"Saya memang miskin, tapi bukan berarti Mbak bisa merendahkan saya dengan cara seperti ini."
"Saya tidak bermaksud merendahkan. Saya hanya berpikir apa yang saya berikan nanti, cukup sepadan dengan kesediaan Abang. Bukannya begitu?"
"Tapi maaf. Saya memilih tetap konsisten pada keputusan awal, dan saya harap Mbak bisa menghargai itu."
Dewa masih berusaha menahan diri menghadapi Tika—perempuan keras kepala yang sebenarnya sudah cukup membuatnya muak. Bagaimana tidak, belum genap dua jam bersama, Dewa merasa otot-otot lengannya menegang kaku lantaran harus mempertahan bersikap tenang. Kendati sebenarnya gemuruh di dalam sana sudah siap diledakkan, bahkan sejak Tika mengutarakan keinginannya.
Selain itu, Dewa juga menyesali keputusannya telah mendatangi Tika, tanpa pernah memperhitungkan hal tersebut bisa saja terjadi.
"Katakan. Apa yang bisa membuat Abang berubah pikiran?"
Desahan kasar kembali lolos dari mulut Dewa. Tika terlalu sembrono dengan menanyakan sesuatu yang bisa sangat membahayakan dirinya sendiri.
Tidakkah Tika sadar seberapa besar resiko atas pertanyaan tersebut?
Rasanya cukup mustahil, perempuan cerdas seperti Tika tidak bisa memperhitungkan sebab akibat dari tindakan yang sudah dilakukan. Tapi melihat seberapa keras Tika memaksakan kehendak, Dewa semakin waspada. Sudah pasti ada alasan yang mendasari Tika melakukan semua itu.
Namun, apapun masalah Tika, Dewa tidak ingin tahu, apalagi peduli. Perempuan itu sangat merepotkan dengan keinginannya yang dirasa, konyol.
"Saya akan menyiapkannya sekarang juga. Katakan. Berapa yang Abang inginkan?" lanjut Tika yang seketika menyentak punggung Dewa.
Sikap congkak Tika benar-benar melukai harga diri Dewa yang setinggi langit. Apa perempuan itu pikir harta yang dia miliki bisa membeli segalanya? Hingga ia rela merendahkan diri untuk bisa mendapatkan sejumlah uang?
"Tidak heran jika orang sepertimu menganggap segalanya bisa dibeli dengan harta. Tapi maaf. Seberapa banyak Mbak menawarkannya kepada saya, itu tidak akan merubah apapun."
Sayangnya alih-alih responsif, Tika justru semakin menjadi. "Yakin dengan jumlah yang mencapai ratusan juta tidak bisa membuat Abang berpaling? Seratus juta, dua ratus juta, atau lima ratus juga? Jangan sungkan untuk memberitahu saya. Katakan saja, hm."
Semakin jengah, Dewa seketika terjingkat berdiri ingin segera pergi. Tika sudah sangat keterlaluan, dan melampaui batas.
"Jika Abang berniat pergi selangkah pun dari sini, saya akan berteriak. Bisa dipastikan apa yang terjadi setelahnya."
"Cih! Berani mengancam saya?" kata Dewa disertai senyum sinis. "Jangan melampaui batasanmu, saya bisa saja hilang kendali dan pastinya kau yang akan menyesal."
"Perlu diingat lagi, Abang ada di tempat saya. Tentunya saya yang lebih memegang kendali."
Berdecak kesal, Dewa tengah matian-matian menahan amarah yang semakin membumbung tinggi. Sikap Tika tidak bisa ditolerir lagi. Bukan hanya terlalu keras kepala, tetapi Tika juga sudah sangat berani bertindak dan mengambil keputusan. Perempuan ceroboh yang sebenarnya telah mengabaikan keselamatan sendiri demi memuaskan hasrat pada satu tujuan lain, dan Dewa menyebutnya konyol.
Jika saja Tika laki-laki, maka akan lain cerita. Dewa tidak perlu menahan diri untuk langsung memberinya pelajaran. Tidak seperti sekarang yang sedang ia lakukan.
"Ternyata benar, sesuatu yang terlihat indah di luar, belum tentu sama dengan apa yang ada di dalam," lirih Dewa penuh penekanan. Ia sudah sangat muak menghadapi kegilaan Tika.
"Terkadang seseorang bisa menghalalkan segala cara demi suatu tujuan. Memilih egois dengan mengorbankan orang lain. Bukankah sudah seperti hukum alam? Jika ada yang dirugikan, tentunya ada pihak lain yang diuntungkan. Benar begitu?"
Jawaban Tika tak urung membuat Dewa bertambah kesal. Ditatapnya nyalang perempuan itu yang sedang berjalan pelan memutari meja bundar, penghalang mereka.
"Begitu juga dengan saya," lanjut Tika disertai senyum licik.
Dewa segera memalingkan wajah, bukan hanya tidak ingin melihat wajah menyebalkan Tika. Tetapi juga keberanian perempuan itu yang mengambil jarak begitu dekat dengannya, mampu memunculkan sengatan-sengatan kecil yang membuatnya berubah gelisah.
Meski dengan tinggi tubuhnya hanya sebatas bahu Dewa, tidak ada keraguan sedikitpun di wajah Tika untuk balas menatap dingin lelaki itu. Tindakan sembrono yang sebenarnya tidak ia sadari telah mengusik kelelakian Dewa.
"Apapun itu bukan urusan saya, dan sekali lagi saya tegaskan! Saya tidak mau terlibat dalam masalah Mbak yang sama sekali tidak saya inginkan."
Bisa melihat wajah cantik Tika, serta semua keindahan yang perempuan itu miliki dengan jarak sedekat itu, iblis dalam diri Dewa semakin meronta. Sesuatu yang tidak Tika ketahui, bahwasanya lelaki muda yang bersamanya itu bukanlah pemuda polos yang hanya cukup memandangi dirinya tanpa menuntut sesuatu yang lebih.
"Tapi saya bisa melihat raguan di wajah Abang. Benarkah Abang masih tetap teguh sekarang?"
Sialan. Dewa hanya bisa menegang kaku saat Tika terus merapatkan diri padanya. Bisa berakibat fatal jika ia tidak segera menghindar.
"Tidak sepantasnya perempuan bermartabat seperti Mbak melakukan ini pada laki-laki asing."
Glek!
Seakan tamparan keras menyadarkan Tika yang langsung berpaling dan menjauh.
"Saya tahu Mbak tidak seperti itu. Jangan merendahkan diri lebih dari ini."
Tika hanya mampu tertunduk malu. Kalimat pamungkas Dewa benar-benar telah menghujam tepat ke ulu hati. "Silahkan cari laki-laki lain yang mau menerima tawaran itu, permisi." Dewa bergegas pergi. Ia butuh pengalihan atas apa yang sudah mempengaruhi benaknya.
Namun, baru beberapa langkah menjauh, kalimat Tika seketika menghentikannya.
"Karena saya tahu Abang orang baik. Abang tidak seperti mereka yang menganggap uang segalanya. Untuk itu saya berani bertindak sejauh ini."
Naasnya bukan hanya suara bergetar Tika yang mampu menggelitik telinga, tapi juga pernyataan perempuan itu yang terlalu dini menyimpulkan dirinya orang baik. Tak urung membuat Dewa mendenguskan senyum geli.
"Terlalu naif menilai saya baik bahkan di pertemuan pertama yang singkat ini. Saya yakin Mbak akan menyesali keputusan hari ini di lain waktu."
"Tidak akan. Terserah bagaimana tanggapan Abang tentang penilaian saya. Tapi saya yakin. Abang memiliki hati yang baik."
Semakin geli dengan pujian yang Tika lontarkan, Dewa menggaruk satu alis yang tiba-tiba gatal seraya membalik badan. Sebenarnya ia merasa kesal telah dipermainkan, tetapi pujian demi pujian Tika tak urung membuat kesalahan itu sedikit teralihkan.
"Maaf atas sikap saya yang sudah menyinggung Abang tadi. Sungguh, saya tidak bermaksud merendahkan ataupun melukai harga diri Abang. Saya hanya berpikir setiap tindakan tetap harus mendapat imbalan yang sepadan, itu saja. Sekali lagi saya minta maaf," ungkap Tika tulus disertai gurat penyesalan.
Ia telah salah menduga dengan menganggap Dewa seperti laki-laki lain yang rela melakukan segalanya hanya demi harta. Penolakan Dewa seakan membuka matanya, jika penampilan berandal lelaki itu bukanlah cerminan yang sebenarnya. Karena itulah Tika merasa bersyukur, Inez telah mencarikan dirinya seseorang yang tepat.
"Jadi semua itu hanya—"
"---maaf. Saya tahu sudah keterlaluan," sela Tika.
"Lantas, bagaimana dengan permintaan Mbak tadi?"
Berhasil menguasai diri, sekarang Dewa merasa gemas dengan Tika yang lebih banyak menunduk. Dimana keberanian yang beberapa saat lalu ia lihat.
"Sebenarnya itu—"
Brak! Brak
Tiba-tiba suara gedoran pintu yang disertai teriakan seseorang mengejutkan keduanya. Dewa mengerutkan alis saat melihat kepanikan di wajah Tika.
"Siapa itu yang datang?"
"Emm… itu, anu, dia.."
"Tika buka pintunya!! Aku tau kau ada di dalam!! Keluar Tika atau aku akan masuk dengan caraku!!"
"Mau apalagi kau datang?!" Tika berucap dingin begitu pintu pagar dibuka, dan mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya. "Jika kedatanganmu berhubungan dengan pekerjaan, kita bicarakan besok di kantor. Tentunya pada jam kerja."
"Kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya, Tika. Apa yang terjadi tidak seperti yang dilihat semua orang," terangnya dengan nafas terengah. "Percayalah padaku."
Tika segera menyembunyikan tangan ke belakang punggung, mengetahui Roland berniat akan meraihnya.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kau telah berbohong. Itu faktanya."
"Itu tidak benar. Semua hanya kamuflase. Kami tetap menjalani hidup masing-masing, baik dulu maupun sekarang."
Alih-alih percaya, lewat desakan nafas panjang yang baru saja lolos, Tika sama sekali tidak peduli dengan apa yang Roland jelaskan. Wajah malasnya seakan meminta lelaki itu segera pergi. Bahkan bila perlu sejauh mungkin dari hidupnya.
"Aku sudah memutuskan apa yang menurutku benar. Hubungan kita tidak layak diperjuangkan lagi. Kedepannya kita hanya partner. Bukan lagi dua orang dewasa yang pernah menjalin hubungan terlarang," tegas Tika memberi ultimatum.
Roland berubah gusar dengan meremas rambut atas. "Tapi aku masih ingin kita seperti dulu, Tika. Kau bahkan tahu seberapa dalam perasaanku terhadapmu.
Tatapan Tika masih sedingin Antartika, dan itu sesuatu yang baru pertama kali Roland temui.
Kegusaran Roland tidak akan menyurutkan tekad Tika untuk tetap pada keputusannya. Semua harus segera dihentikan, sebelum pandangan luar semakin menguliti dirinya hingga tak tersisa.
"Sudah berulang kali aku katakan padamu. Pernikahan kami hanya kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, ataupun komintern di dalamnya. Kami juga sudah sepakat untuk berpisah setelah aku berhasil menyakinkan Mr. Logan."
Mendengar keterangan Roland, Tika mendesak alis tinggi, berusaha menghalau rasa sesak yang tiba-tiba menyusup hati. Ternyata Roland tidak pernah peduli dengan apa yang ia rasakan. Lelaki itu tetap memaksakan kehendaknya. Lantas, apakah itu yang disebut CINTA?
Bukankah cinta lebih mementingkan perasaan orang yang dicintai, daripada kepentingan pribadi?
Dan, memilih melepaskan setelah sadar cinta menyakiti?
"Ada apa ini? Sayang… kau baik-baik saja? Hei.. lihat aku, kenapa menangis, hm?"
Setelah muncul dengan penuh percaya diri, Dewa langsung memeluk Tika erat di hadapan Roland yang seketika menajamkan mata. Terlihat jelas lelaki itu tengah menahan kesal. Tapi Dewa mengabaikannya dengan semakin posesif merangkul Tika. Sesuatu yang sebenarnya sangat ingin ia lakukan sejak tadi.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa tamumu tidak dipersilahkan masuk?"
Dewa benar-benar totalitas menunjukkan sikap manisnya di depan Roland, sesuai keinginan Tika.
"Aku akan baik-baik saja jika kau tetap bersamaku."
"Aku bahkan ragu bisa jauh darimu meski itu hanya sedetik, Sayang." Sambil meninggalkan kecupan singkat di puncak kepala Tika, Dewa mengulas senyum licik mengetahui wajah Roland sudah merah padam. Ia tahu semarah apa lelaki itu sekarang.
"Siapa dia?!" Muak dengan kemesraan yang sengaja dipamerkan di depan mata, Roland bertanya lantang. "Jawab Tika! Siapa dia dan kenapa ada dirumahmu sepagi ini? Apa yang sudah kalian lakukan, hah!"
Kemarahan Roland memuncak begitu tahu rambut panjang Dewa dalam keadaan setengah basah, pun dengan pakaian santai yang pemuda itu kenakan. Hanya lelaki bodoh yang tidak bisa mengartikan situasi apa yang sudah terjadi di rumah Tika sebelum dirinya datang.
"Jadi seperti ini hubungan yang kau inginkan? Tinggal bersama agar bisa melakukan banyak hal, iya?!"
Plakkk!!!
Roland mengeras rahang dengan kepala masih menoleh ke samping. Ia bahkan sampai mematung sepersekian detik. Meyakinkan diri bahwa Tika benar-benar telah menamparnya.
"Pergi!" ucap Tika dingin dengan cairan bening sudah terkumpul di pelupuk mata.
Ternyata Tika sendiri cukup terkejut bisa sampai meninggalkan bekas merah di pipi Roland. Tamparan itu sangat keras. Naasnya, menyakiti lelaki yang dicintai, seakan ia juga merasakan sakit yang sama.
"Apa salahnya jika aku tinggal bersama suamiku? Apa hakmu menghakimi kami." Setetes bulir bening akhirnya terjun bebas, dan Tika buru-buru mengusapnya. "Sekarang kau sudah tahu alasan kita tidak mungkin lagi bersama, bukan? Lantas, untuk apa kau masih di sini."
"Cih! Suami?" Roland dengan cepat menyangkal. Di sertai tatapan remeh ia beralih pada Dewa. "Hei anak muda, berapa dia membayarmu? Apakah itu seharga rumah mewah? Atau mobil keluaran terbaru?"
Dewa yang sebelumnya hanya diam menyaksikan, seketika terhenyak. Lebih lagi dengan tuduhan yang Roland lontarkan.
"Aku akan memberimu dua kali lipat, asal kau tinggalkan Tika saat ini juga."
Kendati mulutnya masih tertutup rapat, tetapi kepalan tangan Dewa sudah terangkat hendak menghantam wajah Roland, sampai tiba-tiba Tika menahannya.
"Tidak ada gunanya kita meladeni mulut kotornya, Sayang. Biarkan saja dia berspekulasi seperti apa yang diinginakn. Kita hanya perlu menunjukan pada dunia jika rumah tangga kita bukanlah rekayasa."
Namun, bukannya tenang yang ada bola mata Dewa seakan keluar dari cangkangnya. Kali ini tidak hanya marah, Dewa juga merasa sangat bodoh sudah mau menuruti permintaan Tika. Perempuan itu sudah melampaui batas kesepakatan, tidak hanya berani menyebut dirinya suami, Tika juga mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
'Sialan. Jadi ini rencananya. Licik!'
Detik berikutnya Roland pergi tanpa meninggalkan sepatah kata. Tidak lama disusul Tika yang juga langsung masuk ke dalam rumah. Menyisakan Dewa yang lagi-lagi hanya bisa menahan kemarahan atas apa yang terjadi. Cerdik. Rupanya Tika sudah mengatur semuanya sejak awal saat tahu Roland akan datang, dan menjerat Dewa agar masuk ke dalam permasalahannya yang pelik.
"Cih! Tika sialan. Tak kusangka dia bisa selicik itu. Dan sekarang, mustahil Roland tidak mengejarku setelah apa yang terjadi hari ini. Pes, apes. Tau begini jadinya, aku ambil saja uangnya tadi. Biar sekalian bisa menutup mulut Clara."
****
Dewa masih celingukan berusaha mencari keberadaan Tika. Sayangnya, sejauh mata mengitari setiap sudut ruang tengah, tetap tidak menemukan keberadaan perempuan itu. "Dimana dia? Mungkinkah rumah ini ada pintu rahasia menuju dimensi lain?"
Merasa masih ada yang perlu diluruskan, Dewa memilih menunggu Tika. Tapi naasnya, sudah hampir satu jam menunggu, Tika tak juga muncul. Kemana sebenarnya perempuan itu bersembunyi?
Tidak sabar hanya menunggu seperti orang bodoh, Dewa menyakinkan diri untuk memastikan beberapa tempat di lantai satu, termasuk dapur. Entah kemana perginya bibi yang tadi sempat menyuguhkan minuman untuknya. Karena ketika ia berkeliling, rumah dalam keadaan benar-benar sepi, seperti tak berpenghuni.
"Seharusnya aku yang marah dengan dia menyebutku suami. Bukan malah dia yang melakukan ini padaku," sungutnya ketika tidak menemukan Tika dimanapun.
Namun, tiba-tiba saja langkah Dewa terhenti saat melewati pintu kaca yang terbuka lebar, dan ternyata mengarah ke halaman samping. Kendati tidak menjamin apakah Tika ada di sana, setidaknya Dewa tetap harus memastikan. Ia sudah tidak sabar ingin membuat perhitungan dengan perempuan licik itu.
"Rupanya di sini juga tidak ada. Ck. Dimana dia sebenarnya?" Dewa semakin jauh meninggalkan pintu kaca. "Astaga! Kenapa tiba-tiba aku jadi khawatir begini?"
Dewa masih melihat-lihat sekitar. Karena tidak berhati-hati, ia beberapa kali nyaris terjatuh. Terlalu banyak menahan kekesalan atas kelicikan Tika. Terlebih mulai muncul kecemasan setelah tidak juga menemukan perempuan itu, Dewa kurang memperhatikan jalan yang akan dipijak. Alhasil, ia sering tergelincir lantai setapak yang membelah rerumputan taman. Sampai akhirnya ia yang terkejut, seketika menoleh ke samping.
"Oh shit! Ini tidak mungkin!"
"Apalagi ini? Setelah menjebakku, dan hampir membuatku gila. Ternyata dia hanya menangis disitu? Hais… Drama Queen."
Suara isakan yang ada di balik tanaman dekat kolam renang, dan sempat menarik perhatian Dewa. Rupanya suara pemilik rumah yang sedang patah hati. Tika yang duduk meringkuk di atas kursi dan menghadap dinding tidak mengetahui jika ada sepasang mata memergoki dirinya.
Sempat tergesa-gesa tidak sabar ingin segera mendekat, mendadak Dewa mematung di tempat. Tidak tahu kenapa, suara isakan Tika bisa sampai menyentuh dinding hatinya. Mungkinkan simpati itu muncul bersamaan meredanya kekesalan yang beberapa saat lalu masih menggebu-gebu?
'Emang boleh sesedih ini?'
Mendesak nafas sekali, Dewa memilih memperhatikan Tika dalam diam. Membiarkan perempuan itu meluapkan kesedihan yang sepertinya cukup dalam.
'Aku bahkan percaya dia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Roland. Kenapa harus buang-buang waktu dengan menangis seperti ini.'
Sudah hampir tiga puluh menit berlalu, Dewa masih setia menunggu—menatap penuh arti punggung Tika yang masih saja bergetar.
'Apa dia tidak lelah? Berapa banyak lagi tisu yang akan dihabiskan? Benar-benar merepotkan.'
Namun, kendati demikian Dewa tidak berniat untuk pergi. Ia justru bersandar pada tanaman lain berbatang kuat serta berukuran lebih tinggi dari yang lain, sambil melipat tangan di dada. Stok kesabarannya masih cukup untuk menunggu, mungkin sampai satu jam ke depan.
Sekarang yang melintas di benaknya, Dewa seperti tidak percaya sosok yang sejak tadi diperhatikan masih perempuan yang sama beberapa saat lalu, dan nyaris membuatnya naik darah.
"Tapi jika tetap dibiarkan seperti ini. Tumpukan tisu akan semakin menggunung, dan bisa dipastikan orang yang melihat bisa salah paham."
Setelah memastikan sekitar masih sepi, perlahan Dewa mulai mendekati Tika.
"Kenapa menangis di sini? Sengaja biar saya tidak bisa melihatnya?"
Tika yang terkejut ada suara di belakangnya, seketika menoleh. Ia lebih terkejut lagi ternyata itu Dewa.
"Sebenarnya saya tidak suka ada orang melihat saya saat seperti ini. Duduklah." Tidak menunggu perintah dua kali, Dewa segera duduk di depan Tika.
"Maaf. Saya lupa masih ada Abang di sini."
"Tidak masalah. Anggap saja saya lalat atau nyamuk. Itu jauh lebih berarti."
"Bukan seperti itu, saya—"
"---sudahlah. Saya hanya bergurau jangan dianggap serius." Melihat Tika bisa melengkungkan senyum meski itu jelas sangat dipaksakan, Dewa memposisikan diri duduk dengan nyaman—menumpu satu kaki di atas kaki yang lain. "Jadi karena dia Mbak meminta saya menjadi lelaki sewaan?"
Dewa sudah bisa jauh lebih tenang. Ternyata dengan menunggu, memberi dampak positif pada dirinya sendiri. Sekarang tidak ada lagi kekesalan atau bahkan amarah dalam dirinya, hilang begitu saja. Sesuatu yang sebenarnya Dewa sendiri tidak ketahui kenapa bisa demikian.
Untuk pertama kali ia bisa menahan diri hingga berulang-ulang, pun masih dengan perempuan yang sama. Ia yang memiliki kesabaran setipis tisu, tak jarang langsung meluapkan kekesalannya pada apapun dan siapapun. Namun bersama Tika, Dewa tak ubahnya kerbau yang begitu mudah dijinakkan.
Ada apa sebenarnya?
"Saya lelah, Bang. Lelah dihujat banyak orang karena dianggap orang ketiga dalam rumah tangga Roland," ujar Tika tiba-tiba, dan tentu saja berhasil menyentak serta menarik perhatian Dewa. "Selama ini saya terlalu percaya diri. Menganggap cukup dengan menutup mata serta telinga, dan mengabaikan apapun yang orang lain katakan. Saya akan tetap baik-baik saja. Tetapi ternyata saya salah."
Mengetahui Tika akan kembali mencurahkan isi hatinya, Dewa memilih diam menyimak. Sesuatu yang kembali membuatnya heran. Sejak kapan ia peduli dengan urusan orang lain, terlebih itu Tika—perempuan yang baru dikenal bahkan belum genap satu hari.
"Saya semakin terpuruk setelah sadar, Roland tidak benar-benar mencintai saya. Dia hanya butuh kekuasaan, dan hanya menjadikan saya pijakan untuk mendapatkan mangsa yang lebih besar."
Menatap dalam manik Tika yang kembali meneteskan cairan bening, tidak tahu kenapa memunculkan rasa yang lain di hati Dewa, selain simpati. Detik berikutnya, Dewa buru-buru berpaling ke kolam ikan koi. Tidak ingin rasa asing itu semakin mempengaruhi dirinya.
"Lantas, apa yang Mbak inginkan sekarang? Tentunya setelah menyeret saya masuk ke dalam masalah Mbak."
"Saya hanya ingin hidup dengan tenang."
Helaan nafas panjang Tika mampu menarik kembali pandangan Dewa. Sialnya, melihat wajah sembab perempuan itu dari samping, kekaguman Dewa kembali muncul. Tika memiliki kecantikan spek bidadari, atau memang dialah sang bidadari yang kehilangan selendangnya dahulu kala? Sedangkan Dewa yang memang dasarnya playboy, dengan mudah langsung terpikat.
'Bodohnya Roland bisa menyia-nyiakan perempuan secantik ini.'
"Mbak bisa mendapatkan apa yang Mbak inginkan. Syaratnya bersihkan dulu nama Mbak dan jelaskan pada mereka kedekatan yang selama ini terjadi antara Mbak dengan Roland hanya sebatas rekan kerja. Bukan seperti yang selama ini publik tuduhkan."
"Tidak semudah itu. Kecuali jika saya sudah memiliki hubungan atau bahkan menikah dengan lelaki lain."
"Kenapa begitu?"
"Beberapa bulan lalu, saat saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Roland. Saya sempat memberi statement jika saya memiliki seseorang yang berharga dalam hidup saya. Tapi bukan Roland."
Menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal, Dewa ikut pusing memikirkan permasalahan Tika, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Selain itu, sekarang Dewa juga paham, kenapa Tika begitu bersikeras memintanya menjadi lelaki sewaan di depan Roland.
'Tapi yang lebih pantas dikasihani adalah diriku sendiri. Kenapa tidak mencari tahu dulu kemarin sebelum menerima tawaran Inez, dan akhirnya membuatku terjebak.'
"Diusia saya yang terbilang sudah sangat cukup untuk menikah. Tapi tak kunjung memiliki pasangan halal. Menguatkan alibi mereka, dengan menganggap saya penghancur rumah tangga Roland. Walaupun sebenarnya yang terjadi, sumpah demi apapun. Saya sendiri belum lama mengetahui jika Roland dan istrinya belum sah bercerai. Jujur. Saya sangat menyesal sudah mempercayai mulut manis laki-laki itu pada saat mendekati saya, dulu."
Dewa mendadak gusar, merasa sesuatu akan terjadi, dan yang pasti merugikan dirinya.
'Tolong. Siapapun. Bukakan pintu rahasia yang bisa membawaku ke tempat lain. Aku harus pergi sekarang. Sebelum dia membuatku berada di posisi yang semakin sulit.'
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
Deg!!
Pertanyaan tiba-tiba Tika menyentak punggung Dewa. Ia yang biasanya selalu mendominasi, kini terlihat sangat bodoh dengan menelan saliva usaha payah. Sebesar itukah pengaruh Tika pada dirinya?
"Apa yang ingin Mbak ketahui dari saya?" jawab Dewa setelah berhasil menguasai diri.
Sialnya, Tika yang tidak langsung menjawab, membuat Dewa berubah waspada. Meyakini pertanyaan perempun itu pasti sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab.
"Apakah Abang masih sendiri?"
Glek!
Dewa seketika mendesak nafas kasar. Persetan jika Tika bisa mendengarnya. Yang pasti ia ingin berteriak sekeras mungkin.
'Brengsek! Rasanya aku ingin menceburkan diri ke dalam kolam saja. Aku tahu apa yang dia inginkan dari pertanyaan itu.'
"Saya masih sendiri." Kendati sudah bisa menebak, tapi Dewa tetap menjawab.
Dan, begitu menangkap Tika melengkungkan senyum samar, Dewa mendengus dalam hati.
"Bagaimana kalau kita menikah kontrak?"
"Apa!!!"
"Iya, menikah kontrak."
"Ini gula! Eh, gila!"