Bab 1

Hallo pembaca yang budiman, sedikit informasi saja, Novel Ini bukan novel roman picisan. Ada banyak adegan ranjang di dalamnya. Sangat tidak cocok dibaca under 17. Jadi yg masih bocil, minggir dulu.

******

******

Clara duduk di depan cermin dengan wajah yang sangat tak semangatnya. Pasalnya pria yang ia cintai sebentar lagi akan menikah dengan ibunya. Padahal ia pikir pria itu akan membatalkan rencananya, namun ia salah. Justru Mark tetap melanjutkan pernikahan tersebut.

Alasannya hanya satu, Mark tak ingin mengecewakan calon istrinya yang tak lain adalah ibu kandung Clara.

*****

3 Bulan yang lalu....

Malam ini Clara sedang berada di restoran mewah yang ada di hotel berbintang. Ia hendak menghadiri makan malam ibunya dengan seseorang. Kabarnya orang tersebut adalah calon Daddy tirinya.

Sejak sepuluh tahun yang lalu orang tuanya bercerai, Lauren sang ibu tak pernah lagi terlihat berkencan dengan lelaki manapun dan ini kali pertamanya Lauren mengatakan dan memperkenalkan kekasihnya pada sang anak. Dan itu di saat pemutusan untuk menikah.

Awalnya Clara tak setuju, namun bujukan maminya membuat Clara akhirnya pasrah. Ia pun menyadari jika jodoh seseorang itu tak satu saja. Perceraian menjadi jalan untuk bertemu jodoh ke dua atau ketiga dan seterusnya. Baik itu cerai hidup maupun cerai mati.

Dan untuk status ibunya ini adalah cerai hidup. Yang artinya sampai saat ini Clara masih punya ayah kandung yang masih hidup.

Clara jenuh dan bosan. Sudah lima menit calon dari ibunya itu terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan.

"Mom, mana sih pacarnya Mom? Kok nggak datang-datang?" kesal Clara. Gadis itu memberengut.

"Sabar sayang. Bentar lagi akan datang.. katanya sudah dekat dari sini. Tunggu sebentar lagi ya." Bujuk Lauren sembari menggenggam jemari sang anak.

"Tapi..."

"Maaf Lauren, aku terlambat.."

Clara mengangkat kepalanya saat mendengar suara seseorang. Suara bass sedikit serak yang menghantam gendang telinganya, membuat gadis itu seketika penasaran.

Ia tertegun saat melihat seorang pria berdiri dihadapannya dengan balutan casual santai namun terllihat sangat cocok.

Tampan. Itulah yang hatinya sorakan pertama kali. Clara menatap lebih seksama. Rahangnya yang tajam, tubuhnya yang tegap, tatapan matanya bak tatapan mata elang.

"Hai sayang. Kok lama?"

Clara menatap maminya yang merajuk pada pria tersebut.

Fiks, pria ini adalah calon ayah tirinya.

Ya Tuhan, kenapa maminya bisa dapat yang begini. Ganteng dan muda.

"Maaf sayang. Di jalan macet.." jawab pria itu tampak menyesal. Clara melihat mereka berciuman. Dan itu tepat pada bibir.

Oh no. Apa-apaan mereka ini, Batin Clara.

Lauren menggeleng. "Tak apa. Karena aku tahu itu. Tapi tidak dengan putriku,Clara."

Pria itu menatap Clara yang sedang menatapnya. Ia lalu tersenyum membuat Clara sekali lagi kesulitan menahan kecepatan jantungnya. Tuhan, ini jantung kenapa sih.

"Hai, aku Mark.." pria yang bernama Mark itu menjulurkan tangannya pada Clara.

"Aku Clara. Anaknya mami Lauren.." Clara yang terpesona, tanpa sadar menggenggam jemari Mark erat, bahkan nyaris membuat Mark tertegun.

Deheman dari Lauren ,mengejutkan Clara. Dengan cepat Clara melepaskan genggamannya dari Mark.

"Oh! Maaf aku tak sengaja.." ucap Clara.

"It's okay.." jawab Mark.

Mark kembali fokus pada Lauren. Wanita itu mempersilahkan Mark duduk. Mereka saling berbincang bahkan Lauren tak sadar jika calon suaminya di lirik dalam oleh Clara.

Sungguh Clara seketika terpesona dengan kegagahan calon ayah tirinya. Apakah ia salah jika dirinya juga tertarik.

*****

Makan malam berlangsung baik. Mark dan Clara bahkan sudah saling bicara. Kedekatan mereka disambut baik oleh Lauren. Bahkan Lauren sudah bersyukur anaknya bisa dekat dengan Mark. Ia pikir Clara dan Mark akan sulit berbaur, tapi ternyata ia salah. Mark justru mudah memasuki dunia Clara.

Mark adalah bule asal Amerika. Tak ada darah indonesia di tubuh Mark namun ia bisa bicara bahasa Indonesia. Semua itu ia pelajari lantaran terdesak pekerjaannya.

Mark merupakan seorang CEO yang bekerja dibidang perhotelan dan pariwisata di Amerika. Banyak hotel miliknya yang disukai masyarakat di sana.

Dan pertemuannya dengan Lauren pun karena hal itu. Lauren menjadi tamu dihotelnya dan ia terpesona dengan kecantikan Lauren.

Kedekatan Lauren dan Mark sangat ingin berlanjut sampai ke jenjang pernikahan dan Mark perpikir ini sedikit sulit karena Lauren memiliki anak perempuan yang harus ia taklukan.

Pertemuan pertama Mark dengan Clara membuat Mark takjub, ternyata Clara tak kalah cantik dari Lauren. Mereka memang ibu dan anak yang rupawan.

Mark menatap kaca spion yang ada di atas kepalanya. Ia melirik Clara dari sana. Clara tak fokus pada Mark, gadis itu memilih melirik jalan raya.

Hari ini Mark akan menginap di kediaman Lauren. Kebetulan esok pagi mereka harus mengunjungi sebuah butik tempat penyediaan gaun pernikahan.

Sebenarnya Mark meminta untuk membeli saja, jadi akan ada yang spesial dari desainnya, namun Lauren menolak dan lebih memilih menyewa saja. Karena baju pernikahan tak akan bisa dipakai kemanapun, jadi akan sangat rugi apabila dibeli.

Karena jarak dari hotel tempat Mark menginap ke tempar butik itu sangatlah jauh, jadilah Lauren menyarankan Mark menginap di rumahnya saja. Sekalian mereka bisa 'bersenang-senang'.

Tak lama setelah itu, mobil yang Mark kendarai memasuki sebuah rumah mewah. Tentu saja itu rumah Lauren.

Setelah menyimpan mobil di dalam garasi, Mark, Clara dan Lauren segera turun dan masuk ke dalam rumah.

"Clara, kamu tidur dulu ya. Mami masih ada yang mau mami bicarain sama Mark..." ucap Lauren yang diangguki oleh Clara.

Gadis itu langsung masuk ke kamarnya yang ada di lantai satu.

Sebenarnya kamar utama Clara ada di lantai dua, namun ia malas menempati kamar itu, jadilah kamar Di lantai dua lebih banyak diprioritaskan untuk tamu.

Beruntung rumah tersebut memiliki empat kamar. Dua kamar utama dan dua kamar tamu.

Setelah masuk ke dalam, Clara melempar tas yang ia bawa ke atas ranjang king size yang ada di kamsr tersebut. Ia melepaskan blazzernya dan juga tengtop tipis yang membalut tubuh atas Clara, menyisakan bra berwarna merah tanpa tali.

Clara menarik pakaian tidur tipis di dalam lemari pakaiannya. Ia juga melepaskan celananya dan menggantinya dengan baju tidur tersebut.

Sebenarnya untuk ukuran baju tidur, ini bisa dibilang sangat seksi, tapi ia nyaman dan itu tak masalah.

Bahkan baju tersebut sangat menerawang. Memiliki tali yang sangat halus untuk menahan agar tak jatuh, dengan panjang baju yang hanya sampai dibawah bokong sedikit.

Jika tak mengenakan bra, ia bisa dengan jelas melihat puncak dadanya yang siap untuk menyapa.

Setelah selesai, Clara berjalan menuju ranjangnya lalu tidur di sana. Otaknya seketika memikirkan tentang calon ayah tirinya yang bernama Mark.

Mark sangat tampan. Tubuhnya kekar dan satu yang juga menjadi fokus Clara. Yaitu jemari Mark yang besar membuat Clara seketika menggigit bibir bawahnya ngilu.

Otaknya bahkan sudah berkelana ke mana-mana. Jika banyak yang menganggap Clara polos, mereka salah besar. Sejak perceraian orang tuanya, Clara selalu mencari kepuasan sendiri dan ia mengenal apa itu kepuasan s3x. Walaupun ia akui ia masih perawan sampai saat ini, namun ia sudah tak tabu lagi dengan dunia panas itu.

Otak Clara kembali berkelana pada Mark. membuat milik Clara seketika berdenyut ngilu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana bentukan 'perkakas' Mark dengan tubuh sebagus itu. Apa benar sama persis seperti film film yang selalu ia lihat.

Kekar dan berurat.

Uuuuu, Clara meringis saat membayangkan benda itu singgah di lobangnya, pasti akan sangat membuatnya merintih nikmat.

Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Clara basah, apalagi sampai merasakannya.

Apalagi soalan jemari Mark yang juga besar dan panjang itu. Apa jadinya jika jemari itu masuk dan mengorek 'Cinta' nya sampai berlendir basah.

Pasti akan sangat nikmat.

Clara tak tahan. Ia meraih miliknya dengan jemarinya. Mengusapnya lembut seperti memberikan semangat untuk bersabar.

Sementara itu, di luar sana, Lauren dan Mark tengah berciuman panas. Mereka saling memagut satu sama lain, saling menekan ciuman tersebut.

Lauren tersenyum menang karena dari ciuman panas yang ia berikan pada Mark, membuat perkakas calon suaminya itu langsung bangun.

Ini yang ia suka dari Mark, milik Mark yang selalu membuatnya ketagihan. Bagaimana tidak, benda itu sangat berurat dan panjang.

Ia yakin Mark merawatnya dengan baik. Karena bentukannya begitu sempurna dan menjadi impian para wanita.

Lauren menggoda Mark dengan menurunkan jemarinya lalu memijit milik Mark yang sudah mengeras membuat Mark mendesah nikmat.

"Kau menggodaku sayang.." ucap Mark saat ciuman mereka terlepas.

"Tapi kau suka.."

"Tentu.. Apalagi 'Cinta' mu. Sungguh sempit dan nikmat.."bisik Mark tepat di telinga Lauren.

Lauren hendak turun berjongkok, namun ditahan oleh Mark, "jangan di sini.." ucap Mark sambil melihat pintu kamar yang tadi dimasuki Clara.

Seolah paham, Lauren langsung menarik tangan Mark dan membawa pria itu menuju kamarnya yang ada di lantai atas.

Ia sangat merindukan perkakas Mark memporak porandakan lendirnya. Terakhir mereka melakukannya itu sekitar satu bulan yang lalu saat Lauren berkunjung ke Amerika.

Dan sekarang ia menginginkannya lagi.

Sesampainya di dalam, Lauren menutup pintu dan langsung jongkok membuat Mark tersenyum. Ia bangga dengan miliknya. Karena calon istrinya ini sangat menyukainya.

Bersyukur ia merawatnya sejak dulu.

Mark mendesah saat tangan Lauren menggenggamnya. Saking perkasanya, Bahkan jemari Lauren tak cukup untuk melingkari diameter milik Mark.

"Uuuuu,, besar banget sayang..."

"Itu milikmu Lauren. Kau bisa lakukan apa yang ingin kau lakukan dengannya.." ucap Mark dengan wajah menggoda.

Lauren senang bukan main.

Tanpa pikir panjang, ia langsung memasukkan milik Mark ke dalam mulutnya. Dan sungguh mulut Lauren terasa penuh.

Ia memaju mundurkan kepalanya membuat Mark medesah gila. Bahkan tangan Mark ikut membantu kepala Lauren untuk maju mundur dengan teratur.

Sesekali Mark menekan kepala itu agar miliknya menyentuh dinding kerongkongan Lauren.

Sungguh, hal itu sangatlah nikmat.

Mark yang tak tahan, memutuskan untuk menggendong Lauren menuju ranjang dan menidurkan Lauren di sana.

Mark melepaskan pakaiannya dengan cepat membuat Lauren langsung menggigit bibir bawahnya seketika saat ia melihat pusat tubuh Mark yang menjulang kekar.

Tanpa pemanasan, Mark langsung memasukkan miliknya ke dalam lubang cinta milik Lauren yang membuat wanita itu sedikit menjerit karena kaget.

"Maaf sayang, aku sudah tak sabar.." sesal Mark.

"Tak apa sayang. Aku juga sudah tak sabar.." goda Lauren.

Mark tersenyum lalu ia mulai menggerakkan pinggulnya, awalnya gerakan itu sangat pelan, namun semakin lama gerakan itu menjadi sangat cepat membuat Lauren mengerang tak tahan.

Erangan Lauren sungguh membuat nafsu semakin meningkat. Lubang cintanya terisi penuh, bahkan sangat sesak. Namun itulah yang membuat kenikmatan itu semakin bertambah.

"Aaaghhh....aaghhh..ssshhh..aaagghh... Sayang.. Sesak banget Mark... Benar-benar penuh dan nikmat.." ucap Lauren sambil terus mendesah.

Erangan Lauren terdengar sangat erotis.

Lauren meremas dadanya untuk melampiaskan rasa nikmat pada lubang cintanya yang kini 'digempur' habis - habisan oleh Mark.

Dan ini yang paling Lauren suka dari milik Mark, urat urat kekar yang menonjol membuat milik Mark seperti bergerigi. Miliknya terasa semakin nikmat.

"Sssshh...sialan! Kau sungguh nikmat Lauren.."

"Miliki aku sayang. Tubuhku untukmu.."

Mark mempercepat hentakannya. Ia merasakan ada yang memijit miliknya. Ia tersenyum menang saat ia melihat Lauren yang sedang menunggu detik-detik pelepasan nikmat.

Mark mempercepat hentakannya, membuat Lauren merasakan kenikmatan yang begitu hebat.

Ia bahkan sampai menggenggam rambutnya, "Aaaaaaggggg... Nikmat banget... Terus sayang..terus...aagghhh..don't stop don't stop...please...don' stop...aaggghh.. don't stop.... Im Coming Honeeeeeyyy...aaaghhhh..."

Lauren bergetar hebat. Tubuhnya menerima datangnya kenikmatan itu dengan getaran hebat.

Bahkan mata hitam Lauren tak terlihat karena ia menengadah ke atas menikmati pelepasannya.

Tubuhnya mengejan ngejan. Bahkan Lauren memukul daging kenyal miliknya itu pelan berulang kali untuk menghilangkan getaran geli penuh kenikmatannya, namun tak berhasil.

Mark merasa puas sudah membuat Lauren seperti ini. Dan ia semakin bangga dengan miliknya.

"Apa senikmat itu sayang?" goda Mark yang membuat Lauren seketika merona malu.

Lauren mengangguk,"Sangat nikmat sayang.." jawabnya.

Kenikmatan itu masih berlanjut, tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengintip.

Mengintip dari celah pintu kamar yang tak tertutup sempurna..

******

Bab 2

Clara baru saja mendapatkan pelepasannya. Ia tak menyangka ia bisa menyentuh miliknya sendiri sembari membayangkan wajah Mark, calon ayah tirinya. Biasanya ia hanya akan membayangkan pria-pria bertubuh kekar yang sedang bermain dengan miliknya, namun kali ini ia justru lebih gila.

Kenapa otaknya selalu tentang Mark.

Setelah menenangkan diri. Clara duduk dari tidurnya dan berniat keluar kamar untuk mengambil minum.

Clara membuka pintu kamarnya secara perlahan tanpa berniat menutupnya kembali. Namun siapa sangka, baru dua langkah ia keluar dari kamarnya, Indra pendengarnya langsung menangkap suara yang tak asing baginya. Dan suara itu berasal dari kamar maminya.

Clara tahu suara itu. Ia tak bodoh bukan. Bahkan suara benturan kulit pun ia sangat tahu.

Otaknya langsung mengarah pada Mark yang saat ini sedang menggagahi maminya. Penasaran, Clara langsung berjalan cepat menuju lantai atas. Jantungnya berdetak cepat, darahnya berdesir saat suara desahan maminya terdengar begitu gila. Apalagi kini posisi Clara sudah ada di depan kamar maminya yang pintunya tak tertutup sempurna.

Clara menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Terlihat sangat jelas jika saat ini milik Mark sedang keluar masuk di surga maminya. Milik Mark yang ia bayangkan ternyata tak jauh beda dari aslinya. Bahkan lebih amazing yang nyata.

Clara menggigit bibir bawahnya kuat. Keringat dingin membasahi. Tubuhnya juga mendadak panas apalagi saat ini ia melihat maminya yang berteriak nikmat mendapatkan pelepasannya.

Clara, Lo ngapain ini Clara. Mengintip mamimu sendiri sedang bercinta. Yang benar saja, batin Clara.

*****

Clara menutup pintu kamarnya cukup kuat. Entah apa yang ada dalam benaknya, ia bisa dengan begitu santainya menyaksikan persetubuhan maminya dengan calon Daddynya itu.

Dan gilanya lagi, ia juga menginginkannya.

"Ya Ampun Clara, jernihin otak lo.." ucap Clara yang mencoba mendoktrin otaknya.

Clara menatap miris dirinya di cermin. Ini berkat dirinya yang kehausan tadi, namun harus melihat kejadian gila itu.

Ia mengumpat kasar. Ia tak habis pikir, Maminya bisa melakukan hal gila itu pada Mark yang notabennya masih calon suami.

Tapi jika ia pikir-pikir, hal seperti itu untuk zaman sekarang ini, sangaatlah biasa. Bahkan anak muda zaman sekaraang ada yang masih kecil tapi sudah kehilangan keperawanan. Dan semua itu mereka serahkan pada pacar mereka yang notabennya belum tentu akan jadi suami mereka.

Jadi jika maminya melakukan hal tak senonoh itu dengan Mark, ia memaklumi karena untuk sekelas maminya dan Mark yang bule, tentu penasaran mereka ada.

Apalagi maminya yang tak perlu memikirkan tentang keperaawanan lagi.

"P*nis bule itu gimana ya ukurannya?" ucap Clara bertanya pada dirinya sendiri. Karena ia sendiri selama ini hanya melihat di koleksi filmnya dan tak pernah melihat secara langsung.

Membayangkannya saja membuat Clara basah. Kau butuh pelampiasan Ra. Jadi sebaiknya lo cari sesuatu.

Clara melepas semua pakaiannya lalu kembali menatap cermin. Menatap dirinya yang tak tertutup apapun sama sekali.

Jangan tanyakan seberapa nafsunya Clara. Karena jemarinya sendiri sudah aktif mengusap bagian bawahnya membuat Clara seketika memejamkan matanya menikmati sensasi yang ada.

Ia tak bisa mengelakkan tentang rasa itu. Rasa nikmat yang sungguh membuatnya melayang.

Namun jujur ia tak puas dengan hasil tangannya sendiri. Ia ingin mencoba dimasuki, walaupun sebenarnya ia masih tersegel.

Clara berhenti melakukan aktivitasnya. Ia memilih untuk mandi walaupun saat itu sudah tengah malam.

Selesai merelax kan tubuhnya, Clara menyentuh perutnya karena merasa lapar.

Awalnya Clara enggan keluar karena saat ini ia hanya mengenakan baju kaos longgar satu jengkal di atas lututnya dan tak mengenakan pakaian dalam sedikitpun.

Namun rasa laparnya menguasai akal sehatnya. Alhasil ia memutuskan untuk memasak mie instan di dapur.

Secara perlahan Clara membuka pintu kamarnya dan berjalan mengenap endap. Sebenarnya ia tak perlu khawatir karena ia yakin Mark dan maminya sudah tertidur karena kegiatan panas keduanya tadi.

Clara meraih panci kecil lalu meletakkannya di atas kompor. Ia lalu menuang air.

Sebelum meraih sebungkus mie, Clara dikejutkan dengan suara pintu kamar yang tertutup. Ia segera bersembunyi dan mengintip siapa yang muncul.

Betapa terkejutnya Clara saat ia melihat yang keluar adalah Mark. Pria itu keluar tanpa mengenakan satupun pakaian alias Buugil.

Mark berjalan menuju dapur di mana Clara juga ada di sana.

Panik bukan main, Clara pun langsung bersembunyi di bawah meja makan di mana ia yakin tak akan terlihat siapapun.

Dari bawah sana, ada satu titik penglihatan Clara, yaitu 'senjata' Mark yang waaww menurut Clara. Pantas saja maminya dibuat menjerit nikmat. Ternyata yang masuk sebesar itu.  Karena tadi ia tak bisa melihat lebih jelas.

Clara menahan nafasnya saat Mark duduk di kursi meja makan. Bahkan bagian bawah Mark tak tertutup sedikitpun.

Ingin rasanya Clara menyentuhnya, namun sepertinya itu mustahil karena akan membuat perang dunia kedua.

Pertengkaran hebat akan terjadi jika ia melakukan hal tersebut.

Clara kesusahan meneguk ludahnya saat Mark menggenggam miliknya. Ia sangat ingin menggantikan jemari Mark dengan jemarinya.

Clara menjangkau secara perlahan ,tentu saja tak sampai menyentuhnya.

Ia menggigit bibir bawahnya karena tak kuat menahan sensasi.

"Sayang...!"

Deg!

Itu suara Lauren.

"Kenapa tak mengenakan baju? Nanti jika Clara bangun dan keluar kamar bagaimana?" panik Lauren.

Lauren hendak pergi mengambil baju Mark, namun segera di tahan oleh Mark.

Mark menarik Lauren duduk di pangkuannya membuat Clara semakin menahan nafasnya.

Saat itu Lauren sedang mengenakan dress dibawah paha sedikit.

Mark mengangkat dress Lauren yang tentu saja langsung membuat Clara kaget. Karena Lauren tak mengenakan pakaian dalam.

Clara bisa dengan jelas melihat kem*luan maminya. Sungguh tebal dan montok. Tak ada rambut yang menutupi area tersebut.

Dalam pangkuan Mark, Lauren mendesah karena Mark memainkan milik Lauren dengan jemarinya.

Clara mengumpat kesal karena ia mendadak basah dan juga ingin diobok-obok seperti itu.

Aaagghhh..mark...

Desah Lauren sungguh membuat suasana panas.

Mark membuka kangkangan paha Lauren menjadi lebih besar lagi. Ia mengusap daging kenyal tersebut dari bawah ke atas, begitupun sebaliknya. Ia melakukannya atas bawah secara bergantian.

Semakin lama semakin cepat, bahkan membuat Lauren berteriak nikmat karena Lauren baru saja mendapatkan pelepasannya.

Tubuh Lauren langsung lemas.

Clara pikir Mark akan berhenti di sana, namun ternyata ia salah. Calon daddynya itu justru memegang 'perkakasny' lalu memasukkannya ke dalam milik Lauren yang tentu saja sudah basah.

Clara semakin dibuat mengumpat kasar karena desahan Lauren.

Bayangkam saja. Bagaimana rasanya saat kalian melihat dengan mata kepala kalian sendiri bahkan ini dari jarak dekat, dua kelamin menyatu dan saling memberi kenikmatan.

Clara merasakam hidungnya gatal. Paniknya semakin menjadi saat ia ingin sekali bersin.

Tak mungkin ia bersin di sini. Bisa hancur semuanya jika ia bersin di sini.

Geli dihidungnya semakin menjadi. Ia menatap ke depan. Milik Mark masih asik keluar masuk dalam milik maminya. Bahkan desahan Lauren semakin menjadi.

Clara melihat kondisi, saat Lauren hampir sampai dan teriakan nikmatnya sudah menghiasi pendengaran, tanpa tak tahu rasa kasihannya, Clara bersin cukup keras dan setelahnya ia menutup mulutnya erat-erat dengan tangannya.

"Suara apa itu Mark?" tanya Lauren yang cemas.

Bahkan ia yang hampir sampai pun langsung kehilangan rasa.

"Suara apa?" tanya Mark.

"Aku denger suara..suara bersin.."

Mark menggerakkan kembali pinggulnya tanpa peduli dengan kecemasan Lauren.

"Mark jangan dulu. Tadi itu suara apa sayang.."

Cup..

Mark mengecup leher Lauren. Bagian bawahnya masih bekerja naik turun.

"Agghh...nggak..nggak ada suara apa-apa sayang.." ucap Mark kesusahan menahan nafsunya.

"Tapi Mark."

Mark mengumpat. Ia sudah tak tahan lagi..

Ia berdiri dari duduknya, dan dengan cepat ia mengangkat Lauren ke atas meja lalu melebarkan paha Lauren dan kembali memasuki Lauren.

menghentakkan kuat bagian bawahnya pada lubang kenikmatan milik Lauren membuat Lauren kembali Mendesah kuat.

Rasa itu membuat Lauren kembali menjerit. wanita itu merasakan getaran kenikmatan lagi yang mulai menggerayangi tubuhnya..

"Iya sayang.. di sana sayang.. Jangan berhenti.. Ini nikmat Mark...agghh..."

Teriakan Lauren yang penuh kenikmatan pun terdengar.. Ia telah sampai begitupun dengan Mark.

Keduanya sama-sama kelelahan. Lauren langsung turun dari meja makan.

"Aku ke dalam dulu sayang. Takut Clara keluar.. Kamu buruan pakai bajunya.."

Mark tersenyum. Ia melihat Lauren berjalan cepat menuju lantai atas, sedangkan Mark kembali duduk di tepat duduk.

Clara dibuat melongo. Cairan cinta Mark masih menetes dari ujung rudal cintanya. Dan lagi-lagi ini hal pertama baginya. Biasanya ia hanya melihat itu dari film-film yang ia tonton. Namun sekarang ia bisa melihatnya sendiri.

Clara menggigit bibir bawahnya. Sudah entah yang keberapa kalinya ia menggigit bibirnya ini. Dan jika terus berlanjut, mungkin bibirnya akan terluka.

Clara mengusap wajahnya kasar, "Ya ampun, gue mau nyentuh ini..." bisik Clara nyaris gila. Ia bahkan menjulurkan tangannya namun kembali ia tarik.

"Keluarlah. Kau tak lelah berjongkok di bawah sana?"

Deg!

Clara terdiam. Ia membeku di tempatnya. Apa tadi? Mark sedang bicara dengan siapa? Atau apa ia salah dengar? Clara melirik ke sana ke mari dan tak ada siapa-siapa.

Jantungnya bergemuruh. Ia tak ketahuan bukan? Posisinya masih aman bukan. Bisiknya membatin. Namun ia seketika nyaris terpekik saat wajah Mark muncul di hadapannya.

"Atau kau mau menyentuh milikku?" Ucap Mark dengan santainya dan jangan lupakan sedikit senyuman tipis di bibir pria itu.

"Ma--Mark."

"Hai.. Kau puas melihat permainanku dengan mamimu?"

MAMPUS KAU CLARA.....

-*****-

Bab 3

Clara berlari kencang ke kamarnya saat ia ketahuan oleh Mark bersembunyi di bawah meja. Ia merasa seperti gadis bodoh dan liar. Apalagi yang ia intip bukanlah hal yang biasa, melainkan luar biasa.

Sebuah percintaan panas ibunya dengan calon daddynya, dan itu sudah menjadi suatu insiden menarik namun memalukan.

Dadanya naik turun karena menarik nafas panjang dan cepat.

"Kau gila Clara, kau gila.." rutuknya sambil memukul kepalanya dengan tangan.

Bagaimana cara ia keluar nantinya. Apa yang harus ia lakukan jika nanti di luar ia bertemu dengan Mark.

Ya ampun, ia sungguh bodoh.

"Bagaimana ini. Ya Ampun Clara. Kenapa bisa ketahuan. Kenapa pakai bersin segala sih." Clara menjambak rambutnya kasar.

Ia menghela nafas panjang. Mencoba menormalkan kembali detak jantungnya yang sudah tak karuan. Bagaimana besok ia menyambut paginya? Tak mungkin ia akan berdiam diri di kamar saja.

Clara mengusap wajahnya kasar. Sungguh, dalam kurun waktu belum 24 jam bertemu Mark, hidupnya sudah dibuat berantakan seperti ini. Sungguh gila.

*****

Suasana pagi ini tak sama seperti kemarin. Di mana kemarin  kecanggungan itu tak terlihat namun untuk pagi ini, semua berubah. Sebenarnya perubahan itu hanya bagi Clara saja, karena jika untuk Mark sendiri, ia terlihat santai walaupun kegiatan panasnya semalam ditonton oleh calon anak tirinya ini.

Wah bukan?

Mungkin lebih tepatnya gila!

Bahkan saat Mark berpakaian lengkap pun, Clara bisa membayangkan bagaimana bentukan benda yang terbungkus di dalam pakaian tersebut.

Seperti itulah gilanya hayalan seorang Clara. Walaupun dirinya masih seorang gadis, namun hal itu tak menunda otak Clara untuk berpikir dewasa.

Pagi ini Clara harus pergi ke kampusnya karena ia harus menemui dosen untuk menyerahkan tugas kuliahnya.

Walaupun Clara masih tahun dua di kuliahnya, ia sudah dihadang dengan tugas yang menumpuk. Semua itu karena Clara ingin mendapatkan beasiswa kuliah di negara Adi Daya Amerika.

Dan untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Ada usaha ekstra keras yang harus Clara lakukan.

Walaupun sebenarnya maminya sudah menawarkan ingin membantu, tapi Clara tak ingin menerima tawaran maminya.

Usaha sendiri jauh lebih baik.

Itulah motto hidup Clara.

"Kamu jadi ke kampus Ra?" tanya Lauren pada sang anak.

Clara mengangguk, "jadi mi.." ucapnya.

"Hari ini mami mau fitting baju sama Mark, kamu juga ada bajunya nanti. Jadi ikut mami cocokinnya."

Mendengar itu, Clara mendadak diam. Ia tak tertarik dengan hal seperti itu. Apalagi dirinya juga harus ikut melakukan fitting tersebut. Itu akan menjadi hari yang membosankan.

Ditambah lagi insiden semalam semakin membuatnya tak berani untuk berdekatan dengan Mark.

Clara melirik Mark sekilas. Pria itu sedang sibuk dengan ponselnya. Namun tak menutup kemungkinan Mark tak memikirkan masalah semalam.

"Habis dari kampus Clara mau kumpul sama teman-teman mi.." tolak Clara.

"Nggak ada penolakan Clara. Kamu harus ikut. Nanti Mark yang jemput kamu.."

Deg!

Clara kembali menatap Mark. Pria itu masih santai tanpa melihatnya.

"Tapi mi!"

"Nggak ada tapi-tapian Clara.." Lauren langsung menyentuh jemari Mark, "Kamu mau kan sayang jemput Clara nanti?"

Mark menghentikan makannya dan menatap Clara sebentar lalu menatap Lauren dan tersenyum, " tentu Honey.." jawab Mark lalu kembali menatap Clara sambil tersenyum menggoda membuat Clara langsung merinding. Ia meremang seketika.

Ia ingin menolak permintaan maminya lagi, namun sepertinya sekuat apapun ia menolak, hasilnya tetap sama.

Clara, lo harus fitting baju.

Haaahh.. semangat Clara. Anggap saja semalam itu bukan hal yang penting.

Clara menyudahi makannya. Ia sungguh tak bernafsu, padahal ia baru memasukkan beberapa suap makanan ke dalam mulutnya.

Clara berdiri membuat pandangan Lauren dan Mark mengikutinya.

"Mau kemana?" tanya Lauren.

"Mau ke kampus mi.."

"Tapi makanan kamu belum selesai nak.."

"Clara udah kenyang mi.. Clara mau berangkat dulu.."

Lauren kembali hendak berbicara namun Mark segera menahan tangannya.

"Biarin aja.. Biar dia sendiri.." ucap Mark mencegah Lauren Untuk menghentikan Clara yang sudah pergi dari meja makan.

"Tapi Mark, dia nggak sopan banget.."

"Nggap apa sayang. Dia belum terbiasa. Kita harus bersabar.." ucap Mark yang mencoba terus menenangkan Lauren.

Lauren akhirnya mengangguk. Mark menatap ke arah pintu keluar, tempat di mana Clara tadi pergi.

*****

Clara sudah berada di dalam taksi online yang ia pesan. Pagi ini ia sudah merasa suntuk. Lantaran maminya memaksakan sesuatu yang ia tak suka.

Drrttt!drrtt!

Clara terkejut saat ponsel yang ia pegang bergetar. Di sana tertera nomor ponsel tak di kenal.

Clara menggeser layar untuk menjawab panggilan masuk tersebut.

"Hallo.." ucapnya.

"Hai Clara.. Saya Mark.."

Deg!

Clara mendadak mematung saat ia tahu yang menghubunginya adalah Mark.

"A...ada apa?" tanya Clara gugup.

"Ada yang harus saya bicarakan. Kapan kau ada waktu? Biar saya yang menjemputmu.."

Clara menjauhkan layar ponselnya pada telinganya. Ia kembali melirik nomor ponsel yanh tertera dan kebali meletakkam ponsel tersebut di telinganya.

"Dari mana om tahu nomor saya?" Clara menyipit saat ia mendengar suara umpatan dari seberang sana, "Om nyumpahin saya?" lanjut Clara kesal.

"Saya calon daddy mu. Bisakah kau jangan memanggilku om.."

Clara menyipitkan matanya, "Kenapa anda yang marah? Itu hak saya manggil anda apa.. Karena anda bukan papi saya."

Terdengar helaan nafas dari seberang sana. "Terserah kamu. Beri tahu aku jika kau sudah selesai. Aku akan menjemputmu.."

"Maaf om. Saya masih punya uang untuk bayar taksi online. Jadi jangan sok baik dengam saya. Om seperti itu apa karena yang semalam? Itu bukan urusan saya. Itu urusan om dengan Mami. Jadi jangan bawa saya.. Siapa suruh anda brutal di dapur.." Clara begitu vulgar dalam berbicara.

Bahkan driver online pun melirik Clara dari kaca spion yang ada di atasnya.

Clara mematikan ponselnya lalu mensilent nya. Ia tak ingin diganggu.

Merasa lelah, Clara pun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil.

Hari ini ia akan mencari kesibukan di kampus agar tak bertemu dengan Mark.

*****

Namanya Mark.

Bicara soal Mark, jujur Clara menyukai tipe wajah seperti Mark. Dan jika boleh meminta, ia akan meminta Mark pada maminya, namun itu mustahil dan gila.

Tak mungkin ia meminta Mark pada maminya. Dimana notabennya pria itu adalah calon daddynya.

Mark berasal dari Amerika. Dan gilanya, maminya mendapatkan Mark dalam keadaan belum beristri alias lajang.

Sungguh beruntung maminya.

Kejadian semalam sungguh membuat Clara harus memutar otak agar tak tergoda. Ia takut ia akan menyerang Mark jika dalam benaknya selalu dipenuhi oleh tubuh kekar Mark.

Ia memang gadis, tapi tak polos-polos amat. Clara bahkan paham dengan semua hal yang berbau dewasa.

Ia bahkan Sering membayangkan hidupnya dikuasai oleh pria-pria bertubuh kekar dengan pusat intinya yang oke punya.

Gila kan?

Seperti itulah bayangan Clara. Dan kegilaannya semakin menjadi saat semua milik bule yang ia lihat di film panas yang ia tonton, kini ia temukam ada pada Mark.

Bagaimana tak gila.

Setiap bertemu Mark ia malah ingin menghabisi Mark di ranjang.

Clara menggeleng kuat. Ia sadar dengan pikirannya.

"Sadar lo Clara.. Itu calon bokap lo!" gumamnya.

Asik dengan pikirannya sendiri, Clara dikejutkan dengan suara driver yang mengatakan jika mereka sudah sampai.

"Oh iya. Makasi bang.." ucap Clara sambil memberikan ongkosnya.

Ia turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Pasalnya dari kejauhan ia bisa melihat temannya yang bernama Alin berjalan memasuki koridor jurusannya.

"Alin!!" panggil Clara yang membuat langkah Alin seketika terhenti.

"Eh! Tumben? Bukannya lo nggak ada jadwal hari ini?" tanya Alin heran.

Clara mengangguk. "Ngasih tugas doang. Cuma Males gue di rumah. Ada calon daddy gue.." ucapnya santai.

Alin terkejut, ia yang tadi sudak kembali melangkah langsung menghentikan langkahnya lalu menatap Cara, "Seriusan lo?"

Clara mengangguk.

"Gue pikir yang waktu lo bilang nyokap lo mau nikah lagi itu bercandaan doang, ternyata beneran?"

"Emang lo lihat apa kata bohong di sini. Gue serius. Sekarang bulenya di rumah.."

"What! Tunggu dulu. Bule?" Clara mengangguk. "Kyaaaa... Lo punya bokap bule Ra, dan lo nggak excited sama sekali?"

Clara menggeleng, "nggak ada gunanya juga buat gue.."

"Ya ampun Ra. Itu bule lho. Lo nggak mau apa bayangin ehem ehemnya dia.."

Clara melirik Alin yang begitu antusian membicarakan calon daddynya.

Sedikit info, Alin punya otak yang sudah terkontaminasi S3x. Bahkan Alin sudah tak perawan lagi. Kata Alin sih, itu biasa. Dan dia juga selalu bilang melakukan hubungan intim itu menyenangkan.

Gila memang.

Alin tak ada duanya.

"Kapan terakhir lo 'iya iya' sama pacar lo?" tanya Clara santai.

Alin nampak berpikir, "Dua hari yang lalu. Gue lagi kepengen. Awalnya Rey nggak mau karena baru pulang kerja, tapi sebodo amat sama gue.. Gue kulum aja, on lagi dia.. Ya udah akhirnta kita saling goyang."

Benar kan apa yang Clara katakan tadi. Alin punya otak kotor yang tak bisa diobati lagi. Dan semua itu terjadi karena ketagihannya Alin pada video p*rno.

Clara menepuk jidat Alin, "otak lo Lin. Punya kaca nggak di rumah." ucap Clara.

"Ih! Apaan sih. Apa hubungannya coba dengan kaca.."

"Biar lo ngaca. Pikirin diri lo, jangan indehoy mulu.."

"Yeeee..terserah gue dong.."

Clara hanya geleng-geleng kepala dengan kekeras kepalaan Alin.

Clara berjalan lebih dulu tanpa mau menunggui Clara.

"Awas aja lo ngerasain, gue jamin bakalan nagih lo!"

"Gila!" umpat Clara.

Ia berlari masuk ke ruang dosen. Hari ini ia ingin kembali menemui buk Klaudia. Ia ingin membicarakan Tentang beasiswa yang ingin ia dapatkan.

Dan ia berharap hari ini ada titik terang. Pasalnya sudah dua bulan yang lalu ia mengajukan keinginan untuk masuk. Bahkan ia sudah mengikuti beberapa tes.

Tentu saja semuanya butuh perjuangan, dan Clara akan stress apa bila perjuangan tersebut tak ada hasil.

Clara mengetuk pintu ruangan Buk Klaudia. Beruntung dosen yang ia cari ada di ruangannya.

"Oh Clara? Masuk Ra..!" perintah Klaudia.

Clara mengangguk ,lalu melanglah masuk. Tak lupa ia kembali menutup pintu.

Clara memperhatikan dosennya tersebut.

Gila! Ini dosen mau ngajar apa bercinta? Seksi banget, Ucap Clara dalam hatinya.

Clara memperhatikan pakaian sang dosen. Walaupun bagian atas, Klaudia mengenakan blazzer. Namun tetap tak bisa menutupi keberasan dadanya.

Apalagi kemeja yang Klaudia kenakan begitu sangat ketat.

Haahh, dosen ini meresahkan. Batin Clara.

"Saya mau tanyakan soal beasiswa itu buk." Ucap Clara tanpa basa-basi.

"Oh iya. Ibuk sudah coba hubungi kenalan ibuk di salah satu Universitas di Amerika. Katanya ada beberapa yang saat ini sedang membuka kesempatan beasiswa untuk orang asing. Kalau kamu mau, kamu bisa ibuk rekomendasikan. Siapa tahu ada kesempatan buat kamu. Ya tentu saja masih dengan tahap ujian."

Mendengar penjelasan buk Klaudia, Clara langsung antusias.

"Iya buk. Nggak apa-apa. Saya akan belajar sungguh-sungguh." Seru Clara penuh semangat.

Ia mengepalkan tangannya sembari berteriak semangat dalam hatinya. Ia harap ini akan menjadi langkah awal.

*****

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Dan urusan Clara pun juga sudah selesai. Namun ia tak ingin pulang. Karena jika ia pulang, sudah bisa dipastikan ia akan dipaksa untuk fitting baju.

Clara berjalan ke parkiran. Ia akan memesan taksi online untuk membawanya ke tempat tujuan yang ingin ia tuju. Yang penting tidak pulang ke rumah.

Saat berjalan menuju parkiran, langkah Clara tiba-tiba terhenti. Ia terkejut karena ada yang merebut ponselnya secara tiba-tiba.

Dengan kesal, Clara melirik ke depan, dan betapa terkejutnya Clara saat yang ia lihat adalah Guntur, mahasiswa paling kece di jurusannya dan tentu saja manusia yang paling Clara benci. Pasalnya Guntur adalah mantan kekasihnya yang sudah menghancurkam hatinya.

Pria sialan di depannya ini pernah menyelingkuhinya berkali-kali dan selalu selesai dengan minta maaf.

"Ngapain lo?" tanya Clara tiba-tiba jutek.

"Sayang, jangan..."

"Sayang sayang, apaan sayang. Bacot lo! Minggir..!" Clara mendorong tubuh Guntur untuk menjauh darinya.

Namun ibarat seperti maknet, Didorong tetap balik kembali. Seperti itu juga Guntur. Pria itu kembali mendekati Clara.

"Sayang, kamu salah paham. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Nana."

"Hah! Nggak ada urusannya sama gue. Minggir lo!"

"Sayang.."

"Minggir gue bilang! Minggir!" Clara yang kembali mencoba mendorong tubuh Guntur, justru membuat Guntur memeluk pinggang nya erat. "Eh brengsek! Ngapain lo!" teriak Clara kesal.

"Maafin aku, aku lepasin kamu.."

Clara mencoba terus berontak, namun Guntur justru semakin mengeratkan pelukannya membuat tubuh Clara kesakitan.

"Badan gue sakit sialan! Lepasin!"

"Maafin aku dulu sayang.!"

"Gila gue kalau masih maafin lo!"

"Cla.."

"Minggir..!!!"

"Clara aku mohon.."

"Mau lo berlutut gue nggak bakalan maafin.."

Aawwww..

Guntur kembali mengeratkan pelukannya. Membuat Clara semakin kesakitan.

"Clara, saya sudah tunggu kamu di mobil, tapi kamu pacaran di sini?"

Suasana mendadak sunyi...

*****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED