Rifki tersenyum dengan lembut di hadapan semua orang. Dia memang ramah pada semua orang kecuali dengan wanita yang bernama Nabila. Apalagi ketika dirinya tau kalau dia akan dijodohkan dengan wanita cupu seperti Nabila.
Menurut Rifki wanita seperti Nabila jauh dari standarnya. Apalagi dengan hijab yang begitu lebar membuat dia merasa tidak nyaman jika dekat dengan wanita itu.
"Wah Rifki keren banget tampan lagi," puji salah satu teman Nabila yang melihat kearah Rifki.
Nabila hanya memutar bola matanya dengan jengah ketika melihat temannya memuji pria itu. Menurutnya itu terlalu berlebihan sama sekali, dia hanya seorang selegram yang memiliki follower banyak di media sosial dan banyak hanya bermodalkan sebuah foto yang menggoda iman para wanita.
"Tampan dari mana? Pria yang terlihat tengil seperti itu, tidak bisa dikatakan tampan," ujar Nabila.
Apalagi sosok yang disukai oleh Nabila adalah tipe seorang ustadz yang memang pandai menceramahi orang. Memberikan sebuah kata bijak untuk menasehati semua orang.
"Mata kamu buka Nabila, dia tampan. Buktinya semua orang mengidolakan dia," ujar Tia kepada Nabila.
"Kecuali aku, dia sama sekali bukan tipeku!" balas Nabila.
Pada saat yang bersamaan, Rifki mendengar ucapan dari Nabila barusan. Dia sedikit merasa tersinggung dengan ucapan wanita itu. Tentu saja dia kesal karena hanya Nabila yang tidak menyukai dirinya.
Belum lagi Nabila adalah wanita yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan dirinya. Memang Rifki tidak menyukai Nabila karena wanita itu terlihat kampungan dengan hijab panjang seperti itu. Tetapi dia tidak suka Nabila malah mengatakan itu dihadapan orang.
"Sudah akuin saja kalau aku memang tampan," ujar Rifiki yang sengaja membuka bajunya menampilkan otot kekarnya di hadapan Nabila.
Rifki memang sengaja ingin menggoda iman Nabila, apalagi menurutnya Nabila terlalu alim dan kaku. Itu yang membuat Rifki tidak suka dengan Nabila.
Tia yang ada di sana malah terkejut, dia tidak menyangka kalau akan melihat Rifki langsung seperti ini. Belum lagi pria itu menampilkan perut kotak-kotak miliknya.
"Hei apa yang kamu lakukan? Sudah sana pakai bajumu!" perintah Nabila sambil berteriak dengan kencang.
Pria yang dihadapannya memang tidak tahu malu sama sekali, apalagi perutnya itu adalah sebuah aurat. Benar-benar pria yang tidak paham dengan agama.
Bahkan Nabila sendiri teringat dengan perkataan ustadz yang sering menceramahinya.
Imam Hanafi dan Hanbali menyatakan bahwa batasan aurat laki-laki yang wajib ditutup adalah antara pusar dan lutut, kecuali untuk istrinya
Tidak menyangka kalau dia juga akan seperti ini nantinya.
"Dasar wanita sok polos!" maki Rifki pada Nabila yang ketakutan melihat dirinya.
Rifki lalu pergi meninggalkan Nabila dari tempat ini Dia memang sengaja melakukan itu semuanya agar Nabila mau membatalkan perjodohan dirinya dengan wanita itu. Bisa bahaya kalau sampai banyak orang yang tahu kalau dirinya dijodohkan dengan Nabila.
"Apa kamu bilang?"
"Wanita sepertimu tidak cocok denganku. Kamu pikir aku mau menerima perjodohan ini? Kalau bukan karena permintaan kedua orangtuaku, maka aku tidak akan mau menerimanya," bisik Rifki ditelinga Nabila.
Berbeda dengan Nabila dan menjauhkan Rifki dari dirinya, pria itu sudah berani berdekatan dengan dirinya seperti ini.
Tia menaikan sebelah alisnya ketika melihat Nabila yang malah terlihat akrab dengan Rifki, tetapi wanita itu bilang tadi tidak suka dengan Rifki.
"Kamu dekat dengan dia?" tanya Tia.
Nabila melirik kearah Tia, tidak mungkin kalau dia mengatakan semuanya kalau dia dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan sosok seperti Rifki.
***
Di rumah milik Rifki.
Dia terlihat kesal karena ayahnya terus saja memaksa dia menikah dengan Nabila. Jelas Rifki tidak setuju dengan hal tersebut. Apalagi Rifki yang sangat benci dengan ayahnya.
"Aku tidak mau menikah dengan wanita kampungan seperti Nabila."
"RIFKI!" Quraish ayah dari Rifki beteriak keras karena anaknya menolak permintaan dirinya.
"Kenapa? Abi ingi aku menikah dengan dia? Aku tidak mau dia bernasib seperti Umi!"
Rifki mengatakan itu karena dia masih marasa trauma. Jelas abinya tidak mencintai uminya dan abinya malah menikah dengan wanita lain yang sekarang menjadi ibu tirinya.
"Itu berbeda nak."
"Aku tidak mau dengarkan perkataan Abi. Aku tetap menolak perjodohan itu!" ujar Rifki yang memutuskan untuk pergi dari sini.
"Sabar yah mas." Hana kedua dari Quraish hanya bisa menenangkan suaminya saja. Dia tidak mau kalau sampai suaminya sakit karena memikirkan anak sulungnya.
"Kamu yang sabar yah, jangan terbawa emosi," saran Hana.
Rifki diam-diam memperhatikan hal tersebut, dia tampak kesal karena wanita pelakor itu bisa hidup bahagia dengan abinya. Tetapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghancurkan wanita itu dengan anaknya.
"Kalau Rifki tidak mau menikah dengan Nabila, maka biarkan Hafiz saja yang menikah dengan beliau," saran Hana kepada Quraish.
"Apa Hafiz mau?" tanya Quraish kepada sang istri.
“Insya Allah dia pasti akan mau menerima,” terang Hana.
Rifki diam-diam mendengar perkataan tersebut, bahkan sekarang wanita pelakor itu malah menyarankan anaknya untuk menikah dengan Nabila.
Hafiz saudara tirinya yang selalu dibandingkan terus dengan dirinya. Membuat Rifki merasa sangat muak, terlihat pria itu berpenampilan alim yang membuat dia kesal.
Sampai akhirnya Rifki memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, memikirkan Nabila wanita berhijab itu akan menikah dengan Hafiz membuat hatinya merasa tidak tenang.
Ada apa dengan hatinya sekarang? Dia tidak akan membiarkan Hafiz menang nanti. Dia juga ingin tinggal sendiri dan muak kalau tinggal di rumah ini.
BERSAMBUNG
Nabila sholat istikharah memikirkan semua yang ada di dalam pikirannya sekarang. Kehidupan dirinya yang memang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Nak, kamu mau menikah dengan orang yang ayah pilih kan?" tanya Hadi kepada anaknya.
Nabila memang orang yang penurut, dia sama sekali tidak bisa menolak pernikahan ini. Walau dia harus menikah dengan pria seperti Rifki. Tetapi dia akan berusaha untuk memberikan pemahaman kepada abinya tentang sosok Rofki yang sesungguhnya.
"Aku insya Allah mau, tetapi apa dia bisa menjadi imam terbaik untukku kelak?" tanya Nabila yang sedikit meragukan sosok Rifki.
Setahu Nabila, pria seperti dia hanya bisa pamer aurat dan menggoda kaum hawa saja. Bahkan pria itu Nabila ragukan sebagai calon imam untuk dirinya.
Hadi menatap kearah anaknya dengan sekilas. Dia paham yang ada di dalam pikiran anaknya saat ini.
"Nak, kamu jangan melihat seseorang dari cangkangnya saja. Ayah sudah kenal baik dengan dia dan keluarganya."
Nabila memang tidak bisa melawan sama sekali, tetapi rasanya aneh jika sosok Rifki itu bisa menjadi imam yang membimbing dirinya kelak ke surga.
"Ayah sudah kenal dengan dia dari lama? Apa ayah tahu juga yang dia lakukan di kampus?" tanya Nabila.
Mengingat hal tersebut, membuat dia merasa kesal. Rifki bahkan tebar pesona kepada orang lain. Ini yang membuat dia tidak nyaman. Seolah pria itu mencari perhatian kepada semua orang.
"Memang ada apa dengan dia?"
Nabila menatap ayahnya, ini kesempatan dirinya untuk mengatakan semua yang sudah terjadi. Termasuk dengan sosok Rifki yang membuat dirinya sedikit tidak suka.
"Dia suka tebar pesona kepada kaum hawa. Bahkan dia tidak segan memamerkan bentuk tubuhnya yang kekar."
Mendengar hal tersebut dari anaknya. Hadi malah tertawa. Baru kali ini anaknya bisa berkata seperti itu, apalagi membicarakan tentang pria.
Nabila menaikan sebelah alisnya ketika ayahnya yang malah tertawa, memangnya ada yang lucu sekarang.
"Kenapa ayah malah tertawa?" dengus Nabila yang sedikit tidak suka.
"Kamu itu sangat lucu nak, bukannya ayah sudah mengatakan kalau jangan pernah menilai seseorang dari bentuk fisik dan cangkangnya saja. Kamu harus ingat dengan yang pernah ayah katakan dulu tentang sebuah hadits.
Dari Abu Dzar, Rasulullah SAW pernah menuturkan kepadanya, "Lihatlah, sesungguhnya engkau tidaklah lebih baik dari (orang kulit) merah dan hitam kecuali jika engkau melebihkan diri dengan ketakwaan kepada Allah." (HR Ahmad)
Darrah binti Abu Lahab meriwayatkan sebuah hadits, ia berkata: 'Ada seorang laki-laki yang berdiri menemui Nabi SAW yang ketika itu tengah berada di atas mimbar, lalu ia berkata: 'Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling baik itu?' Rasulullah SAW menjawab: "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik bacaan (Al-Qur'an) nya, paling bertakwa kepada Allah SWT, paling gigih menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, dan paling giat menyambung tali silaturahmi." (HR Ahmad)
Maka dari itu, ayah tidak ingin kamu membedakan orang lain."
Nabila terdiam ketika mendengar ayahnya yang justru malah berceramah. Sebenernya bukan itu yang dimaksud oleh Nabila.
"Ayah, aku tidak membedakan dia."
"Lalu?" tanya Hadi.
Nabila menghela napas panjang, dia tidak akan bisa memang juga jika berdebat dengan ayahnya. Untuk sementara ini, dia akan mengikuti semua alurnya.
Nabila juga yakin kalau Rifki pasti sekarang sedang berusaha untuk membatalkan perjodohan ini. Terlebih waktu itu Rifki menghina dirinya dengan mengatakan kalau dirinya wanita kampungan hanya dengan hijab yang sering dia gunakan.
"Kalau begitu Nabila ke kamar dulu ayah, sepertinya aku sudah mengantuk."
Nabila mengatakan itu dan dia masuk ke dalam kamarnya. Hadi hanya tersenyum tipis sambil melirik kearah anaknya.
Dia tahu Rifki orang seperti apa, jadi tidak kaget ketika anaknya mengatakan itu padanya. Hadi juga tahu sisi lain dari Rifki dan kehidupan pria itu. Makanya dia ingin menjodohkan anaknya dengan Rifki.
***
Pagi hari yang cerah.
Rifki bersiap hendak akan pergi ke kampus, dia melihat kearah meja makan di sana ada abinya. Ibu tirinya dan adik tirinya. Orang yang melihat itu pasti akan mengira keluarga bahagia. Tetapi Rifki tidak mau bergabung dengan mereka. Terlebih ada sosok wanita yang Rifki benci, yaitu wanita yang sudah merebut abinya dari uminya.
"Pagi Kak Rifki," sapa Hafiz adik tiri yang hanya beda satu tahun dengan dirinya.
"Rifki sarapan dulu," ujar Quraish pada anaknya.
Rifki menoleh di meja tersebut dia melihat abinya bersama dengan wanita yang dia benci. Lalu dia melihat anak dari wanita itu juga. Rifki enggan jika harus makan bersama dengan mereka.
"Aku sudah kenyang hanya dengan melihat kalian saja. Lagian aku tidak mau duduk bersama dengan wanita yang sudah membuat umi sakit hingga meninggal."
"Rifki jaga kesopanan kamu!" marah Quraish sambil memegangi jantungnya.
"Sudah mas, jangan seperti itu. Biarkan Rifki melakukan yang dia inginkan saja." Hana hanya mengatakan itu memberitahu suaminya.
Rifki yang melihat itu malah tersenyum sinis. Wanita itu memang pandai sekali membuat abinya seperti itu. Lalu dia melihat kearah anak wanita itu yang hanya diam ditengah pertengkaran mereka. Pria pengecut menurut Rifki, hanya tampangnya saja yang terlihat alim.
"Aku pamit, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rifki pergi dengan begitu saja, dia sebenarnya tidak ingin mempunyai keluarga yang seperti itu. Apalagi hidup dengan wanita yang sudah merusak kebahagiaan dari uminya.
Membayangkan kejadian yang sudah terjadi dengan uminya di masa lalu membuat hatinya kian merasa sakit. Andai saja wanita itu tidak datang ke pada abinya. Pasti uminya sampai sekarang masih hidup.
"Maafkan aku ummi," gumam Rifki dengan sendu.
Dia melanjutkan mesin mobilnya dengan kecepatan sedang. Membayangkan masa lalu yang membuat dia merasa sakit.
Ketika pikiran dirinya sedang kacau, hingga dia tidak merasakan kalau dihadapannya terdapat seseorang. Rifki dengan cepat akhirnya mengerem dengan mendadak.
Citt...
Kepala Rifki terbentur, dia berusaha untuk bangkit tetapi dia terlalu lemah. Sampai ada seseorang yang mengetuk pintu mobilnya.
"Permisi, Mas tidak papa?"
Samar suara seseorang yang menurut dirinya tidak asing. Dia berusaha untuk membuka kunci mobilnya. Sampai orang tersebut berhasil membuka pintunya.
"Tolong," ujar Rifki yang berusaha untuk dirinya sekarang.
"Astaghfirullah, Innalilahi Rifki," ujar seseorang yang memang tidak asing dengan dirinya.
Wanita itu menutup mulutnya karena sedikit terkejut dengan keadaan Rifki sekarang. Apalagi pelipis pria itu yang mengeluarkan darah.
"Tolong," gumam Rifki.
Samar-samar Rifki melihat orang tersebut yang membuka mobilnya, wanita berhijab warna pink. Hingga kesadarannya menghilang dan dia tidak menyadarinya lagi.
BERSAMBUNG
Informasi tentang Rifki yang kecelakaan dan hendak akan menabrak anak kecil pun menjadi viral. Beruntung anak kecil tersebut diselamatkan oleh seorang wanita.
Keadaan Rifki sekarang sedang dibawa ke rumah sakit. Dia sedang di rawat di sini sekarang.
Hana sedang menonton televisi sendiri, sampai ada sebuah berita yang menarik untuk dirinya. Hingga dia melihat kalau orang yang ada di dalam mobil tersebut adalah Rifki.
"Astagfirullah, Mas liat itu Rifki sedang kecelakaan."
Quraish menghampiri istrinya yang terlihat sangat heboh, lalu dia melihat tangan istrinya yang menunjuk kearah televisi. Di sana ada sebuah berita tentang kecelakaan. Matanya terkejut ketika melihat anaknya yang ada di sana. Apalagi dia melihat seorang wanita yang menggunakan hijab warna pink itu menolong sang anak.
"Kita harus datang ke sana," ujar Quraish yang mengambil kunci mobilnya.
Hana setuju dengan usulan yang dikatakan oleh suaminya. Dia akan menemani suaminya datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan anaknya.
"Iya Mas. Aku juga ikut."
"Kamu yakin? Bagaimana kalau anak itu membenci kamu?" tanya Quraish yang merasa kasian dengan istri barunya. Apalagi dia tahu kalau Rifki masih merasa benci dengan Hana karena posisinya sebagai ibu tirinya.
Hana meyakinkan dirinya sendiri, dia sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Dia sudah pasrah dengan resiko yang dia ambil sekarang.
"Aku tidak merasa keberatan mas. Yang penting aku hanya ingin melihat keadaan Rifki saja. Kalau dia baik-baik saja, aku merasa tenang."
Hana mengatakan itu dengan tersenyum tipis. Quraish merangkul istrinya, dia tahu betapa beratnya Hana yang harus menganggap Rifki sebagai anaknya sendiri, sedangkan anak itu selalu menghina dirinya.
"Kamu memang orang yang tulus."
Hana tersenyum tipis dan akhirnya dia bersama dengan suaminya untuk datang ke rumah sakit, dia ingin melihat keadaan Rifki sekarang.
****
Sementara di rumah sakit.
Rifki baru saja membuka matanya, dia merasa pusing dan mencium bau ciri khas rumah sakit. Rifki jadi teringat dengan kecelakaan yang sudah menimpa dirinya.
"Kamu sudah bangun."
Rifki menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya. Tiba-tiba dia teringat dengan suara wanita yang menolong dirinya dari mobil. Jadi benar kalau wanita itu yang sudah menolong dirinya.
"Kamu yang menolong aku? Bagaimana keadaan anak kecil itu?" tanya Rifki yang teringat dengan anak kecil yang hampir dia tabrak waktu itu.
"Dia baik-baik saja. Kakinya hanya terluka lecet saja," terang Nabila.
"Syukurlah kalau begitu, terimakasih banyak karena sudah menolongku," gumam Rifki.
Nabila merasa lega karena Rifki yang sudah sadar sekarang, awalnya dia melihat anak kecil yang sedang menyebrang jalan. Sampai mobil tersebut banting setir agar tidak melukai anak kecil tersebut.
Nabila bersyukur karena anak kecil itu hanya lecet dan sudah dibawa oleh kedua orangtuanya. Berbeda dengan Rifki yang tadi masih di dalam mobil. Akhirnya Nabila memutuskan untuk menolongnya dan para masyarakat sekitar juga ikut membantu dan ada juga yang malah membuat video agar viral, ini yang membuat Nabila kurang suka. Bukannya langsung membantu, orang-orang di sana malah lebih dulu mengambil video.
"Iya sama-sama, semoga kamu cepat sembuh. Tadi aku banyak melihat orang-orang mengambil video, mungkin saja sebentar lagi kamu akan jadi bahan pembicaraan," ujar Nabila.
Rifki terdiam ketika mendengar ucapan dari Nabila barusan. Ada perasaan yang membuat dia tidak suka dengan perkataan Nabila barusan.
Sampai tiba-tiba kedua orangtuanya Rifki masuk ke dalam ruangan ini. Quraish sedikit terkejut ketika melihat wanita yang ada disamping anaknya.
"Abi mendengar kalau kamu menabrak anak kecil, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Quraish.
"Aku baik-baik saja, hanya luka ringan, lebih baik abi pergi dari sini karena aku tidak mau melihat wanita itu," ketus Rifki yang memang tidak mau melihat ibu tirinya. Rasa benci masih di pendam dalam hatinya.
Quraish hendak akan marah, tetapi menyadari kalau di sini ada Nabila, akhirnya dia langsung menyapa calon menantunya itu.
"Nabila, kamu di sini menunggu Rifki?" tanya Quraish.
Nabila gugup ketika mendengar hal tersebut, apalagi dari memang awalnya akan dijodohkan dengan Rifki. Pria yang dijuluki penggoda iman kaum hawa.
"Kebetulan aku ada di tempat kejadian dan mengikuti orang yang membawa Rifki, maafkan aku Om. Tadinya akan menghubungi pihak keluarga, tetapi karena aku tidak punya jadi bingung."
Nabila berkata jujur karena memang dia tidak punya nomor kedua orangtuanya Rifki tersebut.
Quraish hanya tersenyum sambil menatap kearah Nabila. Dia merasa kalau memang Nabila adalah wanita yang cocok dengan Rifki.
"Kamu juga sudah mendengar dengan perjodohan yang akan dilakukan oleh kita. Apa kamu sudah setuju Nabila?" tanya Quraish.
Nabila melirik kearah Rifki dengan sekilas, dia tidak tahu harus menjawab apa sekarang.
"Bukannya aku sudah bilang ingin abu keluar, kenapa sekarang malah membahas perjodohan," kesal Rifki.
"Tidak ada salahnya bukan jika Abi bertanya dulu dengan Nabila. Jika Nabila tidak mau dengan kamu, maka Abi akan menjodohkan dia dengan adikmu," ujar Quraish membuat Rifki mengepalkan tangannya.
Apalagi dia paling benci dengan adik tirinya. Rifki tidak akan membiarkan Hafiz yang menikah dengan Nabila.
"Abi tidak bisa melempar Nabila seperti itu, jangan samakan Nabila dengan barang," ujar Rifki.
Nabila sendiri merasa kebingungan dengan pembahasan antara anak dan ayah tersebut. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apalagi.
Rifki menoleh kearah Nabila dengan sekilas. "Aku akan menerima perjodohan ini."
Deg
Jantung Nabila tiba-tiba berdebar ketika mendengar hal tersebut, napasnya tercekat seolah tidak yakin kalau Rifki bisa mengatakan ini padanya.
Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apapun lagi, dia sudah menerima semuanya.
"Jadi kamu sudah menerima penjodohan ini?" tanya Quraish lagi.
"Iya, aku sudah menerimanya," jawab Rifki.
"Kamu juga sudah setuju Nabila?" tanya Quraish kepada Nabila.
Nabila yang ditanya seperti itu pun merasa gugup sendiri. Dia merasa ragu kalau Rifki benar-benar mau dijodohkan dengan dirinya. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apalagi.
"Aku insya allah sudah setuju," ujar Nabila.
Quraish yang mendengar hal tersebut pun akhirnya ikut bahagia. Apalagi mendengar berita yang satu ini. Nabila sudah menyetujui untuk menikah dengan Rifki.
"Kalau begitu, nanti Abi akan datang ke rumahmu bersama dengan Rifki untuk mendiskusikan tentang pernikahan kalian."
Nabila hanya mengangguk saja, "Baik, kalau begitu aku permisi dulu."
Nabila teringat kalau dia masih harus ke kampus sekarang. Dia berpamitan dengan sopan kepada kedua orangtuanya Rifki.
Walaupun sebenarnya Nabila sedikit curiga dengan Rifki yang nampak tidak menyukai wanita yang ada dihadapannya itu.
"Jaga Rifki baik-baik jika kamu menjadi istrinya," nasehat Hana kepada Nabila.
Nabila hanya mengangguk sambil keluar memegang pintu. "Assalamualaikum."
Dia berpamitan setelah mengatakan hal tersebut. Ada perasaan dirinya yang merasa lega sekarang. Nabila akhirnya memutuskan untuk pergi dari sini.
BERSAMBUNG