Deru mesin empat silinder memecah keheningan jalanan malam Jakarta. Sela, dengan rahang mengeras dan cengkeraman kuat pada kemudi, menekan pedal gas dalam-dalam. Jarum speedometer terus naik, melewati angka 80, 100, hingga 120 kilometer per jam. Bukan karena ia sedang terburu-buru, melainkan karena ia butuh pelampiasan. Amarahnya memuncak, menguap dari setiap pori-pori kulitnya, membakar habis akal sehatnya. Ia merasa seperti gunung berapi yang siap meletus, dan satu-satunya cara untuk meredakannya adalah dengan merasakan hembusan angin yang seolah merobek wajahnya.
Mobil sedan berwarna hitam metalik itu melaju bagai kilat, memotong arus lalu lintas dengan seenaknya. Sorot lampu dari mobil lain yang membunyikan klakson tidak ia hiraukan. Hatinya begitu mendidih, membayangkan motor kesayangannya, sebuah Harley-Davidson Sportster 883, yang kini teronggok tak berdaya di garasi rumah, terkunci dengan rantai besi tebal.
"Sialan!" umpatnya, memukul setir keras-keras. "Gue cuma balapan sebentar, kenapa motor gue harus disita segala, sih?!"
Ingatan tentang perdebatan panasnya dengan sang ayah masih segar. Suara baritonnya yang tegas, mata tajamnya yang menuntut, dan kata-kata yang menusuk relung hati. "Selagi kamu masih tinggal di bawah atap rumah ini, kamu harus patuh pada aturan! Balapan liar itu berbahaya, Sela! Ayah nggak mau kamu kenapa-kenapa!"
Kata-kata itu bagai racun yang menyebar di nadinya. Menurut Sela, balapan liar adalah seni. Sebuah tarian berbahaya yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berani menantang maut. Itu adalah jiwanya, identitasnya. Baginya, menyita motor itu sama saja dengan memotong sayapnya, mencabut satu-satunya kebebasan yang ia punya. Ia merasa terkekang, tak berdaya, dan ia benci perasaan itu.
Kemarahan Sela tak hanya berhenti di situ. Malam tadi, ia juga baru saja diputusin pacarnya, Danu. Danu bilang ia tidak tahan dengan sifat "liar" Sela. Sela tertawa hambar mengingatnya. Tentu saja, Danu tidak akan pernah mengerti. Bagaimana mungkin seorang pemuda kutu buku yang hanya tahu tentang buku dan rumus fisika bisa mengerti tentang gairah dan adrenalin yang mengalir deras dalam darahnya? Balapan liar dan pacaran adalah dua dunia yang tak bisa bersatu.
"Bodoh!" maki Sela lagi. Tangan kirinya menjangkau botol air mineral di sampingnya, lalu meneguknya hingga tandas. "Semua orang bikin gue kesel! Ayah, nyokap, Danu... bahkan anjing di rumah gue juga kayaknya lagi ngeselin. Ah, dunia ini emang nggak adil!"
Ia melirik spion, melihat lampu-lampu jalanan yang berkelebat begitu cepat di belakangnya. Ia merasa seolah sedang balapan melawan waktu, melawan nasib. Dengan satu tarikan napas, ia kembali fokus ke jalan. Jemari lentiknya menggenggam erat kemudi, siap untuk apa pun yang akan datang.
Mendadak, lampu lalu lintas di depannya berubah menjadi merah. Sela mengerem mendadak, membuat mobilnya berdecit nyaring. Otaknya yang dipenuhi amarah tidak sempat bereaksi dengan cepat. Ia baru menyadari bahwa ada sebuah mobil mewah, sedan sedan Audi R8 berwarna putih, yang berhenti tepat di depannya. Tanpa sempat menghindar, Sela membanting setir, namun itu tidak cukup. Bunyi "brak!" yang memekakkan telinga terdengar nyaring. Bagian depan mobilnya menabrak bumper belakang mobil Audi itu.
Jantung Sela berdebar kencang. Bukan karena kaget atau takut, melainkan karena adrenalin yang meluap. Mobil yang ia kendarai adalah mobil pinjaman dari ayahnya, dan kini mobil itu lecet, dan lebih parah lagi, mobil di depannya jauh lebih mewah. Namun, bukannya merasa bersalah, Sela justru merasa amarahnya semakin menjadi-jadi. Ia merasa dunia sedang berkonspirasi untuk mengganggunya.
Dengan gerakan cepat dan kasar, Sela membuka pintu mobilnya. Ia keluar dengan langkah lebar, seperti singa yang baru saja bangun dari tidurnya. Ia menunjuk-nunjuk mobil Audi yang lecet di bagian belakangnya dengan mata melotot. "Woy! Keluar lo! Kenapa sih lo musti berhenti dadakan gitu?!"
Pintu mobil Audi terbuka, dan seorang laki-laki keluar dari sana. Ia memiliki postur tinggi semampai, mengenakan kemeja berwarna biru muda yang digulung sampai siku, celana kain berwarna senada, dan sepatu pantofel hitam yang mengilat. Rambutnya disisir rapi ke samping, dan wajahnya bersih. Namun, yang paling menarik perhatian Sela adalah ekspresinya yang datar. Sangat datar. Seolah-olah dunia baru saja kiamat, dan ia tidak peduli.
Laki-laki itu berjalan mendekati mobilnya yang lecet, lalu ia menoleh ke arah Sela. Tatapannya dingin dan menusuk. "Maaf, apa Anda tidak melihat lampu lalu lintas? Lampu sudah merah, tentu saja saya berhenti." Suaranya tenang, namun mengandung nada sinis. "Anda yang menabrak mobil saya, kenapa justru Anda yang marah?"
Sela melipat kedua tangannya di dada. Matanya mendelik. "Apa-apaan sih lo?! Lampunya baru aja merah. Lo yang terlalu cepet ngerem!"
Laki-laki itu menghela napas panjang. Ia mengambil ponselnya dari saku celana. "Saya tidak ingin berdebat. Saya tidak punya banyak waktu. Mobil Anda menabrak mobil saya, jadi sudah sewajarnya Anda yang bertanggung jawab."
"Halah, lecet doang juga!" balas Sela ketus, menunjuk bekas lecet di mobilnya dan mobil laki-laki itu. "Lagian, mobil lo kan mobil mahal, nggak bakal miskin kan cuma gara-gara lecet kayak gini? Jangan lebay deh lo!"
Ekspresi datar laki-laki itu mulai menunjukkan sedikit tanda-tanda perubahan. Matanya menyipit, dan ia menatap Sela dari atas ke bawah. Sela yang merasa diremehkan, menjadi semakin marah. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia melangkah maju, kakinya yang berbalut sepatu kets menapak dengan keras di aspal. Ia berjinjit, lalu dengan cepat, ia menarik kerah kemeja laki-laki itu.
"Denger ya! Gue nggak bakal bayar ganti rugi apa pun! Lo pikir gue punya uang banyak buat ganti rugi mobil mahal lo ini?! Mending lo pergi aja, jangan cari masalah sama gue!" ancam Sela, suaranya naik satu oktaf.
Laki-laki itu tidak bergeming. Ia membiarkan Sela menarik kerah kemejanya. Ia menatap mata Sela yang berapi-api tanpa rasa takut sedikit pun. Ia bahkan tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya, senyum yang terkesan mengejek. "Lepaskan tangan Anda. Saya rasa cara Anda berbicara tidak sopan. Seharusnya Anda minta maaf, bukan malah mengancam saya."
"Minta maaf?! Nggak bakal! Lo yang harusnya minta maaf sama gue!" Sela berteriak di depan wajah laki-laki itu. Ia tidak peduli jika orang-orang di sekitarnya mulai melihat mereka. Amarahnya sudah membutakan segalanya.
Tiba-tiba, dari arah belakang, beberapa orang warga dan pengendara lain datang menghampiri. Mereka berusaha memisahkan Sela dan laki-laki itu. "Sudah, Mas, Mbak, jangan ribut. Ini di jalanan. Kasihan yang lain," ujar seorang bapak-bapak paruh baya.
Sela melepaskan cengkeramannya dari kerah laki-laki itu. Napasnya terengah-engah. Ia menatap bapak itu dengan mata memelas. "Pak, bapak lihat sendiri kan? Cowok ini nyebelin banget! Gue udah minta dia pergi, tapi dia maksa minta ganti rugi."
Laki-laki itu, dengan tenang, merapikan kerah kemejanya yang kusut. Ia menatap Sela dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak berteriak, tidak memaki. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Maafkan saya, Bapak. Saya hanya meminta pertanggungjawaban dari beliau karena menabrak mobil saya."
Warga yang melihat situasi itu mulai merasa iba dengan laki-laki itu. Mereka menasihati Sela untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Sela yang merasa tidak ada yang berpihak padanya, menjadi semakin kesal. Ia merasa dijebak.
"Oke, fine! Gue pergi!" Sela membanting pintu mobilnya dengan keras. Sebelum masuk ke dalam, ia membuka kaca jendela mobilnya, lalu menjulurkan kepalanya. Ia menatap laki-laki itu tajam. "Denger ya, cowok sombong! Awas aja lu kalo gue ketemu lagi! Gue pasti bakal bikin lo nyesel!"
Laki-laki itu tidak membalas. Ia hanya berdiri di sana, menatap mobil Sela yang melaju kencang, menghilang di tikungan jalan. Ia menghela napas panjang. "Gadis aneh," gumamnya, lalu ia masuk kembali ke mobilnya.
Sela mengendarai mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi. Otaknya masih dipenuhi oleh wajah datar laki-laki itu dan perkataannya yang dingin. Ia bersumpah akan membalas perlakuan laki-laki itu jika takdir mempertemukan mereka lagi. Ia tidak tahu, bahwa takdir memiliki rencana lain untuknya, rencana yang tidak akan pernah ia duga. Sebuah rencana yang akan mengubah hidupnya, selamanya.
Deru mesin mobil Sela akhirnya mereda saat ia memarkirkan kendaraannya di lahan parkir kampus. Universitas Jakarta Raya. Di balik kemudi, Sela menghela napas panjang, mencoba menenangkan badai emosi yang masih bergemuruh di dadanya. Wajahnya yang cantik masih dihiasi rona merah akibat amarah yang tak kunjung surut. Ia melihat pantulan dirinya di spion, mata yang tajam dan rahang yang mengeras. Ia menggelengkan kepala, mencoba melupakan insiden tabrakan konyol dengan laki-laki sok datar itu.
"Sela! Lo kenapa, sih? Mukanya ditekuk gitu kayak baju belum disetrika," suara yang familier menyapa dari luar mobilnya.
Sela menoleh. Dua sahabatnya, Rina dan Tio, sudah berdiri di samping mobilnya, dengan wajah penuh tanya. Rina, gadis tomboy berambut pendek yang selalu mengenakan jaket kulit, dan Tio, pria berambut gondrong dengan kemeja flanel kebanggaannya. Mereka berdua adalah teman seperjuangan Sela dalam segala aksi "bar-bar" mereka, mulai dari balapan liar hingga perkelahian kecil di pinggir jalan.
"Nggak apa-apa," jawab Sela singkat, turun dari mobil dan mengunci pintunya dengan kasar.
"Nggak apa-apa gimana? Muka lo kayak lagi nahan boker," Tio menyahut, tangannya menyentuh bahu Sela, mencoba mencairkan suasana.
Sela menepis tangan Tio. "Gue cuma lagi sebel aja."
"Sebel kenapa? Soal motor lo yang disita bokap lo? Udah, Sel. Nanti juga dikasih lagi," Rina mencoba menenangkan.
Sela menatap Rina dan Tio bergantian. Ia tahu, ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari mereka berdua. Mereka adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya. Ia pun akhirnya menyerah, dan mulai bercerita dengan nada penuh kekesalan.
"Gue tadi nabrak mobil," Sela memulai.
"Wih, balapan lagi lo? Lawan siapa? Masih pagi gini," Tio berseru antusias.
"Bukan! Bukan balapan! Gue lagi kesel, terus nggak sengaja nabrak mobil. Mobilnya mahal, sumpah! Terus yang punya mobilnya nyebelin banget. Sok-sokan minta ganti rugi, padahal cuma lecet dikit doang. Gue tarik kerahnya, gue ancem-ancem, tapi dia nggak takut sama sekali! Datar banget mukanya. Pengen gue tonjok aja rasanya!" cerita Sela, emosinya kembali meluap.
Rina dan Tio saling berpandangan, menahan tawa. Mereka tahu persis bagaimana temperamen Sela. Jika Sela sudah marah, tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Cewek bar-bar ketemu cowok bar-bar juga, nih!" Tio tertawa terbahak-bahak.
"Bukan bar-bar! Dia itu sok banget! Dia bilang 'saya kamu' sama gue, Tio. Gue kan males banget denger orang ngomong kayak gitu! Terus dia bilang cara gue nggak sopan. Ya ampun, sumpah gue pengen banget ketemu dia lagi dan tonjok mukanya!" Sela menggerutu.
"Udahlah, Sel. Lupain aja. Kayaknya lo butuh denger gosip deh biar mood lo balik," Rina menyela, menghentikan ocehan Sela. "Eh, lo tau nggak? Katanya, hari ini ada dosen baru, lho."
Sela menaikkan alisnya. "Dosen baru? Siapa?"
"Nggak tahu. Gosipnya sih, dia ganteng. Terus masih single," Tio menimpali dengan senyum menggoda.
Sela mendengus. "Gue nggak peduli. Mau ganteng kek, mau single kek, kalau cara ngajarnya ngebosenin, gue juga ogah dengerin."
"Ih, jangan gitu, Sel! Kali aja dia kayak oppa-oppa Korea yang bikin mata kita seger," Rina bersemangat.
Mereka bertiga berjalan menuju gedung perkuliahan, menaiki tangga, dan masuk ke dalam kelas. Kelas sudah cukup ramai. Mereka mencari tempat duduk di barisan belakang, tempat favorit mereka. Tio dan Rina sibuk mengobrol tentang gosip dosen baru, sementara Sela mengeluarkan buku catatan dan pena, berpura-pura membaca. Namun, pikirannya masih melayang pada insiden pagi tadi. Ia tidak bisa melupakan wajah datar laki-laki itu. Sela merasa sangat terganggu dengan fakta bahwa laki-laki itu tidak sedikit pun gentar saat ia menarik kerahnya.
"Awas aja lo kalau gue ketemu lagi," gumamnya pelan.
Tidak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang pria tinggi semampai, dengan kemeja berwarna biru muda yang digulung sampai siku, celana kain, dan sepatu pantofel hitam yang mengilat, masuk ke dalam. Seketika, suasana kelas menjadi sunyi. Semua mata, terutama mata mahasiswi, tertuju padanya. Sela mendongak, matanya melebar. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia tidak salah lihat. Sosok di depan kelas itu adalah laki-laki yang ia tabrak pagi tadi. Laki-laki dengan wajah datar yang berhasil membuatnya naik pitam.
Laki-laki itu berjalan menuju meja dosen di depan, lalu ia berdiri di sana. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, dan pandangannya berhenti saat matanya bertemu dengan mata Sela. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. Senyum yang membuat bulu kuduk Sela berdiri.
Sela menundukkan kepalanya, mencoba bersembunyi. "Mampus gue," bisiknya pelan. Tio dan Rina menyenggol lengannya. "Itu dosen barunya, Sel! Ganteng, kan? Astaga, melting gue." Sela hanya bisa menghela napas pasrah. Ini bukan melting, ini mampus.
"Selamat pagi, semuanya," suara bariton itu terdengar di seluruh ruangan. Suaranya tenang, namun memiliki nada otoritas yang tidak bisa disangkal. "Perkenalkan, nama saya Arga. Saya dosen baru untuk mata kuliah Ilmu Komunikasi."
Nama itu, Arga, terasa asing di telinga Sela, tetapi wajahnya tidak. Ia ingin sekali keluar dari kelas ini, kabur, dan pura-pura tidak pernah bertemu dengan Arga. Namun, ia tahu, itu tidak mungkin.
Arga melanjutkan perkenalannya. "Saya harap, kita bisa bekerja sama dengan baik. Saya suka suasana kelas yang aktif, jadi jangan ragu untuk bertanya. Namun, saya juga tidak suka ada mahasiswa yang tidak serius. Saya harap kalian bisa menjaga sikap saat berada di kelas saya." Ia menekan kata "sikap" dengan nada yang dingin.
Sela merasakan tatapan Arga tertuju padanya. Ia mencoba membalas tatapan itu, namun Arga terlalu cepat. Ia kembali menyapu pandangannya ke sekeliling kelas, dan akhirnya pandangannya kembali tertuju pada Sela. Senyum licik kembali terukir di bibirnya.
"Sebelum kita mulai, saya ingin tahu, siapa ketua kelas di sini?" tanya Arga.
Sela merasakan dorongan dari Tio. "Lo kan ketua kelas, Sel. Angkat tangan sana."
Dengan malas, Sela mengangkat tangannya. Arga tersenyum, senyum yang kali ini lebih lebar. Sela merasa senyum itu seperti senyum singa yang menemukan mangsanya.
"Baik. Ketua kelas, nanti setelah jam kuliah saya selesai, tolong temui saya di ruangan saya. Saya ingin memberikan tugas untuk kelas ini," Arga berbicara, namun tatapannya masih tertuju pada Sela.
Sela menurunkan tangannya dengan kasar. Ia tidak terima. Ia ingin protes. Ia merasa Arga sengaja melakukan ini untuk membalas dendam padanya. Sela berdiri dari duduknya, membuat semua orang di kelas menoleh padanya.
"Kenapa harus saya, Pak?" tanya Sela dengan nada menantang.
Arga menatap Sela, ekspresinya kembali datar. Mata hitamnya yang tajam menembus pandangan Sela. "Karena Anda ketua kelas. Ada masalah?" jawab Arga dengan nada dingin dan penuh otoritas.
"Tapi kan, Pak... Bapak bisa kasih tugasnya ke yang lain," Sela mencoba berargumen.
"Saya sudah bilang, saya tidak suka ada mahasiswa yang tidak serius," Arga menekan kata "tidak serius" sambil menatap Sela. "Duduk, atau Anda akan saya berikan tugas tambahan."
Sela merasa seolah-olah ia baru saja ditampar. Ia ingin sekali melontarkan kata-kata pedas, namun ia tahu ia tidak bisa. Sela adalah Sela, gadis bar-bar yang tidak pernah takut. Tetapi, di depan Arga, ia merasa ciut. Aura dingin Arga terlalu kuat untuk dilawan. Dengan kesal, Sela kembali duduk di kursinya.
"Mampus gue," bisik Sela pada Tio dan Rina. "Ini dosen nggak cuma ganteng, tapi juga killer. Sumpah, gue benci sama dia."
Tio dan Rina hanya bisa tertawa tertahan. Mereka tahu, ini adalah awal dari pertarungan epik antara Sela yang bar-bar, dan Arga, dosen killer yang tidak kalah bar-bar. Mereka tidak tahu, bahwa pertarungan ini akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengubah hidup Sela.
Bunyi bel yang menandakan berakhirnya jam kuliah akhirnya berdering. Bagi sebagian besar mahasiswa, itu adalah lonceng kebebasan. Namun, bagi Sela, itu adalah sinyal dimulainya pertarungan baru. Ia masih duduk di bangkunya, hatinya diliputi rasa kesal. Di hadapannya, Arga merapikan laptop dan beberapa buku di atas meja, ekspresinya tetap datar dan dingin, seolah-olah perdebatan singkat mereka tadi tidak pernah terjadi.
Tio dan Rina sudah berdiri di dekat pintu, menunggu Sela. "Sel, kita tunggu di luar ya," kata Tio pelan.
Sela mengangguk. "Kalian pulang duluan aja, nggak usah nungguin gue. Nggak tahu nih bakal berapa lama," jawabnya, suaranya terdengar pasrah.
"Nggak, ah. Kita tungguin di depan. Siapa tahu lo butuh bantuan buat tonjok dosen itu," kata Rina dengan nada bercanda, mencoba membesarkan hati Sela.
"Duh, mendingan kalian pulang. Nanti gue kabarin," Sela bersikeras. Ia tidak ingin Tio dan Rina melihat betapa menyedihkannya ia nanti saat menghadapi Arga.
"Nggak apa-apa, Sel. Kita tungguin," Rina dan Tio kompak menjawab, lalu mereka keluar dari kelas. Sela melihat mereka berdua berdiri di depan pintu, seolah-olah mereka adalah penjaga yang setia. Hatinya sedikit menghangat. Setidaknya, ia tidak sendirian.
Sela berjalan gontai ke meja dosen. Ia berdiri di depan meja Arga, dengan tangan bersedekap, menatap Arga dengan pandangan menantang.
Arga mendongak, matanya yang tajam menatap Sela. "Sudah selesai? Silakan duduk," katanya, menunjuk kursi di hadapannya.
Sela menolak. "Nggak usah, Pak. Cepetan aja. Bapak mau kasih tugas apa? Saya buru-buru."
Arga tersenyum tipis. "Saya suka orang yang to the point. Tapi, saya lebih suka orang yang menghormati orang lain. Duduk."
Nada bicara Arga yang dingin dan penuh otoritas membuat Sela merinding. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi. Sela akhirnya menyerah, ia menarik kursi itu dengan kasar dan duduk di sana.
Arga membuka laptopnya. "Jadi, ketua kelas, tugas yang akan saya berikan ini adalah tugas kelompok. Saya sudah membuat daftar nama kelompok dan topiknya. Kamu bisa salin ini, lalu sebarkan di grup kelas."
Sela mengangguk. "Iya, Pak. Terus?"
"Setelah itu, saya juga ingin meminta pertanggungjawaban Anda," kata Arga, suaranya berubah menjadi lebih dingin.
Sela mengerutkan kening. "Pertanggungjawaban apa?"
"Mobil saya. Anda ingat kan? Mobil Anda menabrak mobil saya, dan ada bekas lecet. Saya tidak main-main. Saya butuh ganti rugi."
Sela merasa darahnya mendidih lagi. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja. "Duh, Pak! Kan saya udah bilang, itu cuma lecet doang! Lagian, kan Bapak yang ngerem mendadak! Jangan seenaknya, dong!"
"Saya sudah jelaskan. Lampu sudah merah. Saya tidak peduli alasan Anda. Tabrakan itu terjadi karena Anda tidak hati-hati, bukan saya. Jadi, Anda harus bertanggung jawab," balas Arga, suaranya tetap datar.
"Saya nggak punya duit sebanyak itu, Pak!" Sela berseru.
"Oh, ya?" Arga menaikkan alisnya, matanya menatap Sela dari atas ke bawah. "Saya rasa kamu punya uang. Atau, orang tua kamu punya uang. Jadi, minta sama orang tua kamu."
"Nggak! Ini urusan saya sama Bapak! Jangan libatin orang tua saya!" Sela menolak keras. Ia tidak akan pernah meminta uang kepada orang tuanya untuk masalah sekecil ini. Itu akan terasa seperti kekalahan besar.
"Kalau begitu, ada cara lain," Arga tersenyum, senyum yang membuat Sela merasa tidak nyaman.
"Cara apa?"
"Anda bisa ganti rugi dengan cara lain. Menjadi asisten dosen saya," kata Arga, lalu ia menunggu reaksi Sela.
Sela terkejut. Matanya melotot. "Apa? Jadi asisten Bapak? Nggak mau! Sumpah, saya nggak mau!"
"Anda tidak punya pilihan. Jadi asisten saya, atau saya laporkan ini ke polisi," Arga mengancam.
"Halah, Pak! Bapak nggak usah nakut-nakutin deh!" Sela berseru. "Saya nggak bakal mau jadi asisten Bapak! Saya benci sama Bapak!"
Arga hanya tersenyum. "Anda boleh benci saya. Tapi, Anda harus tetap jadi asisten saya. Tugas Anda tidak sulit. Anda hanya perlu membantu saya mengoreksi tugas, mengatur jadwal pertemuan kelompok, dan beberapa hal kecil lainnya. Sebagai gantinya, saya tidak akan meminta ganti rugi. Dan, nilai Anda di mata kuliah saya akan saya pastikan aman."
"Nggak! Pokoknya nggak mau! Cari aja orang lain, Pak! Banyak yang mau jadi asisten Bapak!" Sela menolak dengan keras.
"Tidak. Saya mau Anda," kata Arga. "Karena saya rasa, Anda butuh pelajaran. Pelajaran tentang tanggung jawab. Dan saya adalah guru yang tepat untuk itu."
Sela merasa tertantang. Ia merasa Arga sedang meremehkannya. "Saya nggak butuh pelajaran dari Bapak! Bapak cuma mau bales dendam, kan?!"
"Anggap saja begitu," jawab Arga enteng. "Jadi, bagaimana? Anda mau jadi asisten saya, atau saya laporkan ke pihak universitas dan polisi?"
Sela diam. Ia tahu, Arga tidak main-main. Ia melihat keseriusan di mata Arga. Ia tidak mau berurusan dengan pihak universitas atau polisi. Itu akan memancing amarah ayahnya. Sela bisa kehilangan semua kebebasan yang ia miliki, termasuk mobilnya. Ia merasa terpojok.
"Saya nggak mau, Pak!" Sela memohon.
"Satu lagi," Arga menambahkan. "Kalau Anda tidak mau, saya akan pastikan nilai Anda di mata kuliah saya tidak lulus. Saya tidak main-main. Saya bisa melakukannya."
Mendengar ancaman itu, Sela terdiam. Ia tahu Arga bisa melakukan itu. Dosen memiliki kekuasaan penuh atas nilai mahasiswanya. Ia tidak ingin mengulang mata kuliah ini. Itu akan sangat memalukan.
Sela mengepalkan tangannya. "Bapak curang!"
"Saya hanya menggunakan apa yang saya punya," Arga tersenyum licik. "Jadi, bagaimana? Pilihannya ada di tangan Anda."
Sela menghela napas panjang. Ia merasa kalah. Ia merasa Arga telah memojokkannya ke dalam lubang yang sangat dalam. Ia tidak punya pilihan lain.
"Oke, fine! Saya mau!" Sela menyerah. "Tapi, satu syarat. Bapak jangan macem-macem sama saya!"
Arga tertawa kecil. "Saya tidak akan macam-macam. Saya tidak tertarik dengan anak kecil seperti Anda."
Perkataan Arga membuat Sela kembali kesal. "Saya bukan anak kecil!"
"Baiklah. Kita mulai dari hari ini. Saya akan memberikan daftar tugas Anda lewat email. Saya akan mengirimkannya nanti malam," kata Arga, kembali ke mode serius.
Sela berdiri dengan kasar. "Ya udah, saya pergi."
Ia berjalan menuju pintu, lalu ia berhenti. Ia menoleh ke arah Arga. "Awas aja ya, Pak. Kalau Bapak macem-macem, saya bakal bikin Bapak nyesel!" ancam Sela.
Arga tidak bergeming. Ia hanya tersenyum. "Silakan. Saya tunggu."
Sela keluar dari ruangan dosen, membanting pintu dengan keras. Ia berjalan tergesa-gesa menuju Tio dan Rina. Mereka berdua langsung menghampiri Sela.
"Gimana, Sel? Lo nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Rina khawatir.
"Gue nggak kenapa-kenapa. Cuma, gue terpaksa jadi asisten dosen itu," Sela menjawab dengan nada pasrah.
"Apa?! Seriusan lo?! Kok bisa?" Tio terkejut.
Sela menceritakan semuanya. Mulai dari Arga yang meminta ganti rugi, hingga ancaman nilai yang membuat Sela tidak punya pilihan lain. Tio dan Rina terkejut mendengar cerita Sela.
"Gila! Itu dosen bener-bener gila!" Rina berseru.
"Iya. Dia ngeselin banget. Sumpah gue benci banget sama dia!" Sela menggerutu. "Tapi, tunggu aja. Gue bakal bikin dia nyesel udah ngerjain gue."
Sela tidak tahu, ia baru saja menandatangani kontrak yang akan mengubah hidupnya. Kontrak yang akan membawanya pada sebuah perjalanan yang penuh dengan pertengkaran, kejutan, dan mungkin, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Ia tidak tahu, bahwa ia dan Arga akan menjadi dua kutub magnet yang saling tarik-menarik, menciptakan percikan api yang akan membakar habis semua kemarahan di antara mereka. Ia tidak tahu, bahwa di balik wajah datar Arga, ada sesuatu yang lebih dari sekadar dendam.
Setelah melepaskan kekesalannya kepada Tio dan Rina, Sela akhirnya sedikit tenang. Namun, bayangan wajah datar Arga dan senyum liciknya masih terus menghantuinya. Ia merasa seperti baru saja menandatangani perjanjian dengan iblis. Asisten dosen? Mengoreksi tugas? Mengatur jadwal? Semua hal itu terasa begitu asing dan tidak sesuai dengan dirinya yang "bar-bar."
"Gila, itu dosen bikin gue pengen nonjok, deh," gerutu Sela, saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Sabar, Sel. Cowok kayak gitu emang harus dikasih pelajaran," timpal Rina.
"Iya, tapi nanti lo malah disuruh jadi asisten dia lagi," Tio tertawa mengejek.
"Berisik, lo!" Sela menyenggol lengan Tio. "Pokoknya, gue akan balas dendam. Tunggu aja, ya!"
"Gimana kalau kita nongkrong aja? Biar pikiran lo seger lagi," usul Tio. "Gue lagi pengen ngopi di tempat biasa."
Sela mengangguk setuju. "Ide bagus. Gue juga butuh kafein buat ngilangin stres."
Mereka bertiga menuju mobil Sela. "Gue naik mobil, kalian naik motor aja," kata Sela.
"Oke! Kita duluan!" Tio dan Rina segera berlari menuju motor masing-masing.
Sela masuk ke dalam mobilnya. Ia melihat pantulan dirinya di spion. Wajahnya yang tegang perlahan mulai rileks. Ia menghidupkan mesin mobil, lalu melaju mengikuti motor Tio dan Rina yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Jalanan Jakarta sore itu cukup padat, namun Sela tidak peduli. Ia mengendarai mobilnya dengan santai, tidak seperti saat ia sedang dilanda amarah. Pikirannya melayang pada Arga. Lelaki itu, dengan segala aura dingin dan wajah datarnya, berhasil mengusik ketenangan yang jarang sekali Sela miliki. Ia merasa seolah-olah ia baru saja bertemu dengan lawan yang sepadan. Bukan dalam balapan, melainkan dalam hal adu kekesalan.
"Gue bakal bikin lo nyesel," gumam Sela. "Gue bakal jadi asisten yang paling ngeselin sedunia."
Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah kafe bergaya industrial yang terletak di pinggir jalan. Kafe itu bernama "Loka Kopi," tempat nongkrong favorit mereka. Sela memarkirkan mobilnya di samping motor Rina dan Tio. Begitu turun, aroma kopi yang kuat langsung menyambutnya.
Di salah satu sudut kafe, seorang laki-laki berambut keriting dengan senyum lebar melambaikan tangan ke arah Sela. Laki-laki itu adalah Bara, pacar Sela. Sela membalas lambaian tangan Bara dengan senyum, lalu ia berjalan menghampirinya.
"Sayang," sapa Bara, suaranya hangat. Ia berdiri, lalu mencium pipi Sela dan menatapnya dengan penuh cinta. "Kok baru datang? Aku udah nungguin dari tadi."
Sela membalas pelukan Bara. "Maaf, aku ada urusan sama dosen. Baru selesai. Tadi Rina sama Tio udah datang duluan, ya?"
"Iya, mereka udah duluan," jawab Bara. "Tapi mereka lagi ke toilet."
Sela mengangguk, lalu ia duduk di kursi kosong di seberang Bara. "Kamu udah pesan?"
"Udah, es kopi susu gula aren," jawab Bara. "Kamu mau pesan apa? Aku pesanin, ya?"
"Nggak usah, aku bisa pesan sendiri. Kamu tunggu aja di sini," Sela menolak dengan lembut. Ia berjalan ke konter pesanan, memesan segelas es kopi susu gula aren, dan kembali ke mejanya.
Bara menatap Sela dengan penuh perhatian. "Kamu kelihatan capek banget. Ada masalah?" tanyanya, suaranya terdengar khawatir.
Sela menghela napas. "Iya. Aku kesel banget sama dosen baru di kampus."
"Kenapa? Dia ngeselin?"
"Banget! Masa, dia maksa aku buat jadi asisten dia. Kalau aku nggak mau, nilaiku bakal dikurangin," cerita Sela, nada suaranya kembali dipenuhi kekesalan.
Bara menatap Sela, lalu ia tertawa kecil. "Ya ampun, kamu ini ada-ada aja. Emang kamu bikin salah apa, sih? Kok dia sampai segitunya sama kamu?"
Sela menghela napas. "Itu, tadi pagi aku nggak sengaja nabrak mobil dia. Ya, lecet dikit doang, sih. Tapi dia maksa minta ganti rugi, terus akhirnya maksa aku jadi asisten dia."
Bara mengangguk mengerti. "Oh, jadi dia dosen yang punya mobil yang kamu tabrak? Ya udah, kalau gitu kamu ikutin aja maunya dia. Kan lumayan, nilaimu aman. Terus, kamu juga dapat pengalaman kerja, kan?"
"Pengalaman kerja apaan? Pengalaman disiksa sama dosen killer, iya!" protes Sela. Ia menatap Bara, berharap Bara akan memihak dirinya. Namun, Bara tidak terlihat marah sama sekali. Ia terlihat santai, seolah masalah ini bukan apa-apa.
"Ya udah, sabar aja, ya. Namanya juga hidup, ada aja cobaan," Bara tersenyum, lalu ia menggenggam tangan Sela. "Aku akan dukung kamu dari jauh."
Sela mendengus. "Dukung dari jauh? Aku butuh kamu di samping aku, Bara. Aku butuh kamu buat marah-marah sama aku, bukan cuma senyum kayak gini."
Bara tersenyum lembut. "Sayang, aku tahu kamu lagi kesel. Tapi, marah-marah nggak akan nyelesain masalah. Kita hadapi aja bareng-bareng, ya?"
Sela menatap Bara, dan ia merasa hatinya sedikit tenang. Bara adalah Bara, laki-laki yang selalu sabar menghadapi dirinya. Sela dan Bara sudah berpacaran selama tiga tahun. Bara adalah pria yang baik, sopan, dan pintar. Ia tahu Sela adalah gadis yang "bar-bar," tetapi ia tidak pernah mencoba mengubahnya. Ia menerima Sela apa adanya. Namun, di balik semua kebaikan itu, Sela juga merasa Bara terlalu... terlalu baik. Ia merasa Bara terlalu tenang, terlalu santai. Terkadang, Sela merindukan Bara yang bisa marah-marah padanya, seperti Danu dulu, atau bahkan seperti Arga.
Tidak lama kemudian, Rina dan Tio kembali. Mereka duduk di kursi yang kosong. "Gimana, Sel? Udah cerita sama Bara?" tanya Rina.
Sela mengangguk. "Udah. Dia malah nyuruh gue sabar."
"Ya, kan emang harus sabar," Bara menyela, lalu ia mencium bibir Sela di hadapan Rina dan Tio. Sebuah kebiasaan yang sudah sangat biasa bagi mereka.
"Ih, mesra banget, deh," Rina meledek.
"Maklum, ya. Namanya juga pacaran," Bara tersenyum, lalu ia kembali menatap Sela. "Udah, jangan dipikirin lagi. Nanti kita nongkrong sampai malam. Aku traktir, deh. Gimana?"
Mendengar Bara akan mentraktir, Sela tersenyum. "Beneran?"
"Iya, beneran. Aku traktir semua yang ada di sini," Bara tertawa. "Tapi, kamu harus janji. Jangan marah-marah lagi."
Sela tertawa. "Oke, janji."
Di tengah tawa dan canda mereka, Sela tidak tahu bahwa ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi email masuk. Email dari Arga, dosen barunya. Sela tidak peduli. Ia hanya ingin menikmati malam ini, melupakan sejenak masalahnya dengan Arga, dan menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Ia tidak tahu, bahwa di dalam email itu, Arga sudah menunggu untuk kembali mengusik ketenangan hidupnya. Ia tidak tahu, bahwa ia akan segera kembali menghadapi iblis dengan wajah datar itu.
Malam semakin larut di kafe Loka Kopi. Canda dan tawa Sela bersama Bara, Tio, dan Rina masih terus berlanjut. Mereka larut dalam obrolan, melupakan sejenak segala masalah yang ada. Namun, di tengah keasyikan itu, ponsel Sela yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar, layarnya menyala menampilkan nama "Papah" dengan foto profil ayahnya yang tengah tersenyum. Senyum itu terasa begitu jauh dari suasana hati ayahnya saat ini.
Sela merasakan getaran di dadanya, sebuah perasaan tidak nyaman yang familier. Ia tahu, panggilan di jam segini pasti bukan kabar baik. Sela menatap layar ponselnya, ragu untuk mengangkatnya.
"Kenapa, Sel? Dari bokap lo?" tanya Tio, menyadari perubahan ekspresi Sela.
Sela mengangguk, lalu ia berbisik, "Pasti mau marah-marah."
"Angkat aja, Sel. Nanti makin marah kalau nggak diangkat," saran Bara dengan lembut.
Sela akhirnya menghela napas, lalu ia menggeser tombol hijau. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, dan suara bariton ayahnya yang penuh amarah langsung menyerbu gendang telinganya.
"Sela! Kamu di mana?! Ini jam berapa?! Papah telepon kenapa nggak diangkat?!" Suara ayahnya terdengar bergetar, bukan karena cemas, melainkan karena marah.
"Halo, Pah. Ini Sela. Sela lagi di kafe sama temen-temen. Tadi Sela nggak denger teleponnya," jawab Sela, mencoba menenangkan.
"Di kafe?! Sampai malam begini?! Kamu ini kenapa, Sela?! Sudah Papah bilang jangan keluyuran terus! Pulang sekarang juga!" Ayahnya membentak.
Sela merasa malu. Suara ayahnya yang keras itu terdengar oleh teman-temannya. Ia menunduk, lalu berbisik, "Iya, Pah. Sela pulang sekarang."
"Awas kalau kamu telat pulang! Papah sudah di rumah, Papah mau bicara sama kamu!" ayahnya mengancam, lalu sambungan telepon terputus.
Sela meletakkan ponselnya di atas meja, ekspresinya kembali masam. Bara menatapnya dengan prihatin. "Sayang, kenapa?"
"Aku disuruh pulang. Bokapku marah-marah," jawab Sela.
"Ya udah, pulang aja. Biar aku antar ya," tawar Bara.
"Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri," tolak Sela.
"Beneran? Aku bisa temenin kamu sampai rumah," Bara masih mencoba.
Sela menggeleng. "Nggak usah, Bara. Aku nggak mau kamu lihat bokapku lagi marah-marah. Nanti kamu kaget. Lagian, aku juga udah bawa mobil."
Bara mengangguk mengerti. Ia berdiri, lalu ia mencium kening Sela, turun ke pipi, dan berakhir di bibir. Sebuah ciuman singkat yang penuh kasih sayang. "Hati-hati, ya. Nanti kabarin kalau udah sampai rumah."
Sela mengangguk, lalu ia berpamitan dengan Rina dan Tio. "Gue balik duluan ya. Nanti kita sambung lagi," kata Sela, mencoba tersenyum.
"Hati-hati, Sel. Semoga bokap lo nggak marah-marah lagi," kata Tio.
"Ya, aminin aja," jawab Sela, lalu ia berjalan menuju mobilnya.
Jalanan malam Jakarta terasa sunyi, membuat Sela bisa memacu mobilnya dengan cepat. Pikirannya melayang pada ayahnya. Sela tahu, ayahnya adalah orang yang sangat disiplin dan protektif. Sejak ibunya meninggal dua tahun lalu, ayahnya menjadi lebih keras dan lebih sering marah-marah. Sela mengerti, ayahnya hanya khawatir. Namun, cara ayahnya menunjukkan kekhawatirannya itu selalu saja membuat Sela merasa terkekang.
Tidak lama kemudian, Sela sampai di rumahnya. Sebuah rumah bergaya modern minimalis yang asri. Sela memarkirkan mobilnya di garasi. Saat ia membuka pintu, ayahnya sudah berdiri di ruang tamu, dengan tangan bersedekap dan ekspresi yang dingin. Matanya menatap Sela dengan tajam, seolah-olah Sela adalah seorang kriminal.
"Dari mana saja kamu?" tanya ayahnya, suaranya terdengar berat.
"Dari kafe, Pah," jawab Sela pelan.
"Kafe? Sampai jam segini? Kamu ini tidak punya jam malam? Papah sudah bilang, kan, kamu harus pulang sebelum jam 10 malam," Ayahnya menekan setiap kata.
"Papah kan juga keluar malam," Sela mencoba berargumen.
"Papah keluar untuk urusan pekerjaan, Sela! Bukan untuk keluyuran tidak jelas! Kamu ini anak perempuan, harusnya kamu tahu diri! Jangan bikin Papah malu!" Ayahnya meninggikan suaranya.
"Papah nggak malu kok, kan Papah yang punya anak kayak aku," Sela menjawab, nadanya mulai terdengar kesal.
"Sela! Papah tidak sedang bercanda!"
"Sela juga nggak bercanda, Pah! Papah selalu begini! Papah selalu marah-marah setiap kali Sela main sama temen-temen! Papah mau Sela di rumah terus kayak robot?!" Sela tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Papah melakukan ini karena Papah sayang sama kamu! Papah nggak mau kamu kenapa-kenapa! Apa kamu nggak bisa sedikit saja mengerti perasaan Papah?!" Suara ayahnya bergetar.
"Sela juga sayang sama Papah! Tapi Sela juga punya kehidupan sendiri! Sela bukan anak kecil lagi, Pah!" Sela berteriak.
"Baik! Kalau kamu tidak bisa mengerti Papah, Papah juga tidak akan mengerti kamu!" Ayahnya menunjuk mobil Sela yang terparkir di garasi. "Mobil ini, Papah sita! Besok, Papah akan minta sopir untuk mengantar kamu ke mana pun kamu pergi. Papah tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian lagi!"
Mendengar ancaman itu, Sela terkejut. Matanya melotot. "Apa?! Papah mau sita mobil Sela?! Jangan gila, dong, Pah! Sela butuh mobil itu buat ke kampus!"
"Tidak ada penolakan! Ini adalah hukuman kamu! Papah sudah lelah, Sela! Papah sudah lelah setiap hari harus khawatir dengan kamu! Papah nggak mau kamu kenapa-kenapa! Apalagi setelah kejadian balapan liar itu!" Ayahnya membentak, dan ia berjalan ke arah Sela.
Sela mundur selangkah. "Pah, Sela mohon, jangan ambil mobil Sela! Sela janji bakal pulang cepat, Sela janji nggak bakal keluyuran lagi. Tapi jangan ambil mobil Sela!"
"Tidak ada tawar-menawar! Keputusan Papah sudah bulat! Mulai besok, kamu diantar oleh sopir!"
Sela merasa lututnya lemas. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa mobil. Tanpa kebebasan. Ia akan menjadi seperti boneka, diantar ke sana kemari oleh seorang sopir. Sela benci perasaan itu. Ia merasa terkekang.
"Papah tega sama Sela," Sela berbisik, suaranya bergetar.
"Papah tidak tega! Papah melakukan ini untuk kebaikan kamu! Suatu saat nanti, kamu akan mengerti!"
Sela tidak bisa menahan air matanya. Ia berlari ke kamarnya, lalu ia membanting pintu dengan keras. Ia mengunci pintu kamarnya, lalu ia menjatuhkan dirinya di kasur. Air matanya mengalir deras. Ia merasa dunia begitu kejam kepadanya. Ayahnya menyita mobilnya, seperti ia menyita motornya. Ia merasa kebebasannya perlahan dicabut, satu per satu. Ia merasa tidak berdaya.
Di tengah kesedihannya, Sela teringat pada Bara. Ia meraih ponselnya, lalu ia mengetik pesan pada Bara. "Aku di rumah. Tapi aku lagi kesel banget. Aku cuma mau bilang, kalau aku sayang sama kamu."
Sela tidak tahu, bahwa di luar sana, ayahnya masih berdiri di ruang tamu, menatap pintu kamar Sela dengan pandangan sedih. Ayahnya hanya ingin yang terbaik untuk Sela, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Ia tidak tahu, bahwa ia dan Sela berada dalam sebuah lingkaran setan yang tidak akan pernah berakhir. Sela tidak tahu, bahwa kehilangan kebebasan ini akan menjadi awal dari perjalanan baru yang akan membawanya pada takdir yang tidak pernah ia duga. Sebuah takdir yang akan mempertemukannya kembali dengan Arga. Dan kali ini, takdir tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.