"Nel, ini uang belanja bulan ini," kata Mas Dimas sambil menyodorkan sepuluh lembar uang merah.
"Mas, enggak ada nambah dikit apa," protes ku.
"Kamu kalo jadi istri nggak boleh boros. Seharusnya kamu itu bersyukur aku masih mau ngasih uang bulanan gini," kata Mas Dimas dengan nada sedikit tinggi.
"Loh, ini kan aku masak buat kamu juga Mas. Ini belum sampai sebulan uangnya udah habis," sanggahku.
"Makanya, kamu harus hemat! Biasanya malah lebih kan. Kalo lebih ya ditabung! Kamu nggak usah banyak protes! Nggak bersyukur banget!" balas Mas Dimas dengan nada tinggi sambil berjalan keluar rumah hendak berangkat kerja.
Boro-boro nabung, pengeluaran saja banyak. Bayar listrik, bayar air, beli beras, stok makanan di kulkas, dan lain-lain. Untung saja rumah ini dibangun di tanah ibu mertua, kalo nggak, harus bayar kontrakan lagi.
Mas Dimas kerja di salah satu pabrik mebel di daerah sini, dan gajinya perbulan tujuh juta. Tapi dia hanya memberi uang bulanan satu juta per bulan kepadaku. Ditambah lagi dia selalu mau makan yang enak-enak, otomatis uang bulanan yang dia kasih itu habis belum saatnya, tapi aku selalu tutup kekurangan itu dengan uang hasil bisnis online kecil-kecilanku, jadi di pikirnya uang bulanan satu juta itu cukup bahkan lebih.
Sisa uang gajinya diberikan ke ibunya dengan alasan berbakti kepada orangtua. Tidak hanya ibu, dia juga membagi untuk adiknya Ririn yang sudah bersuami dengan alasan kasian karena suaminya kerja serabutan. Tanpa dia sadar aku juga harus diberi uang bulanan di luar uang makan.
Aku buka bisnis online kecil-kecilan tanpa diketahui Mas Dimas dan ibu mertuaku. Aku jualan jajanan yang dititpkan di toko sahabatku Aina yang terletak di dekat sekolah. Selain dititipkan, aku juga memposting di sosial media F******k dan W******p. Tidak hanya itu aku juga bekerja sebagai desainer online atau panggilan di salah satu perusahan busana kenalan Papa dan Mama dulu.
Sebelum menikah, aku bekerja sebagai desainer di perusahan itu, lalu ketika menikah aku memutuskan untuk berhenti bekerja atas permintaan suamiku. Siapa sangka tiga bulan yang lalu bosku meminta aku bekerja lagi tapi secara online.
Aku tidak memberi tahu suamiku soal itu. Mas Dimas tidak mengetahui aku bekerja. Yang dia dan ibunya tahu aku hanyalah orang miskin. Padahal tidak seperti itu.
"Pagi-pagi, udah melamun bukanya bersih-bersih, masak kek, jadi istri itu harus rajin," oceh mertuaku tiba-tiba.
"Ngapain ibu ke sini?" kataku karena masih pagi beliau sudan ada di rumahku.
"Suka-suka ibu dong, ini kan rumah anak ibu! Masak apa kamu pagi ini? Ibu lapar," kata ibu sambil berjalan ke dapur.
Untung aku belum masak. Kebiasaan ibu begitu, suka sekali minta makanan di rumah. Bukannya aku tidak mau, tapi dia selalu mengoceh dan berkomentar tentang makanan yang aku masak padahal dia menghabiskannya. Tidak hanya itu, mertuaku ini selalu menceritakan yang tidak-tidak tentangku kepada para tetangga.
"Loh, kok nggak ada apa- apa sih!" ujar ibu marah saat membuka tudung saji di meja makan.
"Nela, balum masak, Bu," kataku singkat, malas berdebat dengan ibu sepagi ini.
"Lah, gimana sih jadi istri. Tadi kan Dimas udah kasih uang belanja, kamu apakan uang itu? Kalo kamu nggak belanja, sini uangnya biar ibu yang belanja," tukas ibu.
Aneh mertuaku ini. Aku yang belum masak, tapi dia yang repot sekali. Aku tahu dia mau makan tapi seenggaknya bersikap baiklah padaku.
"Nela bisa belanja sendiri. Mending ibu pulang deh, masak saja sendiri di rumah. Mas Dimas juga udah kasih ibu uang bulanan kan? Kalau ibu malas masak, beli aja di warung," kataku santai.
Aku yakin uang bulanan ibu kali ini pasti lebih.
Ibu melotot tak percaya dengan apa yang sudah dia dengar. Kulihat wajahnya merah hendak marah. Selama ini aku hanya diam, tapi sekarang tidak lagi. Aku capek diam terus.
Diam sama dengan ditindas!
"Berani sekali kamu sama mertua. Awas aku laporin Dimas!" ancam ibu sambil menunjuk ke arah wajahku. Ibu memang begitu, jadi aku malas menanggapi berlebihan.
"Terserah ibu. Aku mau mandi dulu." Malas merespon omongan ibu, aku langsung masuk ke kamar mandi karena hari ini aku mau ke toko Aina untuk menitipkan jajannan yang tadi pagi-pagi sekali sudah kubuatkan.
Saat hendak mandi aku lupa membawa handuk. Sialan! Aku pun keluar mengambil handuk, tapi tiba-tiba langkahku terhenti ketika aku mendengar ada suara orang di kamarku.
'Siapa ya? Apa Mas Dimas udah pulang? Tapi kan ini masih pagi banget,' gumamku dalam hati.
Karena merasa aneh dan ganjal, gegas aku ke kamar. Takutnya ada pencuri.
Saat aku masuk, betapa kagetnya aku melihat isi lemariku berantakan. Dan lihat siapa di sana....
'Dasar tidak tahu malu!' umpatku.
B E R S A M B U N G......
"Loh, ibu ngapain di kamarku?" tanyaku kaget.
"Mau ambil uang anakku yang tadi dia kasih ke kamu," jawab ibu dengan nada agak gugup.
Astaga! Gini amat punya mertua.
"Lah, itu kan uang Nela. Kalau ngambil tanpa izin itu namanya mencuri loh Bu. Mas Dimas kan ngasih juga untuk makan dan minum sehari-hari," tukasku tak terima.
Wajah ibu merah merona dan jengkel. Sepertinya dia tidak terima aku bilang pencuri.
"Berani sekali, kamu bilang ibu curi uangmu! Itu uang Dimas anakku! Paling kamu pake buat keperluan kamu sendiri kan!?" kata ibu tanpa rasa bersalah.
"Gimana sih ibu ini, kan Mas Dimas udah ngasih aku, jadi itu uang aku dong. Ibu kan sudah dapat jatah bulanan dari Mas Dimas juga," kataku tak mau kalah. Enak saja dia mau mengambil uang bulanan itu. Bisa saja aku kasih, toh aku juga punya penghasilan. Tapi aku tidak mau dan tidak suka caranya seperti itu.
"Halah, tadi katanya nggak masak, mending uangnya buat ibu beliin makanan buat kalian aja," hardik ibu sambil berlalu pergi.
Aku hanya geleng kepala melihat kelakuan mertuaku itu.
Akhirnya niat mandi dibatalkan, takut ibu datang lagi. Bukannya pelit, tapi lihat saja kelakuannya sudah sangat keterlaluan. Masuk kamar orang sembarangan dan mau mengambil uang yang bukan haknya. Akhirnya aku membersihkan rumah. Menyapu, mengepel dan mencuci pakaian, lalu mandi. Setelah membersikan diri, aku langsung ke toko Aina untuk menitipkan jajanan yang sudah kubuat tadi pagi.
Sesampainya di toko, Aina langsung menghampiriku padahal belum juga aku masuk.
"Nel, untung kamu cepat datangnya," kata Aina.
"Kenapa, Na?" tanyaku heran, apalagi wajahnya seperti tidak biasa.
"Tadi, banyak banget orang yang datang nanya jajanan ini, sampai bosan aku jawab bilang belum datang mbak, mas, dek," jawabnya sambil tertawa.
"Wah, makin banyak yang suka ya sama jajanan buatanku ini," ucapku pada Aina.
"Iya Nel, banyak yang suka, aku juga suka banget sama kue-kue buatan kamu ini. Tidak hanya aku, karyawanku di ruko ini juga sering jajan di sini tau," kata Aina.
"Makasih ya Na, udah mau direpotin," kataku sambil tersenyum.
"Santai aja kali. Oh iya Nel, orang yang menempati rukoku yang di sebelah mau pindah. Kalo kamu mau pake, pake saja dulu buat jualan di situ," saran Aina.
Memang dari awal aku sudah bilang ke Aina kalau aku mau membuka toko kue dan rencanya mau pake rukonya untuk berjualan, karena tempat yang stategis. Bukan hanya sekolah, tapi kantor-kantor juga banyak di dekat ruko ini. Aina memiliki beberapa ruko di daerah sini, sahabatku ini memang kaya, bukan hanya ruko dia juga punya kontrakan juga. Seharusnya, penghasilanku bagi dua dengan Aina, karena aku memakai toko untuk menitipkan daganganku, tapi selalu dia tolak dengan alasan 'duitku udah banyak'. Ada-ada aja sahabatku ini.
"Beneran Na? Info ya kalau udah kosong. Tapi Na, aku takut ngak diizinin sama Mas Dimas. Nitip jualan aja aku masih sembunyi-sembunyi dari dia," pungkasku.
"Kamu cari orang aja buat jagain. Nanti, kalau suamimu berangkat kerja, kamu ke sini untuk kontrol. Dan kalau udah jamnya suamimu pulang, baru dah kamu pulang," jelas Aina sambil menyodorkan uang hasil kemarin.
"Ya udah deh, nanti aku pikir-pikir lagi," jawabku sambil berdiri hendak pulang.
"Jangan lama pikir, keburu diambil orang," kata Aina.
"Iya-iya, aku pulang ya. Makasih, Na," kataku lalu berlalu pergi.
Aina hanya mengangguk dan melambaikan tangan.
Aku menyalakan mesin motor dan meninggalkan parkiran ruko Aina.
Aku melaju dengan kecepatan sedang. Karena matahari yang menyengat dan membuat tenggorokanku kering, akhirnya aku memutuskan untuk mampir di cafe sebentar. Cafe favoritku waktu masin bujang.
Aku memilih tempat di pojok kanan di dekat jendela. Setelah itu kupesan minum saat pelayan datang.
Beberapa menit kemudian pelayan datang dengan membawa pesananku. Aku menikmati jus jeruk kesukaanku dengan suasana cafe yang begitu kalem.
Sontak mataku, tertuju pada dua pasangan yang masuk ke dalam cafe ini. Kutajamkan penglihatan, dan ternyata itu Mas Dimas bersama wanita yang tidak aku kenal.
Apa itu teman Mas Dimas ya? Tapi kok mereka kelihatan mesra banget kek orang pacaran. Peganggan tangan, dan si cewek sandar-sandar di bahunya Mas Dimas.
Karena penasaran, aku pindah duduk agak dekat dengan dua pasangan itu agar bisa nguping.
Mereka lalu memesan makanan.
"Sayang, abis dari cafe kita ke mall ya, kan kamu udah janji," kata wanita itu dengan suara manja.
Apa? Sayang?!
"Iya dong, Sayang. Belanja apapun yang kamu mau. Aku kan baru abis gajian," jawab Mas Dimas enteng.
Fix, Mas Dimas selingkuh! Wanita itu pasti selingkuhannya!
"Beneran, Mas? Tapi istri kamu tahu nggak?" tanya wanita itu.
"Ya enggaklah. Dia itu istri bodoh, nggak akan mungkin tahu. Dia aja nggak tahu gajiku berapa. Yang dia tahu aku setiap bulan ngasih uang bulanan tak seberapa," kata Mas Dimas enteng.
Deg!
Tega banget Mas Dimas ngomong begitu!
Seketika rasa benci dalam diri mulai bergejolak. Karena tak tahan, aku pun pergi dari cafe ini. Sebelumnya, aku memangil pelayan untuk membayar minuman tadi. Sebelum aku pergi tak lupa aku foto kelakuan da*jal Mas Dimas dan wanita itu.
BERSAMBUNG
Dalam perjalanan pulang, aku masih tidak habis pikir tentang apa yang aku lihat tadi. Tega sekali Mas Dimas, bisa-bisanya main api di belakangku!
Tidak hanya itu, dia juga tega memberi aku nafkah yang tak seberapa ini, sedangkan dengan selingkuhannya dia sangat royal. Dasar suami jahat!
Aku tidak boleh kalah darinya. Oh, bukan! Bukan berarti aku harus selingkuh, tapi aku balas dengan kesuksesanku.
'Aku akan buat kamu menyesal, Mas!'
Dia pikir aku istri bodoh yang nggak bisa sukses? Kita lihat saja!
Aku langsung menghubungi Aina untuk mengambil ruko yang tadi dia tawarkan. Kata Aina, besok sudah bisa masuk karena tadi penghuni ruko itu sudah keluar lebih cepat.
Baguslah. Aku akan menjalankan rencanaku!
***
Dritt
Dritt
Dritt
Gawaiku bunyi. Ternyata mas Dimas yang menelpon.
"Hallo mas, ada apa?" kataku lebih dulu.
"Hallo Nel, hari ini mas lembur, kemungkinan pulang larut atau bisa jadi gak pulang. kamu makan dan tidur sendiri aja ya," kata mas Dimas diujung sana.
lembur? lembur yang dimaksut lembur bareng selingkuhan mu? kamu pikir aku tidakk tahu kelakuan D a j a l mu itu? malas sekali aku menagkapi ucapannya ini, rasanya aku sudah malas dengannya, bukan hanya nafkah bulanan yang pas-pasan saja, tapi kelakuan nya yang tidak beradab itu.
kesalahan lain bisa di ampuni, tapi tidak untuk perselingkuan!, karena perselingkuhan itu tidak dibenarkan.
"Oke." jawabku singkat
"Kok cuma oke, dek? biasanya kamu selalu ngomel kalau mas lembur," hardik mas Dimas, Yang aku pastikan dirinya sedang mengerut kening.
"Kalau aku komentar, larang kamu lembur, emang kamu nurut?" tanya ku.
"Ngak juga sih, soalnya ini penting banget ngak bisa mas tinggalkan nanti bos mas marah, dan mas ngak dapat gaji deh," celutuk Mas Dimas.
Penipu kau mas, pake bawa-bawa nama bos mu segala.
"Yaudah, lanjut aja kerjanya," jawabku sambil menutup telepon.
Biarkan dia ngak pulang agar, aku lebih leluasa membuat kue untuk besok, toh besok juga aku mau membuka tokoh kueku sendiri.
******
Pagi- pagi sekali, seperti biasa aku bangun menyiapkan jualan. Penghasilanku selama jualan kue semakin hari semakin meningkat. Setelah selesai aku melanjutkan aktiviktas sebagaimana mestinya: masak, sapu rumah, ngepel dan nyuci pakaian.
Tiba-tiba aku mendengar bunyi motor mas Dimas di halaman depan.
'Pasti Mas Dimas sudah pulang' batinku.
Ku lirik jam dinding di rumah menunjukan pukul tujuh tiga puluh, ku dengar langka kaki mas Dimas memasuki rumah.
"Dek mas pulang," panggilnya.
Aku berpura-pura tidak mendengarkan, masi malas aku melihat wajahnya.
"Mas udah pulang?" Aku sengaja bertanya saat mas Dimas berada dimeja makan hendak minun air.
"Iya." jawabnya singkat
"Aku pikir gak pulang lagi," sindirku yang masi sibuk masak.
"Apa makustmu?" tanya mas Dimas binggung.
"Gak maksut apa-apa, aku kira mas langsung kantor ngak pulang ke rumah," jelasku.
Mas Dimas hanya mengangguk dengan wajah tidak suka, dan menuju kamar mandi hendak membersikan diri. Aku pikir dirinya peka tapi ternyata tidak.
Beberapa saat setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan menuju kamar. Aku masi sibuk di dapur memasak. setelah selesai memasak, aku memanggil suamiku itu untuk sarapan. Walaupun dia begitu tapi tetap aku harus menyiapkan makanan untuknya bagimanapun dia masi status sebagai suamiku.
"Mas makan dulu," Teriak ku dari dapur.
Tidak lama, mas Dimas keluar dari kamar sudah rapi sekali, Seperti mau ke kantor.
"Ngantor mas?" tanya ku dengan raut wajah binggung. Bukanya kalo setiap kali dia lembur di kantor dan pulang pagi, biasanya libur?
"Ya iyalah, pertanyaan macam apa ini." jawabnya sambil duduk dan menyantap sarapan Nasi goreng kesukaaan nya. dulu waktu masi awal- awal pernikahan mas Dimas, paling suka masakan ku ya nasi Goreng ini jadinya setiap pagi dia menyuruku membuat nasi goreng entah itu toping telur, ayam, udang, dll.
"Kan semalam mas udah lembur, masa pagi ini ke Kantor lagi," kataku.
"Lembur apa nya?kerjaan lagi biasa-biasa aja." ucapnya keceplosan tidak sadar dengan apa yang sudah ia katakan.
"Bukanya kemarin malam mas nelpon aku, bilang lembur?" tanya ku penuh selidik.
Rasaiin lu keceplosan kan.
Mas Dimas salah tingkah, wajahnya merah merona.
"Ehh ma- maksut mas, bukan gitu emang kemarin lembur tapi kerjaanya gak terlalu berat,"
Halah, dasar Suami d a j a l! dia pikir aku percaya?
"Kalo lembur, bilang lembur mas jangan berkeliaran cari mangsa." celutuku pelan tapi ku pastikan dia mendengar.
"Apa maksutmu itu Nel ?" tanya nya dengan nada jengkel.
"Ngak." jawabku acuh.
"Kamu pikir aku bohong, ngak lembur? pagi- pagi udah bikin suami ngak mood! aku udah kenyang!" katanya dan berjalan pergi tanpa pamitan kepadaku.
Baiklah, kita lihat saja sampai mana kamu berbohong mas. Aku membereskan meja makan dan bergegas menyiapkan diri ke ruko Aina tak sabar untuk berjualan.
Ting..
pesan masuk diaplikasi hijauku.
[Nela, entar siang kalo ada waktu ke butik ya mbak ada job buat kamu].
pesan dari mbak Fika, pemilik butik tempat biasa aku desainer.
[oke mbak].
Gegas aku meyiapkan diri dan pergi ke ruko dan lanjut ke butik.
*******
B E R S A M B U N G....