Bab 1

Sebuah jip militer melaju kencang di jalan bar yang ramai, kehadirannya bagaikan badai di cakrawala. Berhiaskan dengan lencana perwira tinggi dan plat nomor yang khas, mobil jip itu menarik perhatian semua orang di sepanjang jalan. Mobil itu berhenti mendadak di depan bar Serendipity yang diterangi lampu neon, remnya berdecit dengan suara lantang, seolah-olah sedang menantang kehidupan malam di sekitarnya.

Pintu jip itu terbuka, lalu terbanting menutup dengan kekuatan yang bergema di malam yang sunyi bagaikan suara tembakan yang tajam. Seorang pria turun dari mobil dalam balutan seragam militer, yang tampak kurang serasi dengan lingkungan perkotaan. Ekspresi wajahnya yang tegas dan rahangnya yang kokoh menambah kesan menakutkan saat dia melangkah ke dalam hiruk pikuk bar tersebut.

Cahaya lampu neon yang berwarna-warni menerpa wajahnya yang dingin, bayangan bermain di wajahnya saat dia melangkahkan kaki dengan mantap. Bar itu ramai dengan dentuman musik yang menggetarkan dan gumaman obrolan orang mabuk, tapi dia dikelilingi oleh hawa dingin yang menakutkan, seolah-olah terisolasi dari hiruk pikuk di sekitarnya.

Di depan meja bar, Ryland Flynn sedang asyik menggoda seorang gadis bartender. Saat prajurit itu masuk, dia mendongak dan kabut alkohol seketika menghilang dari matanya. Melihat sosok yang mengesankan itu langsung menuju lift, dia bergegas turun dari kursi dan berlari untuk mencegat pria itu.

"Pak William ..., kenapa kamu datang ke Serendipity malam ini?" tanya Ryland dengan terbata-bata di bawah tatapan dingin pria itu.

Pria itu menyipitkan mata ke arah Ryland dan bertanya dengan suara yang dalam, "Di mana Renee?"

"Renee ... seharusnya dia sedang berada di rumahnya malam ini," jawab Ryland dengan tergagap sambil berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan ketenangannya di bawah tatapan yang tajam tersebut.

Tanpa ragu, pria itu menekan tombol lift menuju lantai atas dan berkata dengan nada tajam dan tegas, "Kamu punya waktu 30 detik untuk memberitahunya."

Rasa panik mencengkeram Ryland sehingga jantungnya berdebar kencang. Dia menyadari bahwa tidak ada gunanya mengarang cerita sekarang. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Renee Carter tepat di hadapan seorang pria bertubuh kekar yang berdiri menjulang di atasnya. Namun, setelah tiga kali menelepon berturut-turut, tidak ada satu panggilan telepon pun yang terjawab sehingga memaksanya untuk buru-buru beralih ke WhatsApp. Tidak punya waktu untuk mengetik, dia memilih untuk mengirim pesan suara dengan menekan ikon mikrofon dan berbisik dengan nada mendesak, "Renee, suamimu ada di sini untuk menemuimu. Dia sedang naik lift."

Meskipun dia berusaha berbicara serendah mungkin, kata-katanya bergema jelas di ruang lift yang sempit itu.

Tawa dingin terdengar dari belakang Ryland, membuat bulu kuduknya berdiri saat lift berbunyi dan pintunya terbuka" Keringat mulai menetes di dahinya, setiap tetesnya merupakan bukti meningkatnya rasa takutnya.

Pria itu melangkah keluar dengan langkah mantap dan langsung menuju ruang VIP. Terperangkap dalam rasa takut, Ryland mengikuti pria itu dengan patuh di belakang, langkahnya ragu-ragu saat dia memeras otak untuk mencari jalan keluar.

Berada di depan sebuah pintu, pria itu langsung berhenti melangkah dan berbalik sedikit. Setelah mengumpulkan sedikit keberanian, Ryland berkata dengan suara gemetar, "Pak William, aku berani menjamin, dia tidak ada di sini."

"Kuberi satu kesempatan terakhir, bukakan pintu itu atau aku sendiri yang akan mendobrak pintu ini."

"Kumohon, percayalah padaku. Dia ...," bujuk Ryland dengan terbata-bata.

Pria itu mulai menghitung mundur dengan tenang tanpa memberi ruang untuk perdebatan, "Tiga ...."

"Oke, oke, aku akan membukanya," gumam Ryland dengan enggan sebelum menghela napas berat dan mengeluarkan kunci kamar untuk membuka pintu dengan tangan gemetar. Di dalam hati, dia merasa kasihan pada Renee, tapi dia tidak berani menentang anggota Keluarga Mitchell yang berkuasa.

Begitu pintu terbuka, mata pria itu menyipit dan raut wajahnya mengeras, seperti seorang komandan yang tegas dan pantang menyerah, saat menyaksikan pemandangan di hadapannya.

Ryland melirik sebentar ke dalam dan menarik napas dalam-dalam, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya untuk menjaga keselamatan diri sendiri, memosisikan dirinya tepat di ambang pintu dan mengamati dari jarak yang aman.

Di dalam ruangan, Renee sedang berbaring dengan malas di sofa, tubuhnya terbungkus gaun slip satin berwarna merah terang, yang memberikan kesan berani, dan diapit oleh dua gigolo yang muda dan tampan. Tubuh mereka yang telanjang dihiasi dengan jejak-jejak gairah yang jelas, goresan-goresan terukir di kulit mereka, yang menggambarkan betapa intensnya interaksi di antara mereka.

Mendengar suara pintu yang berderit terbuka secara tiba-tiba, kedua gigolo itu membeku, otot-otot mereka menegang saat mereka melihat sosok yang menakutkan berdiri di pintu masuk.

Sebaliknya, Renee menunjukkan sikap santai dan acuh tak acuh. Perlahan-lahan dia membuka matanya, bibirnya melengkung membentuk seringai mengejek saat melihat siapa yang datang.

Dengan kilatan nakal di matanya yang setengah terbuka, dia menatap pria itu dan senyumnya merekah di sudut mulutnya. "Tenang, anak-anak, ini bukan penggerebekan polisi," Perkenalkan, dia adalah suamiku, William Mitchell yang terhormat dari Keluarga Mitchell. Kalian pasti pernah mendengar tentangnya, kan?" godanya dengan nada jijik.

Ketika tatapannya jatuh ke wajah William yang muram, dia menyeringai provokatif dan melanjutkan, "Pak William, kenapa kamu begitu usil sampai jauh-jauh datang ke sini? Bukankah seharusnya kamu menyibukkan diri dengan kekasih masa kecilmu daripada membuang-buang waktu di sini bersama kami?"

William mendekat dengan langkah hati-hati, dinginnya udara malam menempel di jaket militernya, yang mencerminkan sikap dingin di wajahnya. Dia duduk di sofa berhadapan dengan Renee, lalu menyilangkan kakinya dengan cuek.

Kemudian, dia menyeringai mengejek dan melambaikan tangannya sambil berkata, "Jangan pedulikan aku, silakan lanjutkan aktivitas kalian."

Bab 2

Ketika nama William disebut, bulu kuduk kedua gigolo itu berdiri dan kecemasan tergambar jelas di wajah mereka.

Dengan kepala sedikit tertunduk, Renee merasakan gelombang kemarahan muncul dalam dirinya. Namun, dia dengan ahli menyembunyikannya di balik sikapnya yang tenang dan memerintahkan, "Kalian mendengarnya sendiri, kan? Karena Pak William ingin melihat aksi kalian, sebaiknya kalian beraksi sebaik mungkin dan jangan sampai mengecewakannya."

Kemudian, dia mendongak dengan mata yang berbinar nakal, lalu mengedipkan mata dengan genit ke arah William sambil berkata, "Pak William, anggaplah ini sebagai pelajaran yang sangat berharga. Kamu memperlakukan ranjang seperti medan perang, sementara kedua temanku tahu cara bagaimana membuat wanita merasa dihargai. Jangan kamu samakan ranjang seperti medan perang. Aku tidak masalah dengan itu, tapi bagaimana dengan selingkuhanmu yang lembut dan rapuh itu? Apa dia sanggup diperlakukan sekasar itu?"

William hanya membalas Renee dengan tatapan dingin. Sambil bersandar pada sandaran sofa, dia menyalakan korek api dengan gerakan tajam untuk menyalakan rokoknya. Kepulan asap segera menyelimuti dirinya, menutupi ekspresinya yang tidak dapat dimengerti.

Melihat sikap William yang acuh tak acuh, kejengkelan Renee memuncak. Pria itu tampak hampir terluka, meskipun dia tidak habis pikir hal apa yang bisa meruntuhkan pertahanannya yang dingin.

Dia membentak kedua gigolo itu dengan tidak sabar, "Kenapa kalian dia saja? Apa yang kalian tunggu? Pak William ingin melihat aksi kalian, jadi tunjukkan kehebatan kalian padanya supaya dia bisa belajar dari kalian.

Dengan gaya menantang, Renee menarik tali gaun tidurnya dan membiarkannya melorot ke bahunya.

Kedua gigolo itu tersentak kaget, mata mereka tanpa sadar melirik ke arah William, yang menatap mereka dengan sorot mata yang dingin dan tak kenal ampun. Tanpa sadar, mereka memejamkan mata mereka.

"Nona Renee ..., mungkin lebih baik jika kami pamit dulu."

Saat mereka membungkuk untuk mengumpulkan pakaian mereka yang berserakan di lantai, Renee menatap mereka dengan dingin yang membuat mereka terpaku di tempat.

"Bukankah sudah kubilang? Jangan sampai kalian mengecewakannya," ucapnya dengan suara setajam pisau.

Ketika dia mengangkat matanya untuk melihat William, sebuah jaket militer bermotif loreng melayang ke arahnya, lalu mendarat di kepalanya dan menghalangi pandangannya. Sebelum dia bisa menyingkirkan jaket itu dari kepalanya, sepasang tangan yang kekar mengangkatnya ke udara.

"William! Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan?!" serunya dengan suara teredam di balik jaket.

Renee tidak bisa melihat ekspresi William, tapi dia dapat merasakan aura intens dan mengancam yang terpancar darinya. Dengan mudah, pria itu memanggul Renee di bahunya, sebatang rokok yang setengah terbakar tergantung di ujung jarinya.

Dengan gerakan cepat, William menekan puntung rokoknya yang masih membara di punggung salah satu gigolo, yang seketika berteriak dengan suara nyaring karena kesakitan. Di saat yang bersamaan, dia sengaja menendang lutut gigolo yang lain sehingga erangan kesakitan yang tertahan seketika memenuhi ruangan.

Ryland, yang sedari tadi menunggu dengan gelisah di dekat pintu, melangkah maju dengan cemas dan memohon dengan suara bergetar, "Pak William, kumohon, mari kita selesaikan ini secara baik-baik."

"Minggir!" perintah William dengan suara bergemuruh seperti seekor binatang buas, sehingga Ryland terhuyung mundur saking takutnya. Merasa tidak berdaya, Ryland hanya bisa menyaksikan William memanggul dan melemparkan Renee ke kursi belakang jip tanpa menghiraukan protes wanita itu.

Begitu dinyalakan, mesin mobil meraung dengan suara lantang dan mobil segera melaju dengan kencang, mencerminkan amarah sang pengemudi yang membara.

Saat Renee mendarat di atas ranjang yang beralaskan seprai mewah berwarna merah tua, efek alkohol di dalam tubuhnya mulai memudar. Matanya terbuka lebar saat dia menatap ranjang, yang menjadi lambang pernikahan mereka, tapi belum pernah mereka tiduri sejak mereka menikah. Ironi ini terasa menyakitkan sekaligus menyedihkan. Bukan berarti tidak ada sedikit pun keintiman di antara mereka dalam pernikahan berumur tiga tahun ini. Namun, setiap kali William pulang dari dinas militer, di mana jumlahnya bisa dihitung dengan jari, pertemuan mereka, meskipun cukup panas dan penuh gairah, hanya berlangsung dengan singkat. Mereka memiliki kamar masing-masing, sehingga kamar ini seolah-olah tidak lebih sekadar dekorasi.

Namun hari ini, William bertingkah seperti orang yang kehilangan akal sehat. Dia menyeret Renee ke dalam kamar keramat itu dan melemparkannya ke atas ranjang tanpa ragu.

"William, apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Renee dengan nada takut sekaligus bingung.

Dia nyaris tidak mampu menopang dirinya sendiri saat William menjulang di atasnya dengan sorot mata yang liar dan kemerahan.

"Bersiaplah, karena aku akan menidurimu sampai kamu puas," seru William melalui gigi yang terkatup saat dia dengan kejam merobek gaun Renee.

"Jadi, menurutmu aku terlalu kasar? Kalau begitu, aku akan menidurimu dengan lembut dan nikmat sampai kamu ketagihan," ucapnya sambil mendengus, napasnya yang panas berembus di telinga Renee dan giginya menggesek daun telinga wanita itu dengan lembut.

Terperangkap di bawah William, Renee terus meronta, tapi perlawanannya malah membuat keduanya semakin intim.

Saat menghukum Renee dengan jilatan ringan pada daun telinganya, William memperingatkan dengan suara dingin dan tegas. "Ingat, kamu adalah seorang wanita yang sudah menikah."

Tepat pada saat ini, ponsel William berdering dengan suara nyaring, menembus udara yang tegang. Meskipun dia ingin mengabaikannya, bunyi dengungan yang terus-menerus dari sakunya, tepat pada saat dia hendak membuka pakaian, memaksanya meraih ponselnya dengan tidak sabar. Melihat identitas sang penelepon, ekspresinya sedikit melembut.

Renee mengintip layar ponsel William dengan senyum sinis tersungging di bibirnya. Benar saja, sang penelepon adalah kekasih masa kecil pria itu.

Suaranya dipenuhi ironi saat dia membalas, "Tapi kamu sendiri lupa kalau kamu adalah seorang pria yang sudah menikah."

Tatapan William beralih ke Renee, tapi sebelum dia sempat membalas, wanita itu menyambar ponselnya dan menjawab panggilan telepon itu dengan tenang.

"Halo, Sylvia," sapa Renee dengan nada datar.

Ada jeda sejenak saat Sylvia Payne tertegun karena mendengar suara yang tidak diduga. "Renee ..., halo," ucapnya dengan tergagap.

Melihat William diam saja karena pasrah, senyum Renee berubah menjadi seringai licik saat dia melanjutkan, "Ya, ini aku. Maaf, tapi William dan aku sedang sibuk. Kami sudah berpisah cukup lama, jadi sekarang saatnya kami meluapkan gairah kami. Dia terus menempel padaku, jadi sepertinya dia tidak akan bisa menjawab panggilan teleponmu dalam waktu dekat."

Bab 3

Entah merasa tersinggung atau takut setelah mendengar kata-kata Renee, Sylvia diam saja selama beberapa waktu di ujung telepon. Tepat pada saat Renee bersiap melancarkan serangan lain, William turun tangan dengan merebut ponsel itu dari tangannya, lalu menciumnya dengan ganas sampai napasnya terengah-engah.

Bukan tipe orang yang suka mengobral janji kosong, William benar-benar menunjukkan pada Renee bagaimana kelembutan itu sebenarnya. Setelah apa yang terasa seperti siksaan abadi, Renee menangis tersedu-sedu dan memohon belas kasihan sebelum William akhirnya bersedia melepaskannya.

Merasa kelelahan akibat cobaan yang berat ini, Renee langsung tertidur hampir seketika. Dalam keadaan setengah sadar, dia samar-samar menyadari William telah meninggalkan ranjang.

Ketika dia bangun, hari sudah berganti dan dia mendapati dirinya sendirian. Berbaring di atas ranjang pernikahan yang luas, pikirannya tenggelam dalam kenangan yang segar dan membekas semalam. Dia berbalik ke arah tirai yang tertutup rapat, mengaburkan batas antara sinar pagi dan datangnya senja.

Jejak kelelahan akibat hubungan semalam yang intens masih bergema di sekujur tubuhnya saat dia meraih ponselnya. Pada detik berikutnya, dia melihat sebuah unggahan dari Sylvia di Instagram, yang dengan jelas memperlihatkan punggung William, yang tengah asyik memasak. Kesadaran ini begitu menusuk bagaikan bilah pisau yang tajam.

Saking marahnya, Renee melemparkan ponselnya ke dinding sekencang mungkin, tapi untungnya ponsel itu masih baik-baik saja.

"Dasar pembohong sialan! Dia benar-benar brengsek!" makinya sambil menggertakkan gigi dan mengepalkan tinju dengan penuh amarah.

Dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan mencoba untuk berdiri, tapi rasa sakit yang masih tertinggal langsung menyerangnya, membuat setiap gerakan terasa seperti sebuah penyiksaan. Ini semua gara-gara William. Namun, bisa-bisanya bajingan itu memasak dengan gembira untuk selingkuhannya.

Dia sangat marah karena merasa dikhianati.

Postingan Sylvia bagaikan genderang perang baginya.

Pada saat ini, terdengar suara ketukan yang ragu di pintu, diikuti oleh suara pelayan yang terdengar malu-malu. "Bu Renee, apa Anda sudah bangun? Pak William menyuruh saya memasak sup untuk meredakan mabuk Anda."

Darah Renee semakin mendidih. Bisa-bisanya William menyuruh seorang pelayan untuk mengurus Renee, sementara dia bersenang-senang dengan selingkuhannya? Berusaha meredakan amarah yang bergejolak di dalam dirinya, Renee menarik napas dalam-dalam.

"Terima kasih, tapi itu tidak perlu. Aku sudah merasa lebih baik," teriak Renee dengan suara tertahan.

Alih-alih pergi, sang pelayan berkata dengan suara lembut dan tegas, "Bu Renee, Pak William juga secara khusus menyiapkan obat untuk Anda. Apa Anda bisa keluar sebentar untuk mengambilnya?"

Merasa bingung sekaligus penasaran, Renee membuka pintu sedikit dan bertanya dengan nada curiga, "Obat apa?"

"Untuk semalam ...," jawab sang pelayan dengan suara lirih.

Mendengar jawaban ini, kesabaran Renee yang sudah menipis langsung terkuras habis sehingga amarahnya meledak.

Dia tidak sanggup menahan diri lagi.

Selama tiga tahun terakhir pernikahan mereka, dia selalu rajin meminum pil KB setelah mereka berhubungan intim karena dia sendiri merasa belum siap menjadi seorang ibu.

Namun, lain halnya jika William yang menyuruhnya meminum pil KB.

"Aku tidak sudi meminumnya! Katakan pada bajingan itu jika aku hamil, aku tidak akan menggugurkannya! Aku ingin melihat bagaimana dia menangani masalah ini!" bentaknya dengan nada menantang dan penuh tekad.

Kemudian, dia membanting pintu sekencang mungkin sampai menutup dan suaranya bergema di dinding.

Begitu pelayan itu pergi, dia mulai mengubek-ubek seisi ruangan untuk mencari pil KB yang pernah dia beli. Kata-kata yang dia lontarkan barusan tidak lebih dari sekadar peringatan tajam. Lagi pula, dia tidak berani mengambil risiko dengan tidak meminum pil KB.

Kelelahan, dia merebahkan diri ke atas ranjang yang mewah, tubuhnya berguling-guling saat dia mencoba mencari kenyamanan di kain seprai yang lembut. Sampai rasa kantuk menarik kesadarannya, dia memaki-maki William di dalam hati. Dia bertanya-tanya kepulangan William yang tidak terduga dari dinas militer. Mungkinkah kepulangannya yang tiba-tiba ada hubungannya dengan Sylvia?

Kecurigaan Renee bukannya tidak berdasar. Kepulangan William memang ada hubungannya dengan Sylvia. Begitu pulang, dia mencoba menghubungi Renee, tapi wanita itu tidak menggubrisnya. Setelah melakukan penyelidikan, dia baru mengetahui tentang petualangan Renee baru-baru ini, termasuk tentang gigolo-gigolo yang pernah menemaninya. Merasa marah sekaligus putus asa, dia menyerbu bar tempat Renee sering berkunjung dan menyeretnya pulang sebelum bergegas menemui Sylvia.

Sementara itu, di rumah sakit, Sylvia duduk dengan tidak nyaman saat seorang dokter memeriksanya.

"Kamu baik-baik saja, hanya anemia ringan. Omong-omong, apa pria ini suamimu?

Pertanyaan ini membuat Sylvia lengah sehingga pipinya merona karena malu.

Melihat reaksi Sylvia, William mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya, "Dokter, apa ada hal yang perlu diperhatikan? Apa ada makanan tertentu yang perlu dia hindari?"

Demi menjaga martabat Sylvia, dia tidak membenarkan atau membantah pertanyaan dokter itu.

"Hindari makanan laut, terutama kepiting. Di luar itu, dia bebas menikmati apa pun yang dia suka. Syukurlah dia tidak mual terus-menerus. Wajar jika wanita hamil merasa mual pada trimester awal. Untung saja dia masih bisa makan tanpa memuntahkan makanannya."

"Dimengerti. Terima kasih," balas William dengan sopan dan sedikit rasa lega.

Setelah keluar dari ruang praktek dokter, William melirik ke arah Sylvia, yang sedang mengelus perutnya dengan lembut.

Melihat ekspresi wajah Sylvia, yang menunjukkan kebahagiaan seorang wanita yang baru pertama kali menjadi ibu, William menghela napas berat sebelum berkata dengan suara lirih, "Sylvia."

"Kak William, sepertinya ... aku bisa merasakan detak jantungnya," ucap Sylvia dengan nada takjub, Bertemu dengan mata Sylvia yang berbinar saat menatapnya, William terdiam sejenak, merasakan beban dari kata-kata yang akan dia katakan selanjutnya. "Sylvia, kamu harus menggugurkan anak itu."

"Tidak!" tolak Sylvia mentah-mentah. Air mata seketika menggenang di matanya saat dia melanjutkan dengan nada memohon, "Kak William, aku menginginkan bayi ini. Tolong, biarkan aku mempertahankannya. Jangan memaksaku untuk menggugurkannya. Jika harus, aku bisa membesarkan anak ini sendirian ...."

"Kamu pikir kamu bisa memutuskan untuk mempertahankan anak itu tanpa persetujuanku?" ucap seseorang dengan suara dingin dan tajam, yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.

Mendengar suara yang tidak asing itu, baik Sylvia maupun William langsung menoleh ke sudut koridor, dan mendapati Renee sedang berdiri di sana dengan tangan terlipat di depan dada. Kehadirannya bagaikan hantu di sebuah pesta. Sikap dan tatapannya yang tajam menunjukkan keteguhannya. Bagaimanapun juga, sebagai istri sah William, dia harus menegaskan statusnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED