Bab 1

"Aduhhh paaakkk aku sampiiiii…!’ jeritan terdengar bercampur lenguhan dari seorang perempuan muda, sambil jongkok di atas kasur empuk.

Di belakangnya, terlihat seorang pria tampan yang terus memompa tiada henti, bahkan makin kencang.

“Arghhh aku jugaaaa…!” tubuh pria ini mengejang sesaat, lalu dia pun puas, air kenikmatannya sudah sukses bikin banjir perabotan perempuan ini.

“Aduhhh paakk, kok di dalam sih, janjinya kan di luarrrr!” si perempuan ini protes, sambil buru-buru ke toilet dan kuras air kental yang banjiri alat kencingnya.

Pria ini hanya tertawa kecil dan bilang terlanjur enak, lupa mencabut.

Perempuan ini pun keluar lagi dari toilet. Wajahnya masih bersungut-sungut. Kesal bukan main!

“Janji ya pa, nilai aku A plus, masa udah satu setengah jam lebih ngelayani tongkat bapak yang keras dan gede kayak tingkat bisbol, hanya di kasih A biasa!” rajuk manja seorang gadis cantik.

“Tentu donk cynnn, tapi ingat, sering-seringlah baca, jangan nge-dugem mulu, masa nama presiden Indonesia ke dua saja kamu nggak tahu. Tahunya ukuran vital laki-laki aje,” sungut si pria ini sambil mencubit pantat bohay si gadis cantik ini.

“Hiks-hikss…abisnya enak sihhh…tapi suer deh, baru sama bapak aku sampai klenger, kuat banget see, minum obat kuat yaa? Mana ukuran guedeee lagi, pasti mijat ke Mak Erot,” olok si cewek ini sambil berpakaian dan bersiap keluar dari apartemen ini.

Pria ini pun hanya mesem saja tak menyahut olokan si gadis ini. Si gadis ini salah satu mahasiswinya, tapi otaknya kosong, karena malas baca dan akibat keseringan dugem. Tapi maunya minta nilai tinggi mulu.

Namun sang dosennya ini sama bobroknya, boleh-boleh saja nilai tinggi, tapi harus rela di tidurin sang dosen koplak ini.

Untung saja wajah sang dosen ganteng dan masih muda. Andai tua dan jelek bau lagi, mungkin si perempuan ini ogah banget bobok bareng.

Si dosen koplaknya ini suka berpenampilan dandy dan nilai plusnya lagi, selain wangi dan berbadan bagus, juga punya perabotan yang bikin si mahasiswi ini merem melek keenakan.

Tentu saja dua nilai plus dia dapatkan, kenikmatan dan nilai IPK yang tinggi!

“Ih jalannya jangan gitu juga kaleee…yang biasa aja!” tegur pria ini, si mahasiswi ini pun tertawa lagi.

“Abisnya punya bapak masih berasa nih, pak kalau aku pingin lagi, boleh yaa kapan-kapan…wkwkw!” dan si gadis inipun lalu buru-buru ngilang di balik pintu, masih terdengar derai tawanya.

“Beyesssss…bisa di aturrr!” sahutnya si dosen koplak ini tertawa, lalu ruangan ini pun sunyi.

“Dasar, ingin label sarjana agar mudah naklukan pria berdokat tebal, mau-maunya gue kerjain!” sungut si dosen koplak ini.

Baru saja si dia duduk sambil menikmati kopi panas dengan niat beristirahat, bel kamar apartemennya berbunyi.

Ning nong…ning nong…ning nong! Sampai 3X beli itu berbunyi.

Si dosen inipun mengintip lewat lubang pintu, dia merasa aneh, karena yang datang seorang wanita muda.

“Aneh, perasaan setelah dengan si denok otak kosong. Aku ngga ada janji dengan mahasiswi lain buat kencan…siapa dia ini!” batinnnya, lalu membuka pintu apartemennya.

“Ini apartemen Dosen Bonang kan, kenalkan aku Patricia dan ini anakku namanya Rio.”

“Iya benar aku dosen Bonang, sebentar, kamu siapa? Kok tahu namaku dan bawa-bawa anak kecil lagi. Aku nggak pernah kencan dengan wanita yang punya anak.”

Sungut si dosen ini menampakan wajah kaget dan terheran-heran.

Walaupun dalam hati dia memuji juga, biarpun bertubuh agak mungil, wanita ini sangat cantik dan berkulit putih mulus.

“Mama, ini ya kakeknya Rio? Ganteng sih, tapi matanya kok jelatatan begitu lihat mama. Kan mama anaknya!”

Tiba-tiba si anak kecil ini nyolot dan diapun nyelonong saja masuk ke dalam apartemen si dosen Bonang, diikuti Patricia.

Si dosen Bonang lalu buru-buru bersikap wibawa, hilang seketika sikap cengengesannya kalau lihat yang bening-bening.

“Hmm…apa-apaan ini, kalian siapa hahh…kakek-kakek, emangnya aku udah aki-aki, usiaku baru 32 tahun tahu…! Dan tak pernah menikah. Kapan aku punya anak dan cucu, ngelawak loe yaa” Dosen Bonang bicara agak tegas kali ini, benar-benar bikin dia terlongong saking kagetnya.

Tapi bukannya takut si bocil ini malah menahan tawa.

“Betul, papa belum menikah dan aku juga tak bohong, aku adalah anaknya papa dan Rio ini cucu papa, aku anak hasi percintaan papa dengan mama!” Patricia kini duduk sambil menatap wajah Bonang.

“Hey Patricia, siapa nama mama kamu, jangan ngomong sembarangan yaa!” Bonang ingin tertawa tapi sekaligus marah juga.

Tiba-tiba ada gadis yang ia taksir paling berusia 18 tahunan bernama Patricia ini ngaku-ngaku anaknya dan si bocil Rio ini cucunya, ini sangat menggelikan baginya.

Kapan dia gauli ibu si gadis muda ini, kenapa pula si gadis ini bisa hamil di usia muda punya anak bernama Rio ini.

“Mamaku namanya Mona, dari Desa Ciberum, dia mantan kekasih papa, saat masih sama-sama abege. Kalian pacaran bablas, akhirnya hamil dan lahirlah aku ini!”

“Waduhhh….Mona, Desa Ciberum di mana itu, aku dah lupa.” Bonang garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Kakek jangan pura-pura lupa deh, pokoknya kakek harus terima mama dan aku, nggak boleh tidak, titik!” si bocil Rio lagi-lagi nyolot.

“Heeeh bocil, jangan ngomong sembarangan yaa, aku memang lupa, yang mana wanita bernama Mona yang jadi nenek kamu itu, di mana si nenek kamu itu sekarang? Kenapa dia tak ikut?” desak Bonang penasaran.

“Mama sudah meninggal 1 tahun yang lalu, sebelum meninggal mama bilang agar aku cari papa di Jakarta, dan aku sampai 2 bulan baru nemu kampus di mana papa ngajar jadi dosen dan alamat papa ini.”

“Anjrittt…kok bisa jadi gini yaa…?” Bonang mati kutu, tapi dia benar-benar lupa, siapa Mona itu.

“Mana foto mama kamu, kalau bohong ku laporin ke polisi kamu ini, dengan tuduhan nipu dan pencemaran nama baik!”

Bukannya takut, wanita ini lalu bongkar tasnya dan memperlihatkan foto seorang wanita cantik berambut sebahu, tak jauh beda dengan wajah Patricia saat ini.

Yang bikin Bonang melongo, di samping foto itu, ada seorang remaja pria dan itu adalah…dirinya.

**

Lanjut ya ke bagian 2..!

Bab 2

Bonang serba salah, ingin mengusir dia tak tega, kalau-kalau Patricia ini benaran anaknya, dan si Rio ini cucunya. Tapi masa iya…? Pikirnya masih sangsi, benar-benar bingung.

Tiba-tiba si bocil Rio nyelonong sudah masuk ke kamar pribadinya.

“Heeeh bocil, ini kamarku, jangan sembarangan masuk!” Bonang buru-buru mengusir Rio, sebab kamarnya masih berantakan setelah perang lokal dengan mahasiswinya tadi dan belum dia rapikan.

Bonang mengangkat tubuh kecil Rio. “Ingat ya, nggak boleh sembarangan masuk kamarku.”

Bonang sengaja pasang wajah marah, hingga Rio kaget dan terdiam dari tempatnya berdiri.

Bonang tentu saja tak ingin si bocil terlebih Patricai tahu, kalau kamar ini baru saja jadi ajang bercinta dengan mahasiswinya.

Apalagi air kenikmatannya masih membasahi kasurnya, usai bercinta tadi. Senakal-nakalnya Bonang, dia masih punya rasa malu yang tinggi.

“Huhhh kamar apa tempat sampah sih, berantakan sekali, kakek joroookkk” sungut si bocil, lalu melenggang cuek dari depan kamar ini.

“Kakek gundulmu!” balas Bonang tak mau kalah.

“Rambutku lebat weeeee,” si bocil juga tak mau kalah, hingga Bonang melotot.

“Rio, itu kamar kakek, nggak boleh sembarangan masuk, kita di sini saja,” Patricia menengahi, lalu masuk ke kamar satunya. Rio pun patuh dan mengangguk.

Begitu lampu kamar di nyalakan, Patricia geleng-geleng kepala, kamar ini mirip gudang, buku-buku berhamburan, bau apek lagi.

“Rio, ayo bantu mama kita bersihkan kamar ini!” tanpa buang waktu Patricia mulai sibuk rapi kamar ini, sekaligus lap lantai nya.

Mereka berdua tak pedulikan Bonang yang masuk ke kamarnya dengan kebingungan yang melanda batinnya.

Bonang yang masih syok dan tak percaya pengakuan Patricia.

Tapi membiarkan saja ulah anak beranak ini. Dia masuk ke kamarnya dan tak peduli aktivitas keduanya ini.

Bolak-balik dia di kasurnya sendiri, lalu Bonang duduk termenung di tepi ranjangnya. Di tangannya foto perempuan muda dan dirinya, hingga membuat dia ingat masalalu.

“Mona…kok bisa hamil yaa, padahal saat itu aku dan dia masih sama-sama muda, baru 14 tahun dan baru juga mau naik ke kelas 3 SMP.

Ingatan Bonang pun melayang ke tahun 18 tahun silam, kala dia masih kelas 2 berseragam biru putih. Dia punya dua sahabat yang sama koplaknya, Unir dan Boho.

Mereka bertiga terkenal anak badung, tapi bukan badung suka berkelahi. Tapi badungnya suka intipin orang pacaran, apalagi kalau ada yang baru menikah.

Ketiga sahabat ini akan sibuk atur siasat untuk mencari jalan ngintip malam pertama pasangan penganten itu.

Akibatnya mereka hapal sekali bagaimana lucunya pasangan penganten yang tak pengalaman, atau ada pasangan yang salah satunya janda atau duda.

Kadang mereka hampir tak bisa menahan tawa, saat mendengar percakapan pasangan penganten yang sama-sama tak pengalaman.

Seperti pasangan penganten yang saat ini mereka intip.

“Lubangnya mana neng, kok susah masuknya,” terdengar suara di penganten pria. Lalu si penganten pria ini ambil senter dan menyenter perabotan istrinya.

Terbelalaklah mata trio badung ini saat melihat perabotan wanita itu. Apalagi saat si penganten pria yang belum pengalaman ini masih menyenter sambil coba memasukan belalainya.

Napas ketiga remaja tanggung langsung berpacu dengan nafas penganten yang terus berusaha memasukan bendanya, tapi tak bisa masuk-masuk.

Saking konsentrasinya ngintip, Unir tak sengaja ke injak kaki Boho. “Aduhhh!”

“Heehh siapa itu?” si panganten pria kaget dan membentak.

“Miauwwww…kucingggggg!” terdengar Unir bersuara mirip kucing.

“Bangsat ada yang ngintip, awas ku penggal leher kalian!” bentak si penganten pria lagi, lalu dia bangkit dari tubuh istrinya dan bergegas keluar kamar, saking terburu-burunya dia lupa kalau masih telanjang bulat.

Trio badung ini pun lintang pukang kabur secepatnya.

Jauh di ujung desa, di sebuah pondok persawahan, dengan hanya di terangi bulan yang bersinar terang, trio badung ini sakit perut tertawa mengingat kejadian barusan.

“Huhh kamu ini Unir, andai tak kamu injak kakiku, pemandangan belah duren asoy banget kita tonton sampai kelar!” sungut Boho.

“Iya nih, si Unir ini, ganggu saja, kenapa sih kamu sampai injak kaki Boho,” Bonang ikut menyalahkan Unir.

“Habisnya aku tak tahan, gatal banget di gigit nyamuk!” Unir tak mau di salahkan.

Ketiganya akhirnya tertawa sepuasnya. Puas bercanda ria, mereka pun pulang ke rumah masing-masing dan di sebuah tikungan jalan desa, ketiganya berpisah. Karena rumah mereka tak berdekatan.

Begitulah, walaupun badung, Bonang, Unir dan Boho punya otak encer, mereka juga terkenal 3 sahabat yang gantian juara kelas.

Bonang jago bahasa Inggris, Unir jago matematika dan Boho jago sejarah, dia bahkan bercita-cita ingin jadi wakil rakyat.

Hingga suatu hari, menjadi hari paling di ingat Bonang.

Rumah ortu bersebelahan dengan rumah yang disewakan pemiliknya pada pasangan suami istri yang baru menikah.

Tapi wanitanya seorang janda tanpa anak, dan suaminya seorang sopir mobil kanvas sebuah perusahaan rokok.

Bonang dapat kabar, kalau si janda bertubuh semok ini jadi bini simpanan si Om Kanvas, begitu biasa Bonang memanggilnya.

Bonang tentu saja tak berani ngintip pasangan itu, walaupun Uhir dan Boho bilang sangat penasaran.

Bonang takut kenakalannya ketahuan ortunya.

Bonang paling takut dengan ayahnya, yang suka ringan tangan menghajarnya, kalau dia ketahuan nakal.

Walaupun aslinya, ayahnya sangat menyayanginya dan selalu memanjakan Bonang.

Semuanya berubah, saat ibunya minta Bonang antarkan kue buat si tetangga itu, adiknya sedang bermain, sehingga Bonang lah yang disuruh.

“Tok..tok!” Bonang mengetuk pelan pintu rumah yang terbuat dari beton ini. “Tunggu,” terdengar sahutan dari dalam rumah.

Pintu pun terbuka, Bonang melotot melihat si istri Om Kanvas ini hanya pake handukan. Dadanya yang besar seakan mau meledak di dalam lilitan handuk putih ini.

“Eeehh kamu Bonang, masuk, kamu bawa apa?” sapa wanita ini ramah dan mempersilahkan Bonang masuk.

“I-ini tante, ibu bikin kue, katanya buat tante!” sampai gagap Bonang menjawab.

“Ih baiknya ibu kamu, taruh ke dapur aja Nang, tante mau berganti baju dulu, tadi abis mandi!”

Bonang pun menahan air liurnya melihat kemontokan si tante ini, namun entah nasibnya lagi mujur atau apa.

Pintu kamar si tante ini malah terbuka, dan melotot lagilah Bonang melihat si tante ini terlihat melepas handuknya dan pantat bohaynya nampak jelas, walaupun ada lemak-lemaknya dikit.

Si tante ini berbalik dan dia kaget bukan main melihat Bonang mematung di depan kamarnya menatap dia.

“Waduhhh…kamu masih di sini.”

Dia pun dengan santai memasang handuk lagi, si tante ini malah tersenyum kecil melihat kelakuan Bonang, karena dia pikir Bonang ini masih anak-anak.

“Ma-maaf tante,” Bonang pun pulang tergesa-gesa, pemandangan aduhai ini membuat Bonang terngiang-ngiang.

Gara-gara itulah malamnya dia mimpi basah dan inilah masa aqil balig Bonang datang, masa peralihan dari anak-anak ke remaja tiba.

Tapi, sejak saat itu juga, Bonang jadi sering curi pandang pada si tante ini, yang tetap bersikap biasa-biasa saja padanya.

Hingga kejadian luar biasa bagi remaja tanggung ini terjadi…!

**

Lanjut ya ke bagian 3..!

Bab 3

Seminggu setelah kejadian itu, kedua orang tua dan adiknya pergi ke kota, untuk jenguk neneknya yang sakit, orang tua kandung ayahnya.

“Bonang, jaga rumah, pulang sekolah jangan main kemana-mana.” Ayahnya berpesan dan Bonang, tentu saja tak berani membantah.

Setelah itu, dengan berbonceng motor bertiga, ortu dan adiknya yang masih berusia 6 tahun pun berangkat ke kota.

Ortunya tak bilang berapa hari, tapi Bonang melihat mereka bawa tas, yang artinya akan nginap di rumah neneknya.

Ortu Bonang sempat melambai pada Om Kanvas yang hari ini datang kelonin istrinya.

Sekilas Bonang melihat pintu rumah itu di tutup, Bonang pun sudah bisa membayangkan pasti keduanya lepas kangen.

“Duhh sayang siang hari, kalau malam asoy kalee ngintip,” batin Bonang seorang sendiri di kamarnya, membayangkan ulah suami istri tersebut.

Bonang masih tak lupa kejadian beberapa hari yang lalu, saat melihat istri si Om Kanvas yang polos di depan hidungnya.

Rumah ortu Bonang dan rumah pasangan suami istri hanya berjarak 20 meteran. Terhalang lahan kosong yang di tanami pemiliknya dengan pohong pisang dan rambutan.

Jelang senja, Bonang melihat mobil si Om Kanvas jalan lagi, kedua suami istri itu terlihat saling peluk dan berciuman di teras.

Karena ini desa dan relatif sepi, keduanya tak sungkan saling mengecup di bibir, tapi si Bonang melihat jelas adegan itu.

Karena dia sedang berada di halaman perbaiki rantai sepeda mini beauty jadul-nya, yang sehari-hari dia gunakan untuk sekolah.

Tettt….si om kanvas menklakson saat lewat di depan rumah Bonang, Bonang pun membalas sambil melambai.

“Bonang mampir dulu?” Bonang yang bermaksud mau warung jalan kaki beli mie instan buat makan malam kaget, kala di panggil si tante ini saat lewat di depan rumahnya.

“Iya Tante Melly, ada apa?” Bonang pun mampir.

“Tolong gantikan bola lampu di kamar mandi tante iya, nih uangnya, belikan sekalian. Kan kamu mau ke warung ya?” tanya si Tante Melly, Bonang langsung mengangguk.

“Iya deh, ini uangnya!”

Bonang mengangguk sambil menerima uang selembar 50 ribuan.

Usai dari warung, Bonang langsung ke rumah Tante Melly dan ditunjukan bola lampu yang harus di ganti.

Tanpa kesulitan berarti, apalagi tubuh Bonang rada jangkung, walaupun belum genap 14 tahunan, cukup di bantu kursi, lampu pun sukses terpasang di kamar mandi ini.

Pikiran Bonang menjelajah lagi, saat melihat CD dan kutang si Tante Melly ini tergantung di balik pintu.

Mata Bonang liar dikit melihat-lihat.

“Aman si tante agaknya lagi di kamar,” pikir Bonang.

Bonang pelan-pelan menarik celana dalam itu dan menciumi. Aroma khas milik wanita pun tercium, bahkan seperti ada bercak mengering.

“Sudah selesai Nang…eh…hayoo ngapain, kenapa kamu cium CD tante, nakal banget sih kamu!” mata Tante Melly langsung melotot melihat kelakuan remaja tanggung ini.

Bonang pucat pias, tak mengira Tante Melly tiba-tiba masuk ke toilet dan memergoki ‘kinerja’ memalukannya.

“S-sudah t-tante…!” Bonang yang kepergok lalu buru-buru mau permisi.

“Eeits tunggu dulu….!” Bonang makin ketakutan, takut di marahi, juga takut kelakuannya di laporkan pada ortunya.

Apalagi Tante Melly yang supel ini selama ini sangat akrab dengan ibunya.

Tante Melly malah tersenyum manis.

“Nakal kamu yaa…minggu lalu lihat body tante, sekarang malah ciumin CD tante, kamu berapa sih usia, udah mimpi basah belum?” pancing si tante agak genit.

Tante Melly sengaja berdiri di depan pintu kamar mandi ini, hingga Bonang tak bisa keluar, tangannya gemetaran sambil pegang CD hitam milik Tante Melly ini.

“S-sudah basah…eh mimpi basah, b-bulan depan 14 t-tahun tante!” Bonang benar-benar tak berkutik.

“Hemm…udah dewasa donk, udah bisa bikin betelor perempuan!” Tante Melly tertawa kecil.

Tiba-tiba Bonang makin bak patung, saat Tante Melly tanpa di duga meremas perabotannya.

Bukan hanya meremas, bahkan membuka celananya sekali sentak. Celana pendeknya yang terbuat dari karet bagian pinggangnya langsung melorot sebatas lutut.

Sialnya, Bonang terbiasa tak pakai CD, akibatnya perabotannya yang mengkerut dan terlihat kecil terpampang jelas.

“Woww…kasian si dede mengkerut gitu, sini tante bangunin, kamu diam saja ya. Ssstt…ingat! Nggak boleh cerita ke siapa-siapa, ini rahasia, janji?”

“J-janji t-tante!” sahut Bonang cepat, sambil tergagap.

Otak-nya mulai berpikir, wuih rejeki nomplok nih, pikir Bonang, kesenangan sekaligus makin gugup.

“Sumpah?” desak Tante Melly lagi.

“S-sumpah tante!” lagi-lagi Bonang cepat menyahut.

Tante Melly tertawa kecil dan wanita inipun jongkok.

Dan melongo lah Bonang, saat melihat Tante Melly tanpa ragu berlakon bak lagi melumat es krim.

Kepala Tante Melly terlihat maju mundur dan hanya hitungan detik, belalai Bonang langsung tegak bak tugu monas.

“Woww…lumayan ternyata, kamu ini 3 tahunan lagi tante yakin bisa ngalahin milik suamiku hehe!” Tante Melly kesenangan bukan main dan meneruskan aktivitasnya.

Tak lama, Bonang tersentak kaget, rasa ingin kencing tak mampu di tahan, dan dia kaget, semua air ‘seni’ nya di lahap sampai habis Tante Melly.

Tubuh Bonang bergoyang-goyang, bak tak ada tenaga lagi. “Hihi kasian, perjakanya ilang di mulut Tante, sini tante tuntun, kamu istirahat dulu di kamar yaa!”

Apesnya saat jalan di tuntun, tak sengaja tangan Bonang menyentuh bukit kembar si tante. Karena tingginya hampir sama dengan Tante Melly. Makin gemetaran Bonang jadinya.

Bonang pun tanpa ragu merebahkan diri di kasur empuk ini. Harum dan lembut di rasakannya.

“Minum madu dan telor ini, agar tenagamu joss lagi. Ingat yaa, yang tadi jadi rahasia kita, awas kalau berani cerita ke siapapun. Kalau kamu jaga rahasia, tante kasih yang lebih aseek lagi!”

“B-benarkah Tante…yang aseek?” tanya Bonang polos, setelah habiskan madu dan telor ini. Sambil duduk dan menatap wajah tante Melly.

“Benar banget, tadi kan kamu berani cium-cium CD tante, mau nggak cium benda yang di tutup CD itu?”

“M-mau banget tante sekarang aja yuks!!” Bonang tak sabaran, Tante Melly tertawa geli.

“Husss ni anak nge-gas ajee, ortu kamu kapan pulangnya?”

Bonang pun ceritakan kalau ortunya ke kota, jenguk neneknya yang sakit. Dia juga bilang, kemungkinan ortunya nginap selama beberapa hari sampai neneknya sembuh.

“Bagus…sekarang gini, karena ini udah senja, kamu pulang, kunci rumah. Lalu nyalakan lampu di luar dan di dalam, seolah kamu ada di rumah. Lalu kamu ke sini pukul 8 malam. Tapi jangan lewat depan, lewat pintu belakang yaa, nanti pintunya tak tante kunci, liat-liat jangan sampai ada tetangga lain yang lihat, paham!”

Remaja tanggung ini dengan wajah berbinar mengangguk paham.

Tante Melly mencubit hidung mancung Bonang. Gemes lihat wajah Bonang yang sudah terlihat ketampanannya walaupun masih remaja tanggung.

Bonang pun segera pulang, pengalaman hari ini dan nanti malam bakal merasakan aroma asli isi celana si tante telah merusak otak Bonang.

Tak sabaran dia menunggu pukul 8 malam…!

**

Lanjut ya ke bagian 4

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED