Tendangan demi tendangan terus dilayangkan oleh dua wanita, mereka terus menghantam seluruh tubuh Hana. Wanita itu berkali-kali meminta ampun. Namun, bukannya berhenti, tendangan dan injakan itu justru semakin brutal menyakiti tubuhnya.
Seluruh tubuh Hana benar-benar terasa sakit. Darah segar berkali-kali keluar dari mulutnya. Namun, mereka malah tertawa dengan keras melihat Hana yang terlihat lemah tak punya daya untuk melawan.
Salah satu dari dua wanita itu menjambak rambut Hana lalu dengan sekuat tenaga menyeretnya. Perih, seluruh tubuh Hana nyaris mati rasa.
"Bu ... am-ampun, Bu ...," ujar Hana terbata-bata, telinganya berdengung sakit karena beberapa tendangan yang berhasil mengenai kepalanya.
"Apa? Aku tak bisa mendengar suaramu." Wanita di sebelahnya tertawa.
Dua wanita itu menyeret Hana ke hadapan sebuah lubang yang telah digali sebelumnya. Hana menggeleng dengan kuat saat menyadari niat buruk kedua wanita itu.
"Ti-tidak, Bu ... jangan kubur aku!"
"Kenapa? Tempat terbaik untukmu ada di balik tanah ini, bukan di rumahku!" desis Lilis, wanita yang ia kenal sebagai adik iparnya. Hana menggeleng lalu menangkup tangan Lilis dengan pandangan penuh permohonan.
Lilis menarik tangannya, mengibas dengan jijik kemudian melirik pada sang ibu agar segera menyingkirkan Hana yang sudah babak belur tak berdaya.
"Kami sudah muak melihatmu, perempuan tak tahu diuntung! Aku sangat menyesal karena sudah merestui putraku untuk menikah denganmu. Dasar jalang mata duitan!" kata Risma--ibu mertua Hana--sambil menarik rambut sang menantu lalu mendorongnya sampai tersungkur ke tanah hutan yang lembab itu.
Hana menitikkan air mata. Tangan dan seluruh tubuhnya gemetar ketakutan memikirkan kematian yang sebentar lagi akan merenggut nyawanya.
Mereka membenci Hana karena menganggap wanita itu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga besar Kusuma.
Sejak awal, Hadi lah yang kekeuh ingin menikahinya, dia sama sekali tidak pernah mengincar harta pria itu. Hana sudah berkali-kali memutuskan hubungannya dengan Hadi. Namun, pria itu malah mengancam akan bunuh diri jika sang ibu masih tidak merestui, dengan berat hati, Bu Risma pun memberikan restu pada anaknya.
Dua tahun usia pernikahan mereka, bukan kebahagiaan yang Hana dapatkan. Namun, penindasan dari mertua dan ipar. Hadi tidak pernah tahu penderitaan sang istri selama ini, Risma dan Lilis terlalu pandai berakting di hadapan pria itu, seolah mereka adalah mertua dan ipar berhati malaikat.
Lalu sekarang, apa lagi kesalahannya hingga ia yang harus dikorbankan sampai separah ini?
Hana bangkit tertatih. Ia memandang Risma yang menatapnya dengan penuh kebencian. Lalu beralih ke Lilis yang fokus pada kamera, perempuan itu sedang merekam keadaan dirinya.
"Bu, Lis, a-apa salahku pada kalian kali ini?" tanya Hana penuh keberanian, tubuhnya yang setengah remuk dipaksa untuk berdiri.
"Kau ini wanita menjijikan!" Bu Risma menatap sinis. "Apa bagusnya anak yatim dan miskin sepertimu sampai Hadi begitu tergila-gila bahkan berani melawan perintah orang tuanya?"
"Kalau ibu mau begitu, aku akan meninggalkan Mas Hadi," kata Hana dengan tubuh gemetar menahan sakit akibat penyiksaan dua orang itu. Bukannya peduli, ibu dan anak itu malah tertawa dengan keras.
Lilis langsung menendang pangkal lutut Hana sehingga perempuan itu tersungkur ke tanah. Wanita itu merintih kesakitan dan menangis pilu dengan apa yang sudah keluarga suaminya lakukan.
"Jangan berharap bisa lolos dari sini, lebih baik kau pergi saja ke neraka!" Lilis semakin murka. Setiap kali melihat wajah Hana, hatinya selalu sakit.
Masih hangat dalam ingatan Lilis bagaimana marahnya Surya kepadanya tempo hari ketika Lilis dengan sengaja menumpahkan air panas dan berhasil melukai punggung tangan Hana. Gadis itu marah karena Surya lagi-lagi selalu membela Hana.
Apalagi ketika dia mengetahui fakta kalau sang kekasih diam-diam menaruh hati pada istri kakaknya. Lilis yang dimabuk cinta langsung patah hati sekaligus murka. Lilis bersumpah akan membunuh Hana tanpa ampun.
"Kau mengguna-guna Mas Hadi dan Surya. Iya ... dasar murahan! Seharusnya dari awal aku sudah membunuhmu, kaulah yang merusak semuanya! Kau wanita iblis! Anak haram!"
Lontaran kalimat penuh hinaan dilayangkan pada Hana, perempuan itu menahan sakit di hatinya. Jadi, karena alasan itulah dia harus menerima penyiksaan sekeji ini? Percuma saja berteriak meminta tolong. Ibu mertua dan iparnya membawa Hana ke tengah hutan angker yang jauh dari pedesaan, mustahil untuknya melarikan diri.
Kebencian Lilis pada Hana sudah berakar sejak lama. Hana yang selalu lebih unggul dari Lilis dalam segala bidang hal itu menyebabkan kecemburuan di hatinya. Lama-kelamaan dendam dalam hati Lilis tumbuh semakin subur. Dia ingin Hana mati, ditambah perkataan para tetangga yang selalu membandingkannya dengan Hana.
Banyak orang yang menyukai Hana, dia termasuk seorang istri dan perempuan yang ramah. Terkecuali Bu Risma dan Lilis. Karena itulah dia menuduh Hana memakai guna-guna sehingga Surya dan Hadi jatuh hati padanya.
"Seharusnya sejak awal kau tak masuk di keluarga kami, Hana!" Ibu mertuanya menambahi.
Air mata berjatuhan membasahi wajah penuh lebam Hana. Hatinya terbakar amarah dan benar-benar sakit karena diperlakukan secara keji oleh dua wanita berhati setan di hadapannya.
"Aku akan meminta bayaran atas semua yang kuterima ini." Hana berjanji dalam hati. Dia menatap tajam ibu mertua dan iparnya.
Hama berjanji akan meminta bayaran atas semua yang sudah dilakukan oleh mertua dan iparnya. Bahkan meski dia harus bersekutu dengan iblis sekali pun.
"Kenapa menatapku begitu? Berharap bisa kembali pulang dan memeluk Mas Hadi?" Lilis menginjak kepala Hana dengan kuat.
"Sudahlah!" Bu Risma memberi kode agar segera mengakhiri siksaan ini. "Awan, kubur dia hidup-hidup sekarang!"
Bu Risma menyuruh pria bertubuh kekar yang merupakan orang kepercayaannya untuk segera menyingkirkan Hana. Lilis mundur, membiarkan pria itu melempar tubuh Hana ke dalam galian tanah. Hana berontak. Namun, kekuatannya tidak sebanding, terlebih perempuan itu sudah benar-benar kehilangan tenaga akibat penyiksaan yang dilakukan oleh ibu mertua dan iparnya.
Hana menatap lesu, pandangan semakin kabur, tubuhnya penuh luka dan lebam. Ibu tiri dan iparnya terkekeh sinis menantikan detik-detik kematian Hana. Tidak ada sedikit pun sisi kemanusiaan dari dua wanita itu, seolah mereka sudah menantikan kematian Hana sejak lama.
"Bagaimana kalau ada yang tahu Hana dikuburkan di sini?" tanya Lilis pada sang ibu.
"Tenang saja, hutan ini terkenal angker, tak ada satu pun orang yang berani mendatangi hutan ini. Mayat wanita itu tidak akan ditemukan."
Lilis tersenyum puas mendengar penjelasan ibunya. Tatapannya kembali tertuju pada Hana yang kini terkapar tanpa daya di dalam lubang kuburan.
Gunawan--atau yang biasa dipanggil Awan--mencangkul tanah di sisi lubang kuburan, tanah itu menimbun tubuh Hana yang sudah kehilangan separuh kesadaran. Bayang-bayang penyiksaan Lilis dan bu Risma menari-nari dalam kepalanya, membuat dendam di hati Hana semakin memuncak.
Hana benar-benar sudah pasrah dengan hidupnya, tidak ada lagi yang tersisa. Pandangannya gelap dan sesak, tanah itu mengubur tubuhnya semakin dalam. Ingin keluar pun tak ada daya, hingga napas terakhirnya, Hana akan terus mengingat kejadian itu.
"Awan, kau harus memastikan untuk tutup mulut. Tidak boleh ada siapa pun yang mengetahui kejadian ini selain kita."
Bu Risma mulai membuat peringatan pada kaki tangannya, pria itu hanya mengangguk dengan kepala sedikit merunduk, sebenarnya dia kasihan melihat istri majikannya dihajar habis-habisan oleh dua wanita itu, tapi apa daya, dia sendiri tidak berani untuk melerai karena dia tahu seperti apa sifat Bu Risma jika sudah murka.
"Upahmu akan kutambahkan. Jadi, tutuplah mulutmu selamanya tentang kematian Hana, jangan biarkan siapa pun tahu apalagi Hadi."
"Baik, Bu. Saya mengerti."
Setelah merasa puas dan memastikan kalau Hana benar-benar sudah mati, Bu Risma langsung beranjak dari sana.
"Ayo kita pergi. Biar dia mati dan tubuhnya dimakan binatang buas di hutan ini."
Awan tak berani membantah. Lilis pun mempercayai semua yang dikatakan dan dilakukan ibunya. Ketiga orang tersebut memasuki mobil yang terparkir di sisi jalan dekat hutan, mobil itu melaju meninggalkan tubuh Hana yang terkubur di dalam tanah seorang diri.
Sudah seminggu Hana menghilang. Hadi mencarinya, ia mengerahkan tim pencari untuk menelusuri seluruh desa juga membayar beberapa warga untuk turut membantu.
Beberapa kali salah satu pekerjanya melaporkan hasil yang nihil, Hadi semakin dibuat cemas berlebihan. Tapi, dia tidak mau menyerah.
"Hadi, sudahlah, Nak. Mau sampai kapan kamu terus seperti ini?" tanya Bu Risma, kakinya terus mengikuti ke mana pun Hadi melangkah.
Bu Risma berkali-kali meminta anaknya untuk menghentikan pencarian tersebut. Risma cemas dengan keadaan sang anak yang sekarang benar-benar memprihatinkan, Hadi seolah tidak peduli dengan kesehatannya, yang dia pikirkan Hanyalah keadaan Hana sang istri, Risma kesal karena anaknya tidak pernah menyerah pada menantu yang dibencinya itu.
"Jangan suka memaksakan diri seperti ini, Hadi. Kamu juga harus memperhatikan kondisimu. Ibu tidak mau kamu celaka. Kamu boleh cemas, tapi kamu harus memperhatikan kesehatanmu juga. Aduh, Naaakk."
Risma memandangi wajah anaknya yang tampak tidak terurus, kusam dan dipenuhi janggut kasar. Bahkan kantung matanya terlihat kentara akibat kurang tidur. Meskipun begitu, Hadi enggan menuruti perintah ibunya untuk sekadar beristirahat.
"Kalau kamu terus sekeras ini, kasihan Hana. Dia juga nggak mau liat kamu sakit, ibu sedih kalau kamu seperti ini terus, Nak." Bu Risma terisak.
Tujuannya memisahkan Hana dari hidup putranya memang berhasil. Namun ternyata, hal itu membawa dampak buruk bagi kesehatan Hadi. Bu Risma kehabisan akal, harus bagaimana lagi dia menghadapi putranya.
"Ibu benar, Mas. Kalau Mas Hadi sakit, kita semua juga ikut sakit." Lilis menambahkan.
"Aku akan beristirahat kalau Hana sudah ketemu."
Untuk ke sekian kalinya Hadi benar-benar menyesal. Kenapa waktu itu ia tak mengajak Hana untuk ikut dengannya ke kota. Padahal saat itu Hana bersikeras ingin ikut dengannya. Hadi tak mengijinkan karena beralasan ia hanya pergi selama tiga hari.
Selain itu, Hadi melarangnya ikut karena takut kesehatan Hana akan memburuk. Istrinya itu mudah sakit, bahkan sudah tiga kali keguguran. Selama dua tahun menikah, mereka memang belum dikaruniai anak. Meskipun begitu, Hadi tidak pernah mempermasalahkannya.
Hadi berharap setelah menyelesaikan tugasnya di luar kota, dia bisa membawa Hana ke rumah baru yang sebentar lagi akan mereka tempati. Namun, ketika ia kembali ke desa, berita hilangnya Hana lah yang ia dapatkan.
"Hadi! Keluar kamu!"
Suara ribut-ribut terdengar dari luar. Risma dan Lilis sontak menoleh, Hadi juga terkejut, dia langsung keluar dari rumah besar milik ibunya.
"Ada apa ini?" tanya Hadi begitu sampai di halaman rumah, warga desa ramai-ramai mendatangi rumahnya. Dia mengitarkan pandangannya lalu berhenti pada seorang perempuan yang tidak lain adalah Sari, salah satu teman baik Hana. Wanita itu berurai air mata, ekspresi wajahnya dipenuhi kemarahan.
"Sari? Ada apa ini? Kamu kenapa?" tanya Hadi pada wanita itu.
Tanpa banyak kata, wanita itu mengangkat kain di tangannya lalu melemparkannya kepada Hadi. Tangan Hadi bergetar menerimanya. Jilbab biru dengan noda tanah yang menempel itu tidak salah lagi milik istrinya yang hilang tujuh hari ini.
"Kau mendapat ini dari mana? Ke mana Hana? Kau menemukannya?" tanya Hadi setengah panik.
"Kau mencari Hana, kan? Wanita yang kau cari-cari itu telah merebut suamiku! Dia pelakor. Istrimu wanita murahan penggoda suami orang!" Dengan lantang Sari bersuara. Dia memandangi warga yang berkumpul.
Hadi dan seluruh warga desa terkejut mendengar ucapan wanita itu, sedangkan Risma dan Lilis saling pandang, senyum samar terbit di wajah masing-masing.
Hadi tidak mengerti, Sari yang biasanya jadi tempat Hana berkeluh-kesah mendadak berubah.
"Kalian lihat itu? Hana yang kalian kenal sebagai perempuan alim ternyata bejat. Dia wanita murahan dan--"
"HENTIKAN!" sentak Hadi memotong ucapan Sari.
"Nak, jangan marah dulu, kita dengarkan saja dulu penjelasan si Sari." Risma berdiri di depan Sari menghalangi tatapan penuh amarah Hadi kepada wanita satu anak tersebut.
Tak mau dituduh mengada-ada, Sari balik menatap Hadi dengan tatapan tajam. Dia seolah menantang pria itu.
"Buktinya suamiku juga ikut hilang. Dia meninggalkan surat ini!" Sari meremas surat di tangannya lalu melemparkannya pada Hadi. "Dia pergi kabur bersama istrimu, Hadi. Istrimu itu munafik!"
Amarah mulai berkobar dalam dada Hadi, wanita yang Hadi nikahi tidak mungkin melakukan perbuatan sebejat itu, dia sangat percaya. Hana adalah wanita yang santun dan cerdas, wanita itu tidak pernah mengkhianati kepercayaannya.
"Kau ...." Tangan Hadi mengepal, seolah bersiap untuk menyerang Sari.
Risma memungut surat yang Sari lemparkan, kemudian membacanya. Ekspresi terkejut yang dibuat-buat tampak kentara sekali di wajah Risma dan Lilis, seakan-akan mereka percaya bahwa Hana telah merebut suami orang lain.
"Hadi!" Risma, menyerahkan surat yang tak berbentuk ke hadapan Hadi, meminta pria itu untuk membacanya juga. Namun, Hadi sama sekali tidak peduli.
Hadi tampak mengerikan karena diselimuti amarah. Risma harus kembali mencegah Hadi yang berniat maju dan menyerang Sari. Dia menggelengkan kepalanya dengan tegas, menyuruh Hadi untuk menahan amarah.
"Aku sudah lama menyembunyikan ini darimu, Hadi. Hana memang tak sebaik yang kau lihat. Dia perempuan sok polos, tapi berhati iblis. Apakah kalian tahu, wanita itu memakai guna-guna agar bisa memikat Hadi. Itulah kenapa Hadi begitu tergila-gila padanya, tak hanya Hadi, sekarang suamiku pun dibawa lari. Bahkan kita semua tahu kalau Hana sering keguguran, itu karena dia menumbalkan anaknya sendiri!"
Warga desa yang berkumpul, saling berbisik-bisik, menyuarakan penilaian mereka. Hadi ditahan oleh Risma dan Lilis agar tidak melukai Sari yang terus saja mengoceh, menghina, dan memfitnah Hana. Sebagai seorang suami yang begitu mencintai istrinya, bagaimana Hadi tidak berang dengan tuduhan itu?
"TUTUP MULUTMU! BERHENTI MEMFITNAH ISTRIKU!" teriak Hadi murka.
"Aku tak berbohong, apa kau lupa kalau aku dan Hana adalah sahabat dari kecil? Aku jauh lebih tahu tentang dia dibanding kamu. Kamulah yang sudah dimanfaatkan oleh dia, Hadi!"
"DIAM!" sentak Hadi kasar.
Lilis dan Risma lagi-lagi tersenyum samar melihat kegaduhan yang ditimbulkan oleh Sari dan Hadi. Mereka puas karena sudah berhasil memancing warga agar ikut menjelekkan nama Hana.
Tujuan mereka memang menyebar fitnah dan tuduhan pada wanita malang itu. Risma dan Lilis sangat mudah memanfaatkan kecemburuan Sari. Ya, Sari selalu cemburu pada Hana karena wanita itu selalu dipuji cantik oleh suaminya, bahkan suaminya selalu terlihat memperhatikan Hana diam-diam. Wanita mana yang tidak sakit hati diperlakukan demikian?
Karena itu, saat Aji dinyatakan hilang bertepatan dengan hilangnya Hana, Risma dan Lilis mulai memulai aksinya. Mereka menyulut api dan memprovokasi Sari dengan surat dan foto. Tentu saja semua itu bukti palsu demi memperkuat dugaan kalau Aji dan Hana benar-benar berselingkuh di belakangnya.
"Aku tak akan pernah percaya dengan satu pun kata-katamu tentang istriku. Aku akan tetap mencari Hana!" Tatapan Hadi kini beralih pada seluruh warga. "Dan saat kutahu siapa dalang di balik hilangnya istriku, tak hanya si Sari, kalian juga akan menerima balasan yang setimpal dariku."
Lilis menyenggol tubuh Risma, merasa ngeri dengan ancaman Hadi. Mereka harus berjaga-jaga agar kasus kematian Hana tidak terendus oleh pria itu, akan sangat bahaya jika dia tahu bahwa dalang di balik hilangnya Hana adalah adik dan ibunya sendiri.
Sebelumnya, mereka hanya beralasan mengajak Hana ke luar untuk menemui seorang tabib yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Namun, siapa sangka, Hana malah menemui ajalnya di hutan karena ketamakan ibu dan mertua. Seharusnya sejak awal Hana tidak menurut, tapi jika dia membantah, siksaan dari dua wanita itu akan lebih parah.
"Aku tidak berbohong, Hadi. Sekarang suamiku hilang, dia membawa kabur Hana. Apakah aku harus memberikan bukti kalau mereka sering diam-diam bertemu tanpa sepengetahuanmu dan--"
Sari menutup mulutnya ketika Hadi mulai mendekat, tapi beberapa warga langsung menjegalnya agar tidak melayangkan tamparan ke wajah Sari.
"Kubilang diam! Apa kau benar-benar ingin kubunuh, Sari?!"
Hilangnya Hana masih menjadi misteri. Banyak pihak yang mendesak Hadi untuk mengikhlaskan ketiadaannya. Hidupnya berantakan setelah ditinggal pergi wanita itu. Satu-satunya penyemangat hidup yang dia miliki.
Sungguh, Hadi bingung mana yang harus dia percayai. Ini sudah hampir sebulan Hana menghilang. Suami Sari pun belum juga kembali. Ini semakin menguatkan fitnah Sari bahwa Hana memang dibawa lari oleh suaminya. Risma pun terus mencecar anaknya bahwa Hana bukanlah menantu dan istri yang baik.
"Hadi, kamu baik-baik saja, Nak?"
Risma berseru dari luar kamar, beliau hendak menyuruh anaknya untuk makan. Sejak Hana menghilang, pria itu benar-benar tidak terurus, dia lebih sering melamun, malas bekerja, bahkan kurang menjaga kesehatan.
Hal itu membuat Risma kesal, seandainya dia membunuh Hana lebih awal, mungkin anaknya tidak akan menderita seperti ini. Sebagai ibu yang mencintai anaknya, dia tak rela anaknya terus-menerus menangisi kepergian Hana, menantu miskin yang dibencinya.
Sejak dulu, Risma adalah orang yang paling sibuk mengatur ingin calon menantu yang setara, yang pandai ini itu, yang sederajat, atau bahkan yang lebih tinggi untuk menaikkan pamor keluarga. Tapi, Hadi justru lebih memilih Hana.
Hana hanyalah perempuan biasa yang hidup berdua dengan neneknya sedari kecil, mereka hidup dengan mengandalkan upah dari hasil bekerja di kebun milik keluarga Hadi. Kadang-kadang Hana juga berjualan ikan di pasar, membantu sang nenek yang sudah sepuh.
Dia sudah lama memperhatikan gadis itu. Hadi kagum pada Hana karena dia termasuk perempuan yang ulet dan tekun. Mereka menjalin hubungan tanpa seorang pun tahu karena perempuan itu takut pada keluarga Hadi. Namun, Hadi selalu bilang bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah nenek Hana meninggal, Hadi berniat menikahinya. Tentu saja Risma kaget dan menentang keras keinginan anaknya. Risma heran kenapa Hadi ingin memperistri seorang buruh kebun seperti Hana, padahal masih banyak perempuan cantik, kaya, dan terhormat yang mau menjadi istrinya.
"Kang Hadi masih nggak mau bicara, Bu?" tanya Dinda, perempuan pilihan yang selalu dibangga-banggakan oleh bu Risma.
Tentu, perempuan berpendidikan tinggi dari keluarga terpandang seperti Dinda lah yang berhak menjadi istri Hadi, bukan Hana. Risma sempat marah karena Hadi menolak wanita pilihannya. Dan, alasannya hanya karena wanita kampungan itu.
Rencananya, Bu Risma akan menjodohkan kembali Hadi dengan Dinda, sekarang tidak ada yang bisa menghalanginya. Masa bodoh, Hana sudah tewas di tangan wanita itu. Semua warga desa pun percaya bahwa Hana sudah mengkhianati Hadi.
"Mungkin dia tidur. Ibu khawatir karena dia belum makan seharian ini."
Risma kembali mengetuk kamar Hadi, tetapi tak ada sahutan. Dia menekan daun pintu lalu mendorongnya, pintu tak terkunci. Kamarnya remang-remang, Hadi terduduk di ranjangnya. Melamun seperti orang linglung.
"Hadi, ayo makan dulu, Nak."
Risma mendekat, beliau mengusap rambut Hadi yang mulai memanjang karena tidak dipotong, jangankan mengurus diri sendiri. Keadaan dalam kamar yang berantakan pun tak dia pedulikan.
"Ibu benar-benar sedih kalau liat kamu terpuruk seperti ini. Sudahlah, Nak. Lupakan Hana, mungkin benar yang dikatakan orang-orang kalau istrimu itu lari bersama pria lain."
Bu Risma berusaha menenangkan Hadi, tapi kalimat itu sama sekali tidak membuatnya tenang, malah pria itu semakin terpukul.
"Kamu pria yang baik. Sayang sekali kamu mendapatkan istri seperti dia. Kalau saja dulu kamu mau nurut sama Ibu untuk menjodohkanmu sama Sarah, mungkin kamu tidak akan seperti ini. Kamu sekarang pasti sudah punya anak yang lucu-lucu."
Mendengar kata-kata ibunya, Hadi mendongak. Pria itu ingin marah, tapi tidak punya cukup tenaga. Setiap hari Hadi hanya meratap, mencari, dan menanti. Berharap Hana kembali ke pelukannya dalam keadaan sehat dan membantah anggapan orang-orang yang berbicara buruk tentangnya.
Tubuh Hadi sudah benar-benar lemas. Risma memekik saat melihat cairan merah pekat dan kental keluar dari hidung putranya.
"Hadi, kamu mimisan!"
***
Hilangnya Hana dan gunjingan tentangnya masih menjadi topik utama. Hana yang terkenal sebagai wanita santun dan cerdas dikabarkan sudah pernah berzina dengan suami Sari. Para warga mulai percaya dengan tuduhan itu.
Lilis semakin jumawa saja karena tidak ada seorang pun yang membantah atau mengklarifikasi kabar burung tersebut.
Akibat dari fitnahan itu, setiap kali orang mengingat nama Hana tak ada kesan baik tentangnya. Lilis terus menambah-nambahkan cerita. Warga semakin terhasut dan ikut percaya akan berita tentang Hana yang buruk itu.
Hadi pun dilarikan ke rumah sakit akibat keadaannya yang terus memburuk. Segala kabar burung tentang Hana membuat Hadi menderita. Risma kesal anaknya sakit karena terlalu memikirkan perempuan itu.
Sejak dulu sampai sekarang, Hana memang selalu jelek di mata Ibu mertuanya. Selalu ada hal yang dijadikan bahan kemarahannya pada Hana. Padahal Hadi sendiri tidak pernah mempermasalahkannya.
"Bu Risma." Salah satu pembantunya tergopoh-gopoh mendatangi Risma yang berada di kamarnya. "Bu, ada pak Gunawan di luar, katanya ingin bicara sama ibu."
Mata Risma membulat ketika mendengar nama itu, bergegas dia meninggalkan kamarnya tanpa banyak bicara, pergi ke ruang tengah di mana tangan kanannya itu tengah menunggu.
Rumah besar milik keluarga Hadi itu tak jauh dari tempat Awan. Hanya melewati dua bentang ladang, ada jalan besar yang telah dilapisi aspal. Dia ingin membicarakan sesuatu dengan majikannya terkait Hana yang terkubur di hutan malam itu.
Risma membiarkan Awan membicarakan duduk permasalahannya, wanita itu sudah was-was duluan. Khawatir kalau kedatangan Awan ke rumahnya adalah untuk mengabarkan bahwa mayat Hana ditemukan. Tidak boleh, tidak ada seorang pun yang boleh menemukan jasad menantunya.
"Sudah beberapa hari ini saya dihantui perasaan bersalah, Bu. Bahkan saya takut ke luar rumah." Hanya itu yang Awan ucapkan. "Apalagi Hana dulunya adalah tetangga saya."
Bu Risma manggut-manggut mendengar keluh kesah pria itu. Syukurlah bukan kabar buruk seperti yang dia takutkan. Risma pun menyunggingkan senyum dingin.
"Asih," seru Bu Risma.
"Ya, Bu."
"Salah satu hasil kebun kita tolong berikan pada Awan. Dan anggap semua hutang-hutangnya padaku lunas," katanya pada Asih yang merupakan orang kepercayaan di rumahnya. "Dengan ini kamu senang kan, Awan?"
Kepala Awan merunduk dalam. Dia tak berani menatap sang majikan. Dia juga tidak sanggup melanggar perintah. Awan tidak berani, kejadian yang menimpa Hana membawa ketakutan tersendiri baginya. Namun, dia tak berani melawan karena dirinya hanya orang biasa dan tak memiliki kuasa.
***
"Lis, apa kau merasakan suatu keanehan dalam beberapa hari ini?" Tanya Risma pelan. Lilis mengernyit tidak mengerti akan pertanyaan sang ibu.
"Tidak ada yang aneh, kecuali Mas Surya yang semakin hari semakin mengesalkan, dia tidak menyerah mencari Hana, bahkan ikut mencari bersama warga yang lain." Lilis berdecak kesal. Mengingat Surya yang masih sulit dikendalikan dan terus mencari Hana membuat suasana hatinya semakin buruk.
Surya semakin parah semenjak tersiarnya berita Hana menghilang. Pria itu sudah menebak Lilis lah dalang di balik hilangnya Hana karena diliputi rasa cemburu. Surya sangat tahu bagaimana buruknya perlakuan keluarga Hadi pada perempuan itu.
Sejak itulah pertengkaran demi pertengkaran terus berlangsung dalam hubungan mereka. Surya tidak lagi menghubungi Lilis, dia seolah menjauh dari gadis itu. Meski Surya sudah beberapa kali menekan kekasihnya agar jujur, Lilis selalu berdalih kalau dia tidak menyembunyikan Hana.
Surya semakin membenci Lilis, hubungan mereka merenggang karena tuduhan-tuduhan pria itu. Dan semua ini karena Hana. Ya, Lilis semakin membenci kakak iparnya itu.
Risma menghela napas lelah. Sepertinya hanya ia yang selalu mendapat mimpi aneh yang tidak ia mengerti. Sesungguhnya ia tidak percaya dengan keberadaan hantu, roh gentayangan atau semacamnya.
"Memangnya kenapa, Bu? Ibu tampak cemas. Apakah ada orang yang mengetahui kejahatan kita?"
Bu Risma menggeleng, sampai saat ini tidak ada satu pun manusia yang tahu keberadaan Hana, kecuali dirinya, Lilis, dan Awan. Tentu saja pria itu sudah diancam oleh Risma agar tetap tutup mulut. Seandainya Awan mulai nekat dan membocorkan rahasia tersebut kepada warga. Risma tidak akan tinggal diam.
"Lis, ayo ikut ibu. Kita pergi ke rumah Nyai Dasimah."
Bu Risma terlihat tergesa-gesa. Padahal di luar sana langit mulai mendung pertanda hujan sebentar lagi akan turun. Namun, Risma tidak peduli dan meminta Lilis bersiap-siap.
Melihat sang ibu tak ingin menunda waktu, Lilis segera mengikuti Risma. Tak lama kemudian, mobil hitam itu melaju membelah malam menuju rumah kecil yang berada di bawah bukit.
Rumah berbilik anyaman bambu mulai terlihat ketika Risma dan Lilis terus melangkahkan kakinya, menyibak setiap ilalang yang menghalangi jalan. Berbekal cahaya senter ponsel. Keduanya bergegas menuju rumah Nyai Dasimah.
Di sinilah mereka sekarang. Risma dan Lilis berdiri dengan tubuh sekaku patung batu. Mereka berdebar di hadapan Nyai Dasimah. Wanita tua dengan wajah setengah rusak itu melotot membuat mereka nyaris kehilangan kata-kata.
"Nyai," kata Risma menghaturkan sembah.
Nyai Dasimah terkekeh, membuat Lilis merinding. Wanita tua itu mempersilakan kedua tamunya untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun diselimuti rasa takut, Lilis dan Risma menurut dan mengikuti langkah Nyai Dasimah menuju ke dalam.
Aroma dupa dan kemenyan menyambut indra penciuman. Bahkan Lilis harus membungkam hidung dan mulutnya.
Kedua manik Lilis mengekspos interior gubuk tua itu. Rumah selebar lima meter itu hanya memiliki kursi bambu panjang dan meja kayu, serta beberapa ruangan tertutup. Lilis dan Dita diajak masuk ke salah satu ruangan yang dipenuhi kelambu hitam.
Di ruangan itu terdapat beberapa barang kuno seperti keris, kendi, pisau dan lainnya. Di sekelilingnya diletakkan sajen, bunga-bunga, dan kemenyan. Ada juga kerangka tengkorak di dekat perapian.
Lilis dan Risma duduk hanya di atas gelaran tikar hitam. Sebenarnya ia merasa jijik dengan semua hal yang ada di rumah nenek tua itu, tapi ia tahan egonya. Semua ini ia lakukan dengan maksud tertentu.
"Apakah ada sesuatu yang mengganggumu lagi?" kata Nyai Dasimah seolah bisa membaca keresahan Risma.
"Nyai, beberapa hari ini saya selalu mimpi buruk tentang si Hana. Dia selalu masuk ke dalam mimpi. Saya takut, apakah dia benar-benar sudah mati?"
"Hana" sebut Nyai Dasimah. Kemudian dukun itu terkekeh pelan, Lilis merasa ngeri saat melihat giginya yang menghitam.