Bab 1

Seorang gadis bernama Tamara duduk dengan beberapa teman- temannya, dalam keadaan separu sadar.

Dentuman musik dan lampu yang gemerlap, membuat suasana mereka semakin menikmati suasana malam dengan beberapa minuman dengan merek terkenal.

"Lanjutin Ra! Ayo ngapain si loe pusing mikirin bokap yang sekarang aja gak peduli sama elo lagi. Dia lebih peduli dengan ibu sambung loe!" ucap seorang wanita dengan rambut pirang, menghasut Tamara.

"Iya, gue jadi males pulang. Apalagi ada perempuan itu, bikin gue gak betah di rumah!" jawab Tamara, dengan teman-temannya.

Wanita yang di sapa Poppy pun tersenyum menyeringai mendengar Tamara menjawab seperti itu. Lalu seorang pria yang sejak tadi Rara bersandar kepadanya. Pria itu bernama Juno yang dari tadi tak henti-henti mengecup tangan Tamara.

Antara Poppy dan Juno sejak tadi tersenyum menyeringai. Hanya mereka saja yang tau apa yang mereka pikirkan.

"Ra bagaimana elo jadi ikut gue. Rumah gue sepi, elo bisa tidur di sana temani gue," bisik di telinga Tamara.

Karena Tamara sudah mabuk berat ia pun kini tak sadarkan diri. Juno yang mempunyai pikiran buruk segera membopong Rara meninggalkan tempat yang di penuhi oleh penghuni club malam tersebut.

Di pertengahan perjalanan, Juno menghentikan kendaraannya di tempat yang sepi dan gelap. Ia yang sejak tadi memperhatikan Tamara dengan penampilannya yang menarik membuat pikiran kotonya terus menghantuinya.

Apalagi penampilan Tamara yang menggunakan mini dress berwarna hitam, dengan tali 1 berada di pundaknya serta bagian atasnya yang terbuka. Membuat bagian dua buah melon miliknya terlihat sangat indah.

Tamara yang terlihat berantakan, apalagi dengan kondisi yang mabuk berat membuat Juno berpikiran buruk. Dirinya ingin menikmati gadis yang ada di hadapannya itu.

Karena Tamara tak sadarkan diri, tangan Juno terulur untuk menurunkan tali kecil yang berada di bahu Tamara.

Dengan wajah mesum, Juno mendekatkan wajahnya ke Tamara. Ia berusaha untuk menyentuh bibir ranum Rara yang sejak tadi sudah menggodanya.

Namun keberuntungan berada pada Rara, di saat Juno ingin menciumnya. Mata Tamara terbuka, ia terbelalak dengan apa yang ia lihat, dan dengan cepat ia segera mendorong pria yang ada di hadapannya.

"Juno, elo mau apain gue?" tanya Tamara dengan marah.

Juno tersenyum menatap Tamara. "Ayolah Ra, elo tau gue suka sama elo. Kita sama-sama dekat dan saling kenal, kenapa kita gak menjalin hubungan. Mari kita memulai dari sekarang!"

Plak.

Tamara menampar Juno, sampai-sampai pria itu menatap Rara dengan tatapan tak suka.

"Berani loe ya, nampar gue." Juno menekan kedua pipi Tamara dengan kencang. "Elo tau hah! Elo itu gak jauh beda seperti cewek yang lain biasa w kenal. Jadi dengan elo bersikap seperti ini, percuma karena elo itu seperti cewek murahan tau gak!"

Mata Rara basah saat mendengar apa yang Juno katakan. Dengan memberanikan diri Tamara mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya. Saat ada kesempatan barulah dia membuka pintu dan melarikan diri.

Suasana jalan cukup sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, jadi tak ada orang yang terlihat di jalan.

Tamara terus berlari saat Juno mengejar dirinya. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Rara berusaha melarikan diri dari pria yang hampir saja melecehkannya.

"Tolong ..." teriak Tamara.

"Mau kemana cewek bodoh, ini udah pagi. Elo berteriak sampe mulut lo doer, tetap gak akan ada yang dengar. Hahaha ..." Juno tertawa saat melihat Tamara yang jatuh bangun menghindar darinya

Saat Tamara berlari, terus menoleh kebelakang. Sampai-sampai ia tak sadar ada sebuah mobil di hadapannya, dan ..."

"Aaaaa ...."

Brak.

Tamara tertabrak sebuah mobil berwarna hitam, dan langsung tak sadarkan diri. Sedangkan Juno melihat Rara yang tergeletak di jalan, ia mundur dan segera melarikan diri

Dua orang pria keluar dari dalam mobil, untuk melihat kondisi orang yang mereka tabrak.

"Ya ampun, Fahmi ayo kita segera bawa dia ke rumah sakit!"

"Tapi Alif kita gak kenal dia, ngapain kita bawa dia ke rumah sakit? Lagian dia yang sengaja menabrakkan dirinya sendiri ke mobil!" tolak Fahmi.

"Mau kenal atau enggak, tapi kita udah menabrak dia. Bahkan dia sampai tak sadarkan diri. Kalau kamu tak mau bantu, biar aku yang bawa dia." Jawab Alif, dengan cepat ia segera membopong tubuh Tamara.

Fahmi pun dengan pasrah membantu Alif membuka pintu mobil, dan membawa Tamara ke rumah sakit.

Keesokan paginya Tamara membuka mata, alangkah terkejutnya ia melihat sang ayah berada di hadapannya yang terlihat begitu khawatir.

"Sayang. Syukurlah kamu sudah sadar, papa khawatir dengan kondisi kamu Nak." Pak Tama mengecup kening putrinya.

"Papa disini? Lalu aku kenapa aku berada di sini?" tanya Tamara mengingat kejadian semalam, namun justru kepalanya terasa berdenyut membuat dirinya tak dapat mengingat apapun.

"Sudah sayang, jangan di paksa untuk mengingatnya. Semalam itu papa di hubungi oleh seseorang, kalau kamu masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang papa dan mama Intan segera kesini,"jawab pak Tama.

"Mama Intan juga ikut menunggu aku di sini?" Tanya Tamara.

"Iya Nak, bahkan dia juga yang semalaman menunggu kamu di sini. Mama Intan begitu khawatir dengan kamu sayang." Sambil membelai lembut rambut sang putri.

"CK! Sudah lah Pah aku sedang tidak ingin mendengar papa menceritakan tentang mama Intan!" Pinta Tamara.

Pak Tama hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar sang putri bicara seperti itu. Tanpa mereka sadari intan sejak tadi mendengar percakapan antara suami dan anak sambungnya. Ada rasa sedih, namun ia segera menghapus air matanya.

Dua hari Tamara di rawat, dan hari ini Tamara sudah di perbolehkan pulang. Intan sebagai ibu berniat ingin membantu putri sambungnya. Namun apa yang ia dapatkan justru ucapan yang tak enak di dengar oleh Rara.

"Hei dengar ya! Sampai kapanpun kamu berusaha baik dengan saya, saya tak peduli. Bagi saya kamu hanya istri papa saja, bukan ibu saya mengerti kamu!" Ucap Tamara dengan tatapan benci.

"Terserah kamu Tamara, saya melakukan ini tulus. Bagaimanapun saya sangat menyayangi papa kamu, otomatis saya juga sayang kamu sebagai putri dari suami saya!" jawab intan dengan tegas.

"Dengarkan saya baik-baik! Saya tidak peduli dengan apa yang kamu katakan. Saya yakin perkataan kamu itu, hanya bualan semata. Setelah saya baik dengan kamu, justru kamu yang akan membunuh saya secara perlahan," Tamara dengan senyuman menyeringai

Mana mungkin saya membunuh kamu secara perlahan. Sedangkan saya tau, kamu putri kesayangan suami saya. Saya sadar diri kalau saya ini siapa, saya melakukan ini semua tulus ke kamu." Setelah mengatakan itu, makanan yang di bawa oleh intan segera di letakkan di atas meja, dan ia pun meninggalkan kamar putri sambungnya dengan rasa kecewanya.

Bab 2

"Astaghfirullah Tamara, kenapa kamu punya pikiran seperti itu. Mana mungkin saya membunuh kamu secara perlahan. Sedangkan saya tau, kamu putri kesayangan suami saya. Saya sadar diri kalau saya ini siapa, saya melakukan ini semua tulus ke kamu!" 

Setelah mengatakan itu, makanan yang di bawa oleh Intan segera di letakkan di atas meja, dan ia pun meninggalkan kamar putri Tamara dengan rasa kecewanya.

Pak Tama yang melihat sang istri menangis, saat keluar dari kamar putrinya. Ia pun segera mengikutinya saat Intan masuk kedalam kamar.

"Intan, kamu kenapa?" tanya pak Tama.

"Mas, aku ingin sendiri. Jadi mohon maaf tinggalkan aku sekarang!" Jawab Intan.

"Ya Allah kamu kenapa? Kok mengusir aku dari kamar?"

"Mas, aku ingin sendiri dulu. Jadi please jangan ganggu aku!" Jawab intan dengan memohon.

"Aku gak akan tinggalin kamu, dengan keadaan seperti ini. Coba sekarang cerita ke aku apa yang membuat kamu sedih seperti ini?"

Intan menggelengkan kepala, ia tak ingin mengatakan apapun apa yang di katakan Tamara. Tama hanya menatap wajah sang istri dengan wajah iba. Ia mengerti untuk saat ini istrinya tak dapat bicara apapun, tapi ia yakin nanti ia pasti akan bercerita kepadanya.

Tama hanya menghela nafasnya, dan tersenyum menatap sang istri.

"Baiklah, Mas akan keluar sebentar. Tapi setelah kamu tenang nanti, aku minta kamu ceritain apa yang kamu rasakan, apalagi sampai sedih seperti ini!" Tak ada jawaban apapun dari intan.

"Dengarkan Mas ya sayang! Tamara itu putri kesayangan aku, jadi aku tau betul sikap dia seperti apa. Di tambah lagi dengan adanya kamu yang saat ini mengisi hatiku. Pasti ada rasa cemburudi hatinya, apalagi saat melihat cinta pertamanya ada yang memiliki," Tama mencoba menjelaskan kepada sang istri dan meyakinkannya.

"Mau Tamara ataupun kamu, kalian sama-sama penting bagiku. Kamu wanita baik, aku tau kamu seperti apa. Aku juga yakin kalau kamu juga sayang dengan putri ku. Jadi aku minta maafkan dia ya, kalau dia sudah membuat kamu bersedih!"

Intan menatap wajah Tama, terlihat kalau pria di hadapannya itu sangat menyayangi dirinya. Tak dapat marah dengan sang suami, ia pun akhirnya mengangguk dan menunjukkan senyuman kepada laki-laki yang kini telah menikahi dirinya.

POV Intan.

Intan Saputri, gadis kapung berusia 30 tahun, yang dinikahi oleh Tama sejak 5 bulan lalu. Wanita yang di kenalkan oleh sahabat karibnya Bimo, membuat Tama jatuh hati kepada perempuan berparas cantik dan menikah dengannya 

Intan jujur sangat takut menikah dengan pria yang usianya terpaut 12 tahun lebih tua darinya. Apalagi saat ia mengetahui, kalau Tama memiliki seorang putri berusia 20 tahun, ada rasa khawatir di benaknya.

Namun lagi-lagi Tama mampu meyakinkan dirinya, kalau putrinya gadis yang baik. Ia pun menerima lamaran pria yang berusia 42 tahun itu. Meskipun sudah berumur, tapi Tama masih terlihat gagah dan tampan.

Sampai Intan dan Tama menikah, justru sikap Tamara berbeda. Anak itu terlihat sangat membenci dirinya. Padahal ia berusaha ingin menjadi peran ibu sambung yang baik. Ia tidak ingin di nilai ibu tiri yang jahat, dan hanya menginginkan ayahnya saja.

Hingga suatu ketika, Tamara, Intan dan Tama menikmati sarapan bersama. Namun sejak tadi entah kenapa pak Tama melihat sang istri nampak tak berselera makan.

"Sayang kamu kenapa?" tanya pak Tama kepada sang istri.

"Gak papa Mas, aku hanya malas sarapan. Kalo boleh, aku ingin ke kamar sebentar!" Pamit Intan.

"Kamu sakit? Apa mau aku antar ke dokter!" Ajak Tama, membuat Tamara yang duduk di hadapannya nampak malas mendengar percakapan mereka.

"Aku juga udahan sarapannya. Aku ke kamar dulu." Tamara bangun dari kursi lalu meninggalkan Tama dan Intan.

"Ra, kamu mau kemana? Habiskan dulu sarapan kamu!" ucap pak Tama dengan berteriak, namun Tamara tak menggubris ucapan sang papa.

"Mas, sudah! Mungkin dia sudah kenyang, jangan marah lagi! Nanti darah tinggi kamu datang lagi." Ucap Intan sambil menyentuh tangan sang suami.

"Tamara semakin lama, tingkahnya jadi liar seperti itu. Aku gak bisa tinggal diam, semakin aku manjakan dia semakin bersikap kurang ajar!" Pak Tama merasa geram dengan putrinya.

"Mas, sudah jangan marah lagi! Sekarang kamu minum dulu!" Intan memberikan segelas minum kepada suaminya.

Tama meminum nya hingga habis isi gelasnya.  "Sekarang aku ingin ke kamar, kepalaku tiba-tiba saja terasa pusing. Aku ingin istirahat."  Intan mengangguk dan membantu sang suami menuju kamarnya.

Hingga tiga hari kemudian, di saat makan malam. Pak Tama menatap wajah putri semata wayangnya.

Selesai makan, Tamara yang hendak meninggalkan meja makan, di tahan oleh pak Tama.

"Ra, duduk sebentar ada yang ingin papa bicarakan kepada kamu!" Perintah pak Tama, dan Tamara pun mengikuti apa yang di katakan sang ayah.

"Papa ingin bicara apa ke Rara?"

"Ra, Papa tidak bisa menahan lagi sikap kamu yang terus saja keluar malam, dan berteman dengan teman-teman kamu yang suka minum!" Kata pak Tama memojokkan Tamara.

"Maksud Papa apa sih? Aku juga melakukan itu, karena aku gak betah jika berada di rumah. Apalagi sejak adanya orang asing di sini!" Sindir Tamara dengan menatap Intan.

Pak Tama menggebrak meja dengan sangat keras, membuat Tamara dan Intan terkejut. Termasuk para ART yang berada di rumah mereka.

"Siapa yang kamu maksud orang asing Ra? Mama Intan, iya? Dengarkan baik-baik, yang kamu maksud orang asing sekarang dia sudah menjadi istri papa, ibu sambung kamu!" Suara pak Tama sangat marah, membuat Tamara semakin menatap tajam sang papa.

"Dia bukan ibuku, mamah ku mama Via! Satu lagi gak boleh ada yang menggantikan posisi mama di rumah ini. Termasuk dia ." Tamara menunjuk ke arah intan dengan tatapan benci.

Intan yang merasa berada di tengah-tengah, perdebatan antara anak dan ayah. Membuat dirinya menjadi serba salah, apalagi terlihat Tamara sangat membenci dirinya.

"Ra, jangan berkata seperti itu. Papa kamu sedang kurang sehat, saya mohon jangan melawan Papa!" Intan mencoba menenangkan Tamara.

Tamara yang tersulut emosi, apalagi saat ibu sambungnya menyentuh dirinya. Ia pun segera mendorong Intan sampai sang ibu sambungnya terjatuh ke lantai.

"Aku gak akan seperti ini, kalau kamu gak hadir di tengah-tengah aku dan papa. Semenjak kamu datang jadi bagian keluarga kami, hubungan kami menjadi renggang! Papa selalu peduli dengan kamu, sedangkan aku apa, di acuhkan oleh papaku sendiri!" Ucap Tamara membuat Intan dan pak Tama terkejut mendengarnya.

Intan menatap Tamara dengan bulir bening yang  lolos dari pelupuk matanya."Baik, jika kehadiran saya yang sudah membuat hubungan kamu dan papa kamu renggang. Saya akan pergi dari sini seperti apa yang kamu katakan! Tapi satu hal yang harus kamu tau, saya menikah dengan papa kamu gak ada sedikitpun niat buruk untuk membuat jarak anak dan ayah menjauh. Justru saya ingin sekali dekat dengan kamu, agar bisa kamu anggap saya sebagai ibu kamu, meskipun saya bukan melahirkan kamu!" ucap Intan dengan sungguh-sungguh, bahkan membuat Tamara tersenyum sinis mendengarnya. 

Tama mendengar sang istri bicara seperti itu, ada ketakutan tersendiri. Karena semenjak adanya Intan dirinya merasa ada yang memperhatikan kesehatannya kembali.

Intan bangkit dari duduknya, lalu hendak berjalan menuju kamarnya, yang dimana Tama menatapnya dengan menggelengkan kepalanya.

Bersambung....

Bab 3

Intan bangkit dari duduknya, lalu hendak berjalan menuju kamarnya, yang dimana Tama menatapnya dengan menggelengkan kepalanya.

"Intan kamu gak boleh pergi. Aku mohon jangan menganggap perkataan Tamara serius!" Tama dengan memohon.

"Enggak Mas, aku lebih baik pergi. Daripada membuat hubungan kamu dan putri kamu renggang, maafkan aku ya Mas!" Tama menggelengkan kepala menatap sang istri.

Intan melihat Tama meringis kesakitan, memegangi dadanya. Mulutnya terbuka dan seketika tubuhnya lemas.

"Mas Tama!" Teriak Intan, Tamara yang mendengar ibu sambungnya berteriak lalu menoleh dan menghampiri sang Papa.

"Papa." Tamara memegangi tangan pak Tama dengan rasa takut.

"Kalian jangan ada yang pergi, jika harus pergi biarkan Papa saja, haaaah." ucap pak Tama dengan suara sesak.

"Mas jangan bicara seperti itu, Rara butuh kamu. Ayo Mas kita ke rumah sakit!" Ucap Intan membuat Tamara menatap ibu sambungnya.

"Ra, ayo kita antar Papa kamu ke rumah sakit!" Ajak intan dan Tamara mengangguk. "Kamu jaga papa, biar saya panggilkan Agus untuk membantu ke mobil,"

Intan berlari keluar dan Tamara memegangi papanya.

"Papa jangan tinggalkan Rara, aku butuh papa. Aku sayang papa, aku gak mau papa pergi." Sambil memegangi tangan papanya.

"Papa hanya ingin kamu menjadi anak papa yang baik seperti dulu. Papa pun juga sayang kamu Nak," jawab pak Tama dengan bibir yang pucat.

Kini pak Tama sudah ditangani oleh dokter di sebuah ruangan. Intan dan Tamara menunggu dengan perasaan gelisah

"Ya Allah selamatkan mas Tama. Berikan dia kesehatan seperti sedia kala. Jangan kau ambil dia, aku mohon!' Intan tak henti-hentinya berdoa.

Sedangkan Tamara mendengarkan setiap apa yang di katakan oleh ibu sambungnya. Yang terus mendoakan papanya.

"Ya tuhan, aku memang bukan anak baik. Tapi aku sayang papa, aku mohon jangan ambil papaku. Aku janji, kalau papa sehat aku akan menjadi putri yang baik. Aku ingin menjadi anak yang berbakti kepada papa, dan menuruti apa yang papa katakan!" Tamara tak henti-henti berdoa dalam hatinya.

Dirinya merasa bersalah atas kejadian yang baru saja di alami oleh papanya. Karena dirinya sang papa sampai Anfal seperti ini.

Tamara yang duduk di sebrang Intan, sejak tadi memperhatikan gerak-gerik ibu sambungnya yang terlihat memegangi kepalanya.

"Kamu kenapa, kalau pusing lebih baik pulang dan istirahat! Papa biar aku yang jagain!" ucap Tamara terdengar ketus, namun Intan justru tersenyum mendengarnya.

"Saya gak papa Ra, terimakasih sudah mempedulikan saya," jawab Intan.

Tamara hanya menganggukkan tanpa senyuman. Saat Intan ingin bangun dari duduknya, tiba-tiba tubuhnya sempoyongan dan lemas. Untung saja Rara berada di dekatnya, dan siap menahan tubuh ibu sambungnya.

Saat berada di ruangan Intan di tangani oleh beberapa dokter. Tamara masih menunggu di luar ruangan menunggu keadaan ibu sambungnya.

Saat sedang menunggu datang seorang dokter keluarga dari ruangan ibu sambungnya.

"Bagaimana Dok, keadaan ibu saya?"

Tamara tanpa sadar memanggil Intan dengan panggilan ibunya.

"Dia ibumu?" Tamara mengangguk. "Kondisi pasien tidak ada yang perlu di khawatirkan, itu hal yang biasa untuk ibu hamil," jelas dokter.

"Hamil? Jadi ibu saya hamil?" tanya Tamara tak percaya.

"Iya, ibu kamu hamil.Tapi saya harus mengatakan ini, kandungan pasien lemah. Jadi saya sampaikan, tolong jangan membuat pasien stres atau bahkan yang membahayakan kesehatan pada kandungannya!" ucap dokter yang menjelaskan kondisi kehamilan Intan.

"Ba ...baik Dok. Saya akan sampai ke Papa, karena saat ini papa belum sadarkan diri," jawab Tamara dengan gugup.

"Mungkin itu yang menyebabkan ibu Intan pingsan. Karena kondisi suaminya sakit?" tanya sang Dokter.

"Mungkin Dok, kalau begitu apa saya boleh melihat kondisinya?" tanya Tamara.

"Silahkan!" Tamara pun langsung meninggalkan dokter dan masuk ke ruangan yang dimana tempat intan di rawat.

Intan tersenyum saat melihat Tamara masuk ke ruangannya.

"Ra, terimakasih ya. Kamu sudah menolong saya, meskipun hubungan kita sedang tidak baik," ucap Intan dengan senyuman.

"Eemm ... saya melakukan ini, karena kamu itu istri papa saya. Apalagi di dalam perut kamu ada anak papa, saya tidak ingin papa semakin marah kalau saya mengacuhkan kamu," jawab Tamara dengan pura-pura tak peduli.

"Iya saya mengerti, tapi yang jelas saya mengucapkan terimakasih." Intan memberanikan diri menyentuh tangan Tamara.

Tamara melihat tangannya di sentuh oleh ibu sambungnya, namun ia membiarkannya.

"Yasudah karena kamu sudah baikan, saya harus kembali keruangan Papa." Dengan hati-hati Tamara melepaskan tangannya dari Intan.

Intan tersenyum lalu mengangguk.

"Ya kamu lihatlah kondisi Papa, kalau ada kabar apapun tolong kabarin saya ya!" Tamara mengangguk.

Tamara pergi keluar meninggalkan kamar Intan, menuju kamar sang Papa. Jujur dia begitu sangat mengkhawatirkan kondisi Papanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED