Bab 2

Atas apa dikatakan perihal orang tua Ines, Damian merasa sangat bersalah. Dia berusaha keras untuk terus meminta maaf, atas luka terpendam yang kembali terangkat ke permukaan.

Sampai hari-hari berganti pun, maaf tak pernah absen diutarakan oleh Damian, pada wanita yang juga ditebarkan pesona luar biasa olehnya. Menyelam sambil meminum air, itulah yang coba dilakukan oleh lelaki yang terus berharap cinta, dari pencuri hatinya.

Itu tak berbeda dari apa dilakukan oleh Damian pagi ini. Lelaki dengan balutan celana pendek serta hoodie hitam tersebut, langsung menuju dapur tempat istrinya berada.

Pahatan senyum diciptakan tampan oleh Damian, ketika mata menangkap pujaan hatinya menyibukkan diri dengan alat masak. Ayunan kaki sengaja dihentikan, demi mengagumi dari kejauhan.

Sampai akhirnya Damian menemukan sesuatu dalam saku celana, senyum pun dibuat semakin lebar. “Bukankah, kamu harus mengikat rambut saat memasak?” ujarnya, sembari mengikat tinggi rambut panjang sang istri.

Ines menghela napas panjang, enggan baginya menoleh. Sampai sesuatu dirasakan menyebalkan, dari kedua tangan yang memeluknya dari belakang. Refleks saja Ines mendaratkan gagang pisau tengah dipergunakan memotong sayuran, ke atas kepala Damian.

“Aduh! Kenapa memukulku?” protes Damian, mengangkat segera dagu sempat bersandar pada pundak istrinya. “Sakit,” imbuhnya memelas, mengerucutkan bibir dan menyapu ujung kepalanya sendiri.

“Berapa kali harus aku katakan, jangan menyentuhku tanpa izin!”

“Aku juga sudah mengatakan, kalau suami tidak membutuhkan izin untuk menyentuh istrinya!”

“Pergilah. Jangan masuk ke dapur, kalau kamu belum mandi. Aku benci bau keringat.”

“Hehehe, kamu akan sangat menyukai keringatku nanti. Mau mencobanya malam ini? Kita juga bisa tahu, keringat siapa yang lebih banyak.”

“Ish!” Ines mengangkat kembali pisau di tangan. Damian membeliak, sigap kaki menjauh.

“Kamu ingin membunuhku?!”

“Kalau saja aku mampu, aku sudah melakukannya dari lama!” sinis Ines, sengaja memenggal wortel dan menciptakan suara kencang.

Damian membuntang, seraya mengusap dada juga mengomel samar. Kaki digiring merayap ke arah meja dapur dan mulai bersandar. Sengaja menghadap wanita berparas cantik, yang sudah melanjutkan aktivitasnya semula.

“Kamu memiliki uang. Tapi, kenapa selalu membawa bekal ke kantor? Kamu tidak suka sarapan di rumah?” tanya Damian, membuka percakapan.

“Suka. Sebelum kamu datang.”

“Ish, mulutnya memang sangat berbisa.” Damian menggerutu. “Berhentilah memasak, atau tubuhmu akan bau.”

“Apa kamu tidak tahu fungsi pelayan dan koki? Mereka dibayar untuk membuat makanan, bukan melihatmu memasak seperti sekarang.” Damian menatap beberapa orang dalam dapur, dan berhasil membuat mereka tertunduk.

“Manusia-manusia tidak berguna. Bagaimana bisa mereka membiarkan orang yang menggaji masak sendiri? Tidak tahu diri!”

“Jangan terus mengomel, pergi mandi sana. Kamu ada meeting pagi ini.” Ines risi, menyambar Damian dengan suara tegas.

“Kamu yang akan memimpin meeting. Jadi, lebih baik kamu bersiap dan berangkat lebih awal!” balas lelaki beralis tebal tersebut, langsung mendapat tatapan tajam.

“Hehehe, aku tidak memerintahmu. Aku hanya mengingatkan.” Damian cengengesan. “Tidak perlu melihatku terus, aku memang tampan. Untuk itulah, terima saja cintaku dan maafkan aku. Kita akan menjadi pasangan yang serasi.”

“Kamu mencintaiku?”

“Tentu. Aku sangat mencintaimu.”

“Tapi, aku membencimu. Pergilah ke kamar, mandi dan bersiap.”

“Aku bukan anak kecil yang harus ditekan, karena takut terlambat ke sekolah. Aku suamimu, bukan anakmu. Jadi, perlakukan aku seperti suami.”

Damian memprotes, Ines hanya membalas dengan tatapan dingin, namun menyimpan peringatan. “Ah, baiklah aku akan pergi. Aku tidak suka saat kamu melihatku seperti itu!”

Buncis dimainkan sedari tadi, dilemparkan oleh Damian. Sepatu olahraga putih mulai menyisir lantai, namun hanya beberapa langkah saja. Lelaki berambut hitam pekat itu kembali, mencium pipi kiri Ines kilat.

“Love you!” seru Damian usai mengecup.

Ines menoleh, sisi wajah disentuh menggunakan punggung tangan. Damian perlahan menghilang dari jangkauan matanya, Ines meredupkan mata seraya menghela napas.

Pelayan serta koki yang melihat, secepat kilat berpaling. Seolah tak melihat apa-apa, meski jantung masing-masing juga berdetak kencang, karena takut akan amarah dari majikannya.

Siapa yang tidak memahami ketika Ines benar-benar murka dan kehilangan rasa sabar. Tiap kali Damian membuat ulah, selalu saja penghuni istana Ines merasa waswas.

“Selamat pagi, Nyonya.” Terdengar sapaan, beriringan langkah kaki mendekat.

“Oh, pagi Kamu sudah membawa yang aku minta?” sahut wanita berbalut dress rumahan tersebut, tanpa menoleh.

“Saya sudah membawakan semua yang Anda minta.” Alex menjawab. Ines menyudahi acara masaknya, menoleh pada koki agar melanjutkan.

Tangan dibersihkan lebih dulu oleh Ines, kemudian pergi meninggalkan dapur dan diikuti oleh sekretarisnya. Ruang tengah dijadikan pelabuhan, wanita pemilik lekukan tubuh indah itu duduk lebih dulu.

Alex menyerahkan benda pipih berukuran delapan inchi, di mana sebuah video telah diputar olehnya lebih dulu. Ines mengamati saksama, jemari menghentikan ketika ia menangkap adanya wajah cukup familier.

“Bukankah ini ....”

“Malam itu, tuan Damian datang ke bar bersama Vivian. Mereka menghabiskan waktu dari sore di apartemen.”

“Ya?!” Ines kaget, hingga alisnya bertaut. “Maksudmu, Max dan Damian berkelahi hanya demi memperebutkan Vivian lagi?”

“Saya tidak mengatakan hal itu, Nyonya. Tapi, itu bukan hal mustahil, Karena mereka juga pernah melakukannya, saat di pesta penghargaan Vivian dulu.”

Ines terdiam sesaat mendengar penjelasan Alex. Ia mengingat sangat baik, bagaimana awal mula kerja sama saling menguntungkan dengan Damian terjalin.

“Apa Damian sering menemui Vivian? Mereka berkencan?” Ines tampak sangat penasaran. “Kamu memiliki bukti kebersamaan mereka? Maksudku, saat mereka ada di apartemen atau lainnya.”

Alex membuka map di tangan kiri, mengeluarkan lembaran-lembaran foto dan diserahkan pada Ines. Itu adalah kebersamaan Damian bersama Vivian, yang terus terpantau oleh anak buah Ines, sesuai titah dilayangkan.

“Saya belum berani memastikan tentang hubungan tuan Damian dan Vivian. Tapi, bukankah ini baik? Dengan begitu, pernikahan ini akan segera berakhir.”

Ines berhenti mengobrak-abrik lembaran foto diserahkan, mengalihkan biji mata pada lelaki yang menghujani dirinya dengan alfabet santun.

“Kerja sama Nada dengan tuan Damian, akan berakhir saat tuan Damian sudah mencapai tujuannya. Vivian adalah salah satu tujuan tuan Damian menerima kesepakatan pernikahan ini.”

“Saat tuan Damian sudah berhasil mendapatkan Vivian kembali, bukankah kita hanya perlu membantu untuk mengurus perusahaan Xander, dan membalas Max saja?”

“Lagi pula, dua bulan ini sudah cukup untuk membuat isu tentang Anda dilupakan. Jadi, Anda bisa secepatnya terbebas dari tuan Damian.”

Ines hening, mendengarkan Alex yang tak bisa disalahkan, atau disanggah. Kerja sama pernikahan itu memang akan berakhir, ketika tujuan tercapai. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal hati Ines, ketika ia mendengar tentang Vivian juga Damian.

“Awasi terus mereka.” Ines meninggalkan semua di kursi, bangkit dan pergi.

Alex memata-matai curiga, dari raut wajah berbeda ditampilkan oleh atasannya. ‘Apa dia sudah jatuh cinta? Kenapa wajahnya seperti orang patah hati?’

Alex mengembuskan napas panjang, menelisik ke arah lantai dua. “Aku pastikan, kau akan terusir sebelum rencanamu berjalan.”

“Sampai kapan kau akan mampu menyembunyikan rahasiamu Damian?” Alex menarik tinggi ujung bibir kirinya.

Bab 3

Detik waktu menggeser menit, bekerja sama mendorong jam berputar. Damian sudah tiba di perusahaan utama Ines, tempat meeting akan dilangsungkan.

Paduan jas hitam, dasi serta kemeja telah melengkapi penampilan Damian. Bersama Leon ia memasuki ruang meeting, dan ternyata beberapa orang sudah lebih dulu menempati ruangan dingin tersebut.

“Wah, lihatlah siapa yang datang. Bukankah, ini pewaris tunggal Xander?” Salah seorang langsung berceloteh, begitu Damian juga tangan kanannya masuk.

“Hahaha, maksudmu ... pewaris hutang Xander?” timpal lainnya.

Damian acuh, pantofel hitam mengilat diajak mendekati kursi telah disediakan untuknya. Wajah-wajah tak suka mengiringi langkah, bisik-bisik pun mulai terdengar bersama lirikan bengis tak jauh berbeda.

“Apa kau datang untuk mengemis sekarang? Atau, kau ingin menawarkan tubuhmu pada nyonya Ines?”

“Hahaha, kau gila? Nyonya Ines sudah memiliki suami, mana mungkin beliau mau berselingkuh dengan gembel sepertinya.”

“Setidaknya, nyonya Ines juga memiliki standar kalau memang ingin berselingkuh. Suaminya seorang yang terhormat, mungkinkah jika dia akan berpaling hanya untuk gelandangan?”

“Benar juga. Dia bahkan dicampakkan oleh calon istrinya, karena miskin.”

“Memalukan!” cibir salah seorang dalam ruangan.

Telinga Damian terus merekam setiap hinaan tertuju padanya. Mata tajam bak elang hendak mencabik buruan pun, dipergunakan mengabsen wajah orang-orang yang sengaja mencemooh, tanpa memandang perasaan.

“Nyonya Ines?” Salah satu pria berkacamata terkejut dan lekas berdiri membungkuk, kala melihat empunya perusahaan memasuki ruangan.

Semua orang menyusul, melakukan hal serupa demi memberikan sapaan hormat mereka. Namun, itu tak dilakukan oleh Damian—lelaki yang menjadi pusat perhatian sekarang.

Leon menepuk pundak Damian, sekedar binar mata malas ditunjukkan, seraya mengembuskan napas.

“Tidak perlu. Duduklah.” Ines menyambar, dia tahu Damian enggan melakukan.

“Aku memang tidak ingin berdiri. Aku bukan bawahanmu, dan tidak perlu membungkuk.” Damian berucap, sukses besar membuat mata semua orang membuntang dengan bibir membentuk lingkaran.

Ines melemparkan karbondioksida kasar, lalu duduk pada kursi keagungannya dengan bantuan Alex. “Langsung saja. Aku tidak memiliki banyak waktu.”

“Baik, Nyonya.” Kompak semua orang menjawab, menempelkan tubuh ke kursi bersamaan.

Suara demi suara mulai terdengar, dari para pemegang saham yang sengaja dihadirkan. Namun, sepertinya Ines terlalu malas untuk terus menyimak, hingga tangan kiri diangkat tinggi untuk menghentikan.

“Cukup. Laporkan semua pada Alex.” Ines memenggal, mengejutkan semua orang.

“Saya sudah membaca proposal Xander, saya putuskan untuk menggandeng Xander dalam proyek kali ini.”

“Y—ya?!” nanap tiap anggota, saling memandang satu sama lain.

“I—itu tidak mungkin, Nyonya Ines. Kita sama-sama tahu, kalau Xander adalah perusahaan bermasalah. Lagi pula, mereka sudah bangkrut sekarang.”

“Ya, itu benar. Pikirkan masa depan perusahaan Anda juga, Nyonya. Bekerja sama dengan perusahaan Xander, adalah kesalahan terbesar yang akan mengancam perusahaan Walter.”

Ines menaikkan pandangan pada pria-pria telah menyumbangkan suara. “Kalian melihat saya butuh nasihat, sekarang?”

“Ti—tidak, Nyonya. Maafkan saya.” Pria-pria tersebut, menurunkan kelopak mata.

“Tidak ada yang membutuhkan suara kalian sama sekali. Meeting ini hanyalah formalitas, agar tidak ada kesalahpahaman di depan.”

“Xander akan berada di bawah naungan Walter mulai hari ini. Siapa pun yang menolak, boleh memutuskan kerja sama dengan Walter.”

Ines mendorong kursi, berdiri dari tempatnya singgah. “Alex akan mendampingi Xander. Dia juga akan menjadi mata dan telinga untuk Walter.”

“Jadi, siapa pun dari kalian yang berani mengusik Xander, akan langsung berhadapan dengan Walter. Kalian pasti tahu, akhir dari melawan Walter.”

“Hanya hitungan detik, kalian akan kehilangan segalanya.”

Ketajaman kata-kata Ines yang tenang, mampu membuat semua orang mendorong saliva dalam tenggorokan menciut. Wanita bercelana panjang kerja krem itu melenggang pergi lebih dulu.

“Saya menolaknya!” tegas seseorang, berdiri tegak menghadap Ines. “Proyek kali ini, juga bekerja sama dengan Colton. Saya secara tegas mengatakan, bahwa tidak akan pernah bergabung dengan Xander.”

Ines berhenti, menoleh dan memandang angkuh. “Bagus. Kita akhiri kerja sama Colton dan Walter.” Wanita berwajah tegas itu, melanjutkan ayunan kaki.

“Tunggu, Nyonya. Bukan itu maksud saya, ta—“ cegah lelaki berperawakan tinggi tersebut, menjangkau pergelangan Ines.

“Jangan pernah menyentuh saya!” bentak kencang Ines, mengibaskan tangan dan sukses menghentikan detak jantung tiap pengusaha dalam tempat sama.

“Jangan pernah berani menyentuh saya, atau Anda akan menyesalinya seumur hidup!” Ines menunjuk wajah lawan bicaranya, mata terpancar kobaran api.

“Ma—“ Kata urung dilanjutkan, pemilik Walter sudah menghilang dari pandangan.

“Ah, aku mencintai keangkuhannya.” Damian bergumam, menahan senyuman.

Keturunan Xander itu terus mengamati Ines, bahkan saat wanita dikenal singa betina tersebut berhasil membekukan setiap orang dihadapi. Seksi. Gambaran terbaik yang mampu diberikan oleh Damian, setiap kali melihat istrinya mengendalikan perusahaan.

“Kau ... jangan pernah kau merasa menang, karena nyonya Ines membelamu. Aku pastikan, kau tidak akan pernah bisa membangun kembali perusahaan Xander!”

“Benarkah? Tapi, sayangnya aku tidak peduli.” Damian tersenyum santai, menaikkan kedua pundaknya.

“Lebih baik, kau berhati-hati dengan tanganmu.” Damian menatap tangan yang tadi sempat dipergunakan menyentuh Ines.

Max terlihat sangat berang, kepalan tangan menguat di samping tubuh, Ya, itu memang Max Colton—lelaki yang membuka hinaan untuk Damian, juga lelaki sama yang melayangkan penolakan terang-terangan kepada Ines Walter.

Damian pergi bersama Leon, setelah lebih dulu Alex memboyong dokumen keluar, tanpa bersedia menyaksikan keributan. ““Berhati-hatilah dengan apa yang kau katakan dan lakukan, Max Colton. Karena maaf tidak pernah berguna dalam hidup ini,” ucapnya sambil menepuk pundak Max.

Beberapa detik kemudian, Max turut menyapu lantai dengan kaki panjangnya. Sengaja ia mempercepat langkah, agar mampu mengejar Damian. Namun, sayangnya tak lagi terlihat si pemilik tubuh gagah yang tadi membuatnya terhina dalam ruangan.

Max melewati dua pintu kaca terbuka otomatis, menuju mobil sport hitam telah disediakan untuknya. Namun, sambutan luar biasa didapatkan, seketika ia keluar dari perusahaan megah Walter.

Punggung Max ada yang menendang, dan hampir saja berhasil membuatnya tumbang. Beruntung, ada petugas keamanan sigap menahan, hingga Max tidak perlu berkenalan dengan lantai marmer putih Walter.

“Siapa yang ber—“ berang Max terpenggal.

“Aku!” Suara khas bariton menyambar, Max menoleh dan menemukan seseorang melenggang tenang ke arahnya. “Ada masalah?”

“Kau! Beraninya kau menen—“ Sekali lagi makian Max tersendat, kali ini dada ditendang oleh Damian tanpa mengeluarkan kedua tangan dari saku celana.

“Akh!” pekik Max.

Damian mengulas senyum, menaikkan sepatu pantofel mewahnya di atas dada Max. “Berpikirlah ribuan kali untuk membuat masalah denganku, Max Colton.”

“Atau, kau tidak akan pernah selamat dari mautku.”

“Cih!” Max meludah. “Kau hanyalah sampah tidak berguna, Damian! Jangan pernah mengancamku, atau semua akan kembali pada dirimu sendiri!”

“Ah, benarkah? Aku tidak meyakini itu sama sekali.” Damian menjawab tenang, meski kaki diperdalam menekan.

“Kau mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, bukan? Jadi, akan lebih baik kalau kau menjaga tingkah dan ucapanmu, karena itu bisa menggali kuburanmu sendiri.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED