Bab 2

Aku merasa tidak sabar dan terus mendesak mbak Nur.

"I-ini, Bu, kuncinya," ucap mbak Nur sembari menyerahkan kunci itu padaku.

Bergegas aku membuka pintu kamar Maya menggunakan kunci cadangan dan seketika mataku membelalak saat melihat keadaan di dalam sana.

"Maya …." Aku terbelalak melihat di dalam kamar ternyata Maya tengah memegang sebuah kertas dan ia yang memakai pakaian kurang bahan membuat dahiku mengernyit dan sejenak aku terpaku hingga saat terdengar suara Maya membuyarkan lamunanku tentangnya.

"Mbak Laras? Kok tiba-tiba masuk? Mbak Laras kok gak sopan banget buka-buka pintu kamar orang tanpa izin?!" tanya Maya tapi dengan raut wajah tidak suka dan dari nada bicaranya juga ia sangat ketus. Mendadak aku merasa sedikit bersalah karena sudah berpikiran jauh sekali. Namun, aku sangat yakin jika telingaku tidaklah salah mendengar. Maya seperti sedang bergurau dan bermanja dengan pasangannya. Apa iya aku hanya menghalu saja?

"Maya, kenapa tadi aku gedor-gedor pintu kamu enggak dengar dan enggak langsung bukain pintu? Memangnya telingamu tuli? Terus tadi kata Mbak Nur kamu lagi keluar tapi sekarang kamu di sini?" tanyaku memberondong beberapa pertanyaan pada Maya.

"Tadi aku pakai headphone, Mbak, tuh lihat headphone nya ada di sana! Lagian aku sudah pulang sejak tadi pas Mbak Laras belum pulang juga Mbak Nur yang gak tahu kemana," ucap Maya lagi sembari menunjuk ke arah atas kasurnya yang memang kulihat ada headphone di sana. Lalu aku menatap mbak Nur sekilas, dapat kutelisik raut wajah mbak Nur yang Menurutku sedikit aneh.

"Ah maaf, Bu, tadi setelah Bu Maya pamit sama saya, saya langsung keluar, Bu, buang sampah di ujung jalan sana. Nah di tengah jalan saya ketemu sama Lia jadi kami saling bercengkrama dulu deh, Bu, hehehe," ucap Nur yang semakin membuatku sedikit curiga.

Namun, kali ini aku tidak boleh gegabah, entah kenapa aku memiliki rasa curiga yang besar terhadap Maya juga Nur. Akan aku cari tahu aa yang sebenarnya terjadi di saat aku dan mas Satria tidak berada di rumah.

"Oh ya, Maya, kamu memangnya lagi apa sih? Terus itu kertas apa yang kamu oegang?"

"Oh ini aku lagi ada tugas main drama sama dosen, Mbak, kan Mbak tahu kalau ini sudah mau ujian akhir semester dan dosennya memberi tugas seperti ini, yang aku pegang ini naskah drama kelompokku, Mbak, kalau enggak percaya nih lihat saja sendiri buktinya."

Maya menyodorkan kertas itu padaku dan benar saja apa yang dikatakannya hingga membuatku terdiam lagi karena kulihat raut wajah Maya yang terlihat santai dan tidak gugup. Maya memang sedang menempuh pendidikan di universitas khususnya jurusan bahasa dan sastra. Katanya dia juga ingin selaras denganku yang lulusan sarjana biar gak malu-maluin sebagai istri dari mas Satria. Meski umurnya sudah sedikit terlambat masuk kuliah tapi dia tetap ingin kuliah makanya mas Satria juga tidak keberatan. Aku pun tidaj terlalu menjadi masalah toh kampus dan jurusan yang Maya ambil tidak terlalu menguras kantong mas Satria.

Ah, apa mungkin memang aku yang terlalu berlebihan berpikir?

"Jadi tadi suara kamu itu lagi baca drama gitu?" Maya mengangguk pasti menjawab pertanyaanku.

"Iya Mbak benar, aku sambil dengerin rekaman yang ada musiknya biar bisa menghayati makanya aku gak dengar saat Mbak Laras gedor pintu tadi."

"Yaudah maaf kalau aku udah ganggu waktu kamu," ucapku pada akhirya. Biarlah kali ini aku mengalah terlebih dahulu tapi tetap aku akan menyelidikinya karena aku tidak bisa percaya begitu saja pada orang lain saat ini.

Aku pun segera meninggalkan kamar Maya dan kembali ke kamarku pribadi. Aku membuka pintu dengan kunci yang selalu kubawa. Aku memang sengaja selalu mengunci pintu kamarku sebab aku memang sedari dulu tidak pernah terlalu mempercayai siapa pun termasuk suamiku sendiri.

Yah, meskipun hingga saat ini mas Satria masih memperlakukanku dengan sangat baik tidak ada yang berubah tapi tetap saja aku tidak menaruh kepercayaanku padanya 100 persen. Aku hanya menjalankan semuanya sesuai kewajibanku sebagai seorang istri. Mencoba mempertahankan hak yang seharusnya menjadi milikku. Tidak mau melepas mas Satria karena selain cinta aku juga tak mau rugi. Rugi dalam arti jika kami berpisah harta bagi dua. Aku yang sudah capek menamninya dariawal belum punya apa-apa harus membaginya dengan seorang pelakor? Oh itu tentu tidak mungkin aku inginkan.

Pokoknya selama mas Satria masih baik terhadapku akan aku pertahankan cinta ini sampai maut menjemput. Tapi jika mas Satria mulai berubah aku pasti akan mundur dan tentunya dengan kondisi semua harta sudah menjadi milikku.

Aku bukan perempuan naif yang hanya bisa menangis dan menerima begitu saja. Aku adalah perempuan dan istri yang tangguh. Akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku meski hingga titik darah penghabisan. Mungkin bagi sebagian orang harta bisa dicari. Memang benar adanya, tapi tetap daripada aku yang sakit sendiri lebih baik kita sakit bersama-sama. Jika aku tidak mendapatkan apa yang seharusnya jadi milikku maka siapa pun juga tidak boleh mendapatkannya. Boleh kan jika aku egois terhadap kepunyaanku sendiri?

Aku merebahkan diri setelah melepaskan bju kerjaku. Memejamkan mata sejenak karena entah kenapa belakangan hari tubuhku rasanya pegal-pegal juga sakit-sakit. Mungkin saja aku akan kedatangan tamu bulananku karena biasanya seperti itu.

***

Malam ini aku bersama Maya akan makan malam seperti biasa di meja makan. Mbak Nur sudah memasak menu sederhana seperti ayam goreng dan sayur sop tak lupa dengan sambal kecap juga buah-buahan dan air putih.

Awalnya Maya juga sok-sok an menolak makanan-makanan yang mbak Nur sediakan tapi, lagi-lagi Maya tak mampu berkutik karena ini rumahku jadi sudah sewajarnya aku lah yang menentukan bukan dia. Kalau di rumahnya sendiri sih bodo amat dia mau makan apa juga. Sayangnya di rumahnya tidak ada pembantu itulah kenapa Maya jauh lebih betah berada di rumahku karena selain besar juga ada art.

Aku sih tidak mempermasalahkan soal itu selama tidak ada mas Satria. Akan tetapi, jika ada ms satria maka jangan harap aku mau Maya berada di sini dan menunjukkan kemesraan mereka di depanki. Ah, aku tidak sekuat itu guys. Aku masa bodoh kalau merek bermesraan di rumah Maya asal tidak di rumahku. Itulah sebabnya jika tidak ada mas Satria baru Maya boleh menginap di sini.

"Malam, Mbak Laras," sapa Maya padaku saat ia baru saja keluar dari kamarnya.

"Malam juga Maya," jawabku sembari melihat ke arah Maya. Namun, dahiku mengerut seketika saat aku melihat tanda tidak asing yang berada di leher Maya.

"Maya, itu leher kamu kenapa? Kok merah-merah kayak bekas cupangan?"

Bab 3

BAB 3

"Malam juga Maya," jawabku sembari melihat ke arah Maya. Namun, dahiku mengerut seketika saat aku melihat tanda tidak asing yang berada di leher Maya.

"Maya, itu leher kamu kenapa? Kok merah-merah kayak bekas cupangan?"

"Uhuk, uhuk." Tiba-tiba saja Maya terbatuk saat meminum air putih hingga ia menyemburkan air tersebut dari dalam mulutnya.

Tentu saja aku semakin merasa curiga dengan kelakuan nya ini. Bukankah hal ini menandakan kalau Maya tengah salah tingkah akibat ucapanku?

"Kamu tidak apa-apa, Maya?" tanyaku pada Maya mencoba masih berpikiran positif.

"Ah, e-enggak apa-apa kok, Mbak. I-ini tadi aku kerokan makanya merah-merah begini," ucap Maya lagi yang membuatku memicingkan mata menatap ke arahnya. Akan tetapi, Maya terlihat mencoba bersikap biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang ia sembunyikan. Meskipun begitu tetap saja aku melihat jika memang ia tengah menyembunyikan sesuatu padaku.

Baiklah, kalau sudah begini lebih cepat lebih baik aku akan mencari tahu masalah yang ia sembunyikan dariku. Aku yakin cepat atau lambat pasti akan ketahuan semuanya.

Aku pun melanjutkan makanku yang tertunda sementara itu Maya sudah sibuk dengan ponselnya. Justru makanan yang ada di depannya belum ia sentuh sama sekali.

Aku memperhatikan Maya yang senyum-senyum sendiri saat berkutat dengan ponselnya.

"Maya, dimakan dulu itu nanti nasinya mekar karena sudah kecelup kuah sop," tegurku pada Maya.

"Ya, Mbak, tunggu sebentar, ini lagi chat an sama Mas Satria," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.

Baru saja aku akan menjawab ucapan Maya tiba-tiba saja ponselku di atas meja bergetar. Aku melihat ke layar ponsel ternyata terpampang nomor mas Satria yang tengah menghubungiku.

Aku kembali menatap Maya yang masih sibuk dengan ponselnya dan senyum-senyum sendiri hingga tanpa kusadari telepon dari mas Satria sudah berakhir.

Kalau dia bilang sedang berchat an dengan mas Satria lantas kenapa mas Satria malah menghubungiku? Tidak mungkin kan mas Satria yang menelponku juga berchat an dengannya? Ah, kepalaku semakin pusing memikirkan Maya yang seolah-olah menunjukkan siapa dirinya terhadapku secara terang-terangan.

Ponselku kembali berdering dan untungnya makananku pun sudah habis. Aku segera beranjak dari tempat dudukku, sedikit menjauh dari meja makan dan mengangkat telepon dari mas Satria.

"Halo, Mas," ucapku saat ponsel sudah tersambung.

"Halo Sayang, kamu sedang apa? Kamu baik-baik saja kan di sana? Jangan lupa makan karena kamu punya lambung akut. Mas gak mau kamu jatuh sakit kayak yang sudah-sudah." Beginilah suamiku kalau sedang menelponku. Maka ia akan memberondonku dengan banyak pertanyaan juga akan memberikan nasehatnya sebagai bentuk perhatian kepadaku. Mas Satria memang lebih sering menghubungiku daripada Maya. Bukan aku yang memintanya tapi mas Satria sendiri yang menginginkannya

Aku mengulas senyum meski aku tahu mas Satria tidak akan bisa melihatnya.

"Iya Mas, Sayang, ini aku baru saja selesai makan kok. Kamu sendiri sudah makan belum?" tanyaku pada mas Satria.

"Alhamdulillah sudah barusan juga. Oh iya, kalaj Maya apakah sudah makan atau belum? Kalian di sana baik-baik saja kan?" tanya mas Satria lagi.

"Lho, bukannya Mas tadi habis chat an sama Maya? Kok masih tanya sama aku?" tanyaku degan kening yang berlipat karena kan tadi meman si Maya bilang sedang berkomunikasi sama mas Satria.

"Enggak ah, dari tadi Mas belum ada pegang ponsel. Kan kamu tahu kebiasaan Mas kalau makan enggak pernah pegang ponsel. Ini saja Mas baru menghubungi lewat kamu makanya Mas tanya si Maya sudah makan atau belum." Aku bungkam sejenak hingga suara mas Satria kembali terdengar.

"Memangnya kenapa Sayang? Kok kamu bisa bilang Mas sama Maha habis berchat an?" tanya mas Satria lagi.

"Ah, enggak, Mas, mungkin aku yang tadi salah dengar. Ini kami baru saja selesai makan kok, Mas. Mas Satria kapan pulang? Aku rindu."

"Baru juga satu minggu sudah rindu. Biasanya kan satu bulan Mas baru pulang."

"Hehehe, iya sih, tapi yang namanya rindu kan gak bisa diprediksi dan ditahan, Mas, memangnya aku gak bolehkah rindu sama suamiku sendiri?" tanyaku lagi.

"Hahahaha, boleh saja dong Sayang, masa iya merindukan suami sendiri mau Mas larang? Mas juga rindu padamu tapi, gimana lagi Mas posisi jauh tidak bisa setiap minggu pulang kayak biasanya."

"Iya, Mas, aku ngerti kok. Ini kan hanya ungkapan perasaanku saja agar Mas tahu kalau di sini selalu ada istri yang merindukan dan menantikan kepulanganmu."

"Iya, Mas tahu, terima kasih ya Sayang, hingga detik ini perasaanmu tidak berubah sedikit pun sama Mas. Mas minta maaf ya sama kamu." Keningku berkerut mendengar mas Satria berkata seperti itu.

"Kenapa minta maaf, Mas?"

"Yah, karena menghadirkan orang ketiga di pernikahan kita. Ini semua kan atas permintaan Mami. Kamu tahu lah Mami bagaimana."

"Aku tahu kok, Mas. Aku tahu kalau kamu sebenarnya terpaksa. Yah mau bagaimana lagi pernikahan kita sudah delapan tahun tapi aku belum bisa memberikanmu seorang anak. Aku tahu dan sadar diri dengan kekuranganku jadi aku enggak berhak melarangmu menikah lagi. Toh perlakuanmu terhadapku tidak pernah berubah dari dulu sampai detik ini."

"Tentu saja, mana mungkin Mas bisa merubah hati Mas terhadapmu. Karena kamulah ratu satu-satunya di hati Mas. Kalau bukan karena Mami, Mas tidak akan pernah menikah lagi. Hidup berdua dan menua bersamamu saja sudah membuat Mas merasa sangat bahagia. Anak adalah bonus bagi Mas jadi sebenarnya Mas tidak terlalu memikirkan hal itu."

"Ya mungkin memang harus begini jalan takdir rumah tangga kita, Mas. Aku pribadi sih tidak terlalu memikirkannya toh pada kenyataannya rasamu terhadapku yang aku rasakan tidak pernah berubah walau setitik."

"Sayang," panggil mas Satria seolah-olah ragu ingin mengatakan suatu hal padaku.

"Ya, Mas? Ada apa?"

"Mas ingin mengalihkan semua harta atas namamu." Aku membelalak mendengar ucapan mas Satria meskipun keinginanku ada terbesit seperti ini tapi tetap saja aku terkejut karena ini keluar dari bibir mas Satria meski aku belum mengungkapkannya.

"Ehm, Mas jangan bercanda deh. Ini gak lucu tau."

"Mas sedang tidak bercanda Sayang, Mas tidak tahu sampai kapan usia Mas. Mas hanya ingin memberikan hakmu karena kamu lah yang menemani Mas dari awal Mas tidak punya apa-apa. Mas rasa kamu berhak atas apa yang kita miliki.

Kalau Maya? Maya baru datang di saat kita sudah menjadi besar dan memiliki segalanya. Rumah yang Mas belikan dan jugs motor yang Mas belikan untuknya itu sudah cukup Mas rasa. Mas hanya takut jika kelak usia Mas tidak sampai atau Mas berpaling hati. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa perjalanan hidup kita kedepannya jadi sebelum semua itu terjadi lebih baik Mas melakukannya sekarang. Kamu setuju kan?"

"I-ini serius, Mas? Akan membalik nama semua yng kita miliki atas namaku?"

"Iya Sayang, Mas serius."

"Tapi kan kita akan terus bersama, Mas, kok ucapan Mas kayak orang mau pergi jauh aja sih? Aku takut ah."

"Hahaha, kenapa mesti takut Sayang. Ini kan hanya ucapan saja. Bukannya setiap manusia pasti akan menemui ajalnya masing-masing?"

"Iya sih tapi kan …."

"Tapi kenapa Sayang? Ini semua sudah Mas pikirkan matang-matang smenjak aku menikah dengan Maya. Aku tidak mau nanti harta ini akan menjadi perebutan antara kamu dengan Maya. Mas kalau bukan karena Mami yang meminta tidak akan pernah mau menikahi Maya. Mas ini bukannya orang bodoh yang tidak paham dengan tujuan Maya dan orang tuanya menikahkan dengan Mas. Jadi, Mas hanya ingin mempertahankan dan melindungi apa yang seharusnya menjadi milikmu."

Aku menghela napas karena akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan mas Satria. Feeling mas Satria denganku ternyata sama. Kami sudah menduga jika Maya mau menerima laki-laki yang usianya cukup jauh di atasnya juga kedua orang tuanya terutama ibunya Maya yang menginginkan Maya menikah dengan mas Satria lantaran harta yang kami miliki.

Selama delapan tahun kami sudah mempunyai beberapa bidang tanah. Satu rumah besar yang aku tempati. Dua rumah kontrakan bulatan yang setiap tahunnya dengan harga sewa dua puluh juta per tahun. Ditambah kontrakan berbentuk rumah petak yang ada sekitar delapan belas pintu dengan harga sewa per bulannya lima ratus ribu rupiah.

Belum lagi rumah makan aneka ikan bakar dan seafood yang juga kami miliki yang setiap bulannya memberikan pemasukan bersih ke rekeningku sekitar dua puluh juta per bulan.

Sudah bisa dibayangkan bukan? Berapa nominal uang di dalam rekeningku? Ditambah lagi uang bulanan dari mas Satria yang cukup besar yakni, dua puluh lima juta setiap bulannya karena mas Satria adalah kontraktor atau pemborong besar yang bisa menghasilkan ratusan juta rupiah bahkan milyaran dalam proyeknya itu. Itulah sebabnya aset yang kami miliki cukup banyak.

Tuhan begitu maha baik karena sudah memberikan limpahan materi pada rumah tangga kami. Akan tetapi, tetap saja rumah tangga kami masih diuji dengan belum dihadirkannya anak dalam pernikahanku dan mas Satria.

"Bagaimana, Laras? Kamu setuju kan?"

"Lalu kalau Mami nanti marah gimana Sayang?"

"Soal Mami itu biar jadi urusanku. Ini tidak ada sangkutpautnya dengan Mami. Yang terpenting jatah Mami tidak pernah aku kurangi karena aku juga tahu dengan kewajibanku sebagai seorang anak. Gimana? Mau kan?"

"Yaudah, terserah Mas saja kalau memang begitu baiknya," ucapku pada akhirnya.

Aku sedikit menyungingkan senyum karena ternyata secinta itu mas Satria mencintaiku sampai berpikiran hingga sejauh ini.

Terima kasih, suamiku, aku sangat mencintaimu. Aku tidak salah telah melabuhkan dan menyerahkan hati ini seutuhnya untukmu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED