“Ambil yang banyak airnya! Buat mandi juga!” pinta Ibu lagi. Azlan hanya mengembuskan napas menerima perintahnya, mau tidak mau Azlan harus melakukan apa yang diperintahkan Ibu mertuanya.
“Iya Bu!” balas Azlan sambil berjalan ke arah sumur.
“Kamu jadi ‘kan nyari pekerjaan hari ini?!” tanya Ibu sarkas.
“Iya Bu, jadi, nanti setelah sarapan aku langsung pergi nyari kerja.”
“Kerja dulu ngasilin uang baru makan! Ngasih uang nggak malah enak-enakan makan! Yang ada makanan di rumah ini habis karena nampung pengangguran seperti kamu!"
“Apaan sih Bu ngomongnya! Perhitungan banget sama anaknya sendiri,” bela Nauma.
“Anak?! Siapa?! Dia?! Nggak sudi Ibu menganggap dia anak, pokoknya Ibu nggak mau tahu, tidak ada uang tidak ada makanan untuk kamu!”
“Ini uangnya, aku yang ngasih ke Ibu, ini juga uang Akang kok,” ucap Nauma memberikan uang yang dia punya.
“Ini uang kamu bukan uang dia, kalau sudah diberikan ke kamu, itu tandanya ini uang kamu, Ibu maunya uang dari hasil kerjanya!”
“Sama saja Bu, kasian kalau suamiku tidak makan, gimana mau nyari kerja kalau tenaganya saja Ibu kuras seperti ini? Dia juga butuh energi Bu.”
“Sudah Neng biar saja, nanti aku cari kerjaan di luar, yang penting kamu bisa makan, aku sudah kenyang kok,” timpal Azlan.
“Akang kenyang makan apa? Dari bangun tidur tadi Akang belum makan.”
“Makan hati! Neng,” balas Azlan sambil melirik Ibu.
“Anak nggak punya sopan santun kamu ya! Ngapain kamu ngelirik saya?!” tanya Ibu sambil melotot.
“Nggakpapa, Ibu cantik, makanya aku pandangi,” balasnya, ‘Lebih cantik kalau diem, nggak banyak omong,” batin Azlan.
Setelah menerima pujian palsu dari Azlan, Ibu langsung masuk ke dapur dengan menghentakkan kakinya. Mulut pedasnya pun tidak henti-hentinya memaki. Azlan hanya tersenyum saja, Azlan tidak mau Nauma merasa sedih, dia sadar diri kalau dirinya hanya menumpang di rumah ini.
“Mau Neng bantu Kang?” tanya Nauma.
Azlan tertawa, “Tidak usah Neng, kamu senyum saja sudah membuat Akang semangat lagi."
“Ya ampun kalian ini! Bukannya mengisi air malah mesra-mesraan! Masih pagi sudah tebar pesona saja, kapan airnya penuh Lan?! Nih! Yang ini juga di isi, jangan gangguin Nauma terus!” bentak Ibu. Dia juga memberikan ember dengan cara dilempar.
“Ini nggak salah Bu? Banyak banget yang mau di isi.”
Azlan terkejut dengan Ibu yang memberikan begitu banyak ember untuk diisi. ‘Pantas saja Bapaknya Nauma memiliki tangan yang super kekar, teryata ini rahasianya,’ batin Azlan.
“Nggak! Nggak ada yang salah! Biasanyanya juga Nauma yang nimba kalau Bapak sakit, kenapa?! Kamu nggak bisa?!” tanya Ibu meremehkan.
“Lemah banget jadi cowok,suami aku aja bisa ngisi bepuluh-puluh ember, susah sih ya kalau sudah nyaman jadi pengangguran,” sindir tetangga sebelah sambil menjemur pakaiannya.
“Denger tuh! Ibu malu punya menantu kayak kamu! Bisa nggak ngisi ini semua?! Kalau nggak bisa jadi bencong aja sana!”
“Bisa Bu, segini doang mah kecil,” balas Azlan sambil menjentikkan kedua jari.
“Kecil ya? Yasudah, kamu tunggu di sini dulu.” Ibu pergi dari hadapan mereka, lalu dia masuk ke dapur lagi.
Tidak berselang lama, Ibu Nauma datang dengan banyak ember yang ditumpuk, dia meletakkan ember-ember itu di hadapan Azlan.
“Ini diisi juga!! Harus sampai penuh!!” timpal Ibu dengan memberikan delapan belas ember besar.
Azlan semakin terkejut dengan pemandangaan yang ada di hadapannya. Ember-ember ini kalau dihitung ada banyak sekali, sekitar tiga puluh ember. Azlan merasa tidak yakin bisa mengisinya atau tidak.
“I-iya Bu,” balas Azlan sambil menelan ludah.
“Bagus! Yasudah isi semua sampai penuh, kalau sudah penuh kamu pindahkan semuanya ke dalam,” ucap Ibu sambil menutup kepala Azlan dengan ember.
Azlan menimba air dengan keringat yang terus saja bercucuran, telapak tangannya sudah perih, bahkan berubah menjadi kemerahan. Sudah dua belas ember dipenuhi dengan air dan Azlan memilih untuk mengistirahatkan tubuhku dahulu.
Azlan melanjutkan menimba air dan mengisi ember-ember yang masih kosong. Setelah semua ember terisi penuh, Azlan memindahkan semua ember ke dalam dapur, seperti yang diperintahkan oleh Ibu mertuanya.
“Azlan!! Apa yang kau lakukan?!” bentak Ibu saat melihat lantai yang basah karena tumpahan air.
“Maaf Bu, aku tidak sengaja,” balasnya cuek.
“Bisa-bisanya Nauma menikahi kamu yang tidak becus bekerja ini?! Bisa-bisa anak saya sengsara jika hidup bersama kamu!”
Wajar kalau air ini tumpah, Azlan sudah sangat lelah mengangkat banyak ember yang berisi air. Langkah kakinya tidak seimbang, sehingga air yang ada di dalam ember keluar, dan membasahi lantai. Tubuhnya juga sudah bergetar karena belum sarapan.
“Akang sudah selesai?” tanya Nauma sambil berjalan ke arahnya.
“Hati-hati Neng! Lantainya licin!” Azlan berlalari ke arah Nauma karena Azlan takut Nauma terpeleset.
Brukk, Degh! ‘mampus gue.’ Batin Azlan.
“Akang!... Akang ngapain?” teriak Nauma.
“Azlan” bentak pria yang ada di ambang pintu.
Pria paruh baya yang tadi membeentak langsung berjalan mengahampiri Azlan sambil memainkan kumisnya. Azlan terjatuh dan menimpah tubuh Ibu, ditambah lagi Azlan tidak sengaja mencium pipi Ibu mertuanya.
“Apa yang kalian lakukan, hah?!” tanya Bapak sambil melinting kumisnya.
Sontak Azlan langsung berdiri, Nauma hanya terdiam melihat Azlan yang sedang ketakutan. Azlan takut Bapak berpikir buruk dengan apa yang dilihatnya barusan.
“A-anu Pak, tadi aku nggak sengaja terpeleset, aku juga nggak sengaja menimpah Ibu,” balasnya.
“Ibu juga ngapain?! Enak ya di timpah Azlan?! Apa Bapak sudah tidak menarik lagi?!”
Azlan terpana mendengar ucapan Bapak. Azlan yakin sekali pasti akan ada perdebatan yang sangat menarik. Tangannya langsung ditarik oleh Nauma, dan dia membisikkan sesuatu.
“Bapak itu cemburuan Kang, aku takut kalau Bapak marah sama Akang,” bisik Nauma dengan nada cemasnya.
“Jangan mulai deh Pak! Ibu juga tidak tahu kalau mau ditimpah gitu! Salahin saja mantu kamu yang sembrono itu!” Ucap Ibu menyalahkan Azlan.
“Tapi kenapa kamu tidak langsung mendorong Azlan? Kamu senang ya ditimpah gitu?!”
“Ya ampun Pak! Kumis aja dipanjangin, tapi otaknya gak dipelihara, mana mungkin Ibu senang, sudah! Sudah! Jangan dibahas lagi.”
“Bapak ‘kan jadi mikir macem-macem Bu lihat Ibu kayak gitu, nanti tau-tau Ibu suka lagi sama Azlan, seperti yang di berita-berita itu, Ibu mertua main serong dengan menantunya.”
“Kenapa Bapak jadi korban berita sih? Bapak nggak percaya sama Ibu?! Gara-gara kamu nih saya jadi bertengkar dengan suami saya!!” ucap Ibu sambil menunjuk Azlan.
“B-bapak percaya Bu, maafkan Bapak ya sudah menuduh Ibu macam-macam,” balas Bapak sambil memeluk Ibu.
“Yah… segitu doang, kirain mah bakalan seru,” celetuk Azlan.
“Ngomong apa kamu, hah?! Kamu senang lihat kami bertengkar seperti ini?!” tanya Bapak sambil berkacak pinggang,
‘Mampus dah gue, nih mulut ngapa nggak bisa ngerem sih? Bapak jadi ngereog ‘kan,' batinnya, Azlan langsung berdiri dengan gugup lalu membalas pertanyaan Bapak.
“Nggak kok Pak, aku sukanya Ibu sama Bapak baikan, apalagi kalau lihat Ibu sama Bapak pelukan seperti tadi, aku senang melihatnya, seperti Teletubis yang di TV itu Pak, hehehe.”
“Loh, kok kamu malah ngeledek Bapak dan Ibu? Pakai ngatain mirip Teletubis lagi, sini kamu!”
“Ampun Pak ampun, aku hanya bercanda saja Pak.” Bapak mencapit kepala Azlan dengan ketiaknya.
Azlan langsung menahan napas. Ketiak Bapak bau sekali bahkan lengket dengan keringat, Azlan sampai mau muntah mencium bau ketiaknya. Sedangkan Nauma, dia berusaha melepaskan suaminya dari capitan Bapak.
“Lepasin Kang Azlan Pak, dia ‘kan Cuma bercanda saja, baper banget sih!” bela Nauma. Nauma juga membantu dengan menarik tubuh Azlan agar terlepas dari capitan Bapak.
“Nyesel Bapak menikahkan kalian seperti ini! Banyak tetangga yang mencemooh Bapak, nikah modal Tampang saja betingkah!!” ucap Bapak setelah melepaskan capitannya.
“Neng, mual banget Neng,” ucap Azlan sambil menahan rasa mual. Azlan langsung lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua muntahan yang sedari tadi di tahan, Azlan tidak tahan sekali dengan aroma tubuh Bapak.
Setelah Azlan selesai mengeluarkan semua muntahan yang ada di perutnya, Azlan keluar dengan kondisi yang sangat lemah . Pagi ini belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Azlan melihat Nauma sedang menyediakan sarapan di atas meja dan itu membuatnya merasa sangat lapar.
“Waah… Makanan ini sepertinya enak sekali, aku jadi tidak sabar untuk menyantapnya,” ucapnya sambil menggosok-gososkan tangan. Cacing di dalam perut sudah protes dan sudah tidak sabar untuk melahap makanan yang ada di atas meja.
“Sini Kang makan dulu,” ajak Nauma.
“Enak saja makan! Sudah Ibu bilang tidak ada makanan untuknya, sekarang kamu ke pasar belikan belanjaan Ibu.”
“Tapi Bu, Akang Azlan belum makan sama sekali, Ibu ini sudah seperti tidak punya hati saja,” protes Nauma.
“Sudah jangan banyak protes, suami pengangguran saja dibela terus!”
Mau tidak mau mereka menuruti permintaan Ibu, Azlan langsung ke kamar dan mengganti pakaiannya. Azlan mengenakan kaos putih polos dan celana denim pendek, begitu dia melihat ke cermin, Azlan terpesona dengan ketampanannya sendiri. Sontak Azlan pun langsung menyugar rambutnya ke belakang dan tersenyum sendiri di cermin.
“Hehehe, ternyata gue tampan sekali, pantas saja Nauma tergila-gila, menantu ganteng gini kok dihina? Harusnya bangga dong,” gumamnya sambil memegang dagu.
“Kang udah siap belum? Nanti keburu Ibu marah-marah lagi,” ucap Nauma yang sedang berdiri di ambang pintu kamar.
“Ganteng nggak Neng?”
“Ganteng banget Kang, dah yuk Kang berangkat, jangan ngaca terus, nanti kacanya jatuh cinta lagi sama Akang,” ledek Nauma.
“Bisa aja ngeledeknya Neng, yuk ah berangkat,” ajaknya sambil merangkul pundak Nauma. Dan melangkahkan kaki ke parkiran motor.
“Akang jangan ganteng-ganteng ya, di sini banyak janda kegatelan, nanti mereka naksir Akang lagi,” pinta Nauma.
Saat berada di atas motor Azlan menarik tangan Nauma dan melingkarkan tangannya di pinggang, “Gini loh Neng, dipeluk suaminya kalau di atas motor, biar mesra.”
“Ini sudah Kang, Neng jadi malu,” ucapnya. Azlan merasa kalau Nauma menyembunyikan wajahnya di punggung Azlan, Azlan hanya terkekeh dengan apa yang dilakukannya.
Dahulu mereka tidak mengenal yang namanya pacaran, begitu Azlan yakin, dia langsung melamarnya. Wajar kalau Nauma malu-malu seperti ini, dan Azlan senang melihat tingkahnya yang menggemaskan seperti.
“Jangan disembunyikan Neng, buat apa malu? Kita ‘kan sudah menikah, orang lain juga pasti memahaminya.”
“Malu tahu Kang, Akang mah iya nggak punya malu.”
Sekarang Nauma sudah mengangkat wajahnya, bahkan dagunya sudah ditopangkan di pundak Azlan. Meskipun lelah, Azlan tetap merasa bahagia jika melihat Nauma yang seperti ini.
“Pasarnya jauh banget ya Neng? Dari tadi nggak sampai-sampai.”
“Gimana mau sampai Kang? Akang saja bawa motornya Cuma dua puluh kilometer perjam, ngalah-ngalahin siput, dari tadi kita dibalap sama anak-anak yang bawa sepedah,” sewot Nauma.
Azlan tertawa, “Kan biar lama romantis-romantisannya Neng, kalau di rumah ‘kan diganggu Ibu terus.”
“Cepet atuh Kang bawanya, kalau kelamaan Ibu bisa marah,” pinta Nauma.
“Siap Neng, pegangan yang kencang ya.”
Karena Nauma yang meminta untuk mempercepat laju motor, maka Azlan melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Tidak berselang lama mereka tiba di pasar yang padat pengunjung.
“Akang mau ikut masuk atau menunggu di sini?” tanya Nauma.
“Aku ikut ke dalam ya Neng? aku takut kamu digondol Kucing garong.”
“Memangnya aku Ikan asin, sampai digondol segala Kang? Akang ini ada-ada saja.”
“Bukannya gitu Neng, wajah istri Akang ini cantiknya nggak ada yang ngalahin, Akang takut kalau ada Kucing garong yang deketin Neng, hehehe,” kekeh Azlan sambil mengikuti langkahnya.
“Cantik-cantik juga sudah ada yang punya Kang, sudahlah Akang tunggu di sini saja, Neng hanya sebentar saja.”
“Yasudah kalau begitu, aku tunggu di kedai sana ya Neng,” balasnya sambil menunjuk kedai yang dimaksud,
Nauma masuk ke dalam pasar dengan keranjang belanjaannya, sedangkan Azlan lebih memilih kedai makanan untuk menunggunya. Azlan sudah lapar sekali, niat hati tadi ingin sarapan, malah disuruh kepasar.
“Bu, ada nasi uduknya nggak?” tanyanya kepada pedagang.
“Masih atuh kasep, mau berapa?”
“Satu aja Bu, makan di sini ya,” pintanya.
“Sepertinya kamu baru ini ke pasar ya? Ibu tidak pernah melihat kamu.”
“Sering kok Bu, di dalam mimpi, hehehe.”
“Lah, kamu malah becanda, kamu bukan orang sini ya?”
“Bukan Bu, kata orang saya berasal dari kahyangan, hehehe.”
“Benar juga sih, kamu tampan sekali, mau Ibu jodohkan sama anak Ibu nggak?”
“Anak Ibu cantik?” tanya Azlan.
Baru juga bertemu Ibu pedagang nasi sudah mau menjodohkan Azlan dengan anaknya. Wajah Azlan pasti mengundang banyak Ibu-Ibu yang menginginkannya untuk menjadi menantu mereka, mereka tidak tahu saja kalau Azlan pengangguran, kalau tahu, pasti mereka akan bersikap seperti Ibu mertuanya.
“Anak Ibu ganteng,” balas pedagang sambil tertawa.
“Astaga Ibu, bisa ngelawak juga, maaf Bu, saya tidak suka terong.”
“Becanda atuh, gitu aja serius, nih nasi uduk pesanan kamu,” ucap Ibu pedagang sambil memberikan sepiring nasi uduk pesanannya.
“Terima kasih cantik,” goda Azlan.
Ibu yang ada di hadapannya tersenyum malu saat Azlan memujinya. Sepertinya semua wanita sangat suka kalau dipanggil cantik oleh kaum pria, apalagi kalau pria itu setampan Azlan.
Azlan abaikan senyuman Ibu itu, lebih baik Azlan mengisi perutnya dengan nasi, agar dia memiliki tenaga lagi. Menunggu wanita berbelanja itu sangat membosankan, nasi uduk yang tadinya penuh kini sudah habis, kopi juga begitu, tapi tetap saja Nauma tidak kunjung kelihatan.
“Neng!....” Azlan terkejut dengan kehadiran Nauma di parkiran, sontak saja Azlan berlari menghampiri Nauma, ada rasa kesal dihati saat melihatnya dengan pria lain.
“Hei!... Bayar dulu!… Kamu belum bayar!….” Teriak Ibu pedagang nasi uduk.
“Haissh, kenapa bisa lupa? Aku harus cepat ini, kalau tidak pria itu pasti menggoda Nauma,” gerutunya. Azlan berjalan dengan cepat menuju kedai nasi tadi dan membayar makanannya. Setelah membayar makanannya Azlan langsung berlari menghampiri Nauma yang sadang digoda oleh pria yang tidak dikenal.
“Neng! kamu ngapain dekat-dekat sama dia?”
“Kenalin Kang, ini teman Neng waktu sekolah, namanya Aldo,” ucap Nauma memperkenalkan temannya.
“Sini keranjangnya.” Azlan rebut keranjang Nauma yang dibawakan oleh Aldo. Mau Aldo atau siapapun namanya Azlan tidak perduli. Azlan juga melihat aura permusuhan dari tatapan pria yang ada di hadapannya.
“Ini suami kamu, yang kata orang pengangguran itu? Lebih baik kamu menikah denganku saja dari pada menikah dengan pria yang tidak jelas seperti ini,” ucap Aldo dengan nada sombong.
“Siapa yang bilang gue pengangguran?"
“Lalu, lo punya pekerjaan? Apa?!”
“Lo nanya kerjaan gue apa? Gue asisten malaikat pencabut nyawa! Nyawa Lo mau gue anterin ke malaikat maut?!” Azlan tidak menerima penghinaan, apalagi dihadapan Nauma. Azlan langsung menggulung lengan bajunya, dan bersiap menghajar Aldo.
“Sudah Kang! Sudah! Dia hanya bercanda saja, ayo! Lebih baik kita pulang saja Kang,” ajak Nauma sambil menarik lengan Azlan.
“Kasian banget sih lo ditolak sama Nauma, muka jelek aja di banggain,” ucapnya kesal, Azlan masih saja memajukan tubuhnya meskipun sudah ditahan oleh Nauma, Azlan kesal sekali dengan pria yang ada di hadapannya.
“Sudah Kang! Aldo! Lebih baik kamu pergi saja, aku tidak mau ada keributan di sini,” ucap Nauma.
“Pria kasar seperti ini yang kamu pilih dan menolakku dulu? Aku yakin kalau hidup kamu akan berantakan jika bersama dia,” balas Aldo meremehkan Azlan.