Bab 2

Setelah berkata seperti itu Anneth berniat pergi dari sana. Muak jika harus menghadapi pria asing yang bernama Sean itu. Bukannya dia sok jual mahal. Anneth hanya tidak ingin seseorang datang dengan membawa maksud tertentu. Sangat mudah ditebak kalau pria ini memiliki keinginan untuk mengenal lebih pada dirinya. Dan inilah yang sedang Anneth hindari. 

Sejak kejadian menyedihkan waktu itu, Anneth telah bersumpah untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan yang namanya laki-laki. Tapi bukan berarti itu membuatnya harus jatuh cinta pada sesama wanita. Tidak seperti itu. Anneth trauma, jujur dia mengakuinya. Hal inilah yang membuatnya selalu bersikap dingin pada laki-laki yang ingin mendekati. Hatinya sudah terkunci rapat. 

"Nona, percaya tidak kalau aku akan langsung memerintahkan seseorang untuk menyelidiki latar belakangmu jika kau meninggalkan aku seperti ini. Duduklah dan mari kita bicara. Just fun. Oke?" ucap Sean agak tersinggung melihat wanita cantik ini hendak pergi meninggalkannya. Dia merasa dibuang. 

Langkah Anneth terhenti. Ini, ini yang paling dia benci. Dengan raut wajah yang terlihat sangat buruk dia terpaksa kembali duduk di tempat semula. Setelah itu Anneth bersedekap tangan, menatap dingin ke arah pria yang tengah memilin bibirnya. Mirip b*jingan.

"Relaks, baby. Jangan tegang begitu. Nanti cantikmu hilang," ledek Sean yang kini sudah tersenyum lebar. Kekesalannya hilang entah kemana. 

"Berhenti mengatakan omong kosong dan cepat jelaskan apa maksudmu ingin meminta seseorang untuk menyelidiki latar belakangku!" sahut Anneth tanpa basa-basi. 

"Tidak ada maksud apapun, Nona. Aku murni hanya ingin berkenalan saja denganmu. Sungguh!"

"Maaf, aku tidak membuka jasa pengenalan diri. Kau silahkan cari wanita lain saja yang bisa dijadikan obyek untuk bersenang-senang. Permisi!"

Jika tadi Sean merasa tersinggung, kali ini tidak. Dia malah tertawa melihat wanita itu pergi dengan raut wajah yang begitu kesal. Ada kepuasan tersendiri yang Sean dapatkan setelah membalas penghinaan yang tadi dia dapatkan. 

"Hmmm, sayang sekali aku gagal berkenalan dengannya. Padahal dia adalah wanita pertama yang berhasil membuat gairahku bangkit sejak kembali ke negara ini," ujar Sean menyayangkan apa yang terjadi. Dia menarik gelas milik wanita itu kemudian iseng mencicipi isinya. Dan begitu kopi yang masih setengah panas masuk ke dalam mulutnya, Sean dibuat ternganga syok mengetahui rasa dari minuman tersebut. "Brengsek! Apa-apaan wanita itu. Kenapa dia harus memesan kopi sepahit ini. Lidahnya sudah mati rasa apa bagaimana!"

Rupanya kopi yang tadi dinikmati oleh wanita dingin itu rasanya sangat luar biasa pahit. Cepat-cepat Sean memanggil waiters dan memesan segelas minuman yang cukup manis untuk menghilangkan rasa pahit yang seperti membakar lidah. 

"Tunggu dulu. Setahuku para wanita sangat menyukai makanan dan juga minuman yang manis, tapi kenapa wanita itu tidak? Apa yang salah darinya? Mungkinkah dia adalah korban trauma dari masalalu? Astaga, misterius sekali," gumam Sean menerka-nerka. Dia kemudian menoleh ke arah pintu masuk sebelum akhirnya menampilkan satu senyum aneh di bibir. "Aku jadi penasaran siapa dia sebenarnya. Dari cara bicara, riasan, dan juga barang yang dikenakan sepertinya dia bukan berasal dari keluarga sembarangan. Hmmm, sepertinya aku bisa menggunakan wanita ini untuk menghentikan perjodohan yang ingin dilakukan oleh Ibu. Ya, benar. Aku harus segera mencari tahu seluk beluk wanita itu secepatnya!"

Akan tetapi yang jadi masalah adalah kemana Sean harus mencari tahu tentang latar belakang wanita tersebut? Sedangkan dia sendiri baru satu minggu pindah ke negara ini. Mungkinkah dia akan berhasil? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. 

***

Bab 3

Tok tok tok

Anneth membuang nafas kasar. Kesal karena ada yang mengganggunya. Sambil melepas kaca mata yang bertengger di mata, dia mempersilahkan si pengganggu untuk masuk ke dalam ruangan. 

Ceklek

"Apa aku mengganggu?" tanya Sofia seraya menampilkan cengiran khas di bibir. Dan cengirannya bertambah semakin lebar saat di empunya ruangan menatapnya dengan pandangan tajam. Sudah biasa. 

"Kalau tidak penting sebaiknya kau pergi saja dari sini. Dasar pengganggu!" omel Anneth ketika Sofia, sahabatnya, berlenggak-lenggok dengan tampang yang sangat menyebalkan masuk ke dalam ruangan. Sebelah alisnya terangkat ke atas saat Sofia dengan santainya duduk di pinggiran meja sambil bersilang kaki. "Sudah bosan punya kaki? Iya?"

"Ck, ayolah, Ann. Jangan segalak ini pada sahabatmu sendiri. Aku bukan musuhmu. Okey?" sahut Sofia sambil memutar bola matanya. Jengah. 

"Kalau memang benar kau adalah sahabatku lalu kemana perginya sahabat itu ketika aku sedang membutuhkan?"

Sofia meringis. Kini dia tahu penyebab mengapa Anneth terlihat begitu kesal padanya. Siang tadi mereka telah berjanji untuk minum kopi bersama di cafe langganan. Akan tetapi sebelum waktunya tiba untuk mereka bertemu, Sofia dibuat kelelahan oleh kekasihnya yang baru saja kembali dari melakukan perjalanan bisnis. Alhasil dia baru bisa menemui Anneth lima jam dari waktu yang telah ditentukan. Dan sekarang wanita dingin ini merajuk. 

"I'm sorry, bab. Oliver membuatku terlelap. You know lah," ucap Sofia berusaha meminta maaf. 

"Selalu Oliver yang kau jadikan alasan. Kapan dia akan menikahimu?" cecar Anneth sudah tak heran akan kebiasaan Sofia dan Oliver yang selalu memadu kasih seperti pasangan suami istri. Walau sudah berulang kali ditegur, tapi mereka tetap tak mau dengar. 

"Oliver bilang setelah dia di angkat menjadi Presdir di perusahaan ayahnya."

"Kapan?"

"Katanya sebentar lagi. Dia perlu menunggu ayahnya pensiun dulu."

"Apa ini bukan alasannya saja untuk menunda-nunda tanggung jawab?"

"Oliver bukan pria seperti itu, Ann. Dia gentel."

"Tahu darimana kalau dia bukan pengecut?"

"Dari caranya yang selalu berhasil membuatku menjerit keenakan. Hehehe."

"Cihhh!"

Mau tak mau Anneth tetap tersenyum mendengar perkataan vulgar Sofia. Karena dia Oliver sama-sama menggeluti dunia bisnis, sedikit banyak Anneth bisa menilai sikap dan watak pria yang menjadi kekasih dari sahabatnya. Oliver adalah seorang pembisnis yang sangat gigih dan selalu bertanggung jawab pada proyek-proyek yang dipegangnya. Hal ini juga yang menjadi nilai plus di mata Anneth ketika Sofia bilang pria itu ingin mengajaknya menjalin hubungan. Anggaplah dia tenang melepas sahabatnya pada pria yang bisa bertanggung jawab. Tidak seperti dirinya yang ... ah, sudahlah. Anneth tak mau membahas masa lalu yang memuakkan. 

"Oya, Ann. Pemilik cafe bilang tadi siang kau terlihat marah saat pergi dari sana. Apa yang terjadi? Tidak mungkin kau marah karena aku tidak jadi datang, kan?" tanya Sofia sembari menatap lekat wajah cantik sahabatnya. 

(Haihh, padahal Anneth begitu cantik dan perfeksionis. Bagaimana bisa ada pria yang tega menyia-nyiakan hingga membuatnya trauma seperti sekarang? Dasar bodoh. Punya kekasih berspek dewi kenapa malah dibuang demi memungut remahan sampah yang bisanya hanya merusak hubungan orang? Aneh.) 

"Aku malas menceritakannya. Buang-buang waktu," jawab Anneth langsung jengkel begitu diingatkan pada pria tak tahu diri yang siang tadi mengganggunya. Moodnya memburuk seketika.

"Seseorang mengganggumu?" tanya Sofia sembari memajukan wajahnya ke depan.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED