"Ah, capek sekalo rasanya. Sepertinya minum es seger banget nih." Aku masui ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena memang sudah terbiasa seperti itu. Langkahku terhenti saat mendengar suara aneh.
"Aw, Mas, kamu nakal deh, aw! Jangan begini ah, kan geli, Mas! Hahahaha!" Suara mendesah dan manja terdengar di telingaku. Aku yang baru saja pulang dari tempatku mengajar sedikit mengernyitkan dahi. Kalau suara perempuannya aku kenal, dia adalah Maya istri kedua suamiku.
Akan tetapi, Maya sedang bergurau dengan siapa? Mas Satria? Itu tidak mungkin, sebab mas Satria sedang bekerja di luar kota. Pekerjaan mas Satria adalah seorang kontraktor. Mas Satria sering bepergian dan berpindah-pindah lokasi kerja karena memang pekerjaannya yang menuntut seperti itu.
Mas Satria menikah lagi memang atas persetujuan dariku. Sebab sudah lama kami menikah tapi belum juga dikaruniai momongan. Berbagai usaha sudah kami lakukan dan hasilnya aku juga mas Satria sama-sama subur tapi, kembali lagi bahwa kehadiran seorang anak adalah hak prerogatif Allah SWT. Sementara itu mami mertua yang sudah kbelet memiliki cucu memaksa mas Satria untuk menikahi anak sahabatnya.
Awalnya berat memang karena siapa sih wanita yang rela dimadu? Mas Satria pun awalnya menolak tapi, akhirnya dia mau karena aku terus membujuknya untuk menuruti apa kata mami. Aku tidak ingin karena mas Satria ingin membelaku maka membuatnya menjadi durhaka terhadap mami. Aku juga tidak memilih untuk mengakhiri pernikahan ini karena selain aku sangat mencintai suamiku juga aku yakin jika suamiku mampu berbuat adil. Lebih baik dia menikah secara terang-terangan dan meminta izin padaku daripada sembunyi-sembunyi dan itu tentu akan membuatku bertambah sakit. Hingga akhirnya terjadilah pernikahan kedua mas Satria secara siri.
Yah, aku memang hanya memperbolehkan mas Satria dan Maya menikah secara siri karena itulah syarat dariku untuk mengizinkannya menikah dan mami tidak keberatan soal itu.
Tiga bulan sudah Maya dan mas Satria menikah dan selama itu juga perlakuan mas Satria kepadaku tidak pernah berubah sedikit pun. Mas Satria justru berlaku sangat adil menurutku. Adil di sini dalam arti dia memberikan hakku dengan baik sebagai istri pertama sebab aku lah yang menemaninya mulai dari dia belum memiliki apa pun.
Contoh keadilan terhadap hakku adalah mas Satria memberi uang nafkah bulanan untukku jauh lebih besar dari yang ia berikan pada Maya. Awalnya Maya memang protes tapi itu sudah kesepakatan antara aku juga mas Satria dan Maya tentu saja tidak bisa menolak keputusan yang sudah kami buat. Bukankah itu yang dimakdud adil? Maya datang di saat mas Satria sudah memiliki segalanya. Jadi wajar kalau uang nafkah untukku jauh lebih besar daripada untuk Maya.
Soal tempat tinggal awalnya Maya meminta dibuatkan rumah yang sama mewahnya dengan rumah yang saat ini aku tinggali tapi tentu saja lagi-lagi ditolak oleh mas Satria. Beliau tetap membelikan rumah untuk Maya tapi tidak sebesar milikku melainkan rumah hanya dengan luas tanah tidak lebih dari 100 meter persegi dan dengan tipe lima puluh itulah yang mas Satria berikan untuk Maya.
Lagi-lagi awalnya Maya protes tapi dia tidak bisa apa pun karena itu sudah keputusan mas Satria.
Bukannya aku tak tahu kalau Maya mau menikah dengan mas Satria lantaran kemapanan suamiku dan ketampanannya. Akan tetapi, aku sebagai istri yang baik tentu saja berusaha menjaga mas Satria dari semua sifat buruk Maya. Karena aku sangat tahu seperti apa suamiku itu. Delapan tahun aku menikah dengan mas Satria membuatku hafal di luar kepala bagaimana luar dan dalamnya suamiku. Jangan sampai istana cinta yang sudah kita bangun dengan megah dan indahnya dihancurkan hingga berkeping-keping oleh pelakor seperti Maya.
"Aw, Mas! Jangan begini dong ah! Nanti kan kedengaran orang tau. Kamu ini benar-benar deh dasar mesum suka banget tangan nakal kamu itu menjalar kemana-mana." Lagi, suara menjijikkan itu kembali terdengar.
Beginilah memang jika mas Satria sedang pergi bekerja maka Maya akan tinggal di rumah ini bersamaku guna menjaga hal yang tidak diinginkan terjadi. Contohnya seperti ini, entah kenapa aku yakin yang di dalam itu adalah laki-laki lain yang tentunya bukan mas Satria. Akan tetapi, Maya akan kembali lagi ke rumah yang mas Satria belikan jika mas Satria sudah kembali.
Dadaku berdegup kencang, napasku memburu, dan tanganku mengepal erat. Berani sekali dia membawa laki-laki ke rumahku di saat aku sedang tidak di rumah. Kebetulan hari ini aku pulang lebih cepat dari biasanya dikarenakan sekolah akan mengadakan kegiatan pentas seni jadi para guru bisa sedikit bersantai.
Jika biasanya aku akan pulang ke rumah pukul satu siang maka hari ini aku pulang di jam sembilan pagi. Aku berjalan dengan langkah cepat menuju kamar di mana Maya tinggal selama mas Satria tidak ada.
Kubuka handle pintu kamar Maya tapi ternyata dikunci dari dalam. Kepalang emosi aku menggedor keras pintu kamar Maya. Ingin sekali rasanya aku menerjang pelakor murahan di dalam dana dan memberinya pelajaran yang tak akan pernah bisa dia lupakan.
Brak
Brak
Brak
"Maya buka pintunya! Cepat buka dasar jalang! Cepat buka Maya!"
Hening ….
Tidak terdengar suara apa pun lagi di dalam sana. Apakah aku salah dengar? Ah tidak mungkin telingaku belum tuli. Aku tidak salah dengar itu memang suara Maya. Aku sangat tahu itu.
"Maya buka May!"
Brak brak brak!
Lagi, aku menggebrak pintu kamar Maya keras. Hingga aku dibuat sedikit tersentak dengan kehadiran mbak Nur, art di rumahku yang entah dari mana.
"Bu Laras? Ada apa, Bu?" tanya mbak Nur padaku.
"Mbak, Maya mana?"
"Bu Maya? Dia tadi pamit pergi katanya ada urusan." Aku terdiam mencoba mencerna ucapan mbak Nur padaku.
"Maya pergi? Mbak Nur jangan bercanda! Jelas-jelas aku tadi dengan kalau Maya lagi ada di dalam kamar dan lagi bermesraan sama laki-laki di dalam sana! Kunci cadangan mana!"
"Kunci cadangan?"
"Iya cepat mana kunci cadangan ambil!" sentakku pada mbak Nur hingga membuatnya berjingkat dan segera mengambilkan apa yang kupinta.
"I-ini, Bu, kuncinya," ucap mbak Nur sembari menyerahkan kunci itu padaku. Dengan cepat aku menyambar kunci yang mbak Nur berikan padaku. Kumasukkan anak kunci tersebut ke dalam lubang kunci yang ada. Setelah kunci itu masuk, aku segera memutarnya.
Bergegas aku membuka pintu kamar Maya menggunakan kunci cadangan dan seketika mataku membelalak saat melihat keadaan di dalam sana. Ah betapa bodohnya aku, kenapa tidak sejak tadi saja aku membuka pintu ini, toh aku punya kunci cadangannya. Dasar aku ini memang bodoh! Kalau begini pasti mereka sudah siap-siapa di dalam sana. Akan tetapi, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?
"Maya ….
Aku merasa tidak sabar dan terus mendesak mbak Nur.
"I-ini, Bu, kuncinya," ucap mbak Nur sembari menyerahkan kunci itu padaku.
Bergegas aku membuka pintu kamar Maya menggunakan kunci cadangan dan seketika mataku membelalak saat melihat keadaan di dalam sana.
"Maya …." Aku terbelalak melihat di dalam kamar ternyata Maya tengah memegang sebuah kertas dan ia yang memakai pakaian kurang bahan membuat dahiku mengernyit dan sejenak aku terpaku hingga saat terdengar suara Maya membuyarkan lamunanku tentangnya.
"Mbak Laras? Kok tiba-tiba masuk? Mbak Laras kok gak sopan banget buka-buka pintu kamar orang tanpa izin?!" tanya Maya tapi dengan raut wajah tidak suka dan dari nada bicaranya juga ia sangat ketus. Mendadak aku merasa sedikit bersalah karena sudah berpikiran jauh sekali. Namun, aku sangat yakin jika telingaku tidaklah salah mendengar. Maya seperti sedang bergurau dan bermanja dengan pasangannya. Apa iya aku hanya menghalu saja?
"Maya, kenapa tadi aku gedor-gedor pintu kamu enggak dengar dan enggak langsung bukain pintu? Memangnya telingamu tuli? Terus tadi kata Mbak Nur kamu lagi keluar tapi sekarang kamu di sini?" tanyaku memberondong beberapa pertanyaan pada Maya.
"Tadi aku pakai headphone, Mbak, tuh lihat headphone nya ada di sana! Lagian aku sudah pulang sejak tadi pas Mbak Laras belum pulang juga Mbak Nur yang gak tahu kemana," ucap Maya lagi sembari menunjuk ke arah atas kasurnya yang memang kulihat ada headphone di sana. Lalu aku menatap mbak Nur sekilas, dapat kutelisik raut wajah mbak Nur yang Menurutku sedikit aneh.
"Ah maaf, Bu, tadi setelah Bu Maya pamit sama saya, saya langsung keluar, Bu, buang sampah di ujung jalan sana. Nah di tengah jalan saya ketemu sama Lia jadi kami saling bercengkrama dulu deh, Bu, hehehe," ucap Nur yang semakin membuatku sedikit curiga.
Namun, kali ini aku tidak boleh gegabah, entah kenapa aku memiliki rasa curiga yang besar terhadap Maya juga Nur. Akan aku cari tahu aa yang sebenarnya terjadi di saat aku dan mas Satria tidak berada di rumah.
"Oh ya, Maya, kamu memangnya lagi apa sih? Terus itu kertas apa yang kamu oegang?"
"Oh ini aku lagi ada tugas main drama sama dosen, Mbak, kan Mbak tahu kalau ini sudah mau ujian akhir semester dan dosennya memberi tugas seperti ini, yang aku pegang ini naskah drama kelompokku, Mbak, kalau enggak percaya nih lihat saja sendiri buktinya."
Maya menyodorkan kertas itu padaku dan benar saja apa yang dikatakannya hingga membuatku terdiam lagi karena kulihat raut wajah Maya yang terlihat santai dan tidak gugup. Maya memang sedang menempuh pendidikan di universitas khususnya jurusan bahasa dan sastra. Katanya dia juga ingin selaras denganku yang lulusan sarjana biar gak malu-maluin sebagai istri dari mas Satria. Meski umurnya sudah sedikit terlambat masuk kuliah tapi dia tetap ingin kuliah makanya mas Satria juga tidak keberatan. Aku pun tidaj terlalu menjadi masalah toh kampus dan jurusan yang Maya ambil tidak terlalu menguras kantong mas Satria.
Ah, apa mungkin memang aku yang terlalu berlebihan berpikir?
"Jadi tadi suara kamu itu lagi baca drama gitu?" Maya mengangguk pasti menjawab pertanyaanku.
"Iya Mbak benar, aku sambil dengerin rekaman yang ada musiknya biar bisa menghayati makanya aku gak dengar saat Mbak Laras gedor pintu tadi."
"Yaudah maaf kalau aku udah ganggu waktu kamu," ucapku pada akhirya. Biarlah kali ini aku mengalah terlebih dahulu tapi tetap aku akan menyelidikinya karena aku tidak bisa percaya begitu saja pada orang lain saat ini.
Aku pun segera meninggalkan kamar Maya dan kembali ke kamarku pribadi. Aku membuka pintu dengan kunci yang selalu kubawa. Aku memang sengaja selalu mengunci pintu kamarku sebab aku memang sedari dulu tidak pernah terlalu mempercayai siapa pun termasuk suamiku sendiri.
Yah, meskipun hingga saat ini mas Satria masih memperlakukanku dengan sangat baik tidak ada yang berubah tapi tetap saja aku tidak menaruh kepercayaanku padanya 100 persen. Aku hanya menjalankan semuanya sesuai kewajibanku sebagai seorang istri. Mencoba mempertahankan hak yang seharusnya menjadi milikku. Tidak mau melepas mas Satria karena selain cinta aku juga tak mau rugi. Rugi dalam arti jika kami berpisah harta bagi dua. Aku yang sudah capek menamninya dariawal belum punya apa-apa harus membaginya dengan seorang pelakor? Oh itu tentu tidak mungkin aku inginkan.
Pokoknya selama mas Satria masih baik terhadapku akan aku pertahankan cinta ini sampai maut menjemput. Tapi jika mas Satria mulai berubah aku pasti akan mundur dan tentunya dengan kondisi semua harta sudah menjadi milikku.
Aku bukan perempuan naif yang hanya bisa menangis dan menerima begitu saja. Aku adalah perempuan dan istri yang tangguh. Akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku meski hingga titik darah penghabisan. Mungkin bagi sebagian orang harta bisa dicari. Memang benar adanya, tapi tetap daripada aku yang sakit sendiri lebih baik kita sakit bersama-sama. Jika aku tidak mendapatkan apa yang seharusnya jadi milikku maka siapa pun juga tidak boleh mendapatkannya. Boleh kan jika aku egois terhadap kepunyaanku sendiri?
Aku merebahkan diri setelah melepaskan bju kerjaku. Memejamkan mata sejenak karena entah kenapa belakangan hari tubuhku rasanya pegal-pegal juga sakit-sakit. Mungkin saja aku akan kedatangan tamu bulananku karena biasanya seperti itu.
***
Malam ini aku bersama Maya akan makan malam seperti biasa di meja makan. Mbak Nur sudah memasak menu sederhana seperti ayam goreng dan sayur sop tak lupa dengan sambal kecap juga buah-buahan dan air putih.
Awalnya Maya juga sok-sok an menolak makanan-makanan yang mbak Nur sediakan tapi, lagi-lagi Maya tak mampu berkutik karena ini rumahku jadi sudah sewajarnya aku lah yang menentukan bukan dia. Kalau di rumahnya sendiri sih bodo amat dia mau makan apa juga. Sayangnya di rumahnya tidak ada pembantu itulah kenapa Maya jauh lebih betah berada di rumahku karena selain besar juga ada art.
Aku sih tidak mempermasalahkan soal itu selama tidak ada mas Satria. Akan tetapi, jika ada ms satria maka jangan harap aku mau Maya berada di sini dan menunjukkan kemesraan mereka di depanki. Ah, aku tidak sekuat itu guys. Aku masa bodoh kalau merek bermesraan di rumah Maya asal tidak di rumahku. Itulah sebabnya jika tidak ada mas Satria baru Maya boleh menginap di sini.
"Malam, Mbak Laras," sapa Maya padaku saat ia baru saja keluar dari kamarnya.
"Malam juga Maya," jawabku sembari melihat ke arah Maya. Namun, dahiku mengerut seketika saat aku melihat tanda tidak asing yang berada di leher Maya.
"Maya, itu leher kamu kenapa? Kok merah-merah kayak bekas cupangan?"
BAB 3
"Malam juga Maya," jawabku sembari melihat ke arah Maya. Namun, dahiku mengerut seketika saat aku melihat tanda tidak asing yang berada di leher Maya.
"Maya, itu leher kamu kenapa? Kok merah-merah kayak bekas cupangan?"
"Uhuk, uhuk." Tiba-tiba saja Maya terbatuk saat meminum air putih hingga ia menyemburkan air tersebut dari dalam mulutnya.
Tentu saja aku semakin merasa curiga dengan kelakuan nya ini. Bukankah hal ini menandakan kalau Maya tengah salah tingkah akibat ucapanku?
"Kamu tidak apa-apa, Maya?" tanyaku pada Maya mencoba masih berpikiran positif.
"Ah, e-enggak apa-apa kok, Mbak. I-ini tadi aku kerokan makanya merah-merah begini," ucap Maya lagi yang membuatku memicingkan mata menatap ke arahnya. Akan tetapi, Maya terlihat mencoba bersikap biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang ia sembunyikan. Meskipun begitu tetap saja aku melihat jika memang ia tengah menyembunyikan sesuatu padaku.
Baiklah, kalau sudah begini lebih cepat lebih baik aku akan mencari tahu masalah yang ia sembunyikan dariku. Aku yakin cepat atau lambat pasti akan ketahuan semuanya.
Aku pun melanjutkan makanku yang tertunda sementara itu Maya sudah sibuk dengan ponselnya. Justru makanan yang ada di depannya belum ia sentuh sama sekali.
Aku memperhatikan Maya yang senyum-senyum sendiri saat berkutat dengan ponselnya.
"Maya, dimakan dulu itu nanti nasinya mekar karena sudah kecelup kuah sop," tegurku pada Maya.
"Ya, Mbak, tunggu sebentar, ini lagi chat an sama Mas Satria," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.
Baru saja aku akan menjawab ucapan Maya tiba-tiba saja ponselku di atas meja bergetar. Aku melihat ke layar ponsel ternyata terpampang nomor mas Satria yang tengah menghubungiku.
Aku kembali menatap Maya yang masih sibuk dengan ponselnya dan senyum-senyum sendiri hingga tanpa kusadari telepon dari mas Satria sudah berakhir.
Kalau dia bilang sedang berchat an dengan mas Satria lantas kenapa mas Satria malah menghubungiku? Tidak mungkin kan mas Satria yang menelponku juga berchat an dengannya? Ah, kepalaku semakin pusing memikirkan Maya yang seolah-olah menunjukkan siapa dirinya terhadapku secara terang-terangan.
Ponselku kembali berdering dan untungnya makananku pun sudah habis. Aku segera beranjak dari tempat dudukku, sedikit menjauh dari meja makan dan mengangkat telepon dari mas Satria.
"Halo, Mas," ucapku saat ponsel sudah tersambung.
"Halo Sayang, kamu sedang apa? Kamu baik-baik saja kan di sana? Jangan lupa makan karena kamu punya lambung akut. Mas gak mau kamu jatuh sakit kayak yang sudah-sudah." Beginilah suamiku kalau sedang menelponku. Maka ia akan memberondonku dengan banyak pertanyaan juga akan memberikan nasehatnya sebagai bentuk perhatian kepadaku. Mas Satria memang lebih sering menghubungiku daripada Maya. Bukan aku yang memintanya tapi mas Satria sendiri yang menginginkannya
Aku mengulas senyum meski aku tahu mas Satria tidak akan bisa melihatnya.
"Iya Mas, Sayang, ini aku baru saja selesai makan kok. Kamu sendiri sudah makan belum?" tanyaku pada mas Satria.
"Alhamdulillah sudah barusan juga. Oh iya, kalaj Maya apakah sudah makan atau belum? Kalian di sana baik-baik saja kan?" tanya mas Satria lagi.
"Lho, bukannya Mas tadi habis chat an sama Maya? Kok masih tanya sama aku?" tanyaku degan kening yang berlipat karena kan tadi meman si Maya bilang sedang berkomunikasi sama mas Satria.
"Enggak ah, dari tadi Mas belum ada pegang ponsel. Kan kamu tahu kebiasaan Mas kalau makan enggak pernah pegang ponsel. Ini saja Mas baru menghubungi lewat kamu makanya Mas tanya si Maya sudah makan atau belum." Aku bungkam sejenak hingga suara mas Satria kembali terdengar.
"Memangnya kenapa Sayang? Kok kamu bisa bilang Mas sama Maha habis berchat an?" tanya mas Satria lagi.
"Ah, enggak, Mas, mungkin aku yang tadi salah dengar. Ini kami baru saja selesai makan kok, Mas. Mas Satria kapan pulang? Aku rindu."
"Baru juga satu minggu sudah rindu. Biasanya kan satu bulan Mas baru pulang."
"Hehehe, iya sih, tapi yang namanya rindu kan gak bisa diprediksi dan ditahan, Mas, memangnya aku gak bolehkah rindu sama suamiku sendiri?" tanyaku lagi.
"Hahahaha, boleh saja dong Sayang, masa iya merindukan suami sendiri mau Mas larang? Mas juga rindu padamu tapi, gimana lagi Mas posisi jauh tidak bisa setiap minggu pulang kayak biasanya."
"Iya, Mas, aku ngerti kok. Ini kan hanya ungkapan perasaanku saja agar Mas tahu kalau di sini selalu ada istri yang merindukan dan menantikan kepulanganmu."
"Iya, Mas tahu, terima kasih ya Sayang, hingga detik ini perasaanmu tidak berubah sedikit pun sama Mas. Mas minta maaf ya sama kamu." Keningku berkerut mendengar mas Satria berkata seperti itu.
"Kenapa minta maaf, Mas?"
"Yah, karena menghadirkan orang ketiga di pernikahan kita. Ini semua kan atas permintaan Mami. Kamu tahu lah Mami bagaimana."
"Aku tahu kok, Mas. Aku tahu kalau kamu sebenarnya terpaksa. Yah mau bagaimana lagi pernikahan kita sudah delapan tahun tapi aku belum bisa memberikanmu seorang anak. Aku tahu dan sadar diri dengan kekuranganku jadi aku enggak berhak melarangmu menikah lagi. Toh perlakuanmu terhadapku tidak pernah berubah dari dulu sampai detik ini."
"Tentu saja, mana mungkin Mas bisa merubah hati Mas terhadapmu. Karena kamulah ratu satu-satunya di hati Mas. Kalau bukan karena Mami, Mas tidak akan pernah menikah lagi. Hidup berdua dan menua bersamamu saja sudah membuat Mas merasa sangat bahagia. Anak adalah bonus bagi Mas jadi sebenarnya Mas tidak terlalu memikirkan hal itu."
"Ya mungkin memang harus begini jalan takdir rumah tangga kita, Mas. Aku pribadi sih tidak terlalu memikirkannya toh pada kenyataannya rasamu terhadapku yang aku rasakan tidak pernah berubah walau setitik."
"Sayang," panggil mas Satria seolah-olah ragu ingin mengatakan suatu hal padaku.
"Ya, Mas? Ada apa?"
"Mas ingin mengalihkan semua harta atas namamu." Aku membelalak mendengar ucapan mas Satria meskipun keinginanku ada terbesit seperti ini tapi tetap saja aku terkejut karena ini keluar dari bibir mas Satria meski aku belum mengungkapkannya.
"Ehm, Mas jangan bercanda deh. Ini gak lucu tau."
"Mas sedang tidak bercanda Sayang, Mas tidak tahu sampai kapan usia Mas. Mas hanya ingin memberikan hakmu karena kamu lah yang menemani Mas dari awal Mas tidak punya apa-apa. Mas rasa kamu berhak atas apa yang kita miliki.
Kalau Maya? Maya baru datang di saat kita sudah menjadi besar dan memiliki segalanya. Rumah yang Mas belikan dan jugs motor yang Mas belikan untuknya itu sudah cukup Mas rasa. Mas hanya takut jika kelak usia Mas tidak sampai atau Mas berpaling hati. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa perjalanan hidup kita kedepannya jadi sebelum semua itu terjadi lebih baik Mas melakukannya sekarang. Kamu setuju kan?"
"I-ini serius, Mas? Akan membalik nama semua yng kita miliki atas namaku?"
"Iya Sayang, Mas serius."
"Tapi kan kita akan terus bersama, Mas, kok ucapan Mas kayak orang mau pergi jauh aja sih? Aku takut ah."
"Hahaha, kenapa mesti takut Sayang. Ini kan hanya ucapan saja. Bukannya setiap manusia pasti akan menemui ajalnya masing-masing?"
"Iya sih tapi kan …."
"Tapi kenapa Sayang? Ini semua sudah Mas pikirkan matang-matang smenjak aku menikah dengan Maya. Aku tidak mau nanti harta ini akan menjadi perebutan antara kamu dengan Maya. Mas kalau bukan karena Mami yang meminta tidak akan pernah mau menikahi Maya. Mas ini bukannya orang bodoh yang tidak paham dengan tujuan Maya dan orang tuanya menikahkan dengan Mas. Jadi, Mas hanya ingin mempertahankan dan melindungi apa yang seharusnya menjadi milikmu."
Aku menghela napas karena akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan mas Satria. Feeling mas Satria denganku ternyata sama. Kami sudah menduga jika Maya mau menerima laki-laki yang usianya cukup jauh di atasnya juga kedua orang tuanya terutama ibunya Maya yang menginginkan Maya menikah dengan mas Satria lantaran harta yang kami miliki.
Selama delapan tahun kami sudah mempunyai beberapa bidang tanah. Satu rumah besar yang aku tempati. Dua rumah kontrakan bulatan yang setiap tahunnya dengan harga sewa dua puluh juta per tahun. Ditambah kontrakan berbentuk rumah petak yang ada sekitar delapan belas pintu dengan harga sewa per bulannya lima ratus ribu rupiah.
Belum lagi rumah makan aneka ikan bakar dan seafood yang juga kami miliki yang setiap bulannya memberikan pemasukan bersih ke rekeningku sekitar dua puluh juta per bulan.
Sudah bisa dibayangkan bukan? Berapa nominal uang di dalam rekeningku? Ditambah lagi uang bulanan dari mas Satria yang cukup besar yakni, dua puluh lima juta setiap bulannya karena mas Satria adalah kontraktor atau pemborong besar yang bisa menghasilkan ratusan juta rupiah bahkan milyaran dalam proyeknya itu. Itulah sebabnya aset yang kami miliki cukup banyak.
Tuhan begitu maha baik karena sudah memberikan limpahan materi pada rumah tangga kami. Akan tetapi, tetap saja rumah tangga kami masih diuji dengan belum dihadirkannya anak dalam pernikahanku dan mas Satria.
"Bagaimana, Laras? Kamu setuju kan?"
"Lalu kalau Mami nanti marah gimana Sayang?"
"Soal Mami itu biar jadi urusanku. Ini tidak ada sangkutpautnya dengan Mami. Yang terpenting jatah Mami tidak pernah aku kurangi karena aku juga tahu dengan kewajibanku sebagai seorang anak. Gimana? Mau kan?"
"Yaudah, terserah Mas saja kalau memang begitu baiknya," ucapku pada akhirnya.
Aku sedikit menyungingkan senyum karena ternyata secinta itu mas Satria mencintaiku sampai berpikiran hingga sejauh ini.
Terima kasih, suamiku, aku sangat mencintaimu. Aku tidak salah telah melabuhkan dan menyerahkan hati ini seutuhnya untukmu.