“Kamu aja yang ke museum. Jadi peninggalan purbakala di sana,” cetus Caca Yunita.
Tawa Pinto spontan meledak. Gelegarnya menembus atap mobil.
“Ternyata, kamu bisa melucu,” kata Pinto.
“Aku nggak ngelucu. Aku serius. Aku ngarep kamu jadi patung keropos di sana,” terang Caca Yunita berkobar-kobar.
Benak Pinto menyangsikan keterangan Caca Yunita. Caca Yunita bukan makhluk yang antipati terhadap dirinya. Agaknya, dia memungkiri fakta yang sesungguhnya.
Keterangan Caca Yunita termasuk urusan sepele bagi Pinto. Pinto mudah melupakannya. Perkara terpenting baginya adalah cinta Caca Yunita. Cinta Caca Yunita harus ia selamatkan. Namun, hasratnya terhadap hati Caca Yunita belum terbit. Ia masih menggali di dalam jiwa Caca Yunita.
“Seandainya saya jadi patung keropos, kamu pasti jadi manusia keropos,” celetuk Pinto.
Alis Caca Yunita menukik. Dahinya mengerut. “Alasannya apa?”
“Karena batin kamu nggak kuat liat aku keropos. Kamu jadi sedih. Akhirnya, tulang kamu juga keropos.”
“Nggak nyambung!”
Pinto terkekeh. Dia senang mencandai Caca Yunita. Kesenangannya akan berlipat bila senyuman Caca Yunita menyembul. Sayangnya, rahang Caca Yunita mengeras.
“Saya nggak bosan dengan hubungan kita. Saya yakin, kamu juga nggak bosan dengan hubungan kita.”
“Bener banget,” Caca Yunita sepaham. “Aku nggak bosan sama hubungan kita. Aku juga nggak bosan sama kamu. Aku cuma capek sama hubungan kita,” sambungnya.
“Kamu istirahat dulu. Nggak usah berhubungan sama saya untuk sementara waktu. Biar nggak capek,” Pinto menyarankan.
Mendengar saran Pinto, Caca Yunita terkesiap. Kekagetannya mencuat. Entah mengapa, rasa malu pada dirinya hidup. Namun, dia menyembunyikannya.
“Aku udah istirahat. Bukan istirahat dari hubungan kita, tapi istirahat dari keraguan kamu.”
Pinto tersenyum tipis. Perasaannya tidak tersinggung sama sekali.
“Kalau kamu istirahat dari keraguan saya, kenapa kamu masih minta ketegasan saya?” Pinto melempar tanya.
Caca Yunita tersentak hebat. Lontaran pertanyaan itu tidak ia sangka. Dirinya lantas mencari jawaban atas pertanyaan itu. Beberapa saat kemudian ia menemukannya. Ia hendak menuturkannya. Namun, lidahnya mendadak kelu.
Lirikan Pinto mengarah ke Caca Yunita. Indera penglihatannya menangkap perubahan pada wajah Caca Yunita. Air muka Caca Yunita menunjukkan kepanikan.
“Saya bercanda kok …,” Pinto buru-buru menenangkan Caca Yunita. Dia melanjutkan, “Kamu punya hak untuk minta ketegasan saya. Saya mengakui hak kamu.”
“Aku harap, kamu nggak cuma ngakuin hak aku. Tapi juga ngasih hak aku,” balas Caca Yunita berbarengan dengan pergerakan mobil listrik Tesla Pinto yang lancar.
“Sebenarnya, saya juga punya hak. Hak saya adalah tidak memberikan ketegasan untuk kamu. Karena saya bukan siapa-siapa kamu,” Pinto mengutarakan sudut pandangnya.
Kontan Caca Yunita melotot. “Jadi, kamu maunya—”
“Tenang aja,” potong Pinto. “Walaupun saya bukan siapa-siapa kamu, saya menghormati pendapat kamu. Saya bahkan meninggikan sosok kamu,” ungkapnya.
Posisi badan Caca Yunita menegak. Mendekatkan pendengarannya ke sisi Pinto. Konsentrasinya terhadap suara Pinto menguat.
“Saya mungkin bukan orang yang paling tegas. Tapi, saya berusaha jadi orang yang paling jelas,” Pinto menandaskan.
Kemacetan yang menghadang mobil listrik Tesla Pinto telah hilang. Lajunya pun bertambah cepat. Rodanya mencumbui jalanan Jakarta Selatan secara leluasa. Sebentar lagi, Pinto dan Caca Yunita tiba di sebuah apartemen. Sesuatu tentang hubungan di antara mereka berdua akan terkuak.
Mobil listrik Tesla Pinto bertatap muka dengan Essence Darmawangsa Apartment. Lalu, mendekati salah satu menara. Pinto dan Caca Yunita berpijak di unit apartemen Caca Yunita beberapa menit sesudahnya.
Baru saja Pinto duduk di sofa ruang tamu. Namun, perintah Caca Yunita telah siap menubruknya.
“Kamu jelasin pernyataan kamu sekarang!”
“Nanti dulu, Ca,” sergah Pinto. “Saya haus. Ingin minum.”
Caca Yunita segera melangkah ke dapur. Dia mengambil dua botol air berkarbonasi, kaleng yang berisi roti, dan plastik yang berisi keripik pedas. Tangannya menyerahkan salah satu botol kepada Pinto.
Pinto menerimanya dan meneguknya. Kesegaran menjalari kerongkongannya.
Setelah kedahagaannya lenyap, Pinto berkata, “Penyebab saya tidak tegas adalah status yang melekat pada diri saya. Status yang melekat pada diri saya menghambat kemajuan hubungan saya dan kamu. Saya nggak mampu melawannya.”
“Jadi, kamu anggap status kamu lebih tinggi ketimbang status aku? Level kamu beda sama level aku? Iya, gitu?” tembak Caca Yunita beruntun.
Pinto meletakkan botol yang ada di genggaman di atas meja. “Level saya dan kamu sama. Yang nggak sama adalah dampak dari status kamu dan dampak dari status aku. Dampak dari status kamu relatif kecil. Sementara dampak dari status saya relatif besar,” jawabnya. “Saya harap, kamu memaklumi masalah ini,” dia mengimbuhkan.
Pinto mengatakannya karena cuma kalangan tertentu yang memahami statusnya. Orang-orang awam sulit memahami penalaran statusnya. Logika mereka cenderung berseberangan dengan penalaran statusnya. Ketika Pinto ingin terbebas dari belenggu statusnya, mereka malah mengidamkan status Pinto.
Menurut Pinto, penalaran statusnya mungkin juga sulit diterima oleh Caca Yunita. Bilamana kemungkinan tersebut benar, Caca Yunita tidak akan menuding statusnya sebagai penyebab. Caca Yunita justru akan menganggap Pinto sebagai pembuat dalih. Pinto bisa memperoleh julukan “penghindar komitmen”.
“Aku nggak bisa maklumin, Mas.”
“Kok kamu nggak bisa memaklumi?”
“Omongan kamu nggak logis.”
“Kamu boleh bilang omongan saya nggak logis. Yang jelas, saya jujur.”
Dalam sanubarinya, Pinto menyayangkan pernyataan Caca Yunita. Pernyataan Caca Yunita menodai harapan Pinto. Andai mengetahui kondisi yang sebenarnya, Caca Yunita akan membinasakan nada ketusnya. Bahkan kedua tangannya akan mendekap erat raga Pinto. Sayang seribu sayang, dugaan Caca Yunita berlebihan.
“Kamu pasti bo’ong. Aku nggak percaya sama kamu,” tutur Caca Yunita yakin. Dia lantas menceplos, “Rakyat aja nggak percaya sama kamu!”
Gelak Pinto berdesakan keluar. Sindiran Caca Yunita terdengar jenaka di kupingnya.
“Andaikata saya berbohong, apakah kamu masih menuntut ketegasan saya?” Pinto menyodorkan pertanyaan serius.
Caca Yunita berpikir agak lama. Otaknya bekerja untuk penemuan kalimat yang cocok. “Kebohongan kamu malah nunjukin kalo kamu nggak tegas. Kamu mestinya malu sama diri kamu sendiri.”
“Ucapan kamu nggak menjawab pertanyaan saya,” secepat kilat Pinto membalas. “Tolong jawab pertanyaan saya. Biar saya tahu apa yang ada pikiran kamu,” mohonnya dengan penuh penekanan.
“O-ke. Aku ja-wab,” balas Caca Yunita terbata. “Aku tetep nuntut ketegasan kamu. Soalnya ketegasan kamu penting buat cinta aku. Tanpa ketegasan kamu, cinta aku kehilangan arah,” bebernya dibarengi pembuangan pandangan ke arah lain.
Terkaan Pinto jitu. Perempuan yang berada di hadapannya memang memendam suatu rasa. Mungkin saja, pemendaman rasa itu berlangsung sejak lama. Rasa itu membesar seiring perputaran waktu. Dan sekarang, jiwa Caca Yunita gagal menahannya.
Sejatinya, Pinto membebaskan segala rasa Caca Yunita. Hatinya membuka beribu kemauan Caca Yunita. Namun, Caca Yunita mesti memahami keterbatasan Pinto. Meski menggenggam status eksklusif, Pinto bukan manusia yang bebas bertindak. Kendala kadang merintangi upayanya.