Bab 2

Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah sebagai murid baru. Dengan langkah mantap, aku turun dari taksi dan memandang gedung sekolah yang megah di depanku. Sekolah ini tidak asing bagiku, aku sudah melihatnya di foto-foto yang kuterima saat pendaftaran. Tapi rasanya berbeda saat aku benar-benar berdiri di depannya.

Aku tak pernah menyangka bisa bersekolah di sini. Sekolah yang hanya bisa di masuki oleh kalangan elite, sekarang menjadi tempatku belajar. Rasa bahagiaku mengalahkan rasa penasaran yang sebelumnya menghantui pikiranku.

Kenapa kedua orang tuaku tiba-tiba memindahkan aku ke sini? Padahal mereka hanya pekerja paruh waktu biasa.

Aku menarik napas panjang dan melirik jam tangan. "Aduh! Kelasku!" Aku panik.

Jam pelajaran pertama hampir dimulai, dan aku belum tahu di mana kelasku. Dengan buru-buru, aku berlari menuju gedung utama, berharap tidak terlambat.

Namun, tiba-tiba saja, langkahku terhenti ketika kakiku tersandung. Aku terjatuh dengan keras ke lantai, map berisi surat-suratku berhamburan. Ketika aku mencoba bangkit, terdengar suara tawa mengejek di belakangku.

"Ups, nggak sengaja," suara seorang perempuan yang jelas-jelas tidak tulus meminta maaf.

Aku mendongak, dan mendapati seorang gadis dengan senyum penuh kepuasan di wajahnya, bersama dua temannya yang ikut tertawa. Salah satu dari mereka, yang berdiri paling dekat denganku, menambahkan...

"Makanya kalau jalan, pakai mata! Jangan pakai dengkul!"

Aku langsung tahu siapa mereka, anak-anak populer di sekolah ini, geng berkuasa yang sudah kudengar dari Yuni, tetanggaku. Katanya, pembullyan masih marak di sini dan kini aku paham maksudnya.

Gadis yang baru saja menjatuhkanku adalah Ericka, sang ratu sekolah yang terkenal di kelas 12. Selain wajah cantiknya yang selalu menjadi pusat perhatian, ia juga dikenal karena sifatnya yang kejam. Di sampingnya berdiri Siska, tangan kanannya yang selalu menurut tanpa banyak bicara, dan Dinda, si pendiam yang tatapannya seperti ingin membunuh.

Aku mulai mengumpulkan surat-surat yang berceceran, berniat cepat-cepat pergi. Namun saat aku hendak bangkit, Siska mendorongku ke tembok dengan keras.

"Berani banget lo nyuekin kita!" bentaknya, matanya melotot.

"Maaf, saya buru-buru," gumamku, mencoba menghindari konflik.

"Oh, songong banget ya lo! Lo nggak tahu siapa gue?" Ericka mendekat, menarik daguku kasar agar mataku menatap langsung ke arahnya.

"Manusia," jawabku, mencoba tetap tenang, "tapi berhati setan!" lanjutku tanpa pikir panjang.

"Sialan!" Ericka langsung mengangkat tangannya, siap menamparku.

"Dasar anak pindahan gak tahu diri!"

Aku merasakan detak jantungku semakin cepat. Mataku tertutup rapat, sudah siap menerima tamparan itu, tapi... hening. 

Tidak ada apa-apa. Tanganku, yang tadi dicekal oleh Siska dan Dinda, kini terasa bebas. Perlahan, aku membuka mata, penasaran dengan apa yang terjadi.

Seorang pria berdiri di depanku, tubuhnya tinggi dan berotot, meski tidak terlalu besar. Tangannya menahan tangan Ericka yang hampir mengenai wajahku. Ia menepis tangannya dengan tenang, lalu menatap gadis itu dingin.

"Berhenti," katanya singkat, tapi penuh wibawa.

Ericka, yang biasanya mendominasi, tampak kehilangan keberaniannya seketika. Dengan enggan, dia menarik tangannya dan mengajak kedua temannya pergi tanpa sepatah kata lagi. Aku berdiri diam, tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

"Terima kasih," ucapku pelan, merasa lega.

Pria itu hanya menatapku sekilas, senyumnya tipis dan dingin. Tanpa membalas ucapanku, dia berbalik dan pergi begitu saja, seakan aku tidak penting. Aku terdiam di tempat, merasa aneh. Campuran antara perasaan berterima kasih dan... dicampakkan?

Aku menggeleng, berusaha mengusir pikiran aneh itu, dan melanjutkan langkahku menuju ruang kelas. Namun, sosok pria itu terus berputar di kepalaku.

Begitulah pertemuan pertamaku dengan Arga, si Ketua OSIS jenius dan dingin. Siapa sangka, dia akan menjadi sainganku di sekolah ini, dan entah bagaimana, dia adalah suamiku sekarang.

..

..

"Sial, jam berapa ini..." suara terkejut Agra membangunkanku dari mimpi buruk.

Ya, aku berharap pernikahan kami ini hanyalah mimpi buruk dalam tidurku. Namun kenyataannya, ini adalah mimpi buruk yang harus kujalani sepanjang hidup.

Kehidupan baru sebagai pasangan suami istri dimulai dengan semangat pagi yang lebih seperti kekacauan. Alarm pagi membangunkan kami dari tidur yang nyenyak, dan aku langsung merasakan ketegangan di udara. Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh, dan panik menyergapku. 

Aku melompat dari tempat tidur dan menuju kamar mandi dengan cepat, hanya untuk menemukan Arga sudah berada di sana. Kami saling bertatap muka melalui kaca pintu kamar mandi yang tertutup, dan tanpa perlu berkata banyak, kami tahu bahwa kami berada dalam situasi yang sama sekali tidak nyaman.

"Aku belum siap!" teriakku panik dari luar kamar mandi, suaraku bergema di lorong rumah.

Arga hanya mendesah, suaranya berat namun terkontrol, lalu memutar kunci kamar mandi. Ia keluar dengan rambut basah yang masih menetes, mengenakan handuk yang disampirkan di bahu, dan memandangku dengan ekspresi datar.

"Cepat, kita sudah telat," katanya, nadanya terdengar sedikit tajam, tapi penuh kepastian.

Aku langsung menyelinap masuk ke kamar mandi, menyambar peralatan mandi dan melakukan semuanya dengan kecepatan kilat. Di luar, terdengar langkah-langkah kaki Arga yang mondar-mandir di kamar. Setiap detik seolah berlomba melawan waktu, dan aku hampir bisa merasakan ketegangan menebal di udara.

"Cepatlah, kita tidak punya waktu untuk drama pagi ini," suara Arga dari balik pintu terdengar datar, namun menambah tekanan.

Selesai dengan mandi, aku segera berpakaian secepat mungkin. Aku berlari menuju dapur, berharap bisa mendapatkan sarapan meskipun hanya seteguk susu putih. Arga sudah ada di sana, berdiri sambil mengunyah roti bakar dengan ekspresi serius di wajahnya. Tangannya yang kuat menyandarkan tubuhnya pada meja dapur, dan matanya melirik jam dinding dengan penuh kecemasan.

"Kita benar-benar harus cepat," ulangnya, kali ini suaranya lebih tenang, tapi jelas-jelas menyimpan kekesalan tersembunyi.

Tanpa menanggapi, aku hanya mengangguk sambil meraih roti yang tergeletak di meja dan menyesap sedikit susu dingin. Kami makan dalam diam, dan suasana terasa tegang, seperti ada banyak hal yang belum terucap namun dipendam. Pikiranku berlari, mencoba mengejar waktu sambil menenangkan perasaan tak nyaman di dada.

Setelah beberapa menit, kami akhirnya melesat keluar pintu dan berlari ke mobil. Suara langkah kami di trotoar bergema dalam keheningan pagi, menciptakan suasana yang makin canggung di antara kami.

Sebelum masuk ke mobil, Arga berbisik pelan. "Ingat, kita akan berpisah sebelum sampai di gerbang sekolah. Jangan sampai ada yang tahu kita datang bersama. Mereka akan curiga."

"Suami macam apa kamu..."

Arga mengangkat tangannya, meletakkan jari telunjuknya di bibirku. "Bukan waktunya untuk berdebat, Ny. Arga!"

Bab 3

Saat bel pertama berbunyi, aku baru saja melangkah memasuki gerbang sekolah. Aku segera berlari menuju ruang kelas dan melihat Arga berdiri di depan pintu, dengan ekspresi yang sama cemasnya. Kami saling bertatapan, seolah tidak percaya bahwa kami terlambat untuk pertama kalinya.

"Kita tidak terlambat, kan?" tanyaku, berusaha mengurangi rasa malu.

"Menurutmu?" jawab Arga sambil menatap jam tangannya dengan serius. "Sepertinya kita kena hukuman."

"Ah, aku tidak pernah terlambat seperti ini," keluhku dengan kesal.

"Ya, semua gara-gara kamu," jawab Arga, nada suaranya penuh ketegangan. "Kalau saja kamu tidak menghabiskan waktu terlalu lama di kamar mandi, kita tidak akan terlambat."

Aku menatapnya dengan tak percaya. "Aku? Lagipula, kamu juga tidak memberikan penjelasan tentang berapa lama kamu akan berada di kamar mandi."

Arga menghela napas, wajahnya menunjukkan frustrasi. "Aku juga tidak tahu kamu akan berganti pakaian sebanyak itu. Ada cara lebih cepat untuk siap pergi, kamu tahu."

Pintu kelas tertutup rapat, dan saat kami berdiri di luar, kami berdua merasa canggung. Kami berdua berdiri di sana, saling menatap dengan marah. Tidak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya Pak Arif, guru kami, keluar dari kelas dan melihat kami dengan tatapan tegas.

"Kalian berdua, ikuti saya ke lapangan. Keterlambatan kalian akan dihukum dengan latihan fisik."

Kami berdua terdiam sejenak, melihat Pak Arif meninggalkan kelas menuju lapangan. "Bagus sekali, kita berdua dapat hukuman," ucapku dengan nada sinis.

"Yah, setidaknya kita mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan masalah kita," jawab Arga, suara dan wajahnya menunjukkan keteguhan.

Di lapangan, kami berdua melakukan latihan fisik di bawah pengawasan Pak Arif. Saat berlari dan melakukan berbagai gerakan, ketegangan di antara kami mulai mereda. Arga, meski dengan sikap dingin, tidak bisa menghindari untuk membantu ketika aku terlihat lelah.

"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kita hanya perlu bertahan sedikit lagi," katanya dengan nada yang lebih lembut.

Aku meliriknya, merasakan campuran antara kemarahan dan rasa terima kasih. "Kamu juga tidak perlu terus-menerus menyalahkanku. Kita semua berperan dalam keterlambatan ini."

Saat kami berlari di lapangan, aku mulai merasa pusing dan tubuhku semakin lemas. Latihan fisik pagi ini sangat melelahkan, dan aku berusaha keras untuk tetap berdiri. Tiba-tiba, sebuah bola basket meluncur ke arahku dengan cepat.

"Rila, hati-hati!" teriak Arga, tetapi semuanya terasa lambat seakan waktu berjalan sangat pelan.

Aku berusaha menghindari bola, tetapi rasa pusing yang semakin parah membuatku tidak bisa bergerak dengan cepat. Bola itu mengenai tubuhku, dan tanpa bisa menahan tubuh yang sudah lemah, aku akhirnya tumbang ke tanah.

"Rila!" teriak Arga, melompat ke arahku dengan panik. Dia segera membantuku berdiri sambil mencari bantuan.

Karena tubuhku sudah begitu lemah, aku tak bisa lagi menahan keseimbanganku. Dunia terasa berputar, dan pandanganku semakin kabur sampai akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri.

Saat aku membuka mata, langit-langit ruang UKS yang kusam menjadi pemandangan pertama yang kulihat. Kepalaku terasa sedikit berat, tapi yang lebih mengejutkan adalah sosok pria berseragam basket yang duduk di sebelahku. Dia terlihat lelah, bahkan tertidur dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur. 

"Eh, lo udah sadar?" Dia langsung duduk tegak, suaranya agak serak. "Sorry ya, tadi gue nggak sengaja kenain bola ke kepala lo. Lo baik-baik aja kan?"

Aku berusaha duduk, meski sedikit oleng. "Aku nggak apa-apa," jawabku pelan.

Dia menatapku lebih dekat, terlihat jelas kekhawatiran di matanya. "Lo tadi katanya lemah karena belum makan, ya? Gue beliin makanan buat lo, sekalian tanda minta maaf. Lo makan ya?" Dia mengeluarkan bungkusan makanan dari dalam tasnya.

"Duh, kok jadi ngerepotin kamu, Kak." Aku menunduk, merasa malu dan canggung.

Tapi dia malah mengangkat daguku dengan lembut, membuat mataku bertemu dengan tatapannya. "Santai aja. Ini semua salah gue kok," katanya sambil tersenyum. "Ayo, makan!"

Dia menyodorkan sendok, ingin menyuapiku. Namun bukannya segera makan, aku malah terpaku, menatap wajahnya lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di balik perhatian yang dia tunjukkan, sesuatu yang membuat jantungku berdebar kencang.

Elang... kenapa dia begitu perhatian padaku? Apa dia melakukan hal ini ke semua perempuan? Atau cuma aku?

"Hey, ayo makan!" tegurnya, mengembalikan pikiranku ke realita.

"Ah, iya." Aku langsung berusaha mengalihkan pandangan, mencoba menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.

Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, memecah keheningan di antara kami dan menghapus sisa-sisa momen yang terasa hampir sempurna. Padahal, di dalam hatiku, aku masih ingin menikmati kebersamaan ini lebih lama.

"Kak, udah bel. Kamu enggak masuk kelas?" tanyaku, menghentikan sendokan makanan yang baru saja dia siapkan untukku.

Dia ragu sejenak. "Lo beneran nggak apa-apa gue tinggal sendirian?"

Aku mengangguk pelan. "Aku udah baik-baik aja kok."

"Tapi lo makan ya. Gue harus masuk kelas sekarang." Dia berdiri, merapikan seragamnya.

Sebelum dia pergi, tanpa sadar aku meraih tangannya. "Kak... terima kasih, ya. Udah nolongin aku lagi," ucapku tulus, sedikit menahan rasa canggung di balik kata-kata itu.

Elang tersenyum kecil, lalu mengusap kepalaku lembut. "Gue pergi dulu, ya. Jaga diri lo baik-baik." Dia berlalu, meninggalkan jejak perhatian yang entah kenapa terasa lebih mendalam dari sekadar permintaan maaf.

Aku hanya bisa menatapnya pergi, perasaan campur aduk yang bergejolak di dalam hatiku. Antara rasa syukur, bingung, dan sesuatu yang lain, yang perlahan mulai tumbuh.

"Mau diliatin sampai kapan?" suara Arga yang datar tiba-tiba terdengar, membuatku terkejut.

Dia menyingkap tirai di samping tempat tidur UKS, muncul begitu saja tanpa ekspresi. Tatapannya dingin seperti biasa, tapi kali ini ada sesuatu yang sulit kujelaskan. Entah perhatian atau sekadar rasa penasaran.

"Arga?" tanyaku pelan, masih bingung. "Ngapain di sini?"

Dia hanya berdiri bersandar di dinding, menatapku dengan pandangan tajam tapi tenang. "Liatin aja, ternyata yang katanya nggak pernah kalah malah pingsan di lapangan."

Aku menahan diri untuk tidak memutar mata. "Aku cuma pusing, bukan lemah."

"Terlihat beda," jawabnya singkat, tanpa sedikitpun menunjukkan kekhawatiran yang mungkin tersirat. Dia seperti biasa, tidak terlalu peduli dengan apapun kecuali dirinya sendiri.

Aku mencoba duduk tegak, tapi rasa pusing masih sedikit tersisa. "Ngapain sih? Nggak ada kerjaan lain selain ngurusin hidup orang?"

Dia diam sebentar, lalu berjalan mendekat. "Gue cuma pengen tahu, udah nggak ada masalah lagi, kan?" tanyanya dingin, seolah itu cuma formalitas.

"Iya, gue baik-baik aja," balasku, menunduk sedikit, merasa kesal karena nada suaranya yang seolah tidak peduli.

Arga berdiri di sana, masih dengan wajah datar. Dia tidak bicara apa-apa lagi, hanya menatapku sejenak, lalu berbalik hendak pergi.

"Arga," panggilku, membuatnya berhenti. "Makasih."

Dia tidak menoleh, hanya memberikan anggukan kecil sebelum meninggalkan ruangan, membiarkan keheningan kembali menyelimuti.

Itulah Arga, pria yang selalu menjaga jarak, meski pada saat-saat seperti ini. Aku bisa merasakan, mungkin, hanya mungkin, dia sedikit peduli kali ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED