Apa kalian juga pernah mempunyai cinta pertama? Ya aku mempunyai cinta pertama dimasa kecilku.
Namanya Bayu,dia adalah tetangga lamaku,kami kemana-mana selalu berdua, perasaan cinta itu mulai datang dengan sendirinya.
Tapi hatiku sedih ketika Bayu dan keluarganya harus pindah keluar kota karena bisnis keluarga.
Saat Bayu pindah,rasanya separuh hatiku juga ikut pindah,aku merindukan Bayu yang setiap hari selalu ada disampingku,namun sekarang Bayu sudah pergi, meninggalkan aku dengan kenangan yang mungkin tidak akan aku lupa seumur hidupku.
"Apa kamu masih memikirkan tentang cinta pertamamu itu?" Vanes yang sedari tadi duduk disampingku mungkin sudah bosan mendengar ceritaku tentang Bayu.
Vanes lantas berdiri dari tempat duduknya dan mulai melihat keluar jendela kamarku.
"Tentu saja, karena cinta pertama itu tidak mudah dilupakan!" Aku juga ikut melihat keluar jendela seperti yang dilakukan Vanes.
Diluar tampak adikku dan adiknya Vanes tengah bermain bola bersama dengan beberapa orang temannya.
"Anak anak itu,kenapa harus main ditengah jalan?" Omel Vanes.
" Namanya juga anak anak, sekarang ayo cerita,siapa cinta pertamamu?" Tanyaku pada Vanes.
"Tidak ada,aku tidak pernah jatuh cinta,kamu tahu sendirikan banyak lelaki yang mengejar ku,jadi aku rasa cinta pertama ku tidak ada!"
Ya,Vanes memang wanita cantik dan pandai bersosialisasi,semua lelaki menyukai dia dan juga hampir semua lelaki di lingkungan kami patah hati dibuatnya, karena Vanes menolak cinta mereka.
"Aku akan pergi ke pesta malam ini,apa kamu mau ikut?"
"Kali ini dengan siapa?" Aku melipat kedua tangaku ke dada.
"Arya!"
"Sekarang Arya, Minggu lalu Deni,Bulan lalu Galih dan bulan bulan lalunya..!" Vanes menutup mulutku dengan kedua tangannya, mungkin dia kesal padaku karena aku mengungkit semua mantan pacarnya.
"Jangan keras keras.Nanti mamaku tahu!" Vanes menempelkan telunjuknya ke bibir ku.
"Baiklah aku akan diam sekarang!" Aku mengangkat kedua tanganku.
"Bagus,malam ini aku pergi jam delapan, pulangnya aku belum tahu,aku akan tidur disini malam ini!"
Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkah Vanes yang selalu suka seenaknya,dia akan pamit pada orangtuanya untuk tidur dirumah ku,tapi nyatanya dia akan berpesta semalaman dan pulang kalau sudah mau pagi.
"Kapan kamu akan merubah kebiasaan burukmu itu Vanes? Tidak bisakah kamu diam dirumah saja,aku sudah lelah harus berbohong pada orang tuamu!" Keluhku.
"Jangan begitu, kalau bukan kamu lalu siapa lagi yang akan membantuku,kamu kan sahabat terbaikku Raisa!" Vanes mencubit kedua pipiku.
"Terserah kamu saja!"
Aku kembali merapikan novel novel yang tadi aku baca bersama dengan Vanes.
Aku memang menyukai novel novel apalagi novel novel dengan kisah cinta yang romantis,aku membayangkan kalau nantinya aku akan mendapatkan seorang lelaki yang tampan dan mencintai aku seperti kisah cinta di novel yang aku baca.
"Raisa,Vane. apa kalian masih lama di kamar,mamamu mau pulang ini !" Teriak ibuku dari luar.
"Iya Tante!"
"Sebaiknya kamu pulang sekarang,mamamu juga sudah mau pulang!"
"Baiklah,jangan lupa malam ini,oke!" Vanes mengacungkan jempolnya padaku sebelum dia membuka pintu kamarku.
Sementara itu aku juga ingin keluar, tapi sebelumnya aku menyimpan dulu novelku,biar tidak ditemukan oleh Raka adik lelakiku yang sekarang sudah memasuki masa puber.
Setelah memastikan semua novel novelku disimpan dengan baik,aku langsung keluar kamar.
"Apa yang kalian bicarakan di kamar? sampai sampai kalian tidak keluar sama sekali!" Ujar mamanya Vanes saat sudah melihat aku keluar kamar.
"Biasalah ma,anak perempuan!"
Mama Vanes mendekus kesal mendengar jawaban Vanes, sementara aku dan ibu hanya tersenyum saja.
"Ayo kita pulang,mama belum masak, panggil juga adikmu Vanes,hari hari main terus, sampai lupa waktu!" Omel mama Vanes sambil membuka pintu rumahku.
"Iya ma!"
"Apa bajunya mau di pasang Payet yang tadi jeng? " Tanya ibu pada mamanya Vanes sebelum dia benar benar pergi.
"Tidak usah jeng,nanti biayanya makin bertambah, kamu kalau minta upah sangat mahal,aku maklum sih, karena lakukan seorang janda, jadi seperti yang kita sepakati tadi saja!"
Ada sedikit rasa kesal di hatiku saat mendengar ucapan mama Vanes yang selalu seenaknya, tanpa mempedulikan perasaan orang lain.
Ibuku memang tukang jahit dan membuka toko baju di depan rumah kami,bukan sekali atau dua kali mama Vanes bicara seperti itu.
Ayahku sudah lama meninggal dunia, karena mengalami kecelakaan.
"Baiklah, seperti yang kita sepakati tadi jeng!" Jawab mama dengan senyuman yang dipaksakan.
"Ya,ayo Vanes kita pulang!" Ajak mamanya.
Vanes malah tersenyum padaku,aku tahu arti senyumnya itu.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan saja.
Setelah kepergian Vanes dan mamanya,Ibu kembali menjahit baju yang dipesan oleh para konsumennya.
"Raisa jemput adikmu,kenapa dia belum pulang?" Ibu berkata sambil menggunting kain kain yang akan dijadikan baju.
"Iya Bu!"
Bugh!
Aku yang baru keluar dari rumah mendengar suara yang sangat keras,aku lantas melihat kearah suara keras itu dan ternyata,adikku dan adiknya Vanes telah merusak kaca spion mobil yang terparkir di depan jalan.
Aku sangat kaget, ditambah lagi pemilik mobil tersebut mendatangi adikku,aku harus menyelesaikan masalah ini sendiri,jangan sampai ibuku tahu akan hal ini.
"Apa yang kalian Lakukan? Ya ampun bagaimana bisa seperti ini? Dasar bocah nakal!" Seorang lelaki marah marah pada Raka.
Raka diam saja saat dimarahi oleh lelaki tersebut, sementara Vino adiknya Vanes sudah lari karena takut.
" Bapak jangan marah marah dulu pak? Semua bisa diselesaikan baik baik,Adik saya mungkin tidak sengaja melakukannya!" Aku segera memegang tangan Raka.
Raka bersembunyi dibalik punggungku ,aku tidak terima adikku di marahi oleh orang lain.
"Bicara baik baik katamu? Apa kamu tidak lihat ini?" Lelaki itu menunjukkan kaca spion yang sudah rusak.
"Bukan aku kak,Vino tadi yang menendang bolanya ke mobil ini!" Jelas Raka yang masih berada di belakangku.
"Kakak tahu, kamu tenang saja!" Aku mencoba membuat Raka tenang.
"Sudah lihat kan?"
Aku hanya mengangguk.
"Kalian tidak mungkin bisa menggantinya,lihat saja penampilan kalian!" Lelaki itu malah menghina aku dan adikku.
"Memangnya berapa? Sebutkan harganya,biar saya bayar!" Kesal ku.
Jangan kira kami orang miskin jadi bisa seenaknya dihina seperti ini,tentu saja aku tidak terima.
"Kak,kita dapat uang darimana? Mobilnya Sangat bagus,pasti harganya sangat mahal!" Bisik Raka padaku.
Aku memegang tangan Raka, karena aku juga tidak punya uang, tapi mau bagaimana lagi,aku sudah terlanjur mengatakan untuk menganti rugi.
"Sepuluh juta!" Seorang lelaki tampan tiba tiba datang dan mengatakan biaya yang harus aku keluarkan untuk sebuah kaca spion mobil
"Sepuluh juta?" Aku dan Raka saling pandang mendengar ucapan lelaki tersebut.
"Bos!" Lelaki tua yang mengomel tadi langsung memanggil nya dengan sebutan bos,jadi mobil ini milik pemuda ini yang usianya mungkin sama denganku.
"Kalau mereka tidak mau bayar tuntut saja!" Perintahnya.
"Enak saja main tuntut-tuntut, kamu jangan membohongi saya ya?" Tentu saja aku tidak terima.
"Kalau kamu tidak mau dituntut makanya bayar!" Ucap pemuda tersebut yang memakai kacamatanya.
Lagaknya Sangat sombong dan aku sangat membencinya sekarang.
" Bukan aku yang merusaknya,tapi Vino, temanku yang sudah lari kerumahnya!" Raka mencoba membela diri lagi.
"Aku tidak peduli yang jelas kalian yang disini,jadi kalian yang harus bayar!" Ucapnya angkuh.
"Gila kamu ya!" Aku sungguh kesal sekarang.
"Iya, karena kamu!" Ucapnya sekali lagi.
"Jangan merayu kamu ya!"
"Terserah kamu,pak Mul ayo kita pergi,tapi sebelum itu tolong berikan kartu namaku pada wanita ini supaya dia bisa membayar uangnya padaku!"
"Baik bos!"
Lelaki yang dipanggil pak Mul itu mengeluarkan kartu nama dan memberikanya padaku.
"Raihan kompeni!" Aku membaca kartu nama yang diberikan oleh pak Mul.
"Jangan lupa bayar besok jam sebelas siang,aku tidak suka menunggu lama!" Ujarnya lagi sebelum masuk kedalam mobilnya.
"Ini namanya pemerasan, hei!" Aku berusaha mengejarnya, tapi sayang mobilnya sudah jauh.
"Sial!" Umpat ku.
"Bagaimana ini kak? Darimana kita dapat uang sepuluh juta itu kak?" Raka tampak panik.
"Kamu tenang saja ya sayang,biar kakak yang urus semuanya,kamu jangan khawatir, sekarang ayo kita pulang,Ibu sudah menunggu!"
Raka hanya mengiyakan ucapku, kamipun berjalan kerumah dengan perasaan tidak menentu.
"Jangan bilang bilang sama Ibu ya dek,kakak tidak mau ibu kepikiran!" Pesan ku pada Raka sebelum kami masuk kedalam rumah.
"Tapi kak,bukan Raka yang salah, semuanya ulah Vino, kenapa kita tidak minta Vino buat ganti rugi juga?"
"Kamu tahu sendirikan bagaimana mamanya Vino itu?" Aku mengingatkan Raka tentang mamanya Vino yang sangat garang.
Raka mengangguk membenarkan ucapanku,mama Vino memang garang dan tidak mau disalahkan kalau Aku mengatakan hal ini padanya, yang ada dia malah marah-marah nantinya dan orang yang akan disalahkannya adalah Ibu.
Raihan sendiri tersenyum didalam mobilnya, karena dia sangat Senang sekarang.
"Kenapa bos tersenyum sendiri?"tanya pak Mul sambil menyetir mobil.
"Lucu,dia sangat lucu!" Sekali lagi Raihan tersenyum sendiri sambil melihat keluar jendela.
"Maksud anda siapa?" Tanya pak Mul lagi .
"Konsentrasi saja menyetirnya, jangan sampai kita menabrak!" Pesan Raihan pada Mul.
Pak Mul tidak mau bertanya lagi, karena dia tahu kalau bosnya tersebut tidak mau ditanya tanya.
Mobil Raihan sudah sampai di kantornya, gedung yang sangat tinggi dan megah itu adalah perusahaan milik keluargnya .
Raihan keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki gedung tersebut,semua orang hormat padanya, karena mereka tahu kalau Raihan adalah pemilik perusahaan tersebut sekaligus bos mereka.
Raihan masih saja tersenyum membayangkan wajah Kesal Raisa yang sangat lucu menurutnya.
"Hei bos,kamu darimana saja?" Sapa salah satu karyawan Raihan datang sambil membawa beberapa berkas untuk Raihan.
"Aku tadi sedang mengecek tanah yang akan kita gunakan untuk membuka proyek baru,kamu darimana saja Bayu?"
Ternyata lelaki yang menyapa Raihan tersebut adalah Bayu, cinta pertama Raisa.
Bayu duduk didepan Raihan sambil memberikan berkas yang ada ditangannya ke Raihan.
"Tanda tangani itu,aku sedari tadi sangat sibuk mencari kamu hanya untuk meminta tanda tangamu!" Kesal Bayu.
"Kenapa tidak kamu saja menanda tangani nya? Tanda tangamu atau tanda tangan ku,sama saja"
"Jangan bercanda Raihan,aku disini cuman karyawan kamu,mana mungkin aku melakukan hal itu!"
"Tapi kamu juga penanaman saham disini Bayu,kamu memang selalu merendah!" Raihan mengambil berkas berkas yang tadi diberikan Bayu kemudian menandatangani nya.
Raihan dan Bayu memang sudah lama berteman, mereka berdua sama sama lulus dari universitas ternama di Indonesia.
"Kamu tahu Bayu,tadi aku bertemu dengan seorang wanita yang sangat lucu,aku masih mengingat bagaimana ekspresi nya yang sangat kesal!" Raihan kembali tersenyum.
"Baiklah bos,jadi bos kita sekarang ini sudah tertarik dengan yang namanya wanita?" goda Bayu sambil mengambil berkas berkas yang sudah ditandatangani Raihan.
"Tidak juga,hanya saja aku merasa dia sangat lucu, besok dia akan datang kesini dan lihat saja sendiri!"
"Baiklah aku akan lihat, sekarang aku mau kerja dulu!"
Bayu berlalu dari hadapan Raihan yang masih membayangkan wajah Raisa yang lucu menurutnya.
Raisa duduk ditepi ranjangnya sambil berpikir bagaimana caranya dia mendapatkan uang sepuluh juta semalam untuk membayar ganti rugi.
Drrrt!
Raisa tersentak saat mendengar suara ponselnya yang ada diatas nakas,Raisa lantas mengambil ponselnya dan mulai berbicara dengan orang ditelpon.
(Raisa,kamu belum tidurkan? Aku akan kerumahmu sekarang!) Suara Vanes diseberang.
(Ya) hanya itu yang dikatakan oleh Raisa karena dia juga sedang pusing sekarang.
(Baiklah aku akan kesana sekarang,kamu jangan tidur!) Vanes mematikan sambungan teleponnya.
Raisa kembali menaruh ponselnya di nakas,dia sangat kesal sekarang karena Vanes memang suka seenaknya.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan, seharusnya Raisa sudah bersiap siap untuk tidur,tapi dia masih harus menunggu kedatangan Vanes.
"Raisa ada Vanes!" Teriak ibu Raisa.
"Iya Bu!" Raisa segera keluar dari kamarnya untuk menemui Vanes yang sudah ada di ruang tamu.
Lagi lagi Vanes memakai jaket tebal untuk menutupi penampilannya.
"Saya akan tidur disini malam ini Tante, bolehkan?" Vanes bersikap sangat manis .
"Boleh,tapi kalian berdua jangan tidur larut ya,Tante mau tidur dulu!" Ibu Raisa masuk kedalam kamarnya setelah mengizinkan Vanes menginap dirumahnya.
Vanes langsung menggandeng tangan Raisa dan mengajaknya masuk kedalam kamar Raisa.
Setelah masuk kedalam kamar Raisa,Vanes lantas membuka jaketnya dan mengeluarkan tas yang berisi alat make-up dan juga gaun seksinya.
"Apa kamu akan memakai baju ini?" Raisa memegang baju Vanes yang sangat kurang bahan.
"Iya, cantikan?" Vanes berbicara sambil merias wajahnya.
"Vanes ini bukan baju manusia,lebih tepatnya ini baju untuk kucing,ini kecil kali,mana muat sama kamu!" Raisa melemparkan baju tersebut ke Vanes,dia geli sendiri saat memegangnya.
"Enak saja,ini lagi trend tau! Kamu sendiri yang nggak gaul maka nya nggak tahu mana yang lagi hist sekarang!" Ujar Vanes yang mengambil baju tersebut.
"Terserah kamulah Vanes!" Raisa duduk di ranjang nya, sambil memperhatikan Vanes yang berdandan.
Raisa sangat ingin mengatakan pada Vanes tentang kejadian tadi sore,tapi sepertinya Vanes tidak akan peduli dan malah menyalahkan adiknya.
"Apa aku sudah cantik?" Vanes memamerkan riasan wajah nya pada Raisa.
"Cantik!" Hanya itu yang dikatakan oleh Raisa, karena memang Vanes sudah cantik,mau di makeup seperti apapun dia tetap cantik.
"Benarkah? Tapi sepertinya lipstikku masih kurang merah!" Vanes kembali memakai lipstiknya." Nah,ini baru sempurna!" Vanes menatap dirinya di cermin Raisa.
"Sekarang aku akan memakai baju ini!" Vanes segera memakai baju yang kurang bahan tersebut dan memperlihatkan belahan dadanya.
"Apa kamu tidak akan masuk angin Vanes? Baju ini sangat terbuka!" Lagi lagi Raisa berkomentar.
"Tidak masalah, yang penting aku cantik!" Ucap Vanes lagi.
Vanes langsung mengambil sepatunya dan memakainya,Raisa hanya mengembuskan napas saat melihat tingkah Vanes.
Vanes mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya,pacarnya sudah menunggu di luar
"Aku akan pergi sekarang Raisa,kamu jangan bilang bilang ibumu ya!" Vanes segera berlalu dari hadapan Raisa.
Raisa hanya diam saja dan melihat Vanes dari luar jendela kamarnya.
"Semudah itu kamu mendapatkan cinta Vanes, semoga kali ini kamu tidak ketahuan!" Ujar Raisa sambil memungut semua barang Vanes yang berserakan di lantai.
Vanes sudah ada di tempat pesta bersama dengan pacarnya, seperti biasa mereka akan menari dan minum minum.
"Ayo kesini sayang,kita berpesta!" Arya menuntun Vanes untuk menari dilantai dansa.
Vanes mengiyakan ucapan Arya pacar barunya, mereka menari bersama dengan teman teman yang lainnya.
Banyak dari mereka yang sudah teler karena minuman keras yang ditenguknya.
"Sayang,aku mau ketoilet dulu ya!" Vanes pamit pada pacarnya.
"Ya,aku tunggu kamu disini sayang!" Ucap Arya sambil mencium pipi Vanes.
Vanes berlalu ketoilet,saat di sudah masuk kedalam toilet dan melepaskan hajatnya untuk buang air kecil,tidak sengaja Vanes mendengar percakapan dua orang wanita diluar yang sepertinya sedang mencuci tangan.
"Kamu tahu Arya? Cowok dengan motor besarnya itu?" Ucap salah satu gadis tersebut.
Vanes menempelkan telinganya ke pintu toilet, untuk mendengar lebih jelas percakapan mereka, karena mereka menyebut nama Arya yang sekarang sudah menjadi pacarnya.
"Cowok yang tadi itukan?"
"Iya,kamu tahu dia mengajakku kencan,katanya dia ingin mengenalku lebih jauh!"
'' bukannya dia sudah punya pacar ya? Tadi dia datang bersama dengan pacarnya?"
"Si Vanes maksud kamu?"
"Iya,bukankah Arya pacaran dengan Vanes?"
"Arya hanya main main dengan wanita murahan itu, iya kali Seorang Arya mau dengan wanita seperti Vanes,Arya cuman ingin memamerkan pada semua teman temannya kalau dia juga bisa mendapatkan Vanes yang terkenal dikalangan cowok,dia itu wanita bodoh yang gampang di manfaatkan!" Mereka membicarakan Vanes sambil tertawa,tanpa mereka sadari Vanes sedari tadi mendengar ucapan mereka.
Vanes keluar dari toilet dan menghampiri mereka berdua yang sedang asyik tertawa.
"Pasti kalian sangat suka bergosip ya? Dasar kampungan!" Ucap Vanes sambil mencuci tangannya dan memberikan percikan air ke wajah kedua wanita yang menyebalkan itu.
"Aww,jorok banget sih?" Mereka tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Vanes.
Vanes tidak peduli dengan mereka, sekarang dia ingin membuat perhitungan dengan Arya.
Setelah menemui Arya,Vanes langsung menyiramkan air ke kepala Arya.
"Hei apa yang kamu lakukan?" Arya sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Vanes padanya.
"Kita putus!" Ucap Vanes lantang sambil mengambil tasnya.
"Sayang,sayang tunggu dulu,ada masalah apa? Kenapa tiba tiba kamu minta putus? Tolong jelaskan dulu penyebabnya!" Arya menarik tangan Vanes dan meminta penjelasan.
"Lepaskan, tidak ada alasan untuk kita putus,jadi sekarang biarkan aku pergi!" Ucap Vanes
"Kamu pikir kamu wanita hebat apa? Kamu itu cuman wanita murahan yang gampang untuk didapatkan,aku sudah menang taruhan karena bisa mendapatkan kamu,ya walaupun hanya beberapa hari!" Arya merasa bangga karena telah bisa mendapatkan Vanes, ternyata dia mendekati Vanes dan menjadi pacarnya hanya untuk taruhan, sekarang dia sudah menang taruhan tersebut.
Plakk!
Vanes menampakkan wajah Arya karena dia sangat kesal dengan Arya sekarang,bisa bisanya dia dijadikan bahan taruhan.
"Dasar kurang ajar!" Umpat Vanes sebelum benar benar keluar dari bar tersebut.
"Seribu wanita gampangan seperti kamu bisa kudapatkan Vanes,kamu itu tidak pantas dicintai,kamu hanya wanita murahan yang bisa dinikmati oleh semua lelaki!" Teriak Arya.
Vanes berjalan sambil menutup kupingnya,dia sudah tidak mau lagi mendengar ocehan Arya yang tidak ada gunanya.
Sesampainya diluar bar,Vanes berteriak sambil mendendang tong sampah yang ada didepannya,dia sangat kesal sekarang.
Vanes langsung menghentikan Taksi ,dia ingin pulang sekarang.
Taksi yang ditumpangi Vanes sudah sampai di depan rumah Raisa,Vanes buru buru masuk kedalam rumah Raisa, karena dia mempunyai kunci cadangan yang diberikan Raisa
Vanes masuk kedalam kamar Raisa setelah melemparkan tasnya kesembarang arah, Vanes langsung memeluk tubuh Raisa yang masih membaca novel.
Tentu saja Raisa kaget dengan apa yang dilakukan oleh Vanes sekarang.