Bab 2

Nabila sholat istikharah memikirkan semua yang ada di dalam pikirannya sekarang. Kehidupan dirinya yang memang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. 

"Nak, kamu mau menikah dengan orang yang ayah pilih kan?" tanya Hadi kepada anaknya. 

Nabila memang orang yang penurut, dia sama sekali tidak bisa menolak pernikahan ini. Walau dia harus menikah dengan pria seperti Rifki. Tetapi dia akan berusaha untuk memberikan pemahaman kepada abinya tentang sosok Rofki yang sesungguhnya. 

"Aku insya Allah mau, tetapi apa dia bisa menjadi imam terbaik untukku kelak?" tanya Nabila yang sedikit meragukan sosok Rifki. 

Setahu Nabila, pria seperti dia hanya bisa pamer aurat dan menggoda kaum hawa saja. Bahkan pria itu Nabila ragukan sebagai calon imam untuk dirinya. 

Hadi menatap kearah anaknya dengan sekilas. Dia paham yang ada di dalam pikiran anaknya saat ini. 

"Nak, kamu jangan melihat seseorang dari cangkangnya saja. Ayah sudah kenal baik dengan dia dan keluarganya."

Nabila memang tidak bisa melawan sama sekali, tetapi rasanya aneh jika sosok Rifki itu bisa menjadi imam yang membimbing dirinya kelak ke surga. 

"Ayah sudah kenal dengan dia dari lama? Apa ayah tahu juga yang dia lakukan di kampus?" tanya Nabila. 

Mengingat hal tersebut, membuat dia merasa kesal. Rifki bahkan tebar pesona kepada orang lain. Ini yang membuat dia tidak nyaman. Seolah pria itu mencari perhatian kepada semua orang. 

"Memang ada apa dengan dia?"

Nabila menatap ayahnya, ini kesempatan dirinya untuk mengatakan semua yang sudah terjadi. Termasuk dengan sosok Rifki yang membuat dirinya sedikit tidak suka. 

"Dia suka tebar pesona kepada kaum hawa. Bahkan dia tidak segan memamerkan bentuk tubuhnya yang kekar."

Mendengar hal tersebut dari anaknya. Hadi malah tertawa. Baru kali ini anaknya bisa berkata seperti itu, apalagi membicarakan tentang pria. 

Nabila menaikan sebelah alisnya ketika ayahnya yang malah tertawa, memangnya ada yang lucu sekarang. 

"Kenapa ayah malah tertawa?" dengus Nabila yang sedikit tidak suka. 

"Kamu itu sangat lucu nak, bukannya ayah sudah mengatakan kalau jangan pernah menilai seseorang dari bentuk fisik dan cangkangnya saja. Kamu harus ingat dengan yang pernah ayah katakan dulu tentang sebuah hadits. 

Dari Abu Dzar, Rasulullah SAW pernah menuturkan kepadanya, "Lihatlah, sesungguhnya engkau tidaklah lebih baik dari (orang kulit) merah dan hitam kecuali jika engkau melebihkan diri dengan ketakwaan kepada Allah." (HR Ahmad)

Darrah binti Abu Lahab meriwayatkan sebuah hadits, ia berkata: 'Ada seorang laki-laki yang berdiri menemui Nabi SAW yang ketika itu tengah berada di atas mimbar, lalu ia berkata: 'Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling baik itu?' Rasulullah SAW menjawab: "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik bacaan (Al-Qur'an) nya, paling bertakwa kepada Allah SWT, paling gigih menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, dan paling giat menyambung tali silaturahmi." (HR Ahmad)

Maka dari itu, ayah tidak ingin kamu membedakan orang lain."

Nabila terdiam ketika mendengar ayahnya yang justru malah berceramah. Sebenernya bukan itu yang dimaksud oleh Nabila. 

"Ayah, aku tidak membedakan dia."

"Lalu?" tanya Hadi. 

Nabila menghela napas panjang, dia tidak akan bisa memang juga jika berdebat dengan ayahnya. Untuk sementara ini, dia akan mengikuti semua alurnya. 

Nabila juga yakin kalau Rifki pasti sekarang sedang berusaha untuk membatalkan perjodohan ini. Terlebih waktu itu Rifki menghina dirinya dengan mengatakan kalau dirinya wanita kampungan hanya dengan hijab yang sering dia gunakan. 

"Kalau begitu Nabila ke kamar dulu ayah, sepertinya aku sudah mengantuk."

Nabila mengatakan itu dan dia masuk ke dalam kamarnya. Hadi hanya tersenyum tipis sambil melirik kearah anaknya. 

Dia tahu Rifki orang seperti apa, jadi tidak kaget ketika anaknya mengatakan itu padanya. Hadi juga tahu sisi lain dari Rifki dan kehidupan pria itu. Makanya dia ingin menjodohkan anaknya dengan Rifki. 

***

Pagi hari yang cerah. 

Rifki bersiap hendak akan pergi ke kampus, dia melihat kearah meja makan di sana ada abinya. Ibu tirinya dan adik tirinya. Orang yang melihat itu pasti akan mengira keluarga bahagia. Tetapi Rifki tidak mau bergabung dengan mereka. Terlebih ada sosok wanita yang Rifki benci, yaitu wanita yang sudah merebut abinya dari uminya. 

"Pagi Kak Rifki," sapa Hafiz adik tiri yang hanya beda satu tahun dengan dirinya. 

"Rifki sarapan dulu," ujar Quraish pada anaknya.

Rifki menoleh di meja tersebut dia melihat abinya bersama dengan wanita yang dia benci. Lalu dia melihat anak dari wanita itu juga. Rifki enggan jika harus makan bersama dengan mereka. 

"Aku sudah kenyang hanya dengan melihat kalian saja. Lagian aku tidak mau duduk bersama dengan wanita yang sudah membuat umi sakit hingga meninggal." 

"Rifki jaga kesopanan kamu!" marah Quraish sambil memegangi jantungnya. 

"Sudah mas, jangan seperti itu. Biarkan Rifki melakukan yang dia inginkan saja." Hana hanya mengatakan itu memberitahu suaminya. 

Rifki yang melihat itu malah tersenyum sinis. Wanita itu memang pandai sekali membuat abinya seperti itu. Lalu dia melihat kearah anak wanita itu yang hanya diam ditengah pertengkaran mereka. Pria pengecut menurut Rifki, hanya tampangnya saja yang terlihat alim. 

"Aku pamit, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Rifki pergi dengan begitu saja, dia sebenarnya tidak ingin mempunyai keluarga yang seperti itu. Apalagi hidup dengan wanita yang sudah merusak kebahagiaan dari uminya. 

Membayangkan kejadian yang sudah terjadi dengan uminya di masa lalu membuat hatinya kian merasa sakit. Andai saja wanita itu tidak datang ke pada abinya. Pasti uminya sampai sekarang masih hidup. 

"Maafkan aku ummi," gumam Rifki dengan sendu. 

Dia melanjutkan mesin mobilnya dengan kecepatan sedang. Membayangkan masa lalu yang membuat dia merasa sakit. 

Ketika pikiran dirinya sedang kacau, hingga dia tidak merasakan kalau dihadapannya terdapat seseorang. Rifki dengan cepat akhirnya mengerem dengan mendadak. 

Citt...

Kepala Rifki terbentur, dia berusaha untuk bangkit tetapi dia terlalu lemah. Sampai ada seseorang yang mengetuk pintu mobilnya. 

"Permisi, Mas tidak papa?"

Samar suara seseorang yang menurut dirinya tidak asing. Dia berusaha untuk membuka kunci mobilnya. Sampai orang tersebut berhasil membuka pintunya. 

"Tolong," ujar Rifki yang berusaha untuk dirinya sekarang. 

"Astaghfirullah, Innalilahi Rifki," ujar seseorang yang memang tidak asing dengan dirinya. 

Wanita itu menutup mulutnya karena sedikit terkejut dengan keadaan Rifki sekarang. Apalagi pelipis pria itu yang mengeluarkan darah. 

"Tolong," gumam Rifki. 

Samar-samar Rifki melihat orang tersebut yang membuka mobilnya, wanita berhijab warna pink. Hingga kesadarannya menghilang dan dia tidak menyadarinya lagi. 

BERSAMBUNG

Bab 3

Informasi tentang Rifki yang kecelakaan dan hendak akan menabrak anak kecil pun menjadi viral. Beruntung anak kecil tersebut diselamatkan oleh seorang wanita. 

Keadaan Rifki sekarang sedang dibawa ke rumah sakit. Dia sedang di rawat di sini sekarang. 

Hana sedang menonton televisi sendiri, sampai ada sebuah berita yang menarik untuk dirinya. Hingga dia melihat kalau orang yang ada di dalam mobil tersebut adalah Rifki.

"Astagfirullah, Mas liat itu Rifki sedang kecelakaan."

Quraish menghampiri istrinya yang terlihat sangat heboh, lalu dia melihat tangan istrinya yang menunjuk kearah televisi. Di sana ada sebuah berita tentang kecelakaan. Matanya terkejut ketika melihat anaknya yang ada di sana. Apalagi dia melihat seorang wanita yang menggunakan hijab warna pink itu menolong sang anak. 

"Kita harus datang ke sana," ujar Quraish yang mengambil kunci mobilnya. 

Hana setuju dengan usulan yang dikatakan oleh suaminya. Dia akan menemani suaminya datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan anaknya. 

"Iya Mas. Aku juga ikut."

"Kamu yakin? Bagaimana kalau anak itu membenci kamu?" tanya Quraish yang merasa kasian dengan istri barunya. Apalagi dia tahu kalau Rifki masih merasa benci dengan Hana karena posisinya sebagai ibu tirinya. 

Hana meyakinkan dirinya sendiri, dia sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Dia sudah pasrah dengan resiko yang dia ambil sekarang. 

"Aku tidak merasa keberatan mas. Yang penting aku hanya ingin melihat keadaan Rifki saja. Kalau dia baik-baik saja, aku merasa tenang."

Hana mengatakan itu dengan tersenyum tipis. Quraish merangkul istrinya, dia tahu betapa beratnya Hana yang harus menganggap Rifki sebagai anaknya sendiri, sedangkan anak itu selalu menghina dirinya. 

"Kamu memang orang yang tulus."

Hana tersenyum tipis dan akhirnya dia bersama dengan suaminya untuk datang ke rumah sakit, dia ingin melihat keadaan Rifki sekarang.  

****

Sementara di rumah sakit. 

Rifki baru saja membuka matanya, dia merasa pusing dan mencium bau ciri khas rumah sakit. Rifki jadi teringat dengan kecelakaan yang sudah menimpa dirinya. 

"Kamu sudah bangun."

Rifki menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya. Tiba-tiba dia teringat dengan suara wanita yang menolong dirinya dari mobil. Jadi benar kalau wanita itu yang sudah menolong dirinya.

"Kamu yang menolong aku? Bagaimana keadaan anak kecil itu?" tanya Rifki yang teringat dengan anak kecil yang hampir dia tabrak waktu itu. 

"Dia baik-baik saja. Kakinya hanya terluka lecet saja," terang Nabila.

"Syukurlah kalau begitu, terimakasih banyak karena sudah menolongku," gumam Rifki. 

Nabila merasa lega karena Rifki yang sudah sadar sekarang, awalnya dia melihat anak kecil yang sedang menyebrang jalan. Sampai mobil tersebut banting setir agar tidak melukai anak kecil tersebut. 

Nabila bersyukur karena anak kecil itu hanya lecet dan sudah dibawa oleh kedua orangtuanya. Berbeda dengan Rifki yang tadi masih di dalam mobil. Akhirnya Nabila memutuskan untuk menolongnya dan para masyarakat sekitar juga ikut membantu dan ada juga yang malah membuat video agar viral, ini yang membuat Nabila kurang suka. Bukannya langsung membantu, orang-orang di sana malah lebih dulu mengambil video. 

"Iya sama-sama, semoga kamu cepat sembuh. Tadi aku banyak melihat orang-orang mengambil video, mungkin saja sebentar lagi kamu akan jadi bahan pembicaraan," ujar Nabila. 

Rifki terdiam ketika mendengar ucapan dari Nabila barusan. Ada perasaan yang membuat dia tidak suka dengan perkataan Nabila barusan. 

Sampai tiba-tiba kedua orangtuanya Rifki masuk ke dalam ruangan ini. Quraish sedikit terkejut ketika melihat wanita yang ada disamping anaknya. 

"Abi mendengar kalau kamu menabrak anak kecil, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Quraish. 

"Aku baik-baik saja, hanya luka ringan, lebih baik abi pergi dari sini karena aku tidak mau melihat wanita itu," ketus Rifki yang memang tidak mau melihat ibu tirinya. Rasa benci masih di pendam dalam hatinya. 

Quraish hendak akan marah, tetapi menyadari kalau di sini ada Nabila, akhirnya dia langsung menyapa calon menantunya itu. 

"Nabila, kamu di sini menunggu Rifki?" tanya Quraish. 

Nabila gugup ketika mendengar hal tersebut, apalagi dari memang awalnya akan dijodohkan dengan Rifki. Pria yang dijuluki penggoda iman kaum hawa. 

"Kebetulan aku ada di tempat kejadian dan mengikuti orang yang membawa Rifki, maafkan aku Om. Tadinya akan menghubungi pihak keluarga, tetapi karena aku tidak punya jadi bingung."

Nabila berkata jujur karena memang dia tidak punya nomor kedua orangtuanya Rifki tersebut. 

Quraish hanya tersenyum sambil menatap kearah Nabila. Dia merasa kalau memang Nabila adalah wanita yang cocok dengan Rifki. 

"Kamu juga sudah mendengar dengan perjodohan yang akan dilakukan oleh kita. Apa kamu sudah setuju Nabila?" tanya Quraish. 

Nabila melirik kearah Rifki dengan sekilas, dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang. 

"Bukannya aku sudah bilang ingin abu keluar, kenapa sekarang malah membahas perjodohan," kesal Rifki. 

"Tidak ada salahnya bukan jika Abi bertanya dulu dengan Nabila. Jika Nabila tidak mau dengan kamu, maka Abi akan menjodohkan dia dengan adikmu," ujar Quraish membuat Rifki mengepalkan tangannya. 

Apalagi dia paling benci dengan adik tirinya. Rifki tidak akan membiarkan Hafiz yang menikah dengan Nabila. 

"Abi tidak bisa melempar Nabila seperti itu, jangan samakan Nabila dengan barang," ujar Rifki. 

Nabila sendiri merasa kebingungan dengan pembahasan antara anak dan ayah tersebut. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apalagi. 

Rifki menoleh kearah Nabila dengan sekilas. "Aku akan menerima perjodohan ini."

Deg 

Jantung Nabila tiba-tiba berdebar ketika mendengar hal tersebut, napasnya tercekat seolah tidak yakin kalau Rifki bisa mengatakan ini padanya. 

Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apapun lagi, dia sudah menerima semuanya.

"Jadi kamu sudah menerima penjodohan ini?" tanya Quraish lagi. 

"Iya, aku sudah menerimanya," jawab Rifki. 

"Kamu juga sudah setuju Nabila?" tanya Quraish kepada Nabila. 

Nabila yang ditanya seperti itu pun merasa gugup sendiri. Dia merasa ragu kalau Rifki benar-benar mau dijodohkan dengan dirinya. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apalagi. 

"Aku insya allah sudah setuju," ujar Nabila. 

Quraish yang mendengar hal tersebut pun akhirnya ikut bahagia. Apalagi mendengar berita yang satu ini. Nabila sudah menyetujui untuk menikah dengan Rifki. 

"Kalau begitu, nanti Abi akan datang ke rumahmu bersama dengan Rifki untuk mendiskusikan tentang pernikahan kalian."

Nabila hanya mengangguk saja, "Baik, kalau begitu aku permisi dulu."

Nabila teringat kalau dia masih harus ke kampus sekarang. Dia berpamitan dengan sopan kepada kedua orangtuanya Rifki. 

Walaupun sebenarnya Nabila sedikit curiga dengan Rifki yang nampak tidak menyukai wanita yang ada dihadapannya itu. 

"Jaga Rifki baik-baik jika kamu menjadi istrinya," nasehat Hana kepada Nabila. 

Nabila hanya mengangguk sambil keluar memegang pintu. "Assalamualaikum."

Dia berpamitan setelah mengatakan hal tersebut. Ada perasaan dirinya yang merasa lega sekarang. Nabila akhirnya memutuskan untuk pergi dari sini. 

BERSAMBUNG

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED