Bab 2

"Neni ...!" gumamku dengan bibir dan tangan gemetar.

"Benarkah ini Neni?"

Aku meyakinkan diriku sendiri dengan mengamati fto itu.

Keyakinanku benar, fto yang ada di profil itu Neni.

Tanpa berpikir panjang chat segera aku buka.

MAS JAM BERAPA KITA BERANGKAT. AKU SUDAH PULANG DARI ARISAN.

Degg, jantungku seolah berhenti berdetak, tubuhku gemetar pandanganku berkunang- kunang. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Emosiku meluap bak ruap bir.

Ponsel Mas Bram aku letakkan kembali di atas meja. Aku diam sesaat menenangkan hati dan jiwaku.

Setelah menyatu kembali, emosiku kembali bereaksi.

Dengan cepat aku berdiri, melangkah mendekati pintu kamar mandi. Rasanya ingin mendobrak pintu kamar mandi untuk menghajar Mas Bram dan menanyakan ada hubungan apa dengan Neni.

Aku mengambil nafas panjang. Dan kuhempaskan perlahan.

"Ya Allah, kuatkan aku Ya Allah." Aku menyandarkan tubuhku ke dinding dekat pintu kamar mandi.

Mulutku terus menyebut nama Allah. Hingga aku tersadar dan mengurungkan niatku untuk mendobrak kamar mandi.

Aku tak mungkin melakukan itu. Aku berpikir perbuatanku tak akan menyelesaikan semuanya.

Aku kembali melangkah keluar kamar. Membiarkan ponsel Mas Bram terus berbunyi. Aku malas membuka ponsel itu, yang pasti  membuat hatiku sakit.

Yang penting buatku, aku sudah tau ternyata Mas Bram sudah tak jujur padaku, ia sudah mengkhianati aku.

Dan hari ini juga kepercayaanku sama Mas Bram mulai luntur.

Aku melangkah menuju ruang tamu, kuhempaskan tubuhku di atas sofa panjang dan kusandarkan kepalaku di sandaran sofa.

Pikiranku kembali pada kalimat Neni yang ada di ponsel Mas Bram. Aku baru paham kenapa sampai Neni tidak mengundangku dalam acara pernikahan. Ternyata suamiku sendiri pengantin laki- lakinya.

Rasanya aku ingin menjerit, dan mengusir suamiku. Tapi lagi-lagi suara hatiku mengatakan, "sabar ... Sabar dulu Kinan, kamu harus rebut dulu aset yang sudah kamu berikan pada suamimu Bram, baru kau berbuat apa yang kau mau?"

Aku tersadar lagi dengan bisikan batinku. Namun air mataku yang tak bisa aku bohongi.

"Say ...!" Terdengar suara Mas Bram memanggilku dari ruang keluarga.

Aku dengan cepat mengusap air mataku.

"Ya, aku di sini, ada apa?" jawabku dingin tanpa beranjak dari sofa. Sepertinya aku malas untuk menemui Mas Bram yang hendak pergi sama Neni.

Aku berusaha untuk pura-pura tak tau tentang perselingkuhan itu. Dan aku harus bermain sandiwara di depan Mas Bram.

Mas Bram sudah berdiri di sampingku dengan pakaian rapi. Tercium aroma parfum yang sangat harum pada pakaian Mas Bram.

Aku mendongakkan kepalaku. Menatap Mas Bram yang sudah dua belas tahun menikahiku.

Rasa cemburu berkecamuk dalam hatiku. Rasanya aku ingin menarik pakaian Mas Bram dan mengatakan tentang tulisan yang aku baca barusan dari Neni.

Namun lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa- apa. Aku kembali meredam emosiku.

"Mas boleh aku menemanimu ke Singapura. Bukankah selama pernikahan kita kamu tak pernah mengajak aku ke Singapura?" sengaja aku memancing dengan menyebut pernikahan.

Mas Bram seperti kaget mendengar ucapanku. Namun bukan Mas Bram kalau tidak bisa membuat sejuta alasan.

"Sayang, ini bukan liburan! Ini urusan perusahaan. Kalau kamu ingin berlibur ke sana. Bulan depan insya Allah kamu aku ajak jalan-jalan ke sana." ucap Mas Bram lembut, selembut aroma parfum yang dipakainya.

Aku hanya diam tanpa bereaksi. Hingga Mas Bram membungkukkan tubuhnya dan mencium ke dua pipiku.

"Sudah ya, jaga diri baik-baik, dan jangan lupa jaga Jenar."

Aku tak merespon kata- kata Mas Bram. Aku berdiri dan melangkah pergi masuk ke dalam rumah tanpa mengikuti Mas Bram sampai ke mobil. Hingga terdengar deru mobil Mas Bram meninggalkan halaman rumah.

Entah rasa cemburu tak bisa aku kendalikan. Dengan cepat aku meraih kunci mobilku. Dan keluar rumah setelah pamit sama Bibi Nur pembantuku untuk menitipkan Jenar.

Perlahan mobil yang aku kendarai keluar halaman rumahku untuk membuntuti mobil Mas Bram.

Mobil aku pacu dengan kecepatan tinggi agar bisa mengejar mobil Mas Bram.

Tampak mobil Mas Bram di depanku berjalan pelan. Aku sedikit agak lega bisa di belakang mobil Mas Bram.

Dalam hatiku semoga Mas Bram tidak melihat mobilku. Tapi aku yakin Mas Bram tak melihat mobilku.

Rasa sakit sudah dikhianati bertahun-tahun. Terlintas kata-kata Nita yang mengatakan anak Neni itu bukan anak suaminya yang sudah meninggal. Itu anak hasil selingkuh sama suami yang ke dua. Berarti Neni sebelum suaminya meninggal sudah punya hubungan khusus dengan Mas Bram.

Sebelum pernikahan itu, Neni sering ke rumahku, ia sering curhat tentang suaminya yang tidak bisa mencukupi kebutuhan ekonominya semenjak ia di PHK dari perusahaannya.

Aku merasa kasihan dan sedikit banyak Neni sering aku beri uang sekedar untuk membeli susu dan pempers anaknya. Malahan ia aku tawari agar suaminya bekerja di perusahaanku. Namun Neni menolaknya dengan berbagai alasan hingga ajal menjemput suaminya.

Pernah suatu ketika Neni menghubungi aku dan mengatakan kalau dirinya tak punya uang untuk membayar arisan. Aku yang merasa Neni adalah teman juga aku anggap saudara, aku beri uang untuk membayarnya.

Tak tau dibalik semua itu ternyata Neni dan Mas Bram punya hubungan istimewa.

"Bodohnya aku ...!" keluhku.

Otakku mulai terbayang saat Mas Bram sudah berada di rumah Neni, dengan tiba-tiba aku muncul di rumahnya berpura-pura datang sebab waktu Neni nikah aku tak bisa hadir. Aku tersenyum perih saat membayangkan semua itu.

Pandanganku kembali fokus ke mobil Mas Bram. Aku tersentak kala melihat lampu rambu lalu lintas  berwarna merah. Aku menghentikan mobilku. Namun mobil Mas Bram berjalan terus meninggalkan aku.

"Sialan ...! Aku terlambat." Aku gusar dan kupukul stir mobil berkali-kali.

Gara-gara lampu merah yang membuat mobilku tertinggal jauh dengan mobil Mas Bram. Aku kehilangan mobil Mas Bram.

Namun aku tak kehabisan akal. Aku berencana langsung ke rumah Neni, aku tak perduli apa yang bakal terjadi.

Lampu hijau mulai menyala. Mobil aku pacu menuju rumah Neni yang mana sebelumnya aku pernah ke sana waktu acara arisan.

Butuh waktu tiga puluh menit. Mobilku sudah memasuki kawasan perumahan dimana Neni tinggal.

Sengaja mobil kuparkir agak jauh dari rumah Neni, agar Neni dan suamiku tak melihatku

Aku mempercepat langkahku agar tak ketinggalan keberangkatan suamiku dan Neni.

Kuhentikan langkahku tepat didepan rumah Neni.

Daun-daun kering berserakan di halaman rumah.

Aku diam terpaku, menatap  pintu pagar bercat hitam tergembok rapi.

"Sepi ...?!" gumamku dengan mata memandang ke setiap sudut rumah Neni.

"Ibu mencari siapa?"

Aku tersentak, dengan cepat aku menengok ke arah suara itu.

Berdiri seorang wanita paruh baya menatapku.

Aku gugup, mencoba tersenyum ramah pada Ibu yang ada di depanku.

"Saya mencari Bu Neni. Tapi rumahnya kok sepi?"

Wanita itu tersenyum dan menjelaskan kalau Bu Neni sudah tidak tinggal di sini setelah menikah.

Aku kaget, mendengar penjelasan dari wanita yang ternyata tetangga sebelah rumah Neni. Wanita itu memperkenalkan diri.

"Panggil saja saya Bu Darma saya ketua RW di kampung ini." Wanita itu menyodorkan tangannya ke arahku.

"Saya Kinanti Bu, panggil saja saya Kinan." ucapku dengan tersenyum.

Sengaja aku tidak segera pergi, kesempatanku ingin tau tentang Neni dari Bu Darma.

"Apakah ibu tau? Dimana Bu Neni tinggal sekarang?"

Bu Darma hanya menggelengkan kepala. "Yang saya ketahui Bu Neni sudah pindah di rumah barunya."

Degg ... Jantungku seolah berhenti berdetak. Tubuhku menjadi lemas. Aku menghela nafas dalam- dalam untuk menenangkan hati dan pikiranku. Tapi aku mencoba tenang mendengarkan cerita Bu Darma.

"Dua hari yang lalu bu Neni menikah. Setelah menikah ia langsung di boyong sama suaminya di rumah barunya?" lanjut bu Darma. "Apa Jeng Kinan masih saudara Jeng Neni?"

Dengan cepat aku menganggukkan kepala.

Agar Bu Darma tak curiga, aku membohongi dengan mengaku kalau aku kakaknya Neni. Beruntung Bu Darma percaya begitu saja.

"Boleh saya minta informasi tentang Neni, Bu?'

Bu Darma tampak senang, dan mempersilahkan aku untuk singgah sebentar di rumahnya.

Dengan sangat gembira aku menerima tawaran Bu Darma. Bu Darma menceritakan banyak tentang Neni.

"Sebenarnya saya sungkan hendak mengatakan sama Jeng Kinan. Tapi Jeng Kinan harus tau. Sebab Jeng Kinan kan kakak Jeng Neni.

"Ceritakan saja Bu, Nggak apa-apa kok," jawabku penasaran.

Bersambung.

Bab 3

Namun, tiba- tiba Bu Darma berheti bicara. Ia tampak ragu, lama ia menjawab. Namun aku  mendesak terus, agar Bu Darma menceritakannya.

Bu Darma bercerita menurut pengakuan Neni sendiri sebelum suaminya yang dahulu meninggal mempunyai hutang pada Tuan Smith.

Aku kaget saat Bu Darma menyebut nama Tuan Smith. Dengan cepat aku memotong ucapan Bu Darma.

"Tuan Smith?" tanyaku agak bingung. "Siapa Tuan Smith?"

Bu Darma memandangku tajam. Dan ia langsung menjelaskan kalau Tuan Smith suami Neni. Ia seorang pengusaha muda yang kaya raya. Duda tanpa anak, ia menginginkan anak dari Neni. Dari Tuan Smith lah hutang suami Neni terlunasi.

Aku lebih kaget saat Bu Darma bicara soal hutang.

"Hutang ...?!" aku terperanjat kaget. Apalagi Bu Darma menyebut nama Smith.

Nama Smith itu nama Papaku yang sudah meninggal. Nama panjangnya Hans Smith. Berkebangsaan Swiss. Mamaku bernama Citra Lestari orang Jogjakarta. Orang kebanyakan memanggil Mamaku dengan sebutan Bu Citra.

Mamaku pengusaha batik yang sukses. Dan Papaku pengusaha properti serta mempunyai pabrik tekstil yang terkenal di negeri ini dengan berbagai cabang di luar negri.

Semenjak Papaku meninggal, aku anak satu-satunya yang harus menggantikan mengelola usaha Papaku. Untuk usaha Mamaku tetap dikelola Mamaku sendiri.

Aku yang merasa sendirian begitu kalang kabut mengelolanya. Mas Bramasta sebagai tangan kanan papaku waktu itu berusaha membantuku dengan mendorong agar usaha Papaku jangan sampai gulung tikar sebab ditinggal Papaku.

Dengan seringnya kami bertemu, aku jatuh cinta sama Mas Bram, begitu juga Mas Bram.

Akhirnya aku menikah dengan Mas Bram yang mana sebenarnya Mama tak begitu merestui.

Lama- lama Mama menyerah dengan tekatku, serta merestui pernikahanku hingga dikaruniai anak laki-laki satu yaitu Jenar Putra Bramasta.

"Lho, apa keluarga Jeng Kinan waktu pernikahan  Jeng Neni tidak datang. Pernikahannya baru dua hari ini lho Jeng!"

Aku menjawab dengan menggelengkan kepala.

"Sudah lama adik saya ada masalah sama keluarga Bu," aku membela diri dengan kebohongan.

Dalam hatiku sangat yakin laki-laki yang bernama Smith itu Mas Bram, ia menyamar memakai nama Papaku.

Ia menikahi Neni sebab hutang.

Dan yang lebih membuat hatiku hancur berkeping-keping. Mas Bram mengaku kalau dirinya Duda tanpa anak pada warga perumahan ini.

Aku berdiri dan mohon pamit dengan mengucap banyak terima kasih dengan informasinya. Dan aku meminta Bu Darma kalau ada informasi tentang Neni aku menyuruh agar Bu Darma berkenan memberitau aku.

Aku menyodorkan nomor ponselku. Bu Darma mengangguk pelan. Dengan mencatat nomor ponselku.

Aku keluar dari rumah Bu Darma menuju mobilku. Pikiranku semakin tak karu-karuan. Sejuta pertanyaan terus bergelayut dalam otakku.

"Jadi suami Neni sebelum meninggal punya hutang Mas Bram? Kenapa Mas Bram tidak memberi tahu aku?"

Aku tak bisa berpikir lagi. Kupacu mobilku menuju rumah Mamaku untuk berbagi kesedihan.

Rasanya aku ingin menangis  meminta maaf pada Mamaku ternyata benar apa yang dikatakan Mama pilihanku salah.

Kebetulan Mamaku masih berada di Jakarta. Belum berangkat ke Jogjakarta untuk mengontrol perusahaannya.

Namun apa yang terjadi dengan Mamaku. Mamaku malah menyalahkan aku.

"Kamu nggak usah menyalahkan suamimu, Kinan? Bram sudah menjadi pilihan terbaik kamu. Salahkan dirimu sendiri, sebab kamu sudah terlalu percaya sama Bram dibanding Mama."

Sungguh aku kecewa dengan perkataan Mamaku. Memang aku merasa bersalah. Tapi tak seharusnya Mamaku berkata seperti itu.

"Ma, tolong beri aku solusi. bagaimana jalan keluarnya." Pintaku memohon dengan duduk seperti pesakitan di depan hakim sesekali kutatap wajah Mamaku.

"Kamu seharusnya tak memanjakan suamimu? Kenapa semua aset kau limpahkan pada suamimu? Bukankah kamu mempunyai Jenar?"

Degg ... Jantungku seolah berhenti berdetak. "Siapa yang melimpahkan pada Mas Bram? Aku tak sebodoh itu Ma?"

Tampak Mamaku memandangku tajam.

"Bram yang bilang. Malah dia bawa pengacara ke rumah Mama."

Aku tersentak. "Mama percaya dengan semua itu?"

Mamaku tampak diam. Ia terus menatapku tanpa berkata sepatah kata. Hingga aku mengulangi perkataanku untuk yang ke dua kalinya.

Mamaku menggelengkan kepalanya.

"Aku tak memberi izin tanda tangan itu. Sebab semua aset itu namaku juga tercantum, Kinan."

Aku merasa lega. Aku mendekati wanita yang tiga puluh empat tahun melahirkan aku. Aku memeluk pipi keriputnya yang sudah termakan usia. Aku cium berkali-kali dengan mengucap terima kasih.

Dan ia berpesan agar aku hati-hati terhadap Mas Bram. Sepertinya Mama menaruh curiga dengan Mas Bram tentang aset perusahaanku. Ia juga terus menanyakan tentang kepemilikan perusahaanku apakah sudah di atas namakan Mas Bram.

Aku menggelengkan kepala.

"Baru mengelolanya Ma, tapi untuk kepemilikan belum aku atas namakan Mas Bram."

Sepertinya Mama merasa lega mendengar ucapanku.

"Syukurlah," suara mama lirih.

Aku berdiri meraih tas kecilku yang tergeletak di meja depanku.

"Aku pulang dulu Ma, Jenar  pasti mencariku, hampir sehari aku belum menemui Jenar."

Mama mengangguk, mengantarku sampai di depan pintu rumah.

"Kapan-kapan bawa Jenar ke sini. Aku kangen ingin mengajaknya jalan- jalan."

Kembali aku mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Mamaku.

***

Sampai di rumah sudah jam empat sore. Berati hampir satu hari aku disibukkan dengan urusan suamiku.

Aku melangkah ke kamar Jenar. Baru saja aku membuka pintu kamar, aku kaget melihat Jenar tidur dengan kening di kompres oleh Bibi Nur.

"Jenar ...!" panggilku dengan panik.

Aku melangkah menghampiri Jenar yang berbaring lemah dengan memanggil namaku.

"Mama ...!"

Aku tempelkan tanganku ke kening Jenar. Aku merasakan panas pada suhu tubuh Jenar.

"Tubuh Tuan kecil panas Nyonya, tadi sudah saya cek suhunya tiga puluh delapan derajat."

Aku segera menoleh ke arah Nur yang masih berdiri dengan menunduk.

"Kenapa kamu tak menghubungi aku Bik?" Nadaku kesal.

"Maaf Nyonya, sudah berkali-kali saya menghubungi Nyonya tapi tak ada jawaban dari Nyonya."

Aku tersentak, dan baru ingat kalau ponselku baterainya habis lupa untuk mengisi. Padahal sejak pulang dari arisan aku berniat untuk mengisi batrai, tapi aku tak ingat. Pikiranku sudah disibukkan dengan Mas Bram.

"Kamu sudah menghubungi Tuan Bram?"

"Sudah Nyonya, tapi juga tak diangkat, Tuan kecil juga sudah saya kasih obat turun panas,"

Aku segera membuka tasku dan mengambil ponselku dengan mengulurkan ponsel ke arah Bibi Nur agar mengisi baterai nya.

"Apa yang kamu rasakan, Sayang?" ucapku mengelus kepala Jenar.

Jenar hanya diam dengan mengerjap- ngerjapkan matanya.

Aku semakin  panik, segera menyuruh bibi Nur menyuruh Arman sopirku untuk siap-siap mengantarku ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa dengan Jenar.

Sengaja aku tak menghubungi  dokter pribadiku terlebih dahulu.

Sesampai di rumah sakit segera aku hubungi Mas Bram.

"Mas ...! Jenar sakit. Sekarang berada di rumah sakit." ucapku  dalam ponsel singkat. Setelah dokter menyatakan Jenar harus rawat inap.

"Oh ya, aku akan secepatnya pulang, Tapi ...!"

Aku langsung menutup pembicaraan Mas Bram dalam ponsel. Hingga Mas Bram berkali-kali menghubungiku lagi. Namun aku enggan mengangkatnya.

Rasa sakit masih terasakan jika mengingat kata-kata Bu Darma. Dan apalagi bayangan demi bayangan terlintas di pelupuk mataku bagaimana Mas Bram bersenang-senang bergumul di atas ranjang dengan Neni.

"Mama menangis?" tanya Jenar yang tiba-tiba mengagetkan aku. "Aku nggak apa-apa Mama, besok Jenar pasti sudah sembuh." suara parau anakku yang berusia sepuluh tahun.

Aku mencoba tersenyum. Dengan mengusap air mataku yang terlanjur menetes di pipiku.

"Ya Sayang, kamu harus cepat sembuh," lirih ku dengan menelan salivaku sendiri.

"Papa kemana, Ma?"

"Ohh, Papa ada urusan perusahaan ke Singapura, Sayang. Tunggu besok pasti datang," ucapku menghibur Jenar.

Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang perawat berdiri di belakangku.

"Nyonya, ada panggilan dari dokter Frans."

Aku mengangguk.

"Sebentar Sayang, Jenar sama Bibi Nur dulu ya?"

Aku berdiri mencium kedua pipi Jenar. Dan mengikuti langkah suster keluar kamar inap Jenar untuk menemui dokter Frans.

Dokter Frans dokter pribadi keluargaku yang sudah bertahun tahun merupakan kepercayaan Papa dan mamaku.

"Kenapa Nyonya tidak menghubungi saya sebelumnya kalau putra Nyonya sakit?"

"Maaf Dok, mungkin saya panik."

Dokter Frans mengangguk dengan menatapku tak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang berat untuk disampaikan.

Tubuhku lemas, seperti seorang tahanan berhadapan dengan hakim yang akan menjatuhkan hukuman berat untukku.

"Sakit apa yang diderita anak saya, Dokter?" Saya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.

Dokter Frans menarik napas panjang. Dia mengambil sebuah kertas dan menyodorkannya ke arahku.

Dengan hati berdebar-debar saya mengambil kertas itu dan membacanya.

Darahku tersirap, tubuhku gemetar saat membaca tulisan yang tertera dalam kertas itu.

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED