Hari ini terjadi kehebohan di sebuah bandara di ibukota suatu negara, karena saat ini, ada tamu VVIP yang akan datang ke negara ini.
Persiapan sudah dilakukan oleh banyak orang sejak beberapa hari lalu. Banyak petinggi negara ini yang hadir di ruang VVIP bandara yang tempatnya terbatas itu, di luar ruangan VVIP, nampak ada banyak anggota militer dan polisi yang berjaga.
Di dalam ruangan VVIP, terlihat seperti rapat kenegaraan karena ada banyak Mentri yang hadir di dalam ruangan VVIP ini, bahkan dari kasak-kusuk yang terdengar, ternyata presiden juga ikut memantau acara ini dari istana.
Selain para menteri, para petinggi militer dan kepolisian, juga hadir di tempat ini, selain para pejabat papan atas tersebut, ada banyak pengusaha papan atas negeri ini yang hadir di ruangan ini, tapi anehnya, acara ini luput dari perhatian pers, karena ternyata para petinggi negeri ini, sudah wanti-wanti dari sejak jauh-jauh hari kalau tamu super penting yang akan datang sebentar lagi itu, tidak menghendaki ada konferensi pers dan tidak menghendaki kedatangannya diliput oleh pers.
"Sebenarnya The Special One itu, siapa sih, pa?" bisik Rima, istri dari Hartadji, salah seorang dari sepuluh besar orang terkaya di negeri ini.
"Dia itu berasal dari Amerika Serikat, empat tahun ini, dia jadi orang terkaya di negerinya, dia disebut sebagai The Special One karena semua Aplikasi terkenal sekarang ini di internet adalah hasil ciptaannya. Dia juga berhasil menciptakan banyak mesin canggih sehingga tercipta banyak hasil tambang baru hingga perusahaannya menjadi perusahaan terbesar di dunia."
"Wow... hebat banget." Rima berdecak kagum mendengar kehebatan The Special One itu.
"Bukan hanya itu, dia juga terkenal di dunia saham, perusahaan sahamnya menjadi perusahaan saham terbesar di Amerika dan dunia. Dia juga membeli banyak bank dan perusahaan asuransi kelas menengah bahkan hampir bangkrut, tapi, hanya dalam beberapa bulan saja, Bank dan perusahaan asuransi itu disulapnya menjadi Bank dan perusahaan asuransi raksasa."
"Wow! Seandainya dia masih muda, aku mau menjodohkan dia dengan anak kita, pa. Tapi, kalau dia sudah sesukses itu, pasti orangnya sudah tua."
"Aku tidak tahu rupa dan umurnya karena dia tidak mau diliput dan di foto oleh majalah manapun, orangnya sangat misterius. Oh iya, kamu tahu kenapa kita semua kumpul di ruangan ini?" tanya Hartadji.
"Tidak. Memang kenapa?" tanya Rima penasaran.
"Saat beberapa hari lalu, terdengar kabar kalau The Special One akan mengunjungi negeri ini, kita semua langsung menyambutnya karena mengharapkan investasi."
"Investasi?"
"Ya. Setahun belakangan ini, di setiap negara yang dia singgahi, negara-negara itu mendapatkan kucuran banyak investasi darinya dan bukan hanya investasi, dia juga membawa transfer teknologi kepada negara-negara itu sehingga negara yang teknologi pertaniannya masih kurang, tiba-tiba meningkat berkali lipat dengan investasi dan transfer teknologi yang dilakukan The Special One dan perusahaannya itu. Tidak hanya di bidang pertanian, dia juga investasi di bidang lainnya."
"Hebat banget. Ckckck."
"Karena itulah, waktu mendengar The Special One akan datang ke negara kita ini, pemerintah kita langsung sibuk mengatur semuanya, pemerintah ingin mendapatkan kucuran dana investasi dari The Special One itu, pemerintah juga mengundang kalangan pengusaha seperti kita, untuk menjadi mitra investasi bagi The Special One."
"Mudah-mudahan kita bisa dapat investasi ya, pa."
"Mudah-mudahan, ma."
"Pasti hebat kalau anak kita bisa dinikahi sama dia, tapi The Special One itu, pasti sudah tua dan sudah menikah."
"Soal tua atau muda, aku gak tahu, yang jelas, aku dapat kabar kalau dia belum menikah," kata Hartadji.
Saat ini, terdengar derap langkah kaki beberapa orang dari arah pintu belakang, Hartadji dan Rima langsung menghentikan pembicaraan mereka untuk menyaksikan kedatangan beberapa orang itu.
Saat ini tamu super penting itu masuk ke dalam ruang VVIP ini. Dia baru saja turun dari pesawat dan masuk ke dalam ruangan VVIP ini didampingi oleh dua orang asistennya dan juga didampingi oleh menteri luar negeri di negara ini.
Semua hadirin langsung berdiri dan tersenyum ke arah empat orang yang baru datang ini. Mereka berdiri menyambut kedatangan The Special One itu.
"The Special One itu yang mana?" bisik seorang menteri kepada Menteri lainnya, Mentri yang ditanya itu, cuma bisa mengangkat bahu karena dia juga sama tidak tahunya. Mereka semua sudah tahu sepak terjang the special one orang yang mengguncang dunia dalam 4 tahun belakangan ini tapi belum tahu yang mana orangnya.
The Special One duduk di depan sambil sibuk dengan handphonenya, wajah tampannya tertutup oleh masker kain, hanya dua asistennya yang berdiri di samping kiri dan kanannya yang meminta para petinggi negeri ini untuk duduk kembali.
Para petinggi negeri ini tidak merasa tersinggung dengan sikap The Special One ini, karena mereka merasa, merekalah yang membutuhkan The Special One ini, sehingga walaupun sikap The Special One sejak masuk ke ruangan VVIP ini agak cuek kepada mereka, tapi mereka masih tetap memasang senyum ke arah The Special One ini.
Seorang menteri bernama Sanjaya yang memang di daulat untuk menjadi juru bicara utama, kini bangkit berdiri dan mengucapkan selamat datang kepada The Special One dalam bahasa Inggris.
"Merupakan kehormatan bagi kami bisa menerima orang sebesar Anda ini di negara kami, kami tidak menyangka kalau kami akan menerima kunjungan dari Anda di negara ini, setelah setahun belakangan ini, banyak investasi dari Anda yang cuma mampir di negara-negara tetangga kami dan tidak pernah mampir di negara kami, akhirnya, Anda datang juga di negeri kami ini."
Asisten The Special One yang bernama Richard Kyle berkata," The Special One datang ke negeri ini, karena memang ada keperluan di negeri ini. Negeri ini sudah lama jadi pantauan The Special One. The Special One juga ingin berinvestasi disini and by the way, The Special One tahu bahasa negeri ini, jadi, untuk selanjutnya, Anda boleh memakai bahasa negeri ini."
Sanjaya dan hadirin lainnya agak terkejut mendengar The Special One ternyata tahu bahasa negerinya, tapi, karena mereka pikir The Special One adalah seorang jenius, mereka tidak berpikir macam-macam.
"Bagus. Inilah yang kami tunggu-tunggu, karena investasi dari The Special One pasti akan membuat makmur negeri ini dan rakyat di negeri ini, terima kasih The Special One," kata Sanjaya dengan bahasa negerinya, sambil membungkukkan tubuhnya ke arah The Special One yang masih diam di tempatnya itu.
"Tidak semudah itu, Pak Menteri, The Special One memang berencana berinvestasi di negara ini, tapi, dia meminta beberapa dukungan, barulah dia akan berinvestasi di negara ini," kata Richard Kyle.
"Kami mengerti. Kami akan menyediakan apapun yang diperlukan oleh The Special One. Pemimpin negeri ini sudah menginstruksikan kepada kami untuk membuat kesepakatan dengan The Special One, jadi, apapun syarat-syarat yang ditetapkan oleh The Special One akan kami turuti," kata Sanjaya.
"Kalau The Special One mungkin meragukan tentang tenaga buruh dan tenaga kerja di negeri ini untuk investasi yang akan ditanamkan di sini atau meragukan tentang keamanan maka, kami jamin kalau itu semua bisa kami sediakan di sini. Ada pemimpin kepolisian disini yang berjanji akan menyiapkan keamanan terbaik untuk investasi dari The Special One," kata menteri bernama Burhan Sidharta sambil bangkit berdiri dari kursinya.
"Bukan. Bukan itu. The Special One tidak pernah menghawatirkan soal tenaga kerja atau keamanan atau apapun itu dalam investasi di negeri ini. Tapi, syarat yang dikemukakan oleh The Special One cukup mudah," kata Richard Kyle.
Para petinggi negara kemudian menunggu, menunggu perkataan selanjutnya dari Richard Kyle itu. Richard adalah seorang bule berkebangsaan Amerika.
"Begini, The Special One sebenarnya pernah tinggal di negara ini dan di negara ini dia memiliki masalah hutang, dendam dan cinta kepada beberapa orang di negara ini, jadi The Spesial One yang akan tinggal sebulan di negara ini, meminta kalian melancarkan segala usahanya untuk menuntut balas semua hutang dendamnya kepada beberapa orang dan juga melancarkan hubungan cintanya dengan seorang gadis, itu saja syarat yang diminta oleh The Special One," kata Richard Kyle sambil menatap para hadirin.
Penjelasan yang diberikan oleh Richard Kyle ini membuat hadirin di ruangan ini menjadi sangat kaget. Sebelumnya, mereka pikir syarat yang diajukan oleh pihak The Special One itu menyangkut syarat-syarat berat seperti soal tenaga kerja yang memang kadang menjadi momok di banyak negara ataupun soal keamanan yang juga kadang-kadang menjadi masalah di sebagian negara, sehingga kadang-kadang investasi besar gagal terlaksana.
Tidak mereka sangka kalau syarat yang diajukan oleh The Special One ini termasuk mudah, hanya melancarkan suatu masalah dendam pribadi dengan beberapa orang dan juga melancarkan hubungan dengan seorang wanita, itu membuat beberapa petinggi negeri ini saling berpandangan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar itu.
"Wah, kalau cuma itu sih, kami jamin, kami akan membantu dengan sekuat tenaga, siapapun yang pernah bersalah pada The Special One di negeri ini akan kami tangani, kalau perlu akan langsung kami angkut ke penjara dan kami juga akan bantu soal wanita yang dibilang The Special One tadi," kata Burhan Sidharta, Mentri Perindustrian di negara ini.
"No. Persoalan ini tidak bisa dilakukan dengan gegabah dan terang benderang, The Special One memilih untuk melakukan ini semua secara senyap, tidak perlu menggunakan kekuasaan yang berlebihan, tapi campur tangan kalian diperlukan dalam beberapa hal, karena itu The Special One meminta supaya kalian mengirimkan beberapa orang yang setiap saat bisa membantu The Special One saat menghadapi masalah dengan orang-orang yang akan dia hadapi di negara ini," kata Richard Kyle lagi.
"Kami berjanji kami akan mengirimkan beberapa orang untuk setiap saat membantu The Special One," kata Sanjaya.
"Bagus, tapi tidak perlu setiap saat juga sih, mereka cuma diperlukan kalau orang-orang yang akan dihadapi oleh The Special One, memakai kekuasaan mereka di negara ini untuk menindas The Special One, seperti yang pernah mereka lakukan dulu kepada The Special One."
"Wah, kalau memang mereka seperti itu, suka menindas orang, aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghabisi mereka," geram Burhan Sidharta sambil berdiri
"Jangan! The Special One ingin bertindak dengan caranya sendiri," cegah Richard Kyle.
"Baiklah. Kami nurut saja apa keinginan The Special One," kata Burhan Sidharta sambil duduk kembali.
"Oke. Satu lagi yang harus diingat buat semua hadirin yang ada disini, yaitu, identitas The Spesial One harus tetap rahasia. Dia tidak ingin, identitasnya sebagai The Spesial One, diketahui oleh orang-orang dari masa lalunya, jadi, Anda semua harus menjaga supaya identitasnya ini tetap terjaga hingga The Special One sendiri memilih untuk mengungkapkannya," kata Richard Kyle dengan bahasa negeri ini yang cukup fasih.
"Iya, kami mengerti," kata Sanjaya mewakili hadirin yang ada disini sambil menatap ke arah semua hadirin di tempat ini, seolah ingin mengatakan, kalau ada yang berani membocorkan identitas The Special One, maka orang yang membocorkan identitas The Special One itu, akan berhadapan dengan Sanjaya.
" Kami mengerti dan akan ada beberapa orang yang akan segera mengikuti Anda bertiga dan siap sedia dihubungi kapanpun Anda bertiga inginkan," kata Burhan Sidharta sambil menatap The Special One dan dua asistennya.
Sesudah itu, Richard Kyle tampak berdiskusi dengan The Special One. Sanjaya dan beberapa menteri lainnya, memanfaatkan kesempatan ini untuk berembug di antara sesama mereka.
Rima mulai kasak-kusuk lagi dengan suaminya hartadji," pa, nampaknya The Special One ini masih sangat muda, mungkin bahkan belum ada 30 tahun umurnya dan walaupun wajahnya tertutup masker, aku yakin dia sangat tampan, pa. Kalau memang seperti kata-kata papa tadi yang bilang dia belum menikah, maka dia bakal cocok sekali menjadi calon suami dari anak kita, pa."
"Loh, kamu kan sudah dengar tadi kalau dia itu sedang mengejar seorang wanita di negara ini, jadi, walaupun dia belum menikah, tapi, dia sudah punya wanita yang dia sukai," sergah Hartadji
"Ingat, pa dengan kata-kata, selama janur kuning belum melengkung di depan rumah, maka anak kita masih memiliki kesempatan untuk memiliki The Special One yang super duper tajir itu, pa. Kita harus berusaha, pa."
"Sudahlah, yang penting itu, kita dapat investasi dari The Special One, itu saja yang penting, ma," kata Hartadji.
"Tapi kan kalau anak kita jadi calon istrinya dengan sendirinya investasi untuk perusahaan papa akan melesat jauh, iya kan, pa?"
"Sudahlah, jangan berharap terlalu tinggi, nanti jatuh loh."
"Ih, aku kan cuma lagi mencari jodoh sempurna untuk anak kita, pa."
"Sudahlah. Nanti kita pikirkan semuanya lagi, yang jelas, aku cuma berharap investasi dari kehadiran The Special One ini."
"Ya udah." Rima langsung manyun karena keinginannya tidak ditanggapi Hartadji.
"Kayaknya dia berasal dari negeri ini deh," gumam Rima setelah sempat terdiam sesaat.
"Maksud mama apa?"
"Coba lihat warna rambut dan kulitnya juga wajahnya yang walaupun tertutup masker tapi, aku yakin banget, The Special One itu, berasal dari negeri ini," kata Rima sambil terus menatap penuh selidik ke arah The Special One di depan sana.
"Masak sih, ma. Yang aku tahu, The Special One itu orang Amerika, ma. Dia orang terkaya di Amerika, orang paling berpengaruh di sana, gak mungkinlah dia orang negeri kita," bantah Hartadji.
"Lihat aja modelnya tuh. Malah dua asistennya itulah yang terlihat bule yang lebih cocok jadi orang Amerika. Dia mah kagak, orang sini dia, pa."
"Udah ah gosipnya, ma. Tuh, The Special One udah mau pergi," kata Hartadji sambil menunjuk ke depan sana.
Sesudah mendapat kesepakatan dengan petinggi negeri ini, The Special One diikuti oleh dua orang asistennya berpamitan untuk meninggalkan ruang VVIP bandara.
"Kami sudah menyediakan iring-iringan dengan pengawalan banyak polisi dan lima kompi militer, kami juga bisa mensterilkan semua jalan yang akan dilewati oleh The Special One. Cukup The Special One bilang akan kemana, maka semua jalan kesana, akan kami tutup," kata Sanjaya kepada Richard Kyle
"The Special One kan sudah bilang tadi, kalau dia tidak ingin terlalu menyolok. Saat ini, dia memang akan menemui orang-orang yang berhubungan dengannya di masa lalunya, tapi, dia tidak mau menunjukkan kekuasaannya. Kalau memang diperlukan, barulah kami akan menghubungi kalian, selama belum perlu, kalian tidak perlu mendampingi kami. Jadi, The Special One menolak iring-iringan seperti itu," tegas Richard Kyle kepada Sanjaya.
Sanjaya melirik ke arah The Special One yang berada di samping Richard Kyle dan sampai saat ini masih belum mengucapkan satu patah katapun itu, setelah Sanjaya melihat pandangan mata tajam dari The Special One kepadanya yang berarti mengamini kata-kata dari Richard tadi, akhirnya Sanjaya pun mengangguk-angguk mengerti dan membiarkan The Special One keluar dari ruangan VVIP.
Setelah itu, The Special One dengan dikawal dua asistennya, Richard Kyle dan Moreno Casiraghi, langsung keluar dari ruang VVIP dan langsung menuju ke sebuah mobil yang sudah menunggu mereka.
"Kita akan menuju kemana, Andre?" tanya Richard Kyle kepada The Special One yang dia siapa dengan nama Andre itu.
"Menuju ke rumahku, menghadiri pesta hari ulang tahun ayahku. Aku ingin melihat rumah masa kecilku, rumah tempat aku dibesarkan, rumah yang sangat berkesan bagiku, walaupun belakangan rumah itu menjadi rumah neraka bagiku, saat ayahku membawa ibu tiri ke dalam rumah itu, ibu tiri yang memiliki banyak anak yang kemudian menjadi saudara tiriku, mereka yang sebelumnya aku anggap adik dan kakakku sendiri, tapi mereka sendiri menghancurkan hubungan itu," kata Andre sedih.
Setelah itu, Andre teringat dengan masa lalunya, di masa lalunya, lima tahun yang lalu, Andre dipercaya ayahnya untuk menjadi wakil direktur utama di perusahaan ayahnya. Perusahaan ayahnya yang sebelumnya hanya menjadi perusahaan menengah di ibukota ini, tiba-tiba menjadi perusahaan kelas atas gara-gara kehebatan Andre, padahal sebelumnya, perusahaan ayahnya sudah mulai bermasalah keuangan karena sikap sangat boros dari sang ibu tiri bersama-sama saudara-saudara tiri dari Andre.
Tapi di tangan Andre, perusahaan ayahnya tetap maju bahkan meningkat pesat menjadi perusahaan raksasa di kota ini dan di saat itulah saudara tirinya Andre melakukan fitnah keji kepada Andre.
Fitnah keji yang di pimpin oleh Hermawan Susatno, sang kakak tiri tertua itu, dilontarkan kan oleh Jessica Susatno, adik bungsu Hermawan, tepat pada saat Andre sedang berbahagia, sedang melakukan acara pernikahan dengan wanita pilihannya yaitu Sherlyn Elena Prayoga.
Karena fitnah keji dari Jennifer Susatno yang mengaku diperkosa oleh Andre itu, membuat pesta pernikahan Andre dan Sherlyn menjadi kacau, Sherlyn langsung menangis mengerung-ngerung dan murka kepada Andre, semua penjelasan Andre tidak dipercaya Sherlyn, apalagi karena akting kuat Jessica yang menangis hingga histeris di depan pengeras suara.
Ayahnya Andre yaitu Willy juga marah besar kepada Andre dan mengusir Andre dari perusahaan yang telah dibesarkan oleh Andre bahkan dari rumah.
Sekarang ini, Andre kembali ke negara ini sebagai The Special One, tapi, sekalipun begitu, Andre memilih untuk belum memakai status barunya sebagai The Special One itu, Andre datang sebagai Andre, Andre berharap, ibu tiri dan saudara-saudara tirinya sudah tobat dari kejahatan mereka dulu.
Saat ini, mobil yang ditumpangi Andre telah berada di depan rumahnya. Rumah masa kecilnya, rumah tempat dia dilahirkan, dibesarkan dan menerima curahan kasih sayang dari ibunya sebelum ibunya pergi. Andre menghela nafas saat mengingat masa-masa indahnya itu, sebelum masa-masa indah itu hilang saat ibu tirinya datang dan menguasai rumah ini, menjadikan rumah ini tidak lagi nyaman bagi Andre.
"Apa kami akan mendampingimu, Andre?" tanya Moreno Casiraghi.
"Jangan! biarkan aku masuk sendiri. Aku belum ingin mengungkapkan identitasku yang sekarang, kalau aku bersama kalian, bersama dua orang bule yang terlihat menghormatiku, maka aku akan terlihat sukses dan itu belum boleh terjadi, aku belum ingin menunjukkan diriku yang sebenarnya, aku cuma ingin melihat apakah ada perubahan dalam diri mereka selama aku tinggalkan."
"Kalau mereka menjadi baik? gimana, Andre?" tanya Richard penasaran.
"Aku akan memendam semua hutang lama bahkan akan memberi investasi kepada perusahaan ayahku yang saat ini mereka kuasai."
"Kalau mereka masih tetap jahat kepadamu?" tanya Richard lagi.
"Maka, aku akan memulai operasi balas dendamku," jawab Andre.
Setelah berkata seperti itu, Andre keluar dari mobil yang diparkir di halaman depan rumah besar Keluarga Tanjaya. Keluarganya Andre Tanjaya, tapi sekarang ini yang Andre tahu, perusahaan dan rumah ini sudah dikuasai oleh saudara-saudara tirinya yang terdiri dari anak tertua Hermawan Susatno, Alex Susatno, Aswin Susatno dan Yusak Susatno serta yang termuda dan cewek satu-satunya adalah Jennifer Susatno.
Di dalam sana, Willy Tanjaya sedang bersama istrinya Nelly Kurniawan. Nelly baru saja marah-marah kepada Willy karena mendengar gumaman dari Willy.
"Sudahlah, pa. Untuk apalagi kamu memikirkan anak tidak tahu diri itu! anak yang otaknya miring sampai adik sendiri mau digarap juga, benar-benar gak punya otak! Papa, jangan lagi memikirkan dia!"
"Bukan begitu, Nelly. Aku hanya memikirkan dia saat ini, karena ini adalah ulang tahunku biasanya ada dia yang selalu memberikan surprise setiap ulang tahunku, tapi 5 tahun ini tidak lagi."
"Dia kan sudah jadi TKI di Amerika, mungkin dia sudah jadi tukang cuci piring di restoran atau bisa saja dia kerja di panti jompo. Mana mau dia ingat ayahnya. Sudahlah, kalaupun dia kembali ke sini, ke negara ini, dia mungkin akan susah untuk balik lagi ke Amerika, karena peraturan imigrasi yang ketat seperti sekarang ini, lagipula, untuk apa kamu mengharapkan anak tidak tahu diri itu yang tega menyerang anakmu yang lain seperti itu!"
"Kadang-kadang aku tidak percaya Andre bisa melakukan hal itu."
"Pa, banyak orang yg jadi saksi loh, pa. Waktu Andre menarik dan mengunci Jennifer di kamar, untung aja kakak-kakak Jennifer cepat tanggap dan bisa menolong Jennifer dari Andre, kalau tidak..."
"Iya iya aku percaya kok akan cerita itu. Kan aku cuma bilang, kadang-kadang. Sudahlah, aku mau makan aja," kata Willy yang tidak ingin lagi berargumen dengan Nelly.
"Bagus, pa. Pokoknya ini terakhir kalinya aku dengar papa bicara tentang anak tidak punya otak itu!" bentak Nelly kepada Willy.
Willy sejenak terdiam tapi karena melihat pandangan marah dari Nelly itu, akhirnya Willy mengangguk.
Alex Susatno tiba-tiba menyela pembicaraan ibu kandungnya dan ayah tirinya ini, Alex berkata," tahu enggak, ayah, bunda, sejak beberapa hari ini, aku dapat bocoran kalau ada tamu sangat penting yang datang ke negara ini pada hari ini. Menurut sumber yang membocorkan hal ini kepadaku, penyambutan itu bahkan sampai melibatkan banyak menteri, banyak petinggi militer dan kepolisian juga banyak pengusaha besar di negeri ini.
"Siapa tamu penting itu? dan mengapa kita tidak diundang?" tanya Nelly.
"Tamu itu dipanggil sebagai The Special One. Dia disebut-sebut sebagai orang terkaya di dunia saat ini, dia berhasil meraih banyak kekayaan hanya dalam beberapa tahun belakangan ini, karena itulah banyak petinggi negara ini dan banyak pengusaha terbesar negara ini yang hadir di pertemuan itu, karena mereka berharap ada investasi yang akan dibawa masuk ke negeri ini oleh The Special One."
"Kenapa kita tidak diundang?" kejar Nelly lagi.
"Ehm...tentu saja diundang. Aku diundang mewakili perusahaan kita. Perusahaan kita kan perusahaan besar, tentu saja kita diundang tapi karena bertepatan dengan ulang tahun papa, jadi, tentu saja aku lebih memilih untuk hadir di ulang tahun papa, gitu loh, Bun," bohong Alex.
Padahal dalam hatinya, Alex cuma bisa tersenyum kecut, sebab sampai semalam Alex berusaha untuk mendapatkan undangan pertemuan itu, tapi panitia acara tidak juga memberikan undangan itu dengan alasan tidak jelas bagi Alex.
"Tuh, pa. Tuh lihat anakmu ini, pertemuan yang sangat penting saja, bisa dicuekin Alex karena mengingat ulang tahunmu, itu kan kejutan dari anak kita untukmu, pa," kata Nelly kepada Willy.
"Tapi, kalau memang tamunya sepenting itu, apalagi bisa mendatangkan investasi besar bagi perusahaan, harusnya Alex menghadiri acara itu," kata Willy yang menyayangkan ketidak hadiran Alex di acara itu.
Tiba-tiba seorang pelayan nampak masuk mendekati meja tempat Willy berada dan berkata," tuan besar, tuan muda pulang."
Pelayan ini bernama Surti. Surti adalah pelayan tua yang sudah mengabdi puluhan tahun di rumah ini,yang sudah mengabdi dari zaman dulu dan sangat menyayangi Andre, karena itu, dia mengenal Andre dengan sangat baik.
"Tuan Muda? maksud kamu Andre?" tanya Willy dengan mata melotot ke arah Surti.
"Iya, tuan besar. Tuan Muda Andre yang pulang. Sekarang ini, dia berada di depan pintu, tuan besar."
Willy langsung berdiri dan menatap kearah pintu di ujung sana, letaknya masih sekitar tiga puluh meter dari tempat Willy berada, karena besarnya ruang tamu di rumah ini.
Sementara Nelly juga berdiri dan langsung memasang wajah cemberut saat melihat wajah Andre di kejauhan sana.