Bab 1

“Saya terima nikah dan kawinnya Katarina Gayatri binti almarhum Abiraya dengan mas kawin tersebut, tunai.” Tanpa gugup dan gusar Rafka mengucapkan kobul dengan lantang.

“Bagaimana para saksi?” tanya penghulu dengan lantang.

“Sah!” seruan beberapa saksi membuat suasana ruang inap VIP rumah sakit Bayangkara ramai dengan tangis haru.

‘Tidak kusangka Mas Rafka begitu tampan. Selama ini, aku hanya melihat wajahnya dari foto yang diberikan Kakek,’ batin Katarina. Ia sesekali melirik Rafka dari ujung mata kanannya.

Saat kata sah sudah terucap dengan lantang, penghulu langsung merapal doa untuk keduanya. Suasana berubah tegang saat keadaan Rio mulai mengkhawatirkan. Napasnya mulai tersenggal tangan yang mulai dingin. Membuat Katarina ingin segera berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter. Namun, tangan Rio selalu menahan dengan sekuat tenaga.

Tatapan sayu dari Rio membuat Katarina tidak berkutik. Tubuh laki-laki paruh baya itu semakin dingin. Kini Katarina dan Rafka duduk di samping brankar, tangan keduanya disatukan oleh Rio.

“Kata, Rafka, terima kasih sudah memenuhi permintaan Kakek. Semoga pernikahanmu dengan Rafka menjadi sakinah mawadah wa-roh-mah. Kakek titip Kata padamu, Raf. Ja-ga dia baik-ba…. ” belum sempat Kakek Rio melanjutkan ucapannya, matanya mulai tertutup rapat bersamaan dengan napas yang berhembus tidak tersisa.

“Ka-kakek!” teriak Katarina dengan tangis histeris.

Dengan segera Rafka menarik tubuh Katarina untuk keluar ruangan saat Dokter Ardi sudah datang.

Tidak butuh waktu lama, pintu ruang inap VIP kembali terbuka. Wajah Dokter Ardi yang tersirat tidak mampu mengatakan apapun pagi itu. Ia menghela napas panjang sebelum mengucap satu kalimat.

“Mohon maaf, Kakek Rio sudah tidak bisa diselamatkan. Kami sudah berusaha, namun Tuhan sudah berkehendak berbeda,” tuturnya dengan suara pelan.

Air mata yang sedari tadi ia tahan kini luruh pecah di pipi Katarina, dalam genggaman tangannya ia merasakan Rio menghembuskan napas terakhirnya. Kenyataan pahit yang harus ia terima, entah selamat menempuh hidup baru atau selamat tinggal yang harus ia terima. Bahagia atau sedih yang harus ia rasakan.

Perlahan suster membawa brankar dengan tubuh Rio yang tertutup kain putih, air matanya terasa kering setelah menangis tersedu-sedu. Tangan Rafka yang perlahan membuka kain putih yang menutup tubuh Rio, senyum yang terulas di tubuh yang tidak lagi bernapas itu.

“Kakek, maafkan Katarina yang belum bisa membahagiakan dirimu, selamat jalan pahlawanku. Terima kasih banyak,” bisik Katarian ditelinga Rio, hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutnya.

“Sudah, biarkan kakek tenang di alam barunya. Jangan ditangisin seperti itu!” hardik Rafka dingin.

“Kamu …. ” ucapan Katarina terhenti saat seorang laki-laki paruh baya mulai mendekatinya dengan tatapan nyalang.

“Semua ini gara-gara kamu! Kakek Rio meninggal juga gara-gara mikirin kamu, sialnya kamu cucu pungut kesayangan kakek,” bisik Pramana lelaki paruh baya itu.

“Kenapa ayah mengatakan itu? Jelas-jelas Kakek meninggal karena sakit keras yang diidapnya. Jika kakek meninggal itu diluar kendaliku, Ayah!” tukas Katarina pelan.

“Hahaha, anak pungut saja belagu. Setelah ini jangan harap hidup kamu akan selalu bahagia, kamu kira aku mau punya menantu anak pungut sepertimu? Cuih,” bisik Pramana dengan ketusnya.

“Satu lagi, jangan berharap banyak dengan pernikahan ini, tidak ada jaminan bahagia untukmu setelah kakek Rio tidak ada!” lagi bisikan Pramana membuat telinga Katarina panas dan merasakan sakit.

“Ucapan seorang ayah mertua yang tidak setuju dengan pernikahan anaknya menyakitkan sekali, ya,” gumam Katarina dalam hati.

***

Suara sirine mulai terdengar sangat keras, perjalanan menuju rumah Rio cukup membuat Katarina menahan diri untuk menangis. Sepanjang perjalanan menuju rumah Rio, Katarina hanya duduk diam bersebelahan dengan Rafka.

“Mas, kamu ingat bagaimana kakek meminta kita menikah?” tanya Katarina memecah suasana.

“Huh, aku tidak percaya kalau kakek akan menjodohkan aku denganmu. Selama ini aku tidak mengenalmu secara langsung, kakek sering bercerita tentangmu, Katarina.” Dengan aksen dinginnya Rafka membuat Katarina bungkam.

Sejenak Katarina teringat kejadian beberapa hari yang lalu, disaat ia dan Rafka duduk di sebelah brankar Rio. Lelaki paruh baya itu dengan terang-terangan meminta Rafka untuk menikahi Katarina.

“Kakek lucu ya, Mas,” ungkap Katarina dengan mengulas senyum secara terpaksa.

“Kakek Rio memang selalu begitu, Katarina,” sergah Rafka tegas.

“Bagaimana dengan warisan Kakek Rio, Mas? Apakah kita bisa menjalani pernikahan ini dengan benar. Jujur aku tidak pernah siap dengan pernikahan ini,” pelan suara Katarina mengucapkan kejujuran dalam hatinya.

“Kata! Yang aku tahu saat Kakek Rio menitipkan warisan ini untuk kita berdua dengan syarat harus menikah. Semua peraturan yang harus ditepati ada diamplop coklat ini, surat-surat yang berhubungan dengan pernikahan juga ada di sini. Kita hanya dituntut untuk menjawab iya atau tidak, dan saat itu kakek tidak menerima penolakan sama sekali!” jelas Rafka dengan wajah datar seperti tidak terbebani.

“Sebenarnya, saat itu kamu bisa mengatakan tidak, Mas. Akan tetapi, itu tidak mungkin kita lakukan,” kelit Katarina pelan.

“Apa kamu lupa saat aku mengatakan ke Kakek untuk tidak bercanda tentang menikah dihari besoknya?” hardik Rafka dengan tegas.

Katarina sekolah dibungkam dengan pertanyaan Rafka, ia teringat saat Rio dengan jelas mengatakan itu bukan bercandaan semata. Rio hanya ingin Katarina menikah dengan laki-laki pilihannya, dan lelaki itu adalah Rafka cucu yang paling ia percaya.

“Mas, kenapa saat itu Kakek putus asa dengan hidupnya? Seharusnya aku meminta kepadanya untuk bertahan dan melawan penyakitnya!” Isak tangis mulai terdengar dari Katarina. Tubuhnya bergetar hebat saat wanita itu menangis dalam diam.

“Kakek sudah tidak ingin melawan penyakitnya, Katarina. Maka dari itu, Kakek ingin melihat kamu menikah, ia ingin kamu ada yang menjaga. Kakek tidak ingin kamu kenapa-kenapa, singkatnya begitu. Aku tidak berharap banyak dari pernikahan ini, karena yang aku yakini saat ini hanya menjadi cucu yang berbakti pada Kakek Rio sesuai dengan permintaan terakhirnya,” jelas Rafka tanpa berpikir panjang.

“Mas, seperti itukah niatmu menikahiku? Padahal jika diberi kesempatan aku ingin menjadi istri yang baik untukmu,” batin Katarina menggumam.

“Kenapa diam? Bukankah tujuan pernikahan ini memang semata untuk Kakek?” tanya Rafka dengan menelisik setiap sudut wajah Katarina.

“Iya, tapi apa kamu lupa jika Kakek Rio ingin aku dijaga, berarti kamu harus bisa menjadi suami yang baik, Mas. Bukan semata pernikahan ini sebagai tanda kamu berbakti!” kelit Katarina yang kini menundukkan kepalanya.

“Sudahlah, Katarina. Kita jalani saja bagaimana hubungan ini, seperti pesan Kakek Rio di amplop ini. Diantara kita tidak boleh ada yang berselingkuh, sebenarnya aku tidak menginginkan harta kakek sama sekali. Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur bukan? Menyesali hal ini tidak akan membuat kakek hidup lagi,” ungkap Rafka panjang lebar.

“Jujur aku juga tidak butuh harta itu, Mas. Aku hanya ingin kakek hidup dan sehat kembali, bahkan jika aku harus menjaga Kakek Rio sampai akhir hayatnya akan aku lakukan dengan senang hati” gertak Katarina tanpa basa-basi.

“Diam! Sekarang kamu sudah menjadi istriku, berlakulah dengan semestinya layaknya seorang istri!” gertak Rafka dengan keras.

Tangan kanan lelaki itu meraih pinggang Katarina untuk lebih dekat, perlahan ia mengusap pelan kepala Katarina untuk menenangkan wanita di sampingnya. Pecah tangis Katarina membuat Rafka sangat merasa bersalah.

“Bagaimana hidupku ke depannya dengan lelaki dingin ini?” gumam Katarina bertanya-tanya.

Bab 2

Suasana pemakaman Rio dipenuhi dengan tangis haru, Katarina masih tidak menyangka dengan kenyataan yang ada di hadapannya saat ini. Saat beberapa orang mulai pergi hingga menyisakan Katarina dan Rafka. Terik yang cukup menyengat itu tidak membuat Katarina beranjak dari pusaran makam Rio.

“Ayo pulang, kakek akan sedih kalau kamu seperti ini!” tegas Rafka dengan menarik tangan Katarina.

“Kamu tidak akan tahu yang aku rasakan, Raf!” Kalimat yang terlontar dari mulut Katarina dengan ketus.

“Aku juga kehilangan sama sepertimu, tapi jangan menyiksa dirimu sendiri begini! Kamu kira aku tidak sedih kakekku meninggal? Kamu kira aku diam saja itu tidak punya perasaan?! Aku juga sedih tapi aku tidak lebay seperti kamu,” tutur Rafka panjang lebar.

Untuk pertama kali, Katarina mendengar laki-laki itu mengoceh panjang lebar. Biasanya ia hanya mendengar ucapan singkat dan ketus. Akan tetapi saat ini ia dibuat melongo saat laki-laki di belakangnya mampu mengutarakan apa yang ia rasakan.

“Aku kehilangan bukan lebay seperti yang Mas katakan!” hardik Katarina keras.

“Sudahlah! Memangnya dengan kamu menangis kakek akan hidup lagi? Tidak, ikutlah pulang denganku atau kamu aku tinggal disini saja!” tegas Rafka dengan tatapan lekat pada Katarina.

“Aku mau disini saja,” desis Katarina lirih.

Tanpa basa-basi laki-laki itu berjalan meninggalkan Katarina tanpa kata, hingga Katarian merasa heran dengan laki-laki yang menjadi suaminya itu.

“Mas Rafka!” panggil Katarina keras.

***

Suasana rumah kini terlihat sepi, Katarina kini tinggal serumah dengan Rafka. Dengan satu koper besar yang ia tarik masuk ke dalam rumah, Rafka yang berjalan cepat di depan. Suasana kamar dengan nuansa biru, dengan jendela kaca yang cukup besar menampakkan suasana sekitar rumah.

“Bajumu bisa kamu tata disini.” Rafka menunjuk ke sebuah almari kosong di sebelahnya.

“Mas Raf, aku harus apa?” tanya Katarina gugup.

“Maksudmu?!” Rafka bertanya balik dengan tatapan dinginnya.

Laki-laki itu meninggalkan Katarina sendirian di kamar, Katarina masih diam menatap jendela. Langit sore yang mulai menampakkan warna jingga, ia sudah merindukan kakeknya. Air matanya luruh membasahi pipi, suara langkah kaki membuatnya mengusap perlahan sisa air mata yang membasahi pipinya.

“Kenapa?” tanya Rafka dengan dingin.

Laki-laki itu mulai berjalan mendekati Katarina yang duduk di tepi ranjang, tatapannya lekat menatap manik mata Katarina. Degup jantungnya jauh lebih cepat dari biasanya, tatapan Rafka mampu membuat detak jantungnya tidak beraturan. Tidak ada yang ia bayangkan selain sebuah hubungan antara suami dan istri.

“Tidak, ini tidak mungkin!” pekik Katarina dalam batinnya.

Rafka hanya menatap tanpa memilih mendekat, ia hanya mengambil gelas yang ada di meja dekat Katarina duduk. Ia berlalu begitu saja tanpa kata dan perlakuan baik layaknya suami pada istrinya. Katarina melongo saat mendapati perlakuan Rafka yang seolah tidak menginginkannya.

“Jangan mikir aneh-aneh, aku menikahimu karena terpaksa!” ungkap Rafka tanpa basa-basi.

***

Suasana makan makan malam Keluarga Zavier yang cukup ramai, Pramana dengan tatapan tidak suka pada Katarina membuatnya terintimidasi.

“Oh ini cucu pungut dari Kakek Rio, cantik tapi sayang cucu pungut!” desis Pramana ayah Rafka.

Uhuk, Rafka sempat tersedak makanan yang ia santap, suasana ruang makan menjadi gaduh tidak terkendalikan.

“Ayah, jangan begitu dengan anggota baru! Berlakulah semestinya, bagaimana pun dia dimasalalu dia istriku sekarang!” tegas Rafka pada Pramana dengan suara beratnya.

“Aku memang tidak pantas berada disini, Mas Raf. Aku makan di dapur saja,” keluh Katarina lembut.

“Siapa?” tatapan nyalang Rafka melayang pada Katarina yang beranjak.

Tangan kanannya meraih tangan Katarina untuk tetap duduk dan melanjutkan makannya. Hening yang kini mendominasi ruang makan, Pramana yang kini diam tidak berkutik ataupun menjawab ucapan Rafka anak sulungnya.

“Namamu siapa, Kakak ipar?” tanya Elegi adik Rafka.

“Ka-…,” ucapan Katarina tercekat saat suara berat Rafka menjawab pertanyaan Elegi.

“Katarina Gayatri, panggil saja Kak Kata. Lanjutkan makanmu jangan banyak tanya!” hardik Rafka pada adik bungsunya.

“Hai, Kak Katarina senang sekali akhirnya punya kakak perempuan,” decak bahagia Elegi.

“Diam!” Pramana berteriak seolah tidak menyukai ungkapan senang anak bungsunya.

Suasana makan malam kembali hening, satu hari pernikahannya sudah dihiasi dengan drama di meja makan. Ia tidak begitu mengenal keluarga Pramana, yang ia tahu hanya Pramana adalah anak laki-laki dari Kakek Rio. Sebatas tahu tanpa pernah mencari tahu, bagi Katarina itu tidak begitu penting baginya.

***

Malam itu, tepat satu bulan pernikahannya dengan Rafka, ia hanya duduk di tepi ranjang dengan isi kepala yang semakin bertanya-tanya. Mengapa suaminya begitu aneh? Sebuah keterpaksaan untuk menikah dengan Rafka membuatnya penuh kebingungan.

“Setelah sebulan pernikahanku,dan berarti sebulan juga kakek meninggalkanku dengan pertanyaan, mengapa memintaku menikahi pria es batu yang sangat dingin itu?” gumam Katarina bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

“Kamu ngapain?” tanya Rafka dengan singkat.

“Aku hanya duduk, emm aku tidak menyangka kita sudah satu bulan menikah. Tapi, Mas, mengapa kamu ….” ucapan Katarina terhenti saat Rafka melenggang pergi meninggalkannya di kamar sendiri.

“Pria es batu! Aku ini istrimu, kenapa setiap aku ingin bertanya selalu saja ditinggal semaunya sendiri!” gerutu Katarina dengan penuh kekesalan.

Lelaki itu selalu menghindari percakapan intens dari Katarina, bahkan setiap malam ia selalu pulang larut untuk menghindari percakapan. Ia selalu tidur di sofa yang ada di kamar sedangkan Katarina menguasai ranjang.

“Untuk apa aku menikah jika tidak di sentuh sama sekali?” Katarina menghela napas panjang.

“Kata, aku akan lembur beberapa hari ini,” lontar Rafka yang baru saja masuk ke kamar.

“Kamu tega ninggalin aku di rumah bersama keluargamu?” tanya Katarina penuh keraguan.

“Memangnya ada apa? Tidak usah lebay!” Rafka beranjak meninggalkan kamar tanpa pamit.

Belum sempat Katarina menjawab pertanyaan Rafka, laki-laki es batu itu sudah menutup pintu kamarnya dengan keras.

“Aku tidak takut sendirian, Mas. Aku takut Ayahmu!” gumam Katarina dalam batinnya.

Tidak berselang lama dari Rafka yang meninggalkan kamar, suara langkah kaki mendekati kamarnya. Ketukan pada pintu membuat Katarina berjalan pelan dengan rasa takut yang menggebu dibenaknya. Satu tangannya meraih gagang pintu dengan penuh keraguan.

“Ka- ….” belum selesai Elegi memanggil nama Katarina.

Wanita itu sudah membuka pintu kamarnya, dengan tatapan penuh rasa takut yang tercetak jelas diwajah Katarina. Tarikan napas panjang yang terlihat jelas di wajah Katarina membuat Elegi sempat bertanya-tanya.

“Kak, kamu tidak apa-apa?” tanya Elegi dengan penuh resah.

“Tidak apa-apa, ada apa, Elegi?” Katarina berbalik tanya dengan sedikit gugup yang ia sembunyikan.

“Emm, Ayah ingin mengobrol berdua denganmu, Kak. Aku hanya diberi pesan itu saja,” jawab Elegi dan berlalu begitu saja.

“Ada apa?” tanya Katarina pada dirinya sendiri.

Bab 3

Rafka : Aku gak jadi lembur, ada urusan sama Rengga.

Sebuah pesan yang masuk ke ponsel Katarina, bukan yang pertama kali sejak satu bulan ini. Katarina yang masih berjalan gusar, berpikir apa saja yang dilakukan Rafka dan Rengga akhir-akhir ini.

“Hem, sebenarnya apa yang ia lakukan dengan Rengga? Kenapa ia lebih sering bersama Rengga yang notabene hanya teman,” gumam Katarina bertanya-tanya.

Tanpa basa-basi ia mengambil tas slempangnya dan keluar kamar, ia bergegas memesan taxi online dan mencari keberadaan Rafka. Beberapa kali ia berusaha meminta temannya melacak lokasi Rafka, satu pesan yang masuk ke ponselnya berisi share lokasi Rafka saat ini.

Suasana Kota Malang saat ini sangat ramai dan macet, beberapa kali Katarina mendengus kesal saat taxi online yang ia tumpangi terjebak macet. Perasaannya gusar dan tidak nyaman, berpikir keras apakah Rafka masih disana atau sudah pergi.

“Maaf ya, Kak. Jalanan cukup macet, sepertinya kita akan terlambat beberapa menit ke lokasi,” ungkap sopir taxi online itu.

“Emm, iya, gak papa kok, Pak.” Katarina semakin resah dengan isi kepalanya.

Perasaan yang penuh dengan kecurigaan pada suaminya, ia enggan bertanya secara langsung ke Rafka. Wanita itu menarik napasnya panjang saat jajaran mobil cukup panjang memenuhi jalanan.

“Kak, saya carikan jalan pintas saja ya, agar tidak terlambat lama,” usul sopir taxi online itu dengan ragu.

“Iya, Pak. Senyamannya bapak saja, kalau bisa lebih cepat ya, saya sedikit buru-buru,” pinta Katarina dengan pelan.

Taxi online itu melaju pelan melewati jalanan kampung yang hanya cukup untuk satu mobil dan satu motor. Jalanan yang cukup sepi kali itu meskipun jam pulang kerja, akhirnya Katarina mampu menghela napasnya dengan tenang saat ia tiba di tujuan.

Sebuah cafe yang ada di sudut Kota Malang, ia bertanya-tanya mengapa Rafka dan Rengga berada di sini? Laki-laki es batu itu masih saja tidak bernafsu dengannya. Satu langkah dua langkah, ia berjalan memasuki cafe itu dengan pelan dan memesan minuman. Ia memandang beberapa sudut cafe sore itu, Katarina yang masih ragu dengan keberadaan suaminya hanya memilih duduk di sudut cafe.

“Ini pesanannya, Kak.” Seorang pelayan memberikan satu matcha latte pesanan Katarina.

“Terima kasih ya, Kak. Oh iya, tadi ada laki-laki ini tidak?” setelah menerima matcha latte, ia menunjukkan foto Rafka pada pelayan yang mengantar pesanan.

Dari raut wajah pelayan itu terlihat berpikir, wanita itu mengetuk ujung hidungnya berulang. Katarina seperti hilang harapan, namun pelayan itu seolah menyiapkan jawaban.

“Itu, Kak.” Tangan kanan pelayan wanita itu menunjuk satu meja yang ada di seberang Katarina.

Mata Katarina menyorot pada sudut yang ditunjuk pelayan wanita itu, dua laki-laki itu terlihat sangat akrab dan dekat. Katarina yang masih diam mengamati setiap gerak-gerik dua laki-laki itu, percakapan yang tidak mampu Katarina dengar karena pelan.

“Dua laki-laki itu ngapain sih! Bisa-bisanya itu laki-laki es batu bisa tertawa lepas? Em, tapi kenapa saat bersamaku dia seperti patung yang tidak berkutik dan dingin? Apa yang sebenarnya ia sembunyikan dariku?” tanya Katarina pada dirinya sendiri.

Sudah 30 menit ia duduk di bangku cafe itu sendirian, semakin lama percakapan antara dua laki-laki itu semakin seru. Namun lagi-lagi Katarina hanya melihat tanpa berani berkutik apapun, sudah habis 2 matcha latte selama ia duduk di cafe.

Elegi : Kak, Ayah mencarimu.

Sebuah pesan yang dikirim oleh Adik Rafka, Katarina mulai mengetuk-ngetuk meja cafe. Ingin sekali ia duduk lebih lama di cafe itu lebih lama untuk mengawasi Rafka, kali ini ia harus pulang lebih cepat. Ia beranjak meninggalkan cafe itu dengan kekesalan.

***

Rafka menatap lekat pada sudut cafe itu, wanita yang ia kenal kini duduk di seberang mejanya bersama Rengga. Ia bertanya-tanya mengapa Katarina berada disini?

“Ada dia,” ujar Rafka dengan berbisik pada Rengga.

“Siapa?” tanya Rengga dengan celingukan.

“Istriku,” singkat jawaban yang diberikan Rafka sembari menarik wajah Rengga untuk diam.

“Kenapa? Kenapa gak kamu samperin dan ajak mengobrol disini? Mau sampai kapan, Raf? Sepertinya ia mulai gusar dengan pernikahan kalian,” tanya Rengga panjang lebar.

Rafka diam sembari menyesap kopi yang tinggal separuh, sudah hampir satu jam ia duduk bersama Rengga. Membahas banyak hal tentang pernikahannya dengan Katarina, pernikahan terpaksa yang harus ia lakukan itu membuatnya cukup kelimpungan.

“Belum saatnya, Reng. Aku belum pernah punya hubungan dengan wanita manapun, kamu tahu itu.” Rafka terkekeh pelan dengan menatap sekeliling.

“Lelaki polos dan penuh ambisi sepertimu, masa iya tidak ada nafsu saat tidur satu ranjang?” tanya Rengga tanpa rem.

“Aku tidur di sofa, menjaganya saja dalam satu kamar.” Rafka beranjak meninggalkan Rengga begitu saja.

***

Sepanjang perjalanan pulang Katarina penuh dengan tanda tanya, sudah beberapa kali ayah mertuanya itu mencarinya. Namun, Katarina enggan menemui lelaki paruh baya itu dengan ragu, kali ini ketiga kali ia diminta menemui laki-laki itu secara pribadi.

“Kenapa harus sendiri? Kenapa gak sekalian ajak si suami es batu itu?!” tanya Katarina dengan kesal.

Rafka: Kamu dimana?

Mata Katarina memicing ke arah ponsel yang kini menyala, satu pesan yang dikirim oleh Rafka mampu membuat detak jantungnya tidak beraturan. Tidak biasanya lelaki es batu itu menghubunginya seperti ini.

Helaan napas panjang sebelum ia membalas pesan Rafka, sengaja ia tidak membalas pesan dari Rafka. Pikirannya masih berputar tentang beberapa pertanyaan yang melayang di kepalanya, Ayah mertuanya akan bertanya apa kali ini?

“Kak, sudah sampai,” ujar sopir taxi online yang mengantarnya pulang.

“Eh, Pak. Maaf saya tadi melamun,” ungkap Katarina malu-malu.

Katarina turun dari taxi online dengan terburu-buru, pintu gerbang yang terbuka saat ia akan masuk. Gerbang hitam yang menjulang tinggi itu terbuka, seorang satpam mulai menyapa Katarina dengan senyuman hangatnya.

“Terima kasih, Pak.” Katarina melangkah pelan menuju rumah besar itu dengan ragu.

Elegi yang duduk di teras dengan langkah mondar-mandir seolah menyimpan sesuatu, saat mata Katarina menyorot adiknya itu. Gadis itu mulai menarik tubuh Katarina untuk mendekat.

“Kak, ini ketiga kalinya ayah mencarimu loh, jangan sampai kamu kabur-kaburan seperti dua hari lalu!” gertak Elegi.

Katarina hanya tersenyum simpul, ia merasa malu pada adik bungsunya. Bagaimana bisa ia tidak menghindari ayah mertuanya karena takut. Ia berjalan memasuki rumah dengan langkah pelan, seorang laki-laki paruh baya sudah duduk di sofa ruang tamu.

“Katarina,” panggil Pramana pelan.

“Eh, Ayah. Sejak kapan disitu?” tanya Katarina tergugup.

“Satu jam,” singkat jawaban yang diberikan Pramana dengan tatapan nyalang.

Katarina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ada rasa resah dan takut yang menjelma dirinya. Ia berdiri tepat di depan sofa yang Pramana duduk. Diam begitu lama hingga laki-laki paruh baya itu menggertaknya dengan keras.

“Mau sampai kapan berdiri disitu?” tanya Pramana dengan nada membentak.

“Stop!” sebuah suara yang membuat dua orang di ruang tamu itu menoleh secara bersamaan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED