Bab 1

“Saya datang ke sini, bermaksud untuk melamar putri Bapak Harun, untuk ayah Saya, Pak Roy.”

Samar-samar, Sova mendengar suara obrolan yang sepertinya berasal dari ruang tamu. “Melamar?” lirihnya pelan. Sontak Ia pun menghentikan langkahnya untuk mencuri dengar. “Siapa yang dilamar?” tanyanya di dalam hati. Ia pun berjongkok di teras belakang rumahnya, sisi ruang tamu, seraya meletakkan ember berisi piring-piring yang baru saja Ia cuci di sumur umum. Rumah milik Sova merupakan rumah panggung yang berukuran empat kali enam meter, jadi antara ruang tamu dan tempat Ia berjongkok saat ini seolah tak ada sekat, terlebih dinding rumah pun terbuat dari bilik kayu.

“Untuk siapa tadi?” Terdengar suara bu Devi, ibu tiri Sova yang mempertanyakan ucapan awal tamu.

“Untuk Ayah Saya, Pak Roy,” jawabnya dengan suara yang tegas.

Hening sesaat, tak ada suara dari siapapun. Sova mengerutkan keningnya, berpikir tentang satu hal. Biasanya yang datang melamar itu adalah Ayah untuk anaknya, mengapa sekarang dibalik? Apakah anaknya sudah cukup dewasa, sehingga bisa melamarkan seseorang untuk ayahnya? Jika anaknya dewasa, bagaimana dengan ayahnya?

“Anda yakin? Berapa usia ayah Anda? Apa yang anda bawa untuk Saya?” tanya bu Devi terdengar ketus.

“Bisakah Saya berbicara langsung dengan pak Harun?” tanya orang itu lagi yang entah siapa, Sova tak berani mengintip. Jika Ia berani mengintip, pasti akan ketahuan karena kaca jendela yang merupakan kaca bening tanpa gordeng tipis.

“Tak perlu, suami saya masih sakit. Dia enggak bisa gerak. Semua keputusan ada di tangan saya. Saya cuma mau tanya dua hal. Satu, apa yang Anda janjikan untuk Saya sebagai orang tua? Dua, berapa usia ayah Anda?” tanya bu Devi to the point.

“Baik. Saya akan memberikan uang tunai sebesar satu juta untuk Anda sebagai ibunya. Usia Ayah saya 57 tahun, tepat di bulan depan.”

“Hah?” terdengar bu Devi kaget, sama halnya dengan Sova yang langsung menutup mulutnya saat Ia mendengar usia sang pelamar.

“Tapi kan... yang ngebet pengen nikah Yulia.” Sova tak berpikir apapun saat mendengar obrolan Ibu tiri dan tamunya. Toh, yang selama ini ingin segera menikah adalah Yulia, adik tirinya.

“Untuk usia segitu ya!” ucap bu Devi yang membuat Sova sedikit tersenyum lega. Nada bicara bu Devi seperti sedang mempertanyakan atau menunjukkan keraguan untuk menerima lamaran. Dia merasa kasihan kepada Yulia jika harus berakhir dengan menikahi seorang lansia. Bagaimana pun jahatnya Yulia kepadanya, Sova masih memiliki rasa sayang kepada anak ibu tirinya itu.

“Kalau kamu mau menaikkan harga menjadi lima juta, kita deal.” Sova lebih serius mendengarkan obrolan kedua orang tersebut. Ia pun melirik ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Yulia yang setiap hari memang jarang berada di rumah. Ia ingin mewanti-wanti agar adiknya bisa tegas menolak lamaran ini. Tapi nihil, ia tak menemukan sosok Yulia di sekitaran rumah.

“Baik. Sebulan lagi akan kita adakan pernikahan ini. Dan saya, melamar untuk yang ini!” ucap tamu lelaki tersebut.

“Yang ini?” monolog Sova sambil mengerutkan keningnya. “Apa di dalam ada Yulia? Jadi, dia nunjuk Yulia.” Sova terus menerka-nerka pemikirannya sendiri. Ia tak berani mengintip untuk sekedar menuntaskan rasa penasarannya.

“Sebulan lagi, kami akan datang lagi untuk melaksanakan pernikahan.”

“Oke, deal. Sepakat!” sahut bu Devi terdengar sumringah. “Tapi, saya minta DP sebesar satu juta, sekarang!” lanjut bu Devi yang membuat Sova lebih mengeratkan pegangannya pada gagang ember. Ia memikirkan nasib Yulia yang akan menikahi lelaki tua. “Kasihan! Mendingan kayak aku, lebih memilih mengejar cita-cita daripada harus berakhir menikah di usia muda. Aku masih mau bahagiain Ayah, Mama dan Yulia juga. Ahhh, semoga aku bisa merubah pikiran Yulia,” gumamnya di dalam hati.

“Baik. Kita bertemu lagi bulan depan. Assalamu’alaikum,” ucap suara bariton yang berasal dari ruang tamu.

Sova segera berdiri dari jongkoknya, kemudian Ia segera masuk ke dapur dengan segera. Ia cukup kaget karena disaat pikirannya sedang mengembara, tamu tersebut malah pulang dan keluar dari rumah. Ia buru-buru masuk dan tak sempat melihat perawakan tamu tersebut. Bahkan, setelah Ia berada di luar rumah sekalipun.

“Sova!” panggil bu Devi setelah kepergian tamu tersebut. Wanita paruh baya itu menyadari kedatangan Sova saat Ia mendengar seseorang membuka pintu dapur.

“Iya, Ma!” sahut Sova sambil menyimpan pekerjaannya. Ia sedang merapikan piring-piring yang baru Ia cuci ke atas rak kayu yang dibuat jauh di atas tungku.

“Kamu...” Sejenak bu Devi berhenti berbicara, seolah Ia sedang memikirkan sesuatu.

“Ada apa, Bu?” tanya Sova penasaran.

“Kapan datang dari sumur?” tanya bu Devi pada akhirnya.

“Baru masuk dapur, Bu. Kenapa gitu?” tanya Sova seolah Ia tak tahu kemana bu Devi akan membawa pembicaraan mereka. Ia memang benar-benar baru memasuki dapur seperti apa yang diucapkannya.

“Oh, enggak apa-apa. Ya sudah, sana lanjutkan!” titah bu Devi seraya mengibaskan tangannya.

“Iya, Ma!” sahut Sova seraya berlalu, kembali ke dapur.

“Jangan lupa, sapuin rumah lagi. Tadi baru ada tamu, dirapiin gelas yang di meja!” titah bu Devi sambil melenggang menuju kamar.

“Iya, Ma!” Lagi-lagi hanya kalimat itu yang terucap dari mulut kecilnya. Ia tak pernah mempermasalahkan apapun yang Ia terima di keluarga ini. Baginya, hidup bahagia adalah bagaimana cara seseorang menyikapi keadaan saja. Ia ikhlas.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Sova teringat dengan Yulia yang sedari tadi tak Ia lihat batang hidungnya. Bukankah lelaki tadi menunjuk ke arah Sova?

Sova berjalan ke kamar bu Devi dan pak Harun. Ia pun berhenti tepat di depan pintu yang hanya tertutup oleh gorden, tanpa daun pintu. “Ma!” panggil Sova.

“Apa?” bu Devi tiba-tiba menyibak gorden dan berdiri tepat di depan wajah Sova.

“Astaghfirullah!” ucap Sova karena kaget dengan keberadaan bu Devi yang tak sempat Ia perkirakan. Gadis cantik itu pun mengelus dadanya demi menurunkan rasa kaget yang Ia rasakan. Bahkan, Ia melihat dandanan bu Devi yang begitu mencolok.

“Apa?” ulang bu Devi dengan pertanyaannya.

“Mama mau kemana?” tanya Sova saat Ia melihat tampilan bu Devi yang cetar.

Karena pertanyaannya sendiri, Sova merasa serba salah karena melihat delikan tak suka dari bu Devi. Bahkan, wanita yang sudah menjadi ibu tirinya sejak Ia masih belum sekolah SD itu, tak sedikitpun menjawab pertanyaannya. “Emmmhh, Yulia mana?” tanya Sova pada akhirnya.

“Enggak ada. Dari pagi juga enggak ada,” jawab bu Yulia seraya menggeser tubuh Sova yang menghalangi jalannya.

Sova mengernyitkan keningnya. “Bukankan Yulia ikut keluar sama tamu tadi?” tanya Sova yang hanya bercokol di dalam otaknya saja. Ia tak berani mengungkap pertanyaan itu karena Ibunya akan otomatis tahu kalau dia mengetahui tentang keberadaan tamu tadi. Ia pun memilih bungkam.

“Jangan lupa, bersihin Ayah kamu!” titah bu Devi seraya membuka pintu keluar.

“Mama mau kemana?” tanya Sova lagi sambil melihat Ibunya yang sedang mengenakan sendal, dengan membawa dompet kecil andalan bu Devi kalau mau pergi keluar.

Tak ada jawaban apapun dari bu Devi atas pertanyaan Sova. Bahkan, wanita paruh baya itu melenggang pergi tanpa mengucapkan salam kepada Sova yang masih setia berdiri di pintu keluar.

Sova segera masuk ke dalam rumah setelah menetralkan perasaannya dengan menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti barusan. Sekarang, Ia harus segera mengurus rumah dan Ayahnya.

Sova pun segera berbalik dan berniat membereskan gelas air putih yang berada di meja, serta piring yang berisi pisang goreng yang tadi pagi Ia siapkan di buffet. Saat Ia mengambil gelas tersebut, matanya menangkap sebuah foto yang tergeletak di sana. “Foto aku?” tanyanya dalam hati seraya memungut foto candid saat Ia mengenakan seragam sekolah.

Deggg... Tiba-tiba hatinya bergetar hebat karena teringat dengan obrolan antara bu Devi dan tamunya tadi. “Apakah tadi benar-benar tak ada Yulia?”

Bab 2

1 Bulan Kemudian...

Sova menutup resleting tas barunya dengan riang. Ia begitu senang karena bu Halimah mengatakan bahwa perlombaan debat bahasa Inggris di Kabupaten dilaksanakan hari ini. Ia selalu bermimpi untuk mewujudkan masa depan yang lebih cerah.

“Va, ini Ibu bawakan sesuatu untuk kamu,” ucap bu Halimah di hari kemarin seraya menyodorkan sebuah bingkisan plastik hitam.

Sova menatap bingkisan itu dengan penuh haru, tapi juga berbarengan dengan rasa tak enak hati.

“Ambillah, Nak!” titah bu Halimah seolah paham apa yang ada di pikiran anak didiknya.

“Buat Saya, Bu?” tanya Sova sekali lagi. Ia ingin memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.

“Iya. Alhamdulillah Ibu ada rezeki. Besok pas lomba, pakai baju seragam dan tas yang baru ini ya!” titah bu Halimah sekali lagi.

Dengan senyum yang mengembang, Sova pun menerima bingkisan itu seraya menciumi tangan gurunya dengan bahagia. Bahkan, ia ingat bahwa kemarin ia menciumi tangan bu Halimah sampai dibolak-balik. Gurunya itu tak tahu saja, saat Sova di perjalanan pulang, ia sempatkan untuk melipir di semak dekat pohon bambu untuk menangis. Bukan karena derita yang ia rasa, tapi ia bahagia karena perhatian gurunya, bahagia karena akan ikut lomba dan rindu yang membuncah kepada ibu kandungnya yang telah tiada. Ia tak pernah memperlihatkan tangisnya kepada siapapun, termasuk kepada ayahnya.

Hari ini, ia mematut dirinya di depan cermin yang telah memudar, memamerkan betapa indahnya baju seragam baru yang dihadiahkan oleh bu Halimah. “What a beautiful I am!” Ia terkekeh sendiri saat mengatakannya.

Setelah dirasa cukup, ia pun segera meraih tas dan menggendongnya dengan bangga. Rencananya, sebelum berangkat ke Sekolah, ia akan mampir ke warung seblak Ceu Salma untuk mengambil uang gajinya seminggu ini. Pekerjaan yang ia lakoni untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Krekkk...

Pintu kamarnya berbunyi sangat nyaring jika ia buka. Untungnya, kamar yang ia tempati berada di belakang, lebih belakang dari dapur yang dihiasi oleh tungku sebagai alat untuk memasak sehari-hari.

Ia menuju ke bufet (lemari untuk menyimpan makanan) dan menyendok nasi dari rice cooker yang terletak di sebelah bufet. Matanya melirik ke isi bufet yang tadi subuh ia masak semua, tentunya setelah selesai shalat. Rutinitas setiap habis shalat subuh, memasak dan membersihkan seluruh rumah, serta memberi makan ayam.

“Eh, Sova. Enggak usah lirik-lirik ke bufet ya! Makanan itu enggak bakalan cukup kalau kamu makan,” teriak Yulia dengan suara lengkingan yang khas.

“Eh, enggak kok. Aku lagi ngambil nasi aja!” sahut Sova dengan senyuman khas nya. Ia pun segera menarik kakinya untuk mundur dan menjauh.

“Nih, bajuku harus bener-bener bersih! Kemarin aku nembus!” ucap Yulia seraya melemparkan beberapa baju dan celana dalam yang masih bernoda merah ke wajah Sova. Bahkan, celana kotornya itu nyangkut di atas piring Sova.

“Yuli!” kesal Sova seraya melemparkan celana dalam milik saudara tirinya itu ke sembarang arah.

“Cuci makanya!” teriak Yulia sambil tertawa terbahak.

“Iya, taro aja di tempat biasa. Nanti aku cuci kalau pulang sekolah,” sahut Sova sambil duduk di sisi pintu belakang. Ia pun segera melahap nasi putih tanpa lauk apapun.

“Awas kalau lupa!” Yulia memperingatkan Sova agar tak lupa mencuci baju miliknya.

“Iya... iya. Lagian, kamu enggak sekolah hari ini? sama kemaren? sama kemarennya lagi dan seterusnya?” tanya Sova yang sebenarnya sudah tahu jawaban apa yang akan dikatakan oleh Yulia.

“Ya elah, tibang juga sekolah seatap, enggak perlu ke sekolah juga lulus. Sombong amat baru sekolah di situ juga!” ucap Yulia seraya pergi meninggalkan Sova yang menghentikan aktifitas mengunyah nasi putihnya, demi menggerakkan mulutnya sesuai dengan ucapan Yulia. Ya, gadis cantik itu sudah hafal diluar kepala jawaban dari saudara tirinya.

Setelah menyelesaikan aktifitas makannya, Sovia pun segera meletakkan piring bekas ia pakai di ember, kemudian ia mencuci tangannya dengan sedikit air yang ada di ember. Air hasil dari menimba di sumur umum. Sova memang terbiasa menumpuk piring cucian karena sumur yang biasa ia mencuci piring dan mencuci pakaian, merupakan sumur umum dan letaknya terhalang tiga rumah dan sepetak kebun pisang.

“Pamit dulu ke Ayah!” ucapnya dengan langkah ragu-ragu. Ia khawatir ibu tirinya akan ikut terbangun jika ia masuk ke kamar ayahnya. Walaupun sakit, Ayah dan ibu tirinya masih tidur sekamar, meskipun di tengahnya, dibikinkan penghalang agar terpisah. Yulia enggak mau kalau kamarnya direcoki ibunya sendiri.

Saat ia membuka pintu kamar ayahnya, ia tak menemukan ibu tirinya di kamar. Hanya ada ayahnya yang sudah sebulan ini tak berdaya di atas kasur karena terserang stroke dan tak mampu berobat. “Tumben,” lirih Sova karena tidak mendapati ibu tirinya yang biasanya masih tertidur pulas di jam segini.

Sova segera menghampiri ranjang kapuk ayahnya. “Yah!” panggil Sova seraya duduk di tepi ranjang.

Lelaki tua itu melirikkan bola matanya ke arah dimana Sova duduk. “Yah, do’ain Sova ya! Hari ini Sova mau ikut lomba debat bahasa Inggris di tingkat kabupaten. Kalau nanti juara, masuk ke tingkat provinsi, terus ke nasional. Nah, kalau di nasional juara, Sova bisa dapat beasiswa kuliah di jurusan bahasa Inggris atau hubungan internasional di kampus incaran Sova. Cita-cita Sova ingin jadi diplomat Yah! Kalau nanti Sova jadi diplomat, Sova janji akan mengobati Ayah dengan pengobatan terbaik. Enggak... enggak, kalau dalam waktu dekat Sova punya uang juga, Sova mau obatin Ayah biar sembuh.”

Sova mendekatkan mulutnya ke telinga sang ayah dan berkata “Sova selalu nyisihin uang gaji dari Ceu Salma sebelum dikasih ke Mama. sova kumpulin buat Ayah berobat,” ucapnya dengan suara lirih, kemudian ia pun duduk kembali dengan tegak. “Do’ain ya Yah! Doa Ayah yang membuat Sova masih berdiri kuat sampai hari ini,” lanjutnya lagi sambil tersenyum manis.

Ada air mata yang jatuh di kedua sudut mata pak Harun. Ucapan anaknya barusan berhasil meluluhlantakkan hatinya yang semakin hari semakin berdenyut nyeri. Bagaimana tidak? Semua beban dipikul oleh anaknya sendiri. Anak perempuan yang waktu itu sempat membolos sekolah selama satu bulan karena tuntutan ibu tiri. Sampai akhirnya, bu Halimah dan beberapa guru datang untuk mempertanyakan mengapa Sova tak lagi masuk sekolah. Berkat rayuan gurunya, bu Devi akhirnya memberikan izin Sova kembali sekolah dengan syarat agar ia bisa memberikan uang nafkah kepadanya, sebagai tambahan nafkah dari pak Harun yang tak selalu dikatakan tak cukup. Bahkan, pak Harun sendiri tak pernah benar-benar membela anak kandungnya di depan istri barunya. Untung saja, Ceu Salma yang kerepotan melayani pelanggan seblaknya, mau mempekerjakan Sova sepulang ia bersekolah, meskipun gajinya kecil.

“Ya sudah, Yah. Sova berangkat sekolah dulu!” pamit Sova seraya mengambil tangan ayahnya yang tak dapat digerakkan sama sekali, kemudian ia cium beberapa lama. Ia pun meletakkan kembali tangan ayahnya dengan hati-hati.

“Heh, mau kemana kamu?” tanya bu Devi yang tiba-tiba berada di ambang pintu kamar dengan dandanan menornya. Gadis itu merasa heran karena tidak biasanya bu Devi sudah nampak rapi dari pagi.

Sova segera bangun dari duduknya dan berbalik menghadap ibu tirinya, kemudian ia raih tangan bu Devi untuk ia cium. Namun, dengan angkuhnya wanita itu menepis tangan Sova sehingga terhempas.

“Aku mau ke sekolah, Ma. Mau lomba debat bahasa Inggris tingkat kabupaten. Nanti diantar sama guru-guru di sekolah, naik mobil pak Heru,” jelas Sova masih dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.

“Jangan berani-berani kamu keluar dari rumah ini. Ayo, kamu tunggu kakek tua itu di kamar. Hari ini kamu mau dinikahi si kakek!” teriak bu Devi seraya menarik kasar lengan Sova, mengarahkannya agar masuk kembali ke kamarnya.

“Apa? Enggak Ma, enggak mau. Sova mau sekolah. Sova mau lomba!” rengek gadis itu yang kini mampu mengobral air matanya. Petir itu kini benar-benar datang, harapannya seolah hancur dengan ucapan ibu tirinya. Pikirannya seolah kembali ke satu bulan lalu, dimana Ia menemukan foto candidnya yang tergeletak di atas meja tamu. “Apakah pengantinnya dirinya? Dia yang sebulan lalu dilamar, bukan Yulia?” gumamnya dalam hati.

*Bersambung*

Bab 3

“Diam kamu di sini! Berani keluar, tamat riwayat Ayahmu yang pesakitan itu!” ancam bu Devi dengan gerakan tangan seolah memotong leher. “Ingat itu! Selangkah saja kamu pergi, Ayahmu mati!” Wanita itu mengulangi ancamannya. Bola matanya membulat seolah mau keluar.

Bu Devi tak sedikitpun merasa iba melihat Sova yang sudah rapi memakai seragam sekolah, kini duduk bersimpuh dengan berurai air mata. “Ma, tolong kasih Sova kesempatan. Sova harus berangkat ke sekolah. Ma, tolong Sova!” rengek gadis berseragam SMA itu sambil memegangi kaki bu Devi yang hendak keluar. Tangisnya terdengar sangat pilu bagi orang yang memiliki hati selembut sutera, tapi tidak bagi ibu tirinya itu.

“Heh, anak tak tahu diuntung! Silakan kamu pergi dari sini, tapi Ayahmu mati. Kamu tentu tahu kalau ancaman Mama tidak pernah main-main.” Bu Devi berusaha melepaskan kakinya dari Sova dengan menendang-nendangkan kakinya ke tubuh Sova, tapi gadis itu bertahan.

“Ma, izinin Sova sekolah hari ini. Sova janji, Sova akan ikuti perintah Mama, apapun itu! Tapi tolong, izinkan Sova sekolah dan jangan celakain Ayah. Tolong Ma!” rengek Sova untuk ke sekian kalinya. Bahkan, dari ucapannya tersirat bahwa gadis yang selalu ceria dan tak pernah ambil pusing dengan keadaannya itu, kini sedang putus asa. Sangat putus asa sehingga ia mengucapkan ikrar janji yang hanya muncul dari ketakberdayaannya.

“Heeuuuhhh...!” teriak bu Devi sambil mencubit bahu Sova sekencang-kencangnya.

“Aaaa... aa.. awww... “ lirih Sova yang berusaha bertahan, namun akhirnya menyerah dan melepaskan kaki bu Devi.

“Enggak ada tawar menawar. Yang ada, kamu kawin sama si kakek, Ayahmu selamat. Kalau enggak, jangan harap kamu bisa ikut menguburkannya hari besok. Bahkan, kamu yang akan saya kambing hitamkan sebagai pembunuh ayahnya sendiri. Tamat!” ucapnya seraya menatap tajam ke arah Sova yang kini terduduk di lantai, masih dengan isak tangisnya.

Wanita itu pun segera keluar dari kamar Sova dengan membanting pintu, sehingga pintu itu pun rusak di bagian bawahnya. Saat berbalik, ia kaget karena di belakangnya ada Yulia yang sedang menatapnya terpaku.

“Ada apa sih, Ma?” tanya Yulia yang kini tengah berdiri di sebrang tungku. Gadis itu tak pernah mau masuk ke kamar Sova karena tak ingin menginjak lantai hitam, akibat terkena tumpukan asap dari tungku.

“Yuli, dari kapan kamu berdiri di situ, Sayang?” tanya bu Devi dengan lemah lembut, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang diucapkannya kepada Sova.

“Dari tadi. Aku denger Mama mau kawinin si Sova? Sama bandot tua yang baru datang ke kampung ini?” tanya Yulia dengan senyum yang merekah di bibirnya. Rasanya, derita Sova merupakan anugrah baginya.

“Iya. Kamu cepetan siap-siap, kamu harus tampil lebih cantik daripada pengenten. Orang pengantennya tua renta, hahahaha...!” tawa bu Devi yang membuat hati Sova semakin berdenyut nyeri.

“Ma, masa aku harus nikah sama orang tua? Mungkin usianya sama kaya Ayah. Bagaimana aku harus mengurusi Ayah dan suami bersamaan? Bagaimana dengan cita-citaku, Ma?” lirih Yulia memeluk kedua lututnya. Bibirnyapun bergetar saat mengatakan hal itu. Ia membayangkan jika dirinya harus menghapus segala langkah dan tujuan yang sudah Ia susun untuk diperjuangkan. Dimulai dari hadiah debat bahasa Inggris yang merupakan beasiswa kuliah di Universitas ternama dengan jurusan hubungan internasional, Ia harus hapus dari daftar yang harus Ia perjuangkan. Belum lagi hal-hal lain yang sudah Ia tulis di buku catatannya.

“Berisik!” ketus bu Devi sambil membanting pintu kamar Sova. “Ayo, Sayang! Kamu harus tampil cantik!” Terdengar suara lirih bu Devi yang menjauh dari kamar Sova.

Rasanya, pengorbanan yang sudah Ia lakukan untuk keluarga ini sia-sia saja. Apalagi saat mendengar perhatian bu Devi pada Yulia yang mengharuskannya tampil cantik. Bukankah dirinya yang dipaksa menjadi pengantin? Lalu mengapa Yulia yang akan didandani? Bukan dirinya menginginkan pernikahan ini, tapi perhatian bu Devi-lah yang menjadi penyebabnya menyunggingkan senyum smirk di wajah cerianya.

“Aku baru sadar kalau hidupku semenyedihkan ini. Semasa Ayah sehat, aku dinomor duakan sama Ayah. Setelah Ayah sakit, Aku yang harus rawat. Aku juga harus bantu banting tulang, di sela-sela Aku belajar. Saat kakek tua yang datang melamar, Aku yang harus jadi pengantin karena Mama akan mendapatkan uang. Lalu Aku dapat apa? Hikshikshiks... Aku bukannya tak sadar sama perlakuan mereka, tapi Aku hanya berharap masih memiliki keluarga yang utuh. Bahkan, makam Ibu kandungku aja Aku enggak tahu, karena Ibu meninggal di luar negri, karena disiksa majikannya. Ibu... hikshikshikahiks. Ini enggak adil!” racau Sova sambil menarik-narik ujung roknya, yang sejajar dengan tangan karena posisi duduknya yang memeluk lutut.

“Aku harus pergi. Ya, Aku harus pergi. Aku bisa minta bantuan bu Halimah. Ya, Aku harus pergi... “ Sova terdiam sambil memikirkan sesuatu. “Jangan, jangan minta bantuan bu Halimah, Aku malu. Bu Halimah udah baik banget sama Aku. Jangan manfaatin kebaikannya. Aku hanya perlu pergi dari sini,” ucap Sova sambil menghapus air matanya. Ia pun segera berdiri, dengan segera Ia mengganti baju seragam yang Ia kenakan dengan pakaian biasa dan melipatnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas beserta dua pasang baju lainnya. Ia masih berharap bisa melanjutkan pendidikan yang sebenarnya bulan depan waktunya Ujian Akhir. Tapi, kalaupun Ia harus pergi hari ini, sedangkan nanti Ia mendapatkan rezeki untuk melanjutkan pendidikan, Ia berharap bisa menggunakannya lagi.

Sova berjongkok, mengangkat kasur kapuk yang tergeletak di lantai papan, mengambil sebuah kantong hitam yang Ia sembunyikan di sana. Ia langsung memasukkan kantong hitam itu ke dalam tas. Uang, ya... isinya merupakan tabungan yang Ia kumpulkan diam-diam selama ini. Jumlahnya sebanyak tiga ratus tujuh puluh enam ribu rupiah. Ia rutin menghitungnya setiap minggu, demi menjaga dari hilang dan mengetahui berapa kekurangannya untuk membawa Ayahnya ke rumah sakit.

Prang...

Terdengar sesuatu jatuh dari ruangan lain, Sova pun berhenti sejenak sebelum akhirnya Ia nekad menggendong tasnya. Ia pun segera berjalan menghampiri pintu dan membukanya secara perlahan.

“Sova...!” teriak bu Devi dengan suara stereo yang bisa terdengar sampai sekampung. Ya, semua tetangganya diam melihat tingkah keluarga itu kepada Sova. Bukan mereka tak tahu dengan perlakuan bu Devi kepada Sova, tapi mereka enggan memiliki masalah dengan bu Devi yang mendapat julukan tersembunyi dari warga sebagai nenek sihir. Mereka lebih banyak membantu Sova secara sembunyi-sembunyi, macam perang gerilya. Terlebih, perlakuan pak Harun selagi sehat pun tak jauh dari istrinya, padahal pak Harun merupakan Ayah kandung Sova, tapi Ia seolah lebih menyayangi Yulia. Yang membuat tetangga lebih segan lagi adalah sikap Sova yang seolah-olah tak mengambil pusing, bahkan terkesan membela.

“Sova...!” lengkingan itu pun kembali terdengar sampai tiga kali. Sova yang sudah bersiap dengan tas nya pun hanya terdiam dengan perasaan kesal yang membuncah. Haruskan Ia menggunakan ilmu bela diri yang selama ini Ia pelajari?

*Bersambung*

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED