Angin pagi bulan Maret selalu membawa hawa sejuk ke dalam ruang keluarga kediaman Hadit, menerpa gorden sutra tipis yang bergerak lembut, seolah ikut menari dalam irama kehidupan rumah tangga yang selama ini dianggap sempurna. Namun, pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah kehadiran baru, sebuah energi yang tak terduga, telah merasuki setiap sudut rumah megah itu, mengusik ketenangan yang selama ini menjadi pondasi. Namanya Maya.
Dia bukan sekadar asisten rumah tangga baru. Maya adalah badai dalam balutan seragam sederhana, seorang wanita dengan lekuk tubuh yang proporsional, kulit sawo matang yang eksotis, dan rambut hitam panjang yang selalu diikat ekor kuda tinggi, memperlihatkan jenjang lehernya yang anggun. Setiap geraknya adalah sebuah tarian, setiap senyumnya menyimpan misteri. Pakainnya, meskipun hanya seragam standar pembantu, entah mengapa selalu tampak pas di tubuhnya, menonjolkan setiap lekuk dengan cara yang halus namun memikat. Ketika ia membungkuk mengambil remah roti di bawah meja makan, garis punggungnya yang melengkung sempurna seolah mengundang pandangan, dan aroma sampo apel yang menguar dari rambutnya cukup untuk membuat kepala berputar.
Tidak butuh waktu lama bagi para pria penghuni rumah itu untuk menyadari pesona Maya. Sopir pribadi Pak Hadit, Mang Jaya, yang biasanya pendiam dan hanya fokus pada jalanan, kini seringkali terlihat melirik ke arah dapur, sesekali berdeham canggung saat berpapasan dengan Maya di koridor. Tukang kebun, Pak Ujang, yang dikenal cuek dan hanya peduli pada tanaman, mendadak rajin mencari alasan untuk berada di dekat area dapur atau ruang makan, tempat Maya paling sering beraktivitas. Bahkan Pak Amir, kepala rumah tangga yang sudah mengabdi puluhan tahun dan terkenal kaku, beberapa kali terlihat tersenyum tipis ketika Maya mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang lembut.
Namun, di antara semua pria itu, ada satu pasang mata yang paling intens, paling dalam, dan paling berbahaya dalam memandang Maya: mata Pak Hadit sendiri.
Pak Hadit adalah personifikasi kesuksesan. Ia adalah seorang pebisnis ulung di bidang properti, namanya terukir di puncak gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di ibu kota. Hartanya melimpah ruah, ia punya segalanya. Istrinya, Bu Tari, adalah seorang wanita anggun berdarah biru, lulusan universitas luar negeri, dengan kecantikan klasik yang tak lekang oleh waktu. Rambutnya hitam legam, tergerai indah, dan matanya memancarkan kehangatan seorang ibu sekaligus ketegasan seorang nyonya rumah. Beberapa bulan yang lalu, kebahagiaan mereka semakin sempurna dengan kelahiran sepasang bayi kembar yang menggemaskan, laki-laki dan perempuan, yang wajahnya mewarisi pesona kedua orang tuanya. Kehidupan Pak Hadit adalah impian banyak orang: keluarga harmonis, karier cemerlang, dan harta yang tak habis tujuh turunan.
Namun, dalam kesempurnaan itu, ternyata tersimpan celah. Celah itu kini terisi oleh kehadiran Maya.
Pagi-pagi sekali, ketika Bu Tari masih terlelap lelah setelah begadang mengurus bayi kembar, Pak Hadit sudah terbangun. Bukan untuk mengecek pekerjaan kantornya, melainkan untuk menikmati kopi pagi di teras belakang, dan seringkali, untuk melihat Maya beraktivitas di taman atau membersihkan area kolam renang. Gerakan Maya saat menyapu dedaunan, membasuh lantai marmer, atau sekadar menunduk mengambil alat kebersihan, selalu mampu menarik perhatiannya. Pak Hadit akan menyesap kopinya perlahan, matanya terpaku pada sosok itu, membiarkan pikirannya mengembara ke tempat-tempat yang seharusnya tak ia kunjungi.
Awalnya, itu hanya sekadar kekaguman biasa, apresiasi seorang pria terhadap kecantikan seorang wanita. Namun, kekaguman itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih mendesak. Aura Maya, yang selalu sedikit misterius dan menantang, entah bagaimana memicu sisi liar dalam diri Pak Hadit yang selama ini terkunci rapat di balik citra pria sukses dan suami setia.
Suatu sore, Bu Tari sedang pergi ke salon, dan bayi-bayi kembar sedang tidur pulas di kamarnya. Pak Hadit, yang biasanya sibuk dengan panggilan telepon bisnis, menemukan dirinya mondar-mandir tanpa tujuan di ruang keluarga. Matanya melirik ke arah dapur, di mana Maya sedang mencuci piring. Cahaya matahari senja yang menembus jendela dapur menerpa punggung Maya, menonjolkan siluet tubuhnya yang memukau.
"Maya," panggil Pak Hadit, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya.
Maya menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. "Ya, Pak?"
"Apa... ada teh?" tanya Pak Hadit, pertanyaan yang terdengar bodoh bahkan di telinganya sendiri, mengingat dapur adalah tempat teh dan kopi selalu tersedia.
Maya tidak menunjukkan ekspresi aneh. "Ada, Pak. Mau teh apa?"
"Teh melati saja," jawab Pak Hadit, mencoba mengendalikan degup jantungnya.
Maya segera berbalik, mengambil teko, dan mulai menyeduh teh. Selama beberapa saat, hanya suara gemericik air dan denting cangkir yang terdengar. Pak Hadit berdiri di ambang pintu dapur, mengamati setiap gerakan Maya. Aroma melati yang menguar bercampur dengan aroma tubuh Maya yang lembut, menciptakan kombinasi yang memabukkan.
Ketika Maya menyodorkan cangkir teh, jari-jari mereka bersentuhan. Sekejap, sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Pak Hadit. Maya menarik tangannya dengan cepat, namun Pak Hadit melihat rona merah tipis di pipinya. Atau itu hanya imajinasinya?
"Terima kasih," kata Pak Hadit, suaranya terdengar tercekat. Ia meraih cangkir itu, namun matanya masih terpaku pada Maya.
Sejak saat itu, interaksi kecil semacam itu mulai sering terjadi. Pak Hadit akan mencari alasan-alasan sepele untuk berbicara dengan Maya: menanyakan letak sesuatu, meminta bantuan kecil yang sebenarnya bisa ia lakukan sendiri, atau sekadar berbasa-basi tentang cuaca. Maya selalu merespons dengan sopan, terkadang dengan senyum misterius yang membuat Pak Hadit semakin penasaran.
Suatu malam, ketika Bu Tari sudah tidur, Pak Hadit tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi bayangan Maya. Ia merasa bersalah, tentu saja. Ada Bu Tari, istri cantiknya, yang setia menemaninya melewati pasang surut kehidupan, yang baru saja memberinya dua malaikat kecil. Ada wajah polos bayi-bayinya yang terlelap damai di kamar sebelah. Namun, bayangan Maya terlalu kuat, bisikan hasratnya terlalu memekakkan telinga.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Jendela besar di ruang kerjanya menghadap ke bagian belakang rumah, dan dari sana ia bisa melihat lampu kecil di area paviliun pembantu, tempat Maya tinggal. Lampu itu masih menyala. Maya belum tidur.
Pak Hadit meraih ponselnya, ragu-ragu. Haruskah ia... mengirim pesan? Otaknya berteriak "Jangan!", namun tangannya seolah bergerak sendiri.
"Belum tidur, Maya?" ketiknya, lalu menekan kirim.
Tak sampai satu menit, ponselnya bergetar. Balasan dari Maya.
"Belum, Pak. Maaf kalau lampunya mengganggu."
"Tidak. Hanya... aku juga belum bisa tidur." Pak Hadit mengetik lagi. "Ada yang mengganggu pikiran?"
Maya membalas lagi: "Sedikit, Pak."
"Bisa berbagi?"
Ada jeda yang lebih lama kali ini. Pak Hadit menahan napas, menanti.
"Hanya memikirkan keluarga di kampung, Pak," balas Maya akhirnya. "Sudah lama tidak pulang."
Pak Hadit merasa sedikit kecewa, bukan itu yang ia harapkan. Namun, ia mencoba memanfaatkan celah itu. "Saya bisa bantu jika ada masalah. Saya tahu kamu bekerja keras."
"Terima kasih banyak, Pak," balas Maya. "Tapi tidak apa-apa, saya bisa atasi sendiri."
Percakapan itu terhenti di sana. Pak Hadit menyimpan ponselnya, namun rasa gelisah di hatinya tidak hilang. Ia ingin lebih, ia ingin menembus dinding profesionalisme yang dibangun Maya. Ia ingin tahu apa yang ada di balik senyum misterius itu.
Minggu-minggu berlalu, dan ketegangan di antara Pak Hadit dan Maya semakin kentara, setidaknya bagi Pak Hadit. Setiap kali mereka berpapasan, ada tarikan tak terlihat, semacam energi yang menguar di antara keduanya. Bu Tari, yang sibuk dengan perawatan bayi dan rutinitas baru sebagai ibu dua anak, terlalu lelah untuk menyadari perubahan halus dalam perilaku suaminya. Ia hanya melihat suaminya yang terkadang melamun, mengira itu karena tekanan pekerjaan.
Suatu malam hujan, badai petir mengamuk di luar. Listrik padam di sebagian kompleks perumahan, termasuk rumah Pak Hadit. Lampu darurat otomatis menyala, memancarkan cahaya redup yang membuat suasana terasa suram sekaligus romantis. Bu Tari sedang memandikan bayi-bayinya dengan bantuan suster. Pak Hadit, yang biasanya sibuk di ruang kerjanya, kini berada di ruang keluarga, membaca koran dengan bantuan senter.
Maya muncul dari dapur, membawa lilin dan beberapa camilan. "Maaf, Pak, listrik padam. Ini ada sedikit camilan dan lilin."
"Terima kasih, Maya," kata Pak Hadit, menatap wajah Maya yang terlihat lembut dalam cahaya lilin. Rambutnya sedikit basah, mungkin ia baru saja mencuci tangan atau membersihkan sesuatu. Aroma sabun yang segar menguar darinya.
Maya meletakkan nampan di meja. Tiba-tiba, suara guntur menggelegar sangat keras, membuat seluruh rumah bergetar. Maya terlonjak kaget, tangannya tanpa sadar berpegangan pada lengan Pak Hadit.
Sentuhan itu, di tengah kegelapan dan suara badai, terasa begitu kuat. Pak Hadit bisa merasakan kehangatan lengan Maya yang lembut di bawah jemarinya. Jantungnya berdebar kencang. Maya dengan cepat menarik tangannya, wajahnya merona malu.
"Maaf, Pak," bisiknya, suaranya sedikit gemetar.
"Tidak apa-apa," jawab Pak Hadit, suaranya juga tidak stabil. Mereka berdua berdiri diam, dalam keheningan yang canggung, hanya ditemani suara hujan dan guntur di luar.
"Kamu takut petir?" tanya Pak Hadit, mencoba memecah keheningan.
Maya mengangguk pelan. "Sedikit, Pak. Dulu waktu kecil, pernah ada petir menyambar dekat rumah."
"Mau duduk di sini sebentar? Sampai petirnya reda?" tawar Pak Hadit.
Maya tampak ragu, menatap ke arah tangga menuju kamarnya. "Saya... saya harus memeriksa yang lain, Pak."
"Tidak perlu," kata Pak Hadit cepat. "Yang lain sudah tidur, atau sibuk dengan urusannya masing-masing. Duduklah sebentar."
Akhirnya, Maya menurut. Ia duduk di sofa seberang Pak Hadit, menjaga jarak. Namun, dalam suasana remang-remang itu, kehadiran Maya terasa begitu dekat. Pak Hadit menatapnya, memperhatikan bagaimana cahaya lilin menari di matanya, bagaimana bibir tipisnya sedikit bergetar.
"Kamu... cantik, Maya," kata Pak Hadit pelan, hampir berbisik. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa disaring.
Maya mendongak, matanya membelalak kaget. Pipinya memerah, dan ia segera menunduk. "Terima kasih, Pak," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Tidak usah sungkan," lanjut Pak Hadit, merasa semakin berani. "Aku serius. Kamu punya pesona yang berbeda."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hujan di luar terdengar semakin deras, seolah menjadi latar belakang dramatis bagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Pak Hadit bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mendekati sofa tempat Maya duduk. Ia berhenti di depannya, menatap wajah Maya yang masih tertunduk.
"Maya..." panggilnya, suaranya berat, penuh hasrat yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Maya mendongak, matanya bertemu dengan mata Pak Hadit. Ada ketakutan di sana, tapi juga ada semacam rasa ingin tahu, atau mungkin, penyerahan diri.
Pak Hadit menunduk, mendekatkan wajahnya. Maya tidak mundur. Nafas mereka beradu. Detik-detik berlalu terasa begitu panjang, diiringi detak jantung Pak Hadit yang bertalu-talu. Lalu, bibirnya menyentuh bibir Maya.
Sentuhan itu lembut awalnya, ragu-ragu. Namun, ketika Maya tidak menolak, bahkan sedikit merespons, ciuman itu menjadi lebih dalam, lebih menuntut. Tangan Pak Hadit membelai pipi Maya, lalu turun ke lehernya, menariknya mendekat. Maya memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang baru.
Ciuman itu adalah titik balik. Sebuah gerbang telah terbuka, dan Pak Hadit melangkah melewatinya tanpa ragu. Malam itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, di rumah yang seharusnya menjadi benteng kesetiaan dan cinta, sebuah pengkhianatan telah dimulai.
Hubungan terlarang antara Pak Hadit dan Maya pun berlanjut. Tidak terang-terangan, tentu saja. Mereka berdua pandai menyembunyikannya. Maya, dengan kecerdikannya, selalu menemukan cara untuk berada di dekat Pak Hadit tanpa menimbulkan kecurigaan. Entah itu dengan alasan membereskan ruang kerja Pak Hadit ketika Bu Tari tidak ada, atau membawakan camilan ke ruang gym ketika Pak Hadit sedang berolahraga sendirian. Pak Hadit, di sisi lain, mulai memanipulasi jadwalnya, menciptakan celah-celah waktu yang bisa ia habiskan bersama Maya.
Kamar tamu di lantai dua, yang jarang digunakan, seringkali menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Atau bahkan, ketika Bu Tari sedang sibuk dengan anak-anak di kamar bayi, Pak Hadit akan mencari alasan untuk masuk ke dapur, tempat Maya sering bekerja sendirian, dan dengan cepat, sentuhan-sentuhan singkat, bisikan-bisikan nakal, dan tatapan penuh gairah akan terjadi.
Setiap pertemuan adalah permainan kucing-kucingan yang mendebarkan, di mana risiko tertangkap semakin memperkuat adrenalin dan hasrat mereka. Pak Hadit, yang selalu mengutamakan citra dan reputasi, mendapati dirinya melakukan hal-hal yang tak pernah ia bayangkan. Ia berbohong pada istrinya, pada dirinya sendiri, dan pada semua orang yang menganggapnya sebagai pria teladan. Maya, di sisi lain, tampaknya pasrah dalam pusaran gairah yang tercipta. Ia tidak pernah meminta apapun, tidak pernah menuntut. Keheningannya justru membuat Pak Hadit semakin tertarik, semakin merasa tertantang untuk menjajaki kedalaman dirinya.
Namun, permainan itu, seperti semua permainan yang didasari kebohongan, tidak bisa berlangsung selamanya. Seminggu setelah ulang tahun bayi kembar mereka yang pertama, Maya mulai menunjukkan gejala-gejala yang tidak bisa disembunyikan. Mual di pagi hari, nafsu makan yang berubah, dan kelelahan yang berlebihan. Pak Hadit, yang panik, memaksa Maya untuk melakukan tes kehamilan.
Hasilnya positif.
Dunia Pak Hadit runtuh seketika. Sebuah anak. Sebuah bukti nyata dari pengkhianatan yang selama ini ia sembunyikan. Ketakutan akan terbongkarnya rahasia ini jauh lebih besar daripada kepanikan apapun yang pernah ia rasakan dalam bisnisnya. Ia telah memiliki dua anak sah yang sempurna, dan kini, anak lain akan lahir dari hubungan terlarang ini.
Ia menghadapi Maya dengan wajah pucat. "Bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Maya menatapnya dengan tatapan kosong, air mata mengalir di pipinya. "Saya tidak tahu, Pak. Saya... saya juga tidak menyangka."
"Kita harus memikirkan jalan keluar," Pak Hadit mulai meracau, otaknya berputar mencari solusi. Aborsi? Terlalu berbahaya. Mengirim Maya pergi? Ke mana? Bagaimana jika Maya bicara?
Pikiran Pak Hadit kacau balau. Ia teringat Bu Tari, istri cantiknya, yang selama ini dengan tulus mencintainya, yang rela berkorban untuk keluarganya. Ia teringat wajah polos bayi kembarnya yang baru belajar berjalan. Dan kini, ia telah menodai semua itu dengan perbuatan serongnya.
Maya akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun, kegembiraan yang seharusnya ada tidak pernah muncul di hati Pak Hadit. Sejak awal, ia melihat kelahiran bayi ini sebagai ancaman, sebagai bencana. Dan ketika ia pertama kali melihat putranya yang baru lahir, hatinya mencelos.
Anak itu lahir dengan kondisi cacat bawaan. Matanya sedikit juling, salah satu telinganya lebih kecil dari yang lain, dan ada tanda lahir besar di pipinya yang menyerupai bentuk peta. Kondisi medisnya tidak mengancam jiwa, tetapi cacat fisiknya cukup kentara.
Pak Hadit menatap bayi itu dengan nanar. Rasa bersalah dan penyesalan membanjiri dirinya. Ini... ini tidak mungkin kebetulan. Ini seperti sebuah pukulan telak dari semesta. Apakah ini adalah karma? Sebuah balasan atas perbuatan keji yang ia lakukan di balik punggung istrinya? Ia telah membuang permata yang berharga, Bu Tari, demi sebuah biji jagung, Maya, dan kini, hasil dari biji jagung itu adalah sesuatu yang tidak sempurna.
Maya, yang juga tampak syok dan terpukul, hanya bisa menangis dalam diam. Ia menggendong bayinya, berusaha menyalurkan kasih sayang yang tulus, meskipun matanya sendiri memancarkan kesedihan mendalam.
Kelahiran bayi ini menjadi beban berat di pundak Pak Hadit. Ia tidak bisa membawa bayi itu ke rumah. Bagaimana ia akan menjelaskan semuanya kepada Bu Tari? Ia memutuskan untuk menyembunyikan keberadaan bayi itu, menempatkan Maya dan anaknya di sebuah kontrakan kecil di pinggir kota, jauh dari kehidupan mewahnya. Ia akan membiayai semua kebutuhan mereka, tentu saja, tetapi ia tidak ingin ada seorang pun yang tahu tentang rahasia kelam ini.
Bu Tari, di rumah, mulai merasakan ada yang tidak beres. Perubahan sikap Pak Hadit semakin terlihat jelas. Ia sering melamun, mudah marah, dan gairahnya terhadap Bu Tari semakin menurun. Suaminya yang dulu hangat dan penuh perhatian, kini seringkali dingin dan menarik diri. Telepon rahasia yang ia terima di tengah malam, kepergiannya yang tiba-tiba dengan alasan "urusan bisnis mendadak", semua itu mulai menimbulkan kecurigaan.
Suatu sore, Bu Tari menemukan sebuah amplop di saku jas Pak Hadit yang tertinggal di sofa. Amplop itu kosong, namun di dalamnya terdapat selembar kertas kecil, sebuah kuitansi pembayaran sewa kontrakan atas nama Maya. Dan tanggalnya... tanggal itu sudah lewat beberapa bulan yang lalu, jauh setelah Maya berhenti bekerja di rumah mereka dengan alasan "pulang kampung karena orang tua sakit".
Jantung Bu Tari berdegup kencang. Firasat buruk yang selama ini ia coba tepis, kini berteriak di telinganya. Dengan tangan gemetar, ia mencari kontak Maya di ponsel lama Pak Hadit yang tidak sengaja tertinggal di laci meja. Nomor itu masih ada. Dengan keberanian yang entah dari mana datangnya, ia menelepon.
Suara Maya terdengar ragu di ujung sana. Bu Tari hanya menyebutkan namanya, dan Maya langsung terdiam. Bu Tari tidak membuang waktu. Ia menanyakan alamat, dan setelah Maya memberikan alamat kontrakan itu dengan suara bergetar, Bu Tari langsung menyambar kunci mobilnya.
Sopir sudah pulang, jadi Bu Tari mengemudikan mobilnya sendiri, di tengah hujan gerimis yang mulai turun. Jalanan terasa panjang, setiap putaran roda menambah ketegangan di dadanya. Ketika ia sampai di alamat yang diberikan, sebuah kontrakan kecil sederhana, ia melihat Maya sedang menggendong seorang bayi di teras.
Wajah Bu Tari memucat. Bayi itu... bayi itu adalah bukti nyata. Bukti dari semua kecurigaan yang selama ini menghantuinya. Ia turun dari mobil, langkahnya terseok-seok, matanya terpaku pada bayi di gendongan Maya. Ada sebuah tanda lahir yang sangat jelas di pipi bayi itu, dan Bu Tari tahu, tanda lahir itu mirip dengan yang ada di punggung Pak Hadit, meskipun bentuknya berbeda.
"Maya..." bisik Bu Tari, suaranya nyaris tidak keluar.
Maya terkesiap melihat Bu Tari di hadapannya. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan. Ia mencoba menyembunyikan bayinya di balik tubuhnya, namun sudah terlambat.
Bu Tari mendekat, air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Ini... ini anak siapa, Maya?" tanyanya, suaranya pecah.
Maya menunduk, tidak sanggup menjawab. Air mata juga mulai mengalir dari matanya.
Bu Tari tidak butuh jawaban. Firasatnya, kuitansi itu, dan sekarang pemandangan ini, semuanya berteriak kebenaran yang pahit. Ia menatap bayi itu lagi, dan kali ini, ia melihat kemiripan yang tak bisa disangkal dengan Pak Hadit. Dan cacat bawaan itu...
Hati Bu Tari hancur berkeping-keping. Dunia yang ia bangun, keluarga yang ia puja, cinta yang ia yakini abadi, semuanya runtuh di hadapannya. Suaminya, belahan jiwanya, telah mengkhianatinya dengan cara yang paling menyakitkan, dengan seorang pembantu di rumahnya sendiri. Dan kini, ada seorang anak lain, seorang anak yang tidak sempurna, sebagai pengingat abadi dari dosa-dosa suaminya.
Apakah Pak Hadit hidup bahagia setelahnya? Untuk saat ini, kebahagiaan seolah menjadi kata yang asing bagi Pak Hadit. Ia terpenjara dalam jaring kebohongan yang ia ciptakan sendiri, dihantui oleh rasa bersalah dan ketakutan akan terbongkarnya rahasianya. Permata yang ia sia-siakan, kini tergeletak retak di hadapannya, dan biji jagung yang ia kejar, telah memberinya buah yang pahit. Kisah mereka baru saja dimulai.
Bahu Bu Tari bergetar hebat. Rasa mual yang tak tertahankan mencengkeram perutnya, jauh lebih parah daripada mual di awal kehamilannya dulu. Ia ingin muntah, memuntahkan semua rasa sakit dan pengkhianatan yang baru saja ia telan mentah-mentah. Mata Maya, yang kini menunduk penuh rasa bersalah, hanya memperjelas kepahitan di hatinya. Bayi di gendongan Maya seolah memancarkan aura tak kasat mata, menudingnya dengan bisu. Tanda lahir di pipi mungil itu, juling di salah satu matanya, telinga yang sedikit tidak simetris – semua itu adalah cap pengkhianatan suaminya.
"Jadi... ini anakmu... dengan Hadit?" Suara Bu Tari serak, nyaris tak bisa dikenali. Setiap kata terasa seperti pecahan kaca yang melukai tenggorokannya.
Maya hanya mengangguk, tanpa berani menatap mata Bu Tari. Air matanya terus mengalir, membasahi pipi bayi yang tak berdosa dalam pelukannya.
Bu Tari merasakan lututnya lemas. Rasanya seluruh kekuatan di tubuhnya menguap. Ia terhuyung mundur selangkah, lalu bersandar pada mobilnya, memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut hebat. Dunia seolah berputar, dan suara hujan gerimis yang mulai membasahi rambutnya terasa seperti air mata langit yang ikut meratapi nasibnya.
"Kenapa, Maya?" tanya Bu Tari lagi, suaranya kini naik satu oktaf, penuh kepedihan dan amarah yang meledak. "Kenapa kamu melakukan ini? Dia... dia punya istri! Dia punya anak-anak! Apa yang kurang dari dia sampai dia harus mencari yang lain?"
Maya mengangkat kepalanya perlahan, matanya merah dan bengkak. "Maafkan saya, Bu Tari... saya... saya khilaf." Suaranya begitu kecil, begitu rapuh.
"Khilaf?" Bu Tari tertawa getir. Tawa yang kosong, tawa yang penuh rasa sakit. "Khilaf itu bukan sampai punya anak, Maya! Itu namanya niat! Perencanaan! Kalian berdua sama saja!"
Bayi dalam pelukan Maya mulai rewel, seolah ikut merasakan ketegangan yang mencekik di antara dua wanita itu. Maya segera menenangkan bayinya, mengusap punggungnya dengan lembut. Pemandangan itu, Maya sebagai seorang ibu, dengan anak suaminya, menghantam Bu Tari dengan gelombang kepedihan yang baru.
"Sudah berapa lama ini?" desak Bu Tari, mendekat lagi, tatapannya tajam menembus Maya.
Maya menunduk lagi. "Sejak... sejak Ibu hamil besar, Bu."
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Maya. Bukan dari tangan Bu Tari, melainkan dari kenyataan yang baru saja ia dengar. Bu Tari sedang berjuang dengan mual, kelelahan, dan ketidaknyamanan kehamilan, mengorbankan segalanya demi keluarga mereka, sementara suaminya... suaminya sedang berselingkuh dengan pembantu rumahnya sendiri.
"Saat aku sedang mengandung anak-anaknya?" Bu Tari berbisik, matanya berkaca-kaca menahan luapan emosi. "Saat aku sedang mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkan anak-anaknya? Saat itu dia justru menidurimu? Apa dia tidak punya hati, Maya? Apa kamu juga tidak punya hati?"
Maya tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, memeluk bayinya erat-erat.
Bu Tari merasakan dadanya sesak. Ia ingin berteriak, merobek-robek kemeja Maya, menampar wajah suaminya. Tapi yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri di sana, di bawah hujan gerimis yang semakin deras, membiarkan air mata membasahi wajahnya, bercampur dengan tetesan hujan.
"Bagaimana aku bisa hidup setelah ini?" desahnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Maya. "Bagaimana aku bisa melihat wajahnya? Wajah anak-anakku?"
Ia melihat ke arah bayi yang digendong Maya. Sekali lagi, matanya terfokus pada tanda lahir itu. Lalu ia teringat pada guratan serupa di punggung Pak Hadit. Sebuah benang merah yang tak terbantahkan. Bayi ini adalah bukti hidup dari pengkhianatan yang paling keji.
"Aku akan bicara dengannya," kata Bu Tari dengan suara dingin, penuh tekad yang tiba-tiba muncul. "Hari ini juga. Kalian berdua akan mempertanggungjawabkan perbuatan ini."
Maya tersentak, tatapan panik terpancar di matanya. "Jangan, Bu Tari... tolong... jangan bilang Pak Hadit saya yang memberitahu."
"Apa peduliku?" balas Bu Tari. "Ini semua akan terungkap cepat atau lambat. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang sementara aku menderita!"
Tanpa menunggu jawaban Maya, Bu Tari berbalik, berjalan terhuyung-huyung kembali ke mobilnya. Air matanya semakin deras. Ia menyalakan mesin, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tak wajar, menyusuri jalanan yang basah, seolah ingin melarikan diri dari kenyataan yang baru saja menghantamnya.
Di sepanjang perjalanan pulang, pikiran Bu Tari kacau balau. Kenangan-kenangan indah bersama Pak Hadit melintas di benaknya, berubah menjadi duri yang menusuk hatinya. Pernikahan mereka yang dulu begitu dielu-elukan, cinta mereka yang dianggap sempurna, kini hanya tinggal puing-puing. Senyum manis Pak Hadit, pelukannya yang hangat, bisikan cintanya – semua itu terasa menjijikkan. Bagaimana bisa seseorang yang begitu ia cintai, yang begitu ia percayai, melakukan hal sekeji ini? Dan dengan Maya, seorang wanita yang ia terima di rumahnya, ia perlakukan dengan baik?
Ketika ia tiba di rumah, hujan sudah berhenti. Lampu-lampu rumah bersinar terang, menciptakan ilusi kehangatan dan kebahagiaan yang kini terasa palsu. Pak Hadit sedang duduk di ruang keluarga, membaca koran, seolah tidak ada yang terjadi. Suara tawa bayi-bayi mereka terdengar dari kamar, membuat hati Bu Tari semakin ngilu.
Pak Hadit mengangkat kepalanya saat mendengar pintu terbuka. Ia tersenyum, senyum yang langsung membuat Bu Tari muak. "Sudah pulang, Sayang? Kok basah kuyup begitu?" tanyanya, nada suaranya riang.
Bu Tari tidak menjawab. Ia hanya berjalan lurus ke arah Pak Hadit, matanya yang merah dan bengkak menatap suaminya dengan nyala kemarahan yang membara. Ia melemparkan amplop kosong yang berisi kuitansi kontrakan Maya ke atas meja, tepat di hadapan Pak Hadit.
Senyum di wajah Pak Hadit menghilang. Matanya melirik amplop itu, lalu kembali menatap Bu Tari. Ia bisa melihat badai yang mengamuk di mata istrinya.
"Apa ini, Hadit?" tanya Bu Tari, suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang menakutkan.
Pak Hadit mengambil amplop itu, membuka kuitansi di dalamnya. Wajahnya langsung memucat. Ia menatap Maya, lalu kembali ke Bu Tari. "Ini... ini bukan apa-apa, Tari. Ini... ini hanya kuitansi lama."
"Kuitansi lama?" Bu Tari tertawa sinis. "Kuitansi lama yang kebetulan atas nama Maya? Pembantu yang katanya pulang kampung karena orang tuanya sakit, padahal dia ada di kontrakan itu, dengan... dengan anakmu!"
Kata "anakmu" menggema di ruangan itu, menusuk telinga Pak Hadit seperti belati tajam. Tubuhnya menegang, seluruh darah seolah mengalir deras dari wajahnya. Ia tergagap, mencari kata-kata. "Anakku? Apa... apa maksudmu, Tari?"
"Jangan pura-pura bodoh, Hadit!" Bu Tari berteriak, suaranya pecah oleh emosi. Ia tidak bisa lagi menahan diri. "Aku baru saja dari kontrakan itu! Aku melihat Maya! Aku melihat bayinya! Bayi itu... bayi itu anakmu!"
Pak Hadit terhuyung mundur, menjatuhkan kuitansi itu ke lantai. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Maya sudah mengakuinya. Semua sudah terbongkar. Wajahnya yang pucat kini berganti merah padam, bercampur rasa malu dan ketakutan.
"Tari... Sayang... dengarkan aku," Pak Hadit mencoba mendekati Bu Tari, meraih tangannya.
Namun Bu Tari menepis tangannya dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Jangan panggil aku Sayang! Kau menjijikkan, Hadit! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Pada kita? Pada anak-anak kita?!" Air mata Bu Tari kembali mengalir deras, membasahi pipinya. "Saat aku sedang mengandung, saat aku sedang mengurus bayi-bayimu, kau justru bersenang-senang dengan pembantumu! Kau menidurinya! Dan sekarang... dia punya anakmu! Anak yang... yang cacat itu!"
Kata "cacat" lolos begitu saja dari mulut Bu Tari. Ia tahu itu kejam, tapi rasa sakit dan kemarahan telah menguasai dirinya.
Mendengar kata-kata itu, Pak Hadit tertunduk. Rasa bersalah menghimpit dadanya. Ia tahu ia pantas menerima semua makian ini. Ia telah menghancurkan segalanya.
"Aku... aku minta maaf, Tari," Pak Hadit berbisik, suaranya penuh penyesalan. "Aku khilaf. Aku... aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini."
"Khilaf?" Bu Tari mengulang kata itu dengan nada jijik. "Khilaf yang menghasilkan seorang anak? Kau tahu seberapa besar ini melukaiku, Hadit? Seberapa besar ini menghancurkan harga diriku? Aku memercayaimu dengan sepenuh hatiku! Aku mencintaimu! Dan kau membalasnya dengan pengkhianatan semurah ini?!"
Bu Tari menunjuk ke arah Pak Hadit, jari telunjuknya gemetar. "Kau bilang cinta adalah sebuah permata? Dan aku adalah permata bagimu? Lalu apa ini, Hadit? Apa ini? Kau membuang permata itu demi... demi sebutir biji jagung!" Ia menunjuk ke arah pintu, seolah Maya masih berdiri di sana. "Dan lihat apa yang kau dapatkan! Biji jagung yang busuk! Anak yang cacat!"
Kata-kata itu menghantam Pak Hadit seperti pukulan bertubi-tubi. Ia merasa seperti sampah. Ia memang pantas disebut sampah. Semua kesuksesan, semua kekayaan, semua citra sempurna yang selama ini ia bangun, kini runtuh berkeping-keping di hadapan istrinya.
"Aku tidak bisa menerima ini, Hadit," kata Bu Tari, suaranya pelan tapi tegas. "Aku tidak bisa hidup dengan seorang pengkhianat. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang telah menodai kesucian rumah ini."
Pak Hadit mengangkat kepalanya, matanya membelalak panik. "Tari... jangan bicara begitu. Kita bisa menyelesaikan ini. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku akan memutuskan hubungan dengan Maya. Aku akan... aku akan lakukan apapun untukmu."
"Apapun?" Bu Tari tersenyum pahit. "Bisakah kau menghapus semua ini? Bisakah kau membuat semua ini tidak pernah terjadi? Bisakah kau membuat anak itu tidak pernah ada?"
Pak Hadit terdiam. Ia tidak bisa. Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa," kata Bu Tari, suaranya bergetar. "Aku... aku butuh waktu. Aku butuh menjauh darimu. Aku tidak bisa melihatmu sekarang."
Ia berbalik, berjalan menuju tangga, air matanya masih mengalir. Pak Hadit mencoba menghentikannya, meraih tangannya lagi. "Tari, jangan pergi. Kita harus bicara. Bagaimana dengan anak-anak?"
Bu Tari menarik tangannya. "Aku akan membawa anak-anak. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup di bawah atap yang sudah ternoda ini."
Pak Hadit panik. "Jangan, Tari! Mereka masih bayi! Mereka butuh aku!"
"Mereka butuh ibu yang waras, Hadit!" Bu Tari berteriak, lalu berlari menaiki tangga.
Pak Hadit hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan kepergian istrinya. Suara tangisan bayi-bayinya yang kini terdengar lebih jelas, menambah penderitaannya. Ia telah menghancurkan keluarganya sendiri. Ia telah menukar kebahagiaan sejati dengan nafsu sesaat.
Malam itu, Bu Tari mengemasi barang-barangnya dan barang-barang bayi kembar mereka. Dengan bantuan suster, yang wajahnya menunjukkan kebingungan dan kekhawatiran, ia menyiapkan segala sesuatunya. Pak Hadit mencoba membujuk, memohon, dan bahkan mengancam, tetapi Bu Tari tetap teguh. Ia menelepon orang tuanya, memberi tahu bahwa ia akan pulang ke rumah mereka, tanpa menjelaskan detail apapun selain "ada masalah keluarga".
Orang tua Bu Tari, yang tinggal di kota lain, segera mengirimkan mobil untuk menjemput. Dini hari, ketika kota masih diselimuti kegelapan, Bu Tari dan kedua bayinya meninggalkan rumah mewah itu. Rumah yang dulu adalah surga baginya, kini terasa seperti neraka.
Pak Hadit berdiri di teras, menyaksikan mobil yang membawa istri dan anak-anaknya menjauh, menghilang ditelan kegelapan malam. Ia merasakan kehampaan yang luar biasa. Rumah ini, yang tadinya penuh tawa dan kehangatan, kini terasa dingin dan sepi. Hanya ada dirinya, dan bayangan-bayangan penyesalan yang menghantuinya.
Ia kembali masuk ke dalam rumah yang hening. Suara hembusan AC dan detak jam dinding terdengar begitu jelas, seolah mengejek kesunyian yang mencekam. Ia berjalan menuju ruang keluarga, tempat pertengkaran hebat itu terjadi. Amplop dan kuitansi Maya masih tergeletak di lantai, seperti saksi bisu dari kehancuran yang ia ciptakan.
Pak Hadit duduk di sofa, menenggelamkan wajahnya di telapak tangan. Rasa sakit, penyesalan, dan ketakutan bercampur aduk di dalam dirinya. Ia telah mengorbankan segalanya demi kenikmatan sesaat. Istrinya yang jelita, anak-anaknya yang menggemaskan, reputasinya, dan kebahagiaan keluarganya – semuanya telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri.
Bayangan wajah Maya, senyum misteriusnya, sentuhannya yang memikat, kini terasa menjijikkan. Ia menyalahkan Maya, menyalahkan keadaan, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa satu-satunya yang patut disalahkan adalah dirinya sendiri. Dialah yang memulai semuanya, dialah yang terbawa nafsu, dialah yang menghancurkan pondasi pernikahannya.
Lalu, bagaimana dengan Maya dan anaknya? Pikirannya kembali tertuju pada mereka. Ia telah menjamin akan membiayai hidup mereka, namun kini, dengan terbongkarnya rahasia ini, semuanya menjadi lebih rumit. Ia tidak bisa mengabaikan mereka, karena bagaimanapun juga, anak itu adalah darah dagingnya. Namun, ia juga tidak bisa membawa mereka ke dalam kehidupannya yang sekarang sudah hancur berantakan.
Malam itu, Pak Hadit tidak tidur. Ia menghabiskan sisa malamnya dengan menenggelamkan diri dalam alkohol, mencoba melarikan diri dari kenyataan. Namun, setiap tegukan hanya memperjelas bayangan penyesalan yang terus-menerus muncul.
Keesokan harinya, berita tentang kepergian Bu Tari mulai menyebar di antara para pekerja rumah tangga. Mereka berbisik-bisik, saling pandang penuh pertanyaan. Pak Amir, kepala rumah tangga, tampak tegang. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres, namun tidak berani bertanya kepada Pak Hadit.
Pak Hadit menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian yang menyiksa. Ia pergi ke kantor, tetapi pikirannya tidak fokus. Bisnisnya mulai terganggu. Mitra kerjanya menyadari ada yang salah dengan dirinya, namun Pak Hadit hanya menjawab dengan singkat, "Masalah keluarga."
Setiap malam, ia kembali ke rumah yang kosong, merasakan dinginnya kesendirian. Ia merindukan tawa bayi-bayinya, suara lembut Bu Tari, bahkan omelan kecilnya. Semua kehangatan itu kini telah tiada, digantikan oleh kekosongan yang mematikan.
Ia mencoba menelepon Bu Tari berkali-kali, namun tidak pernah diangkat. Pesan-pesannya tidak pernah dibalas. Ia mencoba menghubungi orang tua Bu Tari, namun mereka hanya mengatakan bahwa Bu Tari sedang membutuhkan waktu.
Pak Hadit merasa putus asa. Ia telah kehilangan permata berharganya, dan kini, ia terjebak dalam dilema yang mengerikan. Ada seorang wanita lain, Maya, dan seorang anak lain, yang kini bergantung padanya. Anak yang lahir dari dosa, anak yang cacat, anak yang menjadi pengingat abadi akan kebodohannya.
Apakah ini karma? Ya, Pak Hadit percaya itu adalah karma. Sebuah balasan yang adil atas pengkhianatan yang telah ia lakukan. Ia telah membuang berlian demi sebuah biji jagung, dan kini, biji jagung itu justru menjadi duri di kakinya, melukai setiap langkahnya.
Hidup Pak Hadit, yang dulu tampak sempurna dan penuh kebahagiaan, kini berubah menjadi neraka. Ia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari semua ini. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah mendapatkan kembali apa yang telah ia sia-siakan. Kebahagiaan sejati telah direnggut darinya, digantikan oleh bayang-bayang penyesalan dan konsekuensi yang pahit. Bab ini hanyalah awal dari perjalanan panjangnya dalam menghadapi badai yang menerjang hati dan kehidupannya.
Minggu-minggu setelah kepergian Bu Tari terasa seperti tahunan bagi Pak Hadit. Rumah mewah yang dulunya dipenuhi tawa riang bayi kembar dan kehangatan suara Bu Tari, kini terasa hampa dan dingin. Setiap sudut seolah menyimpan gema pertengkaran mereka, bisikan pengkhianatan yang tak termaafkan. Sarapan pagi yang dulu selalu dihidangkan dengan rapi oleh Maya, kini terasa hambar, dimasak oleh asisten rumah tangga pengganti yang baru datang dan belum terbiasa dengan selera Pak Hadit. Namun, bahkan jika rasanya sempurna pun, Pak Hadit tak akan bisa menikmatinya. Nasi yang ia telan terasa seperti kerikil, kopi yang ia sesap terasa pahit.
Ia mencoba mengisi kekosongan itu dengan bekerja, tenggelam dalam tumpukan berkas dan proyek-proyek baru. Namun, fokusnya buyar. Angka-angka di laporan keuangan tampak kabur, presentasi di hadapan klien terasa seperti gumaman tak berarti. Pikirannya terus-menerus kembali pada Bu Tari dan anak-anaknya, lalu beralih pada Maya dan bayi yang cacat itu. Ada dua dunia yang kini menuntut perhatiannya, dan ia berdiri di persimpangan jalan, diliputi penyesalan yang tak berujung.
Setiap malam, ia kembali ke rumah yang senyap. Biasanya, setelah makan malam, ia akan menghabiskan waktu di ruang keluarga, bermain dengan bayi-bayinya atau mengobrol ringan dengan Bu Tari. Kini, sofa itu kosong, mainan-mainan bayi teronggok di sudut, seolah mengejek kesendiriannya. Ia seringkali duduk di sana, menatap kosong ke arah televisi yang tak menyala, membiarkan bayang-bayang kesalahannya menari-nari di dinding.
Telepon genggamnya menjadi satu-satunya jembatan ke dunia luar, namun jembatan itu pun terasa rapuh. Ia terus mencoba menghubungi Bu Tari, mengirim pesan demi pesan, memohon maaf, menjelaskan bahwa ia "khilaf" dan berjanji akan "memperbaiki semuanya." Namun, balasan yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Terkadang, ia mencoba menelepon orang tua Bu Tari, memohon bantuan mereka untuk membujuk putri mereka kembali. Namun, Ayah Bu Tari, seorang pensiunan jenderal yang disegani, hanya menjawab dengan suara dingin.
"Hadit, kau sudah tahu konsekuensi dari perbuatanmu. Putriku terluka parah. Dia butuh waktu. Jangan ganggu dia."
Kata-kata itu bagai pukulan telak. Bahkan mertuanya pun, yang dulu sangat menyayanginya, kini berbalik melawannya. Reputasinya, yang selama ini ia bangun dengan susah payah, mulai terkikis. Bisikan-bisikan tentang "masalah keluarga" di kalangan rekan bisnisnya semakin santer terdengar. Beberapa proyek penting tiba-tiba tertunda, dan ada beberapa investor yang menarik diri, beralasan "mempertimbangkan ulang situasi pasar." Pak Hadit tahu itu hanya alasan. Mereka pasti sudah mendengar kabar miring tentang dirinya.
Di sisi lain, ada Maya. Setelah kejadian di kontrakan itu, Pak Hadit meneleponnya, menginterogasinya habis-habisan mengapa ia berani memberitahu Bu Tari. Maya, yang masih syok dan ketakutan, hanya bisa meminta maaf berulang kali, mengatakan bahwa ia "tidak sengaja" dan "terlalu takut untuk berbohong." Pak Hadit mencak-mencak, namun di lubuk hatinya, ia tahu bahwa cepat atau lambat, rahasia ini pasti akan terbongkar.
Meskipun marah dan kesal, Pak Hadit tidak bisa mengabaikan Maya dan anaknya. Bagaimanapun, darah dagingnya mengalir di tubuh bayi itu. Ia tetap mengirimkan uang setiap bulan untuk kebutuhan mereka, bahkan menambah jumlahnya sedikit untuk biaya perawat dan pengobatan kondisi khusus bayi itu. Sesekali, dengan menyamar dan menggunakan mobil yang berbeda, ia akan mengunjungi kontrakan Maya. Bukan untuk mencari nafsu, melainkan untuk melihat anaknya, bayi yang lahir dari kesalahannya.
Setiap kali melihat bayi itu, hati Pak Hadit akan diselimuti campuran rasa bersalah, penyesalan, dan juga sedikit kasih sayang yang aneh. Ia akan mengamati Rian, nama yang diberikan Maya untuk putranya. Rian adalah nama yang sederhana, mungkin nama yang dipilih Maya sendiri, jauh dari nama-nama mewah yang ia siapkan untuk anak-anaknya yang sah. Rian akan menatapnya dengan mata kecilnya yang sedikit juling, terkadang tersenyum polos tanpa tahu siapa pria di depannya ini.
Tanda lahir di pipi Rian selalu menjadi pengingat yang menyakitkan. Setiap kali melihatnya, Pak Hadit akan teringat kata-kata pedas Bu Tari: "Anak yang cacat!" Ia membenci kata-kata itu, namun ia tidak bisa menyangkalnya. Kondisi Rian memang berbeda. Dan itu adalah konsekuensi langsung dari perbuatannya.
Suatu sore, di tengah kunjungannya yang rahasia, Maya mencoba berbicara dengannya. "Pak Hadit... saya tahu saya salah. Saya tahu saya sudah menghancurkan segalanya. Tapi... bisakah Bapak memikirkan Rian?"
Pak Hadit menatap Maya. Wanita itu tampak lebih kurus, wajahnya kuyu karena kelelahan mengurus bayi sendirian. Ada kerutan di sudut matanya, bekas tangisan yang tak terhitung jumlahnya. Pesona yang dulu memikatnya seolah telah memudar, tergantikan oleh aura kesedihan dan keputusasaan.
"Maksudmu?" tanya Pak Hadit datar.
"Rian... dia membutuhkan ayahnya, Pak. Dia membutuhkan pengakuan," Maya berbisik, suaranya tercekat. "Saya tahu ini tidak mudah, tapi... dia pantas mendapatkan status, Pak."
Pengakuan. Kata itu membuat Pak Hadit merinding. Mengakui Rian berarti mengakui perselingkuhannya di depan publik, di depan keluarganya, di depan dunia bisnisnya. Itu berarti kehancuran total bagi reputasinya. Ia akan menjadi bahan ejekan, pria yang meniduri pembantunya dan memiliki anak di luar nikah.
"Tidak mungkin, Maya," kata Pak Hadit tegas. "Aku tidak bisa. Jangan meminta hal yang mustahil."
"Tapi, Pak..."
"Maya, aku sudah menanggung semua biaya kalian. Aku sudah memberikan kalian tempat tinggal. Apa lagi yang kamu mau?" Suara Pak Hadit meninggi. Ia merasa terpojok.
"Bukan hanya uang, Pak," Maya menjawab dengan suara lemah. "Dia membutuhkan seorang ayah. Nama. Masa depan."
Pak Hadit menghela napas. "Masa depannya akan terjamin. Aku akan mengurus pendidikan dan kehidupannya. Tapi bukan sebagai anakku yang diakui secara terang-terangan. Itu tidak mungkin."
Maya menunduk, air mata kembali mengalir. "Jadi... kami akan selamanya menjadi rahasia?"
Hati Pak Hadit mencelos melihat kesedihan Maya. Ia tahu itu egois, namun ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak bisa kehilangan segalanya. Atau setidaknya, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bu Tari dan anak-anaknya yang sah masih bisa ia rebut kembali, jika rahasia ini tidak menyebar lebih jauh.
"Ini demi kebaikan semua, Maya," kata Pak Hadit, suaranya melembut sedikit, meskipun ia sendiri tidak yakin akan kebenaran kata-katanya. "Jika semua ini terungkap, hidup kalian juga tidak akan tenang. Aku akan dicemooh, dan kalian... kalian juga akan menjadi korban gosip. Bukankah lebih baik seperti ini? Kalian aman, terjamin, dan tidak ada yang tahu?"
Maya tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, memeluk Rian yang tertidur pulas di pangkuannya. Pak Hadit merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia adalah seorang pengecut. Ia telah berbuat dosa, dan kini ia mencoba menutupinya dengan kebohongan lain, bahkan mengorbankan masa depan anaknya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Pak Hadit memutuskan untuk mengambil langkah drastis. Ia mencoba menelepon Bu Tari lagi. Kali ini, ia tidak memohon, ia hanya menyampaikan sebuah ultimatum.
"Tari, aku tahu kau marah. Aku tahu aku salah. Tapi kita punya dua anak. Mereka butuh kedua orang tuanya. Aku akan datang ke rumah orang tuamu besok. Kita harus bicara. Jika kau tidak mau bicara, aku akan... aku akan menganggap ini sebagai perpisahan. Dan aku akan mencari jalan lain."
Kata-kata "jalan lain" yang ia maksud adalah ancaman terselubung untuk menuntut hak asuh atas anak-anaknya secara hukum, meskipun ia tahu ia berada di posisi yang sangat lemah. Namun, ia berharap ancaman itu akan cukup untuk membuat Bu Tari mau berhadapan dengannya.
Mengejutkannya, Bu Tari merespons. Bukan dengan suara, melainkan dengan pesan singkat: "Datanglah. Aku akan bicara. Tapi jangan harap aku akan memaafkanmu."
Pak Hadit merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya, ada celah. Ia masih punya kesempatan.
Keesokan harinya, Pak Hadit terbang ke kota tempat orang tua Bu Tari tinggal. Ia datang dengan setelan jas rapi, mencoba menampilkan citra pria yang menyesal namun masih berwibawa. Namun, saat ia melangkah masuk ke rumah besar bergaya kolonial milik mertuanya, ia tahu ia sedang menghadapi medan perang yang berat.
Ayah Bu Tari menyambutnya dengan tatapan dingin, tanpa senyum. Ibu Bu Tari hanya mengangguk sopan, matanya menyiratkan kesedihan. Dan Bu Tari, ia duduk di ruang tamu, dengan Bu Tari di sampingnya. Ia tampak kurus, matanya masih merah, namun sorot matanya kini mengandung ketegasan yang belum pernah Pak Hadit lihat sebelumnya.
Bayi kembar mereka, Arjuna dan Saraswati, digendong oleh pengasuh di ruangan terpisah. Pak Hadit bisa mendengar gumam tawa mereka, yang justru membuat hatinya semakin nyeri.
"Kau datang, Hadit," kata Bu Tari, suaranya datar.
"Aku ingin bicara denganmu, Tari," jawab Pak Hadit, suaranya bergetar.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Mengapa kau menidurinya? Mengapa kau membohongiku? Mengapa kau menghasilkan anak dari wanita itu?" Pertanyaan Bu Tari langsung menusuk jantung.
Pak Hadit tergagap. "Aku... aku sudah bilang, aku khilaf. Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Aku menyesal, Tari. Sungguh-sungguh menyesal."
"Menyesal?" Bu Tari mengangkat alisnya. "Penyesalanmu tidak akan mengembalikan harga diriku, Hadit. Tidak akan menghapus fakta bahwa kau telah mengkhianatiku di rumah kita sendiri."
"Aku tahu, Tari. Aku pantas menerima ini. Aku pantas menerima semua kemarahanmu," kata Pak Hadit. "Tapi... bisakah kita memikirkan anak-anak? Mereka masih kecil. Mereka butuh kita berdua."
Bu Tari terdiam. Ia menoleh ke arah orang tuanya, seolah mencari kekuatan. Ayahnya mengangguk kecil, seolah memberi izin untuk melanjutkan.
"Aku sudah memikirkannya," kata Bu Tari, suaranya serius. "Aku tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tahu anak-anak butuh ayah. Tapi aku juga tidak bisa hidup dengan pengkhianat. Ada beberapa syarat, Hadit."
Pak Hadit mengangkat kepalanya, ada secercah harapan di matanya. "Syarat apapun, Tari. Akan aku penuhi."
"Pertama, hubunganmu dengan Maya harus benar-benar berakhir. Tidak ada lagi kontak, tidak ada lagi pertemuan, tidak ada lagi uang yang mengalir ke sana. Aku akan memastikan sendiri."
"Baik, aku setuju," kata Pak Hadit cepat, meskipun ia tahu betapa sulitnya itu. Bagaimana dengan Rian? Ia tidak bisa begitu saja memutuskan hubungan dengan anaknya sendiri. Namun, ia tidak berani menyuarakan keraguannya.
"Kedua," lanjut Bu Tari, matanya menajam, "Kau harus mengakui semua perbuatanmu kepadaku. Semua detailnya. Aku ingin tahu segalanya. Dari awal sampai akhir. Aku ingin kau jujur, Hadit, meskipun itu akan melukaiku lebih dalam."
Pak Hadit menelan ludah. Ini adalah bagian tersulit. Mengakui semua detail yang memuakkan itu adalah siksaan. Tapi ia tahu, jika ia ingin mendapatkan Bu Tari kembali, ia harus melakukannya.
"Baik," bisik Pak Hadit. "Aku akan ceritakan semuanya."
"Ketiga," Bu Tari menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak akan pernah melupakan ini, Hadit. Luka ini akan tetap ada. Jadi, kau harus hidup dengan rasa bersalahmu. Kau harus menebusnya seumur hidupmu. Dan kau harus selalu memperlakukanku dengan hormat, dengan kesetiaan yang tak pernah kau berikan padaku selama ini."
Pak Hadit mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku bersumpah, Tari. Aku akan lakukan semua itu. Aku akan menebusnya seumur hidupku."
"Dan yang terakhir..." Bu Tari terdiam sejenak, menatap Pak Hadit dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mengenai anak itu..."
Jantung Pak Hadit berdebar kencang. Ini dia. Ini adalah inti masalahnya.
"Aku tidak ingin dia berada di dekat kita," kata Bu Tari, suaranya bergetar, namun ia berusaha keras untuk tetap tegas. "Aku tidak ingin dia menjadi bagian dari keluarga ini. Dia adalah pengingat abadi dari pengkhianatanmu, Hadit. Aku tidak bisa melihatnya setiap hari."
Pak Hadit merasakan pukulan keras. Permintaan itu kejam, namun ia mengerti. Bagaimana mungkin Bu Tari bisa menerima anak dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya?
"Lalu... bagaimana dengan dia, Tari?" tanya Pak Hadit, memikirkan Rian.
"Terserah kau mau mengurusnya bagaimana," jawab Bu Tari dingin. "Aku tidak peduli. Selama dia tidak muncul di hadapanku, dan tidak mengganggu kehidupan kita. Itu urusanmu dan Maya. Aku tidak mau tahu."
Kini giliran Pak Hadit yang terdiam. Ia dihadapkan pada pilihan yang sangat berat. Kembali pada kehidupan lamanya yang sempurna bersama Bu Tari dan anak-anaknya, namun dengan syarat harus menyingkirkan Rian, anaknya sendiri. Atau tetap mempertahankan Rian, yang berarti kehilangan Bu Tari selamanya, dan hidup dengan konsekuensi dari perbuatan yang ia lakukan dengan Maya.
Ia memandang wajah Bu Tari yang masih terluka, namun juga memancarkan tekad yang kuat. Lalu ia membayangkan wajah Rian, bayi tak berdosa yang lahir ke dunia karena kesalahan fatalnya. Ia adalah ayahnya. Bagaimana mungkin ia bisa menelantarkan anaknya sendiri?
Namun, ia juga tidak bisa kehilangan Bu Tari. Bu Tari adalah pondasi hidupnya, ibu dari anak-anaknya yang sempurna. Ia adalah berlian yang telah ia sia-siakan.
Pak Hadit menarik napas dalam-dalam, mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Ia tidak punya pilihan. Untuk mendapatkan kembali berliannya, ia harus membuang biji jagung itu jauh-jauh.
"Aku setuju, Tari," kata Pak Hadit, suaranya parau, namun ia mengatakannya dengan tegas. "Aku akan pastikan dia... dia tidak akan mengganggu hidup kita."
Bu Tari menatapnya lama, seolah mencoba mencari kebohongan di matanya. Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain penyesalan dan keputusasaan.
"Baiklah," kata Bu Tari akhirnya. "Mulai sekarang, kita akan mencoba. Tapi ingat, Hadit, satu kesalahan lagi, satu kebohongan lagi, dan semuanya akan berakhir selamanya. Aku tidak akan pernah kembali padamu."
Malam itu, Pak Hadit kembali ke rumahnya dengan Bu Tari dan anak-anaknya. Rumah itu tidak lagi kosong. Tawa bayi-bayinya kembali memenuhi setiap sudut. Bu Tari tampak lelah, namun ia berusaha untuk kuat. Mereka mulai menjalani kehidupan baru, sebuah kehidupan yang dibangun di atas puing-puing kepercayaan yang hancur, dan sebuah janji yang berat.
Namun, di dalam diri Pak Hadit, ada sebuah pertarungan batin yang belum selesai. Ia telah berjanji kepada Bu Tari untuk memutuskan semua hubungan dengan Maya dan Rian. Tapi bagaimana mungkin ia bisa menelantarkan darah dagingnya sendiri? Bayangan wajah Rian, matanya yang sedikit juling, tanda lahir di pipinya, terus menghantuinya. Apakah ia akan benar-benar bisa hidup bahagia setelah ini, dengan bayangan karma yang terus mengikutinya? Apakah harga yang ia bayar untuk mendapatkan kembali berliannya terlalu mahal?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya, menandakan bahwa meskipun Bu Tari telah kembali, perjuangan Pak Hadit untuk menemukan kedamaian sejati belumlah berakhir. Kebahagiaan seolah masih menjadi fatamorgana di tengah gurun penyesalan yang membentang luas.