuk ke dalam villaku. Sambil berkata, “Berarti dua orang konglomerat yang memback-up kamu sekarang ya. ”
“Iya Mam. “
“Baguslah. Berarti kamu sekarang sudah jauh lebih tajir daripada Mamie kan ?”
“Ah … aku tak pernah menghitung sampai ke sana Mam. “
“Tapi yang penting kamu jangan melupakan Mamie ya Sayang, “ ucap Mamie setelah berada di ruang keluarga.
“Jiwaku tidak sekerdil itu Mam, “ kataku sambil meraih lengan Mamie agar duduk di pangkuanku, “Mamie adalah awal dari segalanya. Tanpa Mamie tak mungkin aku bisa seperti ini sekarang. Dan yang terpenting, Mamie adalah wanita pertama yang mengandung dan melahirkan putraku. Sekarang ditambah lagi dengan kehadiran si cantik Devi. Aku bahagia sekali Mam. “
Mamie yang sedang duduk di atas kedua pahaku, lalu menciumi pipiku berulang – ulang. Lalu berkata perlahan, “Mamie juga bahagia, karena kamu selalu mengerti apa yang mamie inginkan, Sayang. “
Seperti biasa, kalau Mamie sudah duduk di pangkuanku, pasti tanganku merayap ke balik gaunnya. Kali ini pun begitu. Tanganku menyelundup ke balik gaun sutra orangenya, lalu menyelinap ke balik celana dalamnya. Dan mulai menggerayangi kemaluannya.
Pada saat yang sama, Mamie mencium bibirku, lalu melumatnya dengan lahap dan romantisnya. Karena jemariku mulai menyelundup ke dalam liang memeknya yang selalu saja membangkitkan gairahku.
Semua ini membuat nafsuku mulai bergejolak dan tidak terkendalikan lagi. Maka dengan hati – hati kuangkat dan kubopong Mamie ke dalam kamar utama. Kamar yang pernah kupakai mengeksekusi Mrs. Alana dan keperawanan Anabella.
Lalu kurebahkan Mamie dengan hati – hati di atas bed bertilamkan seprai putih bersih itu.
Kutanggalkan segala yang melekat di tubuhku, sementara Mamie pun melakukan hal yang sama. Melepaskan segala yang melekat di tubuhnya, sehingga kami jadi sama – sama seperti Adam dan Hawa waktu pertama kali diturunkan ke permukaan bumi ini.
Ketika melihat Mamie sudah telanjang bulat, aku sangat mengaguminya. Karena Mamie bahkan lebih menggiurkan daripada waktu belum punya anak dahulu. Mungkin karena Mamie teramat pandai merawat badannya, dengan berolahraga, minum suplemen dan ramuan – ramuan secara teratur. Sehingga sepintas lalu tubuhnya seperti wanita yang baru 25 tahunan.
Dan yang paling mengherankan, aku sering cepat bosan kepada perempuan yang sudah kugauli. Tapi kepada Mamie ini sebaliknya. Semakin sering aku ketemuan dan ML dengannya, yang tertinggal di hatiku adalah kangen dan kangen terus. Hanya saja aku terlalu sibuk mengurus ini dan itu, sehingga Mamie seolah tidak punya greget lagi. Padahal aku sering merindukannya, tapi terhalang oleh kesibukan. Sedangkan Mamie berbeda dengan wanita – wanita lain yang sudah kumiliki. Mamie punya harga diri yang sangat tinggi. Mamie tidak mau mendatangi tempatku. Harus aku yang mendatangi tempatnya … !
Tapi kalau sudah berduaan di dalam kamar seperti ini, Mamie tidak jaim lagi. Tidak jaim pula untuk memegang batang kemaluanku, yang lalu diselomotinya dengan lahap, takk ubahnya anak kecil yang sedang menyelomoti permen loli atau es lilin.
Sebenarnya aku kurang tega membiarkan Mamie mengoralku. Karena biar bagaimana dia itu istri ayahku, yang tetap saja menimbulkan rasa hormat di hatiku.
Namun setelah jiwa digoda nafsu birahi, semuanya dilupakan.
Setelah cukup lama aku dioral oleh Mamie, aku pun menggumulinya di atas bed. Menciumi dan menjilati bibirnya, lehernya, daun telinganya, toketnya dan ketiaknya. Dan Mamie menyambutku dengan pelukan hangatnya.
Dan ketika wajahku sudah berhadapan dengan memeknya yang tetap kugilai, Mamie merentangkan sepasang paha mulusnya selebar mungkin. Lalu kujilati memeknya yang selalu kukangeni ini habis – habisan. Tak cuma kujilati, jempol tanganku pun mulai ikut beraksi. Menggesek – gesek kelentit Mamie yang sudah sangat kuhapal letak dan bentuknya ini.
Mamie pun mendesah – desaah terus, sampai akhirnya ia bersuara dengan nada memohon, “Sudah Sayang … masukkan aja kontolmu … mamie sudah kangen benar sama entotan kontol gedemu itu … “
Tanpa membantah sedikit pun, aku berlutut di antara sepasang paha mulus yang tetap direnggangkan itu, sambil meletakkan moncong penisku di mulut memek Mamie yang sudah ternganga kemerahan itu.
Lalu dengan sekuat tenaga kudorong batang kemaluanku. Dan …. langsung amblas semuanya …. bleeesssssssssssskkkkkk … ! Setelah Mamie dua kali melahirkan, memang aku merasa dimudahkan, karena penisku bisa langsung amblas hanya dengan sekali dorong … tanpa harus bersusah payah lagi.
Mamie pun menyambut kehadiran penisku di dalam liang kewanitaannya, dengan pelukan dan bisikan, “Sam Sayang … kalau mamie belum menikah dengan Papa, pasti mamie akan merengek padamu … agar kamu mau mengawini mamie sebagai istri sahmu. “
“Jangan mikir serumit itu Mam. Meski pun kita tidak menikah, kan kita sudah diijinkan oleh Papa untuk berbuat sekehendak hati kita. Emwuaaaaah …. “ sahutku yang kuakhiri dengan ciuman hangat di bibir sensual Mamie Tercinta.
Lalu aku mulai mengentotnya dengan gerakan agak cepat, sehingga Mamie mulai menggeliat dan merintih, “Dudududuuuuuh …. Saaaam … kontolmu ini yang bikin mamie tgergila – gila padamu … selalu saja membuat mami klepek – klepek gini … iyaaaaaaaa … iyaaaaaaa … entot terus Saaaaam … entot teruuuussssssssssss … entooooooottttttttttttt … entoooooooottttttttttt … iyaaaaaaaaa … iyaaaaaaaaaaa … !”
Terlebih lagi setelah aku mengentotnya sambil mencelucupi puting payudaranya yang satu dan meremas payudara yang satunya lagi.
Aku sendiri mulai merasakan nikmatnya menyetubuhi Mamie, karena meski memeknya tidak sesempit sebelum punya anak dahulu, namun liang kewanitaannya ini tetap terasa legit. Terlebih setelah Mamie mulai mengayuun pinggulnya, bergoyang – goyang laksana goyangan penari perut dari timur tengah, disertai dengan getaran – getaran erotis di perutnya yang tetap kecil, tidak buncit sedikit pun.
Aku pun menanggapi goyang pinggulnya dengan menjilati ketiak kirinya, sambil meremas toket kanannya. Dan semakin berhamburanlah rintihan – rintihan histeris ibu tiriku yang sangat cantik dan baik hati itu.
“Saaaaaam … oooooooohhhhhhhhhh …. Saaaaaam …. dientot sama kamu sih sepuluh kali sehari juga mau Saaaaaaaam …. entooooot teruuuuuuuussssss Sayaaaaaaang …. entooot teruuussss sepuasmu Sayangkuuuuuu … ooooohhhhhhhhhh … ini nikmat sekali Saaaaaaammmm … nikmaaaaaaaaaaaaaattttt … entoooottttttt teruuussssssss … entoooooooottttttttttttttttttttttt … entoooooooooooooooooootttttttttttttttttt …. !”
Cukup lama aku mengentot Mamie. Sementara tubuhku sudah bermandikan keringat, bercampur aduk dengan keringat Mamie yang senantiasa harum mewangi, berkat wewangian yang senantiasa dipakainya itu.
Bahkan pada suatu saat, Mamie mulai berkelojotan. Dan aku tahu benar, bahwa Mamie akan segera mencapai puncak orgasmenya.
Tapi kali ini aku seolah ingin memamerkan keperkasaanku. Bahwa pada saat Mamie terkejang – kejang, dengan liang memeknya yang berkedat – kedut, aku tetap gencar mengentotnya.
Begitu juga setelah Mamie terkulai lemas, aku tetap gencar mengentotnya dengan gerakan hardcore yang sangat keras. Sehingga moncong penisku terus – terusan mentok di dasar liang memek Mamie. Hal itu membuat Mamie membuka matanya lagi. Lalu tampak seperti bergairah kembali.
Tapi ia berkata, “Gantian ah. Mamie pengen di atas. “
“Boleh, “ sahutku sambil tersenyum geli. Karena seingatku, Mamie lebih cepat orgasme dalam posisi WOT.
Tapi kuladeni saja keinginannya. Apa sulitnya celentang dan membiarkan Mamie yang mengentot, membiarkan liang memeknya mengocok batang kemaluanku.
Bersambung...
Aku pernah bertekad untuk menempatkan Anabella sebagai pelabuhan terakhirku. Tapi daya pesona Riri Oriana memaksaku untuk membatalkan “puasa”ku.
Karena sejak lama aku selalu saja penasaran kalau menemukan wanita baru di dalam lingkaran kehidupanku.
Meski begitu, aku sudah memperlakukan Anabella lebih dari semestinya. Aku telah memberi sebuah rumah yang tak jauh dari rumah Merry. Padahal harga tanah di daerah itu termahal di kotaku, karena hanya dihuni oleh kaum menengah ke atas. kaum yang gendut saja rekeningnya di bank.
Jadi, Bella tak perlu mengontrak rumah lagi. Rumah yang lumayan jauh pula letaknya dari rumah dan kantor Merry.
Merry juga tahu itu. Bahkan diam – diam Merry mentransfer dana ke rekeningku, untuk mengganti duit pembelian rumah yang lumayan megah itu. Padahal aku tidak mengharapkan penggantian dari Merry.
Tapi Merry sangat mengharapkan Anabella tidak beranjak dari kerajaan bisnis istri keempatku itu. Maka harga rumah yang mahal itu tidak berarti apa – apa bagi Merry jika dibandingkan dengan “harga” Anabella sendiri.
Dan yang paling membahagiakan Merry adalah … tokcernya spermaku untuk menghamili Anabella … ! Sebulan setelah kencanku dengan Bella, sekretaris pribadi Merry itu melapor padaku, bahwa ia sudah hamil tiga minggu setelah memeriksakan diri ke dokter … ! Ternyata Merry sendiri yang mengatur agar kencan pertamaku dengan Bella, terjadi pada masa subur Bella … !
Adalah hal yang aneh jika terdengar oleh orang lain. Bahwa istriku justru merasa bahagia setelah mendengar sekretaris pribadinya sudah mulai hamil olehku.
Memang pebisnis bisa melakukan apa pun demi keamanan bisnisnya. Masalah perasaan pribadi terkadang harus dikesampingkan.
Sementara itu, aku pun harus bisa memisahkan mana yang urusan cinta dan mana yang urusan biologis semata.
Banyak juga perempuan yang kujadikan sebagai pelabuhan biologis semata. Seperti Wulan, misalnya. Istri adikku itu memang memenuhi syarat untuk kujadikan pelabuhan biologisku. Karena Wulan senantiasa siap untuk dijadikan sosok pelampiasan nafsuku, dengan segala daya tariknya bagi lawan jenisnya. Itulah sebabnya Wulan seolah “kuobral” kepada teman – teman lamaku.
Walau pun begitu aku tetap memperhatikan kehidupan Wulan. Bahkan Wulan pun kurekrut untuk menduduki jabatan penting di perusahaan baruku ini. Tidak jadi karyawati hotelku lagi. Tentu dengan penghasilan yang lebih besar kalau dibandingkan dengan salary Wulan di hotelku.
Aku memang tidak mencintai Wulan. Aku hanya membutuhkannya sebagai wadah penyaluran hasrat biologisku.
Mungkin hal yang serupa terjadi pada diriku setelah berjumpa dengan teman seSMAku yang bernama Riri Oriana itu. Aku terus – terusan bertanya di dalam hati, seperti apa ya kalau Riri sudah kutelanjangi ? Bahkan pertanyaan yang paling nyeleneh adalah, seperti apa bentuk memek Riri ya ?
Itulah sebabnya ketika Riri datang lagi beberapa hari kemudian, sambil membawa berkas lamarannya, dengan cepat kuminta sekretarisku untuk membuat surat keputusan tentang pengangkatan Riri Oriana sebagai Manager Semarang. Surat keputusan yang dibuat tembusan ke general manager dan kepala bagian personalia (aku gak mau memakai istilah manager HRD dan lainnya yang terkesan muluk – muluk, yang hanya akan menarik perhatian orang pajak).
Tapi aku tidak membicarakan masalah SK itu kepada Riri. Aku bahkan membicarakan masalah lain. Masalah yang mengandung rasa penasaranku ini.
Secara diam – diam kuperhatikan Riri yang sedang duduk di sofa ruang tamu, yang saat itu mengenakan blouse dan rok mini sepatu sport yang serba putih semuanya. Seolah mau bermain tenis.
Lalu aku duduk di samping kanan Riri sambil menggenggam tangan kanan kanannya. “Aku mau nagih janjimu dulu ah. “
“Janji apa ?” Riri mengerling dengan senyum manis.
Sahutku, “Janji untuk berbagi rasa denganku itu. “
“Harus sekarang ditunaikan janjinya ?” Riri tersenyum lagi.
“Tidak ada kata harus … karena aku tidak mau memaksamu. “
Tiba – tiba Riri balas meremas tangan kiriku sambil merapatkan kepalanya ke pangkal lenganku. Kata Riri, “Bawalah aku ke mana pun yang Sam inginkan sekarang. juga. “
“Oke. Itu berarti Riri seorang calon pemimpin yang bisa menepati janji, “ kataku sambil berdiri dan menarik tangan Riri untuk berdiri juga.
Lalu kubawa Riri ke basement, tempat mobilku diparkir.
“Kita cari makan untuk sarapan pagi dulu ya, “ ucapku setelah berada di belakang setir sedan hadiah dari Mamie tiga tahun yang lalu ini. Memang untuk keperluan sehari – hari sedan ini lebih praktis dan nyaman kalau dibandingkan dengan jeep long chasis itu, yang menyulitkan kalau terjebak macet di jalanan padat kendaraan.
Kemudian aku belokkan mobilku ke pelataran parkir restoran langgananku.
Aku duduk berdampingan dengan Riri, sambil memandang ke arah aquarium super panjang (lebih dari 5 meter) yang dijadikan tempat hidup beraneka warna ikan laut beserta biota laut yang tampak masih hidup itu.
“Kapan aku harus berangkat ke Semarang ?” tanya Riri.
“Besok juga sudah bisa berangkat. Sekarang surat keputusannya sedang dibuat oleh sekretarisku. “
“Wow secepat itu … luar biasa … “
“Aku hanya minta keseriusan dan kejujuran Riri mengelola perusahaan nanti ya. “
“Siap Big Boss. Tapi … kalau aku kangen sama Sam nanti gimana ?”
“Kalau kamu yang kangen, ya terbang aja ke sini. Kalau aku yang kangen, aku yang terbang ke Semarang nanti. “
Kemudian kami menyantap sarapan pagi, cuma nasi tim ayam dan teh pahit panas.
Beberapa saat berikutnya, Riri sudah duduk lagi di dalam sedanku, menuju ke villa itu lagi. Villa yang pernah dipakai untuk mengeksekusi Anabella dan Mamie. Mungkin aku harus menempelkan icon Love di dinding villa ini, karena aku merasa villa ini akan sering dijadikan tempatku bercinta dengan perempuan – perempuan pilihanku.
Kuajak Riri ke ruang keluarga. Dan kuraih pinggangnya ke atas sofa, sehingga dia jadi duduk di atas pangkuanku. Entahlah, belakangan ini aku suka sekali mendudukkan perempuan pilihanku untuk duduk di atas kedua pahaku. Karena dalam posisi seperti ini terasa akrabnya, sekaligus bisa mendekap pinggangnya dan leluasa untuk menggerayangi bagian tubuhnya yang masih tersembunyi di balik pakaiannya.
“Sejak suamimu meninggal, pernah dekat dengan seorang lelaki ?” tanyaku sambil mendekap Riri dengan lengan kiriku, sementara tangan kananku mulai mengusap – usap pahanya di bawah rok mininya..
”Ya baru sekarang ini dekat dengan cowok yang sangat ganteng bernama Sammy ini, “ sahutnya tanpa menoleh padaku.
“Kamu juga cantik Ri. Kalau gak cantik mana mungkin kuajak ke sini, “ ucapku dengan tangan kanan yang mulai menyelundup ke pangkal pahanya yang terasa hangat, “Tapi kalau gak ada keinginan untuk bekerja di perusahaanku sih, mungkin kamu gak mau dibawa ke sini ya ?”
“Gak begitu juga keles. Masalah pribadi gak ada sangkut pautnya dengan masalah profesi. Tempo hari makanya aku manggil Sam waktu kita sama – sama sedang lari pagi karena apa ? Karena sejak masih sama – di SMA, Sam adalah cowok yang sangat kusukai. Tapi waktu itu Sam selalu menghindar kalau kupancing untuk membicarakan masalah pribadi kan ?”
“Saat itu aku ingin konsen mata pelajaran yang harus kita hadapi. Aku ingin lulus dengan nilai baik. Setelah kuliah pun aku masih tetap dingin pada cewek. Karena ingin secepatnya lulus dengan poredikat cum laude. “
“Setelah S1 langsung tancap gas, ngejar cewek sampai empat orang untuk dijadikan istri – istri Sam ya ?”
“Nggak begitu juga. Semua ada prosesnya. Dua orang istriku adalah perempuan bule. Mereka ingin jadi WNI, tapi sangat sulit kecuali menikah dengan orang Indonesia dulu. Istri pertama orang keturunan chinese. Itu karena dijodohkan oleh ibu tiriku yang tante istri pertamaku itu. Istri keempat juga ada alasan kuat untuk dijadikan istriku. Semuanya bukan berdasarkan nafsu semata, “ kataku dengan tangan yang sudah kuselinapkan ke balik celana dalam Riri Oriana. Dan menemukan permukaan kemaluan yang sangat licin, tiada rambutnya seutas pun.
Dan ketika jari tengahku mulai menyelusup – nyelusup ke dalam celah memeknya, aku berkata setengah berbisik, “Memekmu pasti enak sekali neh. “
“Emangnya ada memek yang nggak enak gituh ?”
“Banyak. Terutama memek yang jarang dicuci dan dirawat. “
“Ooo … kalau soal itu sih dijamin. Memekku selalu dibersihkan secara rutin tiap hari. Ini kan milik terpenting yang harus selalu terjaga kesehatannya … hihihihiiii … !”
“Kontolku jadi ngaceng neh. Pindah ke kamar yuk, biar lebih leluasa, “ ucapku sambil mengeluarkan tanganku dari balik celana dalam Riri Oriana.
Waktu melangkah menuju kamar utama, Riri berkata setengah berbisik, “Aku degdegan neh … “
“Wajar sih, aku juga degdegan kok, “ sahutku sambil menutupkan dan mengunci pintu setelah kami berdua berada di dalam kamar utama ini.
“Baru sekali ini aku melihat villa semegah dan semewah ini, “ ucap Riri sambil berdiri di dekat sofa kamar utama.
“Memang villa ini hanya bisa dikunjungi oleh orang – orang istimewa saja. Jadi, sebenarnya kamu termasuk istimewa di hatiku, Riri yang cantik. “
“Masa sih ?” cetus Riri sambil mendekap pinggangku. Dengan tatapan tajamnya yang seolah menembus jantungku.
Aku pun menanggapinya dengan pelukan di lehernya, lalu kucium bibirnya dengan sepenuh kehangatan tuntutan birahiku.
Riri menyambut ciumanku dengan lumatan yang hangat pula. Bahkan ketika kujulurkan lidahku sedikit, dia langsung menyedot dan menggelutkan lidahnya ke lidahku di dalam mulutnya.
Aku pun membalasnya. Ketika lidah Riri terjulur, kusedot dan kugelutkan lidahku ke lidahnya di dalam mulutku. Dan semakin erat juga dekapan Riri di panggangku ini.
Lalu … Riri melepaskan bblouse dan rok serba putih itu. Kemudian juga sepatu dan kaus kaki serba putih itu pun dilepaskan dari kakinya.
Sehingga tubuh indah itu tinggal mengenakan beha dan celana dalam saja.
Maka aku pun mengimbanginya dengan menanggalkan segala yang melekat di tubuhku, hanya celana dalam yang kubiarkan masih melekat pada tempatnya.
Riri tersenyum melihatku tinggal mengenakan celana dalam ini. “Tubuh Sam ideal banget. Sangat seksi kelihatannya. Pantesan banyak yang ingin jadi istri Sam, “ ucap Riri sambil menanggalkan behanya, lalu celana dalamnya pun ditanggalkan.
Hmmm … pujian yang ia lontarkan padaku justru harus kuucapkan padanya setelah melihat bentuk tubuh mulus Riri itu. Tinggi langsing tapi tidak kurus. Sepasang toketnya berukuran sedang. Bokongnya pun berukuran sedang, gede tidak tepos pun tidak.
Mungkin bentuk tubuh seperti itu diidam – idamkan oleh banyak istri.
Aku pun tak mau buang – buang waktu lagi. Kulepaskan celana dalamku, lalu merayap ke atas tubuh Riri yang tampak sudah pasrah untuk dijadikan penyaluran hasrat birahiku. Tapi Riri menghindariku setelah melihat bentuk penisku yang memang di atas rata – rata ini.
“O my God !” seru Riri sambil memegang penisku yang sudah ngaceng berat ini, “Ini anaconda apa penis ?!”
“Ini namanya kontol Non, “ sahutku sambil menepiskan genggaman Riri, lalu kugumuli tubuh hangatnya dengan segenap gairahku.
Riri pun menyambut gumulanku dengan pelukan erat di leherku, disusul dengan ciuman dan lumatan binalnya di bibirku.
Sepasang toket Riri ternyata masih sangat kencang, meski usianya sudah di atas 27 tahun, setahun lebih tua dariku. Mungkin karena jarang diremas lawan jenisnya. Mungkin juga karena dirawat oleh obat – obatan khusus untuk mengencangkan payudara. Entahlah.
Yang jelas aku mulai mencelucupi pentil toketnya, sementara jemariku nyasar ke memeknya. Untuk mengelus – elus mulut vaginanya dan untuk menyelusup – nyelusup ke dalam celahnya yang mulai membasah.
Bahkan akhirnya aku melorot turun ke bawah perut Riri, karena sudah sangat penasaran, ingin menjilati memeknya yang tembem dan mudah basah setelah kucolek – colek dengan jari tengahku barusan.
Dan … sepasang paha mulus itu pun merenggang. Seolah mengucapkan selamat datang buat lidah yang gemar menjilati memek … !
Bersambung...
Gina menyambut kedatanganku dengan wajah ceria dan lebih cantik dari biasanya. Membuatku semakin yakin bahwa bayi di dalam kandungan Gina itu perempuan. Tapi Gina selalu menolak untuk meminta di-USG. Gina selalu bilang, “Aku tidak ingin tau jenis kelamin bayi di dalam kandunganku ini. Takut dianggap mendahului kehendak Tuhan. Biarlah mau cowok atau cewek, bagiku sama aja. “
Gina yang sudah bisa berjalan secara normal, meski dalam keadaan hamil tua pun bisa menghampiriku. Dan menghambur ke dalam pelukanku sambil berkata, “Aku kangen berat sama Sam … “
Lalu Gina mencium bibirku dengan mesranya, tanpa mempedulikan suster yang berdiri di belakangnya. Kemudian dia menuntun tanganku untuk masuk ke dalam kamarnya.
Dan keisenganku kambuh ketika mau melewati suster yang bernama Ranti itu. Kutepuk bahunya sambil bertanya, “Mau nonton kami ML nggak ?”
“Hihihihiiii … Boss ada – ada aja … “ sahut suster Ranti tersipu – sipu.
Gina tidak marah. Bahkan membisiki telingaku, “Kalau ada Merry, pasti dia nonton kita ya. “
“Iya …. hahahaaa …. “
Setelah berada di dalam kamar yang pintunya sudah kututup dan kukuncikan, Gina melepaskan baju hamilnya. Sehingga tampaklah bentuk bumil (ibu hamil) yang buncit perutnya, sementara memeknya seolah bersembunyi di bawah perut buncitnya. Menurut pengakuan Gina sendiri, sejak kehamilannya membesar, dia tak mau mengenakan celana dalam mau pun beha lagi, karena jadi bikin ribet dan gerah, katanya.
Merry pun sengaja membelikan ranjang yang bisa dinaik turunkan, agar memudahkan Gina untuk bergerak naik turun tergantung kebutuhannya. Ranjang besi itu pun bisa dimiringkan ke segala arah, juga sesuai kebutuhan pemakainya. Biasanya ranjang sejenis itu disediakan di rumah sakit internasional.
Saat itu Gina sudah duduk di pinggiran ranjang elektroniknya, menungguku melepas segala yang melekat di tubuhku.
“Kalau bisa, kakinya dijuntaikan aja ke lantai. Nanti ranjangnya akan kunaikkan, “ kataku.
“Kenapa ?” Gina tampak belum mengerti.
Kujawab, “Kan biar aku bisa ngentot sambil berdiri, tanpa menghimpit perutmu. Kasian kan si kecil kalau kegencet olehku nanti. “
“Ogitu yaaa … “ ucap Gina sambil bergerak, membuat pantatnya berada di pinggir ranjang elektronik itu, sementara kedua kakinya menginjak lantai.
Lalu kupijat tombol UP. Dan ranjang itu bergerak naik sampai setinggi meja makan. Masih lebih rendah daripada posisi penisku pada waktu sedang berdiri. Kupijat lagi tombol UP sampai hampir sejajar dengan penisku. Kedua kaki Gina pun menggantung, tidak menyentuh lantai lagi.
Lalu aku membungkuk sampai mulutku menyentuh memek Gina yang agak ternganga kemerahan itu. Maklum dia sedang hamil. Tanpa ragu aku pun menjilati memeknya, sambil mengelus – elus kelentitnya dengan ujung jempolku.
Gina yang kedua kakinya sudah normal, tampak menggeliat -geliat, dengan nafas berdesah – desah. Apalagi setelah telunjuk dan jari tengahku dimasukkan ke dalam liang memeknya, lalu ditekankan ke bawah. Untuk menciptakan sensasi tersendiri baginya.
Semua yang kulakukan ini cukup efektif. Karena dalam tempo singkat saja liang kemaluan Gina sudah membasah. Mulut vaginanya pun ternganga merah, menunggu kehadiran penisku di dalam dirinya.
Lalu terdengar suara Gina, “Perempuan kalau lagi hamil kelihatan jelek, ya Sam. “
“Siapa bilang ?” sahutku, “Justru banyak lelaki yang ingin merasakan nikmatnya menyetubuhi wanita hamil. Terutama lelaki – lelaki yang gagal menghamili istrinya. “
Ucapan itu kulanjutkan dengan membenamkan penisku ke dalam liang kemaluan Gina. Aku melakukannya sambil berdiri, sementara Gina menelentang dengan bokong berada di pinggir ranjang dan sepasang kaki terjuntai ke bawah.
“Oooo … oooooh Saaaam … aku sudah kangen sekali padamu … “ rintih Gina ketika penisku sudah membenam ke dalam liang memeknya. Liang memek yang lain rasanya jika dibandingkan dengan waktu sebelum hamil.
Memang pantas kalau banyak orang yang ingin merasakan nikmatnya menyetubuhi wanita hamil, terutama para lelaki mandul yang tak pernah bisa menghamili istrinya.
Bahkan salah seorang teman lamaku yang bermasalah dengan spermanya. Ya, teman lamaku itu adalah Bimo. Dan Tina, istrinya pernah berkata padaku dalam acara wife swap di villaku. Aku masih ingat benar apa yang Tina katakan saat itu “ …. Bimo bilang, bahwa dia bermasalah, dia rela kalau aku dihamili oleh orang lain. Yang penting, aku tak boleh minta cerai darinya. Dan anak itu harus disebutkan anaknya, supaya mendapat tunjangan anak dalam gajinya…. “
Lalu, demi sahabat lamaku yang ingin agar aku menghamili istrinya, aku pun jadi sering mendatangi rumah Bimo. Hanya untuk menggauli Tina, dengan ijin dari Bimo tentunya. Bahkan pada waktu Bimo sedang ada di rumahnya pun, aku tetap bisa menggauli Tina. Sementara Bimo sendiri pergi ngeluyur entah ke mana. Mungkin karena ingin menciptakan kenyamanan bagi istrinya untuk menerima pembuahan dariku.
Akhirnya aku berhasil menghamili Tina. Dan setelah Tina hamil lima bulanan, Bimo meneleponku, “Sam … terima kasih sudah membuat gue jadi bergairah lagi. “
“Maksud lu ?”
“Gue emang terobsesi, ingin merasakan ML dengan wanita hamil. Sekarang sudah tercapai. Setelah perut Tina mulai kelihatan agak membuncit, seolah tiada malam tanpa ML lagi dengannya. Pokoknya gue jadi sangat bergairah sekarang. Terima kasih Bro !”
Tina pun pernah nelepon padaku. Dia bilang, sejak perutnya agak membuncit, Bimo jadi “rajin” menyetubuhinya.
Aku tersenyum sendiri mendengar curhat Tina itu. Lalu aku berkata di dekat hapeku, “Nanti kalau bayinya sudah lahir dan Bimo ingin bergairah lagi seperti itu, call aja aku. Biar kamu hamil lagi Tin. “
“Hihihihi … gak tau juga tuh bagaimana setelah anak kita ini lahir nanti. Tapi biar bagaimana, Sam sudah merupakan bagian dari diriku. Meski tidak mendapat ijin dari Bimo, aku ingin agar kita tetap bisa ketemuan dan ketemuan terus sampai kapan pun. “
Gairahku tidak seperti gairah Bimo. Ketika aku sedang menyetubuhi Gina ini, aku malah sangat berhati – hati, karena takut mengganggu bayi di dalam perut Gina. Akibatnya, aku tidak bisa ejakulasi. Padahal Gina sudah dua kali orgasme.
Sehingga akhirnya aku pura – pura mau ejakulasi. Kubenamkan penisku sedalam mungkin. Lalu kukejut – kejutkan penisku sebisaku, seperti kejutan penis pada waktu sedang ejakulasi.
Dan Gina mengiraku sudah ejakulasi beneran.
Maka setelah ranjang elektroniknya kuturunkan, Gina bergerak ke tengah ranjangnya sambil berkata, “Aku jadi ngantuk sekali, Sayang. Aku mau bobo dulu ya. “
“Iya, bobo deh yang nyenyak ya, “ sahutku disusul dengan kecupan sayang di dahi Gina.
“Terimakasih. Kalau mau makan, minta aja sama Ranti. Pembantu lagi pada pulang, “ kata Gina sambil memeluk bantal guling, lalu tampak tertidur pulas.
Setelah berpakaian lengkap aku pun keluar dari kamar Gina. Lalu melangkah ke kamar Suster Ranti yang terletak di belakang. Apakah aku mau minta makan seperti yang disarankan oleh Gina ?
Tidak. Aku mau mencari jalan untuk ejakulasi. Mudah – mudahan saja aku berhasil merayu Ranti untuk dijadikan “sasaran tembak”ku.
Kulihat Ranti sedang berdiri membelakangi pintu, sambil menyetrika baju – baju hamil Gina.
Kusergap Suster Ranti dari belakang, dengan mendekap pinggangnya erat – erat.
“Aaaauuuu … ! “ Suster Ranti kaget dan menoleh ke arahku, “Boss … bikin saya kaget aja. “
Aku tidak melepaskan dekapanku. Bahkan kupererat sambil membisiki be;lakang telinganya, “Kamu menjanda udah berapa tahun ?”
“Sudah dua tahun. Memangnya kenapa Boss ?”
“Sebenarnya sudah lama aku tergiur olehmu. Tapi selalu banyak orang di sini. Mungkin sekarang saatnya … kamu pun pasti sudah merindukan sentuhan lelaki kan ?”
“Hihihi … Boss barusan kan abis begituan sama Bu Gina. “
“Iya, tapi sengaja kutahan agar jangan sampai ngecrot. Karena aku ingin ngecrot di dalam kepunyaanmu. Gimana ?”
“Masa sebegitu lamanya belum ngecrot Boss ?”
“Belum. Masa aku harus sumpah ?”
“Tapi … saya takut sama Ibu … “
“Dia sedang tidur nyenyak, “ kataku sambil merayapkan tanganku ke balik rok putihnya, sampai menyentuh kulit pahanya yang terasa licin sekali.
Aku menunggu reaksinya. Ternyata dia diam saja. Mungkin karena mendengar majikannya sedang tidur.
Dan tanganku berhasil mencapai celana dalamnya, yang lalu kuselundupkan ke baliknya. Dia masih diam juga. Bahkan ketika aku mulai mengusap – usap permukaan kemaluannya yang bersih dari bulu memek, ia pun masih terdiam.
Aku menyimpulkan bahwa Suster Ranti tidak menolakku. Karena itu sengaja kuselinapkan jari tengahku ke liang memeknya … mmm … licin dan hangat.
Terdengar suara Suster Ranti, “Boss … aaaah … Boss nakal … ka … kalau sudah dipegang dan dicolok – colok gini sih saya gak kuat menahan nafsu Boss. “
“Ya udah. Kita lakukan sekarang di situ ya, “ ucapku sambil menunjuk ke bed yang biasa dipakai tidur olehnya.
“Terserah Boss … tapi kalau ketahuan sama Bu Gina nanti gimana ?”
“Aku tanggung jawab kalau ketahuan sama dia sih, “ sahutku sambil menutup dan menguncikan pintu keluar. Lalu kulepaskan pakaianku sehelai demi sehelai. Hanya celana dalam yang masih kubiarkan melekat di tempatnya. Sementara Suster Ranti pun melepaskan blouse dan rok serba putihnya, kemudian memegang kedua tanganku sambil berkata perlahan, “Saya juga suka sekali sama Boss. Tapi saya kan tau diri. Saya sadar siapa saya dan siapa Boss. “
“Udahlah, jangan pikirkan masalah status. Sekarang ini hanya ada seorang lelaki bernama Sam dan seorang janda seksi bernama Ranti, “ sahutku sambil bergerak ke belakangnya, untuk melepaskan kancing kait beha yang terletak di punggung Suster Ranti.
Dan tanpa penolakan dari wanita muda berkulit sawomatang itu, kuturunkan celana dalam putihnya sampai terlepas dari kedua kakinya.
“Hmmm … wanita hitam manis seperti Ranti ini yang sudah lama kudambakan, “ ucapku yang disusul dengan kecupan hangat di bibirnya, sementara tangan kananku mengusap – usap permukaan memeknya yang bersih licin.
Ranti seperti ingin mengimbangiku, dengan menurunkan celana dalamku sampai terlepas dari kedua kakiku. Lalu memekik perlahan, “Boss … gak salah nih ? Gak nyangka bisa ada penis segede dan sepanjang ini, “ Suster Ranti berjongkok sambil menimang – nimang penis ngacengku dengan kedua tangannya.
Bersambung...