Arlisa duduk di tepi ranjang besar berlapis sprei putih itu dengan tatapan kosong. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam, tapi ia masih terjaga. Tangannya meremas ujung selimut, sementara pikirannya melayang jauh, memutar ulang percakapan yang beberapa minggu lalu ia lontarkan pada suaminya.
"Bang... mungkin abang sebaiknya menikah lagi saja."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya waktu itu, dalam keadaan hati yang penuh keraguan dan putus asa. Ia masih bisa mengingat jelas wajah Radwan, suaminya, yang tampak terkejut, lalu terdiam lama sebelum akhirnya menatapnya dengan sorot yang sulit ditebak.
Arlisa tidak sedang bergurau. Ia sungguh-sungguh merasa bahwa rumah tangga mereka mulai kehilangan kehangatan. Radwan jarang menyentuhnya, jarang berbicara panjang, bahkan sekadar duduk berdua sambil minum teh di teras pun semakin langka. Dingin. Semua terasa dingin.
Awalnya Arlisa berpikir itu hanya fase. Radwan mungkin lelah bekerja, mungkin stres dengan beban kantor. Tapi setelah berbulan-bulan, keadaan tak kunjung berubah. Sentuhan yang dulu membuatnya merasa hidup kini nyaris hilang. Pelukan sebelum tidur hanya tinggal kenangan.
Arlisa bukan tipe istri yang menuntut banyak. Ia bisa mengurus rumah, melayani dengan sabar, dan berusaha memahami keadaan suaminya. Tapi ia juga perempuan, dengan hati yang butuh kasih sayang, dan tubuh yang merindukan belaian. Dan ketika semua itu tidak ia dapatkan, Arlisa mencari cara lain-cara yang menurutnya bodoh, tapi saat itu ia merasa itu satu-satunya jalan.
Ia berharap, jika Radwan punya madu, ia akan tersulut rasa cemburu, lalu justru kembali mencari Arlisa. Bukankah sering kali manusia baru menghargai sesuatu ketika hampir kehilangan?
Namun, malam-malam seperti ini membuat Arlisa sadar bahwa dirinya mungkin telah mengambil keputusan paling gila dalam hidup.
"Lis, kamu yakin?" suara lembut tapi mantap itu menggema di telinganya. Radwan menanyakan ulang kala Arlisa menyarankan pernikahan kedua.
Arlisa menunduk, menahan getar di dadanya. "Aku... aku cuma ingin abang bahagia. Kalau memang aku tidak bisa memenuhi semuanya, mungkin ada perempuan lain yang bisa. Mungkin setelah itu abang bisa kembali... menoleh padaku."
Radwan memandangnya dengan tatapan sulit diartikan. Ada ketegasan, ada kebingungan, tapi juga seolah ada secercah lega. Dan saat Radwan akhirnya menyetujui gagasan gila itu, hati Arlisa justru hancur, meski bibirnya tersenyum samar.
Kini, beberapa minggu setelah akad itu berlangsung, kenyataan mulai benar-benar menamparnya. Radwan menikah lagi dengan seorang perempuan muda bernama Raline. Cantik, segar, penuh semangat-persis lawan dari dirinya yang mulai kusam oleh rutinitas.
Arlisa sering mendengar tawa mereka dari kamar sebelah. Tawa yang dulu sering menghiasi ruang keluarga, kini hanya menjadi tamu asing di telinganya. Kadang ia mendengar suara lembut Radwan memanggil nama istrinya yang baru, dengan nada manja yang sudah lama tidak pernah ia dengar lagi.
Dan malam ini, ketika tembok kamar tipis itu seolah tidak mampu menahan kenyataan, Arlisa menggigit bibirnya erat-erat. Ada suara langkah, ada bisikan, lalu ada tawa renyah Raline yang membuat hatinya seperti disayat.
Air mata Arlisa jatuh tanpa bisa ia cegah. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, mencoba meredam suara yang menembus dinding.
"Ya Allah... ini bukan yang aku harapkan," lirihnya. "Aku cuma ingin dia kembali padaku, bukan pergi semakin jauh..."
Hari-hari Arlisa berjalan dalam bayang-bayang luka. Saat pagi tiba, ia tetap menyajikan sarapan seperti biasa. Nasi goreng kesukaan Radwan, teh hangat, dan potongan buah. Tapi Radwan jarang menyentuhnya. Ia sudah terlalu terbiasa dengan sarapan buatan Raline yang katanya lebih variatif, lebih segar, lebih 'anak muda'.
Pernah suatu kali, Arlisa melihat Radwan mencicipi sup buatan Raline di meja makan sambil memuji, "Ini enak sekali, Lin. Kamu belajar dari mana?" Dan saat itu, hati Arlisa remuk menjadi serpihan kecil.
Ia ingin berteriak bahwa dirinya juga bisa memasak enak, bahwa selama bertahun-tahun ia sudah mencoba menyenangkan hati Radwan dengan makanan kesukaan. Tapi lidahnya kelu. Ia hanya bisa tersenyum hambar, lalu beranjak ke dapur dengan alasan membereskan piring.
Di ruang tamu, Arlisa duduk seorang diri sambil menatap foto pernikahannya dengan Radwan. Foto itu penuh senyum bahagia. Waktu itu, ia percaya cinta mereka cukup untuk menghadapi apapun. Radwan pernah berjanji akan selalu ada untuknya.
Tapi janji, ternyata, bisa pudar oleh waktu.
"Kenapa aku yang harus meminta semua ini terjadi?" bisiknya getir. "Kenapa aku begitu bodoh, mengizinkan madu hadir di rumahku sendiri?"
Suara hatinya terus bertarung. Di satu sisi, ia masih sangat mencintai Radwan. Ia masih ingin dipeluk, masih ingin disentuh, masih ingin diperhatikan. Tapi di sisi lain, ia lelah menjadi penonton dalam panggung rumah tangga sendiri.
Malam demi malam, gairah yang ia pendam semakin menyesakkan. Arlisa masih perempuan normal, dengan darah dan daging yang merindukan keintiman. Tapi Radwan tak lagi menyentuhnya. Bahkan, sekadar menoleh pun jarang.
Arlisa pernah mencoba mendekat. Suatu malam, ia masuk ke kamar Radwan dengan harapan bisa berbaring di sampingnya, seperti dulu. Namun, Radwan dengan halus berkata, "Lis, aku capek. Tidurlah di kamarmu, ya."
Dan sejak malam itu, Arlisa tak berani lagi mencoba. Ia merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
Hari berganti minggu, dan luka Arlisa kian dalam. Ia mulai sering menyendiri di kamar, membaca buku, atau menulis curahan hati di buku catatan lusuhnya.
Di halaman terakhir catatan itu, ia menulis:
"Aku ingin bahagia, tapi kebahagiaan itu seperti menjauh. Aku ingin cinta, tapi cinta itu kini terbagi. Sampai kapan aku bisa bertahan?"
Sore itu, saat hujan turun deras, Arlisa berdiri di depan jendela, menatap tetesan air yang berlari di kaca. Radwan belum pulang, katanya menemani Raline belanja ke mall. Dan ia? Sendirian lagi, dengan segelas teh yang sudah dingin di tangan.
Tiba-tiba, hatinya bertanya lirih, "Haruskah aku mencari kehangatan di luar? Haruskah aku mencari seseorang yang bisa membuatku merasa hidup lagi?"
Pertanyaan itu membuat Arlisa merinding sendiri. Ia tahu itu berbahaya. Tapi semakin ia menahannya, semakin sesak rasanya.
Malam itu, ketika Radwan pulang dengan wajah sumringah membawa kantong belanjaan bersama Raline, Arlisa tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, yang tak pernah sampai ke matanya.
Dalam hati, ia sadar satu hal: jalan yang ia pilih telah menjadi bumerang. Dan kini, ia berdiri di persimpangan paling sulit dalam hidupnya-bertahan dalam rumah tangga yang dingin, atau pergi mencari pelukan hangat di luar sana.
Hujan baru saja reda. Sisa-sisa gerimis masih menetes dari genteng ketika Arlisa membereskan meja makan. Malam itu Radwan pulang larut bersama Raline. Mereka tampak bahagia, membawa tas belanjaan dan tawa yang masih tersisa di bibir.
Arlisa hanya diam. Ia mencoba menahan perasaan yang bergolak, tapi matanya tak bisa berbohong. Ada luka yang berdenyut tiap kali ia melihat Radwan menatap Raline dengan cara yang dulu pernah ia rasakan sendiri.
Setelah semua membereskan diri, Radwan masuk ke kamar Raline. Arlisa berdiri di koridor, menatap pintu itu yang tertutup rapat. Tangannya sempat terulur, ingin mengetuk, ingin sekadar mengingatkan bahwa dirinya ada. Tapi langkahnya terhenti. Apa yang bisa ia lakukan?
Ia akhirnya kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan pelan, lalu duduk di kursi dekat meja rias. Cermin di hadapannya memantulkan wajah yang lelah. Wajah seorang istri yang tersisih.
"Arlisa, kamu kuat, kan?" gumamnya pada diri sendiri. "Kamu yang memilih jalan ini. Jangan menangis lagi."
Namun, air mata justru jatuh juga.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa asing. Raline sibuk di dapur, memasak sesuatu dengan ceria. Radwan menemaninya, sesekali membantu memotong sayuran atau sekadar bercanda.
Arlisa berdiri di ambang pintu dapur. Ia memperhatikan pemandangan itu tanpa suara. Ada rasa getir di dadanya, namun ia memilih berbalik, pergi ke taman belakang.
Di sana, ia duduk di kursi rotan, mencoba menghirup udara segar. Tapi bayangan tawa di dapur tetap membayangi pikirannya. Ia meraih ponsel, membuka kontak, lalu berhenti di satu nama: Rafa.
Rafa adalah teman lama, seorang rekan kuliah yang dulu sempat dekat dengannya. Setelah menikah, mereka jarang berhubungan. Tapi beberapa bulan terakhir, Rafa kembali menyapa lewat pesan singkat. Obrolan mereka sederhana: kabar, pekerjaan, atau sekadar menanyakan kesehatan.
Arlisa sempat ragu. Tapi hatinya sedang rapuh, dan jari-jarinya akhirnya mengetik.
"Pagi, Fa. Apa kabar?"
Tak lama, balasan datang.
"Pagi, Lis. Aku baik. Kamu gimana? Udah lama kita nggak ketemu, ya."
Senyum kecil muncul di bibir Arlisa. Senyum yang berbeda dengan senyum dipaksakan di depan Radwan. Senyum itu muncul karena ada seseorang yang bertanya tulus tentang dirinya.
Hari-hari berikutnya, pesan dengan Rafa semakin sering. Awalnya hanya sekali dua kali, lalu jadi rutinitas. Rafa sering menanyakan hal-hal kecil yang terasa hangat di hati Arlisa.
"Udah makan, Lis?"
"Kamu kelihatan capek, jangan lupa istirahat."
"Kalau butuh teman cerita, aku ada."
Hal-hal sederhana itu justru membuat Arlisa merasa diperhatikan. Perasaan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari Radwan.
Namun, setiap kali tersenyum membaca pesan Rafa, ada rasa bersalah yang menusuk. Ia tahu, apa yang ia lakukan berbahaya. Ia masih istri Radwan, meski hatinya kini terluka.
Suatu sore, Rafa mengajaknya bertemu.
"Lis, aku ada urusan kerja di dekat rumahmu. Kalau kamu sempat, kita bisa ngopi sebentar?"
Arlisa menatap pesan itu lama. Jantungnya berdebar, seolah ia sedang melakukan sesuatu yang terlarang. Ia menimbang, menolak atau menerima.
Akhirnya ia mengetik pelan: "Baik. Kita ketemu di kafe dekat taman kota."
Hari itu, ia mengenakan dress sederhana berwarna biru muda. Tidak berlebihan, tapi cukup membuatnya terlihat segar. Saat melihat dirinya di cermin, Arlisa sempat tertegun. Sudah lama ia tidak merias diri, sejak Radwan tak lagi peduli.
Di kafe, Rafa sudah menunggu. Senyumnya hangat, tatapannya penuh perhatian. "Lis, kamu masih sama seperti dulu. Cantik," ucapnya pelan.
Arlisa tertawa gugup. "Jangan bercanda, Fa. Aku sudah tua."
"Tua apanya? Kamu tetap seperti dulu. Malah lebih dewasa. Ada pesona yang berbeda," jawab Rafa dengan tatapan serius.
Hati Arlisa bergetar. Ia tahu ia harus menahan diri, tapi kata-kata itu menembus pertahanan yang sudah lama rapuh.
Mereka mengobrol lama, tentang masa kuliah, tentang pekerjaan Rafa, bahkan tentang kehidupan Arlisa yang ia ceritakan setengah hati. Rafa tidak bertanya terlalu jauh, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dan saat mereka berpisah, Rafa sempat menatapnya dalam-dalam. "Kalau kamu butuh bahu untuk bersandar, aku ada, Lis. Jangan lupa itu."
Malamnya, Arlisa gelisah di ranjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Rafa masuk.
"Aku senang bisa ketemu kamu lagi hari ini."
Arlisa menggigit bibirnya. Ia ingin membalas, tapi tangannya bergetar. Akhirnya ia mengetik singkat: "Aku juga, Fa."
Saat itu, pintu kamar diketuk. Radwan muncul, wajahnya lelah. "Lis, kamu masih bangun?"
Arlisa terkejut. Sudah lama Radwan tidak masuk ke kamarnya malam-malam. "Iya, Bang. Ada apa?"
Radwan masuk, duduk di tepi ranjang. "Aku cuma... pengin ngobrol sebentar. Kamu baik-baik aja, kan?"
Arlisa menatapnya dengan campuran harapan dan ragu. Untuk sesaat, ia ingin memeluk Radwan, ingin menumpahkan semua luka. Tapi hatinya juga ingat pada Rafa, pada perhatian yang ia dapat dari luar rumah.
"Baik," jawab Arlisa singkat, menahan gelombang perasaan.
Radwan mengangguk, lalu beranjak pergi.
Dan Arlisa, sekali lagi, hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh.
Beberapa hari kemudian, hubungan Arlisa dengan Rafa semakin intens. Mereka saling berkirim pesan hingga larut malam. Arlisa merasa hidup kembali, seakan ada seseorang yang benar-benar melihatnya, bukan sekadar bayangan di rumah sendiri.
Namun, rasa bersalah tetap ada. Kadang ia memandangi Radwan yang sibuk dengan Raline, lalu hatinya berbisik getir: "Kenapa aku mencari di luar, kalau seharusnya aku punya suami sendiri?"
Tapi kenyataan berbicara lain. Radwan terlalu jauh. Raline terlalu dekat. Dan dirinya? Terjepit di tengah.
Suatu malam, Rafa kembali menghubungi.
"Lis, aku nggak bisa bohong. Aku kangen kamu."
Jantung Arlisa berdegup kencang. Kata-kata itu membuatnya hampir menjatuhkan ponsel. Ia menutup mata, menahan napas, lalu mengetik balasan pelan.
"Fa, jangan bikin aku bingung."
Tapi Rafa menjawab cepat.
"Aku serius. Aku nggak mau lihat kamu terluka. Kamu pantas bahagia."
Air mata Arlisa jatuh. Ia menatap layar lama, lalu memeluk ponsel itu seolah bisa menggantikan pelukan yang ia rindukan.
Hari-hari selanjutnya terasa semakin sulit. Arlisa tahu ia sedang berada di tepi jurang. Satu langkah lagi, ia bisa jatuh.
Di rumah, Radwan semakin mesra dengan Raline. Di luar, Rafa semakin mendekat.
Dan di tengah semua itu, hati Arlisa menjerit. Ia mencintai Radwan, tapi ia juga mulai menemukan kembali dirinya lewat perhatian Rafa.
"Ya Allah... apa aku salah?" bisiknya suatu malam, ketika hujan kembali turun. "Aku hanya ingin dicintai..."
Arlisa sadar, badai yang ia ciptakan sendiri kini semakin besar. Pertanyaannya hanya satu: mampukah ia bertahan, ataukah ia akan benar-benar mencari kehangatan lain, meski itu berarti mengkhianati dirinya sendiri?
Malam itu rumah terasa hening. Raline sudah tertidur di kamarnya bersama Radwan. Sementara Arlisa duduk di ruang tamu, hanya ditemani lampu redup dan suara detik jam dinding yang terdengar begitu jelas.
Ponselnya ada di genggaman, layar menyala menampilkan pesan baru dari Rafa.
"Lis, aku tahu ini mungkin salah waktu. Tapi aku benar-benar ingin ada di samping kamu. Aku nggak tahan lihat kamu harus menanggung semua ini sendirian."
Arlisa menatap pesan itu lama, napasnya tersengal. Hatinya berperang hebat. Di satu sisi, ia tahu dirinya masih istri sah Radwan. Tapi di sisi lain, ia haus akan perhatian. Rafa hadir dengan semua yang ia rindukan: mendengar, memahami, dan memberi ruang untuk merasa berharga lagi.
Tangannya gemetar ketika membalas: "Fa, jangan terlalu dekat. Aku takut. Aku masih punya suami."
Balasan datang begitu cepat, seakan Rafa menunggu dengan cemas.
"Aku tahu. Dan aku nggak akan memaksa. Tapi Lis, kamu juga harus jujur sama diri sendiri. Kamu bahagia sekarang? Apa Radwan masih bisa bikin kamu tersenyum kayak dulu?"
Pertanyaan itu menghujam tepat di jantungnya. Air mata Arlisa kembali jatuh, membasahi layar ponselnya. Ia ingin menjawab "tidak", tapi bibirnya hanya mampu mengetik singkat: "Aku bingung, Fa."
Keesokan harinya, Arlisa bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan, meski sudah tahu hasilnya: Radwan lebih sering memilih masakan Raline. Tapi entah kenapa, ia masih saja melakukan itu, seolah berharap ada secuil perhatian yang kembali jatuh padanya.
Ketika Radwan turun ke ruang makan, Raline sudah duduk cantik dengan roti panggang dan salad di depannya. Radwan tersenyum lebar melihatnya. "Wah, Lin, sarapannya sehat banget. Kamu tahu aja aku lagi pengin makanan ringan."
Raline tersipu, sementara Arlisa hanya berdiri di sudut dapur, menatap pemandangan itu dengan hati yang nyeri. Di meja, nasi goreng buatannya masih mengepul, belum tersentuh.
"Bang, kalau mau... nasi goreng juga ada," ucap Arlisa pelan.
Radwan menoleh sekilas, lalu tersenyum kaku. "Oh, iya. Makasih, Lis." Tapi tangannya tetap meraih garpu untuk menyantap salad buatan Raline.
Arlisa menunduk. Tangannya meremas kain celemek yang ia kenakan, berusaha keras menahan diri agar tidak menangis di depan mereka.
Siang itu, Arlisa pergi ke pasar. Ia sengaja memperlambat langkahnya, menikmati udara panas yang menampar wajah. Di tengah keramaian pasar, ia merasa lebih bebas, tak perlu menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Saat ia sedang menawar sayuran, ponselnya bergetar. Rafa menghubungi lewat telepon.
"Lis, kamu lagi di mana?" suara Rafa terdengar hangat.
"Di pasar," jawab Arlisa singkat, sambil memastikan orang di sekitarnya tak memperhatikan.
"Kamu sendirian?"
"Iya."
"Kalau gitu, boleh aku jemput? Kita bisa makan siang bareng. Aku kangen ngobrol sama kamu."
Arlisa terdiam, hatinya berdegup kencang. Ia menoleh ke kanan-kiri, seolah takut Radwan tiba-tiba muncul di tengah pasar. "Aku... aku nggak bisa, Fa. Itu berbahaya."
"Tolonglah, Lis. Cuma makan siang. Aku janji nggak akan macam-macam."
Arlisa menutup mata sejenak. Dalam hati, ia tahu seharusnya menolak. Tapi rasa sepi yang sudah terlalu lama ia pendam membuat kata-kata lain meluncur dari bibirnya. "Baiklah. Kita ketemu di kafe biasa."
Di kafe itu, Rafa sudah menunggu dengan senyum yang tulus. Arlisa datang dengan hati berdebar, merasa seperti seorang remaja yang baru saja akan bertemu kekasih diam-diam.
"Lis," sapa Rafa sambil menarik kursi untuknya. "Aku senang banget kamu mau datang."
Arlisa duduk dengan gugup. "Fa, kita nggak boleh sering-sering ketemu. Kalau Radwan tahu..."
Rafa menatapnya dalam-dalam. "Aku nggak peduli kalau Radwan tahu. Aku cuma peduli sama kamu. Aku lihat kamu menderita, Lis. Dan aku nggak sanggup diam aja."
Kata-kata itu membuat dada Arlisa sesak. Ada kehangatan di sana, kehangatan yang sudah lama ia rindukan. Mereka berbincang lama, tertawa kecil, dan untuk sesaat, Arlisa merasa seperti kembali hidup.
Ketika mereka berpisah, Rafa sempat meraih tangannya sebentar. Sentuhan singkat itu membuat tubuh Arlisa merinding, bukan karena takut, tapi karena ia merasa diingatkan bahwa dirinya masih perempuan yang pantas dicintai.
Malamnya, Radwan pulang lebih cepat dari biasanya. Arlisa terkejut ketika suaminya masuk ke ruang tamu, duduk di sofa, dan memandangnya lama.
"Lis," ucap Radwan tiba-tiba. "Kamu akhir-akhir ini kelihatan beda. Kamu sering keluar, sering keluyuran sendirian. Ada apa sebenarnya?"
Arlisa tercekat. Jantungnya berdetak kencang, seolah Radwan sudah tahu rahasianya.
"A-aku cuma... bosan di rumah terus. Jadi sesekali jalan-jalan ke pasar atau kafe. Itu saja," jawabnya terbata.
Radwan mengernyit, lalu menghela napas panjang. "Lis, kamu boleh jujur sama aku. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, katakan. Jangan dipendam."
Arlisa menatap suaminya lama. Ia ingin sekali berkata, "Aku rindu kamu. Aku butuh kamu. Aku ingin kamu kembali seperti dulu." Tapi lidahnya kelu. Ia takut suaranya justru pecah oleh tangis.
Akhirnya, ia hanya menggeleng. "Nggak ada, Bang. Aku baik-baik saja."
Radwan memandangnya lekat, seolah mencoba membaca isi hatinya. Tapi kemudian ia berdiri, menepuk bahunya pelan, lalu berjalan pergi menuju kamar Raline.
Dan sekali lagi, Arlisa hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin rumit. Arlisa dan Rafa makin dekat, meski hanya lewat pesan dan pertemuan singkat. Rafa mulai berani mengungkapkan perasaannya dengan lebih jelas.
"Lis, aku jatuh cinta lagi sama kamu."
Kalimat itu membuat Arlisa terdiam lama. Ia tahu perasaan Rafa tulus. Ia bisa merasakannya dari cara Rafa memperhatikan, dari kata-kata yang selalu ia pilih dengan hati-hati.
Tapi setiap kali ia hampir menyerah pada godaan itu, bayangan Radwan selalu muncul. Meski kini terasa jauh, Radwan masih suaminya. Dan di lubuk hati terdalam, Arlisa masih mencintai pria itu.
Suatu malam, Arlisa duduk di balkon kamarnya. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore. Ponselnya kembali bergetar.
"Lis, aku nggak bisa tidur. Aku kepikiran kamu terus." pesan dari Rafa.
Arlisa menggigit bibirnya. Ia balas: "Fa, jangan terus-terusan begini. Aku takut kita kelewatan batas."
Balasan datang cepat: "Kalau cinta itu salah, aku rela salah. Asal sama kamu."
Arlisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir lagi. Ia tersesat dalam labirin yang ia ciptakan sendiri.
Di dalam rumah, Radwan mungkin sedang memeluk Raline dengan penuh cinta. Sementara ia, istri pertama, hanya bisa mencari serpihan kasih di luar.
Hari itu, saat matahari mulai terbenam, Arlisa berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri, lalu berkata lirih, "Aku nggak bisa terus begini. Aku harus memilih. Tapi siapa yang harus kupilih?"
Pertanyaan itu menggema di hatinya, tanpa jawaban yang pasti.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Arlisa benar-benar merasa bahwa batas kesetiaan mulai kabur di hadapannya.