“Ayu! Kamu cepat dong siap-siapnya! Kita mau terlambat nih,” seru Suamiku yang sudah siap di teras rumah menungguku yang sedang mematikan seluruh lampu dan peralatan elektronik yang masih menyala.
Keuangan kami yang pas-pasan dan cenderung kurang membuatku tidak bisa bertahan di gaya hidup sebelumnya. Semasa Suamiku masih menjadi anak konglomerat. Tagihan listrik membludak jika aku tidak berusaha untuk hemat.
“Aku sudah mematikan semuanya. Ayo kita berangkat!” ucapku.
“Haduh, lagian ngapain sih matiin listrik? Kan kita pergi nggak nyampe seharian juga,” kata Jovan dengan santainya.
Aku mendesah dengan lelah, Jovan masih terbiasa dengan kehidupan glamornya. Kemiskinan yang kita alami tidak membuatnya sadar jika sekarang roda tengah berputar.
“Kita harus hemat, Mas! Kamu mana tahu berapa pengeluaran yang aku keluarkan untuk tagihan rumah ini. Tolonglah, kamu membantu sedikit dengan tidak menghambur-hamburkan uang dan berhemat menggunakan listrik. Setidaknya jika kamu belum mendapatkan pekerjaan, tolong untuk menghemat pengeluaran,” kataku mengeluaran unek-unek yang akhirnya aku utarakan.
Air muka Jovan mengeras mendengar itu, dia menyilangkan tangannya di dada dan menatap dengan rendah diriku. Aku tahu, setiap aku membahas masalah finansial dengan suamiku ini dia dengan mudah tersulut emosi. Padahal apa yang aku maksud itu baik demi keberlangsungan rumah tangga kita.
“Ayu! Berani-beraninya sekarang kamu ngomong seperti itu? Kamu pikir uang siapa yang kamu pakai untuk membayar tagihan dan biaya kehidupan kita sehari-hari? Lagian sejak menikah kamulah pelaku yang menghabiskan seluruh hartaku. Kini ketika keluargaku sudah bangkrut kamu sok-sokan menjadi penanggung jawab rumah tangga kita?! Kamu benar-benar nggak tahu malu, ya?” bentak Jovan
Aku terdiam tidak bisa membantah apa yang Suamiku katakan, memang benar aku adalah pelakunya. Semua barang-barang yang pernah aku beli sejak masa kejayaan keluarga Wicaksono masih tersimpan dengan rapih di kamar koleksiku. Aku enggan untuk menjualnya, apa yang akan teman-temanku katakan jika aku menjual koleksi yang aku banggakan dulu?
“Hatiku sakit mendengar hinaan dari Suamiku sendiri. Di mana Jovan penyayang yang aku temui dulu?” bisikku dalam hati.
Melihatku terdiam, Jovan segera berlalu menuju mobil kami. Aku menyusulnya dengan perasaan yang campur aduk. Kami sama-sama terdiam sampai tiba di rumah keluarga Wicaksono yang sudah tidak semegah dulu. Rumahnya masih besar, tetapi dengan model seadanya, tidak seperti rumah klasik konglomerat yang aku puja-puja dulu.
Kami turun dari mobil, Jovan mendahuluiku dengan emosi yang masih memanas. Jovan adalah tipikal temperamental jika keinginannya diprotes atau tidak terpenuhi. Jujur saja sifat kekanak-kanakkan Jovan baru aku sadari setelah kami menikah dan jatuh miskin.
“Eh, udah datang anak kesayangan Mama!” seru Ibu mertuaku dengan lantang.
Jovan memeluk Ibunya dengan tampang datar, anak itu memang sering bertindak sesuka hatinya tanpa memedulikan sopan santun. Namun, karena Jovan adalah anak bungsu dan Jessica sangat menyayanginya sikap Jovan dimaklumi begitu saja.
Aku hanya menunduk sopan ketika memasuki ruang tamu yang dihias seadanya itu. Rutinitasku ketika diundang ke keluarga Wicaksono adalah menjadi pemeran figuran dan sosok yang menjadi topik utama ketika membahas aib Wicaksono. Aku sudah paham akan hal itu, walau harga diriku jatuh aku tidak bisa melakukan apa pun.
“Ayu sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabar kamu sekarang?” tanya Angel, istri dari Kakak Jovan.
Angel satu-satunya kakak ipar yang periang dan baik menurutku. Dia tidak pernah mengejekku seperti anggota keluarga lain dan senantiasa mengajakku mengobrol.
“Ah, aku baik Kak Angel! Kabar kakak gimana?” tanyaku, aku memanggil Angel dengan sebutan kakak karena Angel adalah kakak tingkatku saat di kampus dulu.
“Kabarku Ba-“
“Angel! Sini sebentar, Sayang!” Jessica memanggil Angel dengan tiba-tiba. Sontak Angel pamit mengundurkan diri padaku.
Angel berjalan mendekati Jessica yang memandangku dengan tampilan jijik. Jovan dan para lelaki sedang bercengkrama satu sama yang lain. sementara yang Perempuan berkumpul di sekeliling Jessica, si Tuan rumah.
Tinggallah aku sendirian.
Rasanya aku ingin menangis dan berlari pulang merasakan pengasingan yang disengaja ini. apakah ini benar salahku yang dengan berani memasuki lingkungan keluarga elit dengan latar belakang keluarga miskin?
“Angel! Sudah berapa kali Mamah bilang, kamu jangan bercengkrama sama orang miskin itu! Semenjak Jovan menikah dengan Perempuan itu keluarga kita jadi bangkrut! Mamah nggak mau kehidupan kamu yang bagus terkontaminasi sama dia!” ucap Jessica dengan tatapan tajam menusuk jantungku dengan tepat.
Aku bisa mendengarnya, karena aku berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Hatiku mencelos tak berdaya, ucapan Jessica bernada keras dan nyaring. Aku tahu Jovan mendengarnya, tetapi Jovan nampak tidak peduli dan asik dengan saudaranya.
Suami yang aku kagumi, aku percayai untuk menjadi tamengku justru berbalik menjadi peluru. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Menerima penghinaan ini dengan lapang dada? Tuhan, dahulu aku diam saja karena mereka memenuhi kebutuhanku. Namun, sekarang aku yang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan aku dan Jovan. Pantaskah aku diperlakukan seperti ini?
“Mas, kita pulang saja yuk? Aku nggak enak badan,” kataku setelah menghampiri Jovan.
Aku memilih untuk pulang karena tidak ada fungsiku di acara ini. Padahal hanya pertemuan rutin keluarga tetapi acara ini sangat menguras energiku.
“Hah? Kamu gila, ya? Kita baru nyampe loh, masa kamu minta pulang? Lagian, cuman nggak enak badan mah tahan aja sampe nanti acaranya selesai!” tukas Jovan menolak permintaanku mentah-mentah.
Aku sudah tidak bisa berkata apapun lagi, kami hanya membawa satu mobil dan aku harus pulang bersama Jovan. Apa Jovan tidak merasa kasihan padaku? Apa telinganya itu sangat tebal sampai tidak mendengar hinaan yang keluarganya lancarkan padaku?
“Duh, kamu ini kenapa sih? Se-nggak suka itu ya kamu dateng di acara keluarga ini? Dasar ya, orang miskin emang semuanya nggak tahu diri. Dulu aja, pas keluarga kita masih jadi konglomerat, kamu pulang paling terakhir tuh sambil nunggu cipratan uang dari Mama mertua!” ucap istri dari Kakak tertua Jovan.
Mulutnya dengan nyalang menyerukan hal tidak pantas di tengah-tengah acara, di mana semua orang bisa mendengarnya. Aku tertunduk dalam, hatiku tertusuk-tusuk duri panas hingga melepuh mendengarnya.
Kilatan merendahkan terpancar dari semua mata keluarga Wicaksono. Aku terpojokkan sendiri, tanpa ada yang berniat membantuku. Bahkan suamiku sendiri. sebenarnya hidup apa yang sedang aku jalani?
“Maaf, maksud Mba apa ya? Saya nggak enak badan, bukan nggak suka hadir di acara ini.” Aku berani menyuarakan pendapatku, walau sebenarnya memang benar aku tidak suka hadir di sini. Sudah cukup untuk aku direndahkan!
“Halah, udah deh kamu ngaku aja. Lagian Jovan nih apes banget sih, dapet kok istri yang nggak bisa apa-apa. Cuman seorang guru dengan gaji kecil, sukanya morotin harta keluarga suami dengan tumpang kaki. Enak ya jadi kamu?” seru Perempuan itu lagi.
Perdebatan menjadi memanas, aku yang sudah tahu dari awal telah kalah memilih diam. Membiarkan harga diriku diinjak-injak. Aku memilih pergi meninggalkan ruangan itu, persetan pulang jalan kaki, lebih baik dari pada berdiam diri di tempat orang munafik. Aku menatap Jovan dengan kecewa sebelum aku benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
“Nggak dikejar Van?” tanya Kakak Jovan
“Biarin aja lah, aku capek sama dia.”
Setidaknya percakapan itu yang terakhir aku dengar dari mulut suamiku sendiri. aku tertawa miris pada nasibku yang malang ini.
BRUK!
Aku menabrak bahu keras seseorang saat aku berlari sambil mengusap air mata. Cobaan apalagi, Ya Tuhan. Aku Bersiap untuk mendapat makian kembali, tetapi ….
“Loh? Ayu, ya? Istrinya Jovan?” tanya suara berat lelaki itu dengan senyum maskulinnya. Aku sungguh terpana pada pandangan pertama.
“Marcel?” tanyaku memastikan pada laki-laki yang tengah memegang pundakku ini.
“Kamu ingat aku? Iya, aku Marcel.”
Kami sama-sama saling memandang, lalu aku tersadar tangan Marcel masih menempel dengan nyaman pada pundakku. Melihat aku yang memandangi tangannya Marcel segera melepaskannya.
“Ah, maaf ...,” kata Marcel sembari tersenyum canggung.
“Tidak apa-apa.” Aku pun menjadi malu seketika, entah karena apa aku gugup di hadapan Marcel yang ternyata setampan ini dalam jarak dekat.
Biasanya aku bertemu Marcel ketika aku diajak Jovan bertemu teman-temannya sewaktu kami masih pacaran. Namun, setelah menikah aku sudah tidak pernah bertemu dengan Marcel lagi. Tidak disangka pemuda yang pendiam ini telah berubah menjadi pria matang yang mempesona.
“Ayu?” tanya Marcel ketika melihatku melamun. Aku langsung tersadar dan tersenyum canggung.
“Iya?!”
“Kamu lagi ngapain di sini? Bukannya hari ini ada acara rutin Wicaksono family? Jovan mana?” tanya Marcel beruntun mencecarku.
Aku tertunduk mendengarnya, tidak tahu harus menjawab apa. Daripada menjawab aku beralih bertanya. “Kamu sendiri ngapain di sini?”
“Ah, aku diundang sama Tante Jessica. Katanya sih mau ngasih oleh-oleh buat mamaku,” jawabnya dengan senyuman yang damai.
Sementara aku tersenyum pahit, bahkan orang luar saja diundang dan diberi oleh-oleh. Sedangkan aku, keluarganya sendiri malah mendapat hinaan.
“Oh, begitu. Kalo begitu aku pergi dulu ya.” Aku pamit tanpa menjawab satu pun yang ditanyakan Marcel.
Namun, ketika kakiku melangkah untuk pergi terasa genggaman halus mendarat di tanganku. Marcel menghentikanku.
Aku menengok, memasang wajah bingung akan sikapnya.
“Kamu curang, aku belum dapat satu jawaban pun. Gimana kalo kita pergi dari sini dulu? Kayaknya kamu butuh bantuanku,” katanya.
Eh? Apa ini? Apa maksud dari Marcel?
Aku tidak tahu apa yang tengah terjadi di antara kami. Keluar dari neraka itu aku justru tertabrak seorang pangeran tampan dan kini dia mengajakku untuk pergi. Benar, aku butuh bantuannya. Mungkin ini hadiah dari Tuhan, bolehkan jika aku mengambilnya?
“Ke mana?”
Pertanyaan itu tidak dijawab, Marcel langsung menarik sudut bibirnya. Tersenyum cerah hanya padaku, masih mengenggam tanganku dengan lembut menggiringku menuju mobilnya. Tidak tahu aku akan dibawa ke mana, sesaat aku terhipnotis oleh pria dengan kulit seputih salju ini.
Saat sudah di mobil, aku tersadar. Marcel kan diundang, jika dia pergi bersamaku, bagaimana sikap Jessica jika tahu nanti? Aku mulai menyadari tingkah bodohku.
“Tunggu Marcel, kalo kita pergi, kamu gimana nanti? Mama Jessica pasti menunggu kamu,” ucapku cemas. Aku sudah tidak mau menjadi samsak lagi, sudah cukup hinaan yang aku terima selama ini.
“Hmm, aku tinggal bilang nggak bisa dateng karena ada bidadari yang butuh bantuanku!” jawabnya dengan enteng.
Sontak aku menganga tak percaya, perkataan itu keluar dari mulut Marcel yang notabene adalah teman dari suamiku. Namun, terlepas dari hal itu, pipiku merona seperti kepiting rebus, teringat kembali pada suasana manis saat aku dan Jovan berpacaran dulu.
“A-apa maksud kamu, aku serius tahu,” kataku sembari menyembunyikan wajahku.
“Hahahah, aku juga serius. Gimana kalo kita langsung aja?”
Marcel kembali meracau hal yang membuat perutku dipenuhi kupu-kupu. Lelaki itu mengacak-acak rambut yang sudah kutata rapi tadi pagi, sembari berkata, “Gemes banget sih, kamu kayak anak gadis.”
“Tenang saja Ayu, aku punya banyak alasan untuk tidak datang. Aku bersyukur ketemu kamu, aku memang tidak ingin datang tadi. Aku juga tidak akan menyebut nama kamu. Jadi ... ini rahasia kita, ya?” lanjut Marcel mengedipkan matanya nakal.
Bukannya waspada aku justru terperangkap pada pesonanya. Memangnya boleh seperti ini?
-
“Dari mana aja kamu? Malam-malam baru pulang, aku telepon nggak diangkat?! Udah berani kamu sama suami?” bentakkan sinis dilancarkan pada Jovan tepat saat kakiku menginjak keramik dingin di rumah.
Benar, aku sengaja mengabaikan panggilan Jovan yang mencecarku saat aku pergi bersama Marcel. Saking asiknya bersama Marcel, aku lupa waktu dan pulang di jam malam. Tidak heran Jovan marah besar, sebelumnya aku tidak pernah seperti ini.
“Aku capek, mau istirahat.” Tidak menjawab pertanyaan Jovan, lelaki itu pun langsung bangkit. Dia meraih tanganku dengan kasar, mencegahku untuk masuk kamar. Mungkin harga dirinya terluka karena diabaikan olehku.
“Jawab dulu! Kamu punya mulut kan?” tanyanya dengan suara keras.
Aku sungguh malas meladeni Jovan, sekarang aku hanya ingin tidur.
“Kamu! Bau parfum laki-laki!” bentak Jovan kian nyaring ketika mencium aroma laki-laki pada tubuhku. Aku mulai gelagapan panik, seakan telah keciduk selingkuh.
Segera aku hempaskan tangan Jovan, dengan mimik yang marah aku balas kasar Jovan, “Maksud kamu apa sih?! Ini bau parfum kamu!” ucapku berdalih.
Amarah Jovan memuncak, walaupun sedikit bodoh, Jovan tidak mudah dikelabui. Dia tahu betul perbedaan wangi parfumnya. Aku pun tidak tahu akan seperti apa pertengkaran kami malam ini. Aku telah melibatkan pihak ketiga, tetapi aku tidak selingkuh. Aku hanya pergi sebentar dengan Marcel, dia pun juga teman dari Jovan. Katakan aku selingkuh di bagian mana?
“Kamu pikir aku bodoh? Ini bukan parfum aku! Dasar wanita murahan, kamu aku pungut dari keluarga miskin, hidup serba mewah dan sekarang kamu khianatin aku? Memang sialan kamu!” teriak Jovan tepat di depan wajahku.
Air mukanya kaku, menahan supaya tidak melayangkan tangannya padaku. Belum pernah aku melihat Jovan semarah ini padaku, jujur saja aku cukup tertegun.
“Kamu ngatain istri kamu murahan? Kamu sendiri yang biarin aku pergi setelah aku dipermalukan sama keluargamu itu kan? Inget ya Jovan, kamu yang memohon buat nikah sama aku, sekarang mulut kamu seenaknya bilang, aku dipungut sama kamu? Kamu liat keadaan kita sekarang, apa aku masih bisa hidup mewah? Aku berusaha hemat sekarang karena kamu ga berguna jadi suami!”
Aku mengatakannya.
Benar, aku mengeluarkan semua yang aku rasakan selama ini, semua itu pecah dan Jovan seakan terpatung mendengarnya. Tidak menyangka, Ayunya yang baik dan menuruti semua perkataannya berubah menjadi seganas ini.
Aku segera pergi meninggalkan Jovan yang masih terdiam dengan napas memburu. Aku banting pintu kamar dengan nyaring menandakan diriku marah. Pertama kalinya dalam rumah tangga kami, aku dan Jovan bertengkar hebat begini. Biarlah besok akan bagaimana, yang penting aku sudah mengeluarkan unek-unekku.
“Tapi tunggu ... gimana kalo Marcel cerita ke Jovan tentang hari ini? Eh ... tapi nggak mungkin lah. Dia bilang ini rahasia kita,” cicitku.
Sementara itu, tanpa diketahui oleh Ayu. Jovan menggeraskan rahangnya, amarah memuncak dalam nadinya. Dia tahu betul pemilik dari parfum itu.
“Itu Parfum Marcel.”
Tengah malam, lekas setelah dia dan Ayu bertengkar hebat. Jovan pergi mengendarai mobilnya, membelah cuaca dingin dan menuju dengan cepat ke suatu tempat. Dia tahu betul pasti lelaki yang dia incar ada di sana.
Bar IU, sebuah Bar Fancy yang dikelola oleh Marcel.
Turun dari mobilnya, Jovan dengan napasnya yang memburu melangkah tanpa ragu memasuki Bar itu. Dia melihat Marcel yang tengah tertawa sembari berbincang dengan para pembeli. “Sialan itu, masih bisa ketawa ya lo!”
“Jovan? Ada apa nih, tengah malem begini. Ada masalah a-“ kata-kata Marcel tercekat ketika Jovan dengan segera menarik kerah kemejanya.
Lelaki itu terkejut melihat tindakan Jovan, dilihat oleh banyak orang rasanya akan memicu keributan. Marcel harus berkepala dingin di saat seperti ini.
“Wih, santai ... santai. Lo kenapa, Bro?” tanya Marcel.
“Ada hubungan apa lo sama istri gue?!” tanya Jovan, nadanya pelan tetapi langsung menusuk pada sasarannya.
Mengerti pada arah pembicaraannya, Marcel melepaskan tangan Jovan dan merangkulnya menuju ruangan privat dirinya.
“Kita bicarain di ruangan gue.”
Jovan menurut dan ikut melangkahkan kaki menuju ruang privat Marcel.
“Lepasin!” ucap Jovan kasar.
Marcel bingung, ada apa dengan kawannya ini. Tidak biasanya melihat Jovan semarah ini, selain ketika dia sedang mabuk.
“Lo nggak mabuk kan?” tanya Marcel ragu-ragu.
“Dengan kesadaran penuh, sekali lagi gue tanya. Ada hubungan apa lo sama Ayu?” tanya Jovan dengan mata yang memerah.
Marcel terdiam sejenak. Ah, rupanya masalah Ayu. Senyum tipis tercetak di bibir Marcel, entah merasa senang karena apa.
“Teman? Dia kan istri lo, lo temen gue. Berarti teman, kan?” jawab Marcel.
Jovan berdecak, sebenarnya ada hubungan apa antara Marcel dan Ayu di belakangnya?
“Gue cium bau parfum lo di badan Ayu.” Jovan terang-terangan dan Marcel nampak tidak terkejut mendengarnya.
“Ah, itu? Gue sama Ayu nggak sengaja tabrakan pas Ayu keluar dari rumah Tante Jessica. Mungkin pas itu parfum gue jadi nempel?” kata Marcel apa adanya.
Jovan mendelikkan alisnya merasa aneh. “Bukannya lo nggak bisa dateng ke rumah gue, kenapa lo ada di sekitar situ?” tanya Jovan selidik.
“Iya, gue udah sampe di sekitar rumah Tante Jessica tapi abis itu dapet telepon dari client gue. Biasa orang sibuk, karena buru-buru gue langsung cabut nggak sempet mampir.” Marcel menjelaskannya dengan wajah tenang tanpa keraguan.
Penjelasan dari Marcel membuat Jovan berpikir dia sepertinya terlalu berlebihan. Lagi pula, Ayu tidak pernah bertemu dengan Marcel setelah mereka menikah. Bagaimana mereka bisa ada hubungan?
Melihat Jovan yang terdiam, Marcel berteriak dalam hati merasa menang. “Gimana? Masih nggak percaya sama gue? Perlu gue telepon client gue buat mastiin hari ini gue sama dia?” tawar Marcel.
“Nggak, sorry gue kayaknya berlebihan.” Jovan menundukkan kepalanya merasa malu, api cemburu membakar dirinya hingga tidak bisa berpikir logis.
“Santai, santai, gimana kalo duduk dulu? Kayaknya lo lagi banyak pikiran.”
Mereka duduk, lalu Marcel memanggil pelayan untuk membawakan mereka minuman.
Jovan meraup wajahnya kusut, kini suasana di rumah pasti akan kacau setelah pertengkaran tak berarti yang mereka buat karena kesalahpahaman.
“Gue abis berantem sama Ayu,” kata Jovan membuka suara.
Marcel mendengarkan dengan wajah pura-pura simpatinya, “Berantem gara-gara parfum gue?”
“Ya, itu salah satunya. Ayu marah karena gue nggak nurutin dia pas dia minta pulang. Lo kalo jadi gue pasti bakal sama kan? Itu acara keluarga dan kita baru sampe berapa menit, masa minta pulang? Harusnya kan Ayu gunain waktu itu buat berbaur sama keluarga gue.” Jovan mengeluarkan keluh kesahnya, merasa bingung harus memihak siapa.
Satu gelas minuman keras diminum Jovan, dipastikan malam ini Jovan akan mabuk. Marcel menghela napas berat, malam ini dia akan pulang larut untuk mengantar Jovan pulang. Tapi tidak apa-apa, setelahnya dia bisa bertemu Ayu lagi.
“Mungkin ada alesan kenapa Ayu kayak gitu. Lo udah coba nanya ke dia?” tanya Marcel menimpali curhatan sobatnya itu.
“Dia bilang nggak enak badan, tapi gue yakin itu cuman alesan dia doang. Tapi ... malem ini, gue ngerasa asing sama Ayu. Gue nggak pernah liat dia semarah itu sama gue.”
Jovan sudah mabuk, dan mulai sekarang semua perkataan yang keluar dari bibirnya adalah kejujuran.
“Ayu semarah itu ke Jovan? Jadi penasaran ...,” ucap Marcel dalam hati.
“Padahal kan gue cuman emosi, kata-kata yang gue bilang itu bukan yang sebenarnya. Gue nikahin dia karena gue cinta sama dia. Mulut bodoh ini malah bilang istri sendiri wanita murahan,” racau Jovan sembari menepuk-nepuk bibirnya kesal.
Marcel meraih tangan Jovan agar tidak memukuli bibirya sendiri. Namun, ada tekanan amarah di sana. Degup jantung Marcel berpacu cepat, tersembunyi dari wajahnya yang tenang. Dia marah. Marah, wanitanya dikatai wanita murahan oleh suaminya sendiri.
“Iya, harusnya lo nggak bilang gitu mau seemosi apa pun. Gimana kalo Ayu pergi ninggalin lo?” tanya Marcel dengan mata yang menyala-nyala.
“Nggak!” bentak Jovan.
Lelaki itu ikut menatap mata Marcel dengan matanya yang sayu. “Nggak boleh, Ayu punya gue! Tujuan gue nikah di usia muda karena gue tahu banyak yang ngincar Ayu. Walaupun dia mau sama gue karena liat harta gue, gue nggak masalah. Dia tulus sayang sama gue, Ayu ... nggak mungkin ninggalin gue.”
Marcel tertegun mendengarnya. Tidak menyangka seorang Jovan yang terkenal suka bermain-main justru dengan serius mencintai wanitanya.
“Hmm, gitu. Suatu saat ada yang akan buat itu jadi hal yang mungkin,” bisik Marcel. Setelahnya dia bangkit dengan Jovan dirangkulannya.
-
Larut malam, Marcel berdiri di depan pintu rumah Jovan bersama lelaki yang kini sudah tepar. Bel dibunyikan dan 5 menit kemudian seorang wanita cantik dengan pakaian tidurnya keluar dengan wajah polos.
Marcel terpaku. Pertama kali ini dia melihat Ayu tanpa riasan, dan lekuk tubuh yang diumbar. Cobaan apa ini di larut malam, Tuhan?
“Marcel? Loh, Jovan kenapa?” tanya Ayu. Dengan segera dia mendekat ke arah Jovan dan menepuk-nepuk pipi suaminya itu dengan lembut, seakan lupa beberapa jam lalu mereka telah bertengkar hebat.
“Hmm ... istri aku? Cantik banget, hehehhe.” Jovan meracau sembari meraup wajah Ayu dan mencium pipi chubby istrinya.
Marcel panas dingin melihatnya, ingin dia tendang lelaki tak berguna ini dan mengurung Ayu untuk terjaga sampai subuh.
“Ah, sial! Gue harus tenangin diri,” ucap Marcel dalam hati ketika hasratnya kian menjadi.
Sementara Ayu menatap malu sekaligus canggung karena tingkah manis Jovan ketika mabuk. “U-udah, kamu mabuk Jovan. Ayo masuk,” kata Ayu sembari menuntun suaminya itu.
“Hmm, Marcel ... bisa bantu aku baringin Jovan di kasur?” tanya Ayu merasa cukup kesulitan dengan suaminya.
“Baringin kamu sekalian boleh?” jawab Marcel