"Mel kamu bereskan ruang tamu ya!" kata Santi kakaknya Yusuf.
"Loh kok aku mbak? Kan aku gak ikutan kumpul-kumpul disana tadi," protes Melinda.
"Terus siapa lagi dong? Aku? Hari ini Siti pembantunya bude Ami gak masuk lagi sakit dia. Jadi kamu yang cuci semuanya," titah Santi berlalu meninggalkan Melinda karna tak mau dibantah lagi.
Hari ini keluarga besar Yusuf melangsungkan arisan bulanan keluarga. Kebetulan diadakan dirumah bude Ami, saudara tertua dari mamanya Yusuf. Berhubung Melinda baru menikah dua bulan bersama Yusuf, pertemuan ini juga menjadi perkenalan pertamanya dengan keluarga besar suaminya.
"Loh kok masih diam aja? Diluar banyak loh piring dan gelas kotornya. Cepat dicuci," ucap bude Ami mengagetkan Melinda.
"Ah iya bude," jawab Melinda agak gugup. Melinda langsung mengambil piring dan gelas kotor untuk dibawa ke wastafeel kemudian dicucinya. Padahal saat dirumahnya sebelum menikah dengan Yusuf, Melinda tidak pernah melakukan pekerjaan ini. Karna semua sudah dikerjakan oleh Yati, pembantu rumah tangga dirumah orangtuanya.
"Kalau sudah selesai kamu sapu dan pel langsung lantainya hari ini juga!" perintah bude Ami lagi.
Melinda hanya mengaguk dan terus mencuci piring-piring kotor. Meskipun tidak pernah melakukannya sebelumnya, tapi ini bukan pekerjaan yang susah untuk Melinda. Semua orang pasti bisa melakukannya.
Suara dering ponsel dari saku daster yang dikenakan oleh Melinda menghentikan pekerjaannya. Saat dilihatnya ternyata Yusuf yang menelponnya. Langsung saja Melinda menjawab panggilan dari suaminya.
"Assalamualaikum, Mas!" ucap Melinda saat panggilan terhubung.
"Waalaikumsalam, yank. Bagaimana dirumah bude Ami? Kamu senangkan bisa kenal dengan keluarga besarku?" jawab Yusuf diseberang sana. Ya, Yusuf memang tidak bisa ikut bergabung dengan keluarganya karna harus pergi keluar kota untuk mengurus pekerjaannya.
"Rame mas,"
"Iya memang rame yank. Apalagi kalau dikumpulkan dengan keluarga papa jadi tambah rame," sahut Yusuf.
"Iya mas. Kamu lagi ngapain? Kapan pulang?" cecar Melinda.
"Lusa kayaknya. Kenapa yank? Kangen kah?"
"Iya gitu deh mas. Soalnya ini kali pertama aku ditinggalkan saat kita menikah," balas Melinda.
Sudah dua minggu Yusuf pergi meninggalkan Melinda karna pekerjaannya. Dengan terpaksa Melinda pun mengizinkan Yusuf pergi, meski dengan berat hati. Melinda juga terpaksa mengikuti keinginan Yusuf untuk tinggal dirumah orangtuanya karna rumah mereka masih dalam proses pembangunan.
"Sabar ya sayang. Bentar lagi aku pasti pulang kok," kata yang diucapkan oleh Yusuf menambah rasa kangen di hati Melinda.
"Aku tunggu loh mas. Udah dulu ya, aku lagi bantu-bantu dirumah bude Ami. Nanti kalau udah sampai rumah ku telpon lagi ya Mas," ujar Melinda mengakhiri panggilan dengan suaminya.
"Iya sayang. Jangan capek-capek ya, jaga kandunganmu," balas Yusuf.
Ya, benar. Melinda memang lagi mengandung benih cintanya dengan Yusuf. Bahkan dokter juga berpesan jangan terlalu capek karna usia kandungannya baru dua minggu, masih sangat rawan soalnya.
Melinda pun meneruskan pekerjaannya. Namun teriakan dari mbak Santi menghentikan pekerjaannya lagi.
"Mel cepat disini masih banyak nih!" teriak mbak Santi.
Membuat Melinda langsung berlari keluar. Namun, betapa terkejutnya Melinda saat melihat semua orang justru sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Tidak seperti dugaan Melinda yang mengira mereka saling membantu. Piring-piring masih berserakan sama seperti saat Melinda pergi ke dapur tadi.
"Itu Mel disana! Kamu bereskan dulu, kemudian kamu cuci ya. Kenapa malah melamun begitu?" ucap bude Ami sambil menunjuk kearah piring dan gelas yang berserakan.
Melinda nampak mematung memikirkan. Kenapa hanya dia yang bekerja disini? Kenapa hanya dia yang disuruh membereskan semua ini? Bukan kah disini juga banyak keponakannya yang lain. Kenapa tidak disuruh juga? Kenapa hanya Melinda yang dijadikan babu?
"Kenapa malah diam aja Mel? Bude tahu kok kalau ini adalah pekerjaanmu sebelum kamu menikah dengan Yusuf!"
"Kenapa hanya aku saja yang disuruh mengejakan semua ini bude?" tanya Melinda.
"Ya iyalah kamu Mel. Kamu kan hanya bisa bantu tenaga saja disini. Gak mungkin kan kamu bisa kayak Dina?" ujar bude Ami membuat Melinda bingung akan perkataannya.
"Ma aku haus. Pengen es jeruk!" ujar Syifa anaknya mbak Santi.
"Tolong kamu ambilkan es jeruk didalam kulkas sekalian ya Mel. Syifa haus katanya," mbak Santi kembali menyuruh Melinda. Padahal pekerjaan itu sangat mudah. Tapi tak dilakukannya.
"Aku mbak?" tanya Melinda menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lah. Siapa lagi memangnya yang namanya Melinda disini? Cuman kamu doangkan?" ketus mbak Santi.
"Udah sana kamu ambilin. Sekalian kamu bawa piring-piring kotor itu kebelakang!" bude Ami menengahi tapi masih menyuruh Melinda.
"Tapi kan mbak Santi bisa mengambilnya sendiri,"
"Kamu ini diminta tolong malah protes? Ini keponakan kamu loh yang haus, gak ikhlas kah?" balas mbak Santi.
"Bukan kah dia juga anak mu mbak?" ucap Melinda dalam hati. Tapi dia memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya. Ia tak mau memperpanjang masalah lagi.
Tapi tetap saja Melinda bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa dia diperlakukan begini? Apa karna dia anggota baru dikeluarga ini? Atau karna bajunya tak sebagus dengan anggota keluarga yang lain? Melinda sempat melirik kearah Dina tadi yang tampil mewah sangat berbeda dengannya karna hanya mengenakan daster. Karna daster adalah pakainan favorit Melinda, tidak gerah dan tidak ribet.
"Mel mana es jeruknya? Buruan dong!" teriak mbak Santi lagi.
"Iya!" sahut Melinda sambil berlari kearah kulkas.
"Loh kok jus mangga?" ucap Syifa melotot.
"Es jeruknya habis. Hanya sisa jus mangga"
"Pokoknya aku gak mau itu! Aku mau nya es jeruk tante. Tadi aja masih banyak!" rengek Syifa.
"Kamu beliin ya Mel. Ada kok di depan komplek. Nih uangnya, kembaliannya buat kamu aja!" ucap mbak Santi menyerahkan uang dua puluh ribu.
"Tinggal keluar. Kamu lurus aja. Nah di depan orang jualan jus buahnya," ucap bude Ami disamping mbak Santi.
"Nah dekat aja Mel. Kamu cepat beliin ya. Kasian Syifa kehausan," timpal mbak Santi.
Dengan langkah berat Melinda pun melakukan perintah iparnya lagi. Dia melangkah keluar rumah.
"Ehh mau kemana Mel?" tanya pakde Anton sambil memainkan ponselnya diteras.
"Mau beliin Syifa jus pakde!" sahut Melinda.
"Wah kebetulan sekali. Pakde nitip beliin rokoknya. Malas harus jalan kaki keluar," ujar pakde Anton.
"Tapi pakde?"
"Udah gak usah tapi-tapian. Nih uangnya!" sela pakde Anton mengeluarkan uang merah dari dalam dompetnya.
"Bukan itu pakde! Aku gak tau dimana warungnya!" ucap Melinda mulai kesal menghadapi keluarga suaminya.
"Kamu jalan aja kedepan pasti ketemu nanti warungnya!" balas pakde Anton berlalu masuk tanpa mau tahu alasan Melinda lagi.
Seandainya, Imel mama mertua nya ada disini, beliau pasti membela Melinda. Sayangnya beliau sedang melaksanakan ibadah Umrah ditanah suci. Imel mama mertuanya Melinda tak pernah pilih kasih dan pandang bulu. Dia sangat menyayangi anak menantunya. Merupakan satu kebanggaan khusus dihati Melinda mengingat perlakuan ramah mertuanya, "Melinda kangen mama deh,"
Bersambung...
Saat Melinda berjalan menuju warung untuk membelikan pakdenya rokok. Seorang pengendara motor menjambret dompet yang dipenggang oleh Melinda.
"T-tolong!! Tolong!!" teriak Melinda repleks tersentak kaget.
Tak berselang lama seorang lelaki paruh baya menghampiri Melinda. Tapi sayangnya, jambret itu lebih dulu kabur.
"Kamu kenapa nak?" tanya lelaki paruh baya itu membantu Melinda berdiri.
Melinda menunjuk kearah pengendara motor yang sudah berhasil mengambil dompetnya, "Itu pak! A-anu, dompet saya!"
"Loh bukannya kamu Melinda? Putrinya pak Kusuma?" ucap lelaki paru baya itu balik bertanya.
Melinda yang tadi shock malah menjadi bingung untuk mengenali lelaki paruh baya yang menolongnya. Dia mengingat-ingat apakah pernah bertemu dengan lelaki paruh baya yang ada dihadapannya, "Bapak mengenalku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Lelaki paruh baya itu tersenyum simpul, "Saya Wijaya. Rekan bisnisnya bapak kamu, Kusuma. Kita bertemu waktu kamu masih SMA dulu,"
"Oh pantes saya lupa mungkin. Maaf ya pak," Melinda mangut-mangut tersenyum.
"Iya gak papa. Kamu gimana? Ada yang terluka kah? Gimana juga kabar bapak kamu?" cecar pak Wijaya.
"Saya gak papa kok pak, gak ada yang luka cuman dompet saya aja yang diambil. Dan bapak juga alhamdulillah baik kabarnya,"
"Syukurlah kalau begitu. Oiya kamu ngapain disini?"
"Saya sudah menikah dan sekarang ikut tinggal bersama suami juga,"
"Owalah Mel kamu udah nikah rupanya. Kok bapak gak diundang sama bapakmu?" goda pak Wijaya.
"Cuman syukuran biasa aja pak gak mewah. Yang diundang juga para kerabat dekat saja," jawab Melinda setengah malu karna bapaknya lupa mengundang pak Wijaya.
Pernikahan Melinda dan Yusuf memang digelar sangat sederhana. Karna itu atas permintaan Melinda sendiri, dia tak mau terlalu membeban kepada Yusuf. Dan berusaha menyembunyikan identitasnya sendiri. Mereka juga menikah dirumah neneknya Melinda bukan dikediaman orangtuanya karna permintaan dari sang nenek.
"Oh iya Mel. Tapi saya salut banget sama keluarga mu. Meski kalian orang yang berada, harta dimana-mana tapi didikan bapak mu sangat mengagumkan. Kalian hidup nampak sederhana bahkan banyak yang tak tau siapa kalian sebenarnya," ucap pak Wijaya terkekeh.
"Hehe bisa aja bapak. Tapi memang tak ada yang perlu disombongkan pak. Semuanya hanya titipan dari yang kuasa,"
"Nah itu salah satu yang bikin saya kagum pada keluargamu Mel. Kalian itu selalu rendah hati dan tidak sombong. Ngomong-ngomong kamu ngapain disini? Tinggal didekat sini juga kah?"
"Ah gak pak. Ini kebetulan ada acara arisan keluarga dirumah bude suami saya. Jadi sebagai anggota keluarga saya ikut," balas Melinda.
"Memang siapa nama bude mu? Kalau masih disini mungkin saya kenal Mel,"
"Aku sih manggilnya bude Ami pak gak tau juga siapa nama panjang beliau. Itu loh yang rumah nya cat hijau diujung komplek sana" kekeh Melinda sambil menunjuk kearah rumah bude Ami.
"Bude Ami? Istrinya pak Anton itu ya? Kamu menikah dengan keponakannya kah?" Pak Wijaya menyatukan alis mencoba menerka.
Melinda mengaguk, "Iya benar sekali pak!"
"Sebaiknya kamu hati-hati dengan keluarga Anton itu Mel. Saya gak mau anak teman saya dimanfaatkan oleh keluarga mereka," ucap pak Wijaya setengah berbisik.
"Maksud bapak?" Melinda agak bingung.
"Kamu pasti akan tau maksud saya nanti Mel. Mereka pasti akan memanfaatkan mu jika kamu tak berhati-hati nantinya. Ingat selalu pesan saya ya Mel," ujar pak Wijaya sambil menepuk bahu Melinda langsung berlalu pergi.
Melinda menjadi bingung sendiri, apakah ucapan pak Wijaya tadi ada sangkutannya dengan kelakuan mereka yang memperlakukan Melinda seperti upik abu tadi? Tapi masa iya mereka memanfaatkan tenang keponakannya sendiri?
***
Baru saja Melinda membaringkan tubuhnya dikasur, suara panggilan dari luar mengagetkannya lagi.
"Mel! Melll!! Tolong ambilkan buah dari dalam kulkas ya! Cuciin sekalian. Ini teman-teman ku bentar lagi mau datang loh," teriak mbak Santi dari luar kamar Melinda.
"Memang nya mau ada acara kah mbak?" tanya Melinda keluar dari kamarnya.
"Arisan bareng teman-temanku. Kamu ambil buah dalam kulkas langsung dicuci ya, setelah itu kamu susun kue-kue yang di meja dapur kamu bawa sekalian keluar sini,"
"Minta tolong sama bik Ramlah kan bisa mbak. Aku capek kan kita baru pulang dari rumah bude Ami," ucap Melinda berusaha menolak perintah iparnya.
"Loh kok kamu jawabnya begitu? Kamu gak mau bantuin aku kah?" ketus mbak Santi.
"Tapi kan aku memang benaran capek mbak. Lagian semua pekerjaan dirumah bude Ami tadi semuanya aku yang ngerjain, masa disini juga harus aku? Bukan kah disini ada bik Ramlah?" ujar Melinda langsung melangkah kedalam kamarnya.
"Astaga Melinda. Baru juga bergabung di keluarga ini kamu sudah berani membantah. Sudah keluar sifat aslinya ternyata," sindir mbak Santi. Padahal sifat aslinya yang keluar.
"Tapi mbak aku benaran capek banget. Kata dokter juga aku gak boleh terlalu capek bisa berpengaruh pada janin ku," balas Melinda memelas.
"Halah alasan aja kamu Mel! Memang nya cuci buah itu pekerjaan yang berat ya? Padahal kamu dirumah mu dulu juga bekerja begini kan, malah lebih melelahkan daripada disini. Jangan mentang-mentang kamu menikah dengan Yusuf kamu bisa seenaknya begini. Ngaca dong kalau gak kaya itu kelurga suamimu bukan kamu!"
Ucapan yang terlontar dari mulut iparnya seakan menusuk ke jantung Melinda. Ingin sekali Melinda menyumpal mulut iparnya dengan segepok rupiah agar tak menjadi-jadi. Padahal jika dibandingkan dengan kekayaannya, kekayaan keluarga suaminya tak sebanding, malah hanya seujung kuku.
"Tapi mbak,,"
"Udah gak ada tapi-tapian Mel. Bentar lagi teman-teman ku datang. Cepat kamu kerjakan apa yang aku suruh. Habis itu langsung bantuin bik Ramlah masak." kekeuh mbak Santi gak mau dibantah.
Melinda masih diam mematung membuat mbak Santi makin jengkel.
"Aduh Mel kok malah melamun? Cepatan dong. Kalau numpang itu harus sadar diri. Bantuin kalau tuan rumah ada acara," ucap mbak Santi lagi sambil mendorong tubuh Melinda.
Lagi-lagi perkataan mbak Santi membuat hati Melinda tersentil. Dia memang menumpang dirumah mertuanya, tapi tak berbeda dengan mbak Santi jika bukan karna kebaikan mertuanya mbak Santi dan keluarganya juga belum punya rumah.
Melinda pun lekas menuju dapur. Ia tak mau memperpanjang masalah. Sangat tidak etis jika bertengkar dengan ipar menurutnya.
"Mbak Melin istirahat saja. Biar saja saya yang mengerjakan semuanya. Nanti kalau terjadi sesuatu kepada mbak Melin pasti mas Yusuf akan marah besar," ujar bik Ramlah yang tak tega melihat Melinda bekerja.
"Udah gak papa bik. Bibi dengar sendirikan tadi kata mbak Santi kalau numpang itu harus sadar diri, jadi aku harus sadar diri karna memang benar aku hanya numpang disini," jawab Melinda tersenyum kecut.
"Tapi kan mbak juga menantu disini. Tak sepantasnya mbak Santi memperlakukan mbak seperti ini,"
"Ini hanya sementara kok bik. Sampai rumah kami selesai dibangun, setelah itu kami akan segera pindah dari sini," ucap Melinda membayangkan rumah impiannya dan Yusuf selesai dibangun dengan cepat.
Melinda dan bik Ramlah malah keasyikan mengobrol sampai lupa dengan pekerjaan mereka. Alhasil mbak Santi kembali marah-marah.
"Bagus ya ditungguin dari tadi juga. Eh tau nya malah asyik mengobrol. Bikin malu aja, tuh tamu ku udah pada datang. Cepat Mel kamu bawa buahnya dan bik Ramlah bawa kuenya," ucap mbak Santi memerintah lagi.
Melinda terpaku apa alasan yang membuat kakak iparnya berlaku judes kepada. Bahkan sejak perkenalan mereka lima bulan yang lalu. Saat Yusuf dan Melinda meminta izin untuk menikah kepada keluarga suaminya.
"Biar saya aja mbak. Ini sudah tugas saya, mbak Melin istirahat saja," ujar bik Ramlah mengambil keranjang buah di tangan Melinda.
"Gak papa bik. Biar cepat selesai," kata Melinda.
"Sudah mbak duduk saja," kekeuh bik Ramlah tak mau dibantah.
Namun karna kasian dengan bik Ramlah, Melinda pun membantu membawakan piring kue keluar. Untuk dihidangankan kepada tamu-tamunya mbak Santi.
"Siapa dia bestie? Upik abu baru kah?" tanya salah seorang dari tamu mbak Santi sambil melirik ke arah Melinda.
"Namanya Melinda. Dia istrinya Yusuf," balas mbak Santi.
"Duh maaf ya bestie. Aku pikir pembantu tadi, habisnya baju nya begitu sih kek baju upik abu aja," ucap teman mbak Santi lagi dengan senyum mengejek.
"Gak papa kok. Emang kenyataannya begono, maklum gadis ndeso!" ucap mbak Santi tersenyum sinis kearah Melinda.
"Yusuf kan lulusan S2 teknologi. Kok bisa punya istri kek upik abu?" timpal teman nya yang lain.
"Memang kenapa kalau saya istrinya mas Yusuf?" tanya Melinda mengibas-ngibaskan baju kerajaan favoritnya, yaitu daster sultan.
"Gak papa sih. Cuman gak nyangka aja seleranya kelas upik abi ckck," timpal temannya yang memakai gaun merah.
"Jangan bicara begitu dong guys. Wajah upik abu ini kalau dimodalin ke salon bakal cantik kok," ucap yang berbaju navy membuat seisi ruangan tertawa terpingkal-pingkal.
"Daripada buang-buang duit buat modalin dia. Lebih baik suruh Yusuf cari istri baru San," ucap perempuan dengan rambut sebahunya, dia berucap seakan Melinda tak ada diruangan itu.
Saat banyak yang menghina Melinda. Tiba-tiba ada seorang perempuan cantik dengan balutan dress baby pink yang begitu ketat, membentuk bentuk tubuhnya yang langsing. Berjalan mendekati Melinda.
"Hai nama mu siapa?" ucapnya ramah sekali. Melinda mengira perempuan yang satu ini berbeda dengan yang lainnya.
"Melinda mbak," jawab Melinda agak gugup.
"Oh Melinda. Aku Alika, panggil saja Alika kita seumuran kok," balasnya lagi seraya menyalami Melinda.
Melinda menerima uluran tangan Alika, dengan senang hati dia juga menyalami Alika. Karna dari sekian banyak teman mbak Santi, hanya Alika yang sangat ramah kepadanya.
"Duh Al kenapa pakai salaman sama dia segala sih? Gak etis banget mantan dekat sama istri sah," celutuk mbak Santi melirik sinis Melinda.
Setelah mendengar ucapan mbak Santi, hati Melinda tiba-tiba merasakan nyeri dan sesak. "Kebenaran apa ini? Ternyata perempuan cantik yang ku kira berbeda dengan yang lainnya adalah Alika, mantan pacarnya mas Yusuf," batin Melinda.
"Gak papa dong mbak Sinta. Bagaimana menurut mbak? Cantikan mana aku sama dia?" tanya Alika tersenyum puas karna bisa mempermalukan Melinda.
Semua tambah tertawa mendengar ucapan Alika. Ternyata Melinda salah menduga, perempuan yang dikiranya baik dan berbeda dengan yang lainnya. Malah lebih menyakiti sangat dalam.
"Ternyata Yusuf gak pakai kacamata saat melihat mu Melinda. Wajah kek upik abu kok dijadiin istri," ucap Alika tanpa rasa bersalah. Dia kembali ketempat duduknya.
Perkataan nya mampu membuat Melinda diam mematung, hinaan dari mulutnya mampu membuat Melinda bungkam.
"Ngapain masih disitu Mel? Udah sana bantuin bik Ramlah ke belakang," ucap mbak Santi lagi.
"Lumayan ya San bisa nambah upik abu gratisan," celutuk teman mbak Santi berbaju maroon.
Meski Melinda sudah melangkah ke dapur tapi suara mereka masih terdengar ditelinga Melinda.
"Apa semua orang memandang rendah seseorang hanya melalui penampilan saja? Padahal mereka tak tau berapa harga daster yang ku kenakan ini, dasar tak bermoral," umpat Melinda dalam hati.
Bersambung...
Bik Ramlah sepertinya mendengar hinaan kepada Melinda tadi. Dia pun langsung menyuruh majikan nya untuk istirahat.
"Mbak istirahat saja dikamar. Biar saya saja yang mengerjakan semua ini. Nanti kalau mbak Santi nanya saya tinggal bilang kalau mbak Melinda capek," ujar bik Ramlah tak tega melihat Melinda yang terlihat pucat.
"Iya bik. Makasih ya," balas Melinda langsung melangkah menuju kamarnya. Dia sangat lelah fisik dan batinnya. Melinda juga gak mau terjadi sesuatu kepada janin yang dikandungnnya.
Melinda langsung merebahkan tubuh nya dikasur, merenggangkan otot-otot yang sudah mulai kaku. Baru ingin memejamkan mata, dering diponselnya menghentikan keinginannya. Terpampang nama ibunya di ponsel, lekas Melinda menjawab panggilan dari sang ibu.
"Assalamualaikum, bu," ucap Melinda ketika telpon sudah tersambung.
"Waalaikumsalam nak. Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah Melin baik bu. Ibu dan bapak juga apa kabar?"
"Kami juga baik Mel,"
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya ibu ada apa menelpon Melin malam-malam begini?" tanya Melinda penasaran.
"Gak ada apa-apa kok Mel. Ibu hanya mengabarkan kalau ibu dan bapak ada di Jakarta, malam ini kami menginap di guess Safira. Dan rencananya besok kami mau berkunjung kerumah mu, bolehkan?"
"Boleh dong bu. Tapi ibu gak bercandakan?" tanya Melinda memastikan.
"Gak dong Mel. Ibu dan bapak udah rindu berat sama kamu, sudah dua bulan kita gak bertemu. Makanya habis dari Jepang kami langsung mau kerumahmu," ujar ibu Marisha. Ya Marisha adalah nama ibunya Melinda dan Kusuma nama bapaknya.
Melinda mengobrol dengan kedua orangtuanya lewat telpon. Mereka tak sabar untuk melepas rindu esok hari. Setelah panggilan berakhir Melinda meletakkan ponselnya diatas nakas. Dia bersiap untuk berlayar kealam mimpi.
Tok,, tokk,, tokk suara ketukan pintu luar kamarnya menggurungkan niatnya untuk istirahat lagi.
"Mel!! Buka pintunya!!" teriak mbak Santi gak sabaran.
Mau tak mau Melinda pun terpaksa membuka pintu kamarnya, "Ada apa sih mbak? Aku capek mau istirahat,"
"Istirahat kamu bilang Mel? Tuh cucian piring numpuk, kamu cuci dulu baru istirahat," ucap mbak Santi memerintah.
"Kenapa aku lagi mbak? Kan ada bik Ramlah?"
Mbak Santi melotot horor, "Kamu budeg atau apa Mel? Kamu gak dengar kah teriakan bik Ramlah tadi? Bik Ramlah jatuh dari kamar mandi, kaki terkilir dan memar,"
"Apa bik Ramlah jatuh? Kok bisa mbak?" Melinda tersentak kaget.
"Udah gak usah banyak tanya. Kamu cuci semuanya. Aku mau tidur dulu sebelum mas Riko pulang, nanti tidurku gak maksimal," ucap mbak Santi berlalu meninggalkan Melinda.
Mendengar bik Ramlah jatuh, Melinda langsung melangkah menuju kamar pembantunya. Ia sangat khawatir dengan pembantunya itu yang kira-kira usianya seusia dengan ibu Marisha.
"Bik, bik gak papa?" tanya Melinda berdiri di depan kamar bik Ramlah.
"Gak papa kok mbak. Hanya bengkak dan sedikir memar saja, mungkin besok juga sembuh," ucap bik Ramlah sesekali menunjukkan raut wajah kesakitan.
"Ini pasti sakit sekalinya bik. Kok bisa terpeleset bik?" tanya Melinda lagi.
"Bibik juga gak tau mbak. Sepertinya ada yang naruh air bekas cucian baju disana. Jadikan lantainya licin banget, untung saja bukan mbak Melinda yang jatuh," ujar bik Ramlah menjelaskan.
Ternyata begitu mulia hati bik Ramlah, disaat dia sakit masih saja bersyukur dan peduli dengan majikannya.
"Bentar ja bik," Melinda langsung keluar dia mengambil es batu freezer untuk mengompres kaki bik Ramlah. Cara sederhana seperti itu sering diajarkan oleh ibunya, Marisha.
Melinda langsung menyentuh kaki bik Ramlah dan mengompresnya.
"Gak usah mbak. Biar bibik aja yang ngompres sendiri," tepis bik Ramlah.
Melinda tak menghiraukan bik Ramlah. Dia terus mengompres kaki pembantunya itu.
"Udah bibik istirahat aja. Biar pekerjaan bibik aku yang kerjakan,"
Meski sebenarnya badan Melinda terasa capek banget tapi dia tak tega melihat bik Ramlah bekerja dengan kaki yang masih sakit. Melinda mencuci dan membereskan ruangannya bekas acara mbak Santi.
Ting.. Toonng bel rumah berbunyi. Karna satpam rumah izin pulang kampung dan bik Ramlah sedang sakit. Jadi terpaksa Melinda lagi yang harus membukakan pintu.
"Tunggu!!" teriak Melinda setengah berlari.
"Lama banget sih," ketus Mas Riko suaminya mbak Santi. Dia melongos memasukan mobilnya tanpa mengucapkan terimakasih tak menghiraukan siapa yang sudah membukakan pintu untuknya.
Dengan sabar Melinda mengusap dadanya, dia menutup kembali pintu gerbang rumah mereka setelah mobil milik Riko memasuki pekarangan rumah.
"Nih bawain sekalian!" perintah mas Riko lagi melempar tasnya kearah Melinda.
"Taruh diatas meja kerjaku!" tambahnya lagi langsung pergi ke kamarnya.
"Bau apa ini?" ucap Melinda ketika mencium bau aneh dari tas mas Riko. Karna penasaran, Melinda pun mendesul-desul tas kerja Riko, "Hem bau alkohol ini mah. Apakah mas Riko minum-minuman keras?"
***
Kicau burung sudah terdengar merdu, matahari juga sudah menampakkan wajahnya. Melinda juga sudah terlihat mengepel teras rumahnya. Saking asyiknya, ia tak mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya.
"Loh kamu lagi ngapain nak?" sebuah suara mengagetkan Melinda. Tapi bagi Melinda suara ini sudah tak asing lagi, dia pun langsung menoleh kearah pemilik suara itu. Dan dugaan nya benar, pemilik suara yang mengagetkannya itu adalah suara ibunya.
Mata Melinda berbinar bahagia, "Ibu? Kok pagi sekali kemarinya?"
"Ibu sudah tak sabar ingin bertemu dengan mu. Makanya ibu mendesak bapak habis sholat subuh tadi langsung kemari," jawab ibu Marisha langsung memeluk putrinya.
Melinda celingukan, "Ibu kok sendirian? Dimana bapak?"
"Ada tuh diluar sama pak Wowo lagi nurunin barang. Ibu melihat pintu gerbang gak dikunci makanya kami langsung masuk aja. Kenapa kamu ngepel sendiri? Gak ada pembantukah disini Mel?"
"Ada kok bu. Cuman lagi sakit aja, kemarin bik Ramlah habis jatuh dari kamar mandi. Kaki nya terkilir jadi gak bisa jalan," jawab Melinda.
"Duh kasian sekali ya Mel. Udah kamu duduk aja disana, biar ibu yang lanjutin ngepelnya," ucap ibu Marisha mengambil alih pekerjaan Melinda.
Melinda sempat menolak tapi ibunya tetap kekueh mengambil alih pekerjaan putrinya. Baru saja ibu Marisha mengepel lantai, mbak Santi keluar dari dalam rumah.
"Loh ibu bukannya ibunya Melinda kan?" tanya mbak Santi.
"Iya benar. Mbak ini kakaknya Yusuf kan?" balas ibu Marisha menyodorkan tangannya untuk mengajak mbak Santi bersalaman tapi mbak Santi tidak membalasnya. Alhasil ibu Marisha menarik kembali tangannya.
"Hem, ibu dan anak memang cocok mengerjakaan pekerjaan ini. Gak heran sih. Udah terusin aja pekerjaannya," ucap mbak Santi berlalu masuk kembali ke dalam rumah.
"Iparmu kok gitu Mel? Kayak gak berpendidikan aja, jauh berbeda dengan Yusuf," kata ibu Marisha.
"Udah gak usah dipikirkan bu. Kita masuk aja kedalam yuk, taruh dulu alat pelnya disana," Melinda mengajak ibunya masuk kedalam rumah.
Baru saja Melinda hendak menggandeng ibunya. Terlihat bapaknya dan pak Wowo membawa satu buah kardus ditangan masing-masing. Langsung Melinda menghampiri dan mencium pundak tangan bapaknya.
"Bapak apa kabar? Sehat pak?" tanya Melinda.
"Sehat dong. Kan mau ketemu anak dan calon cucu," balas bapak dengan semangat 45.
Saat Melinda bercakap dengan bapaknya. Ucapan pak Wowo sontak membuat mereka melihat kearahnya, "Loh nyonya ngapain? Kenapa megang alat pel?"
"Astaga ibu, mau ngapain sih? Gak usah bergaya mau ngepel. Wong dirumah saja tak pernah mengepel," ledek bapak Kusuma, ayahnya Melinda.
Ibu Marisha mencebik kesal kearah suaminya, "Bukannya mau bergaya pak. Tadi pas ibu masuk, ibu lihat ankmu sedang mengepel. Makanya ibu inisiatif buat bantuin gitu loh,"
"Memangnya gak ada pembantukah disini Mel?" tanya bapak Kusuma meminta penjelasan kepada Melinda.
Bersambung...