Laura berusaha membuka matanya dengan sekuat tenaga dan mencoba menghentikan kekacauan ini yang di sebabkan kegilaan Gabriel sang sepupu.
Bagaimana nanti jika Om dan Tantenya menemukannya dalam keadaan seperti ini?
'Aku tidak akan membiarkan kegilaan ini terjadi!' gumam Laura dalam hati.
Sejujurnya saja Laura merasa sangat takut saat ini, tapi Laura berusaha agar dirinya sadar dan melawan Gabriel untuk kabur dari sini dengan segera.
Ntah apa yang mungkin Om dan Tantenya pikirkan tentang dirinya saat ini jika mereka melihat keadaannya, pasti mereka akan sangat malu dan kecewa.
Lalu, si pria gila ini?
Pasti dalam hati Laura saat ini, ia sudah memaki habis Gabriel. Sepupu tunggalnya ini ternyata sudah benar-benar gila!
Gabriel melihat ke wajah Laura dengan sangat fokus dan mulai berjalan mendekatinya yang saat ini sedang terbaring lemah akibat pengaruh obat yang Gabriel campurkan ke dalam gelas Laura tadi.
Gaun Laura yang sedikit tersingkap itu membuat paha putih mulusnya sedikit terekspos, di tambah dengan belaian angin malam yang memanjakan hingga membuat Laura semakin merinding.
Gabriel yang menyadari Laura yang terlihat sedang berusaha tersadar itu semakin membuat hasratnya semakin tersulut.
Dalam hitungan menit, Laura sudah bisa membuka matanya, sampai tahap itu Gabriel belum menunjukan tanda-tanda apapun juga.
Ntah apa sebenarnya maksudnya dengan bertingkah seperti ini.
Padahal Gabriel adalah seorang pewaris Wijaya's Group yang sangat terkenal se asia, banyak gadis yang akan memohon bahkan rela untuk di jadikan sebagai pemuas nafsu semalam tanpa status apapun.
Tapi sampai saat ini, hati dan pikiran Gabriel tidak bisa lepas dari Laura, sang sepupu yang sudah tinggal bersama keluarganya sejak umur 9 tahun.
Gabriel bahkan berani menentang Rafa dan juga Nayla sebagai orang tuanya dan memaksa mereka agar menjodohkan Laura dengan dirinya walaupun harus berakhir dengan penolakan semua orang, termasuk Laura.
Tentu saja ini tidak masuk akal bagi Laura, setelah mengetahui perasaan Gabriel yang menunjukan kasih sayang dengan cara yang berbeda kepadanya. Bukan kasih sayang sebagai kakak dan adik, melainkan sebagai seorang pria kepada wanita dan inilah yang membuat perasaan Laura menjadi tidak nyaman dan memutuskan untuk mulai menjauhinya.
"Ohh, Lauraku mau bangun ya?" ujar Gabriel mendekati Laura.
"Tidak apa-apa, jangan takut ... Aku tidak akan melukaimu jika kamu bisa nurut dengan ucapanku." Gabriel duduk di pinggir ranjang dan menatap wajah Laura yang ketakutan dan juga jijik.
"Kak ... " lirih Laura dengan tatapan memohon.
"Aku bukan kakakamu Laura, jangan memanggilku seperti itu! Dan jangan menatapku dengan tatapan seperti itu juga! Apa kamu paham?" Kesal Gabriel yang tiba-tiba mencengkram kedua bahu Laura dengan tenaga yang cukup kuat.
"Kak Briel! Sadar! Aku ini adik kamu! Tolong lepaskan aku!" Bentak Laura dengan mengumpulkan sisa keberaniannya.
"Tidak, kita tidak punya hubungan darah, sayang. Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu lagi padaku. Aku tidak akan membiarkanmu menjauh dariku walau hanya selangkah." Tegas Gabriel yang menahan amarahnya dengan mengepal erat tinjunya.
"Apa sebenarnya salahku? Kenapa kamu membuat hidupku menjadi kacau seperti ini? Hiks ... Hiks ... " Tiara berbicara sampai terisak karena merasa tertekan dan juga sangat ketakutan.
"Stttt kenapa kamu menangis, sayang? Tetaplah berada di sisiku, ya? Jangan tinggalkan aku," ujar Gabriel yang hendak memeluk Laura namun Laura berusaha menghindarinya hingga membuatnya semakin marah.
"Tidak, tolong menjauh dariku! Jangan dekati aku!" Bentak Laura secara spontan.
Laura berusaha melihat sekelilingnya dengan maksud mencari jalan keluar dari tempat ini, dan gerakan Laura ini telah diketahui oleh Gabriel yang memang sebenarnya sangatlah pintar.
"Laura! Jangan menguji kesabaranku! Jangan membuatku terpaksa mengurungmu disini! Aku tidak akan perduli jika kamu bahkan membenciku nanti! Kamu akan menyesali tindakanmu ini, Laura!" Bentak Gabriel saat Laura mendorongnya dan berusaha kabur dari kamarnya.
Gabriel yang sudah mulai tersulut tidak bisa berfikir dengan jernih lagi, Gabriel langsung mengejar Laura yang hampir lolos dari apartemennya dan menangkapnya.
"Aaaahhhh ... Tolong! Lepaskan aku!" Teriak Laura memecah keheningan malam namun tak bisa menembus dinding yang ternyata kedap udara itu.
"Sudah aku katakan sebelumnya untuk jangan membuatku kesal, 'kan Laura? Sepertinya kamu harus benar-benar aku bungkam dahulu baru bisa diam!"
"Aku mohon, maafkan aku. Tolong lepaskan aku!"
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu!" Ujar Gabriel yang menggendong paksa Laura yang memang masih lemas karena pengaruh obatnya dan melemparnya dengan kasar ke atas ranjang hingga membuatnya terpental dan membuat gaunnya sedikit tersingkap dan berserakan.
Brukkk ....
Tanpa memberi jeda, Gabriel langsung mengunci posisi Laura dengan memegang kedua tangan Laura dan meletakkannya di atas kepala Laura dengan satu tangan sedang satu tangan lagi mencengkram dagu Laura dengan sangat kasar.
Laura terus memberontak sekuat tenaga walau hasilnya Laura harus kalah tenaga dengan Gabriel.
Nafas kedua orang ini terlihat saling memburu, yang satu dengan nafsu dan yang lain dengan perlawanan.
"Kak Briel, tolong sadarlah! Ingat Om dan Tante, pasti mereka akan sangat kecewa pada kita," ujar Laura kemudian berharap Gabriel akan berhenti.
"Aku tidak perduli! Biar saja jika mereka melihat kita, bukankah akan bagus jika mereka sendiri yang melihatnya? Setidaknya mungkin mereka akan menikahkan kita," ujar Gabriel tak perduli.
"Kamu tidak perduli, tapi aku perduli! Tolong lepaskan aku! Aku tidak sudi melihatmu lebih lama lagi!" Bentak Laura yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.
Gabriel yang mendidih itu pun dengan bringas mencium paksa Laura di seluruh wajahnya, dari mulai dahi, kelopak mata, pipi dan berakhir di bibir.
Laura menolak Gabriel dengan menggerakkan kepalanya agar menjauh dari wajah Gabriel. Tapi Gabriel dengan satu lengan kekarnya saja mampu mengunci pergerakan Laura.
Dengan tatapan dan senyuman yang sangat mengerikan itu, Gabriel mencoba mencium paksa bibir original Laura yang berwarna pink muda dan terlihat kenyal.
Namun lagi dan lagi Laura menutup rapat bibirnya hingga tidak memberikan Gabriel celah sedikitpun. Tak menyerah sampai disitu, Gabriel yang tidak ingin menerima kekalahan dengan sengaja menggigit bibir bawah Laura hingga dengan spontan Laura membuka mulutnya, dan pada kesempatan itulah Gabriel dengan Kecepatan kilat menyambar dan melumat benda kenyal, hangat nan manis itu dengan serakahnya.
"Tolong ... Hen ... Hentikan ... Aku tidak bisa bernafas ... " Ujar Laura yang merasa pengap.
Untuk sementara Gabriel melepaskan panggutannya untuk memberikan Laura waktu untuk menetralkan nafasnya dan berniat untuk melanjutkannya lagi.
Mata Gabriel telah di penuhi kabut gairah yang luar biasa hingga tidak bisa melihat apa yang sedang ia lakukan ini adalah sebuah tindak kejahatan.
Gabriel bahkan sudah tidak mampu lagi untuk mengontrol diri!
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah Gabriel akan melanjutkan aksinya atau mengalah untuk melepaskan Laura?
Laura berusaha memikirkan cara agar bisa lolos dari Gabriel dan secepatnya bisa meninggalkannya, meninggalkan semua tentangnya!
"Kak, Laura haus. Boleh minta air ga?" Tanya Laura yang tiba-tiba mendapat ide untuk mengelabuhi Gabriel.
"Hmm? Air? Kamu ingin air? Aku akan mengambilkannya untukmu. Jangan berniat untuk mencoba kabur dariku, Laura. Atau aku akan mengikatmu," bisik Gabriel dengan nafas hangat yang memburu hingga membuat Laura merinding.
"Tidak, aku tidak akan." Jawab Laura yang panik dan berusaha menghindari tatapan tajam Gabriel.
"Duduk yang tenang di sini, jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali," sahut Gabriel lagi menatap Laura dengan penuh tanya dan curiga.
"Hmm," sahut Laura.
Begitu Gabriel keluar dari kamar dan hendak pergi untuk mengambil air, Laura sengaja mengintip dari pintu kamar yang tidak tertutup dengan rapat itu untuk mengawasi keadaan.
"Sepertinya aman," gumam Laura berjalan jinjit hingga sampai di ruang tamu apartemen dan di saat itu lah Gabriel keluar dengan membawa gelas yang berisi air untuk di berikan pada Laura.
"Sudah ku duga!" Sahut Gabriel tiba-tiba dari belakang Laura hingga membuat Laura terlonjak kaget.dan berbalik.
"Kak ... Kak Briel ... " Gumam Laura takut.
Perlahan Laura berjalan mundur untuk bisa mencapai pintu masuk apartemen Gabriel yang sudah terkunci otomastis.
Gabriel semakin berjalan mendekati Laura dengan seringai tajam bak seorang psyco. Kemudian Gabriel mengguyur tubuh dan pakaian Laura dengan air yang ia bawa.
Byur ...
"Ahh, dingin." Pekik Laura yang kedinginan dan juga ketakutan.
"Jangan mendekat! Aku bilang ... " Teriak Laura sembari menghindari Gabriel yang mulai memojokkannya. Namun ucapannya terhenti saat Gabriel menjambak rambut Laura hingga Laura terjatuh di pelukannya.
"Sudah cukup main-mainnya? Hah? Sudah aku katakan untuk jangan membuatku marah, Laura!" Bentak Gabriel memeluk paksa Tiara dengan sekuat tenaga.
"Dasar gila! Kau benar-benar gila! Lepaskan aku, atau aku akan melaporkanmu ke polisi!" Ancam Laura yang sudah tidak punya pilihan lain.
Tiara sepertinya tidak pernah lelah untuk memberontak!
Gabriel menggendong Laura masuk ke dalam kamarnya dan kemudian mengunci pintu kamarnya dengan menggunakan sidik jarinya. Setelahnya Gabriel mengobrak-abrik laci nakasnya dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengikat Laura.
Gabriel benar-benar sudah gila! Atau kesurupan?
Gabriel menemukan sebuah dasi hitam yang biasa ia gunakan dan mengikat kedua tangan Laura hingga menyantu dan mengacuhkan suara tangis Laura.
Sejurus kemudian, Gabriel mulai merobek pakaian Laura bagian atas dan membuat bagian dada Laura terekspos secara jelas.
Mata Gabriel seperti mata binatang yang kelaparan saat menatap tubuh indah milik Laura yang saat ini masih berusia 21 tahun itu.
Tanpa banyak bicara, Gabriel melahab benda kenyal dengan toping di bagian puncak itu dengan sangat rakus.
Laura menangis sejadi-jadinya saat Gabriel mulai melanjutkan aksinya. Laura tidak bisa memberontak lagi kedua tangannya sudah terikat.
Gabriel tidak menghiraukan tangisan sendu Laura dan malah melanjutkan aksinya dengan hal yang lebih berbahaya.
Salah satu tangan Gabriel yang nakal mulai menjamah sesuatu yang sangat sensitif dari dalam tubuh Laura. Saat hasratnya sudah berada di puncak, Gabriel membuka pakaian Laura dengan cara merobeknya.
Laura semakin ketakutan tapi bahkan dirinya saat ini sudah mulai lemas dan Laura hanya bisa pasrah saat Gabriel yang sudah melucuti pakaiannya, mulai mengacaukan gua lembab dan lengketnya hanya dengan menggunakan 3 jari kanannya.
"Sabar sayang, ini baru pemanasan ... " Bisik Gabriel yang semakin sensual tepat di telinga Laura.
Laura membungkam mulutnya agar mulutnya tidak mengeluarkan suara aneh dari hasil respon tubuhnya.
"Kak ... Aku mohon ... Lepaskan aku ... " lirih Laura yang sudah mulai terbata-bata.
"Lihatlah sayang, mulutmu mengatakan ingin lepas tapi sayangnya tubuhmu meresponku."
Tanpa basa-basi dan enggan menunggu waktu yang lama, Gabriel mulai mengeluarkan senjatanya yang sudah mengeras dan berdiri tegak dan mencoba membobol hingga menebus gua gelap milik Laura.
Pada hentakkan ketiga, Gabriel benar-benar lolos dan mulai bersemayam tidak lupa membuat jejak di sana.
Air mata yang sedari tadi menetes sudah seperti hujaman air terjun yang deras.
"Ahh ... Sakit ... " Pekik Laura kesakitan dan berusaha memukul Gabriel saat Gabriel memulai temponya.
"Ini hanya sebentar sayang, tahan ya." Balas Gabriel yang kemudian melumat bibir Laura untuk mengurangi rasa sakit di bagian intinya.
Tak ada kata-kata yang bisa Laura katakan saat ini! Laura sudah kotor!
Di tempat lain, semua orang mencari keberadaan Laura yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak seperti di telan bumi. Padahal mereka baru saja meninggalkan Laura di meja beberapa saat lalu.
Siska dan Cinta juga sudah berusaha menghubungi nomor ponsel Laura berkali-kali. Namun Laura meninggalkan tasnya di kursi yang ia duduki sebelumnya.
Frans sang kekasih bayangan Laura juga tak kalah paniknya, Frans mengajak beberapa temannya untuk mencari Laura di sekitar Caffe berharap mereka dapat menemukannya.
"Laura! Laura! Kamu dimana!" Teriak mereka berjalan menyusuri sekitar Caffe.
"Sis, gimana nih kalo Om Rafa sama Tante Nayla nanyain kita? Bisa bahaya! Apa yang harus kita jawab?" Panik Cinta yang berjalan mondar-mandir.
"Aku juga bingung banget ini. Matilah kita kalau Laura benar-benar diculik," sahut Siska mengusap kasar wajahnya.
Seharusnya Caffe sudah tutup pada jam 12 malam ini, namun karena harus mencari Laura yang juga hilang dari dalam Caffe, para pegawai juga harus ikut turun tangan langsung mencari Laura.
Tidak hanya mereka, bahkan Nayla sang Tante juga tak kalah gelisah karena Laura juga belum pulang ke rumah. Padahal Laura mengatakan kalau mereka selesai pesta sebelum jam 12 malam.
Tapi saat ini bahkan sudah lebih dari jam 12 malam. Nayla menghubungi nomor ponsel Laura berkali-kali, namun Laura juga tidak bisa menjawabnya karena saat ini dirinya sedang berada dalam rumah tahanan Gabriel dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Laura tak henti-hentinya menangis bahkan saat Gabriel sudah menyelesaikannya pertempurannya.
Ini seperti mimpi buruk bagi Laura! Mimpi yang benar-benar nyata dan benar-benar menyakitkan.
Nayla terus merengek kepada Rafa agar mereka menyusul Laura ke tempat party Laura dan teman-temannya.
Rafa juga sudah mengirimkan beberapa orangnya untuk mencari dan menyelidiki Laura
"Sabar sayang, coba tenangkan dirimu. Kita tunggu sebentar lagi, kalau belum ada kabar juga kita terpaksa melapor orang hilang pada polisi," ujar Rafa menenangkan istrinya yang sedang panik itu.
"Mau sabar gimana lagi coba? Ini uda larut malam, tapi Laura bahkan tidak bisa di hubungi. Mana nomor teman-temannya juga gak ada. Aku takut kalau terjadi sesuatu pada Laura. Firasatku sangat tidak enak terhadap Laura." ujar Nayla menahan tangis.
"Sayang, aku yakin kok kalau Laura gak akan kenapa-kenapa. Dia perempuan tangguh, dia juga pintar. Dia pasti bisa menjaga diri," sahut Rafa lagi