Sebenarnya, aku bukanlah murit yang bandel. Tapi, karena
teman-temanku suka membangkang dengan peraturan sekolahan yang ada, lambat laun akupun juga terbawa oleh mereka.
Seperti biasa. Di hari Kamis aku mengikuti kegiatan
extrakulikuler pencak silat, yang ada di SMP ku. Kegiatan dimulai pada jam satu. Tapi, jam satu kurang lima menit, aku malah memesan baso sama teman-temanku di kantin sekolahan.
Belum juga habis separo, baru makan satu butir pentol aja, kakak
pelatih sudah datang. Bingung pasti, antara mau dibuang atau dimakan.
Dibuang sayang mau dimakan panas banget.
Takut kena hukumuman suruh dowwer sampai dua kali putaran
lapangan sepak bola lagi, dengan mantap kutinggalkan tuh, makanan favorit sejuta umat. Aku bergegas ke kamar mandi wanita untuk ganti seragam pencak.
Karena sudah penuh, dan hanya ada satu kamar mandi yang tersisa, dan kabarnya, kamar mandi satu ini memang keramat tak boleh di masukki. Tapi, terpaksa
aku memasukkinya. Karena masih enneg dengan hukuman minggu lalu, aku sampe lemes dan muntah-muntah, si pelatih gak kasih ampun. Jadi, pura-pura aja gak
sanggup lagi, padahal males. 🤪
Mengenai kamar mandi keramat ini, kabarnya dulu, dulu banget
tepatnya kapan juga aku tidak tahu. Ada seorang siswi yang melahirkan di kamar mandi ini. Dan membuang bayinya yang masih hiddup ke dalam wc. Walau sempat
bingung juga, kulihat lubang wc segitu, terus, bayinya segede apa kok bisa bisa masuk? Apa mungkin dia lahiran premature?
Next. Tak lama kemudian, setelah bayi itu hanyut ke dalam
closet si ibu berteriak histeris. Keesokannya ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa oleh penjaga sekolah. Sejak saat itu, banyak desas desus kalau di sekitar toilet itu angker. Banyak yang melihat penampakan seorang wanita
menggendong anak, kadang juga seorang anak yang berlari-lari sambil tertawa sendiri. (gak tau, waras apa tidak.)
Tidak terjadi masalah saat aku ganti baju di sana. Sampai
keluarpun juga tetap semua baik-baik saja. Padangan mata juga tidak berubah. Wajah teman ya, masih tetap dengan wajahnya masing-masing. Tidak berubah angker, apalagi horor.
Tapi, saat mendengarkan kakak Pembina marah pada kami yang
bandel tadi, tiba-tiba saja kok pengen ketawa. Mana gak bisa ditahan lagi,
padahal ga ada yang lucu, gak ingat kejadian lucu dan tidak ada yang
menggelitiki perut.
Akhirnya tertawa pun tak dapat dihindari. Aku tertawa ngakak
sampe jungkir balik saat latihan, jam istirahat pun juga masih ngakak. Jangan tanya bagaimana reaksi teman-teman. Apalagi para pelatih yang galaknya au ah… gak usah diceritain. takut yang bersangkutan keselek.
mereka marah besar padaku. Tapi, apa daya, aku tak bisa menghentikan tawaku sampai kegiatan berakhir. Jam lima sore, ya hanya aku tertawakan saja.
Karena aku ke sekolah naik angkutan umum, horror banget, kan kalau aku terus tertawa. Nanti yang ada dikira stress lagi. Padahal
waras, dan tertawa bukan mauku. Tapi, itu juga di luar kenadaliku.
Aku memberanikan diri meminta salah satu kakak pelatih yang
naik motor untuk mengantarkanku kembali ke kos-kosan. Ya, masih kelas satu SMP
bahkan aku dulu sudah jadi anak kos. Karena orang tua tinggal di luar kota.
"Mas, minta tolong dong. Perutku sakit, nih. Anterin aku
pulang, ya?" ucapku memohon.
Kulihat dari raut wajah mas Ahmad (nama samaran) juga santai
saja. Tidak keberatan.
"Ya sudah, ayo sini kuantar."
Akupun naik ke atas motor bebek dan masih saja tertawa.
Padahal ga ada yang lucu, sebenarnya aku juga lelah. Soal do'a, jangan tanya
lagi, ayat kursi, al-fatehah juga sudah kubaca berulang kali sampai kubayangkan
siksa kubur. Tapi, gak mempan.
Begitu motor yang kami naiki sudah keluar dari pagar
sekolah, tertawaku sudah berkurang tak separah sebelumnya. Terlebih setlah melewati taman bacaan yang letaknya kurang lebih limaratus meter dari sekolahanku, aku sudah bisa diam. Tinggal perut aja, rasanya kaya kram.
"Kok diam, gak ketawa lagi, Ra?" tanyanya, memulai percakapan.
"Gak," jawabku singkat. Karena lemes, perut juga sakit.
"Kamu kenapa sih, tadi itu kok tiba-tiba saja ketawa kek
orang kesurupan? Kamu sadar tidak sih tadi itu?"
Sepertinya dia mulai kepo dengan apa yang terjadi padaku.
Tapi, karena aku berfikir dia hanya ingin tahu saja, bukan peduli, ya sudahlah.
Diam lebih baik. Gak usah dijawab. Kalau pun dia ngambeg dan menurunkan aku di
sini. Tigaratus meter lagi juga sudah sampai di tempat tinggalku.
Ternyata dia cukup baik juga jadi orang. Dia tidak
menurunkanku di tengah jalan. Melainkan tepat di depan pagar rumahn yang aku
tinggali.
"Benar ini, kan rumah kamu?" tanyanya sambil melihatku yang
tiba-tiba saja diam. Mungkin dia sudah berfikir macam-macam tentangku. Tapi, aku ini normal tidak apa-apa. Cuma lemes saja.
"Iya, benar Mas. Makasih, ya?" ucapku dan langsung ngeloyong
begitu saja memasuki pagar dan membiarkan dia tetap di depan pagar tanpa kuajak
basa-basi mampir dulu. Aku takut, gimana kalau nanti dia mampir beneran? Yang
ada nanti malah dikira orang sekitar kami ngapa-ngapain lagi.
Oh, iya. Mas Ahmad itu salah satu pelatih yang baik dan sabar. Dia orangnya tinggi, besar berkulit putih matanya sipit. Kaya orang cina. Padahal, aslinya, aku gak tahu, belum pernah nanya. Dia masih sekolah, kalau tidak salah dia kelas dua SMK.
Dengan rasa jengah dan bosan aku menapakki tangga rumah dan
menaiki teras yang cukup tinggi. Kira-kira satu meteran. Selama dua bulan sudah aku menempati rumah tua ini. Rumahnya besar, memanjang ke samping seperti ada
dua ruang tamu dan dia pintu masuk, yang maha luas tapi, kamarnya sempit, hanya muat dimasuki satu
tempat tidur berukuran 200x140cm an dan satu meja kecil, yang bahkan untuk aku
belajar juga tidak muat dengan buku-bukuku, itu sudah cukup sesak. Khas sekali dengan bangunan
kuno.
Di rumah ini ada dua dapur. Yang bagian depan dapur digunakan untuk
memasak menggunakan kompor. Tempatnya juga luas banget, dan ke belakang lagi
ada pintu di sana ada tempat mencuci piring dari semen, dan dua buah tungku yang berjajar.
Jika kalian penasaran dengan kejadian aneh yang ada di sini,
yang tentunya kualami sendiri, jangan tanya. Banyak. Sampai aku sebagian besar lupa. Saking banyaknya.
Selain model rumahnya yang kuno, letak bangunan ini juga ke
dalam banget jauh dari jalan raya. Samping kebun yang luas dan belakang rumah ada rimbunan pohon bambu.
kiri kanan kebun. Jadi, kalau malam hari ya sunyi. Sekalipun Cuma serratus
limapuluh meter ke depan sudah jalan raya. Tapi, kalau malam ya gelap. Akan terasa jauh jika seandainya dikejar setan.
Aku juga heran, kenapa ibuku mencarikan aku tempat kok kaya
gini. Sebelumnya memang aku ngekos. Tapi, si pemilik kosnya julid. Skip aja,
terlalu sakit kalau diceritain. Jadi, dia memindahkanku di tempat ini. Tempat
yang sebenarnya lebih cocok untuk uji nyali daripada tempat untuk beristirahat kala lelah dari pulang sekolah.
Ku lempar tas ke atas kursi tua, dan aku segera masuk ke
dalam kamar yang hanya ditutup dengan kelambu warna kuning dan menghempaskan
badanku di atas kasur kapuk yang ditutupi dengan sprei batik. Adem dan nyaman memang. Tapi, tak bisa kuteruskan. Atau, aku malah ketiduran, karena ini juga sebentar lagi sudah magrib.
Dengan lngkah berat dan malas kulangkahkan kakiku yang
tearasa berat ini menuju kamar mandi. Ya, badan sakit semua karena walau
keadaan tak sadar dan terus tertawa para pelatih tetap melatihku dengan keras tadi. Tapi, ada keanehan. Biasanya orang yang tertawa itu lemah. Cuma, aku tadi bisa menang saat adu gulat.
Setelah mandi, perutku trasa lapar. Dengan langkah berat
karena malas dan juga takut, kupaksakan lagi kakiku menuju dapur yang jauh
letaknya dari kamar dan rang tamu karena bangunan rumah yang maha luas tapi
sia-sia. Bagaimana tidak? Bangunan ini seperti dua rumah yang digandeng dengan
dua ruang tamu yang sama luas seperti lapangan golf. Tapi, hanya ada dua kamar
sempit di bagian kanan dan satu kamar di bagian kiri, sisanya ya ruang tamu
itu, kamar mandi dan dua ruangan besar dibalakang untuk dapur.
Baru tiba di tengah-tengah mbale, atau ruang tamu luas itu
aku ingat. Kalau tadi aku tidak masak. Karena tinggal sendiri dan aku masih
sekolah, jadi, habis sbuh ya langsung nyapu halaman, dan rumah saja sudah
memakan waktu lama, belum lagi nyuci baju. Karena jamanku dulu belum ada jasa laundry. Mungkin inilah yang dinamakan anak-anak tapi kesibukannya seperti emak-emak.
Karena tidak ada apapun, aku putuskan untuk keluar membeli
makanan. Sempat terbesit di benakku untk beli mie instan saja. Tapi, aku ngeri kalau harus masak sendiri di dapur. Aku sering mendengar bunyi-bunyian aneh dari
belakang rumah. Entah itu bunyi langkah kaki perlahan, dan merasakan seperti ada sosok yang mengintip di lubang angin. Kadang juga suara dengkuran napas makhluk yang besar dan tinggi. Hiii serem pokoknya.
Awalnya aku di sini tinggal bersama adikku yang masih
berusia empat tahun saat itu. Tapi, sekarang ia berada di kota J. Kota kelahiiku. kot. Sebenarnya aku sedih, tapi karena tak ada pilihan lain, mau
gimana lagi?
Oh, ya. Sebelaumnya aku tinggal bersama ibu adik dan juga
pabak tiriku di desa K. Tapi, karena masalah keluarga, ibuku bercerai dengan bapak tiriku ia mebawa aku dan adikku pindah. Karena tidak terima, lelaki itu terus memaksa datang kesini menggangguku dengan alasan ingin mengajak adikku. Dan memperalatnya agar ibuku mau kembali. Akhirnya, dengan berat hati, adikku dititipkan pada salah satu kakak ibuku di kota J.
Lalu, sekarang, lelaki itu menerorku. Kadang pula datang dan aku tahu, dia menaruh benda aneh dari dukun. Tapi, setelahnya aku tidak merasakan apa-apa. Mungkin yang ia datangi dukun abal-abal. Tapi, pas melet ibuku dulu kok ampuh banget, ya? Oke lah skip.
Tapi, kalau bahas rumah, ini bangunan seppertinya tak setua
dengan bangunan yang aku tempati dulu. Terlihat dari dindingnya yang masih kokoh. Sementara, dinding rumah di desa K yang aku tempati dulu,sudah banyak yang keropos dan rontok. Sebagian dindingnya juga pecah.
Setidaknya, ini masih ada lima rumah di satu pagar wakau jaraknya tidaklah dekat. Jika dirasakan pada malam hari. Kalau
siang hari, enak, antara depan rumahku dan belakang rumah dari anak pemilik rumah yang sudah tiada itu bisa lah buat lapangan bulu tangkis.
Rumah yang kami tempati di desa K dulu itu jauh dari tetangga.
Depan rumah kebun kopi dan ada sebatang pohon rambutan yang sudah tua, karena kalau malam hari kek pohon beringin, dan banyak anak kecil yang bermain ayunan
di ranting-rantinya yang hampir bersentuhan dengan tanah. Saking besar dan tak
terawatnya pohon itu. Tapi, saat musim rambutan tiba, enak. Gak perlu manjat, samabil rebahan di bawahnya aja, bisa metik buahnya, asal mau digigiti semut rang-rang 😅
Nex sama rumah di desa K tersebut. Rumah itu luas, lebih
luas dari rumah yang kuhuni saat ini, timur rumahku adalah kebun nanas, dan
timurnya lagi kuburan. Jadi, saat melihat dari jendela, keliatan tuh batu-batu
nisan berjajar. Lalu belakang rumah, kebun rimbun dengan tanaman perdu liar gak
karuan, ada kolam ikan gak kepake juga di sana, tapi ya gitu, tertutup
rerumputan liar itu tadi, dan seratus lima puluh dari kebun itu adalah
rimbunan bambu yang cukup luas.
Pernah suatu sore pulang ngaji lewat sana, ada suara aneh,
aku takut sih, sempat merinding juga. Kukira bayi bajangnya nangis. Karena kabarnya di situ juga angker, berbagai jenis mahluk halus termasuk nanas Pati katanya juga ada. Eh, ternyata
anak kucing. Lega, tapi tetap saja serem. Bunyinya persis bayi nangis.
Setelah membeli makanan, aku makan tidak menggunakan sendok,
padahal mie ayam dan berkuah. Bomat, aku takut, untung ada satu botol aqua, bisa
lah buat cuci tangan. Habis tadi, baru saja membuka pintu, aku sudah seperti melihat sekelebat bayangan hitam melintas rumah bagian timur, yang gandeng dengan
dapur. Sementara aku menempati bagian barat, yang hanya ada dua kamar dan ruang tamu seluas stadion.
Habis makan aku teringat dengan prku yang banyak. Males,
sih. Tapi, besok ada mata pelajaran itu, jika sampai tidak mengerjakannya, mau kutaruh mana mukaku? Katanya nakal boleh, bandel gapapa, asal pr harus dikerjakan dan banyak yang benar saat mengerjakan soal dari guru, maupun dari LKS. (Jangan dicontoh)
Ketika aku lagi kusuk-kusuknya mengerjaan pr bhs ingris dan
sibuk bolak-balik kamus, tiba-tiba saja pintu rumah yang sudah aku tutup, dan untungnya terkunci seperti ada yang menggebrak dengan keras.
Badanku kaku tak bisa bergerak, jangan kan bergerak, untuk
bernapas saja aku kesusahan sampai beberapa detik. Setelah semua edaran darahku
normal, dengan segra aku beranjak untuk mengintip keadaan luar. Terasa hening seperti tak ada apa-apa. Kulihat juga sudah jam sebelas malam. Lalu, barusan
itu apa? Orang, apa kucing liar? Kalau kucing rasanya tidak mungkin, jika pun
itu orang lalu siapa, dan kenapa? Apakah ada masalah denganku? Aku Cuma anak
kecil kelas satu SMP yang tinggal sendiri di sini. Uang kontrak juga sudah dibayar satu tahun oleh ibuku, aku juga selalu sibuk dengan urusan sekolah dan jarang ada di rumah.
Merasa kian tidak enak, aku buru-buru mengerjakan tugasku,
Bahasa ingris aja yang pertama. Soal matematik dan kesenian, masih lama,
apalagi kesenian hanya satu kali dua jam pelajaran saja selama satu minggu. Jadi, lumayan satai.
Sekitar pukul duabelas kurang, aku sudah berhasil menyelesaikan
pr-ku. Dengan segera aku masuk ke kamar. Walau perut mules pengen pipis aku lupakan, besok saja. Daripada aku dicegat sama sosok yang tak kasat mata
tiba-tiba axis, kan tidak lucu. Berteriak juga mungkin tidak akan ada yang
dengar. Dengan gelisah, aku paksakan untuk tidur, serta tak lupa aku berdoa
agar selalu dalam lindungan sang maha kuasa dan tidak ngompol.
Entah berapa lama aku tidur, aku merasa seperti kejtuhan
benda keras di kaki, lalu perut, dan kepala. Meskipun masih ngantuk kupaksakan
untuk membuka mata yang terasa lengket.
"Tak… tak… tak… "
Aku terkejut saat mendapati banyak batu-batu kecil tapi
bukan kerikil berjatuhan masuk ke dalam kamarku melalui lubang angin-angin di
atas jendela kamar. Kenapa begini? Siapa yang melakukannya?
Saat itu juga terbesit di kepalaku pelakunya adalah bpk
tiriku. Mungkin sengaja menakut-nakutiku agar aku rewel dan ibuku yang bekerja
di Kediri tidak bisa tenang. Agar dia menemui bapakku, dan ia jadikan kesempatan untuk memeletnya lagi, agar mau diajak balikan.
Dia tidak terima diceraikan oleh ibuku. Padahal dia yang
salah, lantas, kenapa sekarang malah menerorku?
Tak mau membuat gaduh, aku perlahan meninggalkan kamar
sebelum wajahnku yang pas-pasan semakin tak berbentuk oleh batu-batu material
bangunan yang tajam dan terjun bebas mengenaiku. Aku bersembunyi di kamar sebelah, kamar yang hanya aku pergunakan untuk sholat saja.
Sedangkan, bunyi berisik berasal dari batu-batu itu
masih terus ada dan tidak berhenti. Sayang sekali, baru sebulan aku ikut
latihan pencak, kalau sudah tiga tahunan, pasti aku berani keluar. Karena aku yakin, yang melakukan ini adalah manusia, bukan hantu. Kalau hantu bawa-bawa batu ngapain? Dengan bunyi-bunyian saja juga aku sudah mengkeret dibuatnya.
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara murotal dari masjid.
Artinya sebentar lagi sudah tiba waktu subuh. aku putuskan untuk menunggu suara adzan berkumandang. Bunyi lemparan batu dari tempat tidurku pun juga sudah tidak lagi terdengar. Mungkin pelakunya sudah pergi.
Sekitar pukul setengah enam, aku menyapu halaman rumah,
bersama dengan tetanggaku depan rumah, ia tengah memasak. Jadi, pintu belakangnya dibuka. Kesempatan pula untukku melapor kejadian semalam.
"Mbak, Murni, semalam ada yang menggebrak pintu rumah.
Kejadiannya sekitar pukul sebelas malam, dan jelang subuh, seseorang melempari batu-batu ke kamarku," ucapku setelah kuselesaikan nyapu halaman rumahku dan juga belakang rumanhya.
Mbak Murni ini bisa dikatakan pemilik rumah yang aku
kontrak, dia adalah menantunya sementara pemiliki asli, atau kedua mertuanya sudah tiada, dia tinggal sendiri di sini. Suaminya merantau ke tanah Borneo. Dia tinggal dengan anaknya yang masih berusia tiga tahunan.
Mendengar laporanku, wanita berusia duapuluh tujuh tahun itu
lantas terkejut. Ia hampir tak percaya. Tapi, aku juga tidak mungkin berbohong juga, kan?
"Hah, masaka, Dek Ara? Kamu kok tidak bereteriak minta
tolong? Kan om Gun (Gun asli ini, bukan gun-gun yang suka dipohon besar dan rimbunan bambu) ada tuh, sama om Nananag?" ucapnya.
Om Gun dan om Nanang itu dua bersaudara yang juga mengontrak
rumah yang letaknya di depan rumah mbak Murni. Mereka membuka usaha jualan mie ayam dan juga baso solo.
"Gak tau, kenapa saya gak teriak. Males aja rasanya kalau
sampai heboh. Itu pun jika ada yang dengar, kalau tidak, setan juga akan ikut menrtawakan saya, dong!" jawabku, jujur. Memang saat itu aku juga tidak ingin berteriak. Gak pede aja rasanya. Toh gak darurat banget, kan?
"Soal pintu yang digebrak itu kamu Cuma dengar apa memang
lihat sendiri?" tanyanya lagi.
"Ya lihat sendiri, untung kunci slot atas juga saya pasang. Kalau tidak, ya sudah terbuka saja. Saat itu saya belum tidur dan masih
mengerjakan pr Bahasa ingris. Dan kamar saya juga dilempari batu, Mba."
"Hah, batu? Apakah jendelanya tidak kamu tutup? Jam berapa
itu? Kamu lihat gak, pelakunya?" Wanita itu nampak mengelus tengkuknya sendiri, sepertinya dia ngeri dengan apa yang baru saja menimpaku semalam.
"Jendela taktutup. Pelakunya melemparkan lewat lubang
angin-angin atasnya jendela mbak."
"Batu kecil yang sisa buat aku bangun rumah ini mungkin, ya
Dek?"
"iya, benar batu itu yang dilemparkannya."
"Ngenain kamu tidak?"
"ya ngenain, Mbak. Saya kebangun awalnya terkena kaki saya,
lalu kepala, dan saya pindah ke kamar sebelah."
"Masa, Dek Ara ada yang tega berbuat begitu sama kamu?"
"Batunya masih utuh. Saya belum membuangnya. Saya tidak
berani masuk kamar tersebut. Kek semacam ada perasaan yang tidak enak saja," tukasku sambil mengajak mbak Murni masuk ke dalam rumah dan menuju kamar.
Perasaan tidak enakku untuk memasukki kamar terjawab sudah.
Di sana, begitu pintu terbuka, spreiku yang berwanpa pink muda cenderung putih banyak bercak-bercak darah. Aku dan mba Murni sama-sama ketakutan. Tapi, rasa penasaran mengalahkan segelanya.
Tahu, apa yang ada di dalam kepalaku? Sepasang tangan yang
tepisah dari badannya tergelatk di atas kasuku. Soalnya darah banyak banget. Dan ternyata di atas kasur tergeletak bangkai ular dengan ukuran lumayan besar dan Panjang penuh dengan luka. Aku dan mba Murni sama-sama menjerit karena kaget, dan ketakutan.
"Ya Allah, jahat banget, Dek Ara pelakunya, minta tolong ke
om Gun deh, suruh buang bangkai ular ini," ucap mbak Murni lalu keluar dan akunikuti pula. Tapi, aku tidak mengikutinya ke tempat om Gun. Melainkan aku mengambil handuk dan seragam pramuka. Aku harus sekolah hari ini.
Setelah bangkai ular itu dibuang, apa dikubur aku tidak
tahu, aku menitipkan kuci rumah pada mbak Murni, untuk jaga-jaga kalau saja nanti ibuku pulang, agar memberikan padanya.
Setelahnya, aku langsung ke jalan raya menunggu angkutan umum yang membawaku ke sekolahan.
Tapi, karena ini masih terlalu
pagi, aku berniat menyebrang jalan dulu, aku menuju watel menelfon ibuku agar pulang dan mencuci sprei yang ada darah ularnya. Aku jijik soalnya. Setelahnya, aku kembali ke jalan raya.
Saat tiba di jalan aku bertemu dengan kakak kelas yang juga
ikut ektrakulikuler pencak. Jadi, aku kenal dengannya. Apalagi dia juga
menawarkan tumpangan padaku, lumayan, ngirit uang seribu rupiah. Kala itu
memang segitu bayar angkutan umum cuma seribu, bus atau mobil elef sama aja. Harga gorengan aja masih duaratus lima puluh perak, dapat gede, dan sekaeang dah seribu(di pulau Jawa.)
"Kemarin itu saat latihan kamu menertawakan apa?" tanya mas
Rendi.
'Sudah aku duga,' batinku.
"Ra, denger suara, ku gak sih?"
"Iya, denger. Aku sendiri juga tidak tahu, Mas apa yang
kutertawakan. Aku dah sekuat tenaga menahan agar diam. Aku juga membaca ayat-ayat suci yang kuhafal. Masih saja los kontral gitu," jawabku apa adanya.
"Kok bisa sampai begitu, ya? Kamu melanggar aturan tidak
sih, di sana kemarin?"
"Aku kepepet masuk ke toilet wanita nomor dua dari barat.
Setelahnya aku malah tertawa dengan sendirinya."
"Ra, kamu itu pernah dengar gak cerita tentang toilet itu?
Itu keramat gak boleh dimasukki selin penjaga yang membersihkan saja? Kenapa
kamu langar? Gak sampe kesurupan juga bagus kamu itu, pernah ada tragedy di
sana dulu, anak yang baru lulus ini, dia… " Mas Rendi tidak melanjutkan
ceritanya. Sepertinya ia benar-benar takut.
"Yang bikin aturan siapa?"
"Dulu penjaga sekolahan kita bisa berkomunikasi dengan bangsa
halus. Setelah kejadian si bayi itu, ia mewanti-wanti untuk siapapun agar tidak masuk ke toilet itu."
"Itu yang bikin aturan setan, kan? Kenapa dipatuhi? Selama
kita takut, mereka senang, karena merasa menang."
"Suara, demi keselamat kamu juga, kau jangan bandel-bandel."
"Perintah Tuhan untuk mengerjakan lima waktu saja masih
sering kulanggar, kenapa aku harus mematuhi aturan setan?" berhenti, turunkan aku di sini," ucapku sambil bersungut-sungut.
Saat itu aku memang keras kepala. Paling benci jika diberi
tahu apa yang harus aku lakukan. Nyatanya, aku tahu mana yang baik dan tidak untukku sendiri. Itu sih menurutku. Tapi, untung, sejauh ini ga pernah sampai apes seperti yang lain.
Bukannya berhenti, mas Rendi malah menambah kecepatan sepeda
motornya. Ia sepertinya marah denganku. Saat tiba di sekolahan, dia juga tak jawab ketika kuucapkan berkali-kali kata terimakasih.
Ya sudahlah. Mungkin dia lagi PMS. Pikirku, aku pun masuk ke
dalam kelas untuk menaruh tas dan segera membeli sarapan di kantin. Gara-gara
ada drama terror aku tidak bisa sarapan di rumah.