Aku menelan ludah dengan susah payah. Pandangan tajam ini mengabur dengan sendirinya karena kaca-kaca yang mulai menutupi bola mata.
Sumpah demi apa pun, hatiku sakit. Sakit karena pengkhianatan Bastian dan Novita, juga karena ucapan busuknya.
Aku ingin lebih memaki, tetapi rasanya percuma.
Akhirnya aku membalikkan badan tanpa berkata-kata lagi. Lalu membawa kaki ini melangkah keluar. Meninggalkan ruangan yang baru saja digunakan perbuatan terkutuk manusia-manusia laknat itu.
“Ini salahmu, kenapa tidak mengunci pintunya?”
Langkahku terhenti di depan kamar saat mendengar suara Bastian. Walaupun tidak jelas karena diucapkan dengan mendesis, tetapi telingaku cukup baik menangkapnya.
“Mana aku tahu dia mau ke sini?” Itu Novita yang menimpali. “Sudah kubilang lebih baik ke hotel seperti biasa. Tapi kamu malah mau di sini. Salahku di mana?”
“Sial!” Bastian mengumpat.
Aku memejam dengan kuat. Satu kesimpulan yang dapat diambil dari dialog singkat mereka, jika ini bukan yang pertama dan sebuah kekhilafan seperti yang selalu diucapkan lelaki itu.
Dan satu tekadku yang tidak akan dapat diubah lagi, pembatalan pernikahan.
**
“Memalukan!”
Plak!
Umpatan kasar disertai sebuah tamparan mendarat di pipi Bastian, sementara aku sengaja menutup mataku saat adegan itu terjadi.
Aku mengerti Om Benny pasti terpukul dan marah mengetahui jika anak kesayangannya melakukan hal nista beberapa hari menjelang hari pernikahannya.
“Apa yang kamu lakukan, Benny? Jangan memukul anakku!” Wanita setengah bule yang sejak tadi memeluk Bastian bereaksi keras saat tamparan mendarat dan meninggalkan jejak kemerahan di pipi pemuda itu. Wanita itu mengusap pipi Bastian dengan lembut sembari menatap suaminya dengan mata terbelalak.
“Anakmu pantas mendapatkanya, Esther! Lihat apa yang sudah diperbuatnya? Ia membuat malu keluarga kita dengan meniduri calon iparnya sendiri!” Om Benny berbalik menghadap wanita setengah bule yang masih saja memeluk dan membelai pipi Bastian. “Penikahan ini terancam batal. Mau ditaruh di mana muka kita, hah?”
Aku tahu Tante Esther sangat menyayangi Bastian. Bahkan masih memperlakukannya berlebihan seperti anak kecil. Karenanya ia tidak terima suaminya sendiri memukul Bastian.
“Sudah bilang ia hanya khilaf. Apa kamu tidak mendengarnya?” balas Tante Esther tidak mau kalah. “Lagi pula sejak awal aku kurang setuju anakku menikahi gadis biasa-biasa saja. Mentari tidak sebanding dengan anak kita. Ia bahkan tidak memiliki pekerjaan dan komunitas. Ia terlalu rumahan untuk anak kita yang merupakan calon penerus Hanggara Enterprise!”
Aku menggigit bibir dengan kuat. Kepala menunduk dalam. Ucapan ibunya Bastian menorehkan luka baru di atas luka yang sudah ada.
Ya, aku memang hanya gadis biasa. Keadaan menjadikanku demikian.
Meskipun sebelumnya bisa dibilang keluargaku hidup nyaman dan jauh berkecukupan, semuanya sudah tak berbekas. Ditambah lagi, karena tekanan ibu tiriku, ayah terpaksa memberhentikan kuliahku dengan alasan keuangan perusahaan sedang tidak stabil.
“Tapi Mentari itu cucu kandung keluarga Baskara yang sudah menolong keluarga kita dulu!”
“Itu kan, dulu! Lagi pula, ayahmulah yang berhutang budi dengan keluarga Baskara, kenapa harus Bastian yang membayar dengan menikahi gadis biasa?”
“Esther, kamu—"
“Sudah, sudah!” Nenek Widya menengahi perdebatan suami istri tersebut. Suaranya terdengar tegas dan berwibawa. “Esther, kamu tidak berhak bicara seperti itu. Kamu hanya menantu di sini. Dan ingat, kamu pun dulu bukan siapa-siapa sebelum Benny menikahimu.”
Tante Esther terperangah mendapat teguran dari ibu mertuanya, kemudian serta merta terdiam. Wajahnya memerah seiring tatapan wanita yang walaupun banyak keriput di kulitnya, juga rambut yang hampir memutih semua, tetapi wibawanya sebagai nyonya nomor satu keluarga Hanggara itu masih sangat kuat. Ucapannya tak pernah terbantah. Bahkan Om Benny, ayahnya Bastian sangat patuh terhadap ibunya itu.
“Mentari,” panggil Nenek Widya mengalihkan pandangan padaku.
Aku hanya mendongak sebentar, mengangguk, kemudian kembali menunduk.
Wajah dan gaya elegan khas wanita ningratnya membuatku tak pernah berani menatapnya terlalu lama.
“Atas nama keluarga Hanggara, Nenek minta maaf sama kamu. Maafkan perbuatan cucu Nenek yang terkutuk itu.”
Aku kembali menelan ludah. Jari tangan saling memilin. Tidak seharusnya Nenek Widya meminta maaf untuk perbuatan cucunya yang menjijikkan. Itu sama sekali bukan salahnya.
“Nenek sangat malu. Bastian sudah mencoreng nama keluarga. Nenek sangat mengerti perasaan kamu, Tari.”
Aku mengangguk lagi.
Satu hal yang kusyukuri, sejak awal nenek Widya sangat menyayangiku. Bahkan beliau salah satu alasan aku menerima dengan senang hati perjodohan ini. Meskipun dalam hati aku tahu kalau aku tengah digunakan oleh keluargaku agar posisi dan keuangan kami kembali stabil.
“Tapi, Tari. Pembatalan pernikahan yang kamu ajukan, kami tidak bisa mengabulkannya,” lanjut Nenek Widya lemah.
Serta-merta kepala ini mendongak dan memberanikan diri menatap wanita sepuh yang biasanya selalu berada di pihakku.
Bagaimana bisa nenek Widya menolak permintaanku? Padahal ia sendiri mengatakan mengerti perasaanku dan mengutuk perbuatan Bastian? Apa beliau benar-benar akan memaksaku melanjutkan pernikahan ini?
Sungguh, aku tidak sudi melanjutkan pernikahan dengan laki-laki yang mudah tidur dengan sembarang wanita tanpa ikatan yang sah. Aku jijik.
“Kita semua sudah merencanakan pernikahan ini jauh-jauh hari. Bahkan persiapan sudah sembilan puluh persen,” lanjut Nenek Widya. “Kita tidak mungkin membatalkannya. Pernikahan harus tetap dilaksanakan.”
Aku menggeleng dengan dada yang terasa sesak. Bahkan orang yang aku kira selama ini berada di pihakku, nyatanya sama saja dengan yang lainnya. Tidak memikirkan kebaikanku.
Kuedarkan pandangan untuk mencari tahu bagaimana raut wajah semua orang di ruangan ini.
Ya, keluargaku dan keluarga Bastian sedang berkumpul pasca aku menangkap basah si pengkhianat itu dan Novita di kamarnya.
Aku bisa melihat Bastian dan seringai penuh kemenangan di depan sana. Di sampingnya, ada ibunya yang merengut. Sementara ayah Bastian dan ayahku sama-sama memasang wajah berharap.
Dan terakhir, sepasang ibu dan anak yang seolah keberatan dengan keputusan nenek Widya. Novita dan ibunya.
“Tari, pikirkan lagi, Nak. Pernikahan ini adalah amanah kakekmu dan kakek Bastian. Impian kedua keluarga. Kita sudah merencanakan jauh-jauh hari. Tak terhitung uang yang sudah digelontorkan untuk persiapan ini.” Ayah yang duduk di sampingku, meraih tangan ini dan menggenggamnya kuat sebagai isyarat agar aku tidak membatalkan pernikahan ini. “Apa kamu tega mencoreng nama baik keluarga kita dan keluarga Hanggara?”
“Tapi bukan Tari yang mencoreng nama baik keluarga, Yah. Bastian dan anak tiri Ayah yang melakukannya.” Aku berusaha menyampaikan keberatan.
“Ayah tahu, Nak. Kamu anak yang baik.” Ayahku meremas tanganku dengan lembut. “Tidakkah kamu mau berkorban sedikit saja untuk kami? Bukankah Bastian sudah mengatakan jika ia hanya khilaf dan tetap mau menikahimu? Mengalahlah sedikit saja sekali ini, Nak. Demi nama baik keluarga kita. Ayah yakin semua akan baik-baik saja setelah ini. Bastian akan menjadi suami yang baik untukmu.”
“Ayah–” Ucapanku tercekat, menolak memercayai ini. Aku menggeleng dengan mata yang sudah basah.
Setelah semua yang kulalui demi keluarga ini, mengapa aku masih saja dituntut untuk kembali mengalah?”
Rasa nyeri kembali mengukir hati. Bagaimana bisa ayah malah memintaku berkorban setelah apa yang dilakukan Bastian dan Novita? Kenapa ayah malah seolah ingin menjerumuskanku ke dalam pernikahan penuh neraka dengan laki-laki yang sudah jelas tidak setia?
Aku tahu saat ini keuangan keluarga kami sedang tidak stabil. Sokongan keluarga Hanggara sangat dibutuhkan untuk kelangsungan perusahaan keluarga kami, tapi apa harus dengan mengorbankan hidup dan perasaanku?
“Mas, kamu bicara apa?” Kudengar ibu tiriku mendesis setelah menarik tangan Ayah agar menghadapnya. “Kenapa Mentari harus tetap menikah dengan Bastian, sedangkan anak kita yang lain akan menderita karena pernikahan itu? Ingat, Mas. Bastian sudah merenggut kesucian Novita. Ia harus bertanggung jawab! Kalau kamu menikahkan Bastian dan Mentari, lalu bagaimana nasib Novita?”
Ayah menggeram. Wajahnya tampak memerah. “Jangan menyalahkanku!” balas pria itu. “Pernikahan ini sudah diatur sejak lama.”
“Tapi Novita sudah tidak suci lagi! Bastian harus bertanggung jawab sama Novita.” Ibu tiriku bersikeras tanpa memedulikan sekitar. Suaranya makin keras.
“Tapi–”
“Aku hamil, Yah.” Seruan Novita menyela perdebatan Ayah dan ibunya tiba-tiba. “Aku mengandung anak Bastian.”
“Apa!?” Kata itu serempak keluar dari semua mulut di ruangan ini sebelum aura ketegangan menyelimuti.
“Novita!”
Kutatap tajam wajah pucat Bastian yang baru saja berseru, tampak terkejut dan tidak percaya. Sementara wajah Novita terlihat dramatis di mataku, berusaha mendulang simpati.
Namun, tiba-tiba saja aku menoleh ke arah ayahku saat kurasakan tangan beliau yang tengah menggenggam tanganku melemas.
“Ayah!” pekikku seketika saat melihat tubuh ayahku jatuh terkulai. Tak sadarkan diri.
**
Aura penuh ketegangan semakin menyelimuti ruangan di mana kami masih berkumpul. Minus ayah tentu saja karena kondisi kesehatannya menurun.
Awalnya aku menolak ikut melanjutkan pertemuan ini. Aku memilih menemani ayah yang istirahat di sebuah ruangan pasca pingsan tadi. Namun, Nenek Widya memaksaku tetap ikut, karena pertemuan ini menyangkut pernikahanku.
Dengan mata yang terus basah karena tidak tega melihat kesehatan ayah yang menurun, aku terpaksa tetap mengikuti pertemuan itu. Pertemuan yang akan menentukan masa depanku.
“Baiklah, mengingat Pak Bumi Baskara yang kesehatannya menurun, kita harus mengambil keputusan dengan cepat.” Nenek Widya mulai membuka rapat keluarga ini dengan gaya anggun tapi tegas seperti biasa.
Tidak ada yang menyahut. Semua orang menunggu dalam diam.
“Dan setelah Nenek menelaah semua permasalahan, juga efek dari semua yang telah terjadi, maka ….” Nenek Widya melanjutkan, tetapi menggantung kalimat di ujung.
Kami semua menunggu dengan tegang. Kulirik Bastian yang terus tersenyum penuh kemenangan. Lalu, Novita dan ibunya yang terus melemparkan tatapan mengintimidasi padaku.
“Maka, Nenek memutuskan ….”
Aku menahan napas, menanti kelanjutan ucapan Nenek Widya dengan tidak sabar.
“Pernikahan ini tetap berjalan.”
Pundakku meluruh lemah. Bastian tersenyum lebar. Sementara ibunya semakin merengut, dan dua wanita di sana—Novita dan ibunya— ingin melayangkan protes atas putusan itu, hingga ….
“Tapi dengan mempelai yang diganti.” Kelanjutan ucapan Nenek Widya membuatku serta-merta menoleh heran. Pun dengan Bastian yang senyumnya hilang seketika.
“Maksud Nenek?” lontar Bastian tidak sabar.
“Pernikahan akan tetap berlangsung, tetapi Mentari bukan menikah denganmu, Bastian. Melainkan dengan anak laki-lakiku, Samudra Hanggara.”
MEMPELAI PENGGANTI
“Lelucon macam apa ini, Nek?” Bastian yang sekian detik lalu tersentak, kini berdiri. “Bagaimana bisa aku digantikan Om Sam, si laki-laki payah itu?” Lelaki itu melayangkan protes.
“Tutup mulutmu, Bas!” Nenek Widya tampak tidak suka dibantah. Matanya melebar walaupun tetap bergaya anggun dan elegan. “Keputusan Nenek sudah bulat. Pernikahan tidak mungkin dibatalkan karena perjodohan ini amanah kakekmu dan kakeknya Mentari. Nenek harus memastikan amanah ini terlaksana sebelum Nenek meninggal.”
“Tapi kenapa aku harus digantikan Om Sam, Nek? Dia itu laki-laki payah. Aku yakin dia tidak ingin menikah seumur hidupnya. Dia tidak menyukai perempuan!”
“Tutup mulutmu, Bastian Hanggara!” Nenek Widya kembali menegur. “Jika memang kamu tidak bersedia Mentari menikah dengan pria lain, seharusnya kamu jaga sikapmu dan tidak mencoreng nama keluarga seperti ini!”
Rahang Bastian mengeras, sementara wajahnya memerah.
“Aku tetap tidak terima, Nek.” Bastian terus melayangkan protesnya dengan keras. “Lagi pula, kenapa aku yang digantikan? Jika memang tujuannya menyatukan dua keluarga, aku dan Novita juga bisa menikah besok.”
Ucapan itu menciptakan lengkung senyum di tiga wajah wanita. Novita, ibunya dan ibu Bastian. Aku bisa melihatnya, dan paham jika Tante Esther lebih menyukai Novita. Saudara tiriku itu memang berhasil lulus kuliah dan kini tengah bekerja kantoran, serta aktif sekali bersosialisasi sana sini.
Sementara aku? Ah, sempat kupikir Bastian tidak rela untuk melepaskanku. Ternyata pria berengsek itu hanya tidak mau kalah saing, egonya tidak mengizinkan dia untuk itu. Jika dia yang digantikan, pastilah orang-orang tahu siapa yang bersalah di sini.
Bagaimana aku bisa tidak menyadari hal tersebut sebelumnya?
“Ini perjodohan antara keluarga Hanggara dan keluarga Baskara,” tegas Nenek Widya. “Harus keturunan asli yang dijodohkan. Bukan anak tiri. Nenek tidak mau keturunan Hanggara menikah bukan dengan keturunan asli keluarga Baskara. Ingat, Novita hanya cucu tiri kakeknya Mentari.”
Hening beberapa saat setelah penjelasan panjang Nenek Widya. Raut tidak terima masih tercetak jelas di wajah Bastian.
Pria itu berjalan gusar ke sana kemari dengan bola mata bergerak liar. Kedua tangannya bertolak di pinggang. Pertanda ia masih mencari alasan untuk membuat keputusan neneknya berubah.
Sementara aku?
Aku sejak tadi hanya menyimak, merasakan dada ini tidak pernah diberi kesempatan untuk menghirup banyak oksigen. Rasa sesak terus menjejali dada.
Bagaimana tidak? Setelah diminta tetap menikah dengan Bastian yang jelas-jelas sudah berkhianat, kini diberi pilihan lain yang sama sekali bukan solusi.
Nenek Widya ingin aku tetap menikah dengan keturunannya. Dan Samudra Hanggara yang kini dipilihnya menjadi mempelai pengganti Bastian.
Bagaimana mungkin aku menikah dengannya, sedangkan rupa lelaki itu saja aku tidak pernah tahu. Dan menurut cerita Bastian, Samudra itu lelaki payah yang tidak pernah dianggap ada dalam keluarga Hanggara.
Ini istilahnya lepas dari mulut harimau masuk mulut ular. Bisa saja Samudra Hanggara itu seorang psikopat kejam, atau pembunuh berdarah dingin, atau kanibal. Sekalipun ia adalah putra Nenek Widya, tapi keberadaannya disembunyikan oleh keluarga.
Atau bisa juga ia seseorang yang memiliki orientasi seks menyimpang, ingin menjadi transgender tetapi ditentang keluarganya. Bisa saja, kan? Secara dia memang tidak pernah terlihat dalam keluarga.
Aku bergidik ngeri. Ya Tuhan, kenapa nasibku seburuk ini? Bukankah ini artinya Nenek Widya ingin menumbalkanku? Andai saja kondisi Ayah–
“Tari.” Sentuhan di punggung tangan membuat mataku yang semula terpejam, membuka. Ternyata Bastian sudah duduk di sampingku. “Ayo, ajukan keberatanmu pada Nenek. Kamu tidak mau kan, menikah dengan Omku yang payah itu? Yang tidak kamu kenal itu?”
Aku menelan ludah seraya menatap wajahnya yang serius. Sungguh, aku tidak mau menikah dengan Samudra, tapi aku lebih tidak mau menikah dengan bajingan di depanku ini.
“Dia itu sangat payah. Kamu tidak akan hidup bahagia dengannya, Tari. Dia tidak akan bisa memenuhi nafkahmu baik lahir maupun bathin.” Bastian meyakinkanku dengan sangat serius.
“Om Sam tidak punya pekerjaan. Dia juga bukan laki-laki sejati. Di usianya yang hampir 40 tahun itu, Om Sam belum pernah mengenal wanita sama sekali. Apa kamu mau hidup dengan laki-laki payah itu selamanya?” Bastian terus memprovokasi. “Ayo sampaikan keberatanmu sama Nenek. Katakan kamu akan tetap menikah denganku saja.”
“Bastian!” Nenek Widya menegur, kali ini lebih keras. Wajah ayunya memerah. “Jaga mulutmu! Urus saja masalahmu dengan wanita itu.”
Telunjuk Nenek Widya mengarah ke wajah Novita yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, seperti baru mendapat lotre.
Sementara Bastian berdecak seraya membuang pandangan.
“Tari, keputusan Nenek sudah final. Kamu tetap akan menikah dengan salah satu anggota keluarga Hanggara untuk memenuhi amanah para tetua. Dan karena Bastian sudah membuat ulah, maka pamannya yang akan menggantikan.” Nenek Widya menancapkan lagi pengaruhnya dengan titah tak terbantahkan.
“Kamu tidak perlu mendengarkan ucapan Bastian. Tapi jika semua yang diucapkan Bastian itu benar, tugasmu nanti sebagai istri membuat Samudra lebih baik.”
Aku menggigit bibir sambil memejam. Apalagi yang bisa kulakukan? Bahkan jika aku ingin menolak semua ini, kesehatan ayah taruhannya.
**
Aku berjalan gontai menyusuri lorong rumah besar keluarga Hanggara. Tujuanku salah satu ruangan di mana ayah beristirahat.
Apa ada yang bernasib lebih buruk dariku? Sudahlah hidup tertekan sejak ayah menikahi ibunya Novita dan membawanya ke rumah, putus kuliah, dikhianati calon suami, kini harus menghadapi kenyataan akan menikah dengan laki-laki yang bahkan wujudnya saja aku tidak pernah tahu.
Ibu, kenapa dulu kamu tidak membawaku serta saja ke surga?
Aku berniat meraih gagang pintu ruangan tempat Ayah istirahat, saat seseorang menabrak pundak ini dengan kasar. Rentetan olokan pun langsung memenuhi indra pendengaran.
“Hei, lihatlah siapa ini? Calon pengantin dari laki-laki payah!” Novita yang datang bersama ibunya langsung mengejekku dengan mengatai tepat di depan wajahku.
Tawa kedua wanita itu membahana setelahnya.
“Selamat menjadi istri dari om-om payah, Mentariku sayang,” lanjut Novita lagi diakhiri cekikikan.
Aku mengepalkan tangan.
“Kasihan ya, kamu. Seumur hidup tidak akan pernah merasakan apa itu surga dunia. Ahh ….” Sebuah desahan menjijikkan mengakiri olokan saudara tiriku itu.
“Sudah, jangan diledek terus saudaramu, Vita. Kasihan, sudahlah tidak jadi dengan Bastian, eh dapatnya laki-laki tua yang payah.” Ibu tiriku ikut-ikutan mengucapkan kalimat yang tidak kalah pedas.
Tanganku semakin mengepal. Kini diserai rahang yang mengeras.
“Oh iya, Ma. Aku lupa, nanti Tari mengemis minta ditiduri lagi sama Bastian. Calon suamiku kan, hebat. Dia sangat perkasa.”
Darah tetiba mendidih. Kepalan tangan semakin kuat. Napas kutahan karena sesuatu terasa ingin meledak.
“Jangan sampai itu terjadi, jangan sampai Tari merasakan bagaimana hebatnya Bastian. Walaupun Bastian sendiri sudah mengatakan tidak sudi menikahi wanita yang pastinya tidak bisa lebih hebat dariku di ranjang, bisa saja diam-diam tari merayu—”
“Tutup mulut busukmu, dasar murahan!” Aku sudah tidak tahan lagi. Tidak menunggu sampai Novita menyelesaikan kalimatnya, kuterjang dia dengan kasar. Namun, belum sempat aku meremas mulut lemesnya, ibu tiriku bertindak lebih dulu. Wanita itu menarik tanganku, dan mendorong tubuh ini dengan kuat hingga aku terjengkang.
Aku memekik sambil memejam karena yakin tubuh ini akan membentur dinding koridor tak lama lagi. Namun, sesuatu yang terasa kokoh dan hangat tetiba menahan punggung ini hingga aku tidak jadi terjatuh.
Hening beberapa saat. Aku membuka mata karena heran, dan yang pertama kulihat adalah wajah pucat dua wanita di hadapanku.
Ada apa?
Kuikuti arah pandangan mereka hingga mendapati sesosok manusia tinggi besar dengan wajah dipenuhi bulu liar dan rambut gondrong yang diikat asal, berada tak jauh dengan tubuh ini. Bahkan bisa dibilang sangat dekat.
Masih hening saat pupil mataku bergerak perlahan menyusuri sosok itu. Dari wajahnya yang menyeramkan, hingga tangannya yang ternyata sedang … memegangiku.
Oh Tuhan, jantungku seolah berhenti berdetak sebelum kemudian ingin loncat dari rongganya. Bagaimana tidak, manusia besar itu ternyata sedang–
“Ah!” Aku sontak memekik saat menyadari berada dalam pelukannya. Kaget, dan tentu saja takut. Kemudian tiba-tiba duniaku menggelap.
Aku tidak ingat apa-apa lagi.
PRIA PAYAH ITU BERNAMA SAMUDRA
“Tari, ini Samudra, calon suamimu.”
Ingin rasanya aku pingsan lagi dan lagi mendengar penjelasan Nenek Widya.
Bagaimana tidak? Aku yang kini duduk di sebuah sofa empuk, diperkenalkan dengan lelaki menyeramkan yang tadi menangkap tubuh ini sebagai calon suamiku.
Semua bayangan buruk yang tadi sempat terlintas tentang kepribadian Samudra langsung menempel begitu saja karena sosoknya yang sangat ajaib ini. Tinggi besar—walaupun mungkin tingginya hanya seratus delapan puluh centimeter, tetapi bagiku yang berperawakan mungil, ia sangat tinggi. Menjadi sangat menyeramkan karena rambut gondrongnya yang hanya diikat asal.
Jangan lupakan juga bulu-bulu di wajahnya yang dibiarkan tumbuh liar. Bahkan aku yakin jika kulitnya tak pernah bersentuhan dengan pisau cukur selama berbulan-bulan.
Jangankan untuk berjabat tangan dengannya, aku bahkan takut untuk sekadar mengangkat wajah dan meliriknya.
Alhasil aku hanya menunduk sambil memilin jemari satu sama lain. Tubuhku terasa menggigil berada di ruangan yang sebenarnya bersuhu normal ini.
Tadi aku pingsan saking kaget melihat rupa Samudra, dan saat sadar sudah berada di ruangan ini dengan Samudra yang duduk bersebelahan dengan Nenek Widya, plus ibu dan saudara tiriku yang yang terus saja cekikikan. Entah mentertawakan apa.
Anehnya mereka akan berhenti cekikikan dan terdiam kaku, jika Samudra menoleh dan menghunjamkan tatapannya.
Samudra? Laki-laki tua menyeramkan itu calon suamiku?
Ya Tuhan, pernikahan seperti apa yang akan aku jalani nanti? Aku bahkan takut untuk sekadar melihat wajah calon suamiku ini.
“Tari, karena kamu sudah sadar dan sudah bertemu Samudra, silakan bicara berdua. Mungkin ada yang ingin kalian diskusikan. Gunakan waktu singkat ini untuk saling mengenal satu sama lain.”
Aku menelan ludah dengan susah payah mendengar ucapan Nenek Widya. Diskusi katanya? Tubuhku bahkan sudah gemetar duluan membayangkan harus duduk berdua dalam satu ruangan dengan laki-laki itu.
Terasa sentuhan di pundak, lalu usapan lembut. Aku mendongak dengan ragu, lalu mendapati wajah elegan itu mengangguk dan tersenyum tipis. Entah itu sebuah dukungan atau ejekan, yang pasti setelah itu Nenek Widya yang selalu ditemani seorang ajudan perempuan, langsung berjalan menuju pintu. Meninggalkan diri ini yang semakin ketakutan.
Dua langkah kaki mendekat setelahnya. Aku tahu itu ibu dan saudara tiriku. Kepalaku semakin menunduk karena yakin mereka hanya ingin mengolok.
“Selamat menikmati hari-hari menyeramkan bersama makhluk jadi-jadian, Tari.” Salah satu dari mereka berbisik dramatis hingga menciptakan ketakutan yang lebih gila dalam dada.
“Kuatkan dirimu sejak saat ini, karena mungkin kau akan mati jantungan di hari pertama menjadi istri makhluk jadi-jadian itu. Atau … dia akan merubahmu menjadi makhluk jadi-jadian juga setelahnya. Ups,” bisik yang lainnya.
Keduanya lalu mengusap pundakku lembut seperti yang dilakukan Nenek Widya. Namun, efeknya amat berbeda, sangat sukses menjatuhkan mentalku sampai titik terendah.
Kepalaku semakin tertunduk dalam pasca kepergian Novita dan ibunya. Sadar jika hanya ada aku dan laki-laki bernama Samudra di ruangan ini, dadaku mulai sesak. Tubuhku kian menggigil. Padahal ruangan ini sangat luas dan nyaman.
Untuk beberapa lama hanya keheningan dan napas beratku yang tertangkap telinga. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Samudra saat ini.
Apa ia sedang menatapku seperti singa lapar karena menganggapku korban empuk kanibalisme?
Ya Tuhan, apa hidupku harus berakhir mengenaskan di tangan–
“Sampai mana persiapan pernikahan?”
Aku mengerjap saat mendengar pertanyaan dari suara yang terdengar sangat … maskulin di telinga.
Apa itu suara Samudra? Kenapa suaranya tidak semenakutkan wajahnya?
Tapi jika bukan suaranya, suara siapa lagi? Hanya ada kami berdua di sini.
“Apa semua sudah cocok denganmu?” Lagi, sebuah pertanyaan mengalun dari suara yang sama. Ingin aku mendongak untuk memastikan jika itu benar suaranya, tapi rasa takut terlalu mendominasi.
“Barangkali ada yang kurang cocok dengan seleramu, konsep resepsi mungkin, kita bisa mengubahnya. Mumpung masih ada waktu.” Lagi suara itu bicara, kali ini lebih panjang. Mungkin karena aku masih juga diam.
Kali ini dengan menguatkan hati, aku mencoba mendongak. Rasa penasaran mengalahkan ketakutan.
Namun, hanya sekejap saja aku mampu mengangkat wajah. Gegas kembali menunduk saat tatapan kami bertemu karena ternyata ia pun tengah menatapku.
Aneh memang, tatapannya tak segarang rupanya. Bahkan terkesan … teduh dan damai.
Meskipun tetap saja aku merasa takut.
“Katakan saja jika ada yang ingin kamu ubah atau tambahi, aku akan—”
“Kenapa Om mau menikah denganku?” Akhirnya kuberanikan diri bertanya untuk menyela ucapannya. Tak ayal dada ini berdebar keras, takut ia marah dengan pertanyaanku.
Tidak ada jawaban, dan itu menarik kepalaku agar mendongak lagi. Lagi-lagi aku kembali menunduk dengan cepat karena ia tengah menatapku dalam diam.
“Karena kamu tidak mau menikah dengan Bastian.” Jawabannya ambigu walaupun memang benar. Tapi bukan jawaban itu yang ingin aku dengar.
Aku heran kenapa kenapa ia menerima pernikahan ini begitu saja. Kenapa tidak menolak? Bukankah ia tidak menyukai perempuan?
“Apa kamu mau tetap menikah dengan Bastian?”
Aku langsung menggeleng kuat mendengar pertanyaan itu. Tentu saja aku tidak mau.
“Lalu kamu mau menikah dengan siapa? Kakakku Benny? Ayah Bastian?”
Aku mendongak lagi. Pertanyaan macam apa itu? Aku pikir ia sedang bercanda, tetapi raut menakutkan itu sangat serius.
“Kakakku Benny sudah menikah, kamu tidak mau menikah dengan Bastian. Hanya tersisa aku, bukan?”
Aku memejam seraya menggigit bibir. Kenapa aku harus menanyakan pertanyaan bodoh? Tentu saja Om Samudra juga sama sepertiku, terpaksa karena orang tua. Perjodohan yang menyusahkan memang.
Yang aku heran, kenapa ia tidak menolak? Atau itu sudah dilakukannya, hanya saja Nenek Widya memaksa dengan berbagai ancaman?
“Tapi Om kan tidak suka perempuan, kenapa mau dipaksa menikah?” Entah keberanian dari mana pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut ini. Benar-benar lancang. Aku gegas memukul mulut berulang kali. Takut ia tersinggung.
Anehnya saat aku memberanikan diri meliriknya, tidak kudapati raut marah, kesal atau apa pun di sana. Hanya raut datar yang bagiku tetap saja menakutkan.
Setelahnya aku tidak bicara apa pun lagi. Aku tidak tahu harus berkata apa. Satu yang kupikirkan, aku tidak mungkin menjalani pernikahan dengan laki-laki ini.
“Apa kamu tidak mau bertanya tentang aku?”
Tunggu! Apa pertanyaan itu tidak terlalu percaya diri? Siapa yang mau mengenal Om-om payah yang menakutkan seperti ini? Aku bahkan sudah bertekad tidak ingin menjalani penikahan yang sesungguhnya sejak awal melihatnya.
“Tidak perlu, Om. Itu tidak perting. Toh, kita tidak benar-benar akan menikah, bukan?”
“Maksud kamu?”
“Maksudku ….” Aku menelan ludah. Sudah kutekadkan jika aku dan dia hanya akan menggugurkan kewajiban terhadap orang tua atas perjodohan ini. Tidak ada perjanjian jika aku dan keturunan keluarga Hanggara harus terikat seumur hidup, bukan? Kami menikah dan bisa berpisah kapan saja. Dengan alasan tidak cocok, kami bisa bercerai di kemudian hari.
Aku yakin Om Samudra akan setuju karena sama sepertiku, ia tidak menginginkan pernikahan ini.
“Maksudku, ayo kita buat surat pejanjian pernikahan.” Entah keberanian dari mana. Kini aku tidak setakut tadi. Bicaraku sudah lumayan lancar, tidak gagap seperti di awal.
“Surat perjanjian?” Om Samudra mengulang ucapanku.
“Ya, kita menikah hanya di atas kertas, kan? Kita tidak sungguh-sungguh menikah, kan? Aku yakin jika Om juga terpaksa menikahiku. Om tidak pernah menginginkan perempuan. Aku ingin kita membuat surat perjanjian pernikahan sampai kita bercerai nanti.”
Laki-laki itu terdiam beberapa saat. Aku tidak dapat menerka apa yang sedang ia pikiran. Selain hanya meliriknya sebentar-sebentar, mimik wajahnya yang tetap dibuat datar, membuatku tidak mudah menebak apa yang dipikirkannya.
“Oke, aku setuju,” ujarnya akhirnya.
Aku tersenyum tipis. Ternyata bicara dengannya tidak sesulit yang aku bayangkan, walaupun ketakutan itu masih ada, terutama jika menatap wajahnya yang sangat berantakan. Namun, ia termasuk kooperatif. Mungkin kami memang bisa bekerja sama mengelabui orang tua demi bisa menggugurkan kewajiban itu.
Siapa juga yang mau menghabiskan hidup dengan Om-om payah yang menakutkan ini. Aku masih muda dan normal, aku ingin menikah dengan laki-laki normal juga. Punya banyak anak dan hidup bahagia.
“Aku setuju, tapi ada satu syarat yang ingin aku ajukan dalam perjanjian itu,” lanjutnya ringan tanpa beban setelah beberapa lama.
“Syarat?” Keningku berkerut. “Syarat apa?”
Dia terdiam lagi beberapa saat. Hanya saja seperti tadi, wajahnya tetap datar.
“Syaratnya … sesuai yang ibuku pinta. Kita harus memberinya cucu dulu, baru kita bisa bercerai.”
“Apa?”
SURAT PERJANJIAN