Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memantul di lantai marmer hotel bintang lima itu. Almira nyaris berlari menyusuri koridor panjang sambil menggenggam erat ponselnya. Jemarinya bergetar, bukan hanya karena tubuhnya lelah setelah mengajar les privat seharian, tetapi juga karena ada perasaan tak nyaman yang sejak tadi menggelayut di dadanya.
"Nomor kamarnya... 1205," gumamnya lirih sambil melirik catatan kecil yang dikirimkan temannya lewat pesan. Katanya, kamar itu kosong dan bisa dipakai sebentar untuk istirahat sebelum ia kembali ke rumah kos.
Saat pintu terbuka, udara dingin dari pendingin ruangan menyambutnya. Tanpa pikir panjang, Almira masuk, menutup pintu, lalu menurunkan tas ransel dari bahunya. Ia terlalu lelah untuk memeriksa keadaan sekeliling. Yang ia pikirkan hanya rebahan sebentar sebelum perjalanan pulang yang masih panjang.
Namun, begitu ia merebahkan tubuh di atas ranjang king size itu, kelopak matanya berat. Ia memejam, hanya ingin istirahat beberapa menit. Entah berapa lama ia tertidur, tetapi suara pintu terbuka tiba-tiba membuatnya terlonjak.
Seorang pria tinggi dengan jas hitam elegan berdiri di ambang pintu, wajahnya menyiratkan keterkejutan bercampur amarah. Matanya tajam menatap Almira yang masih kebingungan.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" suaranya rendah, namun cukup menusuk.
Almira terperanjat. "Kamar... kamar ini? Aku... aku pikir-"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, langkah kaki lain terdengar. Seorang wanita paruh baya dengan penampilan mewah masuk, diikuti oleh seorang perempuan tua dengan tongkat berlapis ukiran perak. Mata mereka membelalak melihat pemandangan itu: seorang pria dewasa dan seorang perempuan muda di satu kamar, di atas ranjang yang sama.
"Adrian Elvano! Apa yang terjadi di sini?!" suara wanita paruh baya itu-Mami Adrian-meledak.
"Apa yang kalian pikirkan?!" Nenek Adrian ikut bersuara, suaranya tajam meski bergetar.
Adrian mencoba menjelaskan, "Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Dia-"
Namun, Mami-nya memotong dengan nada tegas. "Tidak ada alasan yang bisa membenarkan ini. Kita harus menjaga nama baik keluarga. Kalian akan menikah."
"Apa?!" Adrian dan Almira bersuara hampir bersamaan.
"Aku tidak akan menikah!" Adrian menatap mereka dengan ekspresi marah. "Ini salah paham!"
Nenek menghela napas panjang, tatapannya penuh wibawa. "Kau pikir publik akan peduli itu salah paham? Foto kalian sudah beredar. Ada yang memotret kalian dari luar pintu. Besok pagi, semua orang akan tahu. Satu-satunya cara memperbaikinya adalah pernikahan."
Almira menelan ludah. Kepalanya pening mendengar kata-kata itu. Foto? Pernikahan? Ia bahkan baru tahu pria ini bernama Adrian, dan tahu-tahu... mereka akan dipaksa menikah?
Tiga minggu kemudian, pernikahan itu benar-benar terjadi.
Gaun putih yang dikenakan Almira terasa seperti pakaian pinjaman yang terlalu berat. Senyumnya dipaksakan, langkahnya kaku. Di sampingnya, Adrian berdiri tegap dalam setelan jas hitam, namun wajahnya sedingin marmer. Tatapan matanya kosong, seolah pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas yang tak ada artinya.
Saat penghulu mengucapkan ijab kabul, suara Adrian terdengar datar. Tidak ada getaran emosional, tidak ada senyum sekilas pun. Sementara itu, tangan Almira dingin, jantungnya berdegup tak karuan.
Sesudah acara, mereka tidak berbicara banyak. Bahkan ketika masuk ke mobil yang akan membawa mereka pulang ke rumah Adrian, keheningan menggantung seperti kabut tebal.
Rumah Adrian Elvano berdiri megah di atas tanah yang luas. Dindingnya menjulang, dengan pilar-pilar besar yang mengesankan kemewahan klasik. Tapi begitu Almira melangkah masuk, ia tak merasakan kehangatan rumah-hanya dingin yang menusuk, sama seperti tatapan pemiliknya.
Keesokan paginya, Almira bangun lebih awal. Ia mencoba menata meja makan, berpikir mungkin itu bisa sedikit mencairkan suasana. Namun saat Adrian turun, ia hanya melirik sekilas, lalu duduk tanpa berkata sepatah kata pun.
"Selamat pagi," sapa Almira hati-hati.
Adrian hanya mengangguk tipis.
Tak tahan dengan kebekuan itu, Almira mencoba bicara lagi. "Aku... tahu ini bukan yang kau inginkan. Aku juga tidak menginginkan ini. Tapi... kita terpaksa, jadi mungkin-"
"Aku tidak ingin membicarakan ini," potong Adrian dingin. "Kau hanya guru les anakku yang kebetulan tinggal di sini. Jangan menganggap kita suami istri."
Kata-kata itu menusuk seperti belati. Almira menunduk, berusaha menelan rasa perih yang membakar tenggorokannya.
Hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda. Adrian pulang larut malam, jarang makan bersama. Bahkan saat mereka berada di satu ruangan, ia seperti berbicara pada udara kosong.
Suatu sore, Almira duduk di teras belakang sambil mengoreksi buku latihan milik Keira, putri Adrian yang berusia tujuh tahun. Gadis kecil itu manis, tapi cenderung pendiam seperti ayahnya.
"Tante Almira," suara Keira pelan, "Papa tidak marah sama Tante, kan?"
Almira tertegun, lalu tersenyum tipis. "Tidak, sayang. Papa hanya sibuk."
Tapi di dalam hatinya, ia tahu jawabannya tak sesederhana itu. Adrian tidak hanya sibuk-dia menutup dirinya rapat-rapat.
Malam itu, saat Almira kembali ke kamarnya, ia menemukan sebuah email masuk dari universitas luar negeri yang menawarkan program pertukaran pelajar. Tawaran itu seperti cahaya kecil di tengah gelap yang melingkupinya. Pergi... meninggalkan rumah ini... meninggalkan Adrian.
Namun, pikirannya bercabang. Bagaimana dengan Keira? Anak itu mulai terbiasa dengannya. Bagaimana pula dengan omongan orang jika ia pergi?
Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya berputar. Hatinya seperti berada di persimpangan. Pergi, atau bertahan di rumah yang tak pernah menerimanya.
Dan di luar pintu kamarnya, Adrian berdiri sejenak, menatap pintu itu dengan rahang mengeras. Ada sesuatu di matanya-entah kebencian, entah luka lama-sebelum ia berbalik dan pergi tanpa mengetuk.
Hujan deras mengguyur halaman rumah Adrian Elvano malam itu. Air jatuh membentuk tirai tipis di luar jendela, dan suara gemericiknya menjadi latar bagi kesunyian yang membungkus ruang makan.
Almira duduk di kursi ujung meja panjang itu, menunggu. Di hadapannya, dua piring makan sudah tersaji-satu untuknya, satu untuk Adrian. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Dia sudah terbiasa menunggu, tapi tetap saja, ada rasa getir setiap kali waktu berlalu tanpa tanda-tanda pria itu akan pulang.
Langkah kaki pelan terdengar dari arah tangga. Bukan Adrian. Keira muncul dengan piyama bergambar bintang-bintang, rambutnya tergerai.
"Tante belum makan?" tanya Keira sambil mengusap matanya.
Almira tersenyum tipis. "Tante mau makan bareng Papa kamu. Tapi sepertinya Papa masih di kantor."
Keira mengangguk, lalu duduk di kursi sampingnya. "Papa selalu pulang malam. Dulu Mama juga suka nungguin, tapi..." suara Keira melemah.
Almira mengelus rambut Keira dengan lembut. Ia tak ingin menggali luka anak itu lebih dalam. "Kalau begitu, malam ini kita makan berdua saja, ya."
Sekitar satu jam kemudian, pintu utama berderit terbuka. Adrian masuk, basah kuyup. Jaket hitamnya meneteskan air ke lantai marmer, rambutnya berantakan.
"Kau basah sekali," ujar Almira refleks. "Aku ambilkan handuk."
"Tidak usah." Adrian melewati meja makan tanpa menoleh. "Aku sudah makan di luar."
Almira mematung. Piring yang ia siapkan tetap utuh di meja.
Ia tak tahu kenapa, tapi ucapan singkat itu menyisakan rasa ditolak yang lebih tajam daripada biasanya.
Beberapa hari berikutnya, Almira mulai memahami pola hidup Adrian. Pria itu berangkat pagi-pagi sekali, jarang sarapan di rumah, dan pulang larut malam. Bahkan di akhir pekan, ia sering mengurung diri di ruang kerja atau pergi tanpa penjelasan.
Jika pun mereka bertemu di lorong atau ruang makan, interaksi mereka tak pernah lebih dari salam singkat atau pertukaran kata-kata seperlunya.
Almira mencoba memaklumi. Ia tahu Adrian punya alasan. Ada masa lalu yang membentuk dinding tebal di sekelilingnya.
Suatu sore, ketika Almira sedang menyiapkan camilan untuk Keira di dapur, ia mendengar suara Mami Adrian dari ruang tamu.
"Bagaimanapun, kalian sudah menikah, Adrian," suara itu terdengar tegas. "Kau tak bisa terus memperlakukannya seperti orang asing."
"Aku tidak meminta pernikahan ini terjadi," balas Adrian, suaranya rendah namun sarat tekanan. "Kau dan Nenek yang memaksanya."
"Kalau begitu, setidaknya hargai posisinya di rumah ini."
Almira menahan napas di balik pintu dapur. Ia tahu mendengar percakapan ini tanpa izin salah, tapi setiap kata yang keluar dari mulut Adrian terasa seperti cambuk yang mengenai punggungnya sendiri.
"Aku tidak bisa," jawab Adrian singkat. "Aku sudah cukup terluka sekali. Tidak akan ada perempuan lain yang kuizinkan masuk dalam hidupku."
Kata-kata itu diucapkan dengan nada final, seperti vonis.
Malamnya, Almira duduk di kamarnya sambil menatap layar laptop. Email tawaran pertukaran pelajar dari universitas luar negeri masih terbuka. Jari-jarinya melayang di atas keyboard, siap menekan tombol "Reply".
Tapi wajah Keira terlintas di pikirannya. Gadis kecil itu mulai terbuka padanya, meski perlahan. Ia ingat senyum malu-malu Keira saat Almira mengajari cara membuat origami, atau saat mereka memanggang kue bersama di dapur.
Jika ia pergi, siapa yang akan mengisi ruang kosong itu?
Hari Sabtu pagi, udara cerah. Keira memaksa Adrian untuk ikut sarapan bersama mereka di teras belakang. Entah karena lelah membantah atau karena tak ingin membuat anaknya kecewa, Adrian duduk di meja bundar bersama mereka.
"Papa, coba deh roti buatan Tante Almira," pinta Keira sambil menyodorkan piring.
Adrian melirik roti itu sekilas, lalu mengambilnya tanpa komentar. Ia menggigit sedikit, lalu meletakkannya kembali.
"Enak?" tanya Keira antusias.
"Hm," jawab Adrian singkat.
Bagi Keira, jawaban itu cukup. Ia tersenyum lebar. Tapi bagi Almira, jawaban itu hanya menguatkan bahwa ia tetap tak berarti di mata pria itu.
Siang harinya, Almira memutuskan pergi ke perpustakaan kota untuk mencari bahan ajar baru. Saat ia berjalan menuju gerbang rumah, ia melihat Adrian di halaman, berbicara dengan seorang wanita cantik berambut cokelat bergelombang.
Wanita itu tertawa kecil, lalu menepuk lengan Adrian dengan akrab. Almira tak sengaja memperlambat langkahnya. Ada sesuatu di cara wanita itu menatap Adrian-campuran rindu dan kepemilikan.
Mereka berdua akhirnya menyadari kehadirannya. Wanita itu menatap Almira dari ujung kepala hingga kaki, lalu tersenyum tipis. "Oh, jadi ini istrimu sekarang?"
Nada suaranya terdengar manis, tapi matanya mengandung penilaian yang tajam.
Adrian tidak langsung menjawab. Hanya ada jeda singkat sebelum ia berkata, "Ya." Satu kata, tanpa ekspresi, seolah hanya formalitas.
Wanita itu mengangguk kecil, lalu pamit dengan tatapan yang masih menusuk ke arah Almira.
Begitu wanita itu pergi, Adrian berjalan melewati Almira tanpa memberi penjelasan apa pun.
Malam itu, di kamarnya, Almira memikirkan tatapan wanita tadi. Ada sesuatu di sana-semacam kepastian bahwa hubungan Adrian dengan perempuan itu belum benar-benar berakhir.
Untuk pertama kalinya, Almira bertanya-tanya, apakah keputusan untuk tetap tinggal di rumah ini adalah kesalahan besar.
Keesokan harinya, ia menemukan Keira duduk sendirian di taman belakang, menatap buku gambar yang belum selesai diwarnai.
"Kenapa murung?" tanya Almira sambil duduk di sampingnya.
"Papa marah sama Tante kemarin?" tanya Keira tiba-tiba.
Almira tersenyum hambar. "Tidak, sayang."
"Tapi Papa bilang ke Mama dulu kalau... dia tidak akan menikah lagi." Keira menunduk. "Mungkin itu sebabnya Papa jarang bicara sama Tante."
Hati Almira seperti diremas. Kata-kata polos itu menyakitkan, karena berasal dari mulut anak kecil yang bahkan belum mengerti sepenuhnya situasinya.
Malamnya, hujan kembali turun. Adrian pulang lebih awal, sesuatu yang jarang terjadi. Almira memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang kerjanya.
Saat pintu dibuka, ia melihat Adrian duduk di belakang meja, menatap layar laptop dengan wajah tegang.
"Ada apa?" suaranya datar.
"Aku... hanya ingin bilang kalau aku tidak ingin membuat hidupmu semakin sulit. Kalau memang kehadiranku-"
"Berhenti," potong Adrian. Tatapannya menusuk. "Jangan mengasihani dirimu sendiri. Kau memilih untuk tinggal di sini."
"Aku tidak memilih," balas Almira lirih. "Kita berdua sama-sama dipaksa."
Adrian terdiam sejenak. Ada kilatan emosi di matanya-marah, sedih, dan sesuatu yang lebih dalam-sebelum ia mengalihkan pandangannya. "Pergilah sebelum aku mengatakan hal yang akan kau sesali."
Almira menelan ludah, lalu berbalik.
Di balik pintu yang tertutup kembali, Adrian memejamkan mata. Bayangan wajah seorang wanita lain-mantan istrinya-muncul di pikirannya. Suara tawa, janji manis, dan akhirnya pengkhianatan. Luka itu belum sembuh. Dan ia tidak ingin terluka lagi.
Pagi itu, udara di halaman belakang terasa segar setelah hujan semalaman. Aroma tanah basah masih tertinggal di udara, bercampur dengan harum dedaunan yang disapu embun. Almira berdiri di dekat pagar taman, memperhatikan Keira yang sedang menata pot bunga kecil di meja.
"Jangan lupa siram sedikit saja, jangan kebanyakan," pesan Almira sambil tersenyum.
Keira mengangguk serius, tangannya memegang gembor kecil berwarna merah muda. "Aku mau tanam bunga ini supaya nanti Tante bisa lihat mekar."
Ucapan sederhana itu membuat dada Almira hangat. Keira benar-benar polos, tidak tahu bahwa rumah ini sebenarnya tidak pernah benar-benar menganggap Almira bagian dari isinya.
Sekitar pukul sepuluh pagi, bel rumah berbunyi. Almira yang sedang merapikan ruang tamu melangkah ke pintu. Seorang pria berpakaian rapi, membawa map hitam, berdiri di depan.
"Selamat pagi. Saya dari pihak sekolah Keira," ucapnya sopan. "Saya ingin bicara dengan orang tua murid terkait lomba seni yang akan diadakan bulan depan."
Almira mempersilakan pria itu masuk. Saat ia hendak memanggil Adrian, suara langkah tegas terdengar dari arah tangga. Adrian muncul, mengenakan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Wajahnya tampak serius seperti biasa.
"Pak Adrian," sapa guru itu sambil berdiri, "kami ingin Keira ikut mewakili sekolah dalam lomba menggambar. Tapi lomba ini memerlukan pendamping selama persiapan dan hari-H."
Adrian menatap sekilas ke arah Almira, lalu kembali ke guru itu. "Saya sibuk. Mungkin Mami bisa-"
"Tante Mami sedang di luar kota, Pa," sela Keira yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. "Boleh nggak Tante Almira yang temenin?"
Adrian terdiam. Tatapannya beralih ke Almira, dingin namun ada sedikit keraguan.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi pastikan semua sesuai jadwal. Jangan sampai mengganggu les atau sekolah."
Keira langsung bersorak kecil. "Yeay! Tante, kita latihan bareng!"
Beberapa hari kemudian, Almira dan Keira mulai latihan menggambar di ruang tamu. Keira memilih tema bunga dan kupu-kupu, sementara Almira duduk di sampingnya, membantu memberi warna.
Sesekali Adrian melewati ruangan itu. Matanya sekilas memperhatikan mereka, tapi ia tidak mengucapkan apa pun. Namun, Almira bisa merasakan tatapan itu, meski hanya sepersekian detik.
Suatu sore, saat latihan selesai, Keira meminta mereka bertiga makan malam di luar. "Sekali aja, Pa. Kita jarang makan bertiga," pintanya dengan nada memohon.
Adrian menatap putrinya lama, lalu menghela napas. "Baiklah."
Restoran yang mereka datangi berada di pusat kota, dengan suasana hangat dan penerangan redup. Almira duduk di sebelah Keira, sementara Adrian di seberang.
Ketika pelayan datang membawa menu, Keira sibuk menunjuk berbagai hidangan yang ingin dicoba. Adrian hanya mengangguk, membiarkan anaknya memilih.
"Papa nggak mau pesan sendiri?" tanya Keira polos.
"Apa saja yang kamu pilih, Papa ikut," jawabnya singkat.
Almira memperhatikan interaksi itu. Di balik sikap dinginnya, Adrian ternyata selalu menuruti keinginan Keira, setidaknya yang tidak berlebihan. Ada kelembutan tersembunyi di sana, meski tidak pernah diarahkan padanya.
Makan malam berlangsung relatif tenang. Sesekali Keira bercerita tentang latihan menggambar di sekolah, dan Adrian menanggapi dengan anggukan atau komentar singkat. Almira lebih banyak mendengarkan, sesekali ikut menimpali.
Namun, di tengah makan, seorang pria setengah baya mendekat ke meja mereka. "Adrian Elvano? Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu!" serunya sambil menepuk bahu Adrian.
Adrian berdiri untuk berjabat tangan. "Pak Herman. Ya, sudah lama sekali."
Pria itu lalu menoleh ke arah Almira dan Keira. "Dan ini... istri barumu?"
Almira kaget. Ia menatap Adrian, berharap ada jawaban yang tidak membuat situasi canggung.
Adrian mengangguk singkat. "Ya."
Jawaban itu terdengar datar, tapi tetap saja membuat Almira merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Setelah makan malam, mereka pulang. Di perjalanan, Keira tertidur di kursi belakang. Adrian fokus menyetir, sementara Almira diam, memandang lampu-lampu jalan yang melintas.
"Tadi di restoran..." suara Almira pelan, "kau tidak perlu bilang begitu kalau memang tidak mau."
Adrian tetap menatap jalan. "Itu lebih mudah daripada menjelaskan kenyataan pada orang yang tidak perlu tahu."
Almira terdiam. Entah kenapa, meski alasannya logis, ucapannya tetap membuat hatinya berat.
Hari lomba akhirnya tiba. Sekolah Keira dipenuhi anak-anak dengan kostum dan perlengkapan menggambar. Almira mendampingi Keira menyiapkan peralatan, memastikan semua sesuai.
Di tengah keramaian, suara berat yang familiar terdengar di belakang. "Kau lupa membawa botol minumnya."
Almira menoleh. Adrian berdiri di sana, membawa tas kecil berisi bekal dan minum untuk Keira.
"Kau datang?" tanya Almira, setengah terkejut.
"Ini penting untuk Keira," jawab Adrian singkat.
Keira berlari memeluk ayahnya. "Pa, lihat gambarku nanti, ya!"
Hari itu, Adrian benar-benar tinggal sampai lomba selesai. Ia berdiri agak jauh, tapi matanya selalu mengikuti Keira. Sesekali tatapan itu beralih ke Almira, meski hanya sekilas.
Ketika Keira diumumkan sebagai juara dua, Adrian tersenyum tipis-senyum pertama yang Almira lihat sejak mereka menikah.
Di perjalanan pulang, Keira sibuk memeluk pialanya. "Kita harus rayakan, Pa!"
Adrian menoleh sebentar. "Baik. Kita makan malam di rumah, aku akan minta koki menyiapkan sesuatu."
Almira yang duduk di samping Keira hanya diam. Ada sesuatu yang berubah hari ini, walau kecil. Mungkin bukan kehangatan penuh, tapi setidaknya, ada retakan kecil di dinding dingin yang mengurung Adrian.
Malam itu, setelah Keira tidur, Almira berjalan ke dapur untuk mengambil air. Ia mendapati Adrian berdiri di sana, menuang kopi.
"Tadi... terima kasih sudah datang," ucap Almira pelan.
Adrian menatapnya sejenak, lalu berkata, "Jangan salah sangka. Aku melakukannya untuk Keira, bukan untukmu."
Almira mengangguk. "Aku tahu. Tapi tetap saja, itu berarti sesuatu untuknya. Dan... untukku juga."
Adrian tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, tapi Almira melihat ada sesuatu di matanya-sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Beberapa hari kemudian, saat Almira sedang membaca di ruang tamu, telepon rumah berdering. Ia mengangkatnya, dan suara di ujung sana membuatnya menegang.
"Almira? Ini... Rena." Suara wanita itu, yang pernah ia lihat di halaman rumah Adrian, terdengar manis namun dingin. "Kita perlu bicara. Tentang Adrian."