Dua hari sejak kejadian itu, Puri tidak pulang ke rumah. Seperti biasaya, dia tidak akan pernah pulang ke rumah kalau tidak hari sabtu atau minggu. Hal itu saja tidak setiap minggunya, alasannya selalu mementingkan Yusno. Entah itu untuk menjaga anak-anaknya, ataupun mengantar pergi ke suatu tempat. Mira begitu heran dengan sikap suaminya itu, karena Puri seolah telah merekat dengan kakaknya. Bahkan kepeduliannya melebihi perhatiannya kepada keluarganya sendiri. Tidak jarang, Puri lebih terlihat abai serta menelentarkan Mira beserta anak-anaknya.
“Mir, di mana kamu?” Panggilan yang amat Mira hafal, membuat wanita itu bergegas menuju pintu masuk.
“Ada apa mas?” Tanya Mira sambil menghampiri asal suara tadi.
“Duduk dulu om, Imran bikinkan minum. Mau kopi atau teh om?” tanya anak bungsu Mira lalu berlalu masuk ke dalam rumah.
Mira melihat Yusno dan Puri sudah duduk manis di ruang tamu, sedangkan tadi dia hanya mendengar suara Imran saja. Mungkin mereka datang bersama dengan anak bungsunya, atau memang berdua saja dan langsung masuk ke rumah. Karena kebetulan Mira tidak mendengar salam dari dua orang itu, hanya mendengar panggilan serta salam saja dari putranya tadi.
“Owh ini hasil didikanmu Mir? Laki-laki itu tugasnya dilayani, bukan malah sebaliknya. Biarkan ibumu yang bikin minuman Ran!” teriak Yusno dengan lantangnya, bahkan kini matanya sudah menatap tajam ke arah Mira.
“Sudah, Imran masuk saja. Biar ibu yang bikinkan minum,” kata Mira sambil menggenggam tangan Imran, sebagai tanda untuk tidak menanggapi perkataan omnya itu.
“Nah gitu, perempuan itu harus manut. Kau harus tegas dengan istrimu Pur, biar tidak nglunjak. Bisa blabas nanti hahaha!” teriak Yusno diiringi derai tawanya.
Ruang tamu dan dapur hanya berjarakkan tempat santai, jadinya perkataanya mereka masih terdengar jelas di telinga Mira. Mereka jarang bertemu, mungkin hanya waktu lebaran saja. Jadinya jarang ada waktu untuk berkumpul serta mengobrol bersama. Meski begitu, Mira sudah faham betul bagaimana dengan sikap serta wataknya. Setelah meninggalnya bapak mertua Mira lima tahun silam, sikap Yusno seakan menjadi penggantinya. Mengatur hidup keluarga Puri dengan seenaknya sendiri. Seperti burung lepas dari sangkarnya, apalagi ditambah tidak ada yang berani memperingatkan kesalahannya itu membuatnya semakin menjadi.
“Silahkan mas,” kata Mira sambil menghidangkan minuman dan beberapa cemilan.
“Kau ini hanya istri Mir, tugasmu itu manut sama suami. Jangan sampai menentangnya, durhaka kamu Mir!” cerca Yusno sambil mengunyah cemilan yang dihidangkan Mira tadi.
“Pelan-pelan saja mas makannya, masih banyak di dapur sana. Nanti bisa aku ambilkan lagi,” kata Mira tanpa menghiraukan perkataanya tadi.
“Boleh bungkus nanti buat aku bawa pulang Mir?” selorohnya tanpa rasa malu sedikitpun.
Mendengar itu, Puri langsung menyikut lengan kakaknya. Sedangkan Mira hanya menahan tawanya saja, dia hafal betul kalau Yusno orangnya rakus. Begitu mudah sikap rakusnya itu langsung terlihat, entah apa karena jarang makan atau memang suka makan. Mereka saling bermain mata, memberi kode yang langsung terbaca oleh Mira. Ya, seperti biasanya Puri akan mencari tameng untuk kesalahannya. Dulu sebelum bapak meninggal mana berani mereka berulah seperti ini, ternyata kepatuhannya hanya untuk menutupi rasa takut entah sungkan kepada bapak mertuanya Mira saja.
“Mir, kau ini tak berhak atas gaji suamimu. Kau tak ingin rumah tanggamu bahagia atau malah kau berniat menghancurkannya? Ingat Mir, suami berhak melakukan apa yang dia mau,” katanya seperti orang sedang berorasi.
“Bagaimana kabar istri baru mas Yusno? Sudah tiga tahun menikah aku belum pernah bertemu, katanya juga sudah punya anak lagi ya? Tapi kenapa penampilan sampean tidak seperti dulu lagi saat bersama mbak Yana, maaf tapi sekarang lebih terlihat tak terurus!” sindir Mira sambil menyunggingkan senyum manisnya.
“Maaf mas, kalau kedatangan kalian hanya untuk membahas yang kemaren, saya tidak ada waktu. Saya rasa sebelum mas Yusno berbicara tentang hak, lebih baik sampean berkaca dulu? Sudah belum kewajiban sampean dilaksanakan. Sepertinya mas Yusno lupa, kalau kewajiban suami itu menafkahi anaknya, bukan malah menghidupi wanita lain yang hanya mampir sesaat. Apa sampean sudah menafkahi anak-anak sampean dari mbak Yana?” lanjutan Mira lagi sambil menatap tajam ke arah Yusno.
“Itu bukan urusanmu!” sergah Yusno sambil mengeprak meja, wajahnya mulai terlihat memerah.
“Nah itu mas Yusno tau kalau hal itu bukan urusanku, maka dari itupun mas Yusno juga seharusnya tidak memiliki urusan dengan nafkah anak-anakku. Aku hanya meringankan beban mas Puri saja, dengan mengingatkan kewajibannya serta menjauhkannya dari dosa zina. Aku sudah mengizinkannya menikah lagi, tapi maaf aku tidak ingin mengajukan cerai. Silahkan nikmatilah hidup kalian, perlu di ingat semua ada batasannya, kalau sudah menyangkut anak-anakku. Kalian faham sekarang?”
Mira beranjak pergi, memanggil Imran untuk mengajaknya berjalan-jalan. Sebelum keluar rumah, masih bisa dia lihat mereka sedang berbisik-bisik. Sedikitpun Mira beserta Imran tidak menghiraukan mereka. Sepertinya mereka juga masih enggan keluar dari rumah ini, padahal jelas-jelas Mira dan Imran sudah akan pergi. Bahkan Yusno serta Puri semakin menikmati cemilan yang ada, mereka benar-benar menganggap rumah itu seperti rumahnya sendiri.
“Owh iya, makanan sudah tersedia di meja makan. Makanlah sebelum pergi, rasanya kurang pantas kalau kalian berlama-lama di rumah yang tidak ada pemiliknya!” kata Mira sambil berjalan menuju garasi. Terlihat bagaiman ekspresi mereka, rasanya Mira ingin tertawa melihat suami serta kakak iparnya itu yang ternganga mendengar ucapan Mira.
“Maaf aku bukan mbak Yana yang dengan mudahnya dipengaruhi, dengan tetap melakukan kewajibanku, maka semoga itu menjadi jalan untuk menghapus dosaku,” gumam Mira sambil berjalan masuk ke dalam mobilnya.
“Ibu tidak sakit hati mendengar ucapan mereka? Melihat tingkah laku mereka?” tanya Imran sambil memasangkan sabuk pengaman untuk ibunya itu.
"Apa Imran sakit hati nak?" tanya Mira kembali tanpa menjawab pertanyaan putranya terlebih dahulu.
"Tentu bu, sikap mereka sudah sangat keterlaluan. Apalagi ayah, aku sudah tidak bisa mentoleransinya lagi," jawabnya sambil matanya menatap jauh ke depan sana, Imran berfikir kalau ayahnya begitu egois. Hanya mementingkan nafsunya saja, tanpa menghiraukan perasaan dirinya dan ibunya.
“Sama nak, tapi kita harus terus ingat bahwa sakit itu tidak perlu dibarengi dengan amarah. Ada yang lebih penting lagi untuk ibu pikirkan yaitu bagaimana hak kalian terpenuhi, bahkan kalau bisa kalian jangan sampai terusik oleh masalah ini. Ingat, jangan lupa bagaimanapun itu tetap ayah Imran ya!” jawab Mira sambil menyentuh punggung tangan Imran.
“Yang baik, tirulah. Tapi yang tidak baik, tinggalkan. Ingat nak, tak ada kebahagian yang didapat dari hasil menyakiti orang lain. Contohnya sudah terlihat bukan? Tanpa ibu jelaskan, Imran sudah bisa menilai sendiri dari keadaan om Yusno. Imran fahamkan nak maksud ibu?”
“Iya bu, Imran faham maksud ibu,” Jawab Imran sambil menganggukkan kepalanya.
“Apalagi kamu anak lelaki nak, tanggung jawabmu lebih diperlukan dalam membangun rumah tanggamu nanti. Tidak memungkiri, kamu harus mulai belajar dari sekarang nak, jangan sampai menyesalinya dikemudian hari,” ucapku Mira karena bagaimanapun Mira takut bila nanti Imran akan seperti Puri. Melupakan tanggung jawab utamanya yaitu menjadi pemimpin baik dalam keluarga ini ataupun keluarganya nanti.
“Iya bu, insha Allah aku akan selalu mengingat hal itu. Bagaimanpun aku juga tidak mau kalau nanti anak serta istriku tidak memiliki kenangan bagus akan kehadiranku,” jawab Imran yang sukses membuat Mira mengembangkan senyumnya.
“Apa segitu marahnya kamu nak kepada ayahmu?” tanya Mira yang melihat Imran termenung kembali setelah memberikan jawabannya tadi.
“Sejak kecil, kebersamaan kita bisa dihitung jari bu. Bahkan aku tidak ingat kapan kita tertawa bersama, apalagi setelah membawa wanita itu datang ke rumah. Seperti hanya membawa mimpi buruk saja bu,” jelas Imran diiringi wajahnya yang terlihat merah padam namun matanya terlihat jelas akan kepiluan di sana.
“Meski hanya beberapa kali kebersamaan itu berlangsung, jadikanlah itu sebagai pelipur laramu nak. Ingat saja yang baik-baik nak,” ucap Mira sambil kembali menatap jalanan sana.
“Itu tidak mudah bu,” ucap Imran dengan lirihnya.
“Setidaknya dicoba nak, biar nanti itu menjadi penghilang lukamu,” ujar Mira sambil mengukir senyumnya.
“Aku akan mencobanya bu,” jawab Imran. Bahkan kini wajahnya semakin terlihat murung, seakan enggang untuk mengikuti saran dari Mira tadi.
“Sudahlah, kita lupakan saja nak. Bukankah tadi katanya mau refreshing mumpung kamu liburan bukan?” Imranpun hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum manisnya, hal itu mengingatkan Mira kepada Puri tentunya sebelum dia berubah atau lebih tepatnya sebelum penyakit itu mengenainya.
“Apakah aku bisa kuat di depan anak-anakku nantinya?” gumam Mira sambil mencekram setir mobil yang sedang dia pegang.
Mira masih menatap ke depan sana, pandangannya mulai terlihat buram. Namun dia kembali bertekat untuk terlihat tegar di mata anak anaknya, Mira mencoba untuk melihat ke atas mobilnya untuk menghalau air mata yang sudah ingin keluar itu, beruntung dia masih bisa mengendalikannya.
“Kita mau ke mana ini nak?” tanya Mira dengan lirihnya, suaranya sudak mulai serak namun sebisa mungkin dia membernarkan suaranya.
“Aku pengen ke tempat makan langganan kita bu,” jawab Imran yang hanya diiyakan oleh Mira. Perempuan itu segera menginjak pedal gasnya, kecepatannya dia tambah supaya lebih cepat sampai di lokasi yang diinginkan putranya itu.
Setelah sampai di tempat parkir, Mira keluar lebih dulu. Dia tidak melihat ke arah sekitanya, perempuan itu lebih fokus ke papan besar yang menyambut kedatangannya. Dia ingat betul, waktu itu pertama kali dia makan di sini bersama Puri. Bukannya menjadi makan malam yang romantis, yang ada dia malah disuruh mengasuh anak-anak dari si Yusno.
"Kejutan!" seru seseorang sambil memeluk tubuh Mira.
"Ada apa ini? tumben tidak ngabari dulu kalau mau pulang," ucap Mira sambil membalikkan badannya. Dia begitu senang melihat kedua gadis yang berada di depannya, bahkan air matanya sampir luluh begitu saja.
"Nanti tidak jadi kejutan dong bu, duduk sini bu. Aku sudah pesankan makanan kesukaan kalian," ucap seorang gadis yang memakai hijab sambil mengandeng tangan ibunya itu.
"Banyak ini makananya? Apa kita habis nanti? Owh iya gimana ngajarnya Zahra?" Kebetulan Zahra sudah keterima CPNS tahun kemaren, dia ditempatkan di kabupaten sebelah sehingga dia sudah jarang berkunjung lagi menemui Mira, bahkan akhir pekan Mira sering melarang Zahra datang karena dia hanya libur di hari sabtu saja.
"Alhamdulillah bu, lancar. Owh iya ada kejutan lagi loh bu," ucap Zahra sambil menggengam erat kedua tangan ibunya itu.
Belum selesai putri sulung Mira itu berkata, dari belakang sudah ada yang memeluk tubuh Mira. Dari lengan yang hanya memakan baju pendek itu, Mira langsung mengenalinya. Apalagi bau parfum yang sangat dia hafal, membuat perempuan itupun langsung menyungginkan senyumnya.
"Ibu, huhuhu. Bagaimana ceritanya? Kenapa ayah bisa seperti itu? Waktu untuk kita saja dari dulu sudah tak ada. Sekarang malah bersenang-senang dengan_ huhuhu ibu," ucap gadis itu sambil menangis tersedu.
"Sayang, liat ibu," kata Mira sambil membalikkan badan dan memegang kedua pipi putri keduanya itu.
Matanya terlihat bengkak, hidungnya merah. Bahkan sesekali dia menarik ingusnya. Gadis itu bernama Nahla, putri keduaku yang paling cengeng namun sangat perngertian dan perasa. Tingkahnya yang paling manja, membuat Mira masing sering menganggapnya seperti anak kecil.
"Liatlah ibu, ibu tak apa-apakan? masih baik-baik saja bukan?"
"Ibu_" panggil Nahla sambil memeluk tubuh Mira kembali.
"Tak apa, ayo duduk. Ibu akan ceritakan semuanya," ucap Mira sambil menarik pelan tangan Nahla.
Setelah mereka semua duduk, Mira meminum jus yang sudah tersedia di atas meja. Perempuan itu melihat anak-anak yang ada di depannya satu persatu, mata Zahra sudah memerah, sedangkan Nahla dia menunduk sambil bahunya tergunjang serta isaknya yang makin terdengar, sedangkan Imran terlihat jelas kalau matanya menyimpan amarah.
"Maafkan ibu, ini semua salah ibu. Ibu tak pernah mengira kalau kedekatan om Yusno dengan ayahmu akan membawa dampak besar. Bagaimanapun mereka saudara, ibu tak berhak memisahkannya bukan? Ibu hanya bisa membatasinya, namun kalian juga tahu bukan kalau mereka bekerja di tempat yang sama? waktu mereka bersamapun akan lebih lama lagi," ucap Mira sambil menarik nafasnya secara perlahan.
"Jadi ibu sudah mengetahuinya?" tanya Imran, sedangkan Mira hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Kenapa ibu tidak cerita ke kita?" tanya Nahla dengan lirihnya namun penuh dengan penekanan.
"Ibu kira ayahmu sudah berubah, ternyata malah semakin menjadi," jawab Mira sambil diikuti rasa sesalnya karena tidak bisa menjaga ayah anak-anaknya itu.
"Ibu sanggup menerima semua ini? Kenapa tidak melepaskannya saja?" tanya Zahra secara perlahan.
"Hah...." Mira mencoba meraup semua udara di dekatnya, dadanya sudah mulai terasa berat mengingat kejadian yang dia alami.
"Bu, Ayah tak pernah peduli kepada kita bukan? Ibu masih ingat saat dek Imran dan dek Nahla sakit? Apa yang dilakukan ayah? beliau malah lebih mementingkan membantu om Yusno bukan? mengantarkan anaknya yang lagi sakit, padahal om Yusno sendiri tak menghiraukannya," pelan Zahra mengutarakn isi hatinya sambil mengusap lembut tangan Mira, sebagai tanda untuk mencoba memberi kekuatan kepada ibunya itu.
Imran bangkit dan berjalan pindah duduk ke kursi kosong yang ada di sebelah Mira, dia mengusap lembut pundak ibunya itu. Nahla tidak maukalah, dia juga bangkit dari duduknya lalu memeluk tangan Mira dan duduk di sisi lainnya. Seketika tangis Mira tumpah begitu saja, di dalam hatinya Mira bersakki kalau mereka adalah anak-anak yang berbakti, dengan kasih sayangnya mencoba untuk memberiku kekuatan kepada ibunya yang sedang dalam keadaan terpuruk. Bagaimanapun Mira berjanji kepada dirinya sendiri untuk tetap tegar dan kuat dalam mengatasi masalah ini.
"Bu, bahkan ayah rela menjual mobil hadiah dari ibu hanya untuk om Yusno, modal dia membangun usahanya. Tapi apa? setelah berhasil bahkan mereka malah merendahkan ibu," ucap Nahla sambil memeluk lengan Mira lebih kencang lagi.
"Ada atau tidaknya sosok ayah, tak memberikan pengaruh kepada kita. Karena sejak awal dia sudah menjadi ayah bagi om Yusno bukan kita," Ucap Imran dengan lembut. Namun mampu menusuk hati Mira, air mata Mira semakin deras, dia menyadari kalau sebegitu tadak adanya Puri di hati mereka.
"Ibu berhak bahagia," kata anak sulung Mira sambil menatap lekat wajah ibunya itu..
"Carilah kebahagian ibu," timpal Imran.
"Bila bercerai menjadi salah satu jalannya, kami selalu mendukung keputusan ibu," sambung Nahla.
"Kalian akan selalu mendukung keputusan ibu bukan?"
"Pasti bu," jawab mereka serempak.
"Ibu tidak akan menceraikan ayah, biarlah ayah membayar kewajibannya dengan memberikan hak kepada kalian meski hanya sebatas hak nafkah lahir saja," Jelas Mira dengan terbata.
"Bu, bukankah tanpa itu kebutuhan kita semua masih terpenuhi?" tanya Zahra sambil menatap lekat wajah ibunya itu.
"Betul sayang, tapi hal itu tentu sangat berpengaruh bagi ayah kalian. Setidaknya biaya dia bersenang-senang akan berkurang bukan?" jawab Mira dengan ringannya bahkan dia mencoba untuk mengukir senyum di bibirnya itu.
“Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Uang yang dia hambur-hamburkan hanya dari gajinya saja, dulu aku tak pernah mempermasalahkan kalau uang itu untuk kebutuhan pokok dia, tetapi sekarang dari pada uang itu untuk wanita lain lebih baik anaknya sendiri yang menikmatinya. Meskipun anak-anak sudah mempunya usaha sendiri-sendiri, tanpa sepengetahuan ayahnya tentunya,” batin Mira sambil menatap satu persatu wajah putra putrinya itu.
“Kita sepakat untuk menutupi usaha ini dari mas Puri, karena kita tau mas Puri akan selalu menceritakannya kepada mas Yusno yang pada akhirnya mereka akan merongrongnya hingga usaha yang kita lakukan menjadi gulung tikar. Seperti waktu dulu awal kita merintis usaha,” batinnya lagi sambil menerawang kejadian yang telah berlalu itu.
"Ayo kita nikmati hidangan ini," Ajak Mira sambil mengambil sendok yang sudah tersedia.
Berlahan anak-anak mulai duduk ditempatnya, mereka mencoba kembali bersenda gurau sambil menikmati hidangan yang ada. Sesekali mereka mengeluarkan candaan untuk Mira, perempuan itu tahu kalau mereka mencoba menghibur ibunya yang sedang bersedih itu. Meski terasa berat, Mira berusaha untuk tertawa demi mereka.
“Ya, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kalian,” gumam Mira sambil mengepalkan kedua tangannya.
Brak
“Apa-apaan anda!”