Bab 2

“Oma sudah berulang kali bilang padamu kalau Oma menginginkan cicit. Umur Oma sudah tidak lama lagi. Setidaknya sebelum Oma meninggal, Oma ingin punya kesempatan melihat cicit dari cucu kesayangan Oma. Kalau kamu memberi Oma cicit, Oma berjanji tidak akan pernah mengganggu posisimu di kantor lagi.”

Perkataan Oma terus terngiang di telinga Manda, bahkan hingga acara keluarga selesai dan dia keluar dari rumah megah itu.

Manda menyandarkan dahinya di stir mobil. Apa yang harus dia lakukan? Dia bisa saja menyewa seorang pria untuk pura-pura dikenalkan pada Oma sebagai calon suaminya. Tapi tadi Oma sudah menegaskan bahwa pria yang kali ini haruslah pria yang akan dibawa serius ke jenjang pernikahan. Itu berarti Manda tidak bisa sembarang membawa orang. Harus seseorang yang pasti akan menikah dengannya. Tapi siapa?

Sebut saja Manda sebagai perawan tua yang cupu akan cinta, Manda tak akan tersinggung. Memang itulah faktanya. Dalam kurun waktu 35 tahun hidupnya, tak sekali pun Manda pernah berpacaran. Dia terlalu sibuk dengan pendidikannya, mengejar akselerasi, lulus lebih cepat, mendapat nilai terbaik, cum laude, summa cum laude, lalu jabatan di perusahaan keluarganya yang setahap demi setahap bisa diraihnya hingga akhirnya dia berada di posisi tertinggi. Tak ada waktu untuk cinta, fokus Manda hanya jabatan di perusahaan.

Tapi malah yang lucu, jabatannya terancam direnggut karena Manda tak punya cinta. Omanya ingin Manda punya cinta, secepatnya!

Manda mendengkus dengan kasar kemudian memilih turun dari mobilnya. Saat ini dia sedang berada di parkiran kantornya.

“Persetan dengan cinta dan jodoh, ada rapat yang harus segera kuhadiri,” gumam Manda sambil bergegas memasuki lobi. Tangannya mencari-cari ponsel di tasnya.

Karena terburu-buru, Manda tak sadar bahwa ada seseorang yang berdiri tegak di samping lift. Manda justru membenturnya, membuat tasnya jatuh ke lantai dan isinya berhamburan.

“Ouch!” erang Manda kesakitan. Padahal dia yang membentur, tapi malah dia yang merasa kesakitan. Dengan kesal Manda menatap pada sosok di depannya, yang ternyata adalah seorang petugas sekuriti berbadan tegap.

“Pantas saja aku merasa kesakitan,” batin Manda sambil menatap dada bidang si sekuriti yang tampak kokoh. Dari wajahnya yang asing, tampaknya dia adalah sekuriti baru.

“Maaf, Bu,” ucap sekuriti dengan name tag bertuliskan Adam Birendra.

Manda mengabaikan permintaan maaf itu, lebih memedulikan barang-barangnya yang berhamburan di lantai. Dia membungkuk untuk memungutnya satu per satu.

“Ini, Bu,” ucap sekuriti itu sambil menjulurkan lipstik bermerek milik Manda.

Dengan kasar Manda menyentaknya. Dia buru-buru bangkit lalu masuk ke dalam lift. Lift pun bergerak naik setelah Manda menyentuh angka 51, ruangan teratas di kantor ini yang biasa digunakan sebagai ruangan rapat.

Manda menghidupkan ponselnya untuk menghubungi Chelsea, asistennya.

“Siapkan berkas-berkas yang kemarin yang sudah disetor oleh tim Pemasaran. Jangan lupa draft finalnya juga. Oh iya, persiapkan jadwal saya untuk nanti sore. Pastikan Pak Gunawan akan hadir. Saya tidak mau buang-buang waktu kalau sesampainya di sana asistennya malah bilang mau reschedule. Dan—“

Pintu lift terbuka.

Manda mengerutkan dahi saat di hadapannya, tepat di luar pintu lift, dia melihat sekuriti yang ditabraknya tadi. Peluh tampak membanjiri keningnya, dan napasnya terengah-engah.

Manda bertanya-tanya apakah pria ini berlari lewat tangga darurat sampai ke sini? Dari lobi sampai lantai 51? Wah, benar-benar pria yang berstamina.

Manda buru-buru menepis pikirannya yang melantur.

“Ini dompet Ibu tadi terjatuh di lobi,” ucap Adam sambil menjulurkan dompet warna merah yang memang adalah milik Manda.

Sudut bibir Manda terangkat sedikit melihat betapa sigap kerja karyawannya. Dia pun meraih dompet di tangan Adam kemudian keluar dari lift.

“Ini untukmu,” ucap Manda sambil menjulurkan satu lembar uang seratusan.

Yang tak disangka, bukannya langsung menerima tip dari Manda, Adam malah mundur seraya menggerak-gerakkan tangannya. “Tidak usah, Bu,” ucapnya.

Manda menghela napas. Dasar sekuriti pintar. Dia pun mengeluarkan dua lembar uang warna merah lagi. “Kalau ini pasti cukup, kan?” ucapnya dengan angkuh.

Mata Adam membelalak. Tangannya bergerak-gerak semakin gusar. “Bukan begitu, Bu. Saya tidak minta tambahan tip. Sudah tugas saya mengembalikan dompet ini ke pemiliknya. Ingat, kan, saya adalah seorang sekuriti, saya bertugas mengamankan tempat ini.”

Manda mengerjap. Heran mendapati adegan yang langka ini. Biasanya karyawan-karyawan rendahan di kantor ini selalu antusias tiap Manda memberikan tip pada mereka. Manda tidak percaya seorang sekuriti menolak pemberian tipnya.

“Bu Manda? Rapatnya akan segera dimulai,” ucap asisten Manda yang berjalan dengan tergesa-gesa dari arah seberang.

“Oh, ya,” sahut Manda pada Chelsea. Lalu saat dia menoleh ke arah sekuriti tadi berdiri, dia mendapati bahwa pria itu sudah berbalik pergi ke arah pintu tangga darurat.

Jadi sekuriti itu benar-benar tidak minta imbalan jasa?

Sepanjang rapat, pikiran Manda terbagi antara urusan kantor dan juga bayangan sekuriti tadi. Apakah benar ada orang yang bisa tulus melakukan sesuatu? Sepanjang hidup Manda, dia sudah banyak berkenalan dengan orang. Teman-teman sekolahnya atau rekan bisnisnya, pun keluarganya, mereka hanya bersikap baik pada Manda apabila ada maunya. Kebaikan mereka tak pernah datang dengan cuma-cuma.

Setelah rapat selesai, Manda memanggil Chelsea.

“Ini laporan yang tadi Ibu minta. Untuk jadwal selanjutnya—“

“Saya ingin memberi tugas tambahan untukmu,” potong Manda pada sekretarisnya.

Chelsea pun mendongak dari tablet yang dia pegang. “Tugas apa, Bu?”

“Selidiki tentang sekuriti baru di lobi. Kalau tidak salah namanya Adam. Cari tahu tentang latar belakang dan kelemahannya.”

“Kelemahannya?” Chelsea mengerutkan dahi.

“Ya, kelemahannya. Sepertinya saya perlu memanfaatkan orang itu.”

***

Pukul sepuluh malam, saat seharusnya Adam pulang karena shift-nya sudah selesai, dia malah naik ke lantai 51, tempat tadi dia naik tangga dengan tergesa-gesa untuk menyusul sang direktur karena dompetnya yang ketinggalan.

Ya, Adam tahu bahwa perempuan kasar tadi adalah direktur perusahaan ini karena Adam sempat melihat kartu namanya saat membantu memilihkan barang-barang yang berceceran di lantai.

Adam tidak yakin apa alasannya dipanggil menghadap sang direktur. Apakah dirinya sudah membuat kesalahan? Sumpah demi Tuhan, Adam tidak mengambil satu peser pun uang dari dompet itu.

Diam-diam Adam merasa cemas dengan nasibnya. Apakah dia dipanggil untuk dipecat? Padahal Adam benar-benar butuh pekerjaan ini.

“Silakan masuk, Bu Manda sudah menunggu di dalam,” ucap seorang asisten yang bertugas di meja yang terletak di luar ruangan sang direktur.

Adam mengangguk. Dia mengetuk pintu sebelum masuk.

Di dalam sana, sang direktur tengah duduk di kursi kebesarannya, tampak fokus dengan berkas yang ada di hadapannya.

Adam bingung apakah harus berdeham untuk menarik perhatian sang Ibu Direktur, atau diam saja menunggu sampai sang Ibu Direktur menyadari sendiri keberadaannya?

“Adam Birendra?” ucap Manda tiba-tiba sambil menaikkan pandangannya.

Ditatap dengan sorotan amat tajam oleh atasannya itu membuat Adam tiba-tiba meneguk ludah.

“Saya tidak akan berbasa-basi, saya mau menawarkan kesepakatan. Kesepakatan yang amat menguntungkanmu, mengingat saya tahu kamu punya utang yang besar di bank. 100 juta, bukan?”

Adam terperangah. Bagaimana bisa atasannya ini tahu soal utangnya?

Tanpa memberi celah Adam bertanya, Manda melanjutkan, “Saya bisa melunasi utang yang ditinggalkan oleh orang tuamu itu sekarang juga, dengan syarat kamu mau menjadi suami saya selama tiga bulan. Cuma tiga bulan, tidak lebih tidak kurang. Dan selama kurun waktu itu, kamu sudah harus berhasil membuat saya hamil. Apa kamu bersedia?”

Bola mata Adam melebar, syok.

Bab 3

Tentu saja sekuriti itu terkejut. Bagaimana mungkin dia tidak terkejut kalau Manda menodongnya secepat itu? Tapi Manda benar-benar tidak suka berbasa-basi. Dia ingin masalah ini cepat beres. Dia ingin segera mengamankan posisinya sebagai direktur utama, dengan jalan satu-satunya yakni segera menikah dan punya anak.

Manda menatap ke arah pria di depannya. Pria yang cukup tampan dan rapi untuk ukuran seorang sekuriti. Bahkan Manda sudah mengecek bahwa pria ini memiliki latar pendidikan yang lumayan, lulusan S1 dari universitas ternama. Entah bagaimana ceritanya sampai berakhir “cuma” menjadi seorang sekuriti.

Sebenarnya itu jugalah yang menjadi pertimbangan Manda, meskipun Adam hanyalah seorang sekuriti tapi paling tidak dia bertampang lumayan dan pintar. Manda tidak mau kalau sampai anaknya nanti terlahir dengan wajah jelek dan bodoh karena menuruni gen yang tidak berkualitas.

“Apa kamu bersedia?” tanya Manda lagi dengan nada tidak sabaran.

Adam tergeragap, tampak seakan kesulitan berkata-kata. Wajahnya yang berkulit sawo matang berubah jadi pucat.

Melihat itu, Manda berdecak. Apa dia sudah salah menilai? Meskipun bersifat tulus, tapi ternyata pria ini lelet sekali.

“Boleh beri saya waktu untuk mempertimbangkan?” akhirnya pria itu berkata.

“Tentu saja,” jawab Manda langsung.

Adam tampak mengembuskan napas lega.

“Saya tunggu jawabanmu sampai besok,” imbuh Manda.

Raut Adam seketika kembali berubah ngeri.

Sudah Manda bilang, Manda bukan orang yang suka berbasa-basi dan membuang-buang waktu. Kalau memang sekuriti ini tidak mau bekerja sama dengannya, lebih baik Manda mendapat jawaban tidaknya lebih cepat.

Hanya masalahnya … di mana lagi Manda akan mendapat kandidat calon suami sesempurna Adam?

“Perlu kamu ketahui, kalau kamu menolak kesepakatan ini, saya harus memecatmu. Saya tidak mau salah satu karyawan saya adalah orang yang mengetahui rahasia saya,” ucap Manda, menutup pertemuannya dengan Adam. Manda harap, ucapannya barusan cukup memberi tekanan pada pria itu.

***

Hari masih pagi tapi wajah seorang Alamanda Katarina Rahadi yang cantik sudah dipenuhi raut tak sabaran. Dia mengetuk-ngetukkan jari di meja kerjanya, menatap pada pintu ruangannya yang tertutup rapat. Manda sedang mengharapkan kedatangan seseorang, atau tepatnya kedatangan sebuah jawaban.

Dia sudah memastikan bahwa hari ini Adam mengambil shift pagi, jadi seharusnya Adam sudah berada di kantor saat ini. Memangnya sesibuk apa sih seorang sekuriti sampai tidak bisa langsung naik ke lantai teratas dan menemuinya?

Telepon di meja Manda berbunyi. Manda pun mengangkatnya.

“Ada sekuriti yang kemarin ingin bertemu dengan Ibu,” terdengar suara sekretaris Manda melapor.

“Suruh dia langsung masuk,” balas Manda cepat.

Tak lama, pria berseragam safari hitam khas petugas sekuriti itu sudah berada di depan Manda. Rautnya masih sama seperti kemarin, tampak gugup.

“Saya ingin mengajukan satu syarat,” ucap Adam, memulai.

Manda langsung mendengkus. Tentu saja. Adam pasti tak akan melewatkan kesempatan untuk memanfaatkan momen ini.

“Sebutkan saja. Apa kamu ingin kenaikan jabatan? Atau jumlah uang yang lebih besar dari angka utangmu di bank?” tanya Manda dengan nada mencemooh. Ternyata pria ini sama saja dengan semua orang yang dikenalnya, berpamrih.

Adam menggeleng. “Karena Ibu bilang saya harus … menghamili Ibu,” Adam menggaruk tengkuknya dengan rikuh, tiba-tiba suasana berubah jadi canggung. Adam menghela napas sebelum melanjutkan, “Saya ingin ketika kita berhubungan di ranjang, Ibu menunjukkan perasaan cinta pada saya.”

Manda mengerjap. Apa katanya barusan? Perasaan cinta? Syarat macam apa itu?

Tapi Manda tak punya waktu untuk keberatan, soal perasaan cinta atau apalah itu dia akan memikirkan belakangan. Saat ini yang terpenting adalah Adam mau menerima tawarannya. “Ya, tentu saja,” jawab Manda cepat.

Tapi bukannya puas dengan jawaban Manda, Adam malah menatap dengan raut sangsi. “Apa Ibu yakin?”

Manda mengepalkan tangannya dengan kesal. Dia bangkit dari kursinya lalu berjalan melewati meja dengan langkah tegas. Begitu pun saat sudah berada di hadapan Adam, dengan tegas tanpa ragu-ragu, Manda meraih rahang pria itu, kemudian menyatukan bibir mereka.

Manda mencium Adam!

Manda kira Adam akan kaget dan menarik diri. Yang tak disangka, pria itu langsung menyambut ciumannya dengan hangat. Balas melumat bibir Manda. Bahkan tangannya bergerak ke pinggang Manda dan menarik tubuh Manda lebih rapat ke tubuhnya.

Ciuman mereka akhirnya terpisah saat Manda mendorong dada Adam. Napasnya termegap-megap karena hampir kehabisan udara.

“Apa-apaan itu barusan? Kenapa terasa nikmat?” batin Manda. Rautnya yang biasanya berwibawa dan penuh keangkuhan kini tampak kebingungan.

Manda menggigit bibirnya, yang ternyata sudah bengkak. Sialan. Dia berusaha meraih kembali wibawanya. Dengan tegas dia berkata, “Apa yang barusan sudah cukup untuk menunjukkan perasaan cinta?” Manda menatap Adam dengan raut menantang.

“Sebenarnya yang barusan itu lebih mirip nafsu daripada cinta,” jawab Adam dengan nada berpikir.

Manda menggertakkan rahangnya. Berani-beraninya pria ini mengkritik gaya berciumannya. “Apa kamu mau menerima tawaranku atau tidak?!” sentak Manda, kesal.

Adam menatap langsung ke arah Manda, tatapan pria itu berbeda jauh dengan sikap gugupnya yang kemarin. Dengan lancar Adam menjawab, “Ya, saya bersedia menjadi suami tiga bulan Ibu.”

***

Tiga hari kemudian

Manda berdiri mondar-mandir di luar bilik ganti. Saat ini dirinya sedang berada di butik langganannya, sebuah butik mewah yang tidak bisa sembarang orang datang untuk mengaksesnya. Bahkan meski kamu punya banyak uang, belum tentu pegawainya mau melayanimu.

Seharusnya dia membiarkan saja Chelsea yang mengurus penampilan Adam. Tapi apa mau dikata, Manda terlalu gugup dan ingin semuanya kelihatan perfect, jadi dia pun mengambil alih mengurus sendiri apa saja yang harus pria itu kenakan. Jas, kemeja, celana, jam tangan, juga gaya potong rambut, semuanya harus perfect dari kaki sampai kepala. Karena malam ini Manda akan membawa Adam menemui keluarga besarnya.

Adam keluar dari bilik ruang ganti.

Untuk sesaat, Manda merasa terpukau. Sudah Manda bilang bukan bahwa Adam memiliki tampang yang lumayan? Dan kini dengan penampilan barunya, Adam tak kalah dari eksekutif muda yang kadang Manda temui di dunia kerjanya. Semua benda mahal yang menempel di tubuh Adam benar-benar mengeluarkan pesona pria itu dengan penuh.

Manda tersenyum. “Oma pasti suka denganmu,” ucapnya, lalu menggamit lengan Adam, menyeret pria itu ke mobilnya.

“Sudah ingat kan apa yang harus kamu katakan saat bertemu dengan keluarga saya nanti?” tanya Manda memastikan. Selama tiga hari ini dia sudah memberi tahu Adam tentang bagaimana keluarganya. Dia ingin rencananya kali ini berjalan lancar.

“Iya, Bu,” balas Adam.

“Sudah saya bilang jangan panggil saya “Ibu” lagi. Mereka tidak akan percaya kita adalah sepasang kekasih kalau kamu tetap memanggil saya seperti itu.”

“Baik—“ Adam menahan diri untuk tak menyebut “Ibu” lagi.

Manda mengangguk dengan puas.

Sesampainya di rumah Oma Ajeng, tempat acara keluarga biasa diadakan, Manda kembali menggamit lengan Adam, kali ini dengan mesra.

Kontan saja kemunculan Manda bersama pria tampan di sebelahnya membuat keluarga besar Rahadi jadi heboh. Mereka langsung mencecar Manda, menanyai siapa pria itu.

“Tentu saja dia adalah pacarku,” jawab Manda dengan senyum penuh percaya diri. Dia pun membawa Adam menemui sang Oma yang sedang berdiri di depan akuarium besarnya, memberi makan ikan-ikan di sana.

“Oma, kenalkan ini Adam. Kekasih yang akan jadi suami Manda,” ucap Manda dengan riang. Senyumnya masih terulas, tapi diam-diam dadanya berdebar hebat, penuh antisipasi terhadap respons sang Oma.

Tiba-tiba Sinta menceletuk, “Memangnya calon suamimu ini pekerjaannya apa? Tante kok kayak baru pertama lihat, nggak pernah tuh ketemu-ketemu di pesta perusahaan.”

Sebelum Manda sempat menjawab, Adam memilih menjawab sendiri, “Pekerjaan saya sebagai sekuriti, Tante.”

Tiba-tiba seisi ruangan berubah diam. Seluruh anggota keluarga Rahadi menatap dengan tatapan menghunjam pada kekasih Manda itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED