Farida berjalan ke dapur menghampiri wadah beras yang terlihat transparan. Hatinya merasa kacau saat menakar beras yang hanya tinggal setengah gelas.
Sayur dan lauk-pauk sudah habis sejak kemarin bahkan piring-piring kotor pun sudah menumpuk karena sabun pencuci piringnya sudah habis.
"Ya Allah sudah habis lagi berasnya, padahal baru dikasih sama ibu dua hari yang lalu."
Farida mencoba memutar otaknya untuk memanfaatkan beras yang hanya tinggal setengah gelas untuk bisa mereka makan pagi itu.
"Farida, mana kopi ku!" Teriak Adam, suaminya yang sudah duduk di teras sembari memberi makan burung kesayangannya.
Farida datang menghampiri Adam, tidak tangan kosong, Farida menunjukkan beras yang hanya tinggal setengah gelas di tangannya.
"Mas, lihat ini." Farida menyodorkan tangannya memperlihatkan beras di gelas yang terlihat tak penuh.
"Kita sudah nggak punya beras, Mas. Beras yang dikasih ibu kemarin sudah habis. Kamu kapan mau cari kerjaan."
Sebenarnya Farida sudah cukup sabar selama ini melihat suaminya pengangguran dan tidak berpenghasilan. Dia hanya mengandalkan kedua orang tuanya yang terlihat sedikit mapan hidupnya.
"Iya nanti," jawab Adam santai. Ia masih saja sibuk memberi makan burungnya dan membersihkan kandangnya.
"Nanti kapan, Mas. Kamu selalu saja bilang nanti tapi nggak pernah kamu lakukan. Kita kan nggak mungkin selalu minta beras dan uang sama ibu," kata Farida.
Adam yang mendengar perkataan Farida merasa kesal dan juga tak terima. Menurutnya dirinya sudah sangat berusaha mencari pekerjaan dengan bertanya pada teman-teman dekatnya.
Ia bangkit dan membanting wadah pakan burung ke atas meja yang ada di dekat mereka. Seketika pakan burung yang tadinya ada di dalam wadah pun berserakan.
"Kamu itu maunya apa sih, hah! Sebagai istri, kamu itu cuma bisa nuntut aku setiap hari. Kamu kan tahu aku sudah berusaha cari kerja. Kamu nggak buta, kan? Kamu lihat kan kalo aku udah usaha."
Wajah Adam memerah. Nada suaranya naik setengah oktaf memancing perhatian para tetangga yang sedang beraktivitas di depan rumah.
Ada yang sedang menyapu halaman dan ada juga yang sedang menjemur pakaian. Semuanya langsung memusatkan pandangan pada Farida dan juga Adam.
"Mas, bisa nggak sih kalo kamu jangan teriak-teriak gitu ngomongnya. Malu mas diliat tetangga," kata Farida berbisik.
"Kenapa malu? Bukannya memang itu kenyataannya. Kamu itu jadi istri setiap hari cuma bisa nuntut aku terus."
Farida hanya bisa menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya ia bertengkar dengan suaminya karena masalah yang sama.
Sudah menjadi kebiasaan Adam selalu marah saat dirinya membahas tentang pekerjaan padahal yang Farida inginkan adalah Adam yang mencari pekerjaan bukannya hanya duduk di rumah dan sekedar bertanya pada teman-temannya.
"Mas, aku nggak pernah nuntut apa-apa dari kamu. Aku cuma pengen kamu cari kerja keluar mas, jangan hanya di dalam rumah dan mengandalkan teman-teman mu yang memberi pekerjaan."
"Oh apa ini sekarang? Apa kamu sekarang sudah berani menyuruh-nyuruh aku, hah! Apa kamu lupa kalo aku nggak kerja pun kita masih bisa makan kok. Keluargaku menanggung semua kebutuhan kita jadi kamu tenang saja."
"Bukan begitu, Mas. Aku cuma nggak mau aja kalo kita harus selalu bergantung pada orang tua. Kita kan sudah menikah jadi sudah seharusnya kita hidup mandiri," ujar Farida. Namun, lagi-lagi perkataan Farida tidak diterima dengan baik oleh Adam.
"Eh ada apa ini? Kok kamu marah-marahin anak saya," kata Nadia yang langsung ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Ibu," sapa Farida mengulurkan tangan untuk bersalaman pada ibu mertuanya yang datang ke rumah.
Namun, tangan Farida ditepis oleh Nadia dengan begitu kasar. "Ngga usah salam-salaman segala. Kamu ngapain marahin anak saya, hah!" Bentak Nadia yang langsung menghakimi Farida.
"A-aku nggak memarahi Mas Adam, Bu. Aku cuma ...."
"Halah sudahlah tidak usah beralasan lagi. Jelas-jelas aku melihatnya sendiri tadi kamu marah-marah sama anak saya." Mata Nadia melotot pada Farida, sementara Farida hanya bisa menunduk mengalah pada mertuanya.
"Aku nggak ngerti sama Farida, Bu. Dia selalu saja marah dan membahas aku yang nggak kerja padahal aku kan juga udah usaha," ucap Adam mengadu.
"Tuh, kamu dengar kan, Farida. Adam itu udah usaha kok jadi nggak perlu kamu marah-marah sama dia. Lagipula Adam nggak kerja juga ibu masih bisa biayain kalian kan. Harusnya kamu yang ngaca dan malu. Kamu itu cuma jadi beban aja buat Adam," kata Nadia.
"Beban? Maksud ibu apa?" tanya Farida.
"Ya beban. Kamu cuma minta dikasih makan dan diberi uang aja tiap bulan. Kalo kamu mau uang, ya kerja! Jangan cuma minta-minta sama suami aja."
Bagaikan disambar petir di pagi yang cerah. Farida tak menyangka jika ibu mertuanya akan berkata sekasar itu padanya.
Entah bagaimana bisa dia mengatakan bahwa dirinya hanya seorang beban padahal dirinya adalah seorang istri yang memang wajib untuk dinafkahi oleh suaminya.
Seketika gelas berisikan beras yang ia pegang seolah akan terlepas dari tangannya. Seluruh syarafnya seakan melemas mendapat kalimat tamparan seperti itu dari ibu mertuanya.
"Itu apa yang kamu pegang? Apa beras kalian sudah habis lagi?" tanya Nadia melirik ke arah tangan Farida yang tengah memegang gelas.
*** Uang Dua Ribu pun Aku tak Punya
Farida hanya menunduk saat dengan kasar Nadia merebut gelas itu dari tangannya. Farida tahu jika para tetangganya pasti sangat heran dengan pertengkaran yang kerap terjadi di keluarganya.
"Sudah habis lagi? Bukannya baru kemarin lusa ibu kasih berasnya. Kamu boros sekali sih," umpat Nadia. Wajahnya merengut penuh kebencian pada Farida.
Nadia masuk ke dalam rumah dan melihat rumah yang berantakan. Kebetulan Farida belum sempat melipat baju yang menumpuk dan belum sempat dilipat karena Tasya yang sejak kemarin rewel sehingga Farida belum sempat membereskannya.
Mata Nadia memicing ke arah dapur dan melihat cucian piring yang menumpuk dan belum juga dicuci oleh Farida karena tidak ada sabun pencuci piring.
Sementara Farida dan Adam yang ikut berjalan di belakang Nadia tentu tahu apa yang Nadia rasakan sekarang meski hanya menebak dalam hati.
"Ya Allah, ibu pasti akan marah lagi padaku," batin Farida.
"Ini apa-apaan, Farida? Kamu tuh kerjanya ngapain sih di rumah kok bisa rumah berantakan nggak keurus gini," celetuk Nadia.
Keningnya mengernyit mengamati setiap deretan piring-piring dan panci-panci yang kotor. Belum lagi gelas-gelas yang berjejer dalam keadaan kotor.
"Itu a-anu, Bu."
"Anu apa!" Bentak Nadia yang tiba-tiba menoleh ke arah Farida.
Wajahnya memerah dan matanya melotot, sepertinya Nadia sudah benar-benar sangat marah pada Farida.
"Aku belum sempat mencuci piring, Bu, karena tidak ada sabun pencuci piring," kata Farida.
"Ya kamu kan bisa hutang ke warung dulu. Jangan jadikan hal itu sebagai alasan! Kamu itu perempuan. Perempuan itu harus bisa berinisiatif mengurus rumah tangga," ucap Nadia lagi.
"Ibu tidak tahu saja kalau aku sudah tidak bisa berhutang lagi di warung karena hutang yang kemarin pun belum dibayar," Farida membatin.
Namun, kalimat itu tak sampai diucapkan dengan mulutnya. Farida tahu apapun yang ia katakan pasti akan tetap salah.
"Terus kenapa itu baju-baju nggak kamu lipat? Itu kan nggak perlu pakai sabun. Kamu mau alasan apa lagi? Emang dasar kamunya aja yang males," kata Nadia semakin tak bisa mengontrol kalimatnya.
"Ya gitu lah Bu. Dia kalo di rumah ya emang semaunya gitu." Adam ikut memojokkan.
"Bukan gitu, Mas. Kamu kan tahu sendiri kalau kemarin itu Tasya sakit dan dia rewel jadi aku nggak bisa beres-beres rumah." Farida mencoba membela dirinya yang selalu saja dituduh tidak benar.
"Bu, aku mau jajan," ucap Tasya yang tiba-tiba datang dan menarik ujung baju lengan Farida.
"Emmm iya-iya." Farida menenangkan Tasya yang sudah merengek.
Farida pun menuntun Tasya agar mengikutinya. Mereka berjalan tak jauh dari Nadia dan juga Adam sementara Farida yang baru meninggalkan mereka bisa mendengar jelas, kalimat keji yang Nadia katakan pada Adam.
"Kamu kok mau sih, Dam nikah sama perempuan kayak Farida. Bisanya cuma ngerepotin aja," ucap Nadia yang tak disambut dengan kalimat apapun oleh Adam.
Kalimat yang Farida dengar itu membuatnya terenyuh dan ingin menangis, tapi ia mencoba menahannya sekuat tenaga.
Rupanya isi dompetnya kosong. Tak ada selembar uang pun di dalam dompetnya.
"Ya Allah, bagaimana ini. Aku nggak punya uang sama sekali," batin Farida semakin nelangsa.
"Bu, mana uangnya," tanya Tasya lagi.
"Emmm Tasya, sekarang ibu belum punya uang. Tasya jajannya besok ya kalo ibu udah punya uang," ucap Farida.
Saat mengucapkan kalimat itu pun Farida merasakan sesak pada dadanya. Ia merasa sedih saat tak dapat memenuhi keinginan putri semata wayangnya.
Tiba-tiba saja Tasya menangis kelojotan di lantai. Tasya merengek meminta uang untuk jajan. Sementara Farida yang hanya memegang dompet kosong tak bisa berbuat apa-apa.
Dirinya sudah tak bisa berhutang lagi ke warung. Mana mungkin dirinya bisa memenuhi keinginan putrinya saat itu.
"Ada apa ini kok Tasya nangis kayak gini?" tanya Nadia menghampiri Tasya yang sudah menangis tak karuan karena meminta jajan.
Adam mencoba menenangkan, tapi Tasya tetap tak mau diam.
"Apa uang 2 ribu saja kamu nggak punya sampai anakmu menangis seperti ini." Nadia terlihat mengernyitkan keningnya.
Farida tak menjawab. Ia hanya bisa menenangkan Tasya yang tetap tak mau diam. Tak lama Nadia mengeluarkan uang dari dalam tas jinjingnya.
Nadia mengeluarkan selembar uang 5 ribu dan ia berikan pada Tasya hingga membuatnya diam.
"Ini uang untuk Tasya, sekarang Tasya jangan nangis lagi, ya. Tasya bisa beli jajan sekarang," kata Nadia lagi.
"Makasih Oma," kata Tasya dengan sesenggukan. Tak lama anak kecil itu pun pergi berlari menuju ke warung.
"Kamu ini ibu macam apa sih, Farida. Memberi anak uang jajan saja kamu tidak bisa," umpat Nadia.
"Itu karena mas Adam tidak bekerja, Bu jadi aku tidak diberi uang untuk jajan Tasya."
"Jangan bawa-bawa Adam." Nadia tak terima.
"Adam sudah membangun rumah ini untuk kamu tinggali, tapi coba lihat dirimu sendiri. Apa yang kamu bawa untuk membangun rumah tangga ini." Nadia mengungkit.
"Tapi aku sudah berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik, Bu," kata Farida.
"Menjadi ibu rumah tangga yang baik? Baik apanya." Nadia menarik ujung bibirnya dengan begitu sengit.
"Ibu rumah tangga yang baik itu nggak pernah ngerepotin," lanjut Nadia.
"Maksud ibu apa? Aku ini istrinya Mas Adam, Bu. Aku hanya meminta hak ku saja sebagai istri tidak lebih." Farida menyelesaikan nada suaranya yang bergetar.
"Sudahlah nggak usah drama pake nangis segala," Adam terlihat tak peduli dengan perasaan Farida yang sudah hancur, sehancur-hancurnya.
Nadia menggeleng melihat Farida yang menunduk menahan air matanya agar tak sampai jatuh. Sepertinya ada rasa heran yang teramat sangat di dalam hati Nadia pada Farida yang tidak bisa dia ucapkan secara langsung.
"Farida, harusnya kamu itu mikir. Adam nggak kerja tapi aku masih bisa menghidupi kamu dan juga anakmu tapi coba kamu lihat dirimu sendiri. Apa kamu bisa nggak merepotkan suamimu terus. Kamu itu masih punya orang tua, mbok minta sama dia. Jangan hanya menuntut suamimu terus." Nadia mendengus kesal.
"Sudahlah Bu. Percuma juga ibu marahin dia. Dia akan tetap seperti itu," kata Adam.
"Hmmm kamu benar juga," ucap Nadia membenarkan kata-kata anaknya.
"Yasudah sekarang kamu ikut ibu ke rumah, nanti ibu kasih beras dan lauk-pauk juga," kata Nadia.
"Makasih ya, Bu." Adam tersenyum pada Nadia.
"Iya, Dam. Pokoknya kamu nggak perlu pikirin apa kata istrimu ini ya. Kamu nggak perlu cari kerja kalo emang belum ada." Nadia mengusap pundak Adam.
"Ya Allah, beginikah cara ibu mendidik dan mendewasakan Mas Adam selama ini," batin Farida terheran melihat Nadia yang sama sekali tidak mengingatkan Adam untuk segera mencari pekerjaan.
***
Setelah Nadia pulang ke rumah, Farida pun kemudian menyusulnya seperti perintah Nadia yang memintanya agar datang ke rumahnya untuk mengambil beras lagi.
Sebenarnya Farida tak ingin lagi meminta-minta dan bergantung pada mertuanya, tapi nyatanya gak segampang itu. Lagi-lagi dirinya menengadahkan tangan meminta mertuanya membantu keluarganya.
Meski menahan malu dan juga rasa sakit di dalam hatinya. Nyatanya Farida masih memiliki muka untuk datang ke rumah Nadia dengan tangan kosong.
"Assalamualaikum," ucap Farida mengucapkan salam.
Tak ada sahutan dari Nadia maupun suaminya. Tapi tak lama, datang bapak mertuanya yang hanya memakai sarung dan kaos oblong.
Tatapannya terlihat tajam memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tanpa ragu, Farida langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Mau apa kamu ke sini? Mau minta beras lagi, ya?" tanya bapak mertuanya yang seperti sudah hafal dengan kebiasaannya.
"I-iya, Pak. Tadi ibu meminta saya ke sini untuk mengambil beras," jawab Farida dengan nada pelan.
"Hmmm sudah aku duga sih. Kamu dan Adam pasti akan kembali ke sini untuk meminta bantuan kami," ucap bapak mertuanya yang masih menggenggam tangan Farida.
Farida hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan bapak mertuanya. Ia sendiri sebenarnya sudah malu, tapi mau bagaimana lagi.
Farida menarik tangannya yang masih digenggam oleh bapak mertuanya saat bersalaman, namun tiba-tiba tangan bapak mertuanya menahan tangannya membuat Farida mendongak menatap wajah bapak mertuanya.
"Ya Tuhan, kenapa bapak menahan tanganku," batin Farida sudah ketakutan. Ia berusaha menarik tangannya meski tanpa kata keluar dari mulutnya.
Farida melirik ke arah wajah bapak mertuanya yang tampak tersenyum genit padanya sembari menahan tangannya.
"Pak, lepaskan tanganku," pinta Farida akhirnya memberanikan diri mengatakan kalimat itu.
"Kalau dilihat-lihat kamu cantik juga, ya," ujar bapak mertuanya menjawab perkataan Farida dengan tangan yang masih memegang erat tangan Farida.
*** Nasib yang Sama Apakah Karena Keturunan
"Kamu sudah datang rupanya."
Suara Nadia membuat Farida sangat terkejut hingga menarik kuat tangannya dari genggaman bapak mertuanya.
Saat itu juga bapak mertua Farida membiarkan tangan Farida lolos begitu saja karena tak mau membuat Nadia curiga.
"Alhamdulillah ya Allah. Engkau masih melindungi ku," batin Farida bersyukur. Ia mengusap pelan tangannya yang bekas digenggam kuat oleh bapak mertuanya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya jika Nadia tak datang saat itu.
Mungkin saja bapak mertuanya belum melepaskan genggaman tangannya dan bisa saja bapak mertuanya malah bertindak tak baik padanya lebih jauh karena bapak mertuanya yang memang sangat genit padanya.
"Ini beras dan juga lauk-pauknya." Nadia mengulurkan dua bungkusan plastik hitam.
Wajah Nadia terlihat sangat ketus dan tak ada senyum dari bibirnya. Nada suaranya pun terdengar sedikit keras dan tak ramah di telinga.
Farida mencoba menerima bungkusan itu dari tangan Nadia. Hatinya sangat teriris mendapat perlakuan yang tak baik dari mertuanya, tapi Farida tak bisa melakukan apapun.
Semuanya karena Adam yang tak mau mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya sampai-sampai Farida nyaris dilecehkan oleh bapak mertuanya sendiri.
Jika Nadia tidak segera datang, entah apa yang akan terjadi padanya. Padahal Farida sudah berusaha menutup rapat tubuhnya dengan memakai baju gamis panjang dan jilbab yang menutupi dadanya.
Namun, tetap saja ada mata-mata jahil yang seolah bernafsu setiap kali melihat tubuh yang bahkan sudah ditutup rapat oleh pemiliknya.
"Itu beras dan lauk-pauk untuk anakku dan juga cucuku bukan untukmu. Kalau kamu mau makan, ya kamu harus usaha cari sendiri."
Bak ditusuk jarum. Kalimat itu begitu menancap di dalam hatinya hingga menyisakan rasa sakit dan nyeri yang teramat sangat.
Luka yang tak berdarah itu membuat Farida ingin menangis, namun lagi-lagi ia tak bisa membiarkannya jatuh begitu saja.
"Iya, Bu."
Hanya kalimat itu yang bisa Farida ucapkan sembari menunduk.
"Yaudah, kamu mau ngapain lagi di sini!" kata Nadia ketus.
"Ya sudah kalau begitu Farida pamit pulang ya, Bu, Pak," kata Farida.
Tangannya diulurkan kembali mengarah pada ibu mertuanya namun, tak dibalas oleh Nadia. Ia justru melengos membuang pandangannya dari Farida.
Farida hanya bisa menghembuskan napas pelan menerima respon yang tak baik dari ibu mertuanya.
Namun, tangannya mendadak menjadi gemetaran dan juga dingin karena saatnya ia kembali berjabat tangan dengan bapak mertuanya yang genit untuk berpamitan.
"Pak, Farida pamit pulang, ya," ucap Farida mengulurkan tangan.
Kali ini Farida mendapatkan perlakuan yang baik. Bapak mertuanya meloloskan tangannya begitu saja sampai akhirnya ia pulang.
Saat pulang dari rumah Nadia, Farida berpapasan di jalan dengan ibunya. Wajahnya tampak sedih dan matanya sedikit berkaca-kaca.
"Ibu darimana, Bu. Ibu kenapa? Kok nangis?" tanya Farida pada ibunya.
Farida menghentikan langkah kakinya dan berdiri tepat di depan ibunya. Dalam hati Farida sudah menebak apa yang membuat ibunya bersusah hati saat itu. Tampak jelas dari ekspresi wajahnya yang sudah menua.
Bukannya menjawab, Nani malah meneteskan air matanya hingga berjatuhan membasahi pipinya yang keriput.
Farida semakin dibuat khawatir oleh Nani. "Bu, ada apa? Kok ibu malah nangis?" tanya Farida cemas.
"Ibu tadi habis dari warung buat hutang beras tapi nggak dikasih sama ibu warungnya, katanya hutang ibu sudah menumpuk jadi ibu tidak boleh berhutang lagi."
Nani bercerita dengan sesenggukan. Terkadang kalimatnya sedikit tersendat, namun Nani kembali melanjutkannya.
"Ya Allah, ibu." Farida memeluk tubuh ibunya yang kurus dan lebih rendah daripada dirinya.
Farida merasa sangat sedih dan juga lemas. Otot-otot tangannya seolah tak mampu lagi membawa beban meski hanya beras satu kantung berukuran sedang.
"Ya Allah ujian apa lagi yang Engkau berikan pada keluarga ku," batin Farida.
Hati Farida sangat teriris melihat butiran kristal dari orang yang sangat disayanginya, jatuh begitu deras sampai membuatnya sesenggukan.
Bahu kurus orang tuanya berguncang hebat menahan isak tangis yang semakin terdengar menggebu.
"Sudah, ibu jangan menangis lagi, ya." Farida melepaskan pelukannya.
Sebelah tangannya mencoba mengusap air mata ibunya yang sudah jatuh bergelimang membasahi pipinya.
Farida menggiring ibunya agar duduk di bawah pohon mangga. Di sebuah kursi yang ada di sana, Farida mencoba menenangkan ibunya.
Setelah terlihat agak tenang. Farida mencoba memberikan solusi pada ibunya yang tengah kebingungan itu.
"Ibu nggak usah sedih lagi, ya, Bu. Ini Farida ada beras tadi dikasih sama ibu Nadia. Kita bisa bagi dua beras ini," kata Farida.
"Jangan, Nak. Itu kan beras dari ibu mertuamu, jangan diberikan pada ibu. Nanti kalau dia dan suamimu tahu bagaimana." Nani menolak bantuan dari Farida.
Farida terdiam sejenak. Ia tahu apa yang dilakukannya itu tidak benar. Walau bagaimanapun seharusnya dia meminta izin terlebih dahulu pada suaminya sebelum memberikan beras yang diberi mertuanya itu pada ibu kandungnya.
"Bagaimana ini, ya Allah. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak tega membiarkan orang tuaku kelaparan," batin Farida.
Tangannya mengerat memegang bungkusan plastik yang dia pangku. Sementara Nani, mengejutkannya dengan menggenggam tangan Farida yang tengah meremas plastik hitam di pangkuannya.
"Sudah, kamu ngga perlu khawatir. Ibu tidak apa-apa kok. Itu berada dari mertuamu, bawa saja pulang. Lagipula itu kan pasti dia berikan untu anaknya, cucunya dan juga kamu," ucap Nani mencoba memberi pengertian.
"Andai saja ibu tahu. Ibu Nadia bahkan tidak mengizinkan aku memakan apa yang dia berikan ini," batin Farida ingin sekali menjawab.
Namun, Farida tahu. Tidak mungkin baginya memberitahu ibunya tentang bagaimana keadaan keluarganya dan apa yang selalu dirasakannya selama 5 tahun pernikahannya dengan Adam.
"Ngga apa-apa, Bu. Berasnya kita bagi dua saja ya, Bu. Aku di rumah masih ada beras kok jadi ini bisa kita bagi dua," ucap Farida.
Akhirnya Farida mengambil keputusan untuk tetap membagi dua beras yang mertuanya beri. Ia tidak tega jika harus melihat orang tuanya kelaparan.
"Tapi, Farida ...."
"Ngga apa-apa, Bu. Kita bagi dua saja, ya." Tangan Farida langsung bergerak untuk membagi dua beras yang diberikan Nadia padanya.
Farida hanya berharap Nadia tidak tahu apa yang dilakukannya. Farida tahu jika Nadia sampai mengetahui beras itu ia bagi dengan ibunya, pasti Nadia akan sangat marah.
Adam mungkin masih bisa mengerti, tapi tidak dengan Nadia. Farida berharap agar Nadia tak mengetahui perbuatannya kali itu agar Nadia tidak mengumpat orang tuanya.
"Ini untuk ibu." Farida yang sudah selesai membagi beras itu pun langsung memberikan pada Ratna.
Nani tampak ragu-ragu untuk menerima beras di dalam plastik hitam itu.
"Udah, Bu. Ngga apa-apa. Ibu pegang ini, ya dan nanti langsung dimasak terus ibu makan," ucap Farida sambil tersenyum.
Dibalik senyum itu ada air mata yang ditahannya sekuat tenaga agar tak jatuh dan ada luka dibalik senyum yang tampak sangat manis itu.
"Tapi, Farida. Ibu ngga enak kalo harus menerima beras ini." Nani terlihat bimbang. Ia pun sempat akan mengembalikan beras di dalam plastik itu pada Farida lagi, tapi Farida menolak.
"Udah, Bu. Ngga perlu ngerasa ngga enak. Ibu bawa saja, ya," kata Farida kembali mendorong plastik itu pada Nani.
"Kalau mertuamu tahu, bagaimana?" tanya Ratna dengan wajah takut. "Ibu ngga mau dia memarahi kamu dan memaki ibu lagi," lanjutnya.
"Tenang saja, Bu. Ini kan ibu Nadia ngga lihat jadi ibu ngga perlu khawatir. Ngga akan ada yang marah, kok." Farida menenangkan ibunya.
"Ya sudah kalau begitu, ini berasnya ibu tambahi, ya. Biar kamu yang 3 kilo dan ibu yang 2 kilo." Nani memindahkan beras yang ada di kantong plastiknya ke dalam kantong plastik Farida.
"Tapi, Bu ...."
"Sudahlah. Ibu mau terima beras ini, tapi 2 kilo saja. Sisanya biar buat keluargamu. Lagipula kalian kan lebih banyak orang sementara ibu hanya sendiri," sela Bu Nani.
Setelah memberikan beras pada ibunya, Farida pun berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanannya pulang.
Untungnya jarak rumahnya saat itu tidak terlalu jauh sehingga tak lama, Farida sudah sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, Farida melihat Adam yang tengah terbaring di sofa sembari menonton video di HP-nya. Wajahnya tampak begitu semringah sampai terdengar suara tawa sesekali.
Farida yang baru sampai di rumah pun menyaksikan Adam yang tengah bersantai seolah tanpa beban.
"Assalamualaikum, mas," ucap Farida.
"Waalaikumsalam," jawab Adam singkat lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Mas, kamu yakin nggak mau cari kerja?" tanya Farida pada Adam sembari mengeluarkan lauk-pauk dari dalam plastik yang dia bawa tadi.
"Buat apa kerja. Nih transferan dari ibu sudah masuk." Adam menunjukan layar ponselnya pada Farida.
"Apa, Mas! Ibu kirim uang lagi buat kamu?" Farida terkejut.
*** Kenapa Hanya Mengandalkan Uang Transferan dari Ibu, Mas
Kedua mata Farida membulat dengan sempurna. Tangannya yang tengah memindahkan lauk-pauk pun segera berhenti.
Matanya tertuju pada layar ponsel Adam yang ditunjukkan pada dirinya. Nominal yang mertuanya kirim tidak pernah sedikit, namun bukan itu yang Farida inginkan.
Farida menghela napasnya dalam-dalam. "Ibu kirim uang lagi, Mas?" tanya Farida sembari melangkahkan kakinya menghampiri Adam yang tengah berbaring di sofa dengan kaki diangkat ke sandaran sofa.
"Iya dong," jawab Adam dengan santainya.
Dengan wajah semringah, Adam menatap kembali ponselnya dan memainkannya kembali. Ia paling suka menonton channel YouTube tentang burung dan ia pun kembali memutarnya untuk yang kesekian kalinya.
"Mas, kenapa sih, kamu nggak cari kerja aja. Kenapa harus selalu mengandalkan uang dari ibu. Aku ngga enak, Mas," ucap Farida.
"Loh kenapa nggak enak. Apa urusanmu? Itu ibuku dan dia memberikan uang ini kan untukku jadi apa masalahnya." Adam tak terima, tapi matanya masih fokus pada layar ponselnya.
"Tapi mau sampai kapan kamu begini, Mas. Mau sampai kapan kamu hanya mengandalkan ibumu," ucap Farida sedikit kesal.
"Ya sampai ibu ngga ada."
"Astaghfirullah. Istighfar Mas." Farida mengingatkan.
"Udahlah, kamu ngapain sih cerewet banget tiap hari ngatur-ngatur aku terus. Udah mending sekarang kamu masak aja sana. Aku udah lapar," kata Adam lalu bangkit dari posisinya.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Farida saat melihat Adam yang akan pergi keluar rumah.
"Aku mah keluar sama Tasya. Bosen di rumah terus," pungkasnya lalu pergi meninggalkan Farida.
Farida hanya bisa mengusap dadanya. Ia tak menyangka jika pria yang menikahinya adalah pria yang sangat tidak mandiri untuk keluarga kecilnya.
"Kalau bukan karena nasihat almarhum bapak, mungkin aku ngga akan bertahan sampai di titik ini," Farida membatin sembari mengingat nasihat almarhum ayahnya sebelum meninggal.
'Farida, ujian dalam rumah tangga itu bermacam-macam dan setiap rumah tangga pasti ada ujiannya sendiri-sendiri, tapi kamu harus ingat pesan bapak. Seperti apapun nanti ujian yang menerpa keluarga kecilmu. Kamu harus tetap bersabar dan pertahankan rumah tanggamu.'
Kalimat itu selalu terngiang di ingatan Farida yang telah ditinggalkan oleh bapaknya 5 tahun yang lalu, tak lama setelah ia menikah dengan Adam.
"Pak, ujian dalam rumah tanggaku ini berat sekali, pak. Tolong bantu doakan aku dari sana agar aku selalu kuat menghadapi semuanya," ucap Farida berdoa dengan suara pelan.
Air matanya tak lagi mampu ia tahan. Namun, dibalik pandangannya yang sedikit kabur karena air matanya, Farida melihat ada seseorang yang tengah berjalan ke arahnya.
"Assalamualaikum," ucap orang yang datang itu.
Seketika, tubuh Farida bergetar sangat hebat. Air matanya yang telah jatuh menetes langsung diseka secepat mungkin.
"Waalaikumsalam." Farida menjawab salam yang diucapkan bapak mertuanya.
"B-bapak," ucap Farida dengan tubuh gemetaran saat melihat bapak mertuanya datang bertamu ke rumahnya.
"Ya Allah, ada apa bapak datang ke sini ya. Mana mas Adam lagi pergi, lagi. Ya Allah tolong lindungilah aku dari segara hal buruk yang akan terjadi padaku," batin Farida.
Dengan langkah kaki pelan, Farida mencoba menghampiri bapak mertuanya yang tengah berdiri di ambang pintu rumahnya.
Namun, seketika langkahnya terhenti saat bapak mertuanya kembali melangkahkan kaki mendekat kepadanya.
"Mana Adam, suamimu?" tanya bapak mertuanya.
"Duh, bagaimana ini. Mas Adam kan lagi pergi," batin Farida.
Entah mengapa pikirannya selalu mengarah ke arah yang tidak baik setiap kali melihat bapak mertuanya yang memandanginya begitu dalam.
"Mas Adam nya lagi pergi, pak," jawab Farida ragu-ragu.
Farida berharap tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya saat ia mengatakan bahwa suaminya tengah pergi.
Seketika, senyum misterius terlihat di wajah bapak mertuanya. Tatapannya yang mengarah pada Farida masih belum berpaling.
"Pergi kemana dia? Apa perginya akan lama?" tanya bapak mertuanya lagi.
"Emmm F-farida tidak tahu, pak." Farida mulai merasa tak nyaman dengan tatapan bapak mertuanya.
Tiba-tiba saja bapak mertuanya kembali melangkahkan kaki ke arah Farida hingga jarak mereka kali ini sangat dekat.
Hanya sekitar satu meter dan tangan bapak mertuanya bisa menjangkau tubuhnya.
"Farida, kamu kok makin cantik saja sih. Bapak ke sini karena mau lihat kamu," ucapnya sembari berbisik. Sebelah matanya dikerlingkan kepada Farida.
Namun, Farida melengos begitu saja tidak merespon kode yang diberikan oleh bapak mertuanya.
Farida semakin merasa kalau ini semakin tidak benar. Bapak mertuanya tidak boleh berlama-lama di rumahnya dan hanya berdua dengannya.
"Tapi bagaimana cara aku mengusirnya dari sini, ya," pikir Farida saat itu.
Tiba-tiba tangan bapak mertuanya meraih kedua pundaknya membuat Farida terperanjat dan memberontak.
"B-bapak mau apa? Lepaskan aku, pak," pinta Farida.